Sebuah komplek sekolah bergaya tradisional khas Jepang menjadi latar pembuka untuk cerita ini. Diawali dengan sinar dari matahari pagi yang cerah yang menyorot seorang pemuda berambut pirang yang sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang di pinggir lapangan yang memiliki lintasan atletik.

Apa yang sedang dilakukan oleh pemuda itu? Ia sedang menonton seorang gadis berambut hijau gelap dan seekor panda yang sedang berlatih tanding menggunakan senjata dan tangan kosong.

"Naruto, ayo sini! Aku akan melawanmu dengan Panda sekaligus!" Seru si gadis berkacamata, menunda latihannya sejenak.

Naruto, nama pemuda pirang yang duduk di bawah pohon itu tersenyum tipis mendengarnya. "Tidak, Senpai. Aku sedang tidak mood untuk latihan kali ini" balasnya.

"Huh? Baiklah, aku mengerti. Dan sudah berapa kali kukatakan padamu, berhenti memanggilku Senpai. Kita ini sama-sama di tahun kedua, kau tahu?" Balas Maki, nama dari gadis berkacamata itu.

"Ya, itu benar. Aku jadi tidak enak dan merasa tua" sahut Panda sambil mengusap pucuk kepalanya.

"Kau memang sudah tua, baka" ledek Maki.

"Shake" timpal seorang pemuda berambut platinum blonde dan bertubuh pendek, serta mulutnya yang tertutup oleh resleting seragamnya yang tinggi. Toge, nama dari pemuda tersebut.

"Tidak, aku akan tetap memanggilmu dan yang lainnya dengan sebutan itu. Karena kalianlah yang menyambutku serta membimbingku dengan baik disini" Naruto bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri mereka.

"Ah, Naruto-kun. Ada panggilan penting untukmu" suara seorang pria menghentikan langkah Naruto yang berniat menghampiri Maki, Panda, dan Toge. Suara itu berasal dari seorang pria berambut hitam yang mengenakan setelan jas dan kacamata.

"Ada apa Ijichi-san?" Balas Naruto. Ia penasaran tentang panggilan penting itu.

"Ini panggilan dari para petinggi Jujutsu. Kau diminta untuk segera menghadap mereka" balas Ijichi. Naruto mengangguk paham dan berbalik menuju Ijichi.

"Baiklah, tolong pimpin jalannya. Senpai, aku permisi dulu" Naruto pamit undur diri pada mereka bertiga.

"Ya, jaga dirimu baik-baik" ujar Maki.

"Ingat, jangan terpengaruh oleh apapun yang mereka katakan" Panda berpesan.

"Mentaiko" sahut Toge dengan mengacungkan jempol.

"Aku mengerti, Senpai. Terima kasih sudah mengingatkanku" Naruto tersenyum pada mereka lalu berjalan mengikuti Ijichi di belakang.

Mereka menyusuri jalan setapak, puluhan Gerbang Torii, dan menaiki ratusan anak tangga untuk sampai di gedung para petinggi Jujutsu.

Komplek sekolah yang ditempati oleh Naruto adalah Sekolah Jujutsu Tokyo. Sebuah sekolah yang dikhususkan bagi mereka yang memiliki kekuatan supranatural yang disebut Jujutsu.

Jujutsu mengacu pada semua keterampilan dan bentuk sihir yang dapat diaksesoleh penyihirdanroh terkutukmelalui manipulasienergi terkutukmereka sendiri .Istilah "Jujutsu" adalah payung yang mencakup semua seni mistik yang berhubungan dengan kutukan.Itu juga sering digunakan sebagai awalan untuk sebagian besar istilah dalam masyarakat jujutsu.(yaitu Penyihir Jujutsu, Petinggi Jujutsu, dll.)

Seseorang yang mampu memanfaatkan jujutsu dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai "Penyihir Jujutsu"(Jujutsushi), sedangkan yang tidak bisa menggunakan jujutsu disebut "Non-Penyihir"(Hijutsushi).

