.
QUENDI
EXO © SMent & themselves
The Silmarillion © J. R. R. Tolkien
How To Train Your Dragon © DreamWorks
Cast:
Kim Jongin
Oh Sehun
Genre: adventure, fantasy, drama, romance, dll.
Warning: Shounen-ai, Fantasy/adventure gagal, OOC, misstypo, AU, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
Pagi itu bukanlah pagi yang indah bagi Jongin. Padahal semalam dia sudah membayangkan hal-hal menyenangkan yang bisa dilakukan bersama Sehun seperti tidur bareng Sehun, tidur sambil meluk Sehun, bangun pagi melihat wajah damai Sehun, mandi bareng Sehun...
Oke, yang terakhir itu sukses membuat kepalanya memanas memikirkannya. Tapi semua yang dia rencakan itu hanyalah angan-angan saja. Kenapa? Tentu saja penyebabnya karena Yixing. Qeundi satu itu sepertinya niat sekali menjauhkan Sehun darinya.
Saat kemarin Sehun tiba-tiba datang kembali ke rumah Yixing dan juga tiba-tiba memeluknya dengan erat─dia sih senang-senang saja akan hal itu─ Sehun bilang tidak mau pulang dan ingin menginap. Kata menginap yang Sehun ucapkan sudah cukup membuat otak mesumnya langsung menyala terang.
Tapi apa daya, Yixing memutuskan Sehun akan tidur dengan elf itu dan berakhir dia tidur berdua dengan Toothless. Miris memang... padahal dia ini calon suami sah dari Sehun.
Dan sekarang, pagi yang biasanya Sehun akan selalu dekat dengannya kini sudah ada sekat pemisah, yaitu Yixing. Khe! Orang ini mengganggu saja sih!
"Baik, sekarang saatnya kau jelaskan kenapa kemarin tiba-tiba datang lagi kemari? Mana pake peluk-peluk Jongin lagi!"
"Apa masalahnya dengan itu, hah?!" ujarnya ketus pada Yixing yang terlihat membuang muka tidak peduli sama sekali akan gertakannya.
"Eum... hanya ingin menginap saja," jawab Sehun lirih sambil menunduk, kentara sekali sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu.
"Heh, dia rindu padaku dan tidak mau jauh-jauh dariku makanya dia kemari!" ujar Jongin pede yang kini mendapat tatapan tajam dari Sehun dan Yixing sekaligus.
"Cukup! Jongin, aku bilang jangan terlalu berharap kau bisa bersama Sehun."
"Bla bla blahh..." Jongin meniru cara pengucapan Yixing dengan sedikit dilebih-lebihkan, muak mendengar hal seperti itu lagi.
"Hey! Dengar ya, sebaiknya kau menyerah karena Sehun sudah─"
"Yixing!" Sehun memotong dengan cepat, posisinya kini sudah berdiri menatap ke arah temannya itu seolah memberi isyarat. "Aku sudah selesai. Terima kasih... aku akan pulang sekarang," katanya dengan nada pelan sebelum melangkah pergi dari sana, berusaha menghindar.
"Eh eh eeeeh! Tunggu, Sehun-ah!" Jongin buru-buru ikut bangkit dan menyusul Sehun yang keluar dari rumah Yixing. Ditariknya tangan Sehun hingga elf itu berhenti melangkah. "Aku ikut denganmu ya..."
"Tidak! Jangan!" Sehun terlihat gelagapan mendengar penuturannya, membuatnya mengerutkan dahi karena bingung dan juga curiga. Sehun seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kenapa? Aku sudah tidak takut dengan ayahmu lagi! Dan hari ini akan sangat membosankan kalau kau tidak ada," lanjut Jongin berusaha membujuk Sehun saat mendengar penolakan tadi. Sehun membuka mulut hendak memprotes, namun dia langsung menarik Sehun dari sana tidak membiarkan satu protespun keluar.
"Berhenti Jongin! Kumohon... tetaplah dirumah Yixing!" Sehun berusaha menghentikan Jongin dan melepaskan cengkeraman tangan manusia itu di pergelangan tangannya. Bukan masalah Jongin yang akan bertemu ayahnya, dia hanya tidak mau Jongin bertemu Wufan.
Entah kenapa... yang jelas dia tidak mau Jongin salah paham. Itu terdengar aneh seolah dirinya adalah orang yang penting bagi Jongin, tapi dia benar-benar tidak mau dua orang itu bertemu.
Ah! Baru saja dibicarakan.
