.
QUENDI
EXO © SMent & themselves
The Silmarillion © J. R. R. Tolkien
How To Train Your Dragon © DreamWorks
Cast:
Kim Jongin
Oh Sehun
Genre: adventure, fantasy, drama, romance, dll.
Warning: Shounen-ai, Fantasy/adventure gagal, OOC, misstypo, AU, dll.
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
"Kemari, kawan!" Jongin berjingkat pelan di tengah gelapnya malam. Toothless mengekor di belakangnya dengan berisik. "Psst... tenanglah! Kalau mereka menemukanmu itu akan jadi masalah."
Naga itu hanya menjawab dengan dengkuran ringan, seolah bosan akan peringatan Jongin yang itu-itu saja.
"Oke sepertinya disini aman. Lagipula kau tidak akan mudah terlihat saat malam hari," Jongin menepuk-nepuk kepala Toothless sebentar sebelum naik ke punggung naga itu."Nah, ayo! Aku tahu kau sumpek terus berdiam di rumah Yixing."
Toothless sepertinya senang, terlihat dari mata hitamnya yang terlihat antusias. Tanpa diperintah dua kali, naga itu sudah merentangkan sayapnya dan melesat ke langit malam dengan cepat. Jongin menggigil untuk sesaat merasakan terpaan angin malam yang dingin.
"Pelan-pelan, Toothless! Aku tahu kau senang, tapi aku lupa membawa mantel dan disini dingin sekali!" teriaknya seraya menggigil sekali lagi. Berpegangan kuat saat Toothless menukik tajam ke atas, semakin membumbung tinggi. Kepalanya mendongak ke atas melihat taburan bintang yang luar biasa banyaknya, dan bulan purnama.
Terkadang dia berpikir, dimana dirinya saat ini? Apakah dia ada di planet lain? Tapi tanaman, jenis hewan, dan langitnya pun sama seperti bumi. Lalu apakah dia benar-benar ada di dimensi lain?
Matanya memejam merasakan hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Salah satu tangannya merentang ke samping, merasakan desiran angin dingin di sela-sela jarinya. Rasanya menyenangkan, dan mungkin akan lebih menyenangkan jika ada Sehun disini terbang bersamanya. Tapi sayang sekali sepertinya ayah Sehun sekarang lebih mengekang quendi cantiknya itu, dan itu membuatnya frustasi terkadang.
Suara dengungan Toothless menyadarkannya. Dia tersenyum melihat mata naga yang tengah menatapnya itu.
Terkadang dia juga berpikir ini hanyalah mimpi. Bertemu elf, menjinakkan naga, dan mengendarainya. Itu semua adalah apa yang semua orang impikan. Lalu apakah ini hanya mimpi? Apa dia akan segera terbangun... dengan dirinya di tempat tidur dan mendapati sebelahnya kosong? Tidak ada Valinor, tidak ada Toothless... dan tidak ada Sehun?
Kepalanya kembali mendongak, taburan bintang di atas sana sangatlah banyak, sampai-sampai dia bisa dengan jelas melihat hujan meteor. Sesuatu yang jarang ditemuinya di dunia manusia karena sudah banyaknya lampu-lampu kota yang membuat langit terlihat gelap. Pantas saja Sehun sangat menyukai bintang, mereka sangat cantik dan menawan.
Mungkin Sehun tidak akan suka kalau dia ajak ke dunia manusia, karena bintang yang terlihat di langit malam kota Seoul sangatlah sedikit. Che, apakah dia bisa mengajak Sehun dan memperkenalkan quendi itu pada keluarganya?
Hidungnya mulai terasa gatal, sebelum─
"Hachooo!" dia menggosok hidungnya setelah bersin dengan keras. "Sebaiknya kita kembali, Toothless! Aku tidak mau membolos latihan besok hanya karena flu," ujarnya dengan membungkuk agar Toothless bisa mendengar suaranya. Naga itu terlihat tidak setuju dan masih tetap terbang tinggi. "Ayolah, kawan!" lanjutnya seraya menepuk-nepuk kepala hitam naga itu.
