Seventeen ©Tuhan, Pledis ent, Keluarganya

Fanfic ini dan OC ©Jameelah Jamil

Posisi OC disini bisa dibayangkan sebagai kalian ketika dihadapkan dengan situasi seperti dalam cerita.

Maaf bila ada salah kata dan kata2 yang kurang berkenan.

This is another 'seadanya' chapter hehe..

so, enjoy and happy reading.. :3


Pagi Hari di Kediaman Kim, Gangnam

Pada pukul 4.30 hari ini, setelah aku selesai melaksanakan solat subuh, aku berjalan menuju dapur dan kulihat Mingyu sedang meracik sebuah bumbu. Rajin sekali ia, subuh-subuh sudah masak. Kuhampiri dia.

"Min, rajin banget subuh-subuh udah masak aja"

"oh.. iya nih mbak, hari ini aku mau ketemuan sama temanku di Cafe Ceci Building. Dia minta dibawakan Sop Buntut khas Indonesia katanya"

"oalah.. haha.. kebetulan hari ini aku juga mau ke Ceci lagi, mau ngasih sample baju ke klienku"

"yasudah bareng aja nanti"

"sip, suwun yo dek"

"sami-sami mbak"

"oiya, udah mateng tuh dagingnya sama buntutnya. Cemplungin gih bumbu keduanya"

"iya, nih masih dipotong-potong"

Kemudian, Mingyu pun melanjutkan acara memasaknya. Aku memerhatikannya sambil duduk di kursi makan.

"hmm.. aromanya enak banget, pengen dong nyobain"

"dikit lagi mateng kok, lagian aku juga buat rada banyakan nih, bisa buat sarapan juga"

"yeayy.. makan sop buntut masakan chef terkemuka nan ganteng eksotis"

"haha.. bisa aja.."

"eh, ngomong-ngomong kamu dapat bahan-bahan kuliner Indonesia darimana?"

"ada di pasar tradisional di distrik yang banyak tinggal orang Indonesia. Di daerah.."

"wahh.. kapan-kapan kalau mau belanja bilang ya, aku mau beli terasi, pengen nyambel aku"

"boleh tuh, ntar aku mau nyobain sambel terasi buatan mbak Ayu"

"sip dehh.. oiya, aku masih ngantuk nih.. mau tidur lagi ah bentar"

"awas, ntar gemuk lho tidur pagi-pagi"

"kan ga lama-lama amat, toh aku masih olahraga juga"

Aku pun kembali ke kamar untuk tidur sebentar. Yaa.. emang ga bagus sih.. tapi hehe... godaan kasur tak bisa ditolak.

Beberapa jam kemudian, kami telah siap dan rapi untuk menuju tempat tujuan masing-masing.

Seperti kemarin, kami bertiga berangkat bersama menuju tempat tujuan kami.

Setelah beberapa waktu kami habiskan di mobil dengan perbincangan acak seperti biasanya, aku dan Mingyu pun sampai di Ceci Buliding.


Ceci Building's Cafe and Resto

"Min, katanya pertemuan kedua ini di cafe sini. Kamu juga nungguin temenmu kan?"

"iya mbak, aku nunggu disini aja sama mbak.. nanti mbak bisa kenalan juga sama temenku daripada bete"

"wait, temenmu cewek atau cowok?"

"cowok mbak"

"waduh.. aku rada grogian kalo diajak ketemuan dalam acara non formal kalo sama cowok"

"santai mbak, dia orangnya asik kok. Lembut dan sopan banget"

"okelah.. aku ikut aja nanti. Eh, tuh dia klienku udah nongol dari pintu mau masuk Cafe" kulihat Joshua sudah datang. Kulambaikan tangan dari posisiku.

Kelihatannya dia sudah melihat lambaian tanganku dan ia pun segera duduk.

"selamat pagi Ayu, lama menunggu? Eh.. Mingyu?" ia terlihat kaget ketika menyadari ada Mingyu disampingku.

"Jisoo hyung?"

"tunggu.. kalian saling kenal?"

"iya noona, yang kumaksud temanku yang juga mengajakku ketemuan setelah urusan bisnismu ya dia lah orangnya"

"ehm.. kalian juga saling kenal kah Ayu dan Mingyu?"