"Berhenti!" ujarnya kali ini menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghentikan langkah Jongin dan menarik manusia itu ke sebuah gang kecil sekitar rumah-rumah.
"Eh? Kenapa kemari?"
"Ini jalan pintas!" ujarnya yang kali ini menarik Jongin pergi dari sana. Bukan apa-apa, dia jelas bisa melihat rambut cokelat kemerahan quendi dengan tubuh menjulang tingginya tadi. Berdo'a saja, tadi Wufan sedang tidak mencarinya ataupun tidak sengaja melihatnya.
.
.
.
"Ini... jalan pintas?" tanya Jongin menggaruk pipinya ragu akan kata-kata Sehun tadi. Bukannya sampai di rumah Sehun, sekarang keduanya justru ada di tepi hutan dengan aliran air sungai dangkal. Apa Sehun berniat membuangnya sekarang? Kejam sekali!
"Aku... lupa jalan pintasnya," jawab Sehun acuh sambil duduk di atas batu di tepi sungai dan membiarkan kakinya langsung merasakan dinginnya air sungai.
"Yah, tidak masalah sih," dengan begini kan mereka jadi bisa berduaan. Jongin ikut duduk di sebelah Sehun sambil senyum-senyum penuh maksud. Tangannya merangkul di bahu quendi itu, membawa Sehun lebih dekat dengannya. Dan sudah seperti kebiasaannya, Sehun akan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Jongin dengan nyaman.
Suasana menjadi hening, Jongin bingung harus membuka percakapan seperti apa. Jadi dia hanya diam saja menikmati waktu berduanya dengan Sehun. Tangannya bergerak perlahan membelai bahu Sehun, berusaha memberinya kenyamanan. Dia tahu sejak kemarin Sehun tengah memiliki masalah yang dipendam sendiri, terlihat jelas dari mimik mukanya yang selalu terlihat memikirkan sesuatu.
"Menurutmu... mana yang lebih baik antara keinginan sendiri atau keinginan semua orang?" Sehun membuka suara, memainkan kakinya di air hingga menimbulkan percikan-percikan kecil. Suasana yang tenang dengan angin disela-sela dedaunan dari pohon-pohon dan juga suara gemericik air sungai membuatnya ingin mengungkapkan unek-uneknya.
Jongin termenung sesaat melihat ekspresi Sehun saat ini. "Jika keinginan sendiri itu lebih baik, tidak ada salahnya memilih keinginan sendiri," jawabnya kalem meski dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.
"Jika keinginan semua orang itu untuk kepentingan bersama..."
"Tidak masalah. Jika itu untuk kepentingan banyak orang, maka lakukan itu!" jawab Jongin lagi kali ini dia merasa sangat konyol. Jujur saja, dia bukan tipe orang yang bijak dan Sehun sedang meminta saran padanya. Dia justru merasa sedang menjerumuskan Sehun sekarang.
"Begitu? Baiklah," Sehun kali ini menoleh kearahnya sambil tersenyum kecil, tapi bukan jenis senyum yang Jongin suka. Apa-apaan itu tersenyum sambil mengerutkan dahi, terlihat sekali sangat dipaksakan.
"Kenapa menyakan hal seperti itu?" Jongin kali ini bertanya, menyuarakan kebingungannya sedari tadi. Tangannya yang bertengger di bahu Sehun perlahan mengelus bahu quendi itu lagi, berusaha menyamankan Sehun agar mau menceritakan lebih detail.
"Bukan apa-apa," jawab Sehun sambil bangkit berdiri.
Jongin mendesah lelah ketika Sehun masih belum mau menceritakannya. Dia juga ikut bangkit berdiri dan menatap quendi itu dalam, dia hanya ingin tahu masalah Sehun karena mungkin saja dia bisa membantu atau sejenisnya. Tapi sepertinya Sehun sendiri masih enggan.
"Kau kembalilah ke rumah Yixing, kurasa dia tahu cara memulangkanmu ke dunia manusia. Sebaiknya kau cepat pulang!" lanjut Sehun lalu membalikkan badan hendak pergi lagi.
"Tunggu!" Jongin menahan bahu quendi itu dan membalik paksa tubuh Sehun. "Apa maksudnya itu?"
"Ini bukan tempatmu. Seharusnya kau kembali ke dunia manusia. Selamat tinggal─"
"Aku bilang TUNGGU!" Jongin mencengkeram bahu Sehun kuat, kali ini dia merasa marah karena Sehun mengatakan hal itu dengan mudahnya. "Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? Dengar, aku tidak akan pergi sebelum benar-benar mendapatkanmu," kali ini kedua tangannya yang mencengkeram bahu Sehun dengan kuat, mencegah elf itu untuk pergi.
