Seventeen ©Tuhan, Pledis ent, Keluarganya

Fanfic ini dan OC ©Jameelah Jamil

Posisi OC disini bisa dibayangkan sebagai kalian ketika dihadapkan dengan situasi seperti dalam cerita.

Maaf bila ada salah kata dan kata2 yang kurang berkenan.

RnR.. DLDR..

Ff ini awal ditulis saat ane UAS tanggal 13 Jan 16 (dan baru rampung, lalu ke-post sekarang lol), tanggal 14 nya Materi Ujiannya Intelectual Property Right alias Hak Kekayaan Intelektual wakaka, mana sambil dengerin lagu campursari, lagu2 sepentin, sama lagu2 dari Jogja Hiphop Foundation.. (pasti pada kaga ada yang tau, itu lagu hiphop in Javanese, kadang2 suka featuring mak Soimah juga lho haha)

wuahahha... asem coeg :3

betewe nih chapter rada berat sih kayanya.. (berape kilo neng #slap) awas tidur lu wakaka

Then, Happy reading..

Masih dalam suasana makan malam paling awkward dan penuh ketegangan menggelitik, kunantikan jawaban yang keluar dari mulut mereka berdua. Terlihat Mingyu berinisiatif membuka suara.

"kami menikah sudah hampir setahun. Perayaan pernikahan kami tanggal 26 Desember, tepat setelah perayaan natal. Keluarga dari pihakku yang diberi tahu oleh orangtuaku hanya kerabat dekat mereka, dan ayah-ibumu kak, bude Sekar dan pakde Prakoso itu saja dari pihak orangtuaku. Dari pihak Wonwoo hyung orangtuanya memberitahukan pada saudara dekat mereka juga. Orangtua ku merestui kami dengan perundingan yang sangat alot dan sulit, namun setelah orangtua Wonwoo hyung ikut memberi argumennya lambat laun pernikahan kami direstui" Mingyu terlihat menjawabnya dengan mantab dan tenang sembari menggenggam tangan Wonwoo. Aku yang masih merasa ganjil dengan pernyataannya pun mengajukan pertanyaan baru.

"bagaimana bisa orangtuamu mendukung pernikahan ini Wonwoo? Apakah mereka merelakan putra mereka menjadi gay?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling. Straight forward saja, aku sudah geregetan.

Kini, terlihat Wonwoo yang mulai angkat bicara setelah sebelumnya menatap Mingyu lagi. Dengan intens. Hell what? Mereka ini benar-benar deh...

"mereka memang sudah merelakannya, karena sedari dulu orangtuaku diberitahukan bahwa .. aku berbeda dari anak lelaki normal lainnya.." terlihat ia menundukkan kepalanya.

"maksudmu, mereka sudah tau kau gay begitu?"

"bukan, tapi.." ia terdiam, terlihat bingung ingin melanjutkan kalimatnya. Kulihat Mingyu mengelus permukaan tangan Wonwoo seakan memberi semangat. Sungguh.. pasangan ini bisa membuat gelora ke-fujoshianku kambuh. Kemudian, terlihat Wonwoo melanjutkan ceritanya.

"orangtuaku memberitahukanku hal yang sangat mengejutkan disaat Mingyu menemui mereka dan berkata ingin melamarku. Kala itu, mereka mengatakan bahwa aku ini adalah orang yang spesial. Ketika mereka mengatakannya, wajah mereka terlihat sendu. Lalu appa-ku menunjukkan sebuah surat hasil pemeriksaan dari rumah sakit dengan namaku di dalamnya. Beliau menjelaskan bahwa sedari lahir aku dilahirkan dengan kelamin ganda.

Ketika mereka mengonsultasikan ke dokter untuk menentukan jenis kelaminku nantinya, para ahli mengatakan agak berbahaya jika rahimku diangkat, karena katanya rahim tersebut sudah memiliki salurannya tersendiri, sedangkan sebagian besar hormonku adalah hormon testosteron yang cukup mendominasi sehingga menghasilkan tampilan luar lelaki seperti ini. Orangtuaku akhirnya hanya pasrah dan membiarkan keadaanku begini asalkan aku tetap sehat. Ketika kecil hingga remaja pun aku tidak berperilaku aneh, sifatku normal seperti lelaki. Tidak kemayu, apalagi tertarik dengan teman lelakiku, tidak pernah terbersit sama sekali untuk mengencani mereka. Keanehanku ini tetap mereka rahasiakan hingga ketika Mingyu melamarku dan meminta izin orangtuaku, mereka membolehkannya. Sebab mereka merestui kami adalah.. karena aku bisa dibilang sepersekian persen perempuan.. hehe.. agak aneh mengatakannya" ujarnya panjang diakhiri dengan tawa canggungnya.

