[Reunion]
Cast :
Min Yoongi X Park Jimin
Genre :
Romance, Drama
[!] Typo(s), OOC, BL
Chapter 2
.
.
Park Jimin bukan tipe orang yang suka mabuk. Ia tidak membenci alkohol, hanya saja jika melihat orang-orang disekitarnya yang mulai gila seperti ini ia juga risih. Bahkan Taehyung sudah tidak bisa berbicara dengan benar. Apakah tiap tahun juga seperti ini? Pesta alkohol? Cih, jika memang benar maka Jimin sudah memutuskan untuk tidak lagi ikut acara reuni seperti ini.
Membuang waktu.
"Sepertinya kau sedang kesal" Jimin baru saja ingin meneguk bir pertama dan terakhirnya sejak tadi, tapi Hoseok tiba-tiba duduk disebelahnya. Dengan segala pesonanya yang selalu Jimin kagumi sejak dulu.
"err— tidak juga sih, hanya saja aku tidak tahu kalau acaranya seperti ini, jadi.. yah.. hanya kaget mungkin? hehe" Hoseok tertawa pelan. Mengajak Jimin bersulang dan Jimin menanggapinya dengan canggung. Kemudian mereka berdua diam. Pemuda Park sejak tadi hanya menatap gelas kosong ditangannya. Sedangkan Jung Hoseok dengan kurang ajarnya terus menatapi Jimin. Tidak tahukah jantung Jimin sudah berdetak lebih cepat dari tadi. Kalau saja mereka masih SMA, pasti Hoseok tidak akan menatapi Jimin seperti itu dan Jimin pun berusaha mati-matian untuk menolaknya.
"Kau tidak berubah, Jim. Tetap menggemaskan" Seketika wajah Jimin menjadi merah sampai telinga. Ia tidak bisa meng-handle gombalan maut Jung Hoseok sejak dulu, jadi Jimin hanya tertawa seraya melayangkan protes, "Ah.. hyung! Jangan menggodaku"
Setelahnya Hoseok kembali diam, tapi kemudian tatapanya mendadak serius. Ia menatap Jimin dalam, tepat di matanya, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi Hoseok tak kunjung berbicara. Membuat Jimin jadi gugup sendiri.
"Kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Hoseok tiba-tiba.
Jimin mengalihkan atensinya dari gelas kosong ditangannya pada Hoseok. Terlihat gurat kesal di wajahnya. "Aku tidak ingin membicarakannya"
"Oke, maaf. Tapi, kurasa aku harus mengatakan ini padamu" Hoseok berhenti bicara dan mulai berdiri dari tempatnya,
"Dia tidak berubah dan tidak akan pernah"
.
.
Pemuda berambut hitam yang duduk dipojok kafe itu sejak tadi tidak berhenti mematai Jung Hoseok dan Park Jimin yang duduk berduaan. Hatinya panas. Ingin menghampiri mereka berdua tapi pemuda berambut ungu didepannya terus menahannya.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu, Kim Nam-Joon. Aku yakin Jung Hoseok sudah meracuni pikiran Jimin lagi" Pemuda berambut ungu itu menghela nafas, menghadapi Min Yoongi memang harus ekstra sabar.
''Berhenti bertindak semaumu. Kau tidak mau kan masalahmu makin berantakan hanya karena kau yang tiba-tiba panas melihat mereka padahal kau sudah tidak ada hubungan lagi dengannya" Pernyataan menusuk dari Namjoon seketika membuat Yoongi kembali terdiam. Namjoon benar. Kadang Yoongi memang melupakan statusnya yang sudah bukan siapa-siapa bagi mereka berdua. Terutama Park Jimin.
Karena pemuda itu benar-benar tidak bisa lepas darinya.
Yoongi membuang nafasnya kasar kemudian beranjak dari tempatnya.
"Mau kemana?" tanpa menoleh Namjoon, Yoongi hanya berlalu menjawab, "Toilet"
Kadang Yoongi tidak mengerti dirinya. Ini sudah lebih dari dua tahun dan ia masih belum bisa lepas dari bayang-bayang Jimin.
Karena ia masih terlalu mencintai Jimin ketika hal itu terjadi.
Yoongi masuk kedalam toilet dan mencuci wajahnya. Dilihat dari pantulan cermin, wajahnya kusut, kantung matanya terlihat besar dan membuat matanya yang sejak awal minimalis menjadi semakin tidak terlihat. Efek tidak tidur semalam karena terlalu senang bahwa ia akan melihat Jimin. Bukan bertemu, hanya melihat. Itu saja sudah membuatnya senang setengah mati. Ah.. dia benar-benar merindukannya.
