.

QUENDI

EXO © SMent & themselves

The Silmarillion © J. R. R. Tolkien

How To Train Your Dragon © DreamWorks

Cast:

Kim Jongin

Oh Sehun

Genre: adventure, fantasy, drama, romance, dll.

Warning: Shounen-ai, Fantasy/adventure gagal, OOC, misstypo, AU, dll.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

"J-Jongin..."

Kemudian cahaya datang dengan tiba-tiba. Semua kegelapan itu menghilang seketika saat matanya sudah melihat keadaan sekitarnya. Sepertinya yang tadi itu bukan mimpi, dia sudah benar-benar menyakiti Sehun. Dia bahkan hampir membunuh Sehun. Ya Tuhan...

Tangannya terasa gemetaran saat melepaskan cengkeramannya pada leher Sehun perlahan. Menatap ngeri sosok Sehun yang terbaring lemas dibawahnya. Matanya terasa panas saat membawa tubuh ringkih itu dalam pelukannya.

"Kau... sadar juga... ukh~" suara Sehun terdengar lirih di telinganya.

"Maafkan aku..." ujarnya pelan masih memeluk Sehun yang masih mengatur napasnya. Rasa bersalah kembali membuncah, dia takut sekali tadi. Takut kehilangan Sehun. "Maafkan aku..."

"Tidak apa-apa. Apa kau baik-baik saja?"

Jongin mengangkat wajahnya menatap Sehun yang terperangkap di bawah tubuhnya itu dalam. "Kenapa malah mengkhawatirkan keadaanku saat kau sendiri hampir mati ditanganku?"

"Aku baik-baik saja. Sudah, jangan pasang ekspresi menyedihkan seperti itu!" sebelah tangan Sehun menangkup pipinya lembut. Tangan halus itu bergerak mengusap dahinya, berusaha meyakinkannya.

"Maafkan aku..." ujarnya sebelum kembali memeluk Sehun erat. "Aku bersumpah akan membunuh diriku sendiri jika menyakitimu lagi. Maafkan aku..."

"Jangan menjanjikan sesuatu yang aneh! Kita harus pergi sebelum semua orang menemukanmu," Sehun berusaha melepaskan pelukan Jongin, tapi Jongin sendiri sepertinya enggan melepaskannya. "Aku baik-baik saja... lagipula aku yakin kau tidak akan sanggup melukaiku."

Kali ini Jongin mau melepaskan pelukannya, menatap Sehun yang tengah tersenyum kecil kearahnya. Rasa bersalah itu masih menjalar di hatinya, membuatnya merasa sesak tiap kali mengingat ekspresi kesakitan Sehun tadi. "Kenapa kau tidak melawanku?" tanyanya dengan nada lirih.

"Mana bisa," Sehun menjawab pelan masih memasang senyum lelahnya.

"Kenapa?! Kau bisa saja─"

"Aku tidak bisa karena itu kau."

Jongin tertegun mendengar perkataan Sehun. Otaknya seolah terasa kosong saat ini, tidak tahu harus berpikir apa. Dia sedang khawatir setengah mati, tapi perasaan senang perlahan bisa dia rasakan setelah mendengar penuturan Sehun.

Apa itu artinya Sehun tidak berani melukainya?

Dan dia justru hampir mencelakai Sehun.

"Maaf..." kembali, Jongin menyerukkan kepalanya di leher Sehun memeluk quendi kesayangannya itu dengan erat. Tangannya terkepal erat, dalam hati berjanji untuk tidak melukai Sehun lagi. Tidak akan!

"Berhenti meminta maaf, yang melakukannya bukan kau. Aku tahu itu! Sekarang bawa aku pergi dari sini! Aku terlalu lemas untuk berjalan."

Jongin terlihat lega kali ini. Dia mengecup pipi Sehun kilat sebelum membawa Sehun dalam gendongannya ke arah Toothless yang sepertinya sudah tersadar sedari tadi.

.

.

.

"Ini gila ini gila ini gila ini gil─"

"Berhenti mondar-mandir, Yixing!" interupsi Sehun pada sosok elf yang sedari tadi berjalan mondar-mandir dihadapannya.