"Jangan bodoh! Kau manusia. Mereka semua membenci manusia!"
"Apa kau juga membenciku?" Dia bertanya lagi, bisa dilihatnya Sehun yang tertegun kali ini, elf itu berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain terlihat gelisah. Hal ini membuatnya tersenyum kecil, jelas sekali dia sudah tahu apa jawaban Sehun. "Sudah jelas kan? Aku tidak akan pergi, tenang saja. Aku mencintaimu Sehun..."
Kali ini Jongin membawa Sehun ke dalam pelukannya dengan erat, membiarkan Sehun menenggelamkan wajah di bahunya. Dia bisa merasakan cengerkaman kuat di kaos bagian punggungnya.
"Kenapa kau membuat semuanya menjadi sulit?"
Sehun berumam lirih di bahunya. Dan sekarang Jongin paham, Sehun sedang memiliki masalah yang berat. Satu tangannya dia eratkan memeluk pinggang Sehun sementara tangan lainnya mengelus punggung quendi itu lembut.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya dengan nada pelan, berusaha agar tidak membuat Sehun semakin merasa tertekan.
"Mereka menginginkan kedamaian bagi desa. Aku tidak mau... Itu pilihan yang sulit bagiku." gumam Sehun, kali ini Jongin bisa merasakan tubuh Sehun sedikit bergetar.
"Kedamaian itu hal yang bagus. Kenapa menjadi sulit?"
"Kau tidak mengerti Jongin, kau tidak akan mengerti," Sehun menenggelamkan wajahnya semakin dalam di bahu Jongin, tangannya beralih membalas pelukan Jongin erat. Pelukan yang selalu bisa membuatnya nyaman.
"Kalau begitu ceritakanlah agar aku mengerti..."
"Aku..." tidak tidak! Orang pertama yang dia tidak ingin tahu tentang hal ini adalah Jongin. Ini terdengar gila, tapi dia merasa Jongin akan marah padanya jika mengatakan hal itu. Dan dia tidak ingin Jongin marah padanya. "Jika kau benar-benar bisa pulang saat ini, maukah kau membawaku juga? Kumohon... bawa aku pergi dari sini."
Ucapan Sehun terdengar putus asa, dan itu entah kenapa membuat Jongin merasa sesak. Siapapun yang membuat Sehunnya seperti ini, akan dia hajar habis-habisan.
"Kita bicarakan ini dengan ayahmu, aku tidak mau diburu hanya karena membawa kabur anak orang."
"Tidak! Bawa saja aku pergi... aku tidak mau bertemu ayahku!"
"Dengar, Sehun-ah... aku tahu kau sudah dewasa. Pikirkan ini baik-baik, jangan dahulukan emosimu," ujar Jongin sok bijak.
"Kenapa kau tidak mau? Bukankah kau bilang mencintaiku? Aku hanya ingin bersama dengan seseorang yang mencintaiku."
Jongin tertegun kali ini, ada dua hal yang membuatnya tertegun. Pertama karena perkataan Sehun barusan, yang kedua karena telinganya tidak setuli itu untuk tidak menangkap isakan lirih tadi. Dia juga bisa merasakan getar kecil tubuh Sehun yang ada dalam pelukannya. Apa masalah Sehun serumit itu? Baiklah ini sedikit membuatnya pusing.
"Aku mencintaimu, percayalah! Hanya saja jika kau kabur denganku, ayahmu mungkin akan mencarimu dan mengira aku dalang semua ini. Kau bisa bayangkan apa yang akan ayahmu lakukan jika dia berhasil mengejar kita ke dunia manusia, aku tidak ingin ada perang antara manusia dan quendi."
"Tapi... tapi..." suara Sehun terdengar semakin pelan dan lirih, terdengar enggan untuk mengatakan kelanjutannya. Dan bukannya melanjutkan kata-katanya, Sehun justru melepaskan paksa pelukannya. Quendi itu terlihat kesal untuk sesaat. "Yasudah kalau kau tidak mau."
"Eh, kok tiba-tiba..." Jongin kebingungan saat tiba-tiba saja mood Sehun berubah seperti ini. "Dengar Sehun, bukannya aku tidak mau. Hanya saja... hanya saja..." dia merasa bingung untuk melanjutkan kata-katanya, tidak tahu alasan apa yang bisa meyakinkan Sehun saat ini.
