Hay hay.. ini sekelumit dari cuap2 penulis.. betewe ane sebenernya jadi mendadak ga ada ide sama bingung gtu mo ngelanjutinnya .. so, nikmatin ajalah ya seadanya(?) mau di discontinued tapi nanti readers (and silent readersdeul) penasaran.. bikin penasaran ke orang dosa katanya hehe.. so..
Cekidot dan selamat menikmati..
Seventeen ©Tuhan, Pledis ent, Keluarganya
Fanfic ini dan OC ©Jameelah Jamil
Posisi OC disini bisa dibayangkan sebagai kalian ketika dihadapkan dengan situasi seperti dalam cerita.
Maaf bila ada salah kata dan kata2 yang kurang berkenan.
Kediaman Kim, Gangnam
Di pagi hari ini, aku memutuskan untuk mengecek email-ku melalui laptop yang dari kemarin sangat malas untuk kubuka. Kulihat ada pesan masuk dari calon klienku yang kuajak bekerja sama. Biasa, perihal bisnis fesyen dan gaya hidup. Kulihat email dari editor majalah Ceci yang kemarin sudah kuhubungi untuk menawarkan produk fesyenku ke majalah tersebut. wah.. balasannya sudah dari semalam. Kuputuskan untuk membacanya.
From: Ceci Magazine Korea
Subject: Business Companion Proposal
Hello Ms. Ayu,
Saya sudah menerima email anda dan melihat CV, serta Fashion Line anda yang unik, eksotis dan etnik dengan mengankat kain tradisional Indonesia. Saya dan segenap kru Ceci Magazine akan sangat senang jika kita bisa berjumpa hari ini pukul 10 a.m di gedung Ceci Magazine.
Terimakasih
I accepted the email that sent by you and read your CV. We really appreciate your Fashion line which is looks interesting, exotic, and ethnic. Your uniqueness is come from the idea about Indonesian traditional cloth. We , the Ceci Magazine crew will be pleased if we could have a meeting today at 10 a.m at Ceci Magazine building.
Thank you
Mr. Hong
Ceci's Fashion Editor and Stylist
Kubaca email balasan dari majalah Ceci yang dijawab oleh fashion editornya. Aku diminta datang jam 10 pula.. waduh.. ini sudah jam 6.35. saatnya aku mandi dna bersiap-siap. Oiya, kutanya Mingyu dulu, siapa tau bisa mengantar ku nanti kesana.
Aku pun keluar dari kamarku dan mencari Mingyu. Kulihat sekeliling rumah, rupanya dia ada di kebun belakang sedang berolah raga mengangkat barbel. Cieilah.. seksi bener. Pakai tank top, celana training selutut, tubuh dipenuhi peluh dan ekspresi seriusnya.. beuh.. bisa bikin embak-embak, tante-tante, nenek-nenek, sampe mas-mas maho tebengong-bengong ngeliatin dia.
"Min, boleh nggak aku minta tolong?"
Ia pun berhenti dari aktifitasnya. Menaruh barbelnya, lalu menyeka peluhnya seraya menyibakkan rambutnya dengan seksinya. Hush.. Yu, inget itu sepupumu. Udah kawin, homo pula dia -_- .
"minta tolong apa mbak?"
"gini, aku dapat email dari majalah Ceci untuk diundang ke gedung Ceci Magazine. Untuk urusan bisnis. Kalau misalkan belum mau buru-buru ke restoran, aku boleh minta tolong ga antar kesana?"
"hmm.. jam berapa mbak mau kesana?"
"kira-kira jam 8 atau 8.30an bisa? Jauh ga?"
"sepertinya tidak terlalu, seingatku sih bisa searah ke restoran juga. Kebetulan aku ada teman yang kerja di Ceci, aku pernah kesana beberapa kali, mudah-mudahan tidak macet sih.."
"wah.. makasih mau nganter hehe.. halah semacet-macetnya di Korea kayanya masih mending daripada di Jakarta deh Min, suwer deh"
"emang belum berubah juga?"