"Kau manusia! Bagaimana bisa?!" Yixing terlihat menatap Jongin dari atas hingga ke bawah, meneliti.

Yah... tempat yang cocok menyembunyikan Jongin dan Toothless hanyalah Yixing. Sehun percaya dengan quendi satu ini. Beruntung warga desa sibuk mencari penyebab kekacauan yang disebabkan Jongin sehingga dia bisa menyelundupkan Jongin dan Toothless kemari.

"Tentu saja bisa. Aku tidak sengaja tertarik oleh sebuah benda aneh kemari," jawab Jongin dengan kalimat yang sama untuk ketiga kalinya dalam lima belas menit ini. Yixing masih terlihat tidak percaya.

"Ayahmu harus tahu, Sehun!"

"Tidak! Kumohon... jangan beritahu ayahku!" Sehun berusaha meyakinkan Yixing lewat tatapannya.

"Tapi dia manusia."

"Memangnya kenapa kalau aku manusia? Aku tidak boleh bersama dengan Sehun?" Jongin yang menjawab kali ini. Terlihat tidak suka karena Yixing mengungkit perbedaan diantara mereka. Dia menyayangi Sehun. Titik. Tidak ada yang bisa membantahnya meski mereka berbeda.

"Manusia itu serakah, sombong, dan... dan... berbahaya! Kau tahu, kita harunya berbagi Arda dengan manusia. Tapi kita malah diusir dari Arda dan mengungsi di Valinor ini."

"Untuk informasimu saja ya, aku tidak ikut serta dalam invasi yang kau katakan itu. Dan aku tidak serakah, sombong, dan berbahaya! Lagipula percayalah, Valinor ini jauh lebih baik daripada dunia kami," Jongin ikut ngotot dihadapan Yixing, terlihat kesal sekali dituduh yang tidak-tidak.

"Dia tidak seperti itu... percayalah!" Sehun ikut membuka suara. "Dia baik... dan mungkin sedikit bodoh."

"Kau tidak perlu mengatakan 'bodoh' sekeras itu, Sehun-ah!" Jongin mencubit pipi Sehun meski tidak terlalu keras. Sebenarnya sekarang dia agak takut untuk menyentuh Sehun, takut kalau dia akan berakhir menyakiti Sehun lagi.

Yixing menghela napas sekali sebelum memijat pangkal hidungnya. "Baiklah. Tapi naga itu..."

"Toothless itu jinak. Kecuali kalau sedang lapar dia pasti akan sedikit nakal. Tapi tidak masalah selama kau memiliki ikan," jawab Jongin dengan sedikit nada ketus. Jujur saja, dia masih tidak menyukai quendi bernama Yixing ini.

"Baiklah... kalian berdua boleh tinggal disini. Tapi aku tidak akan bertanggung jawab kalau ayahmu mengetahui hal ini, Sehun!"

"Ya... terima kasih..." jawab Sehun disertai senyum kecilnya sebelum kembali menyandarkan kepalanya di bahu Jongin, terlihat lelah. Mungkin masih lemas karena hampir mati tercekik tadi.

"Tapi ada satu masalah lagi. Tentang guci itu..." Yixing mencubit dagunya sendiri terlihat berpikir kali ini.

"Itu salahku. Jongin bisa menyentuh guci itu, harusnya aku tidak membawanya kesana. Tapi aku masih tidak mengerti apa yang terjadi," Sehun mencengkeram baju bagian dada Jongin erat saat mengingat kejadian sebelumnya.

"Tidak. Itu bukan salahmu! Aku yang pergi ke sana seorang diri. Maafkan aku..." Jongin semakin mengeratkan tangannya yang memeluk pinggang Sehun.

"Berhenti saling menyalahkan. Ini sesuatu yang serius. Katakan, apa yang kau rasakan setelah kekuatan itu menyerangmu, Jongin?" Yixing menatap kearahnya serius, dahi itu berkerut dalam.