"iya, aku dan Mingyu adalah saudara sepupu"

"wah.. dunia begitu sempit ya?" ia pun tertawa anggun lalu tersenyum.

"haha iya hyung, oiya.. pesananmu dan percakapan kita nanti saja. Silakan hyung dan noona bicarakan keperluan bisnis kalian terlebih dahulu"

"ok Min, tapi nanti kita berbincang bersama juga tak masalah.. tidak usah formal lah.. anggap saja perbincangan hangat di pagi hari"

"iya, tidak masalah untukku"

"baiklah, Joshua.. ini adalah beberapa helai contoh baju yang baru tiba dan dikirim ke rumah Mingyu atas namaku, karena butikku cabang Gangnam belum selesai finishing interiornya" ucapku kepada Joshua sambil menyerahkan tas berisi 3 lembar pakaian beraksen kain songket Sumatera kepadanya.

"wah.. indah sekali. Kurasa akan bagus bila nanti pakaian dari butikmu kujadikan sponsor untuk wardrobe para model Ceci. Profilmu akan kuajukan kepada bagian editor majalah lainnya agar dapat diliput menjadi narasumber tokoh kami"

"benarkah? Terimakasih.. atas tawarannya, sungguh menyenangkan bisa memperkenalkan kain tradisional Indonesia di Negeri Ginseng ini"

"sama-sama, aku dan segenap kru dari Ceci juga sangat antusias akan karya-karyamu yang unik dan menarik. Oh iya, tadi katamu baju-bajunya dikirim di rumah Mingyu? Kamu tinggal di rumahnya?"

"iya Josh, aku tinggal bersama keluarga kecilnya selama mengurusi butikku di Gangnam ini. Ya.. lumayan kan punya saudara bisa dimintai tolong. Iya kan Min? Hehe" ucapku sambil menyikut pelan lengannya.

"ha-ha.. iya noona, lumayan ya? Gratisan?" ucapnya dengan muka asem yang dibuat-buat.

"lah.. kan aku tidak merepotkan-merepotkan amat Min.."

"iya, santai noona hehe"

"ha..ha.." terlihat Joshua tertawa perlahan dan menampilkan senyumnya kepada kami. Aih.. manis betul senyum orang ini..

"interaksi kalian berdua lucu.."

"hehe.. lucu ya? Kurasa kami pantas ikutan stand up komedi tapi duet, bukan solo"

"bisa tuh nanti aku bisa melambaikan tangan ke kamera dan berkata 'ibu, aku masuk tv lhoo'"

"iya deh, sesukamu Min, tapi habis itu aku turun panggung duluan, ceritanya tidak mengenalmu"

"yahh tidak seru kau noona.."

"hahahaha.. bersama kalian aku bisa awet muda dan melupakan sakit kepalaku seharian ini"

"eh.. kamu sedang sakit Josh?"

"ya.. bisa dibilang sakit, bisa juga tidak"

"mungkin kamu kelelahan.."

"itu menjadi salah satu faktor"

"kalau begitu, coba segera makan sup buntut pesananmu yang kau idam-idamkan ini hyung"

"wah.. kamu benar-benar membawanya, terimakasih banyak Min, sudah dari kemarin aku ingiiin sekali makan ini"

"sama-sama hyung, senang membantu. Karena, kata orang dahulu di Indonesia kalau keinginan mengidam tidak terpenuhi nanti anaknya bisa berliur sampai besar alias ileran"

"benarkah? Wah.. seram juga, jangan sampai nanti begitu"

"nah.. makanya, kalau ingin sesuatu.. usahakan dicari sampai dapat hyung, kecuali memang tidak bisa"

Wait.. pembicaraan macam apa ini?

"emm.. maaf, memang siapa yang ngidam?"

"tuh.. Jisoo hyung mbak" ucap Mingyu santai sambil menunjuk Joshua santai.