"halah.. Jakarta ya begitu deh.. macet tiada akhir, entah sampai kapan. Yasudah, aku mau mandi dulu.. kamu juga katanya siap-siap ke restoran kan?"
"iya, ayo kita siap-siap"
Aku dan Mingyu pun bersiap-siap pergi.
Ketika aku berjalan menuju kamarku di lantai dua, kulihat Wonwoo ada di ruang kerja di seberang kamarku. Sepertinya ia mengerjakan sesuatu. Sayup-sayup kudengar ia menyanyi atau melafalkan kata-kata dengan cepat? Entahlah.
Ijen chulbalseon sinbalkkeun kkwak mae
Biseudeumhae urirang ildeung sai gangyeok*
Woahh ternyata dia sedang nge-rapp, keren juga suara bassnya, terdengar seksi. Ingin kutepuk pundaknya.
"hei, pagi-pagi sudah karaokean saja"
Dia terlihat terkejut. Kemudian menengok kearahku.
"ah.. noona, mengagetkan saja"
"haha.. aku kan cuma menepuk pelan, masa sudah kaget.. oiya, itu lirik rapp buat apa?"
"ini? Untuk contoh tugas aransemen lagu hiphop di mata kuliah moderen musik yang kuajar"
"kau dosen?"
"iya noona, oh.. aku belum memberitahu ya?"
"belum Won, mengajar dimana? Dan itu mata kuliah apa tadi katamu?"
"aku mengajar di Kyunghee, ini mata kuliah Hiphop in Modern Music"
"coba teruskan lirik rappmu tadi, aku mau dengar lanjutannya"
"okay, ehm..
Haega doedon moraejumoni yang yeop
Bareseo ttego jasereul jaba keurauchi
Kkoljjiseo ideungi doego bideungbideunghan iteumeseo
Ildeungi doegopa i wanna wanna*"
[Ah yeah! Seventeen Wonwoo's part]
"wuahh.. that's cool, you have such a sexy voice. Pasti ketika praktek dan mencontohkan performance banyak mahasiswimu yang berfangirling ya?"
"haha bisa saja.. terimakasih noona, hmm kurasa iya, mereka terlihat terpekik namun tertahan.. lucu sekali ekspresinya"
"haha.. yasudah, aku mau mandi dan siap-siap dulu, soalnya aku ingin berangkat bersama Mingyu. Kau juga ikut sekalian kan?"
"ya, tentu. Sedikit lagi aku selesai dan siap-siap"
"baiklah.."
Aku pun segera memasuki kamarku dan bersiap-siap.
Sekitar pukul 8.20 pagi kami segera bergegas meninggalkan rumah untuk pergi ke tujuan masing-masing.
Tujuan pertama adalah Kyunghee University di Dongdaemun yang lebih jauh dahulu agar Mingyu bisa memutar balik arah menuju wilayah Sinsa-Dong yang rupanya masih di daerah Gangnam, itu adalah tujuanku yaitu Ceci Magazine Building. Mingyu mengantarkan Wonwoo dulu yang mengajar kelas pagi pukul 9.00 dan sekarang saja sudah pukul 9.05, katanya tidak masalah.. toleransi keterlambatan dosen dan mahasiswa adalah 15 menit.
"Noona, Gyu-ya, aku mengajar dulu ya.."
"iya, baik-baik ya mengajarnya"
"sini cium tangan dulu" itu Mingyu yang bicara. Terlihat ekspresi Wonwoo tersenyum simpul, kemudian mencium tangannya. Euluh-euluh.. bener-bener kayak istri yang pamitan pergi sama suami di Indonesia.
"aku pergi dulu, 'bapak' "
"hati-hati ya umma, jangan godain mahasiswa & mahasiswi mu disana"
"kamu juga jangan menggoda pelanggan ya"
Kemudian mereka saling melempar senyum.
"ehm, ini sudah jam 9.06 loh.. masa dosennya telat sih.."