Aku pun bertanya kembali kepada mereka.

"lalu, bagaimana cara meyakinkan orangtua Mingyu bahwa pernikahan kalian hendaknya direstui ?"

"orangtuaku kuajak ikut serta dalam sebuah pertemuan yang aku dan Mingyu rencanakan di restoran Mingyu yang waktu itu sengaja tidak dibuka untuk umum. Aku mengajak orangtuaku kesana, dan Mingyu mengajak orangtuanya kesana. Pertemuan keluarga kami sudah mirip dengan musyawarah karena isinya adalah argumen serta beberapa permasalahan yang diangkat oleh para orangtua untuk mendebat kami. Namun kemudian, ibuku dengan lantang berkata bahwa ia akan menyetujui pernikahan kami. Beliau bilang bahwa dari pernikahan kami tetap akan hadir cucu biologis untuk mereka" terlihat ia terdiam sesaat.

Aku yang menyimak pun ikut terdiam. Jantungku berdegup tak sabar akan kelanjutan kisahnya, dan dahiku berkerut akan fakta aneh tersebut. kuurungkan pertanyaanku, lebih baik kutunggu kelanjutannya.

"ibuku menjelaskan bahwa aku dapat mengandung dan memberikan mereka cucu. Karena sesungguhnya, salah satu yang orangtua inginkan adalah cucu dari anak mereka yang telah menikah. Walaupun ada sedikit resiko, namun ia mengatakan jika dapat dijaga dengan baik semuanya akan baik-baik saja" ia terlihat mengakhiri cerita panjangnya, lalu tersenyum kearahku. Kemudian, ia tatap Mingyu yang kemudian mengusap seraya mengecup punggung tangannya.

Aku pun terdiam. Mencerna semua kisah yang dijabarkan Wonwoo kepadaku. Kulanjutkan pertanyaanku.

"lalu.. apakah kalian tidak khawatir terhadap reaksi ke masyarakat disekitar kalian? Yeah.. meski di Amerika dan beberapa negara di Eropa telah melegalkan pernikahan menyalahi kodrat sejak lama, tapi kan di negara Asia masih sulit menerima hal seperti itu, belum lagi jika nanti kalian memiliki anak yang notabene anak kandung, dan kau Wonwoo.. apa kau siap bila banyak tatapan aneh dan pembicaraan miring yang dialamatkan padamu ketika kau mengandung nanti?" kusadari pertanyaanku yang bertubi-tubi ini sangat to the point. Tapi bagaimana lagi? Aku harus menanyai mereka hal-hal yang membuatku penasaran, sambil mengingatkan mereka tentang pernikahan aneh mereka ini mungkin...

"untukku pribadi, aku sudah tidak peduli dengan apa kata orang. Ora urus mbak. Toh mau dikatai seperti apapun kami ini menikah secara resmi di Amerika, ada surat-surat nikah yang membuktikannya. Soal anak, biarlah kami akan memberi dia pengertian tentang orangtuanya yang spesial ini. Bila nanti ada yang menggunjing dan menyakiti hati istriku, aku yang akan turun tangan langsung. Pokoknya aku akan melindungi keluargaku semampuku" kulihat Mingyu menjawabnya dengan menggebu-gebu dan penuh keyakinan seraya menatapku, dan menatap Wonwoo-nya penuh kasih.

"noona, aku sudah mempersiapkan mentalku sejak jauh-jauh hari. Semenjak Mingyu mengajakku untuk menikah, kami sudah mendiskusikan banyak hal yang akan kami hadapi kelak, resiko, dan rencana membangun keluarga kami, dan fakta-fakta mengenai diri kami. Semua hal dari mulai yang buruk sampai baik sudah kami persiapkan mental kami untuk itu" Wonwoo menatapku dengan tenang, dan tatapannya terlihat pasrah dan terselip ke-optimisan didalamnya.

"wah.. aku.. cukup salut dengan ketangguhan hati dan rasa cinta kalian. Tapi ada satu hal yang yeah.. aku yakin kalian pasti pikirkan juga. Mengenai.. apakah.. kalian tidak merasa menyalahi kodrat serta.. ehm.. agama?" tanyaku ragu. Terlihat mereka terdiam sebentar.