Dia terkekeh kecil saat Toothless seolah mengalah dan memutar matanya sebelum terbang rendah dan berputar kearah desa. Haha... Ini hewan terpintar yang pernah dia pelihara.
.
.
.
Tangannya bersidekap di dada, melihat sekumpulan quendi yang berkumpul di tepi sungai. Suara harmonika merdu memasuki gendang telinganya diiringi nyanyian-nyanyian merdu.
Tatapannya mengarah pada sosok quendi yang kini tengah mendongak menatap langit dengan senyum lucunya. Ada apa dengan orang-orang disini? Kenapa mereka seolah memuja bintang-bintang? Apa bintang bisa memberi kekuatan? Che! Mana mungkin. Dan kenapa Tuan Maedhros mau beraliansi dengan ras Vanyar ini? Dengan dirinya sebagai jaminan?
Wufan ikut memandang ke arah langit melihat ratusan bahkan ribuan bintang yang membuat langit terlihat sangat terang. Sebelum matanya menyipit berusaha fokus saat sekelebat bayangan hitam melintas diatas sana. Itu...
...Night Fury?
Naganya masih hidup? Di sini? Dia menegakkan punggungnya saat bayangan hitam itu menghilang ke hutan bagian tenggara. Dahinya mengerut saat melihat Sehun juga bangkit dan pergi ke arah hutan. Apa Sehun yang menyembunyikan Night Furynya?
Langkahnya perlahan mengikuti quendi itu. Jika benar Sehun yang menyembunyikan Night Furynya, maka satu hal lagi yang dia benci dari ras Vanyar ini. Tapi bagaimana bisa? Night Fury hanya tunduk padanya. Bahkan naga itu pun akan menggeram marah saat Chanyeol ataupun yang lain mendekat.
Dia terkejut saat tiba-tiba saja Sehun melesat dengan cepat, menghilang dari pandangannya. Sialan! Dia lupa jika Sehun itu tipe angin yang bisa terbang cepat.
Baiklah. Mungkin sekarang kau bisa lolos Sehun, tapi tidak dengan lain kali.
.
.
.
"Hachooo~" sekali lagi Jongin bersin dan menggosok hidungnya, dia mengusap-usap lengannya sendiri berusaha mengurangi kedinginannya. Toothless berjalan di sebelahnya dalam diam, sesekali dia bisa melihat mata naga itu melihat ke arahnya. Haha... lucu sekali, apa Toothless sedang khawatir saat ini?
"Jongin!"
Wohoo... suara pujaan hatinya! "Sehunna~" serunya agar Sehun tahu keberadaannya diantara gelapnya hutan saat ini. Untung saja saat ini bulan tengah purnama, jadi setidaknya dia bisa melihat meski sangat samar.
"Apa yang kau lakukan? Aku bilang tetaplah di rumah Yixing kan?!"
Bukannya menjawab, dia justru melangkah mendekati Sehun dan memeluk quendi itu erat. "Humm... sekarang jadi lebih hangat," gumamnya seraya mengusakan wajahnya ke bahu Sehun, senang saat ujung hidungnya bersentuhan dengan kulit leher putih itu.
"J-Jongin, lepaskan aku!"
Sekali lagi dia tidak menjawab, justru mendorong Sehun ke salah satu batang pohon. Dia benar-benar kedinginan saat ini dan hangat tubuh Sehun membuatnya nyaman. Ah, dia jadi mengantuk sekarang. "Jangan banyak bergerak, Sehunnie!"
"Jongin, sesak! Lepaskan aku!"
"Tidak mau. Kau harus memanggilku Jonginnie dulu!" sahutnya masih asyik menghirup dalam-dalam wangi tubuh Sehun. Dan sungguh, leher ini benar-benar terlihat menggiurkan saat ini.
"Apa artinya 'Jonginnie' itu?"
"Bukan apa-apa. Hanya saja beberapa orang sering memanggilku Jonginnie," lebih tepatnya para wanita. Kekehnya dalam hati, ingin melihat Sehun melakukan aegyo padanya. "Sekarang memohonlah!" ujarnya seraya memberi beberapa kecupan ringan disepanjang garis leher Sehun.
"N-nn... lepaskan aku, Jonginnie...!"