Tidak diketahui berapa lama tepatnya, tetapi jujutsu telah ada selama ribuan tahun, selama kutukan masih berkeliaran di Bumi.

Era Heian, era di manaSang Raja Kutukan, Ryomen Sukunadikalahkan dianggap sebagai "Zaman Keemasan Jujutsu".Ia menggambarkan para penyihir jujutsu telah menjadi masalah bagi roh terkutuk di setiap zaman.Dalam perang tanpa henti antara pihak yang menggunakan jujutsu, sebuah masyarakat terorganisir manusia dengan kemampuan untuk melawan kutukan telah terbentuk.

Di era modern, keluarga penyihir yang telah ada selama berabad-abad saat ini menguasai lanskap komunitas mereka.Tiga Klan Penyihir Besar diturunkan dari Tiga Roh Pendendam Besar, yang semuanya dulunya adalah penyihir terkenal di Era Heian.Mereka adalah Klan Gojo, Klan Zenin, dan Klan Kamo. Klan penyihir telah mempertahankan keunggulan mereka berkat teknik terkutuk canggih mereka yang diwariskan melalui keluarga mereka.Karena itu, sebagian besar klan terobsesi dengan garis keturunan mereka dan mewariskan teknik ini.

Penyihir Jujutsu saat ini dipilih dan dilatih melalui dua fasilitas pendidikan jujutsu di Tokyo dan Kyoto.Kedua sekolah tersebut dianggap sebagai pilar komunitas jujutsu.Seiring bertambahnya populasi di Jepang, begitu pula kekuatan kutukan.Hal yang membuat mereka tetap terkendali adalah pelindung dan penghalang milik seorang Penyihir kuno bernama Tengen, serta permata mahkota dari keluarga Gojo: Rikugan dan Mukagen.

.

.

.

Disclaimer: Naruto, Highschool DxD, Jujutsu Kaisen, dan lain-lain bukan punya saya.

Genre: Aksi, Petualangan, Supranatural.

Rate : M

Warning : Non-Shinobi Naruto, banyak typo, gado-gado, dan lain-lain.

.

.

.

"Jadi, Ijichi-san. Apa ada kabar tentang Yuta-senpai?" Tanya Naruto sembari ia bersama Ijichi berjalan menuju gedung para petinggi.

"Ia masih sibuk dengan misi dan latihannya di Afrika. Aku juga belum tahu kapan dia akan kembali" balas Ijichi.

"Hm, begitu ya? Lalu, dimana Gojo-sensei? Dari tadi aku tidak melihatnya dimanapun" Tanya Naruto lagi.

"Ia sedang sibuk dengan penyambutan dua murid baru untuk tahun pertama" balas Ijichi.

"Dua? Akhirnya Megumi punya teman sekelas. Terkadang aku jadi kasihan padanya yang harus belajar dan berlatih sendiri dengan Gojo-sensei, termasuk menghadapi segala kekonyolannya" Naruto terkekeh pelan. Tak lama kemudian mereka berdua sampai di gedung para petinggi Jujutsu.

"Aku hanya bisa mengantarmu sampai disini, Naruto-kun. Sisanya kau urus sendiri" ujar Ijichi dengan datar.

"Ya, aku mengerti, Ijichi-san. Sebelumnya terima kasih" Naruto menunduk hormat padanya, lalu menarik nafas sejenak sebelum masuk ke dalam ruangan gelap yang hanya bercahayakan lilin.

Di dalam ruangan itu terdapat 5 buah kotak berdinding sekat yang berisikan siluet para petinggi Jujutsu, yang bisa dipastikan semuanya adalah kakek-kakek bau tanah.

"Uzumaki Naruto, tanpa perlu berbasa-basi. Kami memanggilmu kesini untuk memberikan sebuah tugas yang cukup penting padamu" ujar petinggi pertama.

"Saya mendengarkan" balas Naruto singkat, tanpa memperlihatkan ekspresi apapun.

