.

QUENDI

EXO © SMent & themselves

The Silmarillion © J. R. R. Tolkien

How To Train Your Dragon © DreamWorks

Cast:

Kim Jongin

Oh Sehun

Genre: adventure, fantasy, drama, romance, dll.

Warning: Shounen-ai, Fantasy/adventure gagal, OOC, misstypo, AU, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

Listening to: EXO – PETERPAN (WAJIB! Iya ini wajib biar lebih dapet feelnya.)

.

.

"Hup!" Jongin melempar sebuah ranting sejauh mungkin. Tapi langsung cengok begitu melihat naga dihadapannya hanya duduk diam menatap kearah ranting itu terlempar. "Ayolah kawan, ambil tongkat itu!"

Jongin menunjuk arah ranting yang tadi dilemparnya, tapi sang naga hanya menegakkan dua telinga dan memiringkan kepala, mungkin bingung. Menghela napas lelah, dia ikut duduk di sebelah Sehun yang sedari tadi hanya tertawa kecil melihat keduanya.

"Dia seekor naga, bukan anjing!"

"Aku tahu. Kupikir dia agak mirip dengan anjingku di rumah," Jongin menyender di batang pohon dengan lelah, sudah berkali-kali dia mengajak naga hitam itu bermain tapi tetap tidak ada respon. "Mungkin Toothless butuh sesuatu yang lain."

"Toothless?"

"Ya. Lihat saja dia bisa menyembunyikan giginya jadi terlihat ompong, sama seperti kucing yang bisa menyembunyikan cakarnya."

"Kau menolak menamainya seperti anjing chihuahua tapi malah... euh~ terserah!"

Kali ini Jongin tertawa, benar juga sih. Tapi sepertinya nama Toothless tidak terlalu buruk juga. Terkesan unik. "Kurasa nama itu memang cocok untuknya. Setidaknya aku tidak mendandani Toothless seperti anjing cihuahua Paris Hilton kan?"

Sehun tidak menanggapi lagi─mungkin tidak mengerti apa atau siapa itu Paris Hilton, quendi itu justru kembali berkutat dengan bukunya. Jongin melirik sekilas dan ternyata Sehun tengah menggambar sang Night Fury. Bukan gambar yang bagus, tapi jadi terlihat seperti seekor burung dengan sayap yang sangat lebar.

Hari ini saat melihat tingkah Toothless membuatnya berkali-kali teringat dengan Mongu, dan itu justru membuatnya merindukan rumah dan tentu saja keluarganya.

"Hey, kau tahu cara kembali ke dunia manusia?"

Pertanyaan itu kali ini berhasil membuat Sehun mengangkat wajah dari bukunya, elf itu terlihat terkejut sebentar sebelum ekspresinya berubah kembali terlihat berpikir. "Itu sulit. Para pendahulu sampai di Valinor ini harus melewati Beleriand, Ered Liand, Misty Mountain, dan masih jauh lagi. Butuh bertahun-tahun untuk melewatinya. Dan juga itu butuh jalur yang hanya diketahui oleh para Valar."

"Tapi aku datang kesini lewat sebuah lorong aneh. Mungkin antar dimensi!"

"Benarkah? Itu mustahil."

"Kau tidak percaya? Kalau begitu kenapa aku harus menanyakan cara pulang padamu kalau aku tahu jalur khusus itu."

"Benar juga. Mungkin nanti aku akan menanyakannya pada Yixing."

"Yixing? Siapa itu? Pacarmu?" kali ini nada bicara Jongin terdengar tidak suka membuat Sehun menatap manusia itu dengan bingung.

"Dia yang membuatkan obat untukmu waktu kau terluka. Yixing tahu banyak hal, dia tabib yang hebat didesaku," setelah itu Sehun kembali berkutat dengan bukunya membuat Jongin mendengus kesal. Tapi mendengar kata desa membuatnya ingat akan kejadian pagi tadi. Sehun masih belum menceritakan apapun, entah kenapa.

"Hey, kau sudah mau menceritakan tentang desamu?" Jongin kembali membuka suara, membuat Sehun kembali mengangkat wajah dari bukunya. Namja itu menatapnya dalam sebelum menghela napas panjang.

"Kenapa kau terlihat begitu penasaran? Itu hanya penyerangan biasa," jawaban Sehun itulah yang justru membuat Jongin penasaran. Kenapa Sehun tidak mau menceritakannya?