Bukannya mendengarkan, Sehun justru membalik badannya hendak pergi. Tapi tubuhnya tegang saat melihat seseorang yang tengah bersandar di salah satu batang pohon sambil bersidekap.
'S-sejak kapan?' batinnya was-was melihat Wufan masih terlihat santai bersandar di sana, berbeda sekali dengan perasaan Sehun yang merasa lemas dan juga detak jantungnya yang berdegup kencang karena khawatir. Kenapa dia sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan Wufan sedari tadi?
"Oh, sudah selesai?" nada bicara Wufan terdengar santai.
Sehun menatap quendi itu datar, tangannya terkepal hingga berkeringat. Sejak kapan Wufan ada disana? Jika sudah lama, apa Wufan mendengar pembicaraannya dengan Jongin yang mengungkit tentang 'manusia'? Jika Wufan sudah tahu Jongin manusia, maka sekarang ini nyawa Jongin dalam bahaya.
Quendi pengendali naga itu terlihat menegakkan punggungnya lalu melangkah mendekat dengan langkah pelan. Tangan kanannya otomatis sedikit terangkat, menjaga Jongin agar tetap di belakangnya.
"Kenapa tegang begitu, hm?" ujar Wufan dengan nada santai, terlihat cuek.
Sehun menatap quendi itu tajam, dia sudah bersiaga apabila Wufan tiba-tiba menyerang dan memenggal kepala Jongin tiba-tiba. Jongin sendiri di belakang Sehun sudah berkeringat dingin dan gelisah. Lidahnya kelu karena takut jika quendi yang terlihat angkuh itu mencabut nyawanya seketika.
"Santai saja... aku tidak mendengar apapun tadi," ujar Wufan sekali lagi, jelas sekali berbohong akan kata-katanya.
Dan entah Jongin itu tidak peka atau bodoh, manusia itu justru menghela napas lega dan tersenyum lebar, merasanya nyawanya aman kali ini.
"Turunkan pedangmu, Sehun...! Aku tidak ada niat untuk bertarung denganmu dan membunuhmu saat ini," Wufan berhenti sekitar tiga langkah dari hadapan Sehun, salah satu sudut bibirnya terangkat melihat Sehun yang sama sekali tidak terpengaruh kata-katanya.
"Oow... kau tidak percaya?" Wufan maju selangkah, dengan cepat menangkap pergelangan tangan Sehun yang memegang pedang dan menarik quendi itu kuat hingga membalik posisi mereka.
"Lepaskan Sehun!" pekikan dari Jongin yang melihat Sehun kini menghadap ke arahnya dan mengacungkan pedang padanya. Wufan hanya terkekeh kecil dari belakang tubuh Sehun, masih memegang pergelangan tangan Sehun agar tetap mengacungkan pedangnya ke arah Jongin.
"Nah... ini baru menarik. Kenapa kau tidak membunuh manusia itu, Sehun?"
Sehun semakin tegang mendengar penuturan itu. Jantungnya berdetak dengan cepat menyadari Wufan benar-benar mendengar semuanya. Ini gawat!
Sebenarnya dia bisa saja melepaskan diri, hanya saja entah kenapa dia terlalu takut untuk melakukannya. Takut saat dia melepaskan diri, Wufan akan langsung menyerang Jongin.
"Ayahmu mungkin akan sangat marah jika dia tahu alasanmu menolak perjodohan kita hanya karena manusia ini..."
Sehun hanya bisa terdiam dengan shock, menatap Jongin yang juga terlihat terkejut akan perkataan Wufan tadi. Tidak! Jongin tidak boleh tahu! Apapun yang terjadi, Jongin tidak boleh tahu tentang hal ini.
"Yaah... kenapa kita tidak membunuhnya saat ini, eum?" tubuhnya gemetar merasakan bisikan itu di telinganya. Tangannya mencengkeram erat pegangan pada pedangnya yang masih menghunus ke arah Jongin. Seberapapun kondisi mengharuskan hal itu, dia tidak akan pernah bisa membunuh Jongin.
"Lepaskan dia!" raung Jongin dengan tatapan tajamnya.
Sehun tersentak mendengar teriakan itu, apalagi melihat tatapan Jongin. Dia takut, entah karena apa.