"lucu kowe Min, moso iyo.. ono-ono wae kowe.."[lucu kamu Min, masa iya.. ada-ada aja kamu]

"tenanan mbak, jan* wong iki.. dia iku golongan lanang spesial koyo bojoku! Lha wong aku kenal dia yo neng komunitas kok" [beneran mbak, *ungkapan semacam bener-bener deh* orang ini.. dia itu golongan lelaki spesial seperti pasanganku! Lah orang aku kenal dia ya dari komunitas kok]

"eh, temen kita gak faham tuh, mode Korean lagi Min.." ucapku sambil melihat kearah Joshua yang menatap kami dengan tatapan penasaran yang entah mengapa terlihat manis? Entahlah.. aura manis orang ini kuat sekali apa karena efek... ah masih ragu menyebutnya.

"ok mbak. Hyung, noonaku bertanya mengenai percakapan kita barusan. Apakah kau tidak keberatan untuk menjelaskannya?"

Joshua terlihat diam dan menunduk dengan ekspresi wajah yang terlihat dilema.

"tenang saja Josh, aku sudah mendengar pengakuan yang mengejutkan dari pasangan Mingyu dan Wonwoo. Aku tidak memaksamu, tetapi kalau boleh jujur.. aku penasaran, apakah kau merupakan sosok yang mengalami keajaiban seperti Wonwoo yang kurasa kau mengenalnya?"

"well.. firstly.. i will say yes. I know Mingyu and Wonwoo from the community for MP. Do you know what is MP?"

"MP? I have no idea. What is that?"

"that's acronim for Male Pregnant. Komunitas tersebut bukan sekedar gay atau LGBT community tempat para pendosa semacam itu" ucapnya dengan nada lirih dan tatapan serius kearahku.

"kau bilang.. pendosa? Kalau memang menurutmu itu perbuatan dosa, berarti komunitas MP itu juga. Karena merupakan pernikahan yang menyalahi kodrat" jawabku dengan nada lirih juga. Kurasa sesi percakapan kali ini kami berbicara secara lirih-lirih saja.

"aku tahu, yang kulakukan adalah dosa juga. Dalam agama manapun, yang namanya pernikahan sejenis macam ini adalah sebuah perbuatan dosa besar. Aku pun dibesarkan dalam keluarga yang taat agama dan rajin ke gereja, namun.. kenyataan bahwa pernikahan yang kulakukan tidak sepenuhnya menyalahi kodrat membuatku yakin bahwa pasti Tuhan memaklumi perbuatan kami" ia berucap seraya menundukkan pandangan dengan wajah sendu.

"apa yang membuatmu yakin bahwa Tuhan akan memaklumi hal tersebut? maaf bila pertanyaanku terdengar frontal"

"karena.. saat ini aku sedang menjaga titipan Tuhan yang sangat berharga" ucapnya sambil tersenyum anggun.

"em.. maksudnyaa.. kau.." aku kehilangan kata-kata.

"ya.. sesuai dugaanmu. Kira-kira 7 bulan lagi kamu bisa melihatku menggendong sesosok mungil. Itupun bila aku masih diberi kesempatan menikmati dunia.." ia mengucapkan kalimat itu dengan senyuman sendu.

"apakah resikonya sangat tinggi?"

"tergantung bagaimana kondisi tubuhnya. Aku agak lemah dan menderita anemia, jadi terkadang dengan keadaan ini aku bisa mendapat serangan sakit kepala selama setengah hari"

"oh.. begitu, aku hanya bisa mendoakan kesehatanmu dan calon anakmu Josh.. kami akan membantu sebisa kami ketika kau sedang kesulitan dan kelelahan. Bila perlu akan kukunjungi kamu, dan kami hibur agar kau bisa melupakan sakitmu"

"itu benar hyung.. ada kami, tidak perlu kau simpan penderitaanmu. Aku tahu, suamimu sering dinas pemerintahan hingga keluar kota selama berminggu-minggu"

"terimakasih teman-teman.. dengan adanya kalian disini sekarang saja sudah membuatku senang"

"itulah gunanya teman hyung.."

"oiya, meneruskan topik serius tadi.. aku ingin bertanya tentang opini kalian mengenai maraknya komunitas LBGT yang mulai gencar ingin diakui dan menyatakan seolah mereka kumpulan orang yang tidak diberikan hak asasi sebagai manusia, bersikap seolah mereka butuh empati karena tersingkirkan.. apapun itu yang bersifat persuasif dan memohon untuk dilegalkan. Bagaimana menurut kalian?"

"siapa dulu yang memulai? Mingyu atau aku?" tanyanya pada Mingyu.

