La Tulipe

.

.

.

Apriltaste

.

.

.

Oh Sehun

Luhan

.

.

HUNHAN/GS for Uke

Don't like ? Don't Read and Don't Bash !

Typo Everywhere

.

ANGST PROJECT HUNHAN GS

For HunHan Month

.

.

.

Karena kau seperti tulip, memiliki berjuta arti.

.

.

.

Raina..

Ya Ayah..

Kemarilah, aku ingin bercerita tentang Ibumu.

Ibu ?

Ya, seorang wanita yang telah mengijinkanmu melihat dunia dengan sejuta pesona yang dimilikinya.

Baiklah, aku akan mendengarkan.

Seoul 2017

Sinar hangat sang dewa matahari kembali menyapa, menghiasi setiap sudut kehidupan manusia yang terus berputar. Hiruk pikuk keramaian mulai terdengar di kota ini, tanda kehidupan manusia telah dimulai kembali. Semilir lembut dari sang angin tak menghalangi mereka untuk melakukan rutinitas mereka di pagi hari yang cerah. Bahkan sepasang burung gereja telah ikut bernyanyi untuk menyambut datangnya sang pagi, mengiringi sebuah kesibukan yang terjadi pada Gereja di seberang sana, kesibukan yang akan mengantarkan sepasang anak manusia membuka lembaran baru didalam hidup mereka.

Tampak disana, beragam manusia silih berganti keluar masuk dengan langkah cepat. Beberapa laki-laki menggunakan setelan mahal miliknya dengan sepasang fantofel yang mengkilap, sedangkan para wanita tak ingin kalah. Mereka menggunakan beragam dress terbaik untuk hari ini dengan hells berkilauyang menunjang penampilan mereka. Pada lorong Gereja, terlihat dua orang wanita dengan dress berwarna senada. Sebuah warna Peach yang melambangkan keanggunan, menggambarkan sebuah kelembutan. Mereka berjalan dengan langkah ringan, senyuman yang terus terpancar pada wajah cantik mereka seolah cukup memberikan jawaban jika mereka juga merasa bahagia pada hari ini.

Wanita dengan rambut hitam yang digulung itu membawa rangkaian bungan pengantin. Rangkaian yang terdiri dari beberapa tangkai tulip merah dan beberapa tangkai tulip putih ia bawa dengan hati-hati. Takut jika rangkaian itu rusak secara tiba-tiba. Di sampingnya seorang wanita lainnya membawa sebuah kotak panjang berwarna silver dengan label ternama yang terukir jelas pada atas kotak. Kedua wanita itu berjalan hingga berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih dengan ukiran emas yang menghiasinya. Mereka saling melemparkan senyum sebelum memutar knop pintu dengan hati-hati. Setelahnya pintu itu terbuka dengan lebar, membuat mereka membawa langkahnya untuk masuk lebih dalam.

Sebuah pancaran cahaya berwarna putih menghiasi seluruh ruangan itu, seorang wanita cantik bak sang dewi duduk di tengah ruangan. Wanita itu memakai sebuah gaun pengantin indah dengan ekor yang terjuntai panjang, rambut coklat madunya ditata terurai dengan make up natural yang memoles wajah cantiknya membuatnya tampak bersinar hari ini. Wanita dengan bibir merah itu terus tersenyum ketika beberapa bridesmaid yang membantunya menggodanya berulang kali hingga membuat rona merah muda samar yang muncul dikedua pipi putihnya, ia sangat cantik. Sungguh cantik.

"Ini Bungamu." Seseorang yang sedari tadi menatapnya dengan penuh senyum mengulurkan rangkaian itu padanya. Wanita yang menjadi Ratu hari ini pun tersenyum dengan gumaman terimakasih yang dapat didengar oleh lawan bicaranya. Wanita tadi yang membawa rangkaian itu tertunduk, mencoba merapikan beberapa titik gaun yang terlihat tak beraturan.

Wanita lainnya yang memegang kotak panjang itu masih berdiri disampingnya, kemudian berlajan dan terduduk di depan sang Ratu. Kotak itu ia buka perlahan, di dalam sana terlihat sepasang hells berwarna putih dengan ujung lancip yang indah. Membuat semua wanita diliputi rasa iri ketika melihat bagaimana indahnya hells itu. Sang bridesmaid hanya tersenyum ketika melihatnya, kemudian mengambil sepasang sepatu itu dengan tenang dan memasangkannya dengan lembut pada kaki jenjang milik Ratunya.

"Terimakasih Baekhyun." Sang Ratu tersenyum ketika sepasang hells itu telah menghiasi kedua kaki indah miliknya. Baekhyun, wanita yang memasangkan hellsnya itu membalas senyumannya. Ia kembali memainkan rangkaian bunga yang berada di genggamannya, menghirup aroma harumnya yang dapat menenangkan rasa gugup yang tercipta di dalam dadanya.

"Kenapa harus Tulip Merah dan Putih ?" Wanita yang tadi membawa bunga itu –Kyungsoo- bertanya hingga membuat para wanita lainnya didalam ruangan pengantin itu teralih padanya.