Apa yang harus dia lakukan? Jika dia diam, mungkin Wufan yang akan langsung bertindak membunuh Jongin. Tidak! Atau dia bunuh saja Wufan saat ini? Sejujurnya dia sendiri ragu akan hal itu, dia tahu Wufan itu kuat. Dan mungkin dialah yang akan terbunuh jika bertarung dengan Wufan saat ini.
"Khe... HAHAHAHAHA... Lucu sekali! Kalian berdua..."
Suara tawa Wufan itu menggema, membuatnya begidik mendengarnya. Dia melirik melalui ekor matanya ekspresi Wufan yang tengah menyeringai senang. Orang ini selalu menyebalkan bagaimanapun juga. Kalau bisa, ingin dia penggal saja leher Wufan saat ini juga. Yah, kalau bisa...
"Oke, jangan menatapku seperti itu Sehun! Ayahmu dan juga Tuan Maedhros mencarimu dari kemarin sebaiknya kau cepat pulang!" Wufan melepaskan cengkeraman pada tangannya, dengan begitu dia bisa berbalik kembali menatap ksatria itu dengan tajam. Tangannya benar-benar gatal ingin mengayunkan pedangnya ke wajah menyebalkan itu. "Dan sebaiknya turuti saja permintaan Tuan Maedhros atau ayahmu akan tahu tentang manusia itu..." bisik Wufan pelan di telinganya.
"Aku membencimu!" ujarnya seraya berdecih kesal. Dia berbalik menatap Jongin yang sepertinya sudah agak tenang. Menghela napas sekali, dia berjalan mendekati Jongin. "Pulanglah ke rumah Yixing, aku akan menemuimu disana!"
Tanpa menunggu jawaban dari Jongin, dia langsung menarik tangan Wufan pergi dari sana. Akan sangat berbahaya jika meninggalkan Wufan berdua dengan Jongin karena mungkin saja akan ada pertumpahan darah.
.
.
.
Jongin menendang kerikil dengan bosan, dia terus saja melangkahkan kakinya entah kemana. Pikirannya kalut memikirkan Sehun yang akan dinikahkan dengan quendi-tinggi-jelek-dan-mirip-naga itu. Jadi hal itulah yang menjadi masalah Sehun belakangan ini?
Aiish~ bagaimana bisa dia memiliki Sehun kalau lawannya saja setangguh orang itu? Dari cara Sehun yang tidak bisa berkutik dalam cengkeraman quendi itu pun sepertinya dia memang kuat. Sedangkan dirinya? Dia hanyalah manusia biasa yang tidak punya kemampuan apapun. Dia tidak akan bisa menjaga Sehun, dia mungkin akan membuat Sehun terbunuh.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini, yaitu perkataan Yixing kemarin yang mengungkit tentang dia yang hampir membunuh Sehun.
Menghela napas sekali, Jongin menatap telapak tangan kanannya sendiri dengan nanar. Tangannya terlihat bersih, tapi dia merasa tangannya sangat kotor saat ini. Kalau bisa, dia ingin memotong pergelangan tangannya saja. Tapi rasanya itu tindakan bodoh. Dia tidak akan bisa menyentuh Sehun lagi kalau tidak punya tangan, dia tidak akan bisa merasakan kelembutan kulit Sehun lagi.
Eh, tapi mungkin dia bisa menggunakan bibirnya.
Aduh, kenapa sih otak mesumnya selalu datang tiba-tiba? Jongin menggelengkan kepalanya keras berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran kotor yang bisa saja membuat selangkangannya menyempit. Dia mengatur napasnya berusaha menenangkan diri dari membayangkan bagaimana rasanya nanti jika bibirnya benar-benar menjamah kulit Sehun yang putih dan halus itu.
"Gyaaaaaah!" dia memukul-mukul kepalanya sendiri berusaha menjernihkan pikirannya yang semakin menggila. Sadar akan diperhatikan oleh orang-orang yang lewat, Jongin hanya tersenyum gugup seraya menggaruk tengkuknya.
Dia kembali melanjutkan jalannya berkeliling desa, entahlah dia tidak punya tujuan jadi dia hanya berjalan tanpa arah dan berdo'a saja semoga dia bisa kembali tanpa tersesat.
Oke, kembali ke masalah yang sebenarnya. Apa yang harus dia lakukan pada Sehun? Berhenti berpikiran jorok, Jongin! Yang perlu di pikirkan adalah, bagaimana meyakinkan ayah Sehun saat dia melamar Sehun nanti?