Jongin tertegun mendengarnya, dia mengangkat kepalanya dari bahu Sehun. Matanya menatap lekat pada wajah Sehun, sepuhan merah muda terlihat semakin cantik. Dan... dan... suara Sehun saat memanggilnya Jonginnie tadi terdengar begitu menggemaskan di telinganya. Dia bersumpah seolah melihat telinga kucing imajiner yang menekuk turun dengan lucu.
"Jonginnie?"
Ya Tuhan, cukup Sehun atau kau benar-benar membuatnya kelepasan saat ini. Dia menarik napas dalam, berusaha mengalihkan perhatiannya dari wajah Sehun. Tidak bisa, matanya bahkan tidak berkedip menatap lekat wajah itu.
"Jonginnie sakit? Tubuhmu dingin sekali."
Ya, ya. Dan dia benar-benar membutuhkan kehangatanmu Sehun. Sekarang... saat ini juga!
"Jongin─"
Persetan dengan akal sehatnya. Jongin meraup bibir merah ranum itu segera, memberinya kecupan dan cumbuan lembut disana. Menyeringai dalam hati saat sekali lagi tubuh Sehun bergetar dalam pelukannya.
Hhn... sekarang dia jadi lebih hangat. Ah, kenapa semua yang ada pada Sehun selalu saja terasa seperti zat adiktif baginya? Ini menyenangkan kau tahu?
Kepalanya miring seraya semakin menekan tubuh Sehun ke batang pohon besar itu, berusaha memperdalam ciuman. Uhh... bisa-bisa dia jadi seorang pecandu Sehun. Kalau seperti ini, mana bisa dia melepaskan Sehun begitu saja.
DUUGH!
"Aaaarh!" Jongin mengaduh saat serudukan maut itu mengenai punggungnya. "S-s-sakiiittt bodoh!" erangnya seraya menunjuk Toothless dengan tatapan tajam. Yang ditatap hanya diam tak menunjukkan ketertarikan untuk adu tatap dengan Jongin.
Merasa diacuhkan, Jongin berdecih kesal dan kembali menghadap Sehun. Tapi seketika dia seolah kena kutukan malin kundang menjadi batu saat melihat ekspresi Sehun yang siap diterkam kapan saja. Ya Tuhan siapapun bawa dia pergi kabur dari sini kalau tidak mau ada adegan yang bisa membuat adik kecilnya senang.
"Jongin?"
Jangan sebut namanya dengan bibir merahmu yang mengkilap karena ciuman tadi, Sehun! Jangan pasang wajah seperti itu, Sehun! Jangan tatap dia dengan permata cokelat yang berbinar itu, Sehun!
"Jonginnie?"
SIAPAPUN TOLONG PUKUL DIA SEKARANG DAN JAUHKAN DIA DARI SOSOK INDAH PENUH DOSA ITU!
DUAAAGH! GRAAUUSH!
"AAAAAAARGH! JANGAN GIGIT KAKIKU, TOOTHLESS!" teriaknya sekali lagi menatap marah pada Toothless yang masih menggigit kakinya meski tidak sampai berdarah. Sedetik... dua detik... tiga detik saling bertatapan sebelum naga itu melepaskan gigitannya di kaki Jongin dan meludah-ludah seperti anjing tersedak.
Oh sial, apa kakinya sebau itu sampai seekor naga pun muntah karenanya?
"Hahaha..."
Eh?
Kepalanya kembali menoleh melihat Sehun tertawa kecil melihat bekas gigitan Toothless di kakinya.
ADUH LUCUNYA! BOLEH CULIK NGGAK?!
Kalau dia berhasil membawa Sehun ke dunia manusia yang akan dia lakukan pertama kali adalah membelikan Sehun baju nekomimi, terus akan dia sekap di kamar sepanjang hari. Kekeke~
DUAGH!
Ya Tuhan Toothless! Kenapa kau seolah bisa membaca pikirannya sih? "Berhenti menyerudukku, Toothless!" sahutnya kembali menatap tajam naganya. Yang ditatap hanya memalingkan kepalanya ke arah lain. Ya ampun bagaimana mungkin ada binatang yang sepintar ini, huh?
