.

QUENDI

EXO © SMent & themselves

The Silmarillion © J. R. R. Tolkien

How To Train Your Dragon © DreamWorks

Cast:

Kim Jongin

Oh Sehun

Genre: adventure, fantasy, drama, romance, dll.

Warning: Shounen-ai, Fantasy/adventure gagal, OOC, misstypo, AU, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

Pagi hari yang cerah. Secerah hati Jongin yang sudah seperti musim semi dimana bunga-bunga bermekaran dengan indah. Pokoknya, pagi ini sangaaaaat... indah. Ada Sehun yang menyiapkan pakaian untuknya setelah mandi tadi, lalu sekarang dia terduduk manis melihat Sehun berkutat di dapur.

Pikiran Jongin sudah melayang membayangkan dirinya sebagai suami Sehun dan memiliki sepasang anak kembar yang lucu. Membayangkan Sehun memasak dengan apron motif bunga yang akan terlihat sangat cantik.

Hihihi... Sehun itu manis... Tubuhnya ramping semampai, kulitnya sangat lembut untuk disentuh, perangainya juga tenang tapi justru itulah yang membuatnya menarik untuk digoda. Apalagi ketika pipi putih itu merona... kawaii~

Lalu bibirnya... bibir Sehun yang tipis itu ternyata sangat lembut. Cocok sekali ketika dicumbu diantara bibir tebalnya. Bukan hanya itu, kulit leher Sehun juga lembut sekali. Dia suka suara Sehun saat dia menjamah bagian leher itu semalam. Ekspresi Sehun yang terlihat mabuk akan sentuhannya...

"Jongin... hidungmu!"

"Hekh!" Jongin mengusap darah yang mengucur deras dari hidungnya. Huh, kebablasan!

"Kau baik-baik saja?" Sehun duduk di depannya terlihat khawatir. Aaaah~ mereka benar-benar sudah seperti suami istri. Manisnyaaa~

BUAAGH!

"GYAAAAAH!"

"Ayah!"

Dan mimisan Jongin sukses berhenti saat pipinya terkena bogem mentah dari sang calon ayah mertua.

"Berhenti memasang ekspresi mesum pada anakku, bocah!"

Jongin hanya memegang pipinya yang sudah lebam sambil meratapi nasib punya calon mertua yang kejam. Hih, kenapa juga ayah Sehun harus seorang kepala suku? Pagi itu tidak sepenuhnya manis. Dia sulit berdekatan dengan Sehun saat masih ada si tua bangka itu.

.

.

.

"Kau terlihat lapar sekali ya?" Jongin mengusak kepala Toothless yang masih berusaha menelan habis ikan-ikannya. Naga hitam itu sesekali menggeram tidak suka karena acara makannya terganggu. "Oke, sepertinya kau lebih merindukan ikan-ikan itu dari pada aku."

Jongin mendengus melihat Toothless yang masih merogoh keranjang ikannya, tapi langsung dilemparnya saat tahu sudah tidak ada lagi ikan disana.

"Sehun hanya memberikan segitu, apa masih kurang? Ckckck... kau makan terlalu banyak, kawan," tangan Jongin menggelitik daerah sekitar leher naganya. "Nah, ayo kita terbang lagi!"

Jongin bangkit berdiri dan menaiki punggung naganya dengan semangat. Tapi Toothless hanya diam sambil menatap kesana kemari terlihat kebingungan.

"Kau mencari Sehun? Dia bilang akan datang terlambat. Ayolah... kita akan mengajaknya setelah ini!" Jongin merunduk dan menepuk-nepuk kepala Toothless pelan, berusaha meyakinkan. Dan dengan itu, Toothless mau merentangkan sayapnya yang lebar dan langsung melesat ke langit.

Jongin tersenyum senang melihat pemandangan dari atas ini. Desa terlihat sangat kecil dan hijaunya pepohonan yang mengelilingi desa itu jadi terlihat asri. Tapi bisa-bisa Toothless akan dipanah jika terbang ke arah desa.