Aduh, pikirannya sudah jauh sekali sampai ke tahap 'lamaran' ya? Dia sadar betul sih kalau dirinya dan Sehun itu berbeda. Jikapun dia berhasil melamar Sehun, mereka akan tinggal dimana? Tetap di Valinor? Tapi rasanya dia ingin pulang karena merindukan ibunya. Apa Sehun akan bersedia kalau dia ajak ke dunia manusia?
Aaaaaagh, pokoknya pikirkan itu nanti! Sekarang, cara meyakinkan ayah Sehun agar menerimanya. Jika mereka manusia, hal utama yang menjadi pokok untuk mencari menantu adalah 'bibit, bebet, bobot'. Mungkin bisa dia gunakan juga.
Pertama, dia bukan keturunan quendi tapi dia tetaplah tampan dan penuh kharisma. Okesip! Lalu jika manusia biasa mungkin akan melihat dari pekerjaan dan hartanya. Dan disini mungkin akan dilihat dari... kemampuan dan kekuatan!
Gila! Mengalahkan Sehun saja mungkin dia tidak akan bisa, bagaimana dia bisa merebut Sehun dari si quendi-tinggi-jelek-dan-mirip-naga itu? Eh, kan dia pernah ikut klub taekwondo dulu saat masih SMA. Tapi itu tidak akan cukup!
Jongin menghela napas menyerah memikirkan jalan keluar, sebelum telinganya menegang mendengar pembicaraan dua orang quendi yang sepertinya lebih muda darinya. Seperti ada lampu bohlam yang menyala terang di atas kepalanya mendengar obrolan dua orang itu.
"Dia juga bisa mengubah quendi yang sangat lemah sekalipun menjadi ksatria hebat. Heru[2] Yunho bahkan bisa mengubah batu menjadi monster yang kuat!"
"Itu perumpamaan yang buruk!"
"Haha... pokoknya aku akan menjadi muridnya nanti agar bisa melindungi desa!"
Dan benar saja, bagaikan saklar lampu di otaknya sudah di aktifkan, dia langsung mendatangi dua orang itu, memberikan tatapan bak gembel yang minta diberi makanan pada keduanya yang mengernyit melihat orang asing ini.
"Katakan katakan katakan padaku! Dimana orang sehebat itu?" ujarnya penuh semangat. Sudah terbuka jalannya untuk bisa menikahi Sehun. Sepertinya Tuhan benar-benar menyayanginya. Terima kasih Tuhan...
"E-err... kebetulan kami akan kesana. Kau bisa ikut kami!"
Dan setelah itu tanpa kata lagi Jongin langsung mengekor pada dua quendi itu.
.
.
.
Tempatnya ada di ujung terjauh desa, berlawanan dengan bukit tempat kuil yang dikunjunginya kemarin. Kali ini tepat di tebing yang berbatasan dengan laut. Sepertinya desa Vanyar ini benar-benar sangat strategis.
Dalam perjalanan dia sudah membayangkan tempat yang tenang seperti dojo. Tapi pemikirannya benar-benar salah.
Jongin menatap shock dimana dia berada. Ini seperti sebuah bangunan tempat para gladiator bertarung, hanya saja ukurannya mungkin lebih kecil. Tapi ini sempurna untuk berlatih. Matanya menatap kagum pada tombak, parang, pedang, dan senjata lainnya.
Dan di tengah ruangan terbuka itu, ada dua orang yang sepertinya tengah beradu pedang. Seorang lagi berdiri sambil bersidekap di pinggir lapangan. Dari yang dikatakan dua quendi yang mengantarnya, orang itulah yang disebut-sebut sebagai Heru Yunho.
Lalu disinilah dia, berdiri tegap dihadapan quendi itu. Melihat tatapan tajam itu membuatnya begidik sesaat sebelum membungkukkan badannya sembilan puluh derajat dengan mantap.
"Jadikan aku muridmu!" ujarnya tegas masih dengan posisi membungkuk, enggan menegakkan tubuhnya sebelum mendapati jawaban. Dan Jongin mengernyitkan dahinya saat kaki si guru malah berjalan menjauhinya. Dia kembali menegakkan punggungnya dan menatap quendi itu tidak percaya.
"Ya! Aku sedang bicara denganmu!" sahutnya kesal membuat langkah sang guru terhenti. Jongin berjengit saat mendapat lirikan tajam itu, tapi dia berusaha menguatkan hati agar tidak gentar. "Jadikan aku kuat!"