"kami tau betul hal itu noona"

"ya, kami paham hal itu, mbak" mereka berbicara bergantian.

"LGBT itu perbuatan maksiat, pernikahan sesama jenis itu dosa besar! semua agama pun pasti melarangnya. Kalian tau itu, tapi.. kenapa kalian masih melakukannya?"

"mungkin bisa dikatakan bahwa jabawanku ini tidak tepat, namun.. ini adalah rasa cinta. Tuhan yang menciptakan rasa cinta itu, apakah salah jika aku merealisasikan rasa cinta ini?" jawab Mingyu.

Ada keheningan setelah Mingyu berujar.

Kemudian..

"tapi, misal itu terjadi pada orang hermaprodhit?" suara Wonwoo terdengar lirih dan ragu. Ia menatapku sendu.

Aku yang ditatapnya hanya diam dan bingung mau menjawab apa.

"entahlah Won, mungkin kasusmu berbeda.." aku pun menjawabnya dengan ragu.

Keheningan kembali meliputi.. aku berinisiatif memulai percakapan yang tidak terlalu gloomy.

"well, kalian bilang menikah pada tanggal 26 Desember kan? Berarti akhir bulan ini bakal ada perayaan bukan? Hehe.."

"oh.. emm iya mbak, perayaan setahun pernikahan kami. Kau masih ada urusan di Korea kan?"

"iya, masih kok.. pasti mau mengundang ya?"

"haha iya mbak, kami ingin merayakannya setelah perayaan natal bersama orangtua kami dan beberapa teman dekat"

"teman? Teman kalian tidak masalah dengan pernikahan kalian?"

"teman normal kami yang dekat sih tidak masalah, tapi kalau cuma kenalan ya tidak kami undang."

"haha normal, kau berbicara seolah temanmu lainnya abnormal semua Min.."

"eh? Iya jugaa hehe.."

"hmm.. by the way biasanya pasangan LGBT punya komunitas kan?"

Terlihat keduanya mengangguk.

"legal dan jelas diakui atau ilegal dan sembunyi-sembunyi?"

"setauku komunitas itu masih sembunyi-sembunyi, noona"

"oh, jadi memang di negara ini LGBT masih dianggap tabu ya.. tapi apakah kau menjelaskan mengenai keadaanmu kepada komunitass tersebut, Won?"

"ya. Karena kami bergabung di komunitas itu cukup lama sejak sebelum menikah. Hubungan semua anggota sudah seperti keluarga. Semua hal yang mengganjal sering kami diskusikan"

"hmm begitu, ngomong-ngomong, kau sedari tadi memanggilku noona, aku jadi penasaran tahun berapa kau lahir?"

"aku lahir tahun 96. Lebih tua setahun dari Mingyu"

"hmm.. kita beda setahun. Tapi, kalian ini kan masih muda.. biasanya lelaki menikah di usia menjelang 30-an bahkan sampai 40-an" "dan kau Min! Masih 23 sudah berani melamar anak orang, hebat juga haha" ujarku seraya menunjuk Mingyu.

"aku kan sudah punya usaha sendiri, ya.. meskipun milik orangtua ku sih awalnya, tapi sekarang sudah aku yang mengelolanya. Bisa dibilang aku sudah bisa menafkahi keluargaku. Selama jodoh sudah ada, kenapa harus ditunda, betul kan hyung?" ujar Mingyu seraya berkedip mesra menggoda Wonwoo. Pihak tergoda hanya tertawa atas kelakuan pasangannya.

"heuh.. iya deh yang SUDAH ADA JODOHNYA" kukatakan sambil menekan 3 kata terakhir. Aku merasa tersindir entah mengapa.

"kenapa mbak jadi sinis? Oiya.. maaf mendahuluimu menikah hehe.. mudah-mudahan cepat dapat jodoh dan tidak jadi perawan tua ya"

"waduh.. ojo ngono Min, doane ga ngenaki" [waduh.. jangan begitu Min, doanya ga ngenakin]

"yang bikin ga enak kalimat terakhirnya itu loh.. perawan tua ih.. amit-amit"

"pangapunten mbak, guyon kok" [maaf *bahasa halus* mbak, becanda kok] "eh udah, bahasa Korea lagi aja, biar bojo [pasangan] ku ngerti"

"haha iya, nanti diajarin aja bojomu itu bahasa Jawa dan Indonesia, biar paham gitu.. kan asyik kalo kita udah Indonesian-Javanese mode on"

