Seventeen ©Tuhan, Pledis ent, Keluarganya

Fanfic ini dan OC ©Jameelah Jamil

Posisi OC disini bisa dibayangkan sebagai kalian ketika dihadapkan dengan situasi seperti dalam cerita.

Maaf bila ada salah kata dan kata2 yang kurang berkenan.


Kediaman Kim, Awal Musim Salju

Kuhirup segarnya udara pagi ini. Udara mulai terasa dingin pertanda musim salju segera datang. Semalam sungguh menyenangkan, sebelumnya adalah perayaan natal yang kami rayakan. Meskipun mbak Ayu tidak merayakan natal, tapi ia juga terlihat menghargai dan turut berbahagia bersama kami. Lagipula, kebahagiaan setelah natal kami berlanjut di hari ini karena ini adalah perayaan satu tahun pernikahan kami. Aku memutuskan untuk berolah raga untuk menghangatkan badanku, oh iya.. musim dingin begini apa mbak Ayu membawa baju tebal yang cukup untuk melindunginya? Ia kan terbiasa di suhu tropis.. akan kutemui dia dahulu di kamarnya.

Aku pun memasuki rumah kembali dan kulihat mbak Ayu ada di meja makan sambil meminum coklat panas sambil merapatkan tubuhnya dengan selimut. Dia terlihat lucu, seperti kepompong. Kuhampiri dia..

"mbak, kedinginan ya?"

"iya nih Min.. brrr mana aku nggak bawa mantel musim dingin. Aku lupa kalau biasanya Desember akhir itu mulai musim salju"

"yaudah, nanti kita pergi ke Dongdaemun, kita shopping mantel buatmu dan belanja beberapa bahan makanan buat acara nanti malam"

"Dongdaemun? Yeahh shopping.. eh.. acara apaan Min?"

"dasar mbak-mbak.. denger kata shopping udah girang betul, acara anniv setahun aku sama Wonwoo mbak.. lupa ya?"

"hehe.. maklum cewek Min.. hah? Oiyaaa.. wahh selamat yaa.. eh, ngomong-ngomong mana dia?"

"katanya sih tadi dia pusing gitu.. mungkin kecapean habis meriksa tugas mahasiswa-mahasiswanya, maklum habis UAS"

"hmm.. gitu tohh.. yowes.. masak sarapan dulu yuk, ntar kalau udah siap sarapannya panggil dia"

"oke yuk masak"

Mbak Ayu terlihat mengangkat jempolnya dan berjalan menuju kulkas untuk mengeluarkan beberapa sayuran dengan selimut masih melilit tubuhnya.

"Min, masak apa ya enaknya? Kayaknya sop-sop yang berkuah hangat gitu enak buat sarapan"

"boleh tuh.. hmm ada sayur wortel, buncis dan.. tomat.. sisa itu saja, kita belum belanja lagi"

"yasudah lah sop saja.. toh hari ini kita bakal belanja bareng"

"oke deh kalo begitu"

Kami pun memutuskan untuk membuat sop ala kadarnya.

Sup yang kami buat hanya membutuhkan sekitar setengah jam. Aku pun memutuskan untuk membangunkan Wonu hyung untuk sarapan bersama.

Kubuka pintu kamarku, terlihat gundukan di dalam selimut. Aku pun menggoyangkannya.

"hyung, bangun.. ayo sarapan"

"hmmm.. aku belum lapar" ia menyahut lemas.

"tetap harus makan hyung, nanti malah sakit. Ini sudah musim dingin, kalau kau sakit tugas-tugas UAS mahasiswamu akan terbengkalai"

"ahh.. iya.. baiklah aku makan.. tapi aku lemas. Tarik akuu.." ia berujar seraya mengangkat tangannya minta diangkat sambil mempoutkan bibirnya. Lucu sekali kalau dia sedang monyong begitu. Aku pun mengecup bibirnya sekilas sebelum menarik tangannya dari posisi berbaringnya.

"nah.. sudah kan? cuci muka sana, trus ke ruang makan, Ayu noona sudah menunggu. Aku duluan ke ruang makan ya"

"baiklah.. aku menyusul nanti"

Aku pun keluar menuju ruang makan. Aku dan mbak Ayu pun tak menunggu lama hingga Wonu hyung muncul dan kami pun sarapan bersama.

Selesai sarapan aku mengajak mereka untuk segera bersiap-siap untuk pergi belanja mantel untuk mbak Ayu dan bahan makanan untuk acara makan malam.

"ehm.. perhatian, setelah sarapan kita siap-siap untuk pergi belanja ya.."

"belanja kemana?" tanya Wonu hyung.

"ke Dongdaemun dulu, menemani Ayu noona beli mantel musim dingin, lalu belanja bahan makanan"

"wah.. aku mau belanja mantel juga deh"

"mantelmu sudah rusak kah hyung?"

"belum, hanya ingin saja"

"haaahh.. yasudah.. jam 8.30 semua sudah siap ya?"

"apa tidak kesiangan tuh belanja makanan jam segitu baru berangkat? Apalagi ke Dongdemun dulu, keburu bahan-bahan segar habis biasanya"

"ah.. iya juga, yasudah jam 7.30? kan sekarang masih jam 6.00 siap-siap 1 ½ jam cukup kan?"

"cukup kok, siap boss kita siap-siap dulu kalo gitu"

"yup.. aku juga tidak akan lama Gyu.."

"deal.."

Setelah semua siap kami bertiga berangkat untuk berbelanja.

.

.

.

.

Dongdaemun, Shopping Street

Kami pun tiba di Dongdaemun. Kami segera mencari toko terdekat yang menjual mantel tebal untuk musim dingin. 2 toko kami lewati, rupanya ketemu juga.

Aku pun mengajak Wonu hyung dan mbak Ayu ke toko tersebut.

Terlihat mbak Ayu dan Wonu hyung yang asyik dengan deretan mantel dan tatapan mereka yang serius serta kesibukan memilah-milah. Aku yang belum ada keinginan belanja baju atau atribut fesyen pun hanya duduk di kursi tunggu dekat jendela di samping kaca etalase toko. Ketika aku duduk sambil menunggu mereka, kurasakan banyak tatapan mata memerhatikanku. Rupanya beberapa wanita muda dan tante-tante menatapku dengan tatapan.. em.. terpesona? Ah entahlah aku tak mau gede rasa. Ayolah hyung, mbak.. cepat tetapkan pilihan dan beli, agar kita bisa segera keluar dari sini..

.

.

.

Akhirnyaa.. 52 menit penantian mereka selesai juga. Terlihat mbak Ayu yang langsung mengenakan mantel dinginnya. Ia terlihat keren, mantel panjangnya berwana hitam, dengan syal batik yang melilit lehernya membuat penampilannya simpel dan unik. Lumayan, kalau dia hilang bisa ditemukan dengan mudah. Cari saja wanita ber-syal batik hehehe... kalau soal penampilan Wonu hyung? Dia sih hanya mengenakan sweater turtle neck berwarna putih dengan long coat ungu tua. Sederhana tetapi tetap menawan menurutku.


Pasar Tradisional, Wilayah Itaewon

Perjalanan selanjutnya kami beralih ke wilayah dimana banyak umat muslim tinggal dan singgah disini. Tujuanku mengajak mereka berbelanja kemari adalah untuk mencari makanan yang halal, serta beberapa bahan untuk makanan yang ada di menu khas Indonesia. Sekalian belanja untuk restoran dan di rumah, lagipula acara nanti orangtuaku dan Wonu hyung akan datang, ibuku akan datang lebih cepat untuk membantu kami memasak makanan khas Indonesia.

Kuajak mbak Ayu dan Wonu hyung memasuki sebuah toko tempat bahan makanan khas Indonesia dijual. Toko 'Rezeki'

"mbak, itu tokonya.. katanya mau beli terasi beberapa hari yang lalu.."

"oh.. iya, masuk yuk.."

Kami bertiga pun memasuki toko tersebut.

Mbak Ayu telihat memilah dan mencium aroma terasi mana yang sekiranya paling sedap. Kulihat Wonu hyung yang mencoba mencium terasi dengan bungkus kertas yang sedang dicium aromanya oleh mbak Ayu.

"fuhh.. baunya aneh.. makanan apa ini" ucapnya sambil mengernyitkan hidungnya.

"itu adalah fermentasi udang yang dijadikan semacam pasta, bisa menjadi olahan sambal"

"tapi baunya aneh sekali noona, kau serius akan memasak ini nanti?"

"iya.. pokoknya coba saja lah nanti hehe"

Aku hanya tersenyum melihat antusiasme mbak Ayu ketika menemukan terasi yang dirasanya cocok.

Kami pun melanjutkan agenda mencari sayuran segar, daging, dan bumbu-bumbu masak lainnya.

.

.

.

Haaaahh... semua belanjaan sudah terbeli. Kami pun telah sampai di mobil. Aku segera menghidupkan mesin dan segera pulang.

Selama perjalanan pulang, kulihat Wonu hyung tidur di sebelahku. Mbak Ayu juga tertidur hingga kepalanya miring kekanan merapat ke jendela di deretan kedua. Enaknyaa yang tinggal duduk jadi penumpang...

.

.

.

Kami pun akhirnya sampai di rumah dengan selamat. aku ngantuk sekali, kubilang saja mau tiduran sebentar, biar mereka yang menyiapkan bahan-bahan dulu.

"noona, hyung.. aku mau tidur dulu, nanti kalian tolong siapkan bahan-bahan dulu ya.. oiya, katanya ibuku mau datang jam 3 sore nanti.. ini masih jam 1 sih.. kalau mau istirahat juga boleh sebelum kita meneruskan pekerjaan"

"iya, aku juga agak pusing lagi Gyu.."

"aku juga.. hoaamm.. masih nagntuk Min.. tapi yaudah kalian tidur duluan saja, biar belanjaan kurapikan di dapur"

"terimakasih noona"

"suwun mbakk.. tak tinggal turu yo" [makasih mbak, kutinggal tidur ya]

"oke.."

Aku dan Wonu hyung pun menuju kamar untuk tidur sebentar...

.

.

.

.

Ting tong... Ting tong...

Hoaamm.. ada suara bel.. aku cuci muka dulu deh.. baru setelah itu aku buka pintunya.

Selesai mencuci muka, aku keluar kamar dan membuka pintunya.

"Oalah* Min.. Min.. untung ibu ora beku nunggu kowe kesuwen ning njobo" [*semacem ya ampun* Min..min untung ibu tidak beku nunggu kamu kelamaan di luar]

"Oemji.. ibu.. pangapunten, mari masuk.. tadi kami bertiga ketiduran habis capek belanja.. mana dingin lagi, yaudah melungker* dalem selimut" [*mendekam]

"yowes, ga masalah le* mana si Won sama Ayu? Masih tidur kah?" [*tole*panggilan untuk anak cowok]

"iya bu, nanti kubangungin, ibu duduk dulu aja. Mau teh, coklat, atau kopi anget?"

"coklat anget aja.."

"oh iya, appa mana?"

"halah.. appa mu kan masih di restoran di Gyeonggi, paling baru sampe sini jam 7 malem"

"oh.. yasudah.. kirain ga dateng"

"diusahakan dateng kok le.."

Aku pun pamit membangunkan Wonu hyung dan mbak Ayu untuk bertemu dengan ibu.

Terlihat Wonu hyung yang sudah segar menemui ibu dan mencium tangan kanannya. Ibuku membiasakan budaya cium tangan seperti di Indonesia, katanya lebih nyaman begitu.

"selamat datang 'ibu' bagaimana kabarnya?"

"baik Won, bagaimana denganmu?"

"cukup baik bu, walau yah.. sedang agak pusing karena sedang banyak menilai hasil UAS mahasiswaku"

"ya jangan dipaksain lah.. yang penting disiplin saja"

"iya, terimakasih bu"

Ibu dan Wonu hyung kemudian berbincang dengan bahasa Korea. Ibuku tetap menyuruh hyung untuk memanggilnya 'Ibu', bukan Umma. Biar beda gitu katanya..

"oh iya, mana Ayu?" tanya ibu padaku dengan bahasa Indonesia.

"hadir bulekk" ucap sebuah suara dari atas tangga. Mbak Ayu sudah bangun dan terlihat segar, kemudian menghampiri ibu dan mencium tangannya.

"eh.. nduk* Ayu sudah bangun, kedengeran ya suara bulek sampe atas?" [*nduk panggilan untuk anak perempuan]

"hehe iya, lalu aku langsung bangun dan menemui bulek, masa iya nerusin bobok?"

"kamu bisa aja Yu.."

Kami berbincang sebentar, kemudian kuajak mereka untuk segera meracik makanan.

"anak-anakku, sekarang kita akan buat dua jenis hidangan. Ala Indonesia dan Korea, tidak usah terlalu banyak, yang penting ada perwakilan masakan. Menurut kalian apa masakan Korea yang paling menggambarkan Korea?"

"Kimchi, bibimbap, kimbap, bulgogi, ramyun. Itu yang paling terkenal bu, silakan dipilih"

"oke, kita buat kimchi.. eh.. tapi ada kimchi instan saja tidak? Biar lebih praktis"

"ada bu, kami tadi beli" ucapku menunjukkan sekaleng kimchi instan

"baiklah, lalu.. ahh.. kimbap saja bagaimana? Biar nanti masak nasi yang banyak sekalian"

"boleh.." ucap Wonu hyung. "kurasa aku akan menangani kimbapnya bu"

"boleh, lalu.. Ayu.. katanya mau membuat sambal terasi khas ya?"

"hehe iya bulek, sama nanti bantu-bantu bulek masak juga"

"sip, lalu Mingyu.. nanti bantu Wonwoo soal kimbap dan sotonya ya.."