"Aku tidak yakin..." Jongin mengangkat bahu sekilas sebelum kemudian berpikir ulang, mengingat apa yang telah terjadi. "Aku merasa ada di suatu tempat, itu gelap sekali. Dan aku juga merasakan kehadiran orang lain disana."

"Siapa?" kali ini Sehun mengangkat kepala dari bahunya dan menatapnya penasaran. Dia jadi gugup sendiri ditatap seintens itu dengan mata indah Sehun.

"Uhm... entahlah. Aku tidak melihatnya, tapi merasakannya. Aku yakin dia ada di dekatku tapi aku terlalu sibuk dengan rasa sakitku," dia terdiam sesaat, ingat kembali apa yang dirasakannya saat itu sangatlah nyata.

"Sakit?"

"Iya. Rasanya..." Jongin menggantung kalimatnya berusaha mencari kata yang pas. "...seperti seseorang tengah membakar tubuhku. Panas! Dan terasa sakit hingga ke tulang-tulang." Tangannya mencengkeram lengannya sendiri, ingat akan rasa sakitnya. Kepalanya mendongak merasakan tangan lain menangkup di punggung tangannya, dan dia melihat Sehun menatapnya sekali lagi.

"Baiklah. Dan disaat kau kehilangan kesadaran, tubuhmu justru diambil alih dan mengamuk lalu menyerang Sehun. Bagaimana kau bisa mengambil alih kesadaranmu lagi?" Yixing kini bertanya seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi tersangka kasus pembunuhan saja.

"Entahlah. AKu hanya mendengar Sehun memanggilku dan VOILA~ tiba-tiba saja aku tersadar."

"O... kay? Sepertinya kekuatan kegelapan itu sudah keluar darimu, lalu kemana dia?" Yixing mencoba menganalisis membuat Jongin dan juga Sehun ikut berpikir.

"Entahlah, mungkin mencari mangsa baru..." ujarnya menatap ngeri pada quendi dengan jubah putihnya itu.

"Itu hanya sebuah benda magis, dia mungkin mencari tubuh inang agar bisa kembali bangkit. Bagaimana ini...?" Yixing masih saja mondar-mandir terlihat gelisah.

"Sepertinya ini benar-benar serius. Maafkan aku..." Jongin menghela napas lirih terlihat merasa bersalah. Kepalanya mendongak saat Sehun menyentuh bahunya, didapatinya quendi cantik itu tersenyum kecil padanya.

"Semua akan baik-baik saja..."

Dia hanya balas tersenyum, berusaha agar tidak membuat Sehun khawatir. Tapi matanya justru menatap kebawah, melihat leher Sehun yang jenjang. Tidak! Dia tidak bermaksud untuk mesum saat ini. Hanya saja jejak kemerahan yang terlihat jelas itu membuatnya meruntuki perbuatannya. Itu bekas cengkeramannya. Dan Sehun masih belum mau menceritakan hal itu.

"Apa lehermu sakit?" bisik Jongin khawatir, membawa quendi itu ke dalam pelukannya sekali lagi, membiarkan bahunya kembali menjadi sandaran kepala dengan surai cokelat lembut itu.

"Tidak terlalu. Aku hanya butuh istirahat..." ujar Sehun dengan lirih, merasa nyaman dengan pelukan yang Jongin berikan.

"Ehem!"

Dan deheman dari Yixing itu sukses membuatnya menarik diri dari Jongin. Kepalanya menunduk malu dengan wajah yang perlahan terasa menghangat. Jongin sendiri hanya terkikik gemas, tidak tahu malu sama sekali. Tangannya mengelus pipi putih yang kini menyepuh merah itu lembut, tapi langsung mendapat tampikan kasar.

"Aku harus pulang..." Sehun bangkit berdiri dan berdehem sekali, berusaha mengembalikan raut wajahnya lagi.

"EEEEHH?! Kenapa tidak ikut menginap saja? Kita bisa tidur bersama lagi!" dan setelah berkata seperti itu, kepalanya sukses mendapat timpukan keras dari Sehun membuatnya mengaduh sakit.