"Lalu kenapa wajahmu terlihat sendu saat pertama kali aku menanyakannya?" jawabnya kembali melayangkan sebuah pertanyaan. Ini dunia yang baru baginya, dia hanya namja dengan rasa penasaran tinggi yang ingin tahu segala hal disini. Kalau bisa, dia juga ingin menjelajah desa Sehun. Tapi dia tidak ingin kepalanya dipenggal.

Sehun termenung sesaat, elf itu mengalihkan pandangan kearah lain sambil sekali lagi menghela napas. "Itu karena sebagian desaku hancur. Tapi sedang dalam masa perbaikan."

Jongin merasa tersentuh kali ini. Desa Sehun sedang masa perbaikan dan Sehun sekarang malah memilih menemaninya di sini. Oh itu sungguh menyentuh, Sehun-ah! "Apa yang menyerang desamu itu dari ras yang lebih kuat?"

Sehun berbalik menatapnya serius, entah kenapa tiba-tiba seperti itu. Apa dia salah bicara lagi? Oh ayolah... dia juga masih awam disini. "Kau tahu? Toothless adalah salah satu yang menyerang desaku."

Dan kalimat itu sukses membuat Jongin tertegun mendengarnya. Toothless? Naganya? Mana mungkin kan? Toothless tidak terlihat jahat. Tapi kemarin Toothless memang terluka parah sih.

"Aku heran bagaimana kau bisa menjinakkan Night Fury itu, karena setahuku hanya ada satu orang di Valinor yang bisa menaklukkan naga... yaitu ksatria dari ras Noldor," jawaban Sehun itu membuatnya sedikit... err~ bangga. Yeah, dia bisa menjinakkan seekor naga hanya dengan sedikit sentuhan sedangkan para quendi itu tidak ada yang bisa. Bahkan hanya satu orang yang bisa. Kekeke~

Dia melihat Sehun yang menggigit bibirnya sendiri sambil menunduk sebelum melanjutkan, "Mereka membawa beberapa naga untuk menyerang ras Vanyar kami."

Lagi-lagi Jongin merasa tidak suka melihat ekspresi Sehun yang seperti itu. Dia lebih suka saat Sehun tersenyum. Karena itu dia kembali membawa Sehun dalam pelukannya, tangannya mengelus lembut punggung Sehun. "Kenapa mereka menyerang kalian?"

"Vanyar adalah ras paling terhormat, para Valar (Malaikat) sendiri yang memberikan kedudukan itu. Dan mereka menginginkan kedudukan tertinggi, yaitu ayahku, agar bisa memimpin seluruh ras Quendi."

Jongin mengeratkan pelukannya saat merasakan Sehun mencengkeram kaosnya. Jadi... Sehun ini sejenis pangeran ya? Atau putri? Sehun tidak pantas disebut pangeran dengan tubuh ramping dan wajahnya.

Matanya menatap sosok Toothless yang tengah asyik di tepi danau, sepertinya berusaha menangkap ikan-ikan itu. Naga itu sesekali mengepakkan sayapnya terlihat kesal saat tidak berhasil menangkap ikan-ikan itu.

Sebuah senyum muncul di bibirnya saat sebuah ide gila terlintas di benaknya. Entah ini gila atau bahkan akan jadi menyenangkan. Yang penting dia hanya ingin Sehun tersenyum lagi dan bisa mempercayai Toothless kalau naga itu tidak jahat seperti naga lainnya.

"Hey, mau ikut denganku?" Jongin hanya meringis senang saat Sehun menatapnya dengan alis berkerut bingung.

.

.

.

"Baiklah. Kita mulai dengan perlahan!" Jongin sedikit merunduk dan menatap lurus ke depan. Kini dia sudah duduk di punggung naganya. "Bersiap..." dia menarik napas dalam sebelum menghembuskannya saat sang Night Fury sudah merentangkan sayapnya lebar-lebar. "Sekarang!"

Dan si naga hitam dengan cepat melesat kearah langit membuat Jongin berteriak karena kaget dan takut.

"TERLALU CEPAT! TOOTHLESS, PELANKAN!" Jongin sekarang sudah merasa seperti sedang naik motor dengan kecepatan mencapai 140 kilometer perjam tanpa helm. Wajahnya terasa sakit karena terpaan angin yang kuat. Pegangannya pada sang naga bahkan sangat erat karena takut terjatuh.

