"Sepertinya kau baik-baik saja. Jadi, aku akan membunuhmu sekarang!"
HAH?!
Matanya kembali melebar kaget melihat namja itu yang sudah dengan kuda-kudanya siap menyerang dan mengeluarkan sebuah...
... pedang! Ya Tuhan, apa dia akan mati untuk kedua kalinya hari ini?
.
.
QUENDI
EXO © SMent & themselves
The Silmarillion © J. R. R. Tolkien
Cast:
Kim Jongin
Oh Sehun
Genre: adventure, fantasy, drama, romance, dll.
Warning: Shounen-ai, Fantasy/adventure gagal, OOC, misstypo, AU, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
"T-tunggu dulu! Apa maksud dari kata 'membunuh' tadi? Apa di duniamu artinya 'bersalaman dan berteman', atau 'menusuk dan menghilangkan nyawa seseorang'?" tanyanya panik melihat kilatan besi tajam yang ada di tangan namja itu.
"Kurasa artinya sama di duniamu!" dan dilihatnya namja itu bergerak maju dengan cepat! Ya ampun dia bahkan tidak bisa bergerak mundur lagi sekarang karena punggungnya sudah membentur batang pohon.
"TUNGGU!" teriak Jongin tiba-tiba, dan langsung menelan ludah berat saat mata pedang itu sudah tepat berada di lehernya. Sedikit lagi, mungkin kepalanya sudah lepas dari tempatnya. Dia mendongak dan melihat namja itu memandangnya dengan napas memburu. Ada apa? Seharusnya dia yang sedang merasa takut sekarang. "H-hey! Jauhkan pedang itu! Aku tidak tahu, tapi kurasa itu tajam sekali!"
"Diam!"
"Waaaaa!" Jongin semakin menempelkan punggungnya ke batang pohon dengan kepala agak mendongak saat namja itu semakin mendekatkan pedangnya ke lehernya. "Aku tidak mengerti kenapa kau ingin membunuhku. Tapi aku bukanlah pembawa virus yang harus dimusnahkan. Aku juga tidak tahu apa kalian memakan daging manusia atau tidak. Tapi sungguh dagingku tidak enak! Lebih baik kau memburu rusa kalau kau lapar! aku─"
"Aku bilang diam!"
"Hwaa! Oke, okee... aku diam, tapi tolong jauhkan benda ini! Aku tidak suka sesuatu yang tajam dekat dengan leherku!"
Dia melihat kearah sang namja dengan pandangan memelas. Tapi langsung kebingungan begitu melihat ekspresi sang namja. Namja ini terlihat tertekan dengan dahi mengerut dan mulut yang mengatup rapat. Kilatan matanya terlihat ragu.
"K-kau serius ingin membunuhku ya?" tanyanya melotot saat namja putih itu mengacungkan pedang. Siap memenggal kepalanya. Jongin memejamkan matanya erat, takut melihat kepalanya yang akan putus nanti. Ya Tuhan, ya Tuhan... dia tahu dirinya banyak dosa. Dia bahkan belum membayar uang yang dipinjamnya dari Moonkyu. Tapi tolong ampuni dosanya nanti. Biarkan dia masuk surga.
Moonkyu-ah, kumohon agar kau merelakan sahabatmu ini nanti!
Beberapa detik...
Belum terjadi apapun. Jongin membuka sebelah matanya penasaran.
Klaaang!
Jongin membuka mata sepenuhnya dan kebingungan langsung tergurat diwajahnya begitu melihat pedang yang sudah tergeletak ditanah dan namja itu yang kini jatuh terduduk dengan raut kesal. Ada apa? Hahaha... jadi yang tadi itu hanya bercanda ya?
"Kau tidak jadi membunuhku?" ucapan yang tanpa sadar itu justru membuatnya mendapat tatapan tajam. "Kau baik-baik saja? Kau terlihat agak... kacau."
"Payah! Sialan!" hanya gerutuan kecil itu yang dapat didengarnya dari namja berkulit putih itu.
