2 hari kemudian...Rangga wicaksono berjalan dengan langkah gontai menuju gerbang sekolahnya, kepalanya tertunduk kebawah, matanya merah berair dan beberapa kali ia menguap lebar sekali seperti nyawanya masih tertinggal sebagian di kasurnya alias masih ngantuk 100% . Sudah 2 hari ini ia berusaha bangun pagi SEKALI. Agar ia tidak terlambat lagi, seperti pagi apes nan memalukannya kemarin serta menghindari guru BP merangkap polisi jejadian sekolahnya. Sir. Alaude, guru BP itu belum berjaga didepan gerbang seperti sekarang, biasanya Sir. Alaude mulai memapakkan kakinya jam 06.15 WIB kalau hari sabtu. Jika hari Senin jam 05.45 WIB, Selasa hingga kamis jam 05.55 WIB dan hari Jum'at jam 06.00 WIB. Terima kasih untuk Joko untuk informasi ini.

"Hoaaahm... ngantuknya... padahal jam masuk masih lama. Kalau bukan gara-gara guru itu, aku ga bakalan masuk sepagi ini buat menghindari dia" rungutnya. Yap, dichapter kemarin sang guru BP membuat janji manis dengannya yaitu melunasi hutang hukuman atas keterlambatannya 2 hari yang lalu. "Janji manis apa kampret... mana ada hutang hukuman macam ini?!" pikirnya kesal, ia berjalan melewati teras ruang kelas 12-IPA 2 dan ruang guru yang berhubungan, kemudian ia menaiki tangga dipojokan menuju ruang kelasnya pas setelah tangga. Yaitu kelas 11-IPS 1 yang spesial karena hanya ada satu-satunya disekolah SMA 7 Ujung Kota, serta kelas yang perceft untuk warga kelasnya yang kulitnya teladan dalamnya hampir begundal semua, karena letaknya di tempat yang paling pojok dari kehidupan sekolah dan tentunya jauh dari ruang guru yang menyebabkan mereka bisa melakukan (bermain) apa saja disana.

Saat Rangga membuka pintu kelasnya, ia berpikir hanya ia orang pertama datang kekelasnya. Maklum, rata-rata warga kelas 11-IPS 1 masuknya 5 menit sebelum bel berbunyi. Tapi, ternyata tidak. Ia melihat sesosok orang yang duduk dimeja guru sedang membaca buku tebal, menyampingi jendela kaca yang memaparkan sinar mentari pagi yang hangat membuat sosok itu terlihat indah dan menyilaukan secara bersamaan membuat ia terpana melihatnya. Menyadari keberadaan Rangga sosok itu membuka mulutnya.

"Buon giorno, Rangga" seuntai senyum langsung terpampang diwajahnya.

SHIIIIIINE...

"U-Uwaaaah!" Rangga langsung melindungi matanya dengan kedua lengannya ketika sinar menyilaukan tiba-tiba menyerang. "ah, um Rangga? Apa kau baik- baik saja?" tanya sosok itu ke Rangga setelah melihat keanehan orang didepannya. "S-Sir Giotto?" Rangga kaget mengetahui siapa sosok asli yang terlebih dahulu ada dikelasnya tersebut, "A-Anda pagi sekali datang kekelas sir?" ujar Rangga kebingungan "Salahkah seorang guru datang pagi-pagi sekali kekelas? Hmm?" tanya Giotto sembari tersenyum. "Uh um... saya rasa tidak Sir..." jawab Rangga ragu-ragu "Tapi mata pelajaran pertama kelas ini, bukan bahasa Italia. Atau anda ada keperluan disini Sir?" Tanya Rangga lagi, "Yup bisa dikatakan seperti itu" Giotto meletakkan buku tebalnya dan tiba-tiba berdiri kemudian berjalan ke arah Rangga "Tapi lebih tepatnya aku ingin melihat wajahmu pertama kali, sebelum aku memulai hariku, Rangga" ucap Giotto lembut sambil mengusap pipi kanan Rangga...

"WHAAA-?!" Rangga langsung tercangang, alis matanya bertautan dan wajahnya memerah sampai telinga, Rangga kemudian menundukkan wajahnya kesamping mencoba menghindari kontak mata. Melihat tingkah itu, Giotto tertawa kecil, " Baiklah, aku harus pergi sekarang, kau belajar yang baik ya?" kemudian Giotto pergi meninggalkan Rangga seorang diri dikelas dengan muka super merahnya, "I-ih, Da-Dasar guru homo!" katanya kesal sembari mengusap cepat pipi kanannya.

Jam pelajaran ketiga.