Jongin bernapas lega saat Toothless kini sudah melayang tinggi di langit. Dia melihat kearah bawah dan kepalanya jadi pusing melihat betapa tingginya dia saat ini. Melihat jernihnya langit biru yang terasa begitu dekat membuat Jongin tertawa senang. Sekarang dia juga bisa terbang seperti Sehun. Hahaha... meski dengan Toothless tentu saja.

"Jongin!"

Panggilan itu membuat Jongin menengok ke samping dan melihat Sehun yang juga terbang di samping Toothless.

"Kau bisa terbang setinggi ini?" Jongin mengeraskan suaranya agar bisa terdengar oleh Sehun. Dan Sehun hanya tersenyum yang membuatnya harus berpaling ke arah lain karena wajahnya yang sudah memerah melihat senyum menggemaskan itu. Setidaknya Sehun bisa tersenyum lagi sekarang.

Tapi apa Sehun tidak lelah ya terbang setinggi ini? Pasti membutuhkan tenaga lebih kan? Dia tahu Sehun memang kuat, tapi tidak tega rasanya membuat elf cantik itu kelelahan.

"Hey, kemarilah!" Jongin mengulurkan tangan ke arah Sehun yang terlihat bingung, tapi namja itu tetap menerima uluran tangan Jongin. Dengan begitu, Jongin menarik Sehun kuat membuat Toothless sedikit oleng. Dan sekarang Sehun sudah terduduk di belakangnya dengan nyaman.

Niatnya hanya ingin membantu Sehun, tapi jantungnya berdetak lebih cepat saat sepasang lengan menelusup di pinggangnya dan melingkar erat di perutnya. Belum lagi kepala Sehun yang menyandar di punggungnya.

Untung Sehun sedang di belakangnya sehingga membuatnya tidak perlu membayangkan yang tidak-tidak. Habis kalau sudah melihat wajah Sehun yang terlihat nyaman itu membuat otaknya langsung bekerja ekstra dalam hal yang... euh begitulah.

"Woah... pelan-pelan kawan!" Jongin mempererat pegangannya saat Toothless menukik ke atas dan terbang semakin tinggi menembus kumpulan awan. Sangat tinggi hingga sekarang mereka sudah terbang diantara lautan awan. Jongin menatap takjub hal yang belum pernah dilihatnya ini.

Satu tangan lepas dari pegangannya. Jongin merentangkan sebelah tangannya, merasakan kabut-kabut awan di tangannya secara langsung dan nyata. Senyum bahkan tidak pernah lepas dari wajahnya saat ini.

"Aku tidak pernah melihat yang seperti ini!" Sehun berbisik pelan dari belakang. Bisa Jongin lihat Sehun juga melakukan hal yang sama. Ya Tuhan... kalian tidak akan bisa membayangkan apa yang sedang dia rasakan saat ini.

Ini sama seperti saat kau berada di pesawat terbang, tapi kau hanya bisa melihatnya dari jendela kecil sedangkan saat ini pandangannya bisa lebih luas. Bisa menyentuh awan secara langsung dengan tangannya dan juga merasakan terpaan angin di wajah.

"Terima kasih karena sudah menunjukkan hal menakjubkan ini, kawan!" Jongin kembali menepuk-nepuk kepala Toothless membuat naga itu menatap kearahnya dengan mata hitam bulat lucu itu.

Langit sore yang sudah berubah warna menjadi jingga dan lautan awan putih lembut yang juga berbiaskan cahaya matahari, terlihat seperti kapas yang empuk. Semua ini lebih menakjubkan dari sekedar sunset di pantai.

Yang dia sesalkan, Sehun ada di belakangnya. Jadi dia tidak bisa melihat bagaimana wajah cantik Sehun yang berhiaskan cahaya jingga dari matahari. Kulit putih susu yang lembut itu pasti akan terlihat sangat cantik dengan mata sipitnya yang indah.

Mungkin dia akan melakukan hal yang iya-iya jika melihatnya ya? Haha...

.

.

.

"Penampilanku pasti sangat berantakan saat ini!" Jongin merapikan rambutnya yang berantakan karena angin. Dia mendengus kesal saat mendengar Sehun yang terkekeh geli. Rambut bagian depannya berdiri semua karena terkena terpaan angin yang kuat saat Toothless terbang terlalu cepat.

