.
QUENDI
EXO © SMent & themselves
The Silmarillion © J. R. R. Tolkien
How To Train Your Dragon © DreamWorks
Main Cast:
Kim Jongin
Oh Sehun
Genre: adventure, fantasy, drama, romance, dll.
Warning: Shounen-ai, Fantasy/adventure gagal, OOC, misstypo, AU, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
Tangannya bergerak mengelus satu kepala naga hijau itu perlahan. Menimbulkan dengkuran pelan dari si naga berjenis Hideous Zippleback itu. Menghela napas kecil, dia mengambil sebuah daging dan dilemparnya ke arah seekor naga satunya yang berkepala biru, yang langsung dilahap dengan rakus.
Gronckle terluka, dan lebih parahnya lagi Night Fury menghilang entah kemana. Seharusnya mereka tidak menyerang di siang hari. Dan kali ini banyak dari prajuritnya yang gugur. Sialan! Kenapa Vanyar sulit sekali ditaklukan?!
"Hey, menjaga bayi-bayi besarmu?"
Sebuah suara membuatnya menoleh, mendapati seorang pemuda jangkung yang tengah menyender sambil bersidekap di ambang pintu. Memutar matanya jengah, dia kembali mengalihkan pandangan ke arah naga-naganya.
"Jadi... Greguska sudah dihukum gantung tadi. Sayang sekali kau tidak menyaksikannya."
"Berhenti mengoceh, Chanyeol! Kau membuat telingaku berdenging," ujarnya tanpa menoleh pada Chanyeol yang kini tengah terkekeh.
"Kau sepertinya sama sekali tidak peduli. Padahal Greguska terlihat bernapsu sekali ingin menjatuhkanmu sebagai anak emas ras Noldor."
Kali ini dia tidak menanggapi sama sekali, tetap fokus pada Zippleback yang kini sepertinya sudah terbangun karena ocehan dari Chanyeol. Naga berkepala dua itu terlihat saling berebut sebuah daging besar yang diulurkannya tadi.
"Kau juga sepertinya tidak tertarik pada kabar baru yang kubawa ini."
Perkataan Chanyeol itu membuatnya menoleh dengan alis terangkat, terlihat bingung. Sepertinya kabar setelah rapat yang diadakan tadi, dia sibuk mengurung diri disini mengurus naganya dari pada ikut perdebatan tidak penting yang diisi oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan.
"Entah ini akan jadi kabar baik atau buruk bagimu... tapi, kita akan berdamai dengan Vanyar!"
"Kau bercanda? Che! Berdamai? Sejak kapan mereka mau berdamai dengan ras utama itu?" ujarnya berdecih akan kabar yang membuatnya geli ini.
"Yah... tidak sepenuhnya berdamai. Kau tahu seberapa sering kita menyerang Vanyar dan hasilnya tetap nihil, jadi tetua mengusulkan cara lain, yaitu menjadikanmu sebagai putra Feanor!"
"Bagaimana bisa? Feanor bahkan sudah memiliki putra dan dia tidak sebodoh itu untuk percaya, dan bagaimana mungkin Feanor percaya untuk berdamai dengan kita?" dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran para tetua itu. Entah apa yang direncanakannya.
"Kau tidak mengerti? Tsk. Yang ada di otakmu itu hanya naga dan kekuatan saja, Wufan!" sindir Chanyeol seraya maju melangkah mendekatinya. "Yah... intinya kau tetap akan menjadi yang menjalankan misi ini. Tuan Maedhros benar-benar mempercayaimu agar ras kita berjaya."
"Aku... masih tidak mengerti!" ujarnya dengan pandangan bingung pada Chanyeol yang memutar matanya terlihat jengah.
"Gezz... sebaiknya minta penjelasan pada Tuan Maedhros!" dan setelah itu Chanyeol berbalik dan melangkah pergi dari sana, tidak mau berurusan dengan pengendali naga satu itu lagi.
.
.
.