"oh.. iya, aku harus buru-buru.. bye noona, bye bapak Mingyu"
"ya.. bye Won/Umma" ucap kami bersamaan.
Lalu, ia pun bergegas terlihat berlari kecil memasuki area kampus yang terlihat cukup luas tersebut.
Perjalanan pun berlanjut.
"eh, Min.. kamu emangnya udah officially pengen dipanggil 'Bapak' ya?"
"haha iya mbak, lucu aja gitu.. ntar aku dipanggil bapak, Wonu hyung dipanggil Umma sama anak kami nanti"
"haha.. sudah ngebet ya kamu mau punya anak? Trus nanti kalian pakai bahasa apa untuk ngasuh anak?"
"banget mbak, aku sih udah pengen buru-buru punya anak aja, Cuma ya belum dikasih mungkin.. bahasa ya? Hmm.. mungkin bilingual, Korea-Indonesia, ditambah bahasa Inggris lah kalo nanti anakku udah SMP"
"kalo mau buru-buru punya anak ya rajin bikinnya, minum jamu-jamuan gitu.. kali aja tokcer lagian kalian masih muda ini lah.. oiya, bilingual ya? Hmm.. ntar kutambahi bahasa Jawa haha"
"hehe bikin sih udah lumayan rajin mbak, Cuma ya itu.. mungkin tinggal minum jamu aja. Wah.. bahasa Jawa ya? Jangan dulu deh, kasian.. masih kecil udah kebanyakan bahasa nanti pas SD / SMP mungkin baru kukenalkan sama bahasa Jawa"
"eh.. ngomong-ngomong soal 'bikin' yang quote and quote nih.. ada hal mengganjal yang mau kutanya, tapi gimanaa gitu. Kayaknya sih agak ga sopan"
"memangnya apa mbak? Gapapa lah tanya aja, toh kita kan udah deket banget.. kita bagaikan sepasang sendal jepit, hidung dan upil, serta mata dan beleknya. Udah lengket bingit"
"wait, perumpamaanmu ga enak sumpah.. kalo gitu kamu upil dan beleknya aja ya.. kan kamu dekilan haha"
"ih.. jahat.. warna kulit kita sama mbak! Nih.." ia berucap seraya menyandingkan lengan kanannya yang bebas dari setir mobil kearahku yang duduk di sebelah kanannya.
"haha iya-iya.. kita sama. Sama-sama eksotis bin seksi okay?"
"nah.. gitu dong.."
"hmm.. gini lho.. aku mau nanya.. katamu kan sering tuh bikin.. ehm anak.. ap-apakah.. kalian lewat 'belakang' atau seperti antara pria dan wanita? Maaf lho dek kalo pertanyaannya terkesan kurangajar"
Kulihat ekspresi Mingyu yang menahan tawa. Lha.. dikira lucu ya dek?
"haha untung yang nanya kamu mbak, dan cuma berdua lagi kita jadi frontal-frontalan ya ga masalah. Jadi, kami berhubungan bukan lewat belakang yang jelas nggak kaya pasangan gay pada umumnya. Aku aja ngebayanginnya geli mbak sumpah! Lewat belakang apa enaknya coba"
"ebuset.. hahhahahha.. jawabanmu gendeng! Edan! Lah.. jadi, ibarat kata sama gitu kaya sama cewek?"
"ya bisa jadi gitu. Lah kan se-playboy-playboynya aku nggak pernah juga pas pacaran nidurin anak gadis orang. Aku kan playboy budiman"
"halahh... lagakmu playboy budiman. Tetep aja playboy" ucapku sambil menoyor kepala Mingyu.
"aduh.. mbak, lagi nyetir nih.."
"haha iya.. sorry dek.. eh, itu udah kelihatan Ceci Buildingnya" ucapku saat mulai terlihat gedung bertuliskan 'Ceci Magazine'.
"oke, ohiya.. nanti mau kujemput atau bisa pulang sendiri?"