"Baru-baru ini, kita menerima dua murid baru untuk tahun pertama. Tapi yang menjadi masalahnya adalah, salah satu di antara mereka telah menelan sebuah objek terkutuk tingkat spesial. Jari dari Sang Raja Kutukan, Ryomen Sukuna sekaligus menjadi wadah untuknya" perkataan dari petinggi kedua sontak membuat Naruto melebarkan matanya dalam keterkejutan. Ia berpikir manusia macam apa yang telah berani menelan benda mengerikan itu? Tidak hanya itu, ia juga berpikir tentang wadah bagi Sang Raja Kutukan, dan tentunya itu bukan pertanda yang baik.

'Jadi, salah satu dari dua murid baru itu adalah wadah bagi Sukuna, dan dia akan menjadi teman sekelasnya Megumi. Astaga, mimpi apa aku semalam?' Batin Naruto.

"Setelah berdiskusi cukup panjang, kami telah memutuskan untuk menjatuhkan hukuman berupa eksekusi mati baginya. Tapi eksekusi itu ditunda sampai ia menelan seluruh jari Sukuna yang berjumlah 20. Itu akan bersamaan dengan musnahnya Sukuna dari dunia ini" sahut petinggi ketiga.

"Saya mengerti. Jadi, apa yang harus saya lakukan?" Tanya Naruto. Tugas yang dibebankan padanya bukan ecek-ecek. Ia harus menjalankannya dengan hati-hati.

"Tugasmu adalah mencari sisa jari-jari Sukuna yang tersebar di beberapa kota di Jepang. Seperti yang kau tahu, pasca kegagalan penggabungan antara Tengen-sama dengan Wadah Plasma Bintang, Amanai Riko akibat dibunuh oleh Fushiguro Toji 12 tahun yang lalu, beberapa pelindung dan penghalang yang melindungi Jepang dari ancaman roh terkutuk mulai melemah. Hal itu menyebabkan roh terkutuk yang mulai keluar lebih banyak dari yang sebelumnya" balas petinggi keempat.

"Untuk kota Tokyo, Gojo Satoru dan para muridnya sendiri yang akan bertanggung jawab dalam pencarian. Sementara kau akan ditugaskan untuk mencari ke kota-kota kecil diluar Tokyo. Kami telah menelusuri dan mengidentifikasi tentang jejak dari energi terkutuk yang dipancarkan oleh jari tersebut. Letaknya ada di sebuah kota bernama Kuoh" Petinggi kelima menunjukkan pemandangan sebuah kota melalui proyektor yang entah muncul darimana.

"Tapi, kau harus sedikit berhati-hati. Karena kami juga mendeteksi banyak aktivitas dan energi asing selain daripada energi dan aktivitas roh terkutuk. Kami tidak menelusurinya lebih lanjut karena keterbatasan informasi. Bagaimana Naruto, apa kau sanggup? Dengan kapasitasmu sebagai penyihir tingkat 2, seharusnya kau bisa" tanya petinggi pertama, menunggu keputusan final Naruto.

Di dalam benaknya, misi ini sangat berat dan cukup menantang. Bahkan bisa dikategorikan sebagai misi tingkat spesial. Selain itu, Naruto juga memiliki keinginan agar kehidupan yang ia jalani bisa berubah. Ia ingin hidup normal tanpa adanya gangguan dari roh terkutuk maupun aktivitas supranatural lainnya, tapi takdir berkata lain. Ia harus menjalani hidupnya sebagai seorang Penyihir Jujutsu.

"Saya menerimanya. Kapan saya akan berangkat?" Naruto sudah membulatkan keputusannya. Ia akan menjalankan tugas tersebut.

"Malam ini. Jika kau mau, kau bisa membawa penyihir lain untuk menemanimu" ujar petinggi kedua.

"Hmm, aku akan mempertimbangkannya terlebih dahulu" balasnya.

"Baiklah. Hanya itu saja yang ingin kami sampaikan padamu. Kau boleh pergi" ujar petinggi pertama.

"Saya permisi" Naruto menunduk hormat pada mereka berlima kemudian pamit undur diri. Ia keluar dari gedung dengan beragam perasaan yang campur aduk dalam dirinya. Ia tidak bisa menggambarkan perasaan macam apa yang ia rasakan sekarang. Entah itu senang, antusias, takut, atau apapun itu, ia tidak tahu.