"Tetaplah disini, kawan!" Jongin mengelus kepala Toothless yang tengah berada di mulut goa yang tidak jauh dari desa Sehun. Mereka tidak mungkin membawa naga itu masuk ke desa karena mungkin saja akan menimbulkan kepanikan meski Toothless sudah jinak.
Setelah merasa Toothless sudah nyaman dengan tempat barunya, Jongin berlari ke arah Sehun yang sudah siap masuk ke desa. Mengeratkan beanienya agar tidak lepas, Jongin dan Sehun melangkah pergi dari sana.
Sebenarnya tidak terlalu jauh seperti di lembah tempatnya biasa, dari sini hanya berjarak sekitar 100 meter saja.
Jongin bahkan merasa gugup saat mulai melihat atap-atap rumah dari sela hutan. Dia hanya berpikir, bagaimana kalau ketahuan? Apa dia akan bernasib sama seperti kambing guling? Pikiran-pikiran seperti itu membuat Jongin terkadang merasa ragu, tapi rasa penasarannya lebih besar daripada ketakutan itu.
"Jangan terlalu banyak berulah atau mereka akan tahu kalau kau manusia!"
Perkataan Sehun membuat Jongin menarik napas dalam saat sudah sampai di tepi desa. Jongin berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak lebih cepat saat melihat seseorang yang tidak jauh dari mereka.
Dan Jongin hampir saja berteriak heboh saat melihat orang itu tengah menyiram tanamannya, bukan itu yang membuatnya takjub, tapi cara air-air itu melayang dan perlahan jatuh ke tanah seperti hujan. Itu pasti pengendali air seperti di film The Last Airbender.
"Cepatlah!"
Jongin menoleh kearah Sehun yang sudah cukup jauh di depan, sepertinya dia terlalu takjub hingga tidak sadar sudah berhenti berjalan dan memperhatikan orang tadi. Jongin menyusul Sehun dengan sedikit berlari dan menyejajarkan langkahnya.
Lebih masuk ke desa, aktfitas mulai terlihat padat dengan beberapa orang yang terlihat sibuk. Jongin bahkan lupa untuk menutup mulutnya melihat beberapa elf menggunakan kekuatan magisnya. Untuk kali ini Jongin tidak percaya kalau semuanya kenyataan. Dia berada di antara mereka. Dan beruntung tidak ada yang menyadari.
Terlihat beberapa anak kecil yang berlarian saling mengejar dengan riang, membuat Jongin tersenyum melihatnya. Suasana disini masih sangat asri. Rumah-rumahnya berbeda dengan rumah tradisonal Korea. Hanya rumah biasa, tidak ada pintu geser, tapi masih terbuat dari kayu-kayu yang tebal dan atap jerami.
"Sehun!"
Jongin ikut menoleh saat ada suara yang memanggil Sehun dari kejauhan. Seorang pemuda dengan jubah putih dan setumpuk buku di tangannya. Jantungnya semakin berdetak kencang seiring langkah kaki pemuda itu yang semakin dekat. Dan tanpa sadar Jongin sudah berada di belakanga Sehun, takut pemuda itu mengetahui identitasnya.
"Oh, hai... Yixing!"
"Tumben sekali aku melihatmu di siang hari seperti ini. Kemana saja kau selama ini?"
Pertanyaan dari pemuda bernama Yixing itu membuat Jongin tegang, tentu saja Sehun terus bersamanya selama ini. Dan dari pertama Jongin mendengar nama Yixing keluar dari mulut Sehun kemarin membuatnya langsung tidak suka. Kenapa terlihat akrab sekali dengan Sehun?
"Eum... aku berlatih di hutan karena takut akan menghancurkan desa nantinya," jawab Sehun terdengar sedikit ragu. Dan Jongin bisa melihat pemuda itu tersenyum setelahnya dan mengulurkan tangan mengacak-acak rambut Sehun.