"hmm.. sepertinya pertemuanku hanya sebentar sih.. jadi kurasa aku minta tolong di SMS-kan saja jalur yang harus kulalui untuk kembali ke rumahmu"
"ok hati-hati ya noona"
"sip! Hati-hati juga Min.. bye"
"bye.." kemudian, aku pun turun dari mobil dan memasuki gedung utama Ceci building.
Kulangkahkan kakiku menuju meja utama. Akan kutanyakan dimana Mr Hong.
"permisi, boleh saya bertanya?" tanyaku kepada nona resepsionis dengan bahasa Korea.
"ya, silakan ada perlu apa nona?"
"saya ada perlu dengan Mr. Hong, editor fashion di Ceci. Saya sudah membuat janji bertemu dengannya"
"dengan nona siapa?"
"Ayu, Prameswari Ayu Sentono. Fashion designer dari Indonesia yang menawarkan sponsor untuk wardrobe di majalah Ceci"
"oh.. iya, Hong sajangnim menitipkan pesan kepada saya untuk menemui beliau di ruangannya. Lokasinya ada di lantai 3. Beliau ada di ruangannya sekarang. Bila anda kesulitan menemukan ruangannya, ada sekuriti disana yang bisa anda tanyai"
"baiklah, terimakasih atas informasinya nona"
"terimakasih kembali nona Ayu"
Aku pun bergegas mencari ruangan Mr. Hong di lantai 3.
Inilah lantai 3 gedung Ceci. Kuedarkan pandanganku hingga menemukan sebuah ruangan dengan tulisan
Chief Fashion Editor
Joshua Hong
Kurasa itu ruangan Mr. Hong.. oh.. namanya Joshua ya..
Kucoba merapikan penampilan. Kurapikan rambut dan pakaian batik selututku dan celana panjangku. Hembuskan nafas, mencoba siapkan mental. Mudah-mudahan dia orangnya asik dan ramah.
Segera kuketuk ruangannya.
Tok..tok..
"come in" terdengar suara halus dari dalam. Aku pun membuka pintu ruangan dan memasuki ruang tersebut.
"excuse me Mr. Hong, i am Ayu. May i come in?"
"of course, come on.. you can sit here" ucap pria tersebut sambil menunjukkan tempat duduk tepat di depan meja kerjanya.
Aku pun mendekat dan bersalaman dengannya.
"hello Mr. Hong, nice to meet you"
"nice to meet you too Ms. Ayu, or may i call you Ayu? Because we born in the same year"
"oh.. really? Sure you can, and may i call you Joshua?"
"sure, it's okay, don't be so formal. Because i always treat my clients as friends. Oh, i forget to ask you to sit down. I'll call the office boy to make a beverage. What do you prefer? Coffe or tea?"
"hehe.. it's okay, i prefer tea if you don't mind. Thanks"
"no problem.." kemudian kulihat ia menelpon OB nya untuk membawakan minuman dengan bahasa Korea ke ruangannya. Aku pun duduk di tempat yang sudah ia persiapkan. Sepanjang obrolan tadi, kulihat dia adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Alhamdulilah.. klienku orangnya baik.
Kemudian setelah selesai menelpon OB, dia pun kembali berbincang kepadaku.
"so, do you brings your dress samples for sponsorship?"
"sorry, i don't bring it because the package is not coming yet, maybe tomorrow i can show you some dress?"
"oh.. it's okay.. no problem" ucapnya seraya tersenyum maklum.
"terimakasih banyak atas pengertiannya Joshua, kau sungguh pengertian dan ramah" ucapku dengan bahasa Korea. Ia terlihat agak terkejut mendengarku berucap.
"wah.. kamu bisa bahasa Korea dengan cukup lancar?"