Naruto melangkahkan kakinya kembali menuju lapangan. Tapi sesampainya ia disana, Maki, Panda, dan Toge terlihat sudah tidak ada.

"Sepertinya latihan mereka sudah selesai. Padahal aku baru saja mood ingin latihan" gumamnya.

"Sedang apa kau disini, Naruto-kun?" Lagi-lagi suara seorang pria mengalihkan perhatian Naruto. Suara yang terkesan tegas dan menusuk itu berasal dari seorang pria berambut pirang gelap klimis dan mengenakan setelan jas berwarna krem, serta sebuah kacamata yang tak memiliki penyangga di telinga.

"Ah, Nanami-san. Aku baru saja kembali dari panggilan para petinggi. Mereka memberikan misi padaku" jawaban yang keluar dari mulut Naruto membuat si pria berambut klimis a.k.a Nanami menaikkan alisnya.

'Misi dari para petinggi?' Batinnya. Semakin penasaran, Nanami memutuskan untuk bertanya lebih dalam. "Misi apa yang mereka berikan padamu?"

"Apa Nanami-san sudah tahu soal salah satu murid baru dari Gojo-sensei yang memakan jari Ryomen Sukuna? Aku ditugaskan oleh para petinggi untuk mencari sisa dari jari-jari itu diluar kota Tokyo" balas Naruto.

"Begitu ya? Aku mengerti. Apa kau sudah tahu lokasinya?" Tanya Nanami.

"Ya, mereka sudah memberitahuku. Lokasinya ada di sebuah kota bernama Kuoh" kedua mata Nanami melebar saat mendengar nama kota yang Naruto sebut. Ia sontak menyeretnya untuk pergi dari lapangan latihan.

"Eh? Nanami-san, k-kenapa kau tiba-tiba menyeretku?" Naruto hanya memasang wajah bingung.

"Tidak disini. Kita akan bicara di kamarmu" Nanami menyeretnya ke asrama pria dan masuk ke kamar dimana Naruto tinggal, tak lupa mengunci pintu dan menutup jendela.

"Ada apa sebenarnya, Nanami-san? Kenapa harus di tempat tertutup seperti ini?" Naruto tak habis pikir.

"Pertama, apa yang kau tahu soal Kota Kuoh?" Tanya Nanami dengan nada bicara yang tegas dan menusuk seperti biasa.

"A-aku...aku sama sekali tidak tahu. Aku baru mendengarnya dari para petinggi. Mereka mengatakan bahwa kota itu diduga sebagai tempat berkumpulnya roh terkutuk. Selain itu, mereka juga mendeteksi adanya aktivitas dan energi asing selain dari roh terkutuk" Naruto mengutip berdasarkan apa yang ia dengar dari para petinggi.

"Aktivitas dan energi asing selain dari roh terkutuk, lihat ini" Nanami merogoh ponselnya dan memperlihatkan sebuah rekaman video pada Naruto.

"Apa ini, Nanami-san?" Naruto sedikit terkejut melihat apa yang ditampilkan dalam rekaman video tersebut. Beragam makhluk aneh seperti monster yang mengambil wujud hewan seperti serigala, ular, banteng, dan lain-lain. Hampir mirip seperti halnya roh terkutuk.

"Itulah yang kumaksud. Aku mendapatkan rekaman ini dari mata-mataku yang tersebar di beberapa kota diluar Tokyo, termasuk kota Kuoh. Bahkan para petinggi pun tidak kuberitahu" balas Nanami. Naruto terdiam sambil mendengarkan perkataan Nanami yang selanjutnya.

"Makhluk-makhluk yang kau lihat dalam rekaman video itu disebut sebagai Iblis Liar. Mereka adalah iblis yang terusir dari neraka. Tentunya mereka berbeda dengan roh terkutuk, tapi secara wujud mereka memiliki kemiripan"

"Jadi maksudmu, aku akan pergi ke kota itu untuk mencari jari sukuna, sekaligus membasmi roh terkutuk dan makhluk yang kau sebut Iblis Liar itu?"