"Hey, aku tahu harus kemana!" ujarnya sambil menunjuk sebuah bukit kecil dimana sebuah bangunan megah berwarna putih gading berdiri dengan kokoh di tepi tebing. Dan Toothless langsung terbang cepat ke sana. Kuil yang kemarin dikunjunginya bersama Sehun.

Yah, sejujurnya dia masih penasaran. Tapi Sehun terlihat takut dan tertekan saat berada di tempat itu. Pergi secara diam-diam mungkin tidak masalah. Aiih~ sayang sekali dia meninggalkan kameranya sebelum datang ke dunia ini.

.

.

.

Sehun mengerutkan keningnya terlihat gelisah sambil menatap langit. Dia tidak serabun itu untuk tidak menangkap sekelebat bayangan Toothless yang terbang menuju kuil. Jongin bodoh! Dia sudah bilang untuk tidak pergi kesana kan? Sekarang perasaannya sangat tidak tenang sekarang.

Jongin bisa menyentuh guci itu, tentu saja itu karena Jongin manusia. Guci itu memiliki mantra untuk melindunginya dari quendi. Dan Jongin bukan quendi, sekarang dia khawatir Jongin akan berbuat aneh dengan menyentuh benda-benda lainnya. Demi Eru Iluvatar, dia hanya berharap Jongin tidak melakukan hal bodoh.

"Sehun..."

Sehun tersentak kaget saat merasakan tepukan di bahunya. Kepalanya menoleh dengan gugup kearah ayahnya. "Y-ya?"

"Fokuslah. Ini pertemuan penting. Pastikan pedangmu dalam keadaan siaga apabila mereka berbuat sesuatu yang mencurigakan," ujar ayahnya yang justru semakin membuatnya gugup. Tangannya yang mengepal kuat terasa licin karena keringat.

Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya berusaha menenangkan pikirannya yang kacau sebelum mengikuti langkah ayahnya menuju sebuah aula besar. Ini buruk! Dia tidak bisa tenang sama sekali, apalagi dengan sepasang mata tajam seekor naga bersisik merah terus menatap gerak-geriknya.

Tidak apa-apa... tenanglah... itu hanya naga. Toothless sudah sering menatapnya seperti itu. Toothless bahkan jauh lebih berbahaya dari naga itu.

Tangannya meremat ujung bajunya kuat seiring degup jantungnya yang bertambah cepat saat dirinya semakin dekat dengan pintu aula. Dan dia harus menahan napas saat melewati kumpulan tiga ekor naga di depan pintu itu.

Pintu dibelakangnya tertutup, dan aura yang ada di dalam aula justru tidak jauh lebih baik dari diluar sana. Sehun duduk di sebelah ayahnya dengan kaku. Berusaha tetap diam dan fokus.

"Aku sudah membaca suratmu. Tapi aku tidak yakin kau benar-benar berniat berdamai dengan kami, Maedhros," Ayahnya memulai pembicaraan pada seorang lelaki tambun dengan janggut yang lebat diseberang sana.

Sehun tetap menunduk, terlihat gugup saat sadar ada sepasang mata yang terus menatapnya sedari dia masuk tadi.

"Aku sudah terlalu tua untuk terus berperang, Feanor. Kau sendiri sadar akan hal itu. Kekuatan ras Noldor bisa melindungi rasmu dari ras lainnya," quendi pemimpin ras Noldor itu menjawab dengan nada tenang, janggutnya bergerak-gerak ketika berbicara.

"Bagaimana kau membuatku percaya kau tidak memiliki niat lain, hm?" ayahnya terlihat tidak mudah percaya begitu saja. Tentu, para quendi yang selalu memerangi mereka tiba-tiba ingin berdamai dan beraliansi dengan mereka. Itu aneh sebenarnya.

"Kuserahkan ksatria terhebat kami padamu. Dia adalah kunci kemenangan di setiap pertempuran kami─kecuali dengan rasmu, tentu saja. Buat dia terikat dengan putramu."

Sehun tersentak mendengarnya. Kepalan tangan yang ada diatas pahanya semakin erat mencengkeram bajunya sendiri. Keputusan apa ini? Apa mereka gila? Dia...