Uh, oke. Dia mengerti sekarang. Dari parasnya yang manis pun, namja ini bukanlah tipe pembunuh berdarah dingin yang akan dengan mudah menghilangkan nyawa seseorang. Membunuh itu urusan lain. Dia akui, untuk membunuh binatang saja rasanya tidak tega. Apalagi membunuh manusia. Mungkin makhluk dihadapannya ini juga memiliki perasaan seperti manusia.
"Kenapa kau tidak membunuhku saat aku masih pingsan tadi?" tanyanya penasaran. Namja itu melirik kearahnya, sebelum kembali membuang muka kesamping.
"Mana bisa. Aku bukan quendi rendahan yang membunuh manusia lemah sepertimu!"
Dahinya mengerut kesal mendengar perkatan itu. Oke, dia akui namja ini memang manis sih, tapi mulutnya tajam begitu. Tapi Jongin agak bingung mendengar kata asing tadi. "Quendi itu apa? Apa itu... eum~ yah, alien atau sejenisnya?" tanyanya penasaran, tapi langsung merinding begitu mendapat tatapan tajam lagi.
"Aku adalah Quendi. Atau kau bisa menyebutnya Elf! Aku dengar manusia menyebut kami begitu."
"Elf? Tapi di duniaku, yang diceritakan oleh orang-orang Inggris, itu sejenis peri kecil yang lucu─oke, aku akui kau memang lucu─ dan nakal─tapi kau agak... kejam. Wooaaah, bisakah kau turunkan pedangmu lagi? Aku tidak suka benda itu!"
Dilihatnya namja berkulit putih itu mendengus, sepertinya bosan karena mendengar ocehannya. Oke, dia akan diam sekarang. Dan Jongin langsung menghela napas lega saat pedangnya sudah dijatuhkan lagi.
"Kalau kau ditemukan oleh yang lain. Mungkin kepalamu sudah putus sungguhan." Namja itu bangkit berdiri dan berbalik pergi.
"Ya! Tunggu dulu! Aku butuh penjelasan disini!" dengan susah payah karena tubuhnya yang masih ngilu, Jongin bangkit berdiri dan mengejar namja itu.
"Kalau kau masih mau hidup, sebaiknya kau disini saja!"
"Iya. Tapi tunggu dulu dong! Setidaknya jelaskan padaku ini dimana─ugh!" Jongin jatuh tersungkur di tanah, tidak tahan dengan rasa sakitnya. Meringis memegangi perutnya yang terluka. Sebenarnya seluruhnya tubuhnya memang dipenuhi luka, tapi bagian perut sepertinya yang paling parah.
"Kau tidak apa-apa?" namja itu berbalik menatapnya khawatir, sebelum membantunya berdiri dan mendudukkannya bersandar disalah satu batang pohon lagi. Woow... baru disadarinya ternyata namja ini bukan hanya manis, tapi juga cantik dengan paras putihnya dan bibir mungilnya yang merah muda. Hey, kulitnya juga mulus tahu. Terasa saat namja itu menyibak kaos hitamnya dan menekan perutnya yang terluka.
"Kau sedang apa?" tanya Jongin bingung, apalagi merasakan tangan yang mengelus perut bagian kanannya yang terluka terasa aura sejuk dan dingin.
"Aku bukanlah tipe penyembuhan, tapi setidaknya aku bisa mengurangi rasa sakitnya."
Jongin mengangguk-angguk paham. Tapi rasanya jadi lebih baik. "Kenapa kau melakukannya? Padahal tadi kau bernafsu sekali ingin membunuhku."
Dilihatnya namja itu termenung sejenak. "Aku hanya tidak tahan melihat seseorang kesakitan." Wajah namja manis itu kini berubah sendu. Terlihat seperti tidak suka karena sifatnya itu.
"Oh, aku Jongin. Siapa namamu?" tanyanya dengan tersenyum pada namja yang kini menatapnya juga.
"Sehun. Dari ras Vanyar."
"Nama yang bagus," ujarnya masih tersenyum.
"Terima kasih."
Kali ini Sehun tersenyum malu, membuat Jongin melebarkan matanya dengan mulut membuka. Wooaaaah... manis sekali. Aduh, lucunya. Kalau dia pulang nanti, apa dia boleh membawa Sehun sebagai oleh-olehnya nanti?