"Tepat sekali. Aku tidak meragukan kapasitasmu sebagai penyihir tingkat 2. Menurutku kau hebat dan berbakat sama seperti Fushiguro-kun. Tapi apa yang akan kau hadapi ini berada diluar ruang lingkup dunia Jujutsu. Setidaknya bawalah seseorang untuk membantumu" Nanami memberi saran.

"Para petinggi juga mengatakan hal yang sama padaku. Hmm, baiklah. Aku akan membawa satu orang. Apa kau punya saran?" Ujar Naruto.

"Bagaimana dengan Ino-kun? Dia juga penyihir tingkat 2 sama sepertimu. Kemampuannya dalam pertarungan jarak dekat akan sangat membantu" balasnya.

"Takuma-san? Aku tidak akan ragu jika harus memilih dia. Harus kuakui dia cukup mengerikan jika dalam pertarungan jarak dekat" meskipun belum pernah latihan atau menjalankan misi bersama, Naruto sendiri pernah menyaksikan dan mengakui bagaimana kehebatan penyihir bertopeng ski itu.

"Aku akan menghubungi dan memberitahunya untuk bersiap-siap. Kapan kau akan berangkat?" Tanya Nanami lagi.

"Malam ini. Menurut Gugel Maps jarak antara Tokyo dan Kuoh tidak terlalu jauh sih. Hanya 30 menit jika menggunakan shinkansen" balas Naruto.

"Baiklah, kurasa hanya itu saja yang ingin kusampaikan padamu. Pesanku padamu, semoga berhasil dan . . ." Nanami menjeda perkataannya.

.

.

.

" . . . Jangan mati"

.

.

.

The Lost Soul Aside

.

.

.

Dari hiruk pikuk kota Tokyo, latar tempat berpindah ke sebuah kota yang berada tak jauh dari ibukota negara Jepang tersebut. Sebuah kota bernama Kuoh yang diibaratkan sebagai penyangga untuk Tokyo. Persis seperti kota Jakarta yang dikelilingi oleh Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

"Apa ini pertama kalinya kau menjalani misi diluar kota, Naruto-san?" Penyihir tingkat dua yang akan menemani Naruto dalam misi kali ini. Seorang pria berambut coklat acak-acakan, berpakaian serba hitam serta memakai sebuah kupluk yang bisa difungsikan sebagai topeng, Ino Takuma.

"Ya, ini pertama kali bagiku. Bagaimana denganmu, Takuma-san?" Balas Naruto, seraya mereka turun dari gerbong Shinkansen yang berhenti di stasiun kereta kota Kuoh.

"Aku juga sama. Ini cukup menantang bagiku. Dua orang penyihir tingkat 2 ditugaskan untuk mencari objek terkutuk tingkat spesial. Aku harus melakukannya sebaik mungkin agar bisa mendapatkan rekomendasi dari Nanami-san untuk naik ke semi tingkat 1" ujar Takuma seraya memikul ranselnya.

"Kau masih memikirkan soal tingkatan? Menurutku itu tidak terlalu penting. Selama kau punya kemampuan untuk bertarung dan membasmi roh terkutuk, apapun bisa terjadi" balas Naruto tersenyum tipis.

"Ya kau bisa berkata begitu karena kau punya hubungan dekat dengan para penyihir tingkat 1, sebut saja Nanami-san, Kusakabe-san, Mei Mei-san, bahkan dengan Gojo-san dan Okkotsu-san yang merupakan penyihir tingkat spesial. Sementara aku hanya mengandalkan rekomendasi dari Nanami-san saja cukup sulit" Takuma mengeluh sambil membuang muka.

"Aha ha ha ha...Jujur saja aku juga tidak menyangka hal itu, Takuma-san. Aku awalnya hanya anak baru yang ditemukan dan dibawa oleh Yuta-senpai masuk ke Sekolah Jujutsu Tokyo, tapi lama-kelamaan aku punya banyak kenalan orang-orang penting" Naruto terkekeh pelan menanggapi keluhan Takuma yang kesulitan menerima kenaikan tingkat.