Refleks tangannya langsung meraih pinggang Sehun dan menarik elf itu mendekat ke tubuhnya. Dia tidak suka melihat kedekatan keduanya. Sangat tidak suka!
"Eoh, siapa dia?" tanya pemuda itu melihat kehadirannya. Dan dia bahkan lupa akan rasa takut akan ketahuan yang beberapa menit lalu menghinggapi hatinya.
"Dia... eum... teman baruku. Kenalkan! Yixing, ini Jongin. Jongin, ini Yixing!" jawaban Sehun membuat Jongin semakin erat memeluk elf itu dari belakang. Hanya teman? Sungguh?
"Aku tidak pernah melihatnya. Apa dia dari ras lain?"
"Bukan. Kau saja yang terlalu sering mengurung diri di perpustakaan dan juga ruanganmu, makanya kau tidak tahu!" jawab Sehun lagi dan mendapat picingan mata dari Yixing yang meneliti Jongin dari atas hingga kebawah.
"Bajumu terlihat aneh!"
Jantung Jongin dan juga Sehun seperti berhenti berdetak saat mendengar pernyataan itu. Ya Tuhan, dia lupa mengganti baju Jongin.
"D-dia memang aneh, setiap hari suka memakai baju seperti itu," jawab Sehun lagi seraya menggenggam tangan Jongin yang melingkar di perutnya gelisah, berharap Yixing akan percaya begitu saja.
"Kau terlalu terobsesi pada manusia ya, hingga memakai pakaian seperti manusia."
Sehun benar-benar seperti akan jantungan saja saat ini, kenapa orang yang ditemui pertama harus Yixing? Quendi satu itu tahu banyak tentang manusia, entah bagaimana. Sehun hanya menjilat bibirnya dan mengangguk gugup, sangat gugup malah saat merasakan pelukan Jongin dari belakang semakin erat.
Setelah itu Yixing kembali tersenyum, senyum yang Sehun tidak mengerti apa artinya. Mungkinkah Yixing tahu? Tapi itu tidak mungkin.
"Baiklah. Aku masih harus ke tempat ayahmu, Sehun. Sampai nanti!"
Quendi itu pamit dan mulai berjalan pergi, Sehun dan Jongin memandang kepergian Yixing dengan lega. Syukurlah Jongin masih selamat.
"Satu lagi, Sehun!" tubuh keduanya menegang saat mendengar suara Yixing yang belum terlalu jauh. Mereka menoleh dengan kikuk, menatap Yixing dengan pandangan gugup.
"Y-ya?"
"Kurasa Feanor akan senang mendapatkan menantu setampan dia."
Dan wajah Sehun sukses merona mendengar itu, dia ingin mengumpat dan melemparkan Yixing sejauh mungkin dengan anginnya. Tapi sayang Yixing sudah berlari menjauh dan juga pelukan Jongin yang mengerat.
"Siapa si Feanor itu?" Jongin mulai bersuara, menumpukan dagunya di bahu Sehun. Dia tertawa kecil dalam hati saat merasakan tubuh Sehun bergetar dalam pelukannya.
"Ayahku," jawab Sehun singkat masih berusaha melepaskan diri dari Jongin.
"Hoo... benarkah begitu?"
"Apanya?"
"Ayahmu akan senang denganku?" dengan itu Jongin memutar tubuh Sehun menghadap kearahnya, tangannya menekan punggung Sehun agar mendekat kearahnya. Dia suka sekali melihat Sehun yang gugup seperti ini, terus menjilat bibirnya dengan pipi seperti apel.
"Lepaskan, Jongin! Banyak yang melihat disini."
Sehun mendorongnya dengan keras membuat pelukannya terlepas. Setelah itu Sehun pergi mendahuluinya begitu saja. Jongin hanya terkekeh melihat tingkah seperti itu sebelum menyusul.
.
.