Entah kenapa sekelebat bayangan tentang Jongin muncul di pikirannya. Sehun mengatur deru napasnya berusaha menenangkan jantungnya yang sudah berdetak begitu cepat dan sesak. Dia ingin keluar dari sini, dan menemui Jongin.

"Bagaimana?"

Sehun menatap ayahnya dengan pandangan memohon. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, kentara sekali dia sedang sangat gugup sekarang. Tapi ini tidak boleh terjadi. 'Jangan... kumohon!' bisiknya dalam hati berusaha memberi ayahnya isyarat.

"Apa kau memiliki rencana lain terhadap putraku?"

Sehun merasa sedikit lega saat ayahnya mengatakan itu. Dan entah kenapa, lagi-lagi bayangan Jongin kembali berkelebat di kepalanya. Sehun menggeleng keras berusaha menghilangkan pikiran itu. Kepalanya menunduk dengan wajah memerah mengingat kejadian semalam.

"Hmm? Apa putramu memiliki sebuah keistimewaan?"

Dia mengerutkan keningnya mendengar itu, kenapa orang ini terlihat merendahkannya sekali. Tentu saja dia istimewa, dia putra tunggal pemimpin ras Vanyar. Itu juga sebuah keistimewaan bukan?

"Tidak."

Heeeeh? Ayahnya kejam sekali. Setidaknya katakan kalau dia ini kuat dan lainnya. Kenapa lurus sekali, huh?

"Jadi...?"

"Baiklah."

WHAT?! Uhm, dia tidak tahu itu bahasa apa. Tapi Jongin sering mengatakannya kalau sedang kaget. Dan dia kaget sekali sekarang, sampai posisinya sudah berdiri dengan menggebrak meja dan memandang ayahnya tidak percaya.

"Ayah, pikirkan lagi. Dia seorang ksatria, begitu juga denganku. Kau pikir ini akan berjalan lancar? Mereka pasti memiliki niat lain."

"Duduk, Sehun!"

"Kau tidak bisa melakukannya tanpa persetujuanku. Ini hal tergila yang pernah aku dengar. Lagipula tanpa bersekutu dengan merekapun, kita tidak terkalahkan─"

"Kembali ke tempatmu, Sehun!"

"Kau tidak bisa melakukannya. Lagipula ibuku tidak akan setuju jika dia masih hidup."

"SEHUN!"

Teriakan menggelegar itu membuatnya tersentak kaget dan terdiam menatap ayahnya dengan pandangan terluka.

"Dengar! Aku sudah terlalu tua untuk ini. Sudah seharusnya kau belajar tentang hal ini. Apapun perlu dikorbankan untuk kedamaian desa. Saat kau menyetujuinya, kau membawa kami semua bersamamu..."

"Percakapan ini terasa berat sebelah bagiku. Kenapa tidak cari yang lain saja? Atau─"

"Kau yang berpengaruh di ras kita. Kau ingin kita terus-terusan berperang? Dengan membentuk aliansi, tidak akan ada yang berani menganggu kita lagi. Mengerti?"

"Aku... tidak akan pernah mengerti!" dan dengan itu Sehun melangkah menuju pintu keluar tanpa mempedulikan panggilan ayahnya. Dia kesal, sangat kesal bahkan. Sampai ingin menghancurkan sesuatu rasanya.

PRAANG!

Langkahnya terhenti dan jatuh terduduk sambil mencengkeram dada kirinya kuat, jantungnya seolah berhenti berdetak merasakan hawa menyesakkan disekitarnya. Apa ini? Udara di sekitarnya seolah menipis saat napasnya tercekat merasakan tekanan yang hebat seolah datang bertubi-tubi.

"Apa yang terjadi? Alois, periksa keadaan!" suasana menjadi heboh di ruangan itu saat dinding mulai bergetar dan kembali menjatuhkan pedang-pedang yang tergantung di dinding.

Firasatnya buruk! Dengan tergesa, Sehun bangkit berdiri dan berlari keluar ruangan. Dia harus mencari Jongin─ tunggu dulu! Bukankah Jongin ada di kuil?