Seorang penyihir bisa menerima kenaikan tingkat apabila memiliki pencapaian yang baik serta kemampuannya dalam membasmi roh terkutuk, selanjutnya mereka harus mendapatkan rekomendasi dari dua orang penyihir tingkat 1. Kedua hal tersebut kemudian akan diputuskan oleh para petinggi Jujutsu.

Tingkatan penyihir dalam komunitas Jujutsu terbagi dalam 6 tingkat. Dimulai dari yang paling rendah adalah tingkat 4, tingkat 3, tingkat 2, semi tingkat 1, tingkat 1 dan yang tertinggi yaitu tingkat spesial. Hal yang sama juga berlaku untuk tingkatan roh terkutuk.

Begitu mereka keluar dari gerbong, mereka merasakan banyak sekali aura dari roh terkutuk yang tersebar dimana-mana. Namun energi yang mereka pancarkan tergolong kecil dan statis. Bahkan tidak sampai pada tingkat yang mengancam.

'Bisa dikatakan mereka roh terkutuk yang baru lahir. Tingkat ancaman mereka bahkan tidak menyentuh tingkat 4' batin Naruto seraya terus memperhatikan sekitar.

'Apa-apaan ini? Sama sekali tidak menegangkan dan memacu adrenalin' sementara Takuma merasa kecewa.

Dalam pandangan mereka, terlihat jelas sekali banyak roh terkutuk berukuran kecil yang hinggap di beberapa tempat, seperti papan iklan, bak sampah, toilet, hingga tiang lampu. Mereka juga mendengar ocehan-ocehan yang merupakan keresahan para roh terkutuk tersebut.

"Aku ingin waifuku menjadi nyata!"

"Truk, bis, atau apapun itu tolong tabrak aku! Aku ingin bereinkarnasi ke Isekai dan memiliki harem!"

Seperti itulah yang mereka dengar dari roh-roh terkutuk itu. Dan tentunya hanya Naruto dan Takuma saja yang bisa melihatnya, sementara penduduk sekitar tidak bisa.

"Menyedihkan sekali" ujar Takuma.

"Ya, aku setuju. Inilah salah satu penyebab kenapa negara kita kekurangan populasi" sahut Naruto.

Mereka terus berjalan menyusuri jalanan kota Kuoh di malam hari, tak lupa berpapasan dengan roh-roh terkutuk yang sama sekali tidak mengancam serta keresahan-keresahan absurd mereka. Tujuan mereka saat ini adalah mencari tempat tinggal yang sudah ditentukan oleh Nanami.

"Hoi Naruto-san. Apa benar disini tempatnya?" Takuma mulai merasa bosan karena tak kunjung sampai setelah keluar dari stasiun.

"Nanami-san mengatakan bahwa tempat yang akan kita tinggali adalah sebuah rumah susun bertingkat dua dengan 6 pintu" balas Naruto seraya terus mengecek ponselnya.

.

Beberapa saat setelah itu, baik Naruto maupun Takuma merasakan adanya pancaran energi terkutuk yang lebih besar dibanding yang mereka rasakan pada saat di stasiun kereta sebelumnya.

"Aura ini... tidak salah lagi, roh terkutuk" Takuma memandang sekitar, mencari dimana asal dari pancaran energi terkutuk tersebut.

"Kuperkirakan tingkat ancamannya mencapai tingkat 3. Tunggu? Apa ini? Aku juga mendeteksi adanya energi asing selain dari roh terkutuk itu. Apakah ini yang dimaksud oleh Nanami-san?" Karena memiliki kemampuan sensor yang lebih baik dibanding Takuma, Naruto langsung bisa menyimpulkan hasil analisanya.

"Daripada kita diam saja disini karena penasaran, lebih baik kita pergi ke sumbernya langsung. Tunjukkan jalannya, Naruto-san!" Seru Takuma.

"Ikuti aku, lewat sini!" Mereka berdua bergegas menuju ke asal dari pancaran energi terkutuk serta energi asing yang Naruto maksud. Mereka berlari masuk dan keluar gang hingga sampai di sebuah gedung tua yang terbengkalai.

Kedua penyihir tingkat 2 itu menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana sekelompok anak muda berseragam sekolah tengah menghadapi dua roh terkutuk berukuran besar dengan struktur tubuh yang acak-acakan.

"Siapa mereka? Apakah mereka juga penyihir?" Takuma bertanya-tanya.

"Bisa kupastikan tidak, Takuma-san. Mereka sama sekali tidak memiliki energi kutukan, tapi energi asing yang aku rasakan tadi berasal dari mereka" balas Naruto, seraya memperhatikan sekelompok anak muda berseragam sekolah itu tampak kesulitan menghadapi dua roh terkutuk tersebut.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita hanya akan diam saja disini?" Takuma sudah tidak sabar ingin bertarung.

"Tentu saja tidak. Kita adalah penyihir Jujutsu, tugas kita adalah membasmi roh terkutuk. Persiapkan dirimu, Takuma-san!"

SHIN...

Sepasang pedang pendek muncul di kedua tangan Naruto.

"Yosh! Aku sudah menunggu saat-saat ini!" Takuma menarik kupluknya untuk beralih fungsi menjadi sebuah topeng ski.

.

.

.

Sementara itu, latar tempat menyorot gedung terbengkalai dimana sekelompok anak muda berseragam sekolah itu sedang bertarung menghadapi dua roh terkutuk berukuran besar. Mereka dibuat kesulitan dan frustrasi karena tak ada satupun serangan mereka yang berhasil.

"Woooooghhh...!!! Gadis cantik! Gadis cantik!" Roh-roh terkutuk itu mengungkapkan keresahan mereka.

SYUUTT

"Urgh! Percuma Kaichou! Makhluk-makhluk ini tidak bisa mati! Aku tidak bisa menyerap kekuatan mereka!" Satu-satunya pria di kelompok itu menggunakan sesuatu yang berbentuk sulur untuk mengikat tubuh salah satu roh terkutuk tersebut.

WOOSHH

"Saji! Awas!" Salah satu gadis berkacamata menjerit memperingati pria bernama Saji itu akan kehadiran dari roh terkutuk satunya yang berniat memukul tanah dengan tangan raksasanya.

SLASHH

Sepersekian detik setelah Saji menoleh, roh terkutuk itu tiba-tiba mati dengan terbelah menjadi dua bagian. Tak ada darah segar yang bercipratan karena tubuh roh terkutuk itu lenyap dalam asap hitam tipis.

Mereka semua melebarkan mata saat menyaksikan bagaimana roh terkutuk itu mati hanya dalam sekejap mata. Perhatian mereka kemudian tertuju pada sosok seorang pemuda berrambut pirang berpakaian modifikasi layaknya seragam sekolah dengan hoodie berwarna merah, serta memegang sepasang pedang pendek berwarna hitam dan putih.

"Kalian tidak apa-apa?" Ujar si pemuda pirang a.k.a Naruto, pelaku dari matinya roh terkutuk tadi.

WOOSHH

"Awas!" Gadis berkacamata yang dipanggil Kaichou mencoba memperingati Naruto akan roh terkutuk yang satunya lagi. Namun Naruto tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.

BOOMMM

Kejutan kembali terjadi dimana roh terkutuk yang melakukan serangan tak terduga itu tiba-tiba juga ikut mati usai menerima sebuah pukulan penuh tenaga yang mendarat di kepala. Mereka memicingkan mata saat melihat pelaku dari serangan brutal tersebut berupa seseorang yang mengenakan topeng ski.

"Kau terlalu berlebihan, Takuma-san" ujar Naruto, sembari menyimpan kedua pedangnya dalam ketiadaan.

"Aku hanya tidak ingin berlama-lama. Ini sudah larut malam, aku ingin secepatnya tidur" balasnya, lalu menatap sekelompok anak muda yang tadi bertarung melawan dua roh terkutuk tersebut.