Matanya membelalak saat melihat sosok quendi itu tiba-tiba menghilang. Dalam hati menjerit heboh karena bisa melihat hal seperti itu. Kepalanya menoleh berusaha menemukan sosok Yunho.
"Aku tidak tertarik mengajarimu."
"HOAAAAAA~" jeritnya seraya berbalik dan melangkah mundur, menatap shock Yunho yang tiba-tiba ada di belakangnya. 'C-c-cepat sekali!' batinnya dengan gagap. Tapi dengan segera menyadari perkataan Yunho. "Aku mohon!" Sekali lagi dia membungkuk singkat.
"Kau tidak pantas untuk menjadi kuat."
"EEEEH?!" dan hatinya sudah seperti ditusuk oleh ribuan jarum tajam mendengar hal itu. Ih, tajam sekali kata-katanya. "Tapi aku─"
"Dilihat sekalipun aku sudah tahu, kau menginginkan kekuatan hanya untuk kepentinganmu sendiri."
Kali ini hatinya sudah bukan seperti ditusuk jarum lagi, melainkan dihujam oleh paku besi. Sakitnyaaaa~ eh, tapi benar sih. Kan dia ingin kuat biar bisa menikahi Sehun.
"Pergilah!"
"Tidak! Kumohon... aku ingin melindungi seseorang," kepalanya menunduk dengan tangan terkepal erat, berusaha menetapkan hati. "Dia bahkan hampir terbunuh karenaku. Aku hanya ingin melindunginya..." dan menikahinya! Lanjutnya dalam hati, tidak ingin terlihat konyol.
Dilihatnya Yunho membalik badan, tidak terpengaruh oleh omongannya sama sekali, membuatnya mendengus dan sekali lagi berteriak.
"HEY! Dengarkan aku!"
"Aku tidak peduli apa keinginanmu."
"Dengar! Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi setidaknya beri aku kesempatan!"
"Untuk apa? Kau tidak akan bisa menjadi kuat."
"MAKANYA AJARI AKU!" teriaknya semakin keras, membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arahnya, bahkan dua orang yang tadi saling bertarung kini berhenti dan beralih menatapnya. Suasana kini menjadi hening dengan dirinya yang masih mengatur napas setelah berteriak tadi dan Yunho yang masih memunggunginya.
"Pergilah!"
Ctik! Seolah tali kesabarannya sudah putus, dia meraih sebuah kapak terdekat dan melemparnya brutal ke arah Yunho. Amarah sudah benar-benar menguasainya. Dan Jongin tidak heran ataupun terkejut saat kapak yang dilemparnya kini sudah ada dalam genggaman Yunho dengan mudah.
"Apa masalahmu?"
"SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU, BRENGSEK!" jeritnya kini sudah merasa tidak takut lagi jika lehernya akan benar-benar dipenggal oleh orang ini. Harga dirinya hancur sudah dalam hitungan detik tadi. "Apa salahnya mengajariku?!"
"Kau terlihat percaya diri, kalau begitu belajar saja sendiri!"
"Ap─ OEY! Kalau aku bisa melakukannya sendiri, aku tidak akan minta tolong padamu bodoh!" dan lagi-lagi dia mendapat lirikan tajam dari Yunho, mungkin marah karena dibilang bodoh.
"Jongin!"
"Eh?" kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati Sehun sudah berdiri tenang di sana. Sejak kapan Sehun ada disini? "Kenapa kau bisa─"
"Cukup! Ayo pulang!" Sehun meraih tangannya dan berusaha menyeretnya pergi darisana. Sebenarnya dia tidak mau melakukan ini, tapi dia harus melakukannya. Ditampiknya tangan Sehun yang menggandeng tangannya selembut mungkin.
"Tidak akan!"
"Jangan bodoh! Kau tidak akan mampu!" ucapan Sehun membuatnya menatap quendi itu tidak percaya. Kenapa Sehun juga berkata seperti itu? Apa karena dia manusia? Setidaknya dia bisa menguasai teknik bertarung, meski tidak akan bisa menggunakan kekuatan magis.
"Aku akan tetap melakukannya agar aku bisa─"
"Kau tidak perlu melindungiku. Berhenti menyakiti dirimu sendiri, jangan memaksakan diri!" Sehun menatapnya dengan tatapan sendu, terlihat sedih. Ekspresi yang tidak Jongin sukai! Makanya dia ada di sini, dia hanya ingin melindungi Sehun agar quendi itu tetap tersenyum cantik. Meski awalnya bukan itu tujuannya sih.