"K-kenapa?" Sehun terlihat gelagapan dan mengalihkan fokus ke kaki Jongin yang terluka, menghindari kontak mata dengan manusia itu.
"Kau sebenarnya terlihat manis dan juga baik. Tapi kenapa sebelumnya kau ingin membunuhku?"
Jongin menyeringai saat melihat pipi putih Sehun agak memerah saat mendengar kata 'manis'. Haha... tipe yang gampang digoda. Tapi juga sok jaim.
Sehun berdehem berusaha menghilangkan rasa panas dipipinya. "Kami membenci manusia."
"Hah? Kenapa?"
Sehun menghembuskan napas panjang. "Karena dulu kami juga tinggal di Arda atau dunia yang kalian tempati itu, sebelum manusia diciptakan."
"Apa?! Sungguh? Lalu kenapa kalian ada disini?"
"Kami dipindahkan. Dulu ada kabar dari para Valar kalau akan ada makhluk baru yang menempati Arda. Karena itu, kami para quendi , harus pergi dari sana."
"Tunggu! Kalian tahu tentang manusia, sedangkan kami manusia tidak tahu apapun tentang kalian!" Jongin memotong dengan bingung.
"Karena kami sudah diusir dari sana sesaat sebelum manusia datang. Kami dipindahkan oleh para Valar kesini, dunia baru... yaitu Valinor. Tapi ada yang tidak mau ikut pindah kesini. Mereka adalah ras Avari. Mereka bersembunyi dari keberadaan manusia di Arda. Karena mereka, kami sedikit tahu tentang manusia dan peradabannya."
"Tapi itu tidak menjelaskan kenapa kalian membenci manusia."
Tatapan Sehun berubah tajam dan marah. "Kau tidak mengerti? Arda itu dunia kami. Dan karena kalian, kami harus susah payah pindah kesini. Kaum elf jadi terpecah menjadi berbagai ras karena itu. Dulu kami adalah satu kaum. Tapi sekarang ada ras Avari, Vanyar, Noldor, dan masih banyak lagi. Mereka saling bertempur untuk merebut kekuasaan sekarang."
Jongin hanya terdiam, bingung harus bilang apa. Dia ingin menghibur saat melihat raut sedih di wajah Sehun yang kini tengah memeluk lututnya sendiri.
"Dan karena itulah aku kehilangan ibuku," nada suara Sehun berubah pelan. Tatapan matanya terlihat lebih sendu dari sebelumnya. Kehilangan ibunya ya? Pasti menyakitkan rasanya.
Jongin mengulurkan tangannya kearah Sehun dan mengelus kepala berambut cokelat lembut itu pelan. Membuat Sehun mendongak dan menatapnya. Suasana sekarang berubah hening. Tidak ada yang berbicara lagi, hanya saling menatap dalam diam.
Entah apa yang ada dipikirannya. Tapi Sehun diam saja saat dia menarik namja itu mendekat dan memeluknya. Sedikit meringis karena kepala Sehun menekan luka di bahunya. Tapi tidak apa-apa. Dia hanya tidak suka melihat wajah manis itu terlihat sedih. Tangannya bergerak mengelus punggung Sehun perlahan.
"Aku sebagai manusia... minta maaf untuk semuanya."
Matanya terpejam mencium wangi Sehun yang lembut di indera penciumannya, apalagi tubuh mereka yang benar-benar menempel dengan kepala Sehun dibahunya.
Eh?
Wajah Jongin sedikit memerah saat sadar apa yang tengah dilakukannya. Kedekatan ini terlalu intim. Belum lagi tubuh Sehun yang pas dalam pelukannya. Melirik kebawah, dan Jongin bisa melihat bahu dan leher Sehun yang putih mulus.
Oh tidak! Tidak! Jangan pikirkan hal itu, Kim Jongin! Atau sesuatu dibawah sana bisa berdiri dengan semangat.
Tapi bagaimana tidak memikirkannya saat napas hangat Sehun benar-benar berhembus dilehernya? Euh, tidak. Sepertinya yang dibawah sana benar-benar bersemangat sekarang.
