Chapter 2 - Mitsuzane
Kota Zawame ramai seperti biasanya. Walau namanya jarang didengar di dunia, tapi sebenarnya kota ini tidak ada bedanya dengan kota besar lainnya. Di kota ini tetap ada toko buku, toko kue, sekolah, taman, dan gedung lainnya. Di tengah kota Zawame, berdiri sebuah tower besar bentuk seperti jamur. Banyak orang yang penasaran dengan gedung besar itu isinya perusahaan apa, tapi orang hanya mengenalnya namanya sebagai Yddrasil tanpa tahu tuh perusahaan bidangnya apa. Ada yang bilang itu perusahaan konstruksi, ada juga yang bilang itu perusahaan tengah mengembangbiakan jamur unyu kaya game Funghi di app store gitu, makanya bentuk gedungnya kaya jamur. Karena teori perusahaan jamur itu yang paling diyakini oleh orang-orang sekitar, makanya orang kota ga terlalu kepo-kepo banget sih tentang gedung ini. Mereka malah berharap supaya jamur unyu kaya di game Funghi bisa beneran cepat dikembangbiakan biar bisa dipelihara beneran.
Tidak seorangpun tahu, kalau gedung ini sebenarnya dikepalai oleh seorang pemuda dari keluarga kaya bernama Kureshima Takatora. Untuk seorang yang mengepalai perusahaan di usia muda merupakan sebuah prestasi besar bagi anak sulung keluarga Kureshima ini. Dengan gaya kepemimpinannya yang dominan dan pemikirannya yang luas membuat perusahaan ini dapat bertahan belasan tahun. Seluruh pegawai yang bekerja sangat menghormati Takatora karena dia selalu cool and compose dalam setiap keadaan.
Namun, hari itu berbeda dari biasanya karena Takatora datang ke kantor dengan muka super bete dan mata panda. Tidak seorangpun tahu apa yang terjadi pada Takatora, dan tidak seorangpun berani mendekati boss muda ini. Hanya satu orang super ga peka dan kepo yang berani mendekati boss muda ini, dan orang itu tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Sengoku Ryouma. Ryouma masuk ke ruangan Takatora di paling atas dengan langkah ceria sambil bawa jus jeruk di gelas kertas. " Takatora! Maen yuuk!" teriaknya ala Nobita neriakin Shizuka di film Doraemon.
Takatora langsung natap Ryouma dengan tatapan garang. "Pergi sana!"
" Wah, tumben dateng-dateng mukanya udah bete gitu... lagi dapet ya?" Ryouma deketin sambil nyeruput jus jeruknya.
Takatora tambah bete liat gelas di tangan Ryouma. " Jus itu, kamu beli di bawah gedung ya?"
Ryouma liat gelas di tangannya, " Oh ya, tadi tumben ada stand jus di bawah sini, khusus jualan jus jeruk. Tadi adek lo jualan kan, bareng temennya si Kazuraba Kouta itu. Tampang dia happy banget pas gw beli tadi. Enak loh, mau coba?"
" Ga!" jawab Takatora buang muka dengan kesel.
" Yakin? Muka kamu suram gitu kayanya harus minum vitamin C loh kayanya. Rambut belel, mata panda gitu, nih, gw kasi jus gw deh..."
Takatora berdiri dari kursinya. " Ini gara-gara maid yang kamu kasih ke aku tahu! Kamu tahu ga, berapa hari ini Mitsuzane nempel sama maid itu sampe malem. Bahkan, tiap tengah malem gw masih denger suara cekikikan gitu dari kamar mereka!"
" Lo yakin itu orang?"
" Heh, jangan ngomong yang aneh-aneh deh." Takatora merinding, "Terus ya, masa di rumah, si Mitsuzane ga lepas-lepas dari si Kouta itu. Dari bangun langsung minta dipilihin baju, makan pagi udah bareng, berangkat sekolah cipika cipiki, makan siang sengaja pulang buat makan bareng, Mitsuzane juga selalu pulang cepet biar bisa makan malem bareng segala. Terus abis itu mereka maen seharian, bahkan kemaren malem mereka maen kejar-kejaran di ruang tengah sampe 1 guci pecah. Di hari libur kaya gini, dia malah nemenin si Kouta jualan jus jeruk gitu bareng tim narinya gitu. Padahal kan uang saku dia udah aku kasih banyak. Pokoknya ngeselin deh! Mau gw pecat ah itu maid hari ini!"
Ryouma ketawa denger Takatora curhat dengan berapi-api gitu. " Lah, adek lo kan keliatan seneng, kok kamu malah kesel gitu sih?"
Takatora duduk lagi dengan kesel karena ga bisa jawab.
" Ooh... gw tahu..." Ryoma jalan di depan meja Takatora, " Lo cemburu ya sama si Kazuraba ya karena Mitsuzane selalu nempel di samping dia, tapi ga nempelin kamu?"
Kata-kata Ryouma langsung nusuk tepat di hati Takatora.
" Ya nurut gw ya, daripada kamu pecat si Kouta itu, kenapa kamu ga tanya dulu rahasia dia bisa bikin Mitsuzane bahagia gitu...?" tanya Ryouma.
Takatora liat ke jendela, " Ya dia kan udah kenal sekitar 2 tahun gitu... ga aneh lah kalo mereka udah deket..."
" Trus karena Kouta udah kenal selama 2 tahun, kamu yang sudah kenal Kureshima Mitsuzane selama 16 tahun ini kok bisa kalah?" Ryouma menundukan badannya sehingga mukanya bisa berdekatan dengan Takatora, " Dan karena kamu merasa kalah, kamu mau pecat Kouta yang ga salah apa-apa ke kamu?"