Gerakan tangan di rambutnya terhenti saat ada tangan lain yang ikut campur. Napasnya tercekat saat Sehun sudah ada di hadapannya─tepat di depannya, kawan. Dan ini sangat dekat sekali. Sekarang Sehun tengah sibuk merapikan rambutnya sambil tersenyum kecil. Senyum yang membuat Jongin gemas ingin mengklaim bibir tipis itu.

Sebuah tubrukan di punggung Jongin membuat keduanya terkejut. Dia tahu itu kepala Toothless yang sudah menyeruduk membuatnya semakin menempel dengan Sehun. Oke, terima kasih kawan. Kau peliharaan terbaik yang pernah dia punya.

Jongin hanya gugup saat tangannya tidak sengaja sudah memegang pinggang ramping Sehun, dan bahkan tangan Sehun sudah ada di pundaknya. Belum lagi Sehun hanya menatapnya dengan padangan polos seolah tidak mengerti kalau mungkin saja kevirginannya sendiri dalam bahaya. Sehun-ah, kau godaan terbesar bagi imannya.

Entah karena terbawa suasana atau karena mata hazel indah Sehun yang terus menatapnya dalam itulah yang membuat Jongin menekan punggung Sehun kearahnya sehingga kini bibir keduanya sudah saling menempel. Oh ya ampun~ ini lembut sekali.

Matanya perlahan menutup saat bibir penuhnya bergerak dalam cumbuan lembut di atas bibir tipis itu. Dia bisa merasakan tangan Sehun di pundaknya kini semakin merangkulnya erat, tidak memberi perlawanan.

Kepala Jongin terasa berdengung saat akhirnya bisa mencecap bibir tipis Sehun yang lembut itu secara nyata, bukan khayalan-khayalan liarnya selama ini. Merasakan bibir mereka terpaut seperti ini, rasanya dia sudah yakin dengan semua yang dirasakannya. Dia menginginkan Sehun, dia menyukai namja cantik ini...

Tangan kanannya perlahan bergerak merayap naik, menekan tengkuk Sehun bersamaan dengan memiringkan kepalanya berusaha meraup bibir Sehun lebih dalam. Sementara tangan kirinya menyentuh punggung elf itu. Menekan ke arahnya agar tubuh mereka semakin merapat.

Jongin bahkan bisa merasakan bibir Sehun yang bergerak malu-malu berusaha mengikuti gerakan bibirnya. Dan juga tangan Sehun yang meremat rambut bagian belakang kepalanya perlahan.

Ciuman ini tidak liar seperti yang dulu-dulu pernah di lakukannya. Kali ini lebih lembut dan manis, seperti permen kapas yang meleleh manis di lidah. Dan kini langit yang tadinya jingga kini berubah semakin gelap. Bagaikan kunang-kunang di musim panas, bintang-bintang yang bertabur di atas sana juga berkelip dengan indah, turut bahagia.

Berusaha semakin memperdalam ciumannya, Jongin menyapukan lidahnya di bibir bawah Sehun. Meminta izin untuk bertindak lebih jauh. Belum sempat Jongin menelusupkan lidahnya ke mulut manis itu, sebuah dorongan keras membuat ciuman mereka terputus seketika. Dia hanya berkedip bingung saat Sehun mendorongnya tiba-tiba seperti itu.

"A-apa yang salah?" tanya Jongin ragu melihat Sehun yang melebarkan matanya terlihat terkejut sendiri, mungkin baru sadar apa yang baru saja dilakukan oleh mereka. Kenapa? Dia pikir Sehun juga menikmatinya.

Bahkan tadi Sehun sempat membalas ciumannya. Itu berarti Sehun juga menyukainya kan? Karena Jongin tahu kalau seseorang tidak akan membiarkan dirinya sendiri dicium begitu saja oleh orang yang tidak disukainya.

Jongin menahan tangan Sehun saat elf itu berbalik hendak pergi. Dia tidak akan membiarkan Sehun pergi sebelum masalah ini selesai.

"Sehun─"

"Lepaskan!"

Perkataan tegas itu membuat Jongin tertegun sesaat. Apa Sehun tidak menikmati ciuman tadi? Lalu kenapa membalasnya? "Dengarkan aku dulu! Kau tidak menyukainya? Kau tidak menyukai saat aku menciummu?" Jongin menarik Sehun lagi, memeluk elf itu dari belakang dengan erat.

"Aku tidak menyukainya."