"Ayahku akan curiga karena aku menghilang selama kekacauan ini. Sampai besok!" membalik badannya, Sehun segera menuju pintu keluar. Jongin hanya menggerutu kecil, merasa akan kesepian lagi tanpa Sehun.

Duk!

Sebuah dorongan kecil dirasakan di punggungnya. Dia menoleh dan melihat Toothless yang menatapnya dengan manik mata tajam, sepertinya marah entah karena apa.

"Apa? Kau ingin aku menahannya tetap disini? Dia tidak akan mau, kawan!" Jongin mengusap kepala naganya. "Ini rumah baru kita. Dan aku tidak mau berbagi tempat tidur denganmu!" kalimatnya dijawab dengan geraman marah oleh naga itu. ckckck... Toothless semakin pintar saja sekarang. Sebelum matanya menangkap benda yang tergeletak di meja.

"Ini punya Sehun kan?" Jongin mengangkat pedang yang tergeletak di atas meja. Mengangkat bahu sekali, Jongin meletakkan pedang itu lagi. "Mungkin kita kembalikan besok saja."

"Hey, Jongin!" kepalanya menoleh, kembali menatap Yixing dengan penuh tanda tanya. "Bisakah... kau tidak terlalu dekat dengan Sehun?"

Mendengar hal itu sukses membuatnya shock seketikaa. "EEH? Kenapa? A-apa kau menyukaiku makanya menyuruhku menjauhi Sehun? S-s-s-sejak kapan?" ujarnya sambil menatap ngeri sosok Yixing. Dia hanya tidak percaya ternyata Yixing juga menyukainya.

"Bodoh!"

Menghindari timpukan di kepalanya, Jongin justru terkena tonjokan telak di wajah tampannya. "Apa maumu, hah?!" ujarnya kesal seraya mengelus hidungnya.

"Bukan itu maksudku! Kau itu manusia, jangan menyeret Sehun dalam masalah besar!"

Sorot mata Jongin berubah seketika, membuat Yixing membeku sesaat melihat manusia itu kini menundukkan wajahnya.

"Memangnya kenapa kalau aku manusia?"

Yixing merasakan nada suara Jongin terdengar lebih dalam, membuatnya entah kenapa merasa bulu kuduknya berdiri, seolah mendengar geraman animalistik dari predator yang marah karena teritorinya diganggu.

"Kalau kau dekat dengan quendi biasa lainnya mungkin itu bukan urusanku. Tapi Sehun... dia juga anak kepala ras kami. Jangan membawa perasaannya lebih jauh lagi denganmu, dia akan─"

"Diam!"

Yixing tersentak kaget mendengar gertakan itu. Kepalan tangannya entah kenapa terasa berkeringat padahal dia hanya menghadapi seorang manusia biasa.

"Aku menyukainya. Aku tidak peduli akan perbedaan itu. Aku tahu Sehun berbeda dari yang lainnya. Dia tidak membunuhku saat pertama kali menemukanku. Dia juga yang menolongku!" Jongin mengatur napasnya setelah berkata dengan nada tinggi itu sebelum melanjutkan, "Dia membawakanku makanan setiap hari, dia menemaniku agar tidak kesepian setiap hari. Jangan salahkan kalau aku menyukainya."

"Jadi hanya karena itu..."

"Kalau bukan Sehun yang menemukanku, aku pasti sudah mati saat ini!"

"Tapi kau hampir membunuh Sehun tadi..."

Jongin tertegun kali ini. "Khe!" Dia mengatupkan giginya keras mengingat hal itu. dia menatap lekat telapak tangannya.

"Aku akan mengembalikanmu ke Arda."

Jongin mendongak mendengar hal itu. "Arda? Maksudmu dunia manusia? Bagaimana kau melakukannya? Sehun bilang, itu butuh perjalanan jauh dan bertahun-tahun untuk kembali."

Yixing terdiam berusaha mencerna perkataan manusia di hadapannya. "Sehun bilang begitu?" sebelum menghela napas panjang merasa kalah. Seharusnya dia mencari Sehun saat tahu quendi itu sering menghilang ke hutan. Seharusnya dia bisa mencegah ini lebih jauh.