Acara jalan-jalan sebenarnya biasanya saja bagi Sehun, justru menyebalkan. Berbeda dengan Jongin yang terlihat senang lihat sana lihat sini. Dan entah karena apa Jongin menjadi mudah diterima oleh masyarakat. Mungkin benar karena Jongin mempunyai aura yang membuat setiap orang merasa nyaman berada di dekatnya.
Dan Sehun hanya bisa mendengus menyadari hal itu. Bukannya dia iri, hanya saja itu sangat mengganggu. Jongin itu ceroboh, kalau sampai ketahuan nanti kan dia juga yang repot.
"Kebetulan hari ini aku memanggang kue, ayo mampir kerumahku, tuan!"
"Ah, benarkah? Sebenarnya aku lapar, hanya saja masih ada yang harus kulakukan. Mungkin lain kali?"
"Bagaimana kalau minum teh?"
"Aku benar-benar tidak bisa. Maaf ya!"
"Apa yang ada di kepalamu itu?"
"Oh ini namanya beanie, salah satu jenis topi."
"Kopi?"
"Bukan kopi, ini topi yaitu sejenis penutup kepala."
"Kenapa tidak terbuat dari besi? Kepalamu akan mudah terluka jika perang. Dan kenapa bajumu seperti itu? Kurasa kau lebih cocok memakai baju ksatria, pasti akan lebih gagah."
"Haha... benarkah? Mungkin aku akan mencobanya lain waktu."
"Aku bisa membuatkanmu jubah keagungan, pasti sangat cocok. Tuan, kau tampan sekali!"
"Haha... t-terima kasih, kurasa kau bisa membuatkan satu untukku."
"Benarkah? Aku akan buatkan saat ini juga, kau bisa mampir ke rumahku."
"BERHENTI BERGOSIP DAN CEPAT JALAN, JONGIN!"
Jongin tersentak kaget saat mendengar pekikan itu. Dilihatnya Sehun berdiri beberapa meter darinya sambil bersidekap dan alis berkerut. Oh oh... dia hampir saja melupakan elf satu itu.
"Aku harus pergi, sampai nanti!" dia sedikit berlari ke arah Sehun dan meninggalkan gadis-gadis itu. Merasa bersalah juga pada Sehun saat elf itu terlihat sangat marah. Pasti Sehun merasa terabaikan. Ah, dia tidak suka melihat ekspresi marah dari quendi manis itu.
Sehun sendiri terus mempercepat jalannya saat merasakan kehadiran Jongin dibelakang. Sejujurnya, dia sangat kesal. Jongin kemari bersamanya, kenapa manusia itu malah santai-santai saja dengan gadis-gadis itu sedangkan dia sudah hampir terkena serangan jantung saat salah seorang gadis hampir saja melepas topi Jongin.
Kehadiran Jongin di desa pun sudah membuat jantungnya terus saja berdetak lebih cepat, dia hanya takut jika Jongin akan ketahuan. Dia takut ayahnya tahu Jongin seorang manusia.
Langkahnya terhenti dengan kepala menunduk, entah kenapa perasaan seolah dadanya dihimpit oleh beban berat kembali dirasakannya.
Kenapa dia harus takut? Jongin hanya manusia yang tidak sengaja ditemukannya. Manusia yang masuk ke Valinor memang seharusnya mati. Lalu...
Kenapa dia harus khawatir kehilangan Jongin?
"Sehun..."
Lamunannya terbuyar saat merasakan sebuah tarikan di tangannya, membuatnya berbalik dan seketika itu pula matanya membulat kaget merasakan sentuhan di bibirnya. Melihat wajah Jongin yang tengah memejamkan mata sangat dekat seperti ini.
Tangannya mendorong dada Jongin sekuat tenaga, membuat ciuman itu terlepas dan menatap sosok Jongin dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan?!"
Sehun perlahan mundur saat Jongin maju mendekat, tapi tangannya dengan cepat ditahan oleh Jongin membuatnya tidak bisa lari kemanapun.
"Jangan marah lagi!"