"hmm.. pasti hyung sudah punya opini cerdas lebih banyak. Silakan duluan"

"haha bisa saja kamu Mingyu. Baiklah ini menurut opiniku.. mereka yang bersikap seperti itu, aku yakin itu hanya nafsu duniawi yang tidak berdasar pada kesadaran. Bersikap seolah hak asasi mereka tidak diakui. Mereka itu seharusnya diberikan pembekalan rohani, mentoring, apapun yang bersifat pendekatan secara baik untuk mengurangi bahkan sampai tahap menormalkan mereka. Aku sendiri, memiliki alasan mengapa menjadi salah satu pendosa itu. Aku ingin menikah dengan wanita yang kucintai. Namun.. selalu setiap aku dan beberapa wanita yang pernah dekat denganku kujelaskan mengenai kelainan.. ehm keajaibanku dalam pertemuan antar calon besan, mereka tidak ada yang mau menerima pria dengan keanehan ini. Aku tahu memang usiaku masih muda untuk menikah, tapi paling tidak saat itu aku hanya merencanakan hubungan serius dengan wanita pilihanku sembari menjelaskan fakta-fakta satu-sama lain. Kemudian aku mencoba mencari tahu di internet mengenai MP ini, hingga pada akhirnya kutemukan forum yang aku ikuti sekarang dimana aku kenal dengan Mingyu dan Wonwoo"

"jadi.. kamu sendiri menolak hal mengenai pelegalan LGBT tersebut?"

"tentu saja, jelas-jelas itu perbuatan dosa. Lagipula, sebagian anggota komunitas MP tersebut adalah pria berorientasi seksual normal. Namun karena takdir, mereka menerimanya"

"memangnya banyak ya pria spesial itu sehingga bisa membangun komunitas?"

"tidak banyak, di Korea hanya sedikit sekali, itu pun ada yang buatan, dengan kecanggihan teknologi ia membuat dirinya menjadi MP. Perbuatan dosa lainnya yang melawan takdir"

"what? Ada yang mau seperti itu ? Ya ampun dunia sudah gila"

"memang, aku sendiri menganggap apa yang menimpaku adalah cobaan. Namun, setelah hadir nyawa baru yang harus kujaga, aku segera menganggap ini adalah anugerah Tuhan terindah buatku"

"baiklah, opini dan ceritamu bagus sekali. Aku salut dengan cara pandangmu Josh. Min.. kini coba tunjukkan argumenmu"

"ehm.. jadi.. inilah jawabanku.. aku tidak mendukung perbuatan LGBT, walaupun aku menjadi pelaku pernikahan sejenis dan jelas-jelas mencintai pasanganku. Namun, pada dasarnya, aku ini pria normal. Bahkan kau tahu sendiri noona.. bahwa aku dulunya playboy. Lumayan sering gonta-ganti pacar yang cantik-cantik. Namun.. aku menemukan kehampaan dari hubunganku. Sampai aku bertemu Wonwoo hyung saat ia sering mampir di cafe ku dulu, kemudian berteman dengannya hingga kami saling jatuh cinta. Jadi, kurasa LGBT dan pernikahan sesama jenis tetap merupakan hal yang dilarang, namun.. mungkin akan beda cerita untuk pasangan aneh seperti kami" ujar Mingyu seraya mengendikkan bahu.

Kami pun melanjutkan cerita-cerita melalui obrolan kami yang random. Dimulai dari urusan serius, hingga remeh-temeh sampai waktu makan siang tiba.

TBC...

Hehe.. udahan dulu yak.. maklumi kalo masih kurang gereget.. authornye lagi baper gara-gara reviewnya masih dikit aja, padahal viewers dan visitorsnya nambah terus.. :3 #PasangTampangSokTegar

So.. terimakasih kuucap sama para pembaca yang setia mereview, thanks untuk jeng Daeminjae yang rajin bgt review, dan jeng2 lainnya yang kusayangii.. followers, likers.. salam sayangku untuk kalian.. :3

Oiya, balasan buat jeng jungjaegun:

Kapan yaa.. wkwkwk.. ada saatnya kok.. tunggu aja tanggal maennya (padahal belom kepikiran mau di jadiin 'isi' kapan)