"Sebenarnya mana yang benar? Kalau kau benar-benar bisa mengembalikanku dengan mudah, kenapa Sehun berbohong?" Jongin bertanya bertubi-tubi. Kepalanya terasa pusing saat ini karena memikirkan banyak hal. Banyak sekali pertanyaan yang ingin diajukan, tapi dia terlalu bingung memulainya.

"Bodoh!"

Lagi-lagi kata itu. Jongin menatap tidak suka pada sosok Yixing yang berdiri bersidekap sambil menyender di dinding. Kenapa orang ini suka sekali mengatainya bodoh?

Yixing menatap keluar jendela memikirkan perkataan Jongin. Yah... sepertinya Sehun sendiri tidak mau Jongin kembali ke dunianya. Dan semuanya akan sulit bagi Sehun sendiri disaat ayahnya menginginkan kedamaian bagi desa.

.

.

.

Sehun memasuki rumahnya dengan langkah tenang, sesekali menggerutu akan perkataan Jongin di hadapan Yixing tadi. Tapi langkahnya langsung terhenti saat memasuki ruang tengah hendak masuk kamarnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tangannya terkepal keras melihat sosok pemuda tinggi dengan rambut kemerahannya duduk tenang. Kenapa orang ini ada disini?

"Ayahmu yang mengundangku kemari. Dia baru saja keluar untuk mencarimu." Jawab si ksatria ras Noldor itu dengan tampang cuek dan mengangkat bahu, sebelum kembali merilekskan tubuhnya.

"Dengar! Aku menginginkan kedamaian bagi desa tapi bukan dengan cara ini. Aku tahu kalian memiliki rencana tersembunyi kan?" Sehun kini berdiri di hadapan quendi bernama Wufan itu dengan menyilangkan tangan di depan dadanya berusaha terlihat angkuh.

"Ya ya... terserah. Asal kau tahu saja, kalau bukan karena tuan Maedhros yang meminta, aku juga tidak mau melakukan ini. Makanya, jadilah anak baik dan buat ini lebih mudah."

"Hanya dalam mimpimu, tuan kepala naga! Aku tidak peduli dengan tuan bodohmu itu!" Sehun berbalik hendak ke kamarnya. Tapi dorongan yang keras membuatnya memekik kaget.

Dan saat dia sadar akan posisinya yang menabrak dinding, sebuah mata pedang yang tajam sudah terarah tepat ke lehernya. Napasnya berubah cepat menyadari posisinya yang tidak menguntungkan. Tangannya meraba-raba pinggangnya, tapi tidak menemukan apapun. Che! Sepertinya pedangnya tertinggal di tempat Yixing.

"Minta maaflah!"

"Tidak akan!" ujarnya tegas meski merasakan mata pedang itu semakin menekan lehernya. Sekarang dia mengerti perasaan Jongin saat dia menghunuskan pedang pada manusia itu.

"Aku bisa saja membunuhmu saat ini."

"Lakukan dan rasmu tidak akan bersekutu dengan ras kami," Sehun balas mengancam meski posisinya benar-benar terdesak saat ini. Dia hanya berharap ayahnya cepat muncul dan melihat kelakukan quendi di depannya ini, dengan begitu semua perjanjian akan dibatalkan.

Dia berusaha mengumpulkan angin di sekitar tangannya, berniat mendorong Wufan dengan kekuatannya.

"Jika aku jadi kau, aku tidak akan melakukan itu," Wufan sepertinya sadar akan niatnya. "Aku bahkan bisa membakarmu sebelum kau menggunakan kekuatanmu."

Dan Sehun menyerah, melenyapkan kembali pusaran kuat anginnya. Dia memang tidak pernah bertarung satu lawan satu dengan ksatria Noldor satu ini, tapi dari yang didengarnya Wufan memanglah kuat.

"Lepaskan!" akhirnya hanya kata itu yang bisa dia ucapkan.

"Minta maaflah!"