"Hmm. Sudah kubilang aku ditoilet. Kau mabuk, Kim Taehyung. Sudah matikan telfonnya!" Yoongi terdiam di tempatnya setelah melihat dari cermin siapa pemuda yang baru saja masuk kedalam toilet dengan wajah bersungut kesal.
Itu Jimin.
Jimin memasukkan ponselnya ke kantung celana, kemudian mendongak. Matanya bertemu dengan Yoongi lewat pantulan cermin. Jelas sekali jika Jimin terkejut. Terlihat dari raut wajahnya yang langsung berubah. Sedangkan Yoongi pun masih diam, hanya terdengar suara air yang menetes pelan.
Tiba-tiba saja Jimin tersenyum dan berkata, "Hai, hyung. Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu"
Yoongi? Shock tentu saja. Ia tidak berpikir kalau ia bertemu dengan Jimin, pemuda itu akan berbicara padanya. Ia hanya tidak mau berharap lebih. Sakit.
"Hyung?" kata Jimin lagi. Karena sedari tadi Yoongi hanya diam menatapnya. Membuat Jimin takut. Kau tahu, Yoongi itu punya predikat sebagai Ice Prince. Jarang sekali berekspresi. Tapi itu dulu, sebelum mengenal Jimin.
"Kau.. sepertinya masih marah padaku. Kalau begitu aku akan pergi, hyung" Jimin menggaruk belakang kepalanya canggung. Kemudian berbalik pergi. Merutuki dirinya sendiri kenapa malah menyapanya ketika pikirannya selalu bilang kalau dia tidak ingin bertemu dengannya.
Ya, Min Yoongi.
Pemuda itu yang sebenarnya tidak ingin ditemui Jimin. Pemuda itu yang menjadi alasan utama Jimin tidak pernah mau diajak reuni oleh Taehyung, padahal ia juga merindukan teman-temannya. Dan pemuda itu juga yang membuat Jimin jadi membencinya.
Bukan.
Hanya.. kecewa mungkin?
Entahlah. Yang pasti Jimin selalu berpikir bahwa ia membencinya. Tapi, kenapa saat bertemu dengannya Jimin malah bersikap tidak ada apa-apa diantara mereka? Hati dan pikiran memang tidak pernah sejalan.
Jimin sudah melangkah menjauhi toilet dan memastikan Yoongi tidak menyusulnya. Ia mencari-cari Taehyung. Ia ingin pulang. Ingin menenangkan pikirannya. Dan hatinya.
Taehyung terlihat di sofa panjang di sudut café, dengan botol minuman di tangan kirinya dan Jungkook yang kewalahan menanggapi kekasih bodohnya yang sedang mabuk itu. Jimin menghampirinya dan menatap Taehyung datar. "Oh, Jimin hyung! Kenapa?" tanya Jungkook.
"Kalau dia sadar nanti, bilang padanya aku pulang"
"Sendiri?" Jimin mengangguk. Jungkook melirik jam dipergelangan tangannya. Ini sudah lewat tengah malam, dan dia khawatir jika Jimin pulang sendiri.
"Aku laki-laki, Kook" ucap Jimin seakan tahu apa yang Jungkook pikirkan. "Tapi, hyung.."
"Sudah, tidak apa-apa. Aku tidak melihat Seokjin hyung, nanti bilang padanya juga ya kalau aku pulang" Jimin sudah siap beranjak pergi, tapi Jungkook menahannya. "Ku panggilkan Yoon—"
"Biar aku yang mengantarmu" Itu Hoseok. Pemuda itu tiba-tiba saja sudah berdiri disebelah Jimin. "Tidak apa-apa, kan?" sambung Hoseok. Jimin berkedip cepat. Ia akan diantar Hoseok hyung. Kesempatan, hehe. Dulu saat masih sekolah menengah Hoseok sering mengajaknya pulang bersama, tapi Jimin terpaksa menolak. Tapi sekarang, Jimin ingin diantarkan Hoseok. Tidak ingat umur? Jimin tidak peduli.
"Ku anggap diammu adalah persetujuan. Ayo" Dan Hoseok sudah semena-mena menariknya pergi setelah berpamitan pada Jungkook.
Sejenak Jimin jadi melupakan pertemuannya dengan Yoongi di toilet.
.
.
oke ini lama. dan nggatau ini apaa :(
Diikutin aja ya ini nanti jadinya apa dan gimana wkwk tapi dimohon bersabar
maafkan kengaretan yang terlalu ini
berusaha ngelanjutin cerita ditengah setumpuk laporan biar ga mabok laporan ehehe kenapa jadi curhat
Thanks buat siapapun yang udah baca, yang udah komen, yang udah siders~ ketemu di next chapter
-Jiminibabo