Alaude memandang jauh ke arah lapangan basket yang sedang dipakai berolahraga oleh beberapa siswa yang ia tak tau dari kelas apa saja, melihat betapa panasnya sinar matahari diluar sana begitu terik. Dia merasa beruntung, karena ia sedang berada diruangan khusus yang berada dilantai 2 untuk dirinya yang ber AC dingin nan sejuk. Matanya terkunci pada seorang siswa yang sedang bermain sepak bola dengan gesitnya, wajahnya dibanjiri peluh namun ia tak peduli dan tetap melaju kegawang lawan, suara sorak sorai siswa-siswa yang lain menyemangatinya terdengar hingga ketempat Alaude berada.

"RANG, OPER BOLANYA KE AKUU!" teriak siswa yang lain cukup keras, ternyata siswa yang sedang menggiring bola tak lain dan tak bukan adalah Rangga. Paham akan instruksi kawannya, Rangga berusaha mengoper bola ke kawan timnya, tetapi ia dijegal duluan oleh salah seorang tim lawan, pendukung tim Rangga pun kecewa suara "AAAH!" panjang pun terdengar riuh.

Alaude tersenyum tipis melihat ekspresi kesal Rangga dari kejauhan selain itu ternyata menonton pertandingan sepak bola cukup seru juga, apalagi jika mangsa favoritmu bertanding disana. "Ehem! Sepertinya mood mu dalam keadaan baik Alaude" tanpa disadari Alaude seseorang telah masuk kedalam ruangannya "Woah, bukankah itu Rangga? Hebat juga dia bermain sepak bola, wajahnya juga tetap manis seperti biasanya" mendengar frasa terakhir Alaude langsung memicingkan matanya "Apa maumu datang kesini Giotto?" Dingin Alude berkata, AC pun kalah dingin dibanding kata-kata Alaude "Ara, ara jangan begitu Alaude, tak bolehkah aku mampir sebentar?" Cih, mengganggu saja pikir Alaude dalam kepala. "Aku ingin ngadem disini, diluar sangat panas, kau tau? Apalagi, para siswi dan guru perempuan diluar selalu mengerubungi aku" Giotto berjalan mendekati meja Alaude yang berada pas membelakangi jendela besar bertirai merah dan bersurai emas terlihat mewah serta mahal. "Kau harus menghentikan kebiasaan barumu ini, Giotto. Pacarmu di Jepang menunggumu dengan setia tau" ucap Alaude ketus "Ara... Tenang saja aku masih setia dengannya kok, lagipula bukan salahku aku memiliki wajah rupawan bak pangeran sehingga para perempuan disini tergila-gila padaku" kepedean Giotto memunculkan perempatan merah mini didahi Alaude, " Sekali-kali kau tersenyumlah Alaude, banyak lho siswi perempuan yang ingin mendekatimu tapi mereka takut gara-gara muka premanmu itu" saran Giotto tak digubris Alaude, masa bodoh jika ia jadi idaman ganteng semua wanita pikirnya. Tak direspon dengan baik Giotto malah meledek Alaude " Atau kau belum bisa melupakan Alfonso eh?"

Badan Alaude tiba-tiba terhenti mendengar nama yang disebut Giotto, mendapat respon Giotto melanjutkan, "Kemarin malam aku mendapat e-mail darinya, si kuda itu bilang ia akan menjadi ayah... apakah kau juga dapat kabar itu darinya?" Alaude diam membisu, namun tangannya terkepal keras diatas meja, kabar bahwa mantan kekasihnya akan memiliki seorang anak dari istrinya membuat Alaude cukup shock. "Aku tak peduli..." sepatah kalimat keluar dari mulut Alaude, "Aku tak peduli jika ia akan menjadi ayah atau dia yang akan melahirkan anaknya atau mati sekalian. Aku tak peduli" ucap Alaude acuh tak acuh berusaha menyembunyikan perasaan emosionalnya. Melihat hal ini, Giotto menjadi canggung, tau kalau pembicaraan ini tak pantas ia lanjutkan, Giotto mencoba mengalihkan pembicaraan, "Selain itu tadi pagi aku bertemu mangsa favorite mu lho, Alaude" Alaude mengalihkan wajahnya kearah giotto kebingungan "Yap, siswa kelas 11-IPS 1 absen nomor 17 yang duduk dibarisan nomor 3, Rangga Wicaksono dikelasnya langsung, on the spot! Dan belum ada siapapun disana..." pernyataan Giotto membuat Alaude memicingkan matanya marah, "Apa yang kau lakukan dengannya?" kata Alude super dingin, "Aku hanya memegang dan mengusap pipinya yang lembut sekali, apa itu salah?" Giotto memiringkan kepalanya sok polos. "Salah... Besar" aura hitam keluar dari tubuh Alaude, tak suka mendengar ada orang lain menyentuh mangsa favorite nya terlebih dahulu dibandingkan dia, terlalu ambisisus? Emang. "Wow, sudah jam pelajaran ke empat! Aku duluan ya, Alaude! Aku harus mengajar dikelas 10 dulu. Ciao!" dengan kecepatan cahaya Giotto langsung kabur dari Alaude. "GIOTTO!"