" Berisik! Pokonya aku akan pecat dia...""
Ryouma sodorin jus jeruk di tangannya ke mulut Takatora. " Nih, diminum jusnya, biar otak kamu bisa seger dan bisa berpikir sedikit rasional... "
Takatora minum jus yang dikasih Ryouma. Rasanya ternyata beneran enak ternyata, ga heran kalau tadi stand-nya lumayan rame. " Enak..."
" Cobalah dipikirin lagi, kapan sih terakhir kamu habisin waktu kamu sama Mitsuzane kesayangan kamu itu... Belakangan kamu pulang kantor selalu malem, berangkat ke sini subuh-subuh, bahkan lebih pagi dari OB sini bersih-bersih. Ya ga heran kan kalo Mitsuzane akhirnya maennya bareng Kouta itu? Terus libur gini, kamu malah berangkat ke kantor... Kalau Mitsuzane jalan sama Kouta, wajar kan?"
Takatora mukanya makin bete. " Aku kerja demi dunia ini..."
Ryouma menatap wajah Takatora, " Untuk nyelamatin adek lo aja, lo ga mampu, udah mau tugas berat untuk nyelamatin dunia..."
Takatora jadi marah. Dia ngerasa apa yang dia lakukan ke adiknya selama ini sudah benar, " Apa maksud lo?"
Ryouma senyum penuh makna seperti biasa, senyum yang ga bisa dibaca Takatora apa maksudnya. " Aku nasehatin kamu untuk kebaikan kamu ya..."
Takatora masih gagal paham," Ryouma, berapa hari ini kamu aneh deh... dulu kamu fokus berat sama penelitian lockseed, tapi belakangan ini kok kamu kelihatan peduli banget sama masalah pribadiku?"
Ryouma melihat ke arah lain, " Soalnya... blakangan aku lagi menemukan sesuatu yang lebih menarik... Tapi sebagai gantinya, ada hal lain yang harus aku lakukan..." Ryouma keluar dari ruang Takatora sambil loncat-loncat girang mencurigakan.
Takatora masih ga paham dengan sikap Ryouma, tapi apa yang Ryouma katakan mnejadi pertimbangannya. Sambil duduk di kursinya, Takatora menatap ke langit di belakang kaca jendelanya yang besar. "Mitsuzane...ya...?"
Sore itu Takatora pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Biasanya baru balik ke rumah jam 11 malem, sekarang jam 5 sore dia udah sampe rumah. Dia juga udah pesen tempat dinner khusus special berdua di restoran mewah dan udah bawa sebuket mawar yang ga tau kenapa dipesenin sama Minato pas Takatora minta dipesenin restoran gitu. Minato keliatan semangat banget buat acara Takatora ini, soalnya bagi dia Takatora tuh udah kelamaan jadi jones. Udah ditembak berkali-kali, meleset semua. Makanya begitu tahu kalau Takatora mau dinner sama orang specialnya, Minato semangat banget. Dari hal baju jas sampe daleman semua dipilihin modelnya sama Minato. Takatora sih dipilihin Minato gitu dipake aja, soalnya dia sendiri ga terlalu peduli sih sebenernya sama penampilannya.
Pas sudah sampe rumah, Takatora ingin bisa langsung mengajak Mitchy keluar. Sayang pas dia masuk ke rumah, rumahnya sepi banget ga ada orang. Takatora coba nelpon Mitchy, tapi hapenya sama sekali ga bisa nyambung. Karena ga bisa nyambung terus, akhirnya Takatora coba telpon Kouta dan untungnya langsung diangkat.
" Kazuraba... Pulangin Mitsuzane. Sekarang!"
" Ah, Takatora. Loh, Mitchy belum pulang? Tadi kita misah sudah lama loh padahal, aku kira dia sudah sampe rumah..." jawab Kouta.
" Hah? Kalian misah? Bukannya tadi kalian jualan jus bareng?" tanya Takatora.
" Iya, tapi tadi jam 3 sore dagangannya sudah habis, jadi kami mutusin untuk balik. Tapi karena aku mau jenguk onee san di rumah sakit, jadinya kita misah deh. Maaf ya nanti aku baliknya agak telat, soalnya ini mesin kasirnya rusak nih. Untung ada Sengoku Ryouma di sini, jadi dia bantu benerin."
" Hah? Ryouma di sana? Ngapain dia?"
" Ga tahu... mau ngomong sama dia?" tanya Kouta.
" GA! Ga! Ga!" Takatora nolak dengan tegas, " Jadi Mitsuzane ke mana ini? Tadi dia ga bilang ke kamu?"
" Hm..." Kouta mikir bentar, "Oh ya, tadi dia bilang sih ga mau langsung pulang, tapi dia ga bilang mau ke mana sih... Tadinya aku mau anter dia, tapi dia nolak gitu, ga tahu kenapa..."
Takatora jadi panik. " Berarti sudah 2 jam ya dia hilang..."
" Begitulah... aku coba kontak tim Gaim deh, nanti aku suruh dia balik kalau dia ada di sana..."
Telepon pun ditutup oleh Takatora dengan bete. Dia sudah susah-susah meninggalkan kerjaannya yang masih menumpuk di kantor demi bisa ketemu Mitchy lebih cepet. Dia bahkan sudah pesan tempat makan khusus VIP demi bisa makan bareng Mitchy, tapi pas dia pulang, dia ga bisa ketemu sama Mitchy.