Oke. Bayangkan Moonkyu berbikini! Moonkyu berbikini! Dengan pose kekar! Dan kaki berbulu! Itu menjijikkan. Jongin memejamkan mata erat membayangkan semua itu. Dan menghela napas panjang. Huff... sepertinya sudah mulai tenang. Tapi kenapa Sehun tidak bergerak?
"Hey, sudah merasa lebih baik sekarang?" tanyanya sedikit menggoyangkan tubuh Sehun yang masih dipelukannya. Tapi tidak ada jawaban. Hanya gumaman kecil dan deru napas yang teratur. "Eh? Tidur ya? Sehun-ah, kenapa malah tidur?"
Jongin agak menjauhkan wajahnya untuk memastikan apa Sehun benar-benar tertidur? Tapi langsung menyesali perbuatannya saat meelihat wajah tidur Sehun yang damai. Helai poni cokelat yang terjatuh sedikit menutupi mata yang terpejam, belum lagi bibir mungil plum yang sedikit terbuka mengeluarkan deru napas halus.
Ya ampun! Moonkyu berbikini! Moonkyu berbikini! Moonkyu berbikini...
.
.
.
Tidurnya terganggu saat merasakan gerakan dibahunya. Menguap sekali, Jongin mengucek matanya yang masih mengantuk. Oh, dia juga tertidur ya? Dilihatnya suasana sekitar berubah gelap. Hanya diterangi cahaya bulan, menandakan hari sudah malam.
Pantas jadi dingin. Tapi tidak terlalu dingin sih. Jongin mengeratkan pelukannya pada gulingnya.
"Bisa tolong lepaskan aku?"
"Eh? Oh... maaf!" dan baru disadari kalau yang dipeluknya tadi bukan guling, tapi Sehun. Dengan cepat, dia melepaskan pelukannya. Sehun langsung berdiri dan mengambil pedangnya.
"Kau disini saja! Jangan pergi kemanapun!"
"Tapi apa kau punya makanan? Aku sungguh lapar!"
Sehun memutar bola matanya jengah. "Kau tidak lihat kalau di depanmu ada ada danau kecil? Cari saja ikan disitu!"
"Tapi aku tidak punya alat pancingnya."
"Gezz... kenapa tidak berenang saja dan menangkap ikannya?"
"Kau sadar kan ini malam hari? Kalau aku berenang, besok aku pasti akan mati kedinginan."
"Huh, kau ini menyusahkan saja! Seharusnya aku benar-benar membunuhmu tadi."
"MWOOOO?!"
Tanpa menanggapi lagi, Sehun menjadikan sebuah batu besar sebagai tumpuan dan melompat kedanau.
"WAAAA! HEY! KAU SERIUS YA?" Jongin mendekat ketepi danau, menunggu. Suasana permukaan yang terlalu tenang. Apa Sehun tenggelam ya? Aduh, kalau namja itu tidak bisa berenang bagaimana?
Dengan panik, Jongin melepaskan kaosnya dan menaruhnya asal, bersiap masuk ke dalam air. Tapi sebelum benar-benar masuk, ada riak kecil dipermukaan air.
ZRRAAAAASSH!
Dan sosok Sehun sudah keluar dari air...
"WAAAAAAAH! BAGAIMANA KAU BISA TERBANG BEGITU?!" teriaknya heboh melihat Sehun yang tengah memegang pedangnya yang sudah penuh dengan ikan, jadi terlihat seperti sate ikan, melayang mendekat dan mendarat dihadapannya. Padahal Sehun tidak punya sayap.
Namja ini sudah benar-benar seperti peterpan asli. Kalau Sehun dibawa kedunia manusia, pasti sudah menjadi aktor laga terkenal yang tidak memerlukan stuntman lagi. Sekarang Sehun mengibaskan tangannya dan pusaran angin tiba-tiba mengelilingi tubuh quendi itu. Dan seketika, Sehun kembali kering. Hebaaaaaat! Jongin menatap sosok Sehun dengan mata blink-blink kagum.
"Ini!" Sehun menjatuhkan pedangnya kembali ke tanah, membuat Jongin kembali tersadar.