"haha iya ntar ya mbak.. sekarang jangan dulu, tuh liat muka cengonya hahahhah" Mingyu terbahak-bahak melihat wajah melongo datar + melamun ala Wonwoo yang tercetak di wajah emonya. Hal itu membuatku ikut tertawa. Sedangkan si objek tertawaan hanya berkedip, tengak-tengok, dan memasang tampang melongo yang semakin menjadi-jadi. {di YT banyak deh kalo mau nyari kompilasi muka cengo Wonwoo cari aja "Wonwoo spacing out" }

"apa yang sedang kalian bicarakan? Aku merasa bodoh.." ungkapnya pasrah dan tetap dengan tampang 'melongo' nya

"haha hanya hal tidak penting kok Won, oya.. aku mau bertanya, apa alasanmu untuk mau menerima lamaran Mingyu waktu itu? Juga alasan mengapa kau mau menikah muda"

"alasanku adalah.. karena kurasa Mingyu adalah orang yang tepat untukku. Aku mengenalnya sejak setahun lebih sebelum kami menikah. Aku merasa cocok dengannya, mau menerimaku apa adanya. Kami memiliki dasar berpikir yang dapat disatukan, dan dia orang yang dapat diajak berkomitmen dibalik segala tingkah absurd dan manjanya terkadang. Kalo soal absurd sih, aku yakin kami sama saja hehe.." "aku memilih menikah muda karena aku yakin dari pernikahan kami akan hadir sesosok penerus keluarga. Aku tidak ingin mengandung di usia terlalu tua. Sebagai male pregnant, resiko sudah di depan mata, apalagi jika lebih tua lagi usianya"

"hmm.. kau adalah sosok yang luar biasa Won, pandanganku soal pasangan pun tak jauh beda denganmu. Hanya saja aku memang belum bertemu jodohnya.. aku merasa dilangkahi oleh adik-adikku ini.. ckckck" "kau juga menganggap hal yang mungkin diluar kewajaran yang ada pada dirimu sebagai anugerah. Aku yakin, kelak kau bisa jadi sosok orangtua yang baik bagi anak-anakmu kelak." "dirimu juga hebat Min, diusia muda kau sudah cukup matang secara pemikiran. Serius dalam sebuah hubungan"

Perbincangan kami yang tadinya canggung dan suram pun menjadi lebih ringan dan berwarna. Tawa dan canda menghiasi percakapan di acara makan malam kami. Jam menunjukkan pukul 09.50 pm waktu Korea Selatan. Kami pun mmbereskan meja makan dan mencuci piring masing-masing serta memanaskan lauk yang masih banyak untuk esok hari.

TBC..

Cuap2 author:

Hay hayy.. chap 3 muncul nih.. UAS ane udah mau selesai.. doain nilainya bagus2 yak! :3 (can u imagine, writing fanfiction during final term test? I'm such a crazy fangirl dat can't hold ma idea correctly, so i put all of it into this FF aka fanfreaktion)

Bila ada keabsurdan dan kengacoan maapkeun lah.. mo nyari sumber referensi terpercaya kaga sempet2 amat, keburu ide udah berjubel wkakak.

Betewe ada yang akhir 2015 sampe sekarang kebawa euphoria One Punch Man kaga ? trus sama Gintama 2015 yang Shogun Assasination itu? #IniPertanyaanBuatOtaku #TapiSayaBukanWeaBoo

Yosh lanjut ke balesan review (yang sedikit dibanding sidernya hehe)

: waduh.. makasih :3

petitmacaron: haha suwun saranne yo! Sip!
wes tak lanjut iki

btobae: haha bisa lah dibayangin lol

ikka1296hoon: haha ketiban setelah kepeleset soko urip silau berlian

(after i slipped into the diamond life, sis #slap)

DaeMinJae : haha yoi.. wes dilanjut kie'.. udah jelas belum alasane?

Naega Hoshi: kuatin mbak.. nih dah lanjut

Jungjaegun: segini udah panjang belom? Hehe..

Depitannabelle: jelas wangi dong :3

hehe.. bingung yak? Dilema fujo gitu deh.. iyah, sayang bgt diamah ama Wonu

shikshin28: ouw.. sini2 kaka peyuk..

sudah dilanjut nih.. hehhe

makasih juga ya buat para followers dan favoriters(?) lop yu full..

wahai sider yang cakep.. mind to review? Kita bisa discuss, curcol juga bisa hehe