Waktu menunjukan pukul 7 malam, Mitchy pulang dengan buru-buru. Keringat dan air hujan membasahi rambutnya yang hitam. Mitchy segera melepas jaketnya yang basah karena kehujanan.
" Kouta-san!" Mitchy melihat ke sekelilingnya sambil berteriak.
Takatora langsung berdiri menghadang Mitchy, " Kamu baru dari mana, jam segini baru balik..."
Mitchy agak kaget lihat kakaknya sudah pulang, tapi Mitchy punya keperluan lebih penting. Mitchy melewati kakaknya, " Nii-san liat Kouta-san? Aku ada keperluan nih sama dia..."
Takatora kesel karena udah nunggu Mitchy dengan lama, pas Mitchy dateng malah langsung nyariin Kouta, bukan dia. Dengan kesalnya Takatora mencengkram tangan Mitchy.
" Kamu ke mana aja hari ini?" Takatora mengulang pertanyaannya.
" Mmm..." Mitchy melihat ke arah kantongannya dan melepaskan tangannya dari Takatora Takatora. " Nii-san tidak perlu tahu... Lepaskan aku, aku ada keperluan dengan Kouta-san!"
Takatora sangat kesal melihat kelakuan Mitchy. Takatora meraih kerah Mitchy dan mendorongnya merapat ke tembok.
" Kouta! Kouta! Kouta! Padahal aku sudah balik dengan cepat, tapi kamu malah terus mencari Kouta!" Takatora memojokan Mitchy sehingga ia tidak bisa kabur, " Aku sudah tidak tahan lagi. Mulai hari ini, kamu tidak boleh bersama dengan Kouta lagi. Aku akan pecat dia hari ini!"
Mitchy menatap kakaknya dengan takut. " Nii-san? Kouta salah apa ke Nii-san? Kenapa Nii-san mau memecatnya?"
" Aku muak melihat kamu selalu menempel dengannya!" jawab Takatora.
" Tapi... Kouta-san..." Mitchy kembali menatap kantongan kecil di tangannya.
Takatora dengan kesalnya mengambil kantongan kecil itu dan melemparnya. Takatora tidak menyangka bahwa ia mendengar suara barang pecah dari dalam kantongan yang dilemparnya itu.
Mitchy dengan cepat mendorong Takatora dan mengambil kantongan itu. Dengan wajah panik Mitchy melihat ke isi kantongan itu. Air mata Mitchy mengalir saat melihat isi kantongan itu. Takatora jadi panik melihat adiknya menangis tiba-tiba seperti itu.
" Mitsuzane..." Takatora mendekati Mitsuzane.
Mitchy menatap Takatora dengan mata penuh air mata. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Mitchy memeluk kantong kecil itu dan berlari melewati Takatora yang terdiam tidak bisa bergerak
" Mitsuzane..." Takatora tidak tahu harus bagaimana lagi.
Tiba-tiba Kouta masuk ke ruang tengah dengan penuh semangat. " Selamat Malam! Maaf baru balik sekarang, tadi mesinnya ga bener-bener. Sengoku Ryouma utak atik malah tambah kacau, ahaha. Sebagai gantinya aku dibawain kue nih sama dia!" Kouta angkat kotak kue di tangannya.
Takatora masih tidak bisa menjawab, masih shock dengan air mata Mitsuzane yang baru saja ia lihat.
Kouta lambai-lambai tangan di depan Takatora. " Takatora...? Kok lesu gini? Diare ya?"
Takatora masih ga jawab, diem kaya patung.
" Mau aku ambilin obat?"
Takatora jalan dengan muka kosong dan langkah sempoyongan.
Kouta lihat buket bunga mawar merah yang ada di kursi sofa. Tadinya buket itu mau dikasih ke Mitchy oleh Takatora, tapi karena kejadian barusan, Takatora lupa sama sekali dengan buket itu.
" Buketnya bagus bangeet, ini buat siapa?" tanya Kouta dengan wajah bahagia sambil megang buket mawar di depannya.
" Buat kamu aja..." jawab Takatora sambil jalan pundung.
Kouta ga paham ada apa dengan Takatora. Berhubung baju dan badannya lagi basah kuyup oleh hujan di luar sana, Kouta memutuskan untuk mandi secepatnya.
Sudah lama Kouta tidak merasakan mandi dengan menggunakan shower hangat. Biasanya dulu di rumah, ia harus menghemat pengeluaran air. Kalau mau mandi, biasanya ke tempat pemandian umum, jadi ga bisa lama-lama juga. Tapi di rumah Kureshima ini benar-benar berbeda. Ia bisa mandi dengan shower hangat setiap hari, kasurnya juga jauh lebih nyaman daripada biasanya.
Sambil menyanyi-nyanyi Kouta shampoo-an. Tiba-tiba teleponnya bunyi dengan nyaring. Kouta yang kepalanya masih shampoo-an raba-raba dinding sampe wastafel dan angkat hapenya di wastafel.
" HENTAI!" Teriak Kouta kepada Ryouma yang lagi video call.
" Enak aja! Salah lo sendiri angkat hape sambil mandi gini!" teriak Ryoma.
" Iya juga ya... aku matiin deh hapenya..."
" Eh, Eh! Bentar! Mumpung lo angkat, ntar tolong anter kue yang aku kasih ke kamu itu ke kamar Takatora ya!" kata Ryoma.
" Tapi Takatora lagi diare...Tadi dia lesu gitu, diajak ngomong ga jawab pula..."