Sehun mengalihkan pandangannya kearah lain, tidak berani menatap mata onix tajam itu. "Memangnya siapa yang marah?" tanyanya lagi masih enggan menatap Jongin. Dia hanya... tidak bisa melakukannya saat ini.
"Kalau begitu jangan lari dariku!"
"Siapa yang─"
"Sudahlah, ayo kita kerumahmu!" setelah itu Jongin menariknya dengan cepat.
"Apa?! Kau bercanda kan? Ayahku bisa saja tahu tentangmu!" Sehun berusaha menghentikan langkahnya, Jongin benar-benar gila. Masuk ke desa ini saja sudah sangat beresiko, apalagi bertemu ayahnya.
"Eung? Oh, apa itu?"
Langkah keduanya benar-benar terhenti saat Jongin menunjuk sesuatu. Sehun mendongakkan kepalanya menatap sebuah bangunan di bukit sana. Ya ampun, jangan bilang Jongin ingin kesana.
"I-itu..."
"Bangunan itu berbeda dengan rumah-rumah disini, dan kenapa bangunan itu berada di tempat yang lebih tinggi?"
"Eum... sebaiknya kita ke tempat Yixing saja. Ayo!" Sehun menarik tangan Jongin, tapi manusia itu tetap bergeming di tempatnya, membuat Sehun menghela napas. Kenapa manusia itu keras kepala sekali?
"Apa itu rumahmu?" Jongin kembali bertanya, merasa Sehun belum menjawab pertanyaannya tadi.
"Bukan. Sebaiknya jangan kesana!"
"Memangnya kenapa? Tidak ada peraturan untuk tidak mendatangi tempat itu kan? Ayo!"
Dan sekali lagi Sehun hanya pasrah saja ditarik oleh Jongin ke bangunan putih tinggi di bukit sana. Dalam hati dia hanya berdo'a semoga firasatnya yang buruk tidak akan menjadi kenyataan.
.
.
.
"Whoaa~ aku seperti berada di zaman Yunani Kuno. Kuil ini sedikit mirip!" gumam Jongin seraya kepalanya memperhatikan desain bangunan yang terdiri dari banyak tiang penyangga ini. Bukan jenis bangunan tertutup dengan empat dinding yang melingkupi, hanya terdiri dari atap dan juga tiang-tiang penyangga yang kokoh, jadi lebih seperti aula besar.
"Bisakah kita pulang sekarang?"
Kepalanya menoleh menatap Sehun yang berdiri dengan gugup. Kenapa? Ini hanya bangunan biasa kan? Tidak ada monster atau sejenisnya yang menunggu tempat ini kan?
Tangannya menarik pergelangan Sehun dan menuntunnya memasuki bangunan megah itu lebih dalam. Matanya bergerilya menatap jejeran patung-patung besar. Ini jadi seperti museum saja. Ada beberapa benda yang dipajang juga.
"Apa mereka pahlawan kalian?" tanyanya menunjuk jejeran patung yang terlihat gagah.
"Bukan, itu para Valar yang menjaga kami."
"Valar? Apa itu sejenis malaikat yang pernah kau ceritakan?" tanyanya lagi yang hanya mendapat anggukan dari Sehun sebagai jawaban. "Ini lebih seperti museum. Apa semua benda-benda itu bersejarah?" tanyanya seraya hendak mengelus sebuah guci besar yang sepertinya mendapat tempat yang spesial dari benda-benda lainnya.
"Jangan sentuh itu!" teriakan dari Sehun membuat Jongin tersentak kaget dan hampir saja menyenggol guci itu.
"K-kenapa?"
"Kalau kau tidak ingin tanganmu terluka, sebaiknya jangan sentuh itu!"
"Hah? Tapi ini hanya guci biasa. Tanganku tidak apa-apa!" ujarnya seraya mengelus-ngelus guci itu dengan senyuman lebar kearah Sehun. Dan entah kenapa dia jadi semakin merasa bangga saat melihat Sehun yang hanya berkedip beberapa kali terlihat polos.