.

.

.

"Baiklah. Kau tuan kegelapan yang agung. Jangan sakiti aku! Aku hanya manusia lemah tidak berdaya yang tersesat ke dunia ini."

Tangannya terangkat seperti seorang penjahat yang tertangkap basah oleh polisi. Toothless terus saja mengaum ganas pada pusaran awan hitam dihadapannya. Sungguh yang tadi itu tidak sengaja. Yang Jongin tahu hanya Toothless terlihat gelisah dan mendorongnya, lalu tangannya tidak sengaja menampik guci dengan ukiran-ukiran tulisan aneh itu dan... dan... kalian bisa menebak kelanjutannya.

"Hiiiiieh~" Jongin tiarap saat kabut hitam itu berusaha menyerangnya sekali lagi. Dia akan mati! Ya Tuhan... dia bahkan belum menikahi Sehun. "Oke, kita sudahi kejar-kejaran ini. Apa yang kau mau tuan kegelapan yang agung?" Jongin bertanya seolah bernegosiasi pada kabut hitam yang kini berputar seperti angin puting beliung itu.

"Tunggu. Bukankah aku yang sudah membebaskanmu? Seharusnya kau mengabulkan tiga permintaanku."

ZRAAAAAAAAASH!

"HYAAAA! Aku bercanda... aku bercanda. Ha-ha... kita bisa bicarakan ini baik-baik. Maaf sudah menganggu tidurmu di dalam guci itu. GYAAAAAH! LARI TOOTHLESS! LARIII~" Jongin berteriak sambil berlari ke arah Toothless bersiap untuk kabur. "Ya Tuhan kenapa awan hitam itu bertambah besar?"

Jongin melompat ke punggung Toothless lalu naga itu melesat terbang berusaha keluar dari sana. Night Fury itu mengaum keras saat disekitarnya berubah gelap karena awan hitam itu.

"Kita akan mati! Kita akan mati!" Jongin mengeratkan pegangannya pada sayap Toothless saat awan hitam itu mulai menarik tubuhnya kuat. Apa benda itu berusaha memakannya? "KEPAKKAN SAYAPMU, TOOHLESS! DIA MENGHISAPKU!"

Jongin tahu Toothless sudah berusaha sekuat tenaga berusaha keluar dari benda hitam yang berusaha menghisap mereka itu. Dia percaya Toothless pasti bisa melakukannya. Tapi yang bisa dia lakukan hanyalah berteriak saat Toothless mulai lemah dan keduanya terombang-ambing masuk ke dalam pusaran awan hitam gelap itu.

Yang Jongin ingat adalah Toothless yang terjatuh ke lantai dengan bunyi bedemum yang keras dan dirinya yang semakin terhisap oleh benda itu, sebelum semuanya menjadi gelap.

.

.

.

Panas. Itu yang dia rasakan saat ini meski semuanya masih terlihat gelap, tapi tubuhnya terasa sangat panas seolah kau berada dalam kobaran api yang besar. Kulitnya seperti perlahan terkelupas oleh api yang panas. Terasa menusuk, menyebar hingga seluruh tubuhnya. Dia ingin berteriak, tapi entah kenapa dia kehilangan suaranya.

Rasa takut perlahan dapat dirasakannya. Dia tidak tahu ada dimana sekarang. Apa dia sudah mati? Apa ini neraka? Tubuhnya benar-benar seperti terbakar oleh rasa panas itu.

"Khh..." hanya geraman lirih yang keluar saat dia berusaha berteriak karena jantungnya terasa seperti diremat di dalam sana. Ini sakit sekali!

"Jongin!"

DEG!

Jongin membuka mata seketika dengan napas memburu, tapi semuanya gelap. Ia menengok ke kiri dan kanan, semuanya sama. Hanya ada hitam yang menghiasi latar belakang. Semaksimal apa pun matanya berakomodasi, ia tak bisa menangkap apa pun dalam jarak fokusnya.

Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, kakinya coba ia gerakkan, berusaha berjalan mungkin bisa menemukan jalan keluar.

Dari langkah kaki berjalan, berubah menjadi semakin cepat seperti berlari. Berlari karena rasa takut begitu dalam yang menghantui. Ia panik, dan panik itu berubah menjadi rasa ngeri. Peluh dingin meluncur mulus di dahi seiring jantungnya yang semakin berdetak lebih cepat karena kegelapan ini.

'Tap' Larinya terhenti mendadak. Tubuhnya masih terasa panas luar biasa. Dia yakin sudah berasap sekarang. Tangannya bergerak mencengkeram dada bagian kirinya saat jantungnya terasa semakin menyakitkan.

Ini dimana? Dia ingin keluar dari sini! Dia ingin bertemu Sehun lagi! Dia─

'Tap'

Terdengar sebuah langkah kaki mendekat kearahnya. Matanya berusaha dia fokuskan di dalam kegelapan ini, tapi dia tidak bisa melihat apapun selain kegelapan pekat disekitarnya, yang membuatnya semakin takut.

'Tap'

Dekat. Ia bisa merasakan kehadiranya. Entah apa itu, dia tak tahu. Hingga―

Sekelebat bayangan terlintas di benaknya. Kepalanya terasa berdenyut sakit saat otaknya terus memutar kilasan yang entah itu kapan terjadi. Dia ingin menjerit, tapi suaranya hilang entah kemana, mulutnya hanya bisa terbuka tanpa mengeluarkan suara.

Denyutan itu masih terasa di kepalanya, kilasan itu masih terlihat dalam benaknya.

Ruangan yang berantakan...

Sehun...

"AAAAAKKHH…!" akhirnya satu jerit kesakitan bisa meluncur dari bibirnya saat kepalanya semakin terasa menyakitkan. Napasnya semakin memburu saat akhirnya dia bisa menemukan suaranya lagi. "Hahh... hahh... hentikan! HENTIKAAN!"

Dia bisa melihatnya di dalam pikirannya... samar. Sosok Sehun yang terlihat tidak berdaya, dengan leher yang tercekik─

oleh tangannya...

"AAAAAARGH! HENTIKAN!" tubuhnya semakin meringkuk dengan memegangi kepalanya yang seolah akan pecah saat itu juga. Napasnya berubah putus-putus dengan rasa takut yang begitu mendominasi. Itu bukan ingatannya. Dia tidak ingat pernah menyerang Sehun. Dia tidak akan menyakiti Sehun.

Matanya mulai berkunang merasakan rasa berdenyut di kepalanya yang semakin menjadi.

"Sudah... hentikan! Sehun... hahh... Jangan Sehun...!"

Giginya gemeretak menahan sakit saat tidak terasa air matanya sudah meleleh keluar. Tubuhnya terasa terbakar, jantungnya seolah diremat dengan kencang di dalam sana, kepalanya seolah akan pecah. Tapi yang paling menyakitkan baginya, penglihatan samar di pikirannya tentang Sehun.

Sosok Sehun yang terlihat lemah dalam cengkeramannya...

"Hentikan! Ukh..." ini pasti mimpi, dia yakin ini hanya mimpi. Tapi kenapa rasa sakit ini terasa sangat nyata baginya. Terasa begitu menusuk di tubuhnya. Dia ingin keluar dari sini, dan memastikan Sehun baik-baik saja.

"Jongin..."

Samar... dia bisa mendengarnya. Suara Sehun terdengar serak dan lemah, seperti kehabisan napas.

.

.

To Be Continue

.

.

A/N: pertama, gue tau ini makin lama makin ngebosenin. Tapi gue nulis fanfic karena gue suka, jadi gue berjuang bakal tamatin fic ini apapun yang terjadi. yeah, semoga aja sih.

Kedua, gue tau ini harusnya crossover sama The Silmarillions, tapi karena terlanjur yasudah biarkan saja. XD

Ketiga, makasih banyak yang masih mau bertahan sama gue di fic ini. adakah yang masih mau bersedia meluangkan buat review lagi? Hehe...