"Kenapa harus? Kau begitu marah hanya karena aku memanggilmu kepala naga?" Sehun menarik ujung bibirnya, tersenyum mengejek berusaha membuat Wufan kesal.

"Sebenarnya, tuan putri, aku tidak peduli dengan sebutan darimu..."

"Apa─"

"Tapi kau merendahkan tuanku. Itu membuatku ingin sekali mencabik-cabikmu saat ini juga!"

"Ukh..." Sehun meringis pelan saat Wufan benar-benar sengaja menggoreskan pedangnya, dia bisa merasakan leher diatas bahunya perlahan basah oleh aliran darah. Tidak terlalu dalam, hanya goresan kecil tapi hal itu benar-benar membuat Sehun semakin merapat ke dinding di belakangnya.

Keringat dingin mengalir di dahinya melihat tangan sang ksatria berkobar akan nyala api. Jadi benar kekuatan quendi ini adalah api? Itu tidak menguntungkan kekuatan anginnya sama sekali.

"Ap- Hey!" Sehun menekan dada bidang Wufan saat merasakan jilatan di lehernya, tepat di bagian luka goresan pedang tadi. Tubuhnya merinding hebat saat ini. Posisi intim ini membuat aliran darahnya berdesir hebat. Entah kenapa, sekali lagi wajah Jongin berkelebat di kepalanya.

"Mmnnn uhh... B-baiklah. Aku minta maaf!" Sehun berujar cepat saat lidah lincah itu masih menjilati darahnya. Dan sekarang Wufan menjauhkan diri dan menatap kearahnya dengan seringai lebar itu, pertanda menang.

Sambil memegang luka goresan di lehernya yang terasa perih, Sehun berlari keluar rumah lagi. Saat ini dia tidak ingin ada di sekitar orang itu. Masuk ke kamarnya pun dia tidak akan membuatnya tenang. Tahu begini seharusnya dia tidak pulang tadi.

Dia hanya terus berlari, tidak mempedulikan saat berpapasan dengan ayahnya yang terus memanggilnya. Setelah sekian lama bertahun-tahun dia tidak merasakannya, kali ini dia kembali merasakannya... perasaan tidak aman. Jantungnya berdegup semakin kencang melihat bangunan yang semakin jelas yang menjadi tujuannya.

Dia panik saat ini. Bagaimana kalau Jongin tahu tentang tadi? Bagaimana kalau Jongin tahu tentang perjodohan bodoh itu? Bagaimana... bagaimana... berbagai pertanyaan terus berputar di otaknya yang diawali kata 'bagaimana'.

Mendobrak keras pintu dihadapannya, napas Sehun terengah-engah. Melihat sosok Jongin yang balik menatapnya dengan ekspresi kebingungan. Tanpa mempedulikan hal itu, Sehun mempercepat langkahnya.

"Jongin..." Sehun benar-benar menjatuhkan tubuhnya pada Jongin yang dengan sigap memeluknya erat agar tidak jatuh. Akhirnya... akhirnya Sehun bisa kembali merasa aman dan tenang dalam pelukan Jongin.

.

.

To Be Continue

.

.

Nah, update cepet kan? Hehe... thanks banget yang masih mau ngikutin ff ini n ngereview.

Han Se Gi, YoungChanBiased, BaixianGurls, byuncrackers, Keepbeef Chiken Chubu, Angel Muaffi, bbuingbbuingaegyo, gwansim84, hyun. Seung. 9809, Miracle-ren, ayanesakura-chan, daddykaimommysehun, EvilFrea, hyunieeeh, Lixcious, sayakanoichinoe, nin nina,

Afifah. Kulkasnyachangmin, nuranibyun, 13ginger, Cho Ai Lyn, Guest, 0221cm, WeAreOneXoLoveKaiHun, Hyorim16, nicerindi, Yuki Edogawa, xxx, Ichizuki Takumi, hikari19, utsukushii02, ye0ja, dan juga EunRosy.

Chapter depan! pertentangan Kris dan Kai! Ditunggu yaa... ^^