"Sudahlah Jongin, mungkin Toothless lapar. Sebaiknya kita kembali," Sehun berusaha menengahi adu tatap itu. Kali ini dia menghela napas mengalah dan menoleh ke arah Sehun sambil tersenyum.
"Ya, ayo pulang!"
.
.
.
Latihan hari kedua!
Dia kembali disuruh lari sambil membawa sekarung pasir. Sigh... kenapa juga dia seolah menjadi Rocklee? Sialan!
Putaran ke 50 dia berhenti dan kembali menghadap Yunho yang hanya memperhatikan dari tengah lapangan.
"Sudah... hahh... sekarang... apa lagi... hahh?" tanyanya sambil ngos-ngosan. Bukannya menjawab, Yunho malah melemparkan sebuah pedang padanya. Ya ampun kalau dia tidak sigap, bisa-bisa pedang itu akan membelah perutnya. Ck! Guru sialan ini!
"Kau pernah bermain pedang?"
"Jika yang kau maksud itu benda berkilat tajam seperti ini, belum. Tapi aku pernah mengayunkan gagang sapu untuk menangkap pencuri, dan beberapa kali menggunakan tongkat baseball. Jadi... yah..."
Yunho menatapnya datar, tanpa ekspresi apapun di wajah.
"Maksudku... itu... aku belum pernah mengayunkan pedang!" jawabnya akhirnya diakhiri dengan helaan napas. Susah juga kalau bicara sama orang minim ekspresi yah? Buuh!
"Kalau begitu kita mulai dari dasar!"
DHUUM~
"NAGA?!"
Pekikan itu membuat dia dan Yunho menoleh, melihat seekor naga bertubuh besar dan berwarna merah. Seekor Monstrous Nightmare, itu yang dia dengar dari gumaman Yunho. Tahukah? Tadi dia sempat hampir jantungan saat ada yang berteriak naga, dia kira itu Toothless kau tahu? Ternyata malah naga nyasar.
Eh?
Bukan naga nyasar, dari punggung naga itu turunlah si quendi-tinggi-jelek-mirip-naga yang kemarin membuatnya kesal setengah mati. Che! Mau apa sih quendi satu ini?
"Maaf mengganggu latihanmu. Aku dengar disini tempat berlatih yang bagus jadi aku kesini," ujar Wufan tanpa ada yang bertanya.
Jongin hanya memutar matanya jengah, ingin rasanya dia menusuk kepala itu dengan pedang yang kini ada di tangannya. Che!
"Pedang, heh? Aku yakin kau akan terbunuh dalam satu detik di pertarungan yang sesungguhnya... manusia rendahan!" Wufan mengatakan kata terakhir dengan nada pelan hingga hanya dia yang bisa mendengarnya. Che, sialan!
Grrrrrrh! Quendi goblok ini barusan ngomong apa?! Manusia rendahan? "SIAPA YANG KAU SEBUT RENDAHAN ITU HAH?!" dia menunjuk hidung Wufan dengan ujung pedangnya, menantang. "Kita bisa buktikan siapa yang lebih kuat!"
Jongin sudah tersulut amarah, dia tidak akan menyaring lebih dulu apa yang dia katakan.
"Kau menantangku, heh? Sudah kubilang kau pasti akan langsung terbunuh dalam satu detik!"
Perempatan urat di dahi Jongin semakin banyak. Kesal dan marah, rasanya dia ingin memutilasi orang ini. "Kita buktikan, muka naga!" ujarnya seraya menyeringai dan memasang kuda-kuda, pedangnya sudah siap siaga menebas Wufan kapan saja.
"Hentikan Jongin! Kau tidak akan menang!" kali ini Yunho yang berkata, menurunkan pedang Jongin.
"Tidak! Aku memang tidak pernah menggunakan pedang, tapi aku jago kendo!" ─kurasa, karena gagang sapu itu dari kayu kan? Mirip kendo lah, dikit sih.
"Dengarkan gurumu, percuma kau menantangku!" ujar Wufan dengan sombongnya.
"Huh? Jadi kau tidak menerima tantanganku? Kenapa? Takut kalah, heh?" Jongin menyeringai senang saat melihat Wufan kesal. Sudah kubilang kan kalau Jongin tidak akan menyaring perkataannya jika sudah kesal. Jongin tidak tahukah kau kalau kekuatanmu jauh dibawah Wufan? Mau mati ya?