Pulang sekolah, jam 16.45 WIB

Rangga lagi-lagi berjalan gontai kearah gerbang sekolahnya, kegiatan ekstrakulikuler sehabis pulang sekolah benar-benar menguras tenaganya. Ia ingin cepat pulang kerumahnya, lansung mandi yang bersih pakai sabun diebuoy dan langsung tidur dengan selimut mai love. "Yo, sob! Mau pulang?" di pos satpam sudah ada Joko bertengger disana, teman sekelas Rangga, "Elu, Jok. Nunggu jemputan?" Rangga mendekati pos satpam dimana Joko berada, "Iya nih, lu juga dijemput?" tanya Joko "Gak lah, aku pakai angkot, kayak biasa. Siapa juga yang pengen jemput aku?" jawab Rangga "Siapa aja boleh Rang" ucap Joko "Gimana ekskul karatenya Jok?" Rangga membuka pembicaraan, "Capek kayak Biasanya, eh. Lu kenal orang yang lagi bediri didepan gerbang sebelah kiri itu, gak?" Joko menunjuk orang yang berdiri gelisah didepan sana, orang itu terlihat gelisah beberapa kali ia menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan seperti sedang mencari seseorang. " Gak, aku ga punya kenalan orang yang rambutnya coklat kayak gitu. Tunggu, itu orang Cina? Wait, orang Jepang?" Rangga mengira-ngira orang yang sudah diliatnya, menyadari orang itu bukan asli dari negeri ini. Ia tak pernah ingat sebelumnya ada orang asing berkeliaran disekolahnya seperti ini atau orang itu tersesat dan membutuhkan pertolongan yang tak kunjung datang? Mengingat hampir semua warga sekolah dan pak satpam sudah pulang. "Jok, lu gak nyamperin orang itu, kayaknya dia butuh bantuan deh" Rangga memerhatikan orang itu. "Gue juga baru nyampe kesini, tau-tau orang itu dah ada disana. Samperin yuk?" ajak Joko, dia cukup kasian melihat orang asing yang kebingungan tersebut, "By the way, lu ikut forum Bahasa Jepang kan? berarti lu bisa bahasa Jepangkan?" tambah Joko "Hah? Emang kenapa?" Rangga kebingungan "Ya, kalau orang itu ngomong pakai bahasa Jepang, nanti lu yang ngomong ya? Gue kan gak bisa ngomong bahasa Jepang" jelas Joko " Iya iya, pokoknya samperin dulu dah!"

Mereka berdua akhirnya berjalan menuju orang asing tersebut, sadar akan kehadiran orang yang mendekatinya, orang itu menoleh. "A-ano... a-apa k-kau tau o-orang y-yang bernama Giotto?" Orang itu ternyata berbicara dengan bahasa Indonesia namun ia mengucapkannya masih dalam logat jepang dan terbata-bata mungkin baru pertama kalinya ia berbicara seperti ini. "E-Eh? Giotto?" kaget Rangga dan langsung menatap Joko yang berada disebelahnya, "Maksudnya sir. Giotto guru bahasa Italia kita kali Rang!" bisik Joko. "O-oh, a-anda mencari sir. G-giotto?" tanya Rangga ikut terbata-bata, "Lho, kok lu gak pakai bahasa jepang sih Rang?" bisik joko lagi "Terlanjur! Aku gugup tau!" balas Rangga pelan, "e-er apakah anda mencari ?" tanya Rangga. Mendengar nama yang dikenalnya orang asing itu langsung menanggap "H-hai!... ah! I-iya Giotto!" serunya dengan mata berbinar "D-dimana dia?" tanyanya "Sir. Giotto kayaknya masih rapat diruangan sir. Alaude deh Rang" ucap joko didekat Rangga, "Gi-gitu ya? Ah um, bagaimana kalau kami temani anda mencari sir. Giotto didalam sekolah ini?" jawab Rangga tapi Joko berbisik, "Maaf Rang, gue ga bisa nemenin lu." "Eh? Kok gitu sih?" heran Rangga dengan ucapan Joko "Gue udah dijemput tuh, bapak gue ntar kelamaan nunggu gue. Maaf ya" Joko menunjuk dengan ibu jarinya mobil SUV putih yang sudah ada dibelakangnya "Maafkan saya tak bisa menemani anda mencari sir. Giotto, saya sudah ditunggu oleh orang tua saya. Jadi saya permisi duluan" ucap Joko sambil setengah membungkuk kemudian pergi dan memasuki mobil meninggalkan Rangga sendirian dengan orang asing itu.