"Maaf... aku harus melakukan ini!" ujarnya dengan keteguhan hati. Dia harus melakukannya! Hehe... rasanya kata-katanya tadi terdengar keren sekali ya! Sudah seperti seorang ksatria yang siap bertempur demi pujaan hatinya saja.
Kembali dia membalikkan badan menghadap Yunho, tapi─
"WOAAAAH!" tubuhnya mental ke belakang saat mendapat tonjokan keras yang datang dengan tiba-tiba itu. Memegangi pipinya yang lebam, dia menatap tidak percaya pada Yunho. "APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!"
"Pertahananmu lemah! Cepat bangun latihan dimulai!"
Jongin berkedip beberapa kali berusaha mencerna kalimat itu, sebelum sebuah senyum muncul saat menyadarinya. Dia langsung bangkit dengan memegangi pipinya.
"Kau baik-baik saja?" Sehun menatapnya khawatir, mengelus pipi lebamnya lembut. Ugh, kalau sudah dielus Sehun sih rasanya sudah tidak sakit lagi.
"Haryon[3] Sehun, saya mohon menyingkirlah. Biarkan dia belajar untuk mempertanggung jawabkan kata-katanya."
Sehun terlihat menggigit bibirnya ragu untuk menyingkir dari sana. Ugh, sebenarnya Sehun hanya khawatir bagaimana kalau topi Jongin terlepas dan semua orang akan tahu kalau Jongin manusia? Lagipula ini konyol. Jongin hanyalah manusia yang lemah tidak memiliki kekuatan apapun. Melawan troll pun Jongin tidak akan menang apalagi─
"Aku akan baik-baik saja."
Ucapan itu menyadarkannya saat merasakan elusan di rambutnya. Menghela napas sekali, Sehun mengangguk dan berniat menyingkir dari sana, tapi tangannya di tahan oleh Jongin dan pipinya kembali memanas merasakan kecupan singkat di pipinya.
"Kau hanya perlu bersiap karena pangeranmu yang tampan ini akan segera menjadi ksatria yang kuat!" ucap Jongin diiringi senyumannya. Sehun hanya mendengus sekali berusaha menenangkan rona wajahnya dan berjalan menjauh ke pinggir.
"Nah, latihan pertama untuk pemanasan! Lari keliling lapangan ini 200 kali!"
"MWO?!"
.
.
.
"Hahh... hahh... hahh..." yang terdengar di antara keduanya hanya deru napas Jongin yang boros. Namja itu sesekali mengernyit sakit saat Sehun menekan lebam di pipinya terlalu keras.
"Sudah aku bilang─"
"Jangan... mengoceh... hahh... cukup... beri aku... napas... buatan... hahh..." ucap Jongin terputus-putus karena kelelahan seraya semakin mendekatkan diri dengan Sehun, berusaha mencuri kecupan.
"Hentikan! Kau hanya akan semakin kehabisan napas!" Sehun mendorong dada Jongin cukup kuat agar manusia itu tidak semakin mendekat.
Dengan lelah, Jongin kembali tiduran di atas lantai batu tempatnya latihan. Hari sudah sore, langit yang tadinya biru cerah perlahan berubah menjadi jingga. Sebenarnya jika sore hari seperti ini dia ingin mengajak Sehun terbang bersama Toothless, merasakan sunset di sekitar lembutnya awan-awan lagi. Karena dia suka melihat wajah cantik Sehun yang terkena bias cahaya sore.
Tapi tubuhnya terlalu lelah saat ini, untuk berdiri pun sepertinya dia akan langsung ambruk. Jadi untuk sementara dia hanya bisa tiduran berusaha mengatur napasnya yang berantakan. Matanya terpejam merasakan sentuhan lembut dari Sehun di pipinya yang lebam. Dia menarik napas dalam merasakan angin laut yang berhembus di sekitar.
Yah, menikmati waktu berduanya dengan Sehun seperti ini pun tidak ada salahnya. Yang dia harapkan saat ini... semoga hidup seorang quendi-tinggi-jelek-dan-mirip-naga itu lenyap saaat ini juga.
.
.
To Be Continue
.
[1] Heru: itu dalam bahasa Quenya (bahasanya para quendi) artinya Master atau Shishou atau Sensei kalo di dojo gitu lah.
.
.
A/N: nah ini panjang banget kan sampe 4k lebih lho. ==" awas kalo ada yg bilang kependekan lagi. Maaf ini lama, masih adakah yang inget n nungguin ff ini? kayaknya udah pada kabur deh ya. XD