Dia menelan ludah dan baru sadar saat melihat Wufan mengeluarkan pedangnya yang sepertinya benar-benar terasah dengan baik, terlihat benar-benar mengkilat tajam.
"Kau membuat tugasku menjadi lebih mudah, tapi aku tidak akan berterima kasih padamu!" sahut Wufan sedikit menyeringai.
"Huh? Apa yang kau katakan heh?"
"Menyingkirkanmu agar keraguan dalam diri Sehun menghilang," jawab Wufan dengan nada tenang, matanya berkilat senang saat melihat ekspresi terkejut di wajah Jongin.
"Coba saja!" sekali lagi Jongin menantang, tanpa peduli kalau yang dihadapinya lebih kuat darinya. Apalagi kalau masalah ini menyangkut Sehun, dia tidak akan segan memutilasi orang ini.
"Jongin!" sahut Yunho berusaha menghentikan pertarungan itu.
"Tidak apa-apa, guru! Aku rasa bisa mengalahkan orang ini!"
"Kau rasa?"
"Heh, dalam mimpimu saja... manusia rendahan!"
Demi Tuhan Jongin hanya berkedip sekali dan tiba-tiba saja pedang Wufan sudah menghunus kearahnya. Refleknya cukup cepat untuk menghindar, meski agak terlambat karena kini pipinya sudah tergores dan berdarah. Tsk!
"Hoo... kau lumayan juga!"
"Lihat? Aku masih hidup setelah satu detik kau menyerangku."
"Tidak dengan berikutnya!"
Wufan mengayunkan pedangnya hendak menebasnya, dan untung saja dia bisa menahan serangan itu. Kini kedua pedang yang berkilat tajam itu saling beradu, Jongin sedikit terdorong ke belakang.
Aiish, tenang orang ini kuat sekali.
"Hanya segini saja kekuatanmu? Aku bisa memenggalmu dengan mudah─oh tidak! Aku tahu cara apa yang paling menarik untuk menyingkirkanmu!"
"Aku bilang, coba saja!"
TRAANG!
Wufan kembali mendorong dan menangkis pedangnya, kini pedangnya sudah terlempar dari tangannya. Sialan! Kalau begini sih, dia tidak akan menang.
"Nah, ayo mulai!"
Wufan menghunuskan pedang ke kepalanya lagi, Jongin menghindar tapi─tidak! Wufan tidak berencana untuk menusuk kepalanya, tapi...
Matanya melotot kaget saat pedang Wufan terangkat dan─
SREET~
─Beannienya terlepas dari kepalanya dan menyangkut di pedang Wufan.
Suasana berubah hening saat itu juga, Jongin sampai lupa cara untuk bernapas saking kaget dan takutnya. Tubuhnya bahkan terlalu kaku hanya untuk mengangkat tangan dan menutupi kedua daun telinganya.
"MANUSIA!"
Teriakan itu bagaikan pedang yang menghunus jantungnya dengan telak, pengantar kematiannya.
Dia menatap horror saat semua yang tadinya sedang berlatih di sana kini sudah mengepungnya dan menghunuskan pedang, tombak, dan kapak padanya. YA TUHAN DIA AKAN MATI! MOONKYU TOLONG KALAU DIA MATI SELAMATKAN KUMPULAN MAJALAH DEWASA DI BELAKANG LEMARINYA AGAR IBUNYA TIDAK TAHU ANAKNYA SEBEJAT ITU!
"JANGAN BERGERAK, MANUSIA!"
.
.
.
"Baiklah, ayah berikan apapun yang kau inginkan bagaimana?"
" Tidak. Lagipula kenapa ayah begitu menginginkan persekutuan itu? Sungguh, mereka itu musuh dari sejak lama! Kenapa kau mudah sekali goyah hanya karena diiming-imingi perdamaian?"