"Itu... seharusnya... eum..."
"Kemarilah, ini tidak apa-apa!" tangannya kembali menuntun Sehun agar mendekat dan menyentuh guci itu.
Dan mata Jongin melebar kaget saat melihat ada seperti kilatan listrik yang menyengat tangan Sehun. Membuat quendi itu mengaduh dan menjauhkan tangannya seketika. U-uups... apa secara tidak sengaja dia sudah menyakiti Sehun?
"M-maaf, aku tidak tahu..." ujarnya seraya mengelus jemari Sehun yang sempat tersetrum tadi.
"Ya. Sebaiknya kita kembali..." jawab Sehun dengan suara kecil, membuat Jongin heran. Tangan kirinya mengangkat dagu Sehun yang tengah menunduk, menatap permata cokelat hazel indah itu dalam.
"Kenapa kau yang terlihat takut? Ini hanya tempat biasa kan? Tidak ada moster yang akan menyerang kita kan?"
"Bukan itu. Tempat ini menjadi terlarang, karena ini tempat dimana kekuatan jahat Melkor dulu disegel."
"Melkor? Siapa lagi itu?" Jongin mengelus kepala Sehun, berusaha untuk menenangkan quendi yang tubuhnya tengah bergetar karena takut itu.
"Dulu dia adalah seorang Valar yang menjaga dunia bawah yang membelot dari Eru Iluvatar dan berusaha menghancurkan dunia. Kumohon Jongin, aura kegelapan sangat kuat disini. A-aku..."
Jongin bahkan bisa melihat Sehun yang mulai berkeringat dingin, jadi dia membawa quendi itu ke pelukannya berusaha menenangkan. Dia sebenarnya masih ingin melihat tempat bersejarah ini, tapi melihat Sehun yang sepertinya benar-benar tertekan karena aura jahat itu membuatnya sangat tidak tega.
"Kita pulang. Mungkin Toothless sudah menunggu terlalu lama," ujarnya seraya mengusap lembut keringat dingin di dahi Sehun. Setelah itu dia membawa Sehun keluar dari sana, meski di otaknya terus saja berputar berbagai pertanyaan, tapi dia menahannya. Mungkin menunggu sampai Sehun menjadi lebih tenang.
.
.
.
Gugup, serba salah, dan panik. Itulah yang Jongin rasakan sekarang. Bertemu langsung dengan ayah Sehun sepertinya bukanlah sesuatu yang baik. Dia bahkan beberapa kali menahan napasnya saat elf yang terlihat berwibawa itu bertanya sesuatu mengenai identitasnya.
Ayah Sehun jauh dari apa yang dia bayangkan. Dia berpikir ayah Sehun akan terlihat ramah dan mudah diajak bicara. Tapi yang sebenarnya, seorang elf berperawakan tinggi dengan jubah putihnya. Matanya tajam seolah bisa melihat tembus pandang, membawa sebuah tongkat kayu panjang yang Jongin yakin umur tongkat itu pasti lebih tua dari umurnya. Jenggot dan kumis putihnya tumbuh subur, jadi terlihat seperti Prof. Dumbledore di film Harry Potter.
"Kau punya latar belakang yang buram, nak."
Lagi-lagi Jongin harus menahan napas beberapa detik, takut kalau tiba-tiba saja elf tua itu mengeluarkan statement yang membuatnya jantungan.
"Bisakah dia menginap untuk malam ini?" itu suara dari Sehun yang sepertinya tengah membujuk ayahnya. Kalau seperti ini, Jongin lebih memilih bermalam di hutan saja. Tapi dia tidak terlalu berani mengeluarkan suara sedikitpun. Sedari tadi Sehun yang selalu menjelaskan.
"Hanya semalam!"
Tanpa sadar, Jongin menghembuskan napas lega mendengar persetujuan itu. Dilihatnya ayah Sehun berjalan masuk ke sebuah ruangan dengan langkah sedikit terseok. Tapi elf tua itu berhenti di ambang pintu dan kembali menatap kearahnya tajam, seolah ingin menelannya bulat-bulat saat itu juga.