"Hei, kalian baik-baik saj-"

"Siapa kalian?" Perkataan Takuma dipotong oleh gadis berkacamata berambut hitam bob, dialah gadis yang disebut oleh Kaichou. Disusul dengan dikepungnya Naruto dan Takuma dari segala sisi.

"Hoi hoi! Apa-apaan ini? Kami tidak bermaksud apapun" Takuma membuka topeng ski dan memperlihatkan wajah bingungnya.

"Sebelumnya kami minta maaf jika kehadiran kami terjadi secara tiba-tiba. Namaku Naruto, dan dia adalah Takuma. Kami berdua datang dari Tokyo untuk mencari sesuatu yang sangat penting" Naruto mencoba mendinginkan suasana.

"Dan kalian pikir kami akan percaya begitu saja?" Kaichou a.k.a Sona Sitri menatap mereka dengan tajam.

"Terserah kalian, kami juga tidak mengharapkan kalian untuk percaya pada kami" Naruto berusaha untuk tetap tenang.

Sementara itu Sona menaikkan alisnya begitu mendapat respon dari Naruto yang menurutnya penuh dengan makna tertentu. Terutama dari ekspresi dan sorot mata.

'Sepertinya dia benar-benar terlatih dalam hal seperti ini' batin Sona.

"Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin bertanya. Siapa sebenarnya kalian? Dan apa yang kalian cari di kota Kuoh?" Sona menuntut penjelasan.

"Haruskah kita memberitahu mereka?" Takuma berbisik.

"Biarkan saja, lagipula mereka sudah melihat kita" balas Naruto, kemudian menarik nafas sejenak untuk menjawab pertanyaan Sona. "Kami adalah Penyihir Jujutsu, sebuah komunitas penyihir yang berada di kota Tokyo. Dan tujuan kami datang ke kota ini adalah . . ."

.

.

.

The Lost Soul Aside

.

.

.

Dari kota Kuoh, latar tempat berpindah ke sebuah antah berantah yang berupa ruangan gelap bercahayakan lampu. Di dalam ruangan itu terdapat dua sosok orang yang sedang bermain kartu.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" Sosok orang yang pertama membuka suara. Ia adalah seorang seperti wanita berambut bob putih dengan bercak merah di bagian belakang, mata berwarna merah muda, serta mengenakan pakaian biksu berwarna putih.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" Balas sosok kedua, yang berupa seorang pria berambut hitam panjang dikuncir dengan sehelai poni di depan, mata berwarna hitam, jahitan horizontal di dahi, berpakaian kasaya emas di atas yukata berwarna hitam, serta anting-anting.

"Kenapa kau menyembunyikan jari-jari Sukuna-sama di kota itu?"

Pertanyaan tersebut membuat si pria bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela. Menatap ke arah bulan yang bersinar.

.

"Aku sengaja melakukannya. Karena kota itu adalah basis dari 3 fraksi supranatural yang berada diluar ruang lingkup dunia Jujutsu. Yah, aku berencana mengadu domba mereka dengan komunitas penyihir Jujutsu. Siapa tahu jika mereka ternyata menarik dan bisa ikut serta dalam alur yang kubuat. Mungkin ini bisa mempengaruhi takdir dan keseimbangan dunia"

.

.

.

To be Continued

Yo, akhirnya saya kembali dengan cerita baru setelah beberapa bulan hiatus. Kali ini saya mencoba crossover antara Naruto, Highschool DxD, dan Jujutsu Kaisen. Semoga eksekusinya berjalan bagus.

Disini Naruto terlahir sebagai seorang penyihir Jujutsu, tapi asal usulnya masih belum jelas, seperti bagaimana ia bisa menjadi penyihir dan dari klan mana ia berasal. Nantinya semua itu akan dibahas khusus dalam sebuah chapter yang menceritakan masa lalu Naruto. Jadi, jangan lupa vote dan komen agar saya semakin semangat dalam menulis. Sekian, terima kasih!

Sampai jumpa di part berikutnya!