"Karena Merah adalah Cinta dan Putih adalah Kemurnian." Ratu itu tersenyum dengan binar kebahagiaan yang terlihat dalam sorot kedua mata indah miliknya. Membuat siapapun yang berada diruangan ini ikut tersenyum merasakan kebahagian yang telah dirasakan wanita itu.

Mereka saling meleparkan senyum satu sama lain, membuat candaan-candaan ringan yang dapat meringankan rasa gugup dari sang ratu. Diruangan itu, para wanita yang menggunakan dress peach adalah para bridesmaid yang juga para sahabat dari wanita dengan sepasang mata rusa itu. Mereka tampak bahagia karena wanita itu menjadi seseorang yang akhirnya menyusul gelar mereka sebagai seorang istri. Mereka juga ikut bahagia karena wanita itu telah memilih seorang pendamping yang sangat tepat.

Hingga pada akhirnya, semua senyuman mereka hilang ketika sebuah suara deritan pintu besar berwarna putih itu menyapa pendengaran mereka. Seseorang laki-laki berumur dengan rambut setengah memutih tampak berdiri diambang sana, lelaki itu menggunakan setelan hitam yang membuatnya tampak berwibawa. Dengan wajah hangat lelaki itu tersenyum. Menatap semua orang yang berada diruangan itu satu persatu dan berakhir menatap sang anak perempuannya yang berada di tengah-tengah para wanita itu.

"Sudah siap ? Upacara pemberkatan akan segera dilaksanakan."

.

.

.

.

Disebuah ruangan lain dengan altar putih yang tergelar indah, tampak beberapa para tamu undangan telah mengisi seluruh ruangan. Diujung altar sana didepan seorang Pendeta, seorang lelaki berdiri dengan tegap dan gagah. Lelaki itu menggunakan setelah putih gading miliknya, tampak dengan jelas lelaki itu berkali-kali menghembuskan nafasnya dengan perlahan mencoba menghalau rasa gugup yang telah membuat dadanya berdebar. Lelaki itu sangat tampan bak seorang Dewa Yunani pada masanya. Alis hitam miliknya dengan sorot mata setajam Elang, hidung dengan ujung lancip dan bibir tipis terbingkai garis rahang tajam miliknya. Rambut hitam kelamnya yang ditata keatas dengan postur tubuh tingginya membuatnya benar-benar digilai oleh kaum hawa diluar sana. Tapi, hanya satu hawa yang dapat meluluhkan hati dinginnya. Seorang wanita yang akan bersanding padanya di hadapan Tuhan saat ini.

Mata tajam itu berulang kali menatap sang Pendeta yang berdiri di didepannya. Pendeta itu hanya tersenyum, memaklumi bagaimana perasaan yang dirasakan lelaki muda itu. Hingga waktunya tiba, pintu besar diujung sana terbuka dengan perlahan. Menampakan seorang lelaki berumur tengah menggandeng wanita cantik dengan penutup kepala. Lelaki itu tersenyum ketika ia berhasil membalik badannya. Menatap sang pujaan hati yang semakin lama semakin mendekat kearahnya.

Jarak mereka semakin terkikis, hanya tersisa mungkin satu atau dua langkah kemudian, ayah dari sang wanita tersenyum kepada calon menantunya. Senyum seorang Ayah yang memberikan harta berharga dari dalam hidupnya.

"Ku Serahkan putriku padamu, Oh Sehun. Jaga dia baik-baik." Lelaki itu, menyerahkan sebelah tangan anak perempuannya yang menggenggam erat lengan miliknya, mengulurkannya kemudian kepada lelaki yang ia panggil Sehun.

Dengan senyuman yang tak luntur dari wajah tampan itu, Sehun dengan cekatan menggenggam tangan kecil itu mengisi rongga kosong dari tangan sang wanita dengan jemari miliknya. Membawanya berbalik untuk siap berjanji dihadapan Tuhan.

"Kau Oh Sehun, bersedia menerima Luhan untuk menjadi istrimu. Menjadi pendamping hidupmu dalam suka maupun duka, senang maupun sedih dan sehat maupun sakit." Begitu lantunan yang dibacakan oleh sang Pendeta dihadapan sepasang mempelai.

"Ya, Saya bersedia." Sehun berhasil mengucapkannya dengan satu tarikan nafas miliknya.

Sang Pendeta itu beralih menatap sang mempelai wanita kemudian tersenyum kearahnya.

"Kau Luhan, bersedia menerima Oh Sehun untuk menjadi suamimu. Menjadi pendamping hidupmu dalam suka maupun duka, senang maupun sedih dan sehat maupun sakit."

"Ya, Saya bersedia." Suara lembut milik Luhan mengalun dengan jelas pada telinga Sehun, membuat laki-laki itu merasakan hatinya menghangat. Luhan miliknya sekarang.

"Kalian telah resmi menjadi pasangan suami-istri dihadapan Tuhan, dan sang suami boleh membuka penutup kepala sang istri. Berikan ia sebuah ciuman." Pendeta itu tersenyum ketika upacara pernikahan telah berakhir.

Sehun yang menyadari apa yang diucapkan oleh sang pendeta hanya tersenyum, kemudian menatap sang istri yang berada disampingnya. Apakah ia harus mencium sang istri didepan para tamu undangan ?

Jemari panjang miliknya terulur untuk membuka kain transparan yang menutupi wