Seventeen ©Tuhan, Pledis ent, Keluarganya
Fanfic ini dan OC ©Jameelah Jamil
Posisi OC disini bisa dibayangkan sebagai kalian ketika dihadapkan dengan situasi seperti dalam cerita.
Maafkan salah kata dan kata2 yang kurang berkenan.
Cerita kali ini ada orang-orang dan nama-nama baru yang merupakan OC, imajinasikan sesuai kehendak saja hehe..
Kulihat di depan pintu hadir sesosok wanita paruh baya berkulit putih dengan mata sipit dan tatapan tajam.
"Anyeong, Mingyu-ya.. " ucap wanita tersebut seraya tersenyum.
"nde, anyeonghaseyo umma.. mari masuk, Ibuku juga sudah tiba."
"wah.. kebetulan kalau begitu"
wanita tersebut adalah ibu mertuaku, nyonya Jeon. setelah dia masuk, dia menemui ibuku di ruang makan dan segera mengobrol. Aku pun menawarkan minuman kepadanya. Seperti biasa, ia meminta teh hijau, namun teh hijau di rumah sedang habis, terpaksa ku tawarkan teh melati, untung saja umma mau.
Aku pun membuatkan teh. kuantarkan teh itu kepada umma.
"oiya, mana Wonwoo?"
"ada di halaman belakang tadi, menghindar dari salah satu bahan aroma masakan"
"tumben sekali, biasanya dia tidak bermasalah soal itu. Apa tadi reaksinya?"
"pusing, dan.. mual. begitu katanya"
"apakah gejalanya sering berulang di lain kesempatan? "
"iya, lebih sering pusingnya saja sih kalau pagi hari"
"sudah berapa lama?"
"sekitar 2 hari kira-kira"
"hmm... jangan-jangan"
"kenapa umma?"
"sepertinya kita sepemikiran nyonya Jeon"
"kau.. juga memikirkan hal itu nyonya Kim?"
"iya, ketika memasak bersama tadi aku malah melihat reaksinya sendiri"
"kuharap memang seperti yang kuharapkan deh.."
"sama.. aku juga"
"ibu, umma.. apa yang sedang kalian bicarakan? ayolah cukup ibuku saja yang membuat kode-kodean, aku bemar-benar bingung..."
"kau saja yang tidak peka Min"
"haha.. kurasa umma mu benar Gyu, sudah 2 hari masa tidak ada firasat sih.. ya.. paling tidak ada ekspektasi dahulu lah.."
"aku benar-benar tidak paham apa yang anda sekalian maksudkan. yasudahlah, kupanggil Wonwoo hyung dulu kemari."
"baiklah, lalu segera beri dia wedang jahe ya le, sama minyak angin cap Goloknya"
"inggih bu"
Kuhampiri Hyung yang sedang bersandar di kursi ayunan taman belakang seraya memijat keningnya. wajahnya terlihat tidak nyaman, segera ku peluk ia dari samping.
"hyung, umma sudah datang tuh.."
"benarkah? baiklah aku akan kesana" terlihat ia bangun dari duduk dengan perlahan. ku papah ia agar tidak jatuh.
"berasa orang jompo aku dituntun begini"
"daripada jatuh?"
"iya-iya.."
kami pun duduk di ruang makan menghampiri ibu dan umma.
"anakku.. sini duduk di samping ibu" ujar umma Jeon sambil menunjuk bangku kosong di sebelahnya. Hyung terlihat segera menghampiri dan memeluk ibunya.
"Won, ini ada wedang jahe, coba diminum dulu. setelah itu gosokkan minyak angin ini agar reda pusingnya"
"terimakasih bu" hyung terlihat meminum wedang jahenya sampai habis. lalu mengoleskan minyak cap Golok di leher dan dahinya.
"nyonya Kim, 'wedang jahe' itu apa? aman kan buat orang yang.. 'itu' "
"aman kok, itu kan sekedar menghangatkan tubuh, ya sejenis minuman hangat dari air rebusan jahe dan gula batu, kalau memakai gula Jawa juga bisa."
"oh.. begitu, aku baru tahu.. wah kalau saja aku bisa datang lebih cepat, aku bisa membantu kalian memasak, agar aku juga bisa belajar memasak masakan Indonesia"
"haha.. lain waktu bisa kok, oiya.. mana tuan Jeon? ga ikut?"
"dia sedang di kampung halamannya di Changwon. appanya yang sudah berusia 98 tahun kambuh sakit jantungnya, dan sudah seminggu ini dia yang dapat giliran jaga diantara saudara-saudaranya. Ia hanya bisa titip salam untuk semua yang hadir di acara anniversary ini, ia juga minta agar appanya sembuh"
"amiinn.. mudah-mudahan kakek Jeon lekas sembuh"
"amiinn" doa kami bersama, mengamini harapan ibu untuk kakek Jeon.
"jadi harabeoji sudah seminggu sakitnya? kenapa baru bilang umma?" tanya Wonu hyung sambil tetap berada di pelukan ibunya. loh.. kenapa jadi manja si hyung? tumben banget...
"maaf, umma lupa terus mau mengabari, ini kamu kenapa tumben meluk-meluk begini? tidak malu sama yang lainnya?"
"yasudah tidak apa-apa.. entahlah.. ingin saja memeluk umma, lagipula kan hanya ada ibu dan Mingyu saat ini.. " ucap hyung sambil memonyongkan bibirnya dengan imut. idih.. aneh nih orang..
aku, ibu dan umma hanya menggelengkan kepala. tidak habis pikir dengan tingkah manja hyung yang tumben-tumbennya.
"wah.. nyonya Jeon, sepertinya ekspektasi kita benar deh"
"aku juga merasa begitu, tapi nanti dulu.. tunggu sampai tuan Kim juga tau, nanti dia datang kan?"
"datang kok, nanti malam jam 7"
"nah.. kita bisa memberi tau dia nanti, meski belum tentu benar juga sih.."
"haha berharap kan tidak masalah.. siapa tau benar"
"iya nyonya Kim hehe"
Kulihat dua ibu-ibu itu terkikik seperti abege ngerumpi. Wonwoo hyung yang ada di pelukan umma hanya melihat mereka dengan wajah melongonya.
"umma, ibu.. apa yang kalian harapkan memangnya?"
"hehe.. ada deh, oiya.. memangnya kamu tidak merasa hal aneh belakangan?'
"aneh bagaimana umma?"
"ingin makananan sesuatu, merasa mood tidak nyaman?"
"sejauh ini hanya pusing, dan kadang mual.. itu saja bu. mungkin benar ibu bilang, aku terlalu memforsir kerjaan"
"aduuhh.. jangan Woo-ie ku sayang.. cicil saja kerjaanmu.. jangan suka memforsir berlebihan" ucap umma dengan nada agak tinggi. lah.. ini lagi kenapa si umma?
"i-iya.. aku tidak akan begadang lagi deh.."
" nanti kau akan tau Won, mengapa kami jadi terkesan cerewet begini"
"hmm.. baiklah.."
kemudian, muncullah mbak Ayu dari tangga dengan handuk dikepalanya hendak turun menuju ruang makan.
"ada yang mau gantian mandi? biar aku yang menjaga kalau ada tamu"
"aku mbak.." ucapku.
"ok Min.. " "Eh.. ada tamu.. Anyeonghaseyo.. Ayu imnida"
"anyeong, Ayu shi.. Jeon Jang Geum imnida. maaf kalau boleh tau anda siapa?"
"saya keponakan Kim Lestari ahjumma yang dari Indonesia"
"iya nyonya Jeon, ini keponakan saya dari Indonesia.. dia desainer pakaian terkenal di Asia "
"wah.. luar biasa.. siapa nama panjangmu?"
"Prameswari Ayu Sentono, ahjumma.. terimakasih, saya masih harus banyak belajar kok.. lagipula saya belum terkenal seperti yang Lestari ahjumma bilang"
"siapa bilang kamu belum terkenal? ahjumma biar sudah berumur begini langganan Ceci dan majalah wanita. aku pernah melihat namamu masuk profil di Ceci.. aku tidak menyangka, ternyata keponakan besanku orangnya.. dunia ini sempit ya"
"hehe iya ahjumma.. "
"aku suka sekali karyamu, oiya.. butikmu sudah buka kan yang di Gangnam?"
"sudah, baru beberapa hari lalu beroprasi"
"nanti aku ingin kesana"
"boleh sekali ahjumma, bilang saja nanti.. hehe"
"oiya, suplai batikmu yang batik Madura sudah bulek bilang ke juragannya untuk di paket ke alamat rumah Mingyu ya"
"wah.. makasih banyak bulek.. ntar kubayar ongkos batik dan semuanya ke bulek"
"ndak usah nduk. gantinya baju rancanganmu saja"
"haha siap bulek"
"maaf, saya tidak mengerti nyonya Kim, Ayu apa yang kalian bicarakan?"
"bahasa Indonesia campur Jawa umma.. aku saja sering bingung kalau Ayu noona dan Mingyu berbicara bersama Ibu"
"haha.. maaf nyonya Jeon, kami tadi hanya membahas, bahwa suplai batik Madura untuk butiknya Ayu sudah kukirimkan. Ayu ingin mengganti semua biayanya, namun aku hanya ingin baju rancangan Ayu saja sebagai pengganti biayanya"
"oh, begitu.. aku juga ingin nanti memesan gaun rancanganmu untuk pesta"
"beres ahjumma.. nanti bahas lain waktu saja hehe"
"aduh.. ibu-ibu ya begini nih.. menyisakan dua pria tampan di ruangan ini jadi pajangan" ucapku setelah daritadi menyimak dalam diam. begitu juga dengan Wonu hyung, jangan tanya bagaimana ekspresinya... -_-
"maaf le, tadi kami memang keasyikan hehe" ucap ibuku dengan wajah tak bersalah
"iya Gyu ya.. maklumi saja" "oiya, kenapa kau panggil Mingyu dengan Le?"
" itu singkatan dari tole. istilah bahasa Jawa yang merupakan panggilan untuk anak lelaki"
"oh.. begitu, seru juga punya besan orang negara lain, bisa belajar banyak hal baru"
"begitu juga denganku, hal-hal berbau Korea makin kupahami, selain dari pihak suamiku"
Percakapan hangat kami di ruang tamu berjalan sampai kami lupa waktu, walaupun didominasi oleh percakapan antara Ibu, Umma dan mbak Ayu. Aku dan Wonu hyung hanya menyimak mereka saja, kami sama-sama tidak paham topik bahasan wanita.. lebih baik aku dan Wonu hyung pergi dulu untuk mandi sebelum appa datang. Tentunya kami mandi sendiri-sendiri.. masa lagi ada acara keluarga begini sempet-sempetnya main air bareng?
.
.
.
.
.
7.12 p.m
Sudah pukul 7 lewat 12 menit.. appa belum muncul juga, makanan sudah dihangatkan, meja makan sudah terhidang berbagai masakan.
Kami tunggu di ruang tamu sambil berbincang-bincang.
Ting Tong...
wah.. pasti itu appa. aku berjalan menuju pintu dan membukanya..
"selamat malam nak!" sapa sosok pria paruh baya berambut keabu-abuan karena usia, yang kemudian memelukku seperti beruang.
"yo.. selamat datang appa, mari masuk"
appaku segera masuk dan menyapa seluruh penghuni rumah. kami pun segera menuju ruang makan yang sudah tersedia beberapa kursi tambahan dan berdoa untuk kesejahteraan keluarga dan pernikahan kami.
"malam ini, merupakan malam yang berbahagia bagi anak-anak kita, yaitu Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo yang merayakan setahun pernikahan mereka. selaku orangtua, tentunya aku dan orangtua kalian sangat mengkhawatirkan pernikahan tidak wajar kalian diawal, namun penjelasan dan keteguhan kalian dapat membuat kami selaku orangtua dapat merestui kalian. mudah-mudahan pernikahan kalian langgeng, harmonis, penuh berkah, serta cepat diberi momongan agar kami bisa mendapat cucu. untuk kita semua sekeluarga, agar selalu mendapat berkah serta rezeki yang baik dari yang Maha Kuasa... amin"
"amiiinn" kami semua mengamini doa appa.
"dan untuk keponakanku yang cantik, semoga lekas mendapatkan jodoh.."
"amiinn" kami mengamininya, tentu yang paling kencang objek doanya, si mbak Ayu
"baiklah.. langsung saja kita santap makanan lintas budaya ini"
kami pun segera menyantap hidangan makan malam dengan tenang dan lahap.
.
.
.
.
.
Makan malam yang sudah kami ambil sesuai porsi telah tandas dari piring kami. Kemudian perbincangan mengenai sakitnya Wonu hyung menjadi pembuka obrolan. Terlihat ibu, umma dan mbak Ayu menceritakan hal tersebut kepada appa.
"jadi begitu pa, ceritanya.. bagaimana menurutmu? Apakah itu pertandaaa..." ibu terlihat menggantungkan kalimatnya.
"hmm..bisa jadi sih.." appa terlihat berpikir seraya menganggukkan kepalanya.
"aku berharap begitu pa"
"tentu aku juga, kami semua berharap begitu, benar kan tuan Kim, nyonya Kim?"
"ya, benar"
"tentu!" mereka bertiga terlihat antusias sekali. Aku saja masih belum paham apa yang sedang didiskusikan...
"kamu sendiri, apakah ada firasat mengenai hal lain yang terlintas di pikiranmu?" tanya umma kepada hyung.
"hmm.. apa ya.. kurasa ada yang mengganjal pikiranku, namun aku pun ragu apakah ini benar atau tidak, aku sendiri ragu untuk berharap berlebihan"
"utarakan saja nak" ibuku membujuk hyung.
"iya, Woo-ie.."
"ehm.. aku.. sempat terpikirkan jika ini adalah.. tanda-tanda.. ke..hamilan?" ucap hyung dengan lirih dan wajah memerah.
Kemudian terlihat umma yang duduk di seberang Wonu hyung mengusap tangan puteranya itu.
"itulah yang kami pikirkan nak"
"iya sayang, untung saja kamu peka" ucap ibu kepada Wonu hyung kemudian melirik ku. Maksudnya apa bu lirik-lirik ala ibu tiri begitu?
"makanya, jadilah lelaki yang peka terhadap situasi Gyu, biasakanlah peka terhadap kode-kode yang diberikan perempuan, misalnya dari ibumu, istrimu eh maaf bukan "istrimu" tapi maksudnya para istri terhadap suami, wanita yang dikenal dan lainnya.. karena biasanya perempuan itu suka menyatakan hal secara tersirat"
"dengar kata appamu Min! Makanya jadi orang yang peka dong, nak Won aja peka sama keadaan, masa kamu tidak sih?" ibu terlihat agak sewot padaku.
"iya, kepekaan terhadap situasi dan kode-kode seperti yang appamu katakan itu bisa dibiasakan kok Gyu" umma menambahi.
"baiklah.. aku akan mencoba untuk lebih peka lagi" setelah kukatakan itu, semua orang terlihat tersenyum memaklumiku. Iya deh, aku memang bebal terkadang.. kulihat Wonu hyung yang duduk disamping kiriku menatapku, kemudian mengelus rambutku layaknya kepada bocah. Yeuh.. dikira aku anak kecil apa?
"kalau kalian begitu jadi terlihat seperti adik kakak" mbak Ayu yang sedari tadi menyimak sambil senyum-senyum saja berkomentar.
"haha ya..ya.. bukan seperti pasangan, dasar memang masih bocah anak ini" loh.. appa kenapa meledekku?
"ih, jangan sok pouting lah.. geli Min"
"tuh benar saja, seperti anak kecil puteraku satu ini.. kalah sama adek perempuanmu di Universitas Indonesia sana yang lebih dewasa darimu!" ibu malah ngebandingin aku sama Minji.
"hahahaha..." semua di ruang makan menertawaiku. Aku hanya bisa pasrah dan berekspresi datar. Nasib orang paling muda disini.. paling enak jadi bahan ledekan ya?
"oh iya nak, ingat ya makannya pakai tangan kanan, masa masih lupa sih katanya sudah latihan.. tidak sopan loh.. makan pakai tangan kiri" ibuku menegurku.. uppss iya, kebiasaan lagi deh.
"tapi, di barat saja tidak masalah bu" aku membela diri.
"adat ketimuran tidak begitu Gyu.." appa juga menegurku.
"orangtuamu benar Gyu-ya.." umma pun menambahkan. Kulihat Wonu hyung dan mbak Ayu hanya menganggukkan kepalanya sambil menatapku seperti ingin menghakimi.
"baiklah.. aku akan membiasakan diri makan pakai tangan kanan" ucapku pasrah.
"nah begitu, biar kamu kidal, makan tetap harus pakai tangan kanan" ibuku yang duduk di depanku kemudian menepuk halus tangan kananku.
Kemudian percakapan berlanjut dengan topik bahasan mengenai harga bahan makanan yang naik-turun dipasaran, harga dollar yang melambung membuat perekonomian negara lainnya gonjang-ganjing dan merutuki dollar AS sialan tersebut, konflik Palestina-Israel yang tak kunjung reda, kemajuan nuklir Korea Utara yang ingin disaingi Korea Selatan, isu politik nasional dan internasional, sampe urusan rumah tangga dan ranjang! Memang para orangtua ini.. memberi tips dan berbagai wejangan mengenai hal tesebut, mbak Ayu yang belum menikah juga ikutan diberi wejangan untuk persiapan katanya.. haaahh.. kami hanya bisa mengiyakan saja, biar mereka senang.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 mereka bepamitan pulang.
"kenapa tidak menginap saja?" ajakku
"appa belum menitipkan restoran sama orang kepercayaan, besok harus ke restoran seperti biasa, jadi kapan-kapan saja kami menginap"
"ibu? Ada acara apa kok pulang juga?"
"ada reuni SMA di Surabaya, besok sudah pesan tiket pesawat jam 7 pagi"
"umma kenapa"
"aku mau menengok kakek Jeon, baru sempat besok soalnya"
"yasudah.. sampaikan salamku kepada appa ya, umma" ucapku.
"aku juga titip salam, semoga kakek cepat sembuh umma" ucap hyung
"akan kusampaikan"
"yasudah, kami pamit ya.. selamat malam anak-anak.."
"malaam juga.." ucap kami bertiga. Kemudian aku, hyung dan mbak bergantian mencium tangan appa, ibu dan umma. Umma yang tidak terbiasa dengan itu terlihat bingung, kemudian tersenyum.
"jangan lupa periksakan Wonwoo.. nanti kalau ada hasilnya, apapun itu beritahu kami" ucap appa sebelum memasuki mobilnya.
"siap appa.." jawabku.
Tak lama, mobil yang dikendarai appa yang membawa ibu dan umma pergi meninggalkan rumah kami.
Kini, giliran menunggu tamu gelombang kedua. Kulihat ada sms dari Jisoo hyung yang mengabarkan sedang dijalan, dan beberapa menit lagi akan sampai.
.
.
.
.
Semua makanan yang masih ada kami hangatkan, piring-piring kotor kami cuci, dan meja makan sudah dirapikan.
Kemudian, kudengar suara mesin mobil di depan rumah.
Ting..tong..
Kubuka pintunya..
"yoo.. selamat malam wahai tuan rumahh" ucap seorang pria dengan tinggi tak jauh beda dariku dengan cengiran lebar yang menenggelamkan kedua matanya.
"anyeong, Gyu-ya.." ucap pria Jisoo hyung dengan senyum manisnya menyusul lelaki bersenyum lebar tadi.
"silakan masuk.. langsung saja ke ruang makan.."
"terimakasih" ucap mereka.
Kuperhatikan, mereka terlihat kompak. Jisoo hyung mengenakan turtleneck putih dengan coat navy blue sebagai luaran, pasangannya mengenakan long shirt putih dengan coat biru keabu-abuan sebagai luaran.
"mari duduk, silakan dinikmati, maaf kalau hanya ada segini, karena kalian datangnya kemalaman.." sesalku
"tak apa.. salah kami juga kok datang kemalaman, sempatnya jam malam hehe" ucap Jisoo hyung.
"tamu kedua sudah datang ya Gyu?" terdengar suara mbak Ayu menghampiri meja makan seraya membawa teko berisi teh melati.
"iya, ini.."
"hello.. Ayu.."
"oh, kau rupanya Josh.. hello" mereka pun berjabat tangan.
"oh iya, ini suamiku.."
"hello, Lee Seokmin imnida.."
"hello.. Prameswari Ayu Sentono, panggil saja Ayu"
"kamu pasti rekan bisnis Jisoo hyung yang merupakan desainer Indonesia terkenal itu ya?"
"iya, hampir sebulan ini, saya bekerjasama dengan Joshua alias Jisoo ini hehe.. dan.. saya belum terkenal kok, biasa saja"
"Ayu noona ini memang suka merendah, padahal dia memang sudah keren" ucapku
"iya noona, Jisoo hyung merupakan salah satu penggemar karyamu, sering sekali membahas mengenai pakaian pria, yang ingin dia pesan untuk kami berdua padamu setiap kami mau pergi ke sebuah acara bersama" ucap Seokmin sambil merangkul pundak Jisoo hyung.
"oh.. astaga.. segitu inginnya kah kamu terhadap produk men's wear-ku? Baiklah.. permintaan ngidammu kuusahakan akan segera terlaksana, Josh"
"haha.. aduhh.. Seokkie.. aku jadi tidak enak kan sama Ayu, kamu sih" ucap Jisoo hyung sambil menusuk-nusuk gemas pipi Seokmin. Si Seokminnya sih nyengir-nyengir saja.
"haha tidak masalah, Josh, Seokmin. Oh iya, tadi kamu memanggilku noona, kau lebih muda dariku kah? Dan.. kalian berempat memang teman akrab ya?"
"iya, aku seumuran dengan Mingyu. Aku diceritakan Jisoo hyung jika kau seumuran dengannya, dan kau sepupu Mingyu. Pokoknya hyungie banyak cerita tentangmu, dan aku.. cukup kenal dengannya karena kami berempat, aku Jisoo hyung, Mingyu dan Wonu hyung kenal sejak di komunitas itu, dan Wonu hyung sendiri adalah seniorku saat SMA, bisa kau bayangkan reaksiku saat kami bertemu di komunitas MP?" Seokmin bercerita dengan ekspresif.
"hahaha.. dunia benar-benar sempit.."
"itulah yang kusimpulkan juga noona!"
"tapi, kau dan Mingyu tidak terlihat seperti 97 liners.. kalian benar-benar terlihat dewasa dan.. mapan"
"haha.. bilang saja kalau wajah mereka memang tua, noona" terdengar celetukan Wonu hyung yang datang ke meja makan seraya menghidangkan kimbap segar yang baru diraciknya.
Kulihat Jisoo hyung menahan tawa dan mbak Ayu tertawa dengan suara agak kencang meski sudah ditutup-tutupi dan wajah Seokmin terlihat masam dan melempar tatapan membunuh ke Wonu hyung. Asem.. si Wonu. Kuhampiri Wonu hyung kemudian kucubiti pipinya.
"eh, iwniw fwakta tawuu.. lwepash" dia kesulitan bicara saat kucubiti pipinya.
"sudah ah.. tapi emang iya sih uppps maaf adik-adik.. itu tandanya kalian dewasa kok.. bukan tua! Memang dasar Wonwoo saja terlalu frontal" ucap mbak Ayu menengahi.
"iya udahlah silakan makan.. keburu dingin tidak enak nanti" ucapku
"ini.. makanan apa ya? Aku belum pernah lihat" tanya Jisoo hyung menunjuk soto.
"itu adalah soto, makanan berkuah dengan irisan daging dan bahan dasarnya kunyit sebagai pewarna kuningnya. Ini.. adalah sambal terasi. Sambal yang terbuat dari pasta fermentasi udang yang membuat aromanya jadi berbeda. Kujelaskan soal sambal ini juga karena aku yakin kalian pasti penasaran. Oh iya, sambal terasi ini cocok di colek bersama ikan goreng dan sayuran timun dan selada ini sebagai 'lalapan' dimakannya bersama nasi. Lebih nikmat lagi memakannya menggunakan kepalan tangan langsung seperti ini" begitu penjelasan mbak Ayu seraya mempraktekkan makan dengan tangan langsung ala Indonesia. Jisoo hyung dan Seokmin memerhatikan dengan seksama seperti mahasiswa kepada dosennya.
"baiklah.. aku akan mencoba sambal terasi ini, aku ingin mencoba makanan unik" ucap Seokmin.
"silakan dimakan.. Josh, Seokmin"
Kemudian, Jisoo hyung menyendok soto kedalam mangkuknya, ia cicipi sedikit dulu. Terlihat ia menganggukan kepalanya menikmati rasa makanan berkuah kuning itu. Ia pun menyendoknya lagi kedalam mangkuknya. Lalu, Seokmin, ia mempraktekkan penjelasan mbak Ayu tadi. Terlihat ekspresinya yang mengernyit di suapan pertama, kemudian...
"wahh.. luar biasa.." ucapnya
"bagaimana pendapatmu?" tanyaku
"sambal ini adalah sambal terunik yang pernah kucoba seumur hidup! Aromanya agak mirip ikan basi diawal, maaf ya hehe. Tapi, rasanya sedap setelah belakangan. Pedasnya juga 2 tingkat diatas standar pedas makanan Korea pada umumnya, rasa gurih udangnya terasa disetiap indera pengecap! Luar biasa" ucapnya seraya megap-megap kepedasan. Setelah itu, ia lanjutkan lagi makannya walaupun kepedasan. Gila juga orang itu, tadi saja hanya ada ibu yang kuat menyendok sambal terasi banyak. Appa hanya sedikit, umma baru nyolek seujuk sendok sudah menyerah kebauan.
"nice review, Seokmin, sepertinya kau cocok jadi endorser sambal terasi" celetuk mbak Ayu.
Kami semua tertawa mendengarnya, Seokmin sih senyum saja sambil terus menikmati makanannya hingga tandas.
"lalu, bagaimana pendapatmu mengenai sotonya?" tanya mbak Ayu kepada Jisoo hyung.
"awalnya terasa asing bagiku karena ini adalah rasa rempah yang tidak familiar, namun kurasa aku cukup menyukainya. Kujadikan list makanan Indonesia yang kusukai deh.." ucapnya seraya tersenyum.
"syukurlah kau menyukainya. Itu bumbunya olahan 'ibu'ku by the way, bukan kami yang memasaknya"
"wah.. kalau suatu saat aku ingin soto susah dong harus request 'ibu'mu dulu"
"nanti aku akan belajar resepnya, akan kutambahkan di menu restoranku"
"kutunggu.."
Kami pun ikut menemani Jisoo hyung dan Seokmin makan bersama. Kami yang sudah makan jadi ikut makan lagi, walau sedikit saja.
Selesai makan, kami pun naik ke ruang keluarga dimana ada penghangat ruangan karena udara semakin dingin. Kami meneruskan obrolan kami.
Terlihat mbak Ayu dan Jisoo hyung membahas mengenai bisnis mereka sebentar. Sedangkan aku, Wonu hyung dan Seokmin berbincang bersama.
"hey, Seokmin, Jisoo hyung kalau periksa kandungan ke dokter khusus yang menangani kasus MP kan?"
"iya, memang kenapa?"
"besok rencananya, aku mau kesana nanti kita semua berangkat bersama, mau memeriksakan orang ini" ucapku seraya merangkul bahu Wonu hyung.
"kau.. hamil hyung?"
"tidak tahu juga, Seok.. aku mengalami gejala yang menyerupai morning sickness 2 hari ini, apalagi tadi ummaku dan kedua orangtua Mingyu sudah mengetahuinya, jadi mereka ingin memastikan apakah memang ini gejala kehamilan atau bukan"
"ah.. begitu.. baiklah.. sekalian besok Jisoo hyung periksa juga biar sekalian, nanti biar kuberitahukan ke dokternya"
"baiklah, terimakasih Seok"
"terimakasih, bro"
"sama-sama hyung, bro.. haha"
Kulihat, mbak Ayu dan Jisoo hyung telah selesai dari diskusi kerjaan mereka. Karena kami terlihat masih segar walaupun sudah pukul 11.20 malam, aku pun mengajak mereka semua untuk berkaraoke saja, sudah malam sih.. tapi kurasa tidak akan terlalu mengganggu, toh ini masih suasana liburan.
"guys.. sepertinya semuanya belum mengantuk, bagaimana kalau kita karaokean?"
"haha boleh.. aku setuju" Seokmin menyahuti dengan semangat.
"apakah tidak mengganggu tetangga Gyu?" tanya Wonu hyung.
"santai saja, volumenya tidak terlalu kencang kok, lagipula ini masih suasan liburan.. tetangga-tetangga juga pasti masih bersenang-senang"
"hmm.. boleh juga" kata mbak Ayu
"ayo siapkan alat-alatnya" ajak Jisoo hyung.
Kusuruh mereka semua duduk santai saja, biar kupasang alatnya, dan kurapikan CD yang hendak dinyanyikan.
Biar seru, karaoke kami dibuat dengan undian. Nama yang keluar dari kocokan undian akan mengocok jenis lagunya. Ada Barat, Korea, Mandarin, Jepang, meskipun lagu yang sudah lama sih, maklum aku tidak update lagu kekinian.. untungnya mereka maklum saja karena sama-sama tidak update. Lebih tepatnya tidak terlalu peduli. Oiya, ada tambahan dari mbak Ayu yaitu... Bollywood dan... Dangdut? Astaga.. dia ternyata punya flashdisk berisikan lagu-lagu random dan ada dangdutnya beserta beberapa MV lagu Bollywood & dangdut dengan teksnya haha.. boleh juga..
Kemudian, kami memulai permainan tersebut. kami pun ber-gunting-batu-kertas untuk memutuskan siapa yang mengambil kocokan dan memilih lagu apa dari jenis yang sudah disepakati. Seokmin yang mengambil.. nama yang pertama keluar adalah..
"Wonwoo hyung.. silakan ambil kocokan Jenis lagunya"
"lagu.. Korea"
"baiklah.. mari kita lihat, hmm.. ah, lagu girlband saja T-ara Boop-Beep"
"mwoo? Aih jinjaa.."
"ayo Wonwoo.."
"kamu bisa"
"go Wonuu"
"wonu gogogo" kami berempat menyemangatinya haha..
"ditambah gerakan dancenya juga ya buat setiap penyanyi.." pinta Jisoo hyung
"kenapa hyung? Tidak usah ya.. nyanyi saja" tawar Wonu hyung memelas.
"ayolaah.. tiba-tiba saja aku ingin melihatmu bertingkah imut" Jisoo hyung menunjukkan wajah puppy nya.
"iyakan saja hyung, itu permintaan ngidamnya kasian kalau tidak dituruti" kata Seokmin.
"nanti kalau kau ngidam, kau bisa menyuruh-nyuruh orang sebagai gantinya hyung.. haha" ucapku.
"hhaahh.. baiklah" hyung akhirnya pasrah. Aku pun menyetel lagu boop-beep.
Mendengar suara Wonu hyung yang baritone sembari bertingkah imut membuat kami tertawa, perpaduan hal menggemaskan dan menggelikan disaat yang sama, tibalah pada bagian reff yang gerakannya paling imut.
"boop-beep boop-beep boop-beep ahh.." ia bernyanyi dengan suara aslinya disertai gerakan ala kucing dan bokong nungging sambil loncat-loncat? Entahlah pokoknya begitu gerakannya. Hahahha.. entah harus gemas atau geli aku melihatnya.
"kyaaa.. kawaii hahhaha huahahha" siapa lagi kalau bukan si cengiran lebar Seokmin yang menertawai hyungku sayang..
"hahahhaaa.." Jisoo hyung hanya bisa tertawa lepas.
"huahahahha..gyaaaaa... aduuhh.. lucuu ihh gemaaassss" ya ampun.. mbak Ayu ngisin-ngisini ngguyune [malu-maluin ketawanya], bar-bar banget macam fangirl liar.
Akhirnya, penderitaan Wonu hyung pun berakhir. Ia duduk tenang sambil mengatur nafas perpaduan engap dan nahan kesel. Setelah itu, yang dapat giliran ambil kocokan adalah Jisoo hyung.. dan nama yang keluar adalahh...
"Seokmin.. maju sini"
"haahh.. siap-siap deh"
Seokmin mengambil kertas, kemudian..
"lagu Korea lagi nih.."
"pilihkan lagu Sistar saja hyung!" ucap Wonu hyung semangat, ingin balas dendam kayanya.
"haha.. ide bagus, baiklah.. hmm.. Give it to Me ya!"
"SETUJUU!" ucap kami kompak.
"haha.. bisa, putar lagunya" ucap Seokmin tanpa ragu.
Lagu pun berputar, ia menyanyi dengan suara aslinya yang bagus. Suaranya sih oke, tiba giliran menarinya.. errr..
"Oh baby Give it to me, ah..ah.. ah.. uwowwooo.. ah ah ah. Uwoooo"
Idiihhh... amit-amit.. jijik banget sumpah muka sok seksi, gerakan sok centil. Kulihat ekspresi penonton dibelakang yang il-fill.. mbak Ayu alisnya mengernyit sebelah, Wonu hyung bengong gajelas, dan Jisoo hyung.. haha dia mengelus-elus perutnya sambil komat-kamit.
"hyung, sambil bilang 'amit-amit' biar kegilaan bapaknya gak menurun" saranku.
"bisa begitu ya?"
"kata ibuku sih begitu.."
Lucunya dituruti saja lagi sama Jisoo hyung hahhaa.. Seokmin sendiri masih asyik melihat MV Sistar sambil joged-joged absurd. Lumayan, liatin cewek seksi, bermodus karaokean.
Setelah hal mengerikan tadi, kini aku mendapat giliran menarik kocokan.
"kini giliraann... Ayu noona.. silakan"
Kemudian ia pun maju dan mengambil kocokan.