"hehe.. iya, karena aku memiliki sepupu orang Korea dan hubungan kami dekat, jadi aku sudah terbiasa dengan bahasa Korea"
"begitu ya, tidak masalah bagiku. Lagipula aku lebih nyaman menggunakan bahasa Korea kalau boleh jujur"
"haha tidak masalah Josh, toh aku juga cukup lancar berbahasa Korea. Oh iya, aku membawa katalog berisi baju-baju karyaku yang telah di produksi di tahun lalu dan tahun ini, berhubung aku tidak membawa barang aslinya"
"boleh, biar aku melihat-lihat produkmu dulu"
Kuserahkan 2 katalog cukup tebal yang kubawa untuknya. Ia pun menerimanya. Kulihat ekspresinya yang sangat antusias dan tertegun melihat karyaku. Aku jadi agak ge-er melihat apresiasinya. Selama ia melihat koleksiku, kuperhatikan penampilannya.
Wajahnya yang manis, dengan kantung mata yang sangat nampak saat tersenyum, tindikan salib kecil di telinga kirinya, gaya rambutnya belah pinggir di cat kecoklatan. Pakaian yang dikenakannya adalah turtleneck shirt berwarna merah muda dengan blazer merah muda yang 2 tingkat lebih tua dari warna baju di dalamnya. [rujukan image: Seventeen di 10+ Star Magazine Asia 2016 no.056]
Biasanya cowok yang kullihat pakai warna pink itu rada-rada gimana gitu.. tapi entahlah kalo untuk Joshua, dia kelihatan pantas-pantas saja, karena perangainya memang lembut dan ramah. Aduh.. cakepnya, seru kali ya punya pacar seperti dia.. eh, tapi sepertinya dia sudah punya pasangan deh. Terlihat dari cincin emas putih di jari manis kirinya. Wah.. ekspresi antusias dan kagumnya terlihat ckup menggemaskan. Matanya yang melebar dan mulutnya yang membulat kecil membuatnya tampak imut. Eh.. malah ngeliatin Joshua kan.. lebih baik aku memperhatikan ruangannya saja.
Ruangan yang cukup rapi dengan dominasi warna putih dan biru muda. Di sudut ruangan ada sofa dan meja, dinding yang dihiasi wallpaper biru muda bermotif vintage, dihiasi lukisan impresionis. Kemudian ada lemari buku berukuran setinggi manusia dan.. wahh kulihat ada koleksi komik Jepang terbitan lama di dalamnya. Setelah selesai aku mau izin melihat komik apa yang menjadi koleksinya. Kulihat ia juga selesai menelaah semua isi katalog fesyenku.
"bagaimana Joshua, tanggapanmu mengenai karyaku?"
"luar biasa, keindahan kain tradisional Indonesia yang beraneka ragam. Aku baru tahu batik di setiap daerah mengandung makna dan perbedaan yang khas, juga kain tenun bernama songket itu, ternyata berbeda juga jenisnya di setiap daerah. Katalogmu membantu sekali untuk menambah pengetahuan budaya dengan penjelasan di dalamnya. Sungguh katalog yang informatif, dan desainmu sungguh sesuai dan tepat dengan pilihan kainnya. Ini pertama kalinya aku bersemangat kembali terhadap tawaran fashion kepada Ceci. Terasa seperti angin segar di industri fashion Korea yang terkadang terlihat monoton dari tahun-ke tahun"
Aku terdiam mendengarkan antusiasmenya. Nada bicara yang halus diiringi dengan senyuman manisnya membuatku berbunga-bunga entah mengapa.