"JANGAN BOHONG!" teriaknya kesal dan membalik paksa tubuh Sehun agar menghadap kearahnya. "Kau pikir aku bodoh?"

"Kau manusia!"

Jongin kembali tertegun saat melihat permata hazel indah Sehun kini sudah berkaca-kaca, terlihat akan menangis. "Memangnya kenapa?"

"Tidak boleh. Yang tadi itu seharusnya tidak terjadi. Lupakan kalau ciuman itu pernah terjadi!"

Jongin merasa marah saat Sehun mengatakan hal itu. Melupakan katanya? Yang benar saja! Sudah berhari-hari dia tersiksa ingin menyentuh Sehun seperti itu. Dan perasaan ingin memiliki itu bukan sekedar karena nafsu yang bergejolak semata.

Belum sempat Jongin menjawab, Sehun sudah menyentakan tangannya membuat genggaman itu terlepas dan elf itu melesat pergi dengan cepat. Meninggalkan Jongin yang hanya mengacak rambutnya frustasi dan menendang brutal sebatang pohon, membuatnya melompat-lompat dengan satu kaki karena kesakitan.

.

xxxx

.

Keesokan harinya Sehun datang agak terlambat. Sepertinya setelah kejadian tadi malam Sehun tidak berniat meninggalkannya begitu saja. Setidaknya Jongin bisa bernapas lega karena masih bisa melihat wajah rupawan elf tersayangnya itu.

Tapi semua itu tidak menutup kemungkinan suasana menjadi biasa saja, sekarang justru terasa lebih canggung. Jongin yang biasanya lebih dulu mengajak Sehun bicara ─atau lebih tepatnya pdkt─ kini hanya terdiam saja sambil duduk dihadapan Toothless.

Naga ini suka sekali jika digaruk lehernya. Setidaknya masih ada Toothless yang bisa diajak untuk bermain ataupun curhat. Meski dia tidak yakin Toothless akan mengerti karena naga itu hanya menatapnya dengan mata hitam yang membulat lucu atau terkadang memiringkan kepala dengan satu telinga yang menegak.

"Setidaknya kau tidak memusingkan masalah percintaan ya? Enak sekali jadi naga," Jongin melanjutkan curhatannya setelah sesaat terhenti tadi karena Sehun yang mendekat dengan sekeranjang makanan. Tapi setelah itu Sehun kembali menjauh dan duduk di sudut dimana tidak akan bisa mendengarkan Jongin dan Toothless.

"Kau hanya perlu mendekati si betina lalu kawin, bertelur, dan punya anak," Jongin mengelus kepala Toothless sambil menghela napas. "Hey, apa kau pernah menyukai naga dari spesies lain? Kurasa tidak masalah kan? Kalian sama-sama naga."

Jongin menjauhkan kepala Toothless yang sudah mengendus-endus di wajahnya. "Iya iya... kau tidak mau naga lain? Ck! Kau menyindirku ya? Memangnya kenapa kalau berbeda? Asalkan saling menyukai kan semuanya sudah beres."

Kali ini kepala Toothless mendorongnya keras, membuatnya terjengkang ke belakang. "Hahaha... oke oke~ kau menang. Kau hanya menginginkan sesama Night Fury saja ya?" dia berusaha menyingkirkan Toothless yang ada diatasnya, menahannya untuk bangkit. "Menyingkirlah, Toothless!"

Dan saat Toothless sudah berhasil menyingkir, dia bisa melihat Sehun yang berdiri tidak jauh sambil menundukkan kepala dan tangan terkait di punggung. Suasana berubah menjadi hening, tidak ada yang berani untuk membuka mulut. Keheningan itu terus berlanjut hingga akhirnya Jongin merasakan dorongan di punggungnya, membuatnya bangkit dan mendekat ke arah Sehun.

"Oh yeah, terima kasih kawan! Kau sama sekali tidak membantu!" gerutunya pada sang naga yang masih terus mendorong-dorong punggungnya dengan kepala hitam pekat itu. Sepertinya sang anak tidak ingin orang tuanya bertengkar. Yah... anak mana yang ingin melihat orang tuanya bertengkar terus-terusan?

"Jongin..." Sehun yang pertama kali membuka mulut memanggil namanya.

Jongin sudah bersiap akan mendengar serentetan kalimat tentang 'perbedaan' dan 'cinta terlarang' atau sejenisnya. Tapi hal itu tidak terjadi juga, dia justru melihat Sehun yang hanya menunduk. Hal itu berlanjut beberapa menit hingga Sehun akhirnya kembali membuka suaranya.