"ibu mau buat soto? Kami sepertinya lupa beli daun salam dan serehnya, hanya ada kunyit"

"tidak masalah le, ibu sudah bawa bumbu pasta soto olahan ibu sendiri.. dagingnya ada kan?"

"ada, lengkap se-tulang iganya buat tambahan kaldu"

"bagus.."

"tunggu.. kalau makanannya soto sama kimbap apa nyambung kalau sama sambel terasi?"

"oiya, ..hmm begini saja, kalian beli ikan kan?"

"ada bu, tapi ikan dori"

"di goreng saja, ada sayur untuk lalapan kan?"

"ada. Selada, timun"

"baiklah.. ikan goreng, sambal dan lalapan cocok kok. Oke, sekarang, let's get start it kidooss.."

"ay-ay captain" ucap kami bertiga bersamaan.

Suasana memasak kami berempat terasa ramai dan menyenangkan. Aroma sedap mulai tercium ketika masakan ibu sudah hampir matang. Kimbapnya hyung juga sudah cukup banyak. Kemudian.. masakan ter-spesial mulai ditumis.. dan memunculkan sedikit huru-hara.

"hachimm"

"hatsyyii"

"ah-choo"

"huahiiingg"

Berbagai jenis suara bersin bermunculan ketika ulekan sambel terasi mbak Ayu mulai ditumis. Aduhh kuakui bau terasi sungguh tidak sedap, tetapi aku lumayan menyukai sambal tersebut.

"uhuk-uhuk.. tolong.. ambilkan daun uhuk.. jeruk nipisnya Min"

"yang mana.. ohok.. mbak.."

"tuh yang daunnya kecil dan wangi citrus-uhuk itu"

"nih.."

Setelah bersin, kami batuk-batuk karena aroma tumisan yang menggelitik hingga tenggorokan. Kulihat Wonu hyung yang lari ke kamar mandi tergesa-gesa. Setelah kembali ke dapur, ia terlihat lemas dan terhuyung.

"hyung, kenapa?"

"aku.. yang pusing, bertambah mual mencium aroma itu, maaf noona.."

"wah.. malah aku yang harus minta maaf.. tidak semua orang suka terasi, apalagi orang luar negeri"

"nak Wonwoo.. duduk di ruang tamu saja atau di halaman belakang dulu, menghindar dari bau terasi yang masih ada di dapur"

"baik bu, Gyu-ya, noona.. maaf aku keluar dulu"

"silakan hyung"

"iya Won, maaf ya"

"tidak apa-apa noona, kebetulan aku memang sedang tidak fit juga"

Melihat hyung yang menjadi agak pucat aku sedikit khawatir, namun makanan ini belum selesai semua.. nanti setelah semua beres aku datangi ia.

"Min, nanti bikinin dia wedang jahe sama olesin punggungnya sama minyak angin yang ibu kasih waktu itu. Ngomong-ngomong udah berapa lama dia sakit itu?"
"sekitar 2 harian sih kayaknya.."

"lah.. nggak kamu kasih apa gitu?"

"dia nya ngenyel bilang sehat-sehat aja, agak susah dibilangin jangan forsir kegiatan. Katanya biar dia pas liburan mahasiswa nggak ribet nilai UAS lagi katanya"

"hm.. atau diaaa.."

"kenapa bu?"

"ahh.. nggak apa-apa, Cuma berekspektasi"

"kayanya aku tau apa yang bulek pikirkan"

"haha.. kamu peka deh Yu"

"haha iya lek.. aku kan memang peka, ga kaya si Min noh!"

"peka apaan dulu nih? Kalo mainnya kode-kodean gini mana aku ngerti.."

"nanti ibu bilangin.. sekalian sama terdakwanya hehe"

"jiaaahh dikira apaan aja bulek"

"hahahaa.."

Kami pun melanjutkan acara memasak kami sambil bergurau. Tak terasa masakan kami matang semua.

.

.

.

Setelah semua telah tertata rapi di meja makan, saatnya menunggu kedatangan orangtua Wonu hyung dan appa. Katanya Joshua hyung dia akan datang juga bersama suaminya, tapi lebih malam soalnya sekalian menginap dan memang berniat sleep over sambil cerita-cerita seru gitu.

Kami pun memutuskan merapikan rumah sebentar sambil menunggu tamu-tamu hadir.

.

.

.

Ting tong..

Terdengar suara bel tanda adanya tamu. Kubuka pintu tersebut. ahh.. rupanya salah satu orang yang kami tunggu sudah datang.

.

.

.

.

.

TBC

See ya next chapter.. :3