"A-ah ka-kalau begitu mari saya antarkan anda ke tempat sir. Giotto" Rangga memecah suasana hening diantara mereka berdua, walaupun orang itu tak paham dengan bahasa yang diucapkan Rangga namun ia mengerti akan maksud Rangga "H-hai..." orang itu menggangguk kemudian mengikuti Rangga dari belakang memasuki lingkungan sekolah.

Lantai 2, gedung 1 SMA Negeri 7 Ujung kota

Akhirnya mereka berdua sampai didepan pintu ruangan sir. Alaude, Rangga berkeringat saking gugupnya karena harus mengetok pintu paling sakral seantero sekolahnya itu. Mau tidak mau ia harus mengetoknya, karena orang yang dicari oleh orang asing yang dibelakangnya ini sedang berada diruangan orang yang paling Rangga hindari (yo dawg!) dan Rangga ingin semuanya ini cepat selesai supaya dia bisa pulang dengan segera. Rangga menelan ludahnya kemudian mengetok pintu yang ada dihadapannya. Moga-moga sir. Alaude lupa dengan hukumanku pikir Rangga.

Tok, tok, tok...

"Silakan masuk..." Glek! Suara sir. Alaude! Rangga makin gugup jadinya, "Ma-maaf mengganggu Sir... Ini ada Orang yang mencari Sir. Giotto." Rangga memperlihatkan orang dibelakangnya ke penghuni ruangan itu, Giotto yang ternyata memang sedang berada diruangannya Alaude, langsung berdiri dan membelalakkan matanya. "T-Tsuna?!" teriak Giotto kaget "Giotto!" orang yang dipanggil 'Tsuna' oleh Giotto itu berlari kedalam,

"A-akhirnya aku menemukanmu..." ucap Tsuna lega karena sudah menemukan orang yang dicari-carinya.

"Bagaimana kau bisa ada disini?! Ti-tidak, sedang apa kau disini? Dengan siapa kau kesini, Tsuna?" panik Giotto bertanya, terlalu terkejut dengan kehadiran orang yang ada didepannya.

"E-eto, aku kesini dengan Reborn naik pesawat tapi aku malah terpisah dengannya saat mencari dimana sekolah tempatmu mengajar, kemudian aku tersesat untungnya aku ingat dimana kau mengajar jadi aku minta tolong untuk diantarkan kesini dengan taksi hehehe..." Tsuna agak kikuk menjelaskan

"Jam berapa pesawatmu mendarat?" Giotto masih panik bertanya,

"Baru saja tadi pagi" jawab Tsuna, "Tadi pagi?! Kenapa kau tidak menelponku terlebih dahulu?" Giotto tambah panik, "Sebetulnya aku ingin menelponmu saat aku tersesat tadi, tapi handphoneku malah hilang dicuri..." kata Tsuna agak ketakukan. "Tsuna..." Giotto ingin memarahi Tsuna sayangnya ia tak tega.

Rangga yang berada disana hanya terbengong menyaksikan pembicaraan dua makhluk asing disana, Giotto dan 'Tsuna' berbicara bahasa yang ia tau tapi mereka mengatakannya dengan terlalu cepat, sedangkan Alaude yang juga berada disana melihat kedatangan Tsuna yang tiba- tiba, cukup membuatnya terkejut namun Alaude mampu menyembunyikan terkejutannya dan malah memasang tampang biasanya. Tau akan kehadirannya sudah tak diperlukan lagi, Rangga mohon izin untuk pulang, "Uhm, kalau begitu saya pulang dulu, sir. Alaude, sir. Giotto. Takut nanti kemalaman. Saya permisi dulu..." Rangga menundukkan kepalanya "Ah! Rangg-!" Alaude baru sadar Rangga dari tadi ada diruangannya dan teringat mangsanya itu punya hutang dengannya sayang Rangga keburu hilang dari pandangannya, "Ck, sial..." Mungkin lain kali ia menagih langsung keorangnya.

TBc... (maybe?)

Terima kasih untuk Hikage Natsumihiko, Shinju dan Hinato Kizanagi. berkat review kalian saya termotivasi untuk membuat chapter ketiga ini. buat Hikage saya belum bisa mendeskripsikan seperti apa bentuk dan rupanya si Rangga ini -_-" maaf ya, mungkin chapter depan. Ugetsu x G hmm, mungkin mereka dapat jatah juga disini, Shinju :) By the way hintnya G27 nya udah ada looh :D

sampai jumpa chapter depan ^_^/