"Tadi malam..." yeah, dia tahu kemana arah pembicaraan ini. "Itu semua memang seharusnya tidak terjadi. Jadi... bisakah kita lupakan saja dan anggap itu tidak pernah terjadi?"

Tuh kan? Jongin memutar matanya bosan mendengar hal itu. "Kau pikir─"

Kalimatnya terhenti oleh auman keras dari Toothless. Dia menatap naga itu tajam, tapi tatapan Toothless juga tidak kalah tajamnya. Pupil hitam yang biasanya membesar bulat itu kini meruncing seperti mata ular. Oke, dia kalah.

"Ya, terserah saja!" ujarnya mengalah.

"Kau... masih marah?" Sehun hanya melihatnya takut-takut dari sela poni cokelat panjang itu. Sepertinya hal ini tidak mengubah apapun.

"Marah?" dia tertawa dengan dipaksakan. "Siapa yang marah? Aku tidak marah. Nah, sudah selesai kan? Ayo Toothless, kita berkeliling lagi!" Jongin berbalik menghadap naganya, tapi sepertinya Toothless enggan untuk beranjak pergi sebelum masalah benar-benar selesai.

"Kau marah."

Mendengar itu Jongin kembali berbalik menghadap Sehun, dilihatnya elf itu sudah mendongakkan kepala menatapnya. Dan Jongin termenung sesaat melihat ekspresi Sehun, dia sudah pernah bilang kan kalau dia paling tidak suka melihat ekspresi sedih dari Sehun. Dia lebih suka saat melihat Sehun yang tersenyum.

"Baiklah. Terserah kau ingin melupakannya atau tidak. Terserah kau ingin melakukan apapun yang kau mau. Tapi..." Sehun kembali menundukkan kepala terlihat takut untuk menatapnya. "...jangan jauhi aku lagi! Jangan mendiamkanku lagi..." nada suara Sehun sangatlah pelan seperti orang berbisik saat mengatakan kalimat terakhir itu. Membuat Jongin merasa tidak tega juga, jadi dia melangkah mendekati Sehun. Menarik perlahan namja putih itu kedalam pelukannya.

Sehun sendiri langsung melingkarkan lengannya di punggung Jongin dan menyembunyikan wajahnya di bahu manusia itu seperti kebiasaannya. Tangannya mencengkeram kaos bagian punggung Jongin dengan erat merasa sedikit lega karena Jongin tidak marah lagi.

"Jangan marah padaku lagi..." bisiknya lirih di bahu Jongin.

"Ya... maafkan aku!" dan ujung-ujungnya tetap Jongin lah yang meminta maaf. Sebenarnya salah Jongin juga sih yang sudah seenaknya mencium Sehun. Tapi... ah sudahlah! Masalah itu sudah selesai sekarang, jadi sebaiknya jangan diungkit lagi.

Keduanya terus berpelukan seperti itu, hingga kedua mata Jongin menangkap sesuatu yang tidak asing baginya di samping buku Sehun yang tergeletak.

"Sehun, dari mana kau dapatkan itu?" tanyannya melepas pelukan itu dan memungut benda di samping buku Sehun. Dia bahkan tidak sadar benda ini sudah terlepas darinya saat jatuh waktu pertama kali datang ke dunia ini.

"Oh, aku menemukannya menyangkut di sebuah ranting pohon. Itu sedikit aneh, jadi aku bawa mungkin bisa berguna. Apa itu milikmu?" Sehun memperhatian benda berwarna hitam di tangan Jongin.

"Ya. Ini beanie milikku. Sepertinya tersangkut saat aku jatuh waktu itu!" Jongin mengibas-ngibaskan topinya yang kotor. Dan tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. Dan tentu saja ide ini agak gila atau memang ini ide yang sangat gila. "Sehun-ah... bawa aku ke desamu!"

"Apa kau gila?!"

.

.

To Be Continue

.

.

A/N: banyak yg minta NC sih. tapi gak tau kenapa menurut gue sih bakal jadi aneh kalo tiba-tiba ada NC. Jadi gue kasih skinship aja. sedikit Lime, tapi gak nyampe Lemon juga.

n bagi yg masih penasaran gimana si naga ompong itu... liat cover fic ini aja. :D

oke, masih ada yg inget sama fic ini n ngereview lagi?