" Pokoknya anter ya ke sana nanti, kalo memang dia diare ya bikinin aja teh herbal hangat. Udah, cepet pake baju sana!" kata Ryoma.
" Iya, siap boss~ Aduh, mata gue kemasukan shampoo~ udahan dulu ya"
" Udah sana bersihin tuh shampoo! Lain kali angkat hape jangan di kamar mandi ya, bahaya! Kalau hape kamu rusak aku ga mau tanggung jawab." teriak Ryoma kesel.
Kouta datengin kamar Takatora sambil bawa teh anget dan kue melon. Ketika sampai di kamar Takatora, dia liat Takatora duduk di mejanya dengan wajah lesu seakan ada awan mendung di atas kepalanya. Kouta dnegan hati-hati menaruh piring berisi kue melon dan secangkir teh hangat di meja Takatora. " Silakan diminum, teh herbal baik loh buat orang diare."
Takatora tidak menjawab. Kouta malas ambil pusing atas kelakuan Takatora. Nee san pernah bilang, setiap orang terkadang butuh waktu untuk sendirian. Mungkin saat ini Takatora sedang dalam masa seperti itu. Kouta memutuskan untuk keluar dari kamar Takatora secepatnya.
" Kazuraba Kouta…"
Kouta menengok ke arah Takatora, " Ya?"
" Aku ga selera, kasih aja ke Mitsuzane…"
" Oh, oke…" Kouta balik ambil kue dan teh dari meja Takatora.
" Kazuraba…" Takatora membalik kursinya sehingga Kouta tidak bisa melihat wajahnya. " Besok ga usah kerja lagi di sini ya"
" He?" teriak Kouta kaget, "Kenapa?"
" Aku ga suka kamu deket-deket sama Mitsuzane. Sekarang dia berubah jadi melawanku gara-gara kamu."
" Lah, kok gitu? Aah, lo cemburu ya?"
Takatora tidak menjawab. Kouta yang sangat kesal memukul meja Takatora. Takatora yang tadinya membelakangi Kouta jadi melihat ke arah Kouta.
" Lah, Mitchy jadi gini kamu kira gara-gara siapa? Memangnya salah kalau Mitchy nempel ke gw? Mitchy tuh kesepian, soalnya selama ini kamu ga pernah nemenin dia makan, ga pernah nemenin main, ga pernah nemenin belajar, tapi lo selalu nuntut dia jadi juara. Itu kan ga adil banget, wajarlah kalau dia deket sama gw yg bisa nemenin dia sepanjang waktu..." Kouta menarik kerah Takatora, " Denger ya, kalau sikap kamu kaya gini terus, gw ga akan ragu untuk ambil Mitchy dari tangan kamu. Walau kamu bisa bayar dia berapapun juga, aku ga akan kalah dari kamu demi melindungi Mitchy!"
" Mitchy kesepian...?" Takatora tiba-tiba teringat kata-kata Ryoma tadi siang. 2 orang memarahinya atas hal yang sama, mungkinkah memang dirinya salah...?
" Iya lah! Kamu jahat banget sumpah. Udah ah, aku ga kerja di sini juga gak papa." Kouta lepasin kerah Takatora. Dengan menyibak rambutnya Kouta balik badan.
" Tunggu… memangnya aku kurang perhatian ke dia di mananya? Sekolah gw bayarin, uang saku gw bayarin. Dia minta apapun selalu aku beliin!"
" Ya semua itu kan di belakang layar. Kamu sadar ga sih, kamu ga pernah hadir dalam hidup mitchy. Dari pagi sampai malam, waktu kamu hanya untuk kerja. Saat Mitchy mau tidur, kamu selalu belum pulang. Saat Mitchy bangun, kamu selalu sudah berangkat kerja. Coba kamu ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kamu menyempatkan waktu untuk makan bersama dia?"
Takatora diem dan duduk balik di kursinya." Kamu benar… "
" Duh, maaf jadi marah-marah ga jelas. Kuenya aku anterin deh ke dia." Kouta buru-buru ambil piringnya, tapi tiba-tiba tangannya dihalangi oleh Takatora.
" Ga usah."
" Eh? Kamu mau makan?"
" Biar aku anter ke tempat dia, kamu ga usah nemenin dia hari ini, biar gw yg nemenin." jawab Takatora sambil jalan melewati Kouta.
" Eh… kalau kamu ke sana nanti… " Kouta baru sadar kalau Takatora ke kamar Mitchy, nanti Mitchy malah diterkam sama Takatora. Mana itu sudah malam pula. Pokoknya Kouta harus cegah itu terjadi pada Mitchy. Kouta menghalangi Takatora. " Aku aja gImana?"
Takatora menatap dengan bingung, " Kan kamu bilang aku kurang waktu sama dia. Aku akan habiskan malam ini untuk bersama dengan dia..."
" Em… Takatora… " Kouta baru sadar kalau apa yang baru saja ia katakan malah memperbaiki hubungan antara Takatora dan Mitsuzane. Padahal kan tadinya dia berniat untuk melepaskan Mitchy dari tangan om-om ini. Tapi... kalau om-om ini memang mau berubah dan mau membahagiakan Mitchy lagi... Ga! Ga! Simpenan tetep simpenan! Tapi... wajah kesepian Mitchy kemarin... mungkinkah Mitchy sebenarnya juga suka dengan om Takatora ini... Dan kalau Takatora balik bobo bareng Mitchy lagi... Yah, hak om-om yg udah beli Mitchy juga sih, selama status Mitchy masih simpenan om Takatora... Kouta jadi pusing sendiri mikirnya. Untuk sekarang ia pasrah karena ini adalah hasil argumennya sendiri. Dengan wajah lesu Kouta menatap Takatora. "Please... mainnya nanti jangan kasar-kasar ya…"
" Hah? Ngomong apa sih kamu?"
Kouta ga bisa bayanging lagi deh apa yang akan terjadi pada Mitchy. Kouta nyesel malah memperbaiki kedekatan melon dengan si anggur.
" Maksudnya ya…" muka Kouta merah sendiri. " Mitchy tuh masih muda. Badannya kurus kecil pula. Kalau mainnya kasar-kasar, besok dia bisa susah di sekolah... Tolong perlakukan dia dengan lembut ya..." Kouta buru-buru meninggalkan Takatora sebelum imajinasinya makin liar.
Takatora cengok. " Memangnya kita mau main? Kan gw mau bantu dia bikin PR…"
Kouta guling-guling di kasur sambil nutupin mukanya pake bantal karena kesel sendiri. Dengan berlinang air mata penyesalan, Kouta jedotin kepalanya ke bantal berkali-kali, soalnya kalo dijedotin ke tembok kan sakit. " Maafin aku, Mitchy... kalau besok badan kamu sakit semua, aku akan pijetin deh..."
Hape Kouta bunyi lagi, dan lagi-lagi ada panggilan dari Ryoma.
" Yo, maidku yang manis! Kok nangis gitu?" tanya Ryouma.
Kouta ngambek. " Bukan urusan lo!" langsung siap matiin hapenya.
" Tunggu! Tunggu! Gw ad permintaan nih... tolong kunci kamar Mitsuzane ya sekarang..."
" EEEEE?" Kouta heran dengan permintaan Ryouma.
" Udah, lakuin aja. Takatora tuh orangnya susah, kalo ga dikunci, pasti dia udah keluar duluan sebelum damai sama Mitsuzane..."
" Ga mau! Aku ga mau Mitchy dikasarin sama Takatora!" teriak Kouta.
" Ih kamu..." Ryouma mikir, " Kamu tau ga, di kamar Takatora banyak peralatan bahaya lo. Kamu mau Takatora main sama Mitsuzane pake alat-alat bahaya itu? Mending kalo di kamar Mitsuzane kamu kunciin, biar dia ga bawa Mitsuzane ke kamarnya... Bener kan?" Ryouma senyum licik.
" Ta... tapi nanti Mitchy..." Kouta nangis bombay lagi.
" Cup, Cup, udah, ga usah khawatir gitu... Nanti kalau udah mau adegan bahaya, aku telepon kamu deh, supaya kamu bisa segera selamatin dia. Sekarang kamu kunci pintu Mitsuzane dari luar ya..."
Kouta mengangguk. " Baiklah... aku tidak akan tidur sampai kamu nelpon nanti..."
10 menit Takatora bediri di depan kamar Mitchy. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi kamar adiknya. Takatora memimikirkan, apa yang harus ia katakan kepada Mitchy kalau ia masuk nanti. Apakah ia memberikan kue itu, lalu pergi? Kelihatannya agak salah... tapi kalau harus berbicara, apa yang harus dibicarakan?
" Ano... Takatora..?" Kouta menepuk bagu Takatora.
" WAA!" Takatora kaget soalnya dia baru konsentrasi penuh.
Kouta yang liat Takatora teriak ikutan kaget. " Ngapain berdiri di depan pintu gitu?"
" E...Enggak kok..." Takatora malah jadi salah tingkah sambil garuk-garuk leher.
Kouta melihat ke arah tangan Takatora, " Kok kuenye belum dikasih?"
" Eng... tadi..."
" Memang dia lagi ga di kamarnya?", Kouta mengetuk pintu kamar Mitchy, " Mitchy~~ Kamu di kamar?"
Terdengar suara dari kamar, " Masuk saja, Kouta-san!"
Kouta melihat ke arah Takatora, " Tuh, ada kok anaknya..." Kouta membukakan pintu dan mendorong Takatora masuk. " Masuk aja..."
Takatora membenarkan dasinya dan masuk ke kamar Mitchy. Kamar Mitchy nampak sudah berbeda dengan keadaan pada saat ia terakhir masuk dulu. Dulu Mitchy sangat menyukai pernak pernik Pokemon. Dari wallpaper, poster, sprei kasur, keset, dan semua peralatannya selalu berbau Pokemon. Namun kini kamar Mitchy sudah terkesan polos dan lebih dewasa. Peralatan Pokemonnya sebagian besar sudah berpindah dari kamarnya. Kini kamarnya lebih diwarnai oleh warna cream, kuning, dan cokelat muda. Lampu kamarnya juga sudah berubah menjadi berwarna kuning. Yang tersisa hanyalah sebuah bantal Pikachu manis pemberiannya saat Mitchy masih kecil dulu, dan kini masih terbaring di kasurnya.
Takatora tidak menemukan Mitchy di kamarnya, namun ia dapat mendengar suara shower dan siluet Mitchy dari pintu kamar mandi dalam kamar Mitchy. Takatora meletakan piring kuenya di meja Mitchy. Meja Mitchy cukup rapi untuk meja seorang anak lelaki. Tidak banyak barang yang diletakan di meja Mitchy, hanyalah sedikit buku pelajaran, kotak peralatan tulis, dan kantongan yang tadi Takatora lempar. Takatora menjadi penasaran dengan isi tas yang membuat Mitchy menangis tadi. Kalau dari reaksi Mitchy tadi, kelihatannya sih barang ini yang akan diberikan kepada Kouta-san idolanya itu. Padahal kalau dipikir-pikir, Mitchy seharusnya bisa membeli barang yang sama dengan uang sakunya yang banyak. Kenapa sih dia sampai menangis gara-gara barang ini saja, pikir Takatora. Diambilnya tas itu dengan kesal dan dilihatnya. Takatora melihat pecahan keramik berwarna hijau seperti warna teh matcha. Dari bentuknya yang melengkung nampaknya sih benda itu aslinya berbentuk tabung, namun bentuknya sedikit penyok dan buatannya cukup kasar, seperti barang cacat. Di pecahan keramik itu nampak seperti ada goresan tinta berwarna merah. Dari goresannya, nampaknya itu adalah bentuk kanji. Dengan rasa penasaran, Takatora menyusun pecahan keramik dengan goresan tinta merah itu hingga membentuk nama.
KURESHIMA TAKATORA
" Ini... apa maksudnya?" Takatora terkejut saat susunan keramik itu membentuk namanya.
" Nii-san? Sedang apa kamu... Ah!" Mitchy yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk menempel di bahu, segera berlari mengambil tasnya dari tangan Takatora. Saat ia melihat susunan pecahan keramik di meja, wajahnya menjadi merah.
Mitchy ingin segera menghancurkan susunan keramik itu, namun tangannya segera diberhentikan oleh Takatora. " Bicaralah padaku, Mitsuzane... apa maksud dari semua ini?"
Mitchy memalingkan mukanya agar Takatora tidak melihat matanya yang berkaca-kaca. " Bukan urusan nii-san..."
" Lalu kenapa namaku ada pada keramik dalam kantongan ini?" Takatora masih menggenggam tangan Mitchy supaya ia tidak kabur.
" ... " Mitchy terdiam.
Takatora ikut diam, menunggu jawaban dari adiknya.
Berkali-kali Mitchy menarik tangannya, tapi tidak dilepaskan oleh Takatora. Satu-satunya cara agar Takatora mau melepaskan tangannya adalah dengan memberikan Takatora jawaban yang diinginkannnya. Mitchy menarik nafas melihat kelakuan kakaknya yang egois dan keras kepala di depannya. " Tadinya... aku ingin memberikan hadiah gelas untuk minum teh untuk Nii-san untuk ulang tahun nanti... Dengan uang yang kukumpulkan dengan berjualan bersama Kouta-san, aku mencoba ikut kursus membuat keramik... dan gelas ini kubuat berapa hari ini..."
Takatora shock mendengar jawaban dari Mitchy. Padahal tadinya Mitchy berniat baik kepadanya, namun karena kecemburuannya kepada Kouta, ia malah menghancurkan niat baik dari adiknya sendiri. Takatora melepaskan tangan Mitchy tanpa bisa berkata apapun.
Dengan wajah merah kesal dan mulut ngambek, Mitchy membereskan pecahan keramik itu dan memasukan ke dalam kantongannya. Setelah beres, Mitchy duduk di kasur sebelah mejanya. " Sekarang Nii-san puas kan sudah mengetahui semuanya?"
Mitchy tidak mengatakan apapun setelah itu dan tidak mau memandang Takatora. Takatora bisa melihat kalau Mitsuzane sedang berusaha keras untuk menahan air matanya supaya tidak keluar.
Tiba-tiba hape Takatora bergetar. Takatora melihat pesan di dalam hapenya.
Ryoma : Cepat minta maaf, Bodoh!
Takatora melihat sekelilingnya dengan heran. Bagaimana Ryoma tahu akan keadannya sekarang?
Takatora : Kamu stalking aku ya?
Ryoma : Itu urusan nanti, cepat minta maaf sana sebelum Mitsuzane kesayanganmu nangis lagi.
Takatora : Gimana caranya?
Ryoma : Tinggal bilang " Maaf" beres kan?
Takatora membersihkan tenggorokannya. " Mitsuzane... maaf..."
Mitsuzane agak terkejut melihat kakaknya meminta maaf. Tapi ia kembali menundukan kepalanya. Takatora terdiam, tidak tahu harus bagaimana. Takatora memutuskan untuk keluar dari kamar Mitsuzane. Saat ia mau membuka pintu, ia kaget karena ternyata pintunya terkunci. Hape Takatora kembali bergetar.
Ryoma : Minta maaf yang bener, baru gw bukain.
Takatora : Tapi dianya diam mulu gitu, sekarang bukain cepet!
Ryoma : Minta maafnya kurang tulus. Lap dong air matanya... Kasih dong kue yang tadi kamu bawa, kalo perlu suapin dia...
Takatora : SUAPIN? Lo kira dia anak kecil?
Ryoma : Ya memang kan? Udah, lakuin aja sana.
Takatora kesal melihat hapenya. Dengan agak kesal ia membalik badannya dan mengambil kue di meja Mitchy. Takatora membungkukan badannya di depan Mitchy, memotong kuenya dengan garpu, dan mengarahkannya ke depan mulut Mitchy.
Mitchy heran melihat kakaknya. " Nii-san...? Ada ap..."
Sebelum Mitchy selesai bicara, Takatora sudah memasukan suapan kue ke mulut Miitchy.
Mithcy mengunyah dengan bingung.
" Enak?" tanya Takatora.
Mitchy mengangguk. Mitchy memang sangat menyukai yang manis manis.
Takatora kembali menyuapkan potongan berikutnya ke mulut Mitchy. Mitchy yang disuapi terlihat bingung dengan kelakuan kakaknya. Selesai makan, Takatora mengeluarkan saputangannya dan membersihkan wajah Mitchy yang belepotan dengan kue. " Jangan nangis lagi ya..."
Mitchy memandang kakaknya dengan bingung. Tidak biasanya kakaknya berlaku lembut seperti ini.
Takatora yang dipandang diam oleh Mitchy juga ikut bingung. " Hmm..." Takatora melihat ke sekelilingnya. Matanya terkunci di tas sekolah Mitchy si sebelah meja. " Ah, PR nya sudah dikerjakan?"
Mitchy menggeleng kepalanya. Mitchy beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil buku dari tasnya dan menaruh buku di mejanya. Ia menyalakan lampu mejanya dan duduk di depan meja.
" PR apa?" tanya Takatora.
" Sejarah..." jawab Mitchy sambil mengerjakan PR-nya. Mitchy tidak banyak bicara saat mengerjakan PR.
Takatora tidak tahu harus berbuat apa. Takatora melepas jasnya dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur Mitchy. Melihat bantal Pikachu di kasur Mitchy, Takatora jadi teringat akan masa kecilnya bersama Mitchy dulu. Dulu Mitchy sering takut untuk tidur sendiri, dan ia sering meminta Takatora untuk tidur bersamanya. Namun seiring dengan pekerjaan Takatora yang semakin banyak, Takatora memberikan boneka itu supaya Mitchy tidak kesepian saat tidur. Takatora tersenyum sambil mengelus bantal Pikachu sebagai tanda terima kasih karena sudah menemani Mitchy selama ini. Tiba-tiba HP Takatora bergetar lagi.
Ryouma : Jawaban Mitchy nomor 3 salah tuh. Benerin dong!
Takatora terbangun dari lamunannya. Takatora makin bingung Ryouma liat dari mana sih, bisa liat tulisan Mitchy segala, padahal dia aja ga bisa liat tulisan Mitchy.
Ryouma : Cepetan sana, keburu jam bobonya nih!
Takatora membenarkan kerahnya. Dengan tenang ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke belakang kursi Mitchy. " Mitsuzane... boleh aku lihat bukumu sebentar?"
Mitchy melihat kakaknya dengan heran. Dengan ragu, ia segera menyerahkan bukunya.
" Ini nomor 3 salah, Mitsuzane. Nama jendral kepercayaan dari Masamune Date itu Katakura Kojuro. Kojuro itu sudah mengabdi kepada klan Date sejak masih sangat muda... Kemudian Kojuro itu sebenarnya memiliki keluarga di daerah Oda dan juga dari Hojo, tapi ia memutuskan untuk mengikuti Masamune Date, walau saat itu Date sedang di ambang kehancuran karena banyaknya pengkhianatan, karena ia yakin potensi dalam diri Masamune Date untuk memimpin Jepang..." Takatora menjelaskan.
Mitchy melihat buku cetaknya. Ia menatap Takatora sambil tersenyum. " Nii-san benar... Terima kasih sudah dibenarkan..." Mitchy kembali mengambil buku tulisnya dan membenarkan jawabannya.
Hati Takatora sedikit berdebar saat melihat senyum di wajah Mitchy. Sudah lama Mitchy tidak memberikan senyum kepadanya.
Tak lama kemudian, Mitchy pun selesai mengerjakan PR. " Selesai!"
Takatora tersenyum dan mengusap kepala Mitchy. " Sudah malam, selamat tidur...". Saat hendak membuka pintu, Takatora baru sadar kalau pintunya masih terkunci. Takatora berusaha membuka pintu itu, tapi masih tidak bisa juga. Takatora segera menelepon Ryouma.
" Bukain pintunya, Ryouma! Aku mau tidur!" kata Takatora geram.
" Sebentar... aku sudah coba hubungi Kazuraba untuk membukakan, tapi daritadi HP nya tidak ada jawaban..." jawab Ryouma.
" APAA?" Teriak Takatora.
Mitchy heran melihat Takatora berteriak di depan pintunya. " Nii-san? Nii-san tidak apa-apa...?"
Takatora segera mematikan panggilannya. " Em... Mitsuzane... pintumu terkunci..."
Mitchy mencoba memutar kenop pintunya dan tidak berhasil membukanya. " Loh... kok bisa terkunci begini..."
" Kamu ada kuncinya?" tanya Takatora.
Mitchy melihat tasnya " Loh, kunciku hilang...? Padahal aku selaly taruh di sini... Aku akan coba menghubungi Kouta-san... mungkin ia bisa membukanya dari luar..." Mitchy mengeluarkan teleponnya dan mencoba menghubungi Kouta. Berkali-kali ia mencoba menelepon namun tidak ada yang bisa tersambung. Mithcy membalik badannya, " Maaf, nii-san... aku tidak bisa mengubungi Kouta-san..."
Takatora yang pusing berpikir meringkuk di kasur Mitchy sambil memegang kepalanya. " Gawat... besok ada kerjaan yang belum selesai padahal... kalau tidak tidur..."
" Nii-san..." Mitchy mendekati kakaknya yang masih meringkuk panik. " Bagaimana kalau malam ini tidur di sini?"
Takatora kaget mendengar kata-kata Mitchy. Saking kagetnya sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Mitchy membuka lemarinya dan menyerahkan sebuah piyama berwarna hitam ke tangan Takatora. " Ini piyama Nii-san dulu... aku..." Mitchy memutar bola matanya sebentar. " Aku lupa mengembalikannya. Cepat mandi dan ganti baju nii-san!" Mitchy mendorong Takatora ke arah kamar mandi. Takatora yang bingung menurut saja dengan perintah Mitchy.
Selesai mandi, Takatora melihat Mitchy masih belum tidur. Mitchy tiduran di tempat tidurnya sambil membaca buku ditemani lampu mejanya.
" Mitsuzane... kamu belum tidur? Ini sudah malam loh, besok kan kamu sekolah..." kata Takatora sambil mendatangi Mitsuzane.
Senyum manis mengembang di muka Mitchy. " Oh iya..."
Hati Takatora kembali berdebar melihat senyum di wajah Mitchy. Takatora segera mengalihkan pandangannya. Entah karena Mitchy baru mandi, atau karena lampu remang-remang di kamar, Mitchy terlihat sangat manis, seperti wajah ibu mereka dulu. Takatora duduk di kursi dekat tempat tidur Mitchy. " Kamu tidurlah, nii-san akan tidur di kursi saja ..."
Mitchy menarik lengan piyama Takatora. Dari lampu meja yang sedikit remang-remang, Takatora melihat rona kemerahan di wajah Mitchy. " Tidak... nii-san tidur di sebelah Mitchy tidak apa-apa kok..."
" Ta... tapi..." Takatora membuat alasan, " Sudahlah, aku akan coba pindahkan kursinya supaya tidak mengganggu kamu..."
" Nii-san..." Mitchy memeluk pinggang Takatora dan menariknya hingga Takatora terbaring di sebelahnya.
" Mitsuzane...?" Takatora yang mendadak dipeluk oleh tangan kurus Mitchy kaget campur senang. Jantungnya kembali berdebar kencang. " Bahaya tahu..."
Mitchy menempelkan kepalanya di punggung datar Takatora. " Ini pasti mimpi bukan...?" Mitchy berbisik, " Ini pasti mimpi yang sangat indah... untuk bisa menghabiskan waktu bersama nii-san lagi... Jadi setidaknya... saat terbangun, aku ingin kehangatan ini tetap bisa kurasakan..."
Wajah Takatora memerah mendengar ucapan Mitchy. Takatora membenarkan posisi badannya dan menengok ke arah Mitchy. Mitchy kecil yang dulu selalu menempel kepadanya kini sudah bertumbuh menjadi remaja. Ototnya pun kini mulai terbentuk, dan wajahnya semakin manis persis seperti wajah ibu mereka. Padahal ia hanya berbaring di sebelah adiknya, tapi jantungnya entah kenapa berdebar sangat kencang. Takatora mencoba mengontrol pikirannya. " Selamat tidur... Mitsuza..."
Belum selesai dengan ucapannya, Mitchy mencium pipi Takatora. " Selamat tidur, Nii-san..." Mitchy memeluk lengan Takatora supaya Takatora tetap tidur di sampinganya.
Jantung Takatora serasa mau lepas saat bibir Mitchy menyentuh pipinya. Darah serasa semuanya naik ke kepalanya hingga ia nyaris tak sadarkan diri. Dengan segala usaha ia meraih tisu di meja Mitchy sehingga darah dari hidungnya tidak mengenai bantal Mitchy.
Akhirnya, semalaman Takatora tidak bisa tidur. Wajah Mitchy di sebelahnya, suara nafas Mitchy, dan kehangatan tubuh Mitchy yang menempel kepadanya, Takatora pusing sendiri dengan imajinasinya.
Keesokan paginya, Kouta terbangun karena alarm yang disetel di telepon genggamnya. Badan Kouta sangat segar karena ia tidur lebih lama daripada sebelumnya. Saat ia membuka teleponnya, ia melihat 105 panggilan. Kouta baru teringat akan misi yang diberikan Ryouma kepadanya. Dengan panik ia segera berlari ke kamar Mitchy untuk membukakan pintu kamarnya.
Saat pintunya terbuka, Kouta melihat Takatora sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian yang berantakan, rambut tidak rapi, dan mata sembab seakan ia sangat lelah.
" Eng... maaf, Takatora... semalam aku silent hape aku..." Kouta berlutut sembah sujud dengan ketakutan.
Takatora membenarkan pakaiannya dan melewati Kouta , " Tidak masalah... karena ulahmu, kemarin aku jadi bisa menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan bersama Mitsuzane... Oh ya, cepet siapin makan pagi ya, aku mau berangkat ke kantor nih... dan baju maid kamu tolong dipakai lagi ya... Mitsuzane kayanya suka dengan baju itu..."
Wajah Kouta langsung panik mendengar kata-kata Takatora. Pakaian Takatora yang berantakan, wajah lelah, dan perkataan tadi... Semalam Mitchy diapain aja sama Takatora? Kouta menengok ke kamar Mitchy dan melihat banyak tisu berlumuran darah mimisan Takatora di dekat kasur Mitchy. Melihat tisu berdarah-darah itu, Kouta langsung memikirkan hal lain. Takatora pasti sudah menyiksa Mitchy tadi malam, makanya darahnya banyak. Kasian banget sih Mitchy... Kouta pun nangis guling-guling karena menyesal atas perbuatannya. " Mitchyy, maafkan aku~~" Kouta segera membereskan tisu di kamar Mitchy. Sementara Mitchy masih tertidur dengan senyum di wajahnya. " Nii san... aku sayang kamu..."