"wahh.. lagu Bollywood!" ucapnya semangat.
Kulihat wajah 3 orang lainnya menatap heran.
"wah.. aku tidak begitu tau lagu Bollywood sih, sebentar.. kulihat listnya.. hmm.. Kuch-Kuch Hota Hai bagaimana?" tanyaku karena sedikit seklai lagu India yang aku tau.
"terserah kamu, yang lain ada saran?" tanya mbak Ayu. Penonton hanya bengong
"Bollywood yang kutahu hanya Sahruh Kan.. eh.. iya kan begitu namanya?" tanya Wonu hyung.
"yang benar Sahrukh Khan hyung, begitu bacanya" ucapku.
"yahh maklum lah, aku tau dia saja dari film Bollywood yang dulu pernah di tonton ummaku" belanya.
"Bollywood juga yang kutahu hanya Sahrukh Khan, salah satu aktornya lalu Amir Khan, dan film dengan banyak nyanyian dan tarian berputar mengelilingi taman atau mengitari pohon?" ungkap Jisoo hyung.
"wah.. sering nonton film India ya?" tanya Seokmin.
"Mamaku yang pernah beberapa kali menonton"
"ummaku juga sama, saat aku masih kecil dia merupakan penggemar si Sahruk Kan apapun itu"
"haha ibuku sih hobi banget dulu nonton film India saat aku masih sekolah dasar, aku sampai tau beberapa lagu" ucapku.
"ehm.. jadi tidak?" tanya mbak Ayu.
"jadi dongg" ucapku.
"tapi Kuch-kuch Hota hai kan lagu duet, sini Min duet denganku"
"berarti habis duet aku ga nyanyi lagi ya?"
"iya dehh"
Kami berdua pun menyetel lagu terpilih itu dan segera menyanyi.
"Tum paas aaye, yun muskuraaye. Tumne na jaane kya sapne dikhaaye" aku menyanyikan part lelaki dengan suaraku yang pas-pasan untung saja aku bisa baca tulisan alfabet latin yaitu ABCD. Kulihat ekspresi mereka semua menahan tawa apa karena suaraku yang pas-pasan saat menyanyi? Huh belum liat saja saat aku nge-rapp.
"Ab to mera dil, jaage na sota hai. Kya karoon haye kuch kuch hota hai" terdengar suara merdu bercengkok melayu mengalun begitu tiba giliran part perempuan. Waaahh.. keren, meski tidak semirip penyanyi wanita India dengan suara melengking tetapi mbak Ayu membawakannya dengan versi cengkok melayunya. Ngomong-ngomong aku tau hal-hal mengenai lagu melayu, India, cengkok dan dangdut dari Ibuku.
Setelah kami menyelesaikannya, terlihat para penonton bertepuk tangan seraya memandang kagum kepada... mbak Ayu lah! Siapa lagi, masa padaku, suara ku nyanyi biasa saja pas-pasan, apalagi lagu berteknik sulit begini...
"bravo Ayu! Tak kusangka kau punya suara indah seperti itu, unik sekali caramu menyanyikannya" puji Jisoo hyung. "kau pun lumayan kok Gyu.." ucapnya lagi seraya tersenyum.
"pokoknya kalian keren! Terutama Ayu noona" puji Seokmin seraya tersenyum lebar.
"Tak kusangka kau bisa menyanyi juga, sayang" ucap Wonu hyung seraya menepuk-nepuk kepalaku. "Ayu noona juga bagus suaranya, apalagi ini merupakan nyanyian dengan teknik yang sulit"
"terimakasih banyak hehe.. bisa saja kalian ini, itu tidak ada apa-apanya kok.. hanya sering iseng menyanyi sendiri saja"
"haha.. untunglah kallian tidak sakit telinga mendengar suaraku menyanyi" ucapku.
Kami semua pun selesai bersenang-senang karena sudah sangat larut malam, kami pun memutuskan tidur tanpa menyuruh giliran Jisoo hyung untuk menyanyi. Pokoknya, dia hutang 1 lagu untuk dinyanyikan depan kami.
Kutata ruang keluarga tadi untuk tempatku dan Seokmin tidur. Jisoo hyung kusuruh tidur di kamarku bersama Wonu hyung, dan mbak Ayu tentu dikamar tamu yang digunakannya. Maklum saja, baru ada 2 kamar di rumah ini.
Kami pun tidur segera tidur untuk mengistirahatkan tubuh kami.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yoo... see you next chapter...
Thanks buat semua likers, followers, favoriters, dan commenters..
Balasan:
Jungjaegun: terjawab dimarih beb :3.. isi apa? Oncom? Wakakka..
D : iya, soal itu ane masih ragu. Ada yang jam segitu, jam 5.50an, 5.40-an, jadi bingung mau make yang mana. hehehe.. thx diingetin
Yang review via akun ane bales PM aja yaa...
hayooo yang sider, gausah malu-malu.. tulis aja pendapatnya, kritik sarannya selama itu membangun dan bukan cacian ga jelas oke sayang?