"Dengar, Sehun. Ayah sudah terlalu tua untuk bertarung, suatu saat tanggung jawab besar ini akan diberikan padamu. Tapi ini terlalu berbahaya untukmu ─aku bahkan hampir menangis ketakutan saat pertama kali kau memegang pedang dan panah dulu─, dan sosok Wufan itu kuat. Dia akan bisa menjagamu dan desa kita."
"Kau... tidak percaya padaku?" ekspresi Sehun berubah kecewa mendengar penjelasan dari ayahnya.
"Tidak tidak, bukan begitu. Aku tahu kau kuat, tapi sebagai seorang ayah aku sangat khawatir kalau kau terluka."
"Kau tidak percaya padaku!" sahut Sehun dengan pernyataan telak dan ekspresi kecewanya yang mendalam. Ayahnya terlihat gelagapan dan hendak meyakinkan lebih lanjut, sebelum pintu menjeblak terbuka dan seorang quendi muncul dengan raut horror dan napas ngos-ngosan.
"Heera Feanor! Ada manusia yang menyusup ke desa kita!"
BRAK!
"APA?!" teriak dua quendi ayah-anak itu bersamaan.
Napas Sehun tertahan dan tubuhnya seolah berubah seperti jelly karena lemas, dadanya seolah akan meledak saking cepatnya denyutan di jantungnya saat ini. Tidak mungkin!
Jongin?
Tidak mungkin itu Jongin─
─kan?
"Ya. Dia menyamar dan menjadi murid Heru Yunho. Sekarang manusia itu ditahan oleh Heru Yunho!"
Itu Jongin!
Tangannya terkepal erat saat detakan jantungnya semakin menggila. Dan ketika ayahnya mengeluarkan titah, semua warna yang dilihatnya seolah memudar dan berubah kelabu.
"Siapkan tempat eksekusi!"
.
.
To Be Continue
.
.
A/N: yah, karena udah terlanjur bilang 'bakal tamatin fic ini apapun yang terjadi' jadi gue lanjutin, itu sejenis janji ya? jadi harus gue tepatin ya? Maaf mungkin chapter ini hambar nggak ada rasanya sama sekali. Mian, mian...
Oh ya mau ngejawab pertanyaan dari oniex dulu.
'Jadi selama ini Jongin pake topi?' Iya Jongin kalo keluar rumah Yixing pake topi, kenapa gak gue jelasin? Ya ribet aja soalnya kalo harus dijelasin tiap ganti scene. #plakk dan iya quendi punya telinga runcing.
'Apa quendi pake pakaian kaya manusia?' Nggak. sebenernya pengen make yg aslinya dari The Silmarillions, tapi rempong deh mereka pake jubah-jubah gitu. jadi bayangin aja kaya Hiccup gitu. kuno tapi oke!
FF ini terinspirasi dari anime apa? Gue sendiri gak tau. Emang ini mirip anime? Dari mananya? Sebelah mananya? 'o' Tapi yang jelas ff ini muncul setelah nonton HTTYD.
Pertanyaan dari nin nina:
'Haryon artinya apaan?' Err... gue bingung ngejelasinnya. Sehun anak kepala desa jadi dia juga dihormati. Gampangnya sih sejenis pangeran gitu deh. XD #slapped
'Kenapa sehun bisa tiba-tiba ada disana tau darimana kalo Jongin mau berguru sama yunho?' Yah kan Jongin itu orangnya mencolok di antara quendi, jadi tinggal tanya aja 'apa ada yang ngeliat Jongin?' lol...
Pertanyaan dari Huhuhehehe:
'Apa nel berpikiran mesum waktu mikirin Sehun kaya pas Jongin mikirin Sehun?' TEPAT SEKALI! #langsungjujur yeah gue selalu mikirin yang nggak-nggak tentang Sehun. Terutama pas liat bibirnya sama kulit lehernya yang putih otak fujoshi yadong tingkat dewa gue langsung aktif. Kalo kalian liat gue fangirling or spazzing secara live, dijamin sweatdrop deh. XD
Dari evilwu79:
'Ini sampe chapter berapa?' Bentar lagi tamat kok, tenang aja tuh udah mau masuk klimaks. Sabar ya...
Oke itu dia! Gue tau ff ini banyak bikin bingungnya, tanya aja oke?
Sampai jumpa chapter depan. rajin review ne?