"Kau ingin aku memakannya dengan mentah begini?"
"Aku tidak bisa membuat api. Aku ini tipe angin." Sehun melepaskan ikan-ikan itu dari pedangnya dan kembali menyarungkan pedang itu di pinggangnya. "Ini sudah malam, ayah pasti mencariku. Kau disini saja!"
"Hey! Hey! Kau mau meninggalkanku ya?"
"Kalau warga desa tahu keberadaanmu, kau pasti sudah dipenggal. Karena itu tetaplah bersembunyi disini!"
Jongin dibuat terdiam kali ini, tadi siang nyawanya masih bisa selamat. Tapi dia tidak tahu nanti bagaimana. Jadi, dia hanya diam saja menatap kepergian Sehun yang begitu cepat. Menghela napas panjang, Jongin menatap ikan-ikan yang ada dihadapannya dengan malas. Untung dia sering menjelajah alam bebas. Jadi setidaknya tahu bagaimana membuat api dan bertahan hidup.
.
xxxxxx
.
Paginya, Jongin terbangun dengan lebih segar dan sehat. Aneh, padahal kemarin dia luka-luka semua. Tapi yang membuatnya kaget adalah, tubuhnya yang hanya memakai celana pendek saja. Kaos, jaket, dan celananya sudah terlipat rapi disamping tubuhnya.
Dan Jongin sadar, kalau tubuhnya sudah diolesi oleh sesuatu yang lengket. Oke, apa ini sejenis bumbu dan dia akan dipanggang? Tapi pemikiran itu langsung ditepis begitu melihat Sehun dengan keranjangnya.
"Apa kau yang melakukan ini?" tanyanya menunjuk keseluruh tubuhnya yang terasa lengket.
"Ya. Kau tidur seperti orang mati saja tadi!"
"Lalu... apa ini? Terasa lengket dan... sedikit bau."
"Kalau aku bilang itu air liur troll bagaimana?"
"HOOEKK!" Jongin menutup mulutnya seketika saat merasa mual. "Apa troll itu sesuatu yang besar, bau, dan bodoh disini?"
Kali ini Sehun tertawa, tawa yang membuat Jongin lupa akan rasa mualnya tadi. "Ya. Seperti itu. Tapi aku bercanda! Itu aku dapatkan dari tabib desa. Tenang saja!"
"Uh, oke. Kau punya selera humor yang buruk!"
Sehun tidak menjawab lagi, hanya mengeluarkan apa yang ada di dalam keranjang yang dibawanya tadi. Beberapa ekor ikan yang sudah matang... dan buah-buahan. Oow~ dia jadi merasa tersentuh sekarang. Ternyata Sehun begitu perhatian juga. Mungkin Sehun bisa menjadi istri yang baik suatu saat. Err, tapi Sehun seorang namja.
"Makanlah!"
Tanpa menunggu perintah dua kalipun, Jongin langsung melahap dengan rakus makanan-makanan itu. Ini enak sekali, meski hanya ikan dan buah saja. Tapi sungguh lezat. Ditengah acara makannya, Jongin menangkap Sehun yang sedang menulis sesuatu dibuku dan sesekali melirik kearahnya.
"Kau sedang apa?" Tanyanya dengan mulut penuh makanan.
"Meneliti manusia."
"Hah? Untuk apa?" alisnya mengerut bingung melihat tingkah Sehun sekarang.
"Tentu saja untuk informasi baru. Ternyata manusia itu suka sekali bicara, suka makan, dan... suka terlihat bodoh."
"APA?! Hey, hapus bagian terakhir itu! Aku tidak bodoh."
Tanpa mau mempedulikan Jongin, Sehun kembali berkutat dengan bukunya. Membuat Jongin sedikit kesal dan melupakan beberapa buah yang belum dimakannya. Sebuah ide terlintas di benaknya melihat Sehun yang begitu serius. Dengan perlaha, dia menggeser duduknya agar lebih dekat.
Sehun mengangkat kepalanya dari buku dan terlihat bingung saat menyadari Jongin sudah duduk di sampingnya dan tepat menghadapnya.
"Kenapa?"