"Jangan mudah percaya pada sesuatu yang asing, Sehun! Mungkin saja dia mata-mata dari ras lain."
Setelah itu pintu tertutup rapat. Jongin melotot menatap pintu yang tertutup dengan kaget. Yang benar saja! Apa orang itu benar-benar pemimpin ras? Omongannya yang blak-blakan itu tidak mencerminkan kewibawaan sama sekali. Grrrh... kalau orang itu bukan ayah Sehun, dia bersumpah akan mencekiknya─itupun kalau dia tidak mati tercekik lebih dulu.
"Kenapa diam saja? Ayo!"
Jongin tersentak saat merasakan tarikan di ujung kaosnya. Entah kenapa sekarang rasa kesalnya hilang saat melihat Sehun yang kini tengah tersenyum seolah bersemangat dengan acara menginapnya. Sejujurnya, dia juga sangat bersemangat sih.
Kamar Sehun tidak begitu luas, yah... rumah ketua suku ini pun sama seperti rumah-rumah lainnya. Tidak mewah dan megah seperti istana raja.
"Aku akan siapkan tempat tidurmu. Tunggu sebentar!"
"Hanya ada satu tempat tidur, kenapa kita tidak tidur berdua saja?" tanyanya seraya menahan Sehun yang sepertinya akan keluar lagi. Mata berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyeringai saat melihat pipi putih Sehun perlahan menyepuh merah.
"Tapi..."
"Tidak apa-apa. Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang aneh!" Jongin menarik Sehun lagi ke arah tempat tidur. Dia agak senang sekarang karena bisa melihat sisi lain dari Sehun yang pemalu ini. hihihi...
"Kau tidak ingin ganti baju? A-aku punya beberapa... eum..."
"Mungkin besok saja. Aku sudah sangat lelah."
"Tapi kau bau!"
"Aku sudah mandi tadi pagi!"
"Tapi itu tadi pagi. Jongin! Hey, Jongin! Jangan tidur dulu!"
Sehun menarik paksa tubuh Jongin yang tengah rebahan di tempat tidurnya. Itu niatnya, sebelum tangan Jongin juga berbalik menariknya kuat. Sehun tertegun dengan napas tertahan. Sebenarnya dia juga sering memeluk Jongin, tapi setelah insiden ciuman itu entah kenapa selalu ada yang berbeda setiap kali dia memeluk manusia ini.
"Lepaskan aku!" serunya berusaha bangkit kembali. Dia sebenarnya kuat, sungguh. Tapi entah kenapa jantungnya yang sekarang tengah memompa lebih cepat hingga menghasilkan efek panas pada wajahnya membuat tubuhnya menjadi lemah. Dia bahkan diam saja saat pelukan Jongin mengerat, membuat kepalanya semakin menempel dengan dada bidang itu.
"Tidurlah, Sehunnie..."
Sehun tidak mengerti arti dari imbuhan 'ie' dibelakang namanya yang Jongin sebutkan tadi, tapi dia menyukainya. Saat Jongin memeluknya sambil tidur seperti ini dan memanggilnya seperti tadi, membuatnya merasa seolah manusia ini akan benar-benar melindunginya... membuatnya tetap aman.
"Jongin, kau berjanji tidak akan berbuat macam-macam!" gumamnya di dada Jongin dengan pelan. Apa Jongin benar-benar tertidur? Cepat sekali!
Tapi perkiraannya salah saat Jongin merenggangkan pelukannya dan kini menyejajarkan kepala mereka. Sehun hanya menggigit bibirnya sambil menahan napas gugup saat dahi mereka bersentuhan. Sebenarnya ada apa? Sehun yakin sebelumnya dia merasa baik-baik saja dengan kedekatan mereka, tapi sekarang...
"Kenapa kau terus bergerak, eum?"