"terimakasih banyak atas apresiasimu Josh, aku tidak menyangka responnya akan sebaik ini. Sungguh beruntung bisa menemui klien menyenangkan dan baik sepertimu. Aku akan sangat senang menjadi sponsor pakaian di Ceci seraya mengiklankan fashion line-ku. Kuharap masyarakat fashionista Korea dapat menerima karyaku dengan baik nantinya"
"amin, aku juga ingin nanti kau juga membuat produk fashion untuk pria. Aku ingin mengenakan kain indah tersebut. seperti halnya kamu yang juga menggunakan batik sebagai pakaian. Ngomong-ngomong, gaya berpakaianmu unik dan sopan. Agak jarang aku melihat wanita moderen menggunakan bawahan tertutup hingga mata kakinya sekarang"
"akan aku usahakan untuk kedepannya agar segera membuat men's wear dari produkku. Oh.. itu karena aku orang Indonesia. Aku terbiasa memakai pakaian yang sopan, ada rasa malu ketika aku menggunakan pakaian yang mengeksploitasi tubuh dan kulit. Lagipula kadang aku merasa sedih, mengapa pakaian wnaita terlihat lebih minim dibandingkan pria? Aku kasihan wanita-wanita tersebut masuk angin. Well.. itu adalah pendapatku, maaf kalau aku terlalu ekstrim"
"hahaha.. benar apa katamu, aku juga bingung, tapi aku sudah terbiasa melihat hal itu di industri fashion dan entertaintment. Bahkan, ketelanjangan baik pria dan wanita dalam fashion itu adalah hal yang wajar"
"ya, aku tau itu.. tapi aku adalah seorang fesyen desainer yang memiliki ideologi sendiri. Jadi, kuharap kau tidak menganggapku sebagai ekstrimis hehe"
"setiap orang berhak memiliki cara pandang tersendiri tanpa menjadi radikal"
"ya, kau benar.. wah.. tak terasa kita sudah banyak berbincang ya.."
"kau benar, obrolan kita terasa menyenangkan. Apa karena memang kita seumuran jadi chemistry lebih terasa?"
"kurasa begitu Josh.. oiya, ngomong-ngomong kau suka Manga ya?"
"iya, aku suka. Kau tau darimana?"
"ehm.. aku tidak sengaja melihat ada koleksi yang familiar di rak bukumu"
"wah.. kau bisa me-notice itu, pasti kau seorang Otaku?"
"haha sudah tidak terlalu lagi sekarang, terakhir ketika kuliah sampai S1 ku"
"aku juga sudah terlalu sibuk untuk mengoleksi komik dan menonton anime. Oiya, komik dan anime apa yang kau suka?"
"terakhir yang kusuka adalah Black Butler versi Manga, anime mengenai renang Free, Gintama, dan One Punch Man yang kusukai baik anime dan manganya. Kalau kau?"
"aku suka Naruto, Death Note, One Piece dan.. cukup menyukai One Punch Man juga"
"haha.. nostalgia masa remaja ya.."
"iya.. tetapi menjadi Otaku lumayan menyenangkan selama tidak berlebihan"
"ya, apalagi sampai level Weaboo"
"Weaboo? Apa itu?"
"itu adalah level penggemar anime dan manga akut. Yang sangat memuja karakter sampai dianggap waifu alias istri atau husbando alias suaminya. Mencintai tokoh 2d tersebut berlebihan"
"oh, ada istilah baru?"
"tidak, itu sudah lama ada sejak 5 tahun lalu seingatku"
"begitu ya.. wah menyenangkan sekali bisa bertemu orang yang seleranya sama, seumuran dan klop dalam berbagai pembicaraan"
"haha.. iya, aku juga senang bisa bertemu dengan partner bisnis yang seru, oh iya apakah besok aku harus kembali menemuimu lagi saat kirirman sudah datang?"
"iya, aku harap kau bisa datang. Apakah besok bisa?"
"kuharap bisa.. yasudah kalau memang pembahasan hari ini selesai.. aku akan pamit undur diri"
"iya, silakan.. sampai jumpa besok Ayu"
"sampai jumpa Josh.."
Aku pun pergi meninggalkan ruangan Joshua setelah berjabat tangan dengannya.
Kini, aku telah meninggalkan Ceci Buliding. Aku melihat smartphoneku. Ada sms panduan jalan dari Mingyu. Aku pun mulai mencari stasiun kereta api antar kota agar lebih murah, karena naik taksi sampai ke rumah Mingyu itu mahal.
TBC...
See you next chapter..
Trimakasih buat semua follower dan yang menyukai... buat silent readers yang makin bertambah, bisa minta kritik dan sarannya? Hehe.. sankyuuu :3