"Kau ingin tahu tentangku kan? Aku juga ingin tahu tentangmu. Bagaimana kalau kau sedikit bercerita tentang dirimu sendiri, hm?" Jongin menyangga kepalanya dengan tangan dan di tumpu pada pohon yang menjadi sandaran Sehun. Oke, posisi ini sebenarnya sangat awkward bagi dua namja yang baru saling mengenal.
"Apa manusia juga suka berbicara dengan jarak sedekat ini?" Sehun berusaha menjauh, tapi langsung ditahan oleh Jongin dengan cepat.
"Yah. Mungkin," jawab Jongin asal masih dengan seyuman mautnya kearah Sehun. "Jadi... kau bisa mulai dari hal yang kau sukai."
"Hal yang aku suka?" Sehun terlihat berpikir sebentar. "Bintang? Euh, tapi semuanya juga suka bintang."
"Hah?! Apa kau ini sebenarnya seorang gadis?"
"Aku laki-laki. Tapi semua quendi memang menyukai bintang. Setiap malam kami berkumpul di tepi sungai untuk menatap bintang dan mendengar beberapa nyanyian dan puisi."
"Serius? Apa ini sejenis negeri dongeng? Apa ada ibu peri dengan tongkat ajaib?" Jongin memutar matanya mendengar penuturan Sehun tadi. Sebenarnya, apa dia tengah bermimpi? Kenapa dia seperti Alice yang terdampar di Wonder Land?
"Peri? Tongkat ajaib?" Sehun mengutarakan kebingungannya. Dan Jongin menyadari satu hal. Sedari tadi Sehun terus saja melirik ke samping, lebih tepatnya ke arah bahunya. Ada apa? Apa bahunya terlihat lebih menarik dari wajahnya?
"Jadi, kalian begadang tiap malam hanya untuk melihat... bintang? Yang benar saja!" Jongin mendengus geli mendengarnya. Mungkin kalau dia anak TK, dia akan antusias mendengar hal ini. Tapi sunggu dia seorang namja yang sudah bisa dikatakan dewasa. Hal ini sangat menggelikan, kawan.
Dahi jongin berkerut saat Sehun kini tidak menjawab, malah terus menatap bahunya intens.
"Baiklah, Sehun. Apa di bahuku ada ulat bulu besar menjijikkan atau tiba-tiba saja di bahuku tumbuh tanaman merambat?" Jongin mulai risih Sehun terus saja menatap seperti itu. Belum lagi posisi mereka yang memang sangat dekat.
"Kau punya aura yang nyaman, Jongin." Itu pertama kalinya Sehun memanggil namanya, dan hal itu sudah membuat dadanya berdesir hangat. Terasa menyenangkan mendengar namanya dipanggil dari bibir merah merekah itu dan suara yang lembut.
"Oke, aku mengerti. Kau suka sekali menatap bintang hingga larut malam. Itulah kenapa kemarin kau mudah sekali─"
Jongin sungguh kaget saat Sehun kini sudah menyandarkan kepala di bahunya dengan nyaman. Seperti anak kucing kedinginan yang berusaha mencari kehangatan.
"─tertidur di siang hari?" Jongin melanjutkan kata-katanya, matanya berkedip bingung. Nah, posisi mereka jadi semakin awkward saja. "Sehun, kau tidak berniat tidur lagi kan?"
Jongin senang-senang saja sih dipeluk namja cantik seperti Sehun, tapi kalau kelamaan bahunya juga bisa pegal-pegal nanti. Tapi melihat Sehun yang begitu nyaman rasanya jadi tidak tega melarangnya.
Do'akan saja semoga kali ini dia tidak mengapa-apakan Sehun, kawan. Semoga saja!
.
.
TBC
.
.
A/N: gue udah bilang belom sih mau masukin Dragon Riders of Berk juga? Yaudah tungguin aja si Night Fury muncul. Wkwkwk... n sorry buat penggemarnya The Silmarillion, ataupun Lord Of The Ring karna gue udah ngacak-acak masalah elf disini. Moga aja eyang Tolkien gak ngehantuin gue ya. Hahaha pusing!
Oke, masih ada yg mau review fic abal ini? #bbuingbbuing