Mata Jongin masih tertutup, apa manusia ini sedang mengigau? Tapi perlahan mata onix itu terbuka. Sehun benar-benar terdiam kali ini, tidak melakukan perlawanan lagi. Hanya menatap dalam diam mata hitam Jongin yang tepat ada di hadapannya. Matanya menutup saat merasakan terpaan hangat napas dari manusia itu.
"Alunan musik itu... apakah itu yang pernah kau katakan?"
Sehun membuka matanya perlahan, kembali menatap kedalam manik mata hitam pekat itu. "Ya."
"Merdu sekali, kenapa kau tidak bersama mereka?"
Sehun terdiam beberapa saat merasakan elusan lembut di pipinya. "Kalau kau ingin aku tinggalkan, tidak masalah," jawabnya semakin pelan ketika tangan Jongin beralih menyingkirkan helai rambut cokelat yang sedikit menghalangi matanya.
"Tetaplah disini..."
Sehun memejamkan matanya ketika merasakan kecupan kecil di sudut bibirnya. Tangannya mengepal erat mencengkeram kaos Jongin, kepalanya berdengung pusing antara menolak atau tetap diam menerima.
"Jongin..." Sehun sedikit melenguh saat Jongin berubah posisi dengan bertumpu pada siku dan kembali menciumnya dalam. Dia ingin sekali mendorong manusia ini dan melemparkannya keluar jendela. Tapi tubuhnya bergetar dan terasa semakin lemas saat ciuman Jongin yang ada di atasanya kini turun perlahan ke dagu dan rahangnya, memberikan kecupan dan cumbuan lembut menuruni lehernya yang putih.
"Jongin... hentikan..." tangannya mengepal di dada Jongin berusaha menahan jarak agar tidak lebih dekat lagi. "Sudah... nnhh..." tubuhnya kembali bergetar merasakan sebuah gigitan kecil di lehernya.
Kali ini Jongin menghentikan cumbuannya, mengangkat kepalanya dari leher Sehun. Menatap elf yang sudah melemas itu ada di bawahnya. Punggung tangannya kembali mengelus pipi Sehun yang memerah, terasa sangat lembut baginya.
Kepalanya kembali merunduk menelusup di bahu Sehun. "Kau cantik sekali..." bisiknya sebelum memberikan gigitan kecil pada daun telinga itu. Dadanya bergemuruh senang merasakan tubuh Sehun yang kembali bergetar dibawahnya sambil mendesah kecil.
"Sudah, hentikan... kau berjanji tidak akan melakukan hal yang aneh."
"Kau bilang aku bebas melakukan apapun padamu asalkan aku tidak marah lagi kan?"
"Jongin... ayahku bisa datang kapan saja dan akan membunuhmu..."
Jongin berhenti kali ini, menatap Sehun lurus sebelum akhirnya mendesah kalah. Benar juga apa yang Sehun katakan. Dengan lelah, dia kembali merebahkan tubuhnya di samping Sehun. Menarik elf itu kembali dalam pelukannya. Lantunan musik harmonika lembut yang terdengar samar membuat rasa lelahnya berubah menjadi kantuk.
Sebelum benar-benar jatuh ke alam bawah sadarnya, Jongin menyempatkan diri mengecup pipi Sehun lagi.
.
To Be Continue
.
(maafin soal nama-nama yg gue ambil secara acak itu, aslinya sih gue nggak tau sosok Feanor kek gimana,jadi gue buat seolah Feanor itu ceritanya udah tua jadi mirip Gandalf deh. Hehehe...)
A/n: maafin karna ini lamaaaaa banget updatenya. N nih tangan gatel pengen buat sesuatu yang manis n romantis. Hehehe~ Buat yang nanya konfliknya apaan, kayaknya kalian udah bisa nebak sendiri deh ya. niatnya pengen terus lanjut, tapi kayaknya bakal kepanjangan jadi chapter ini cukup segini aja dulu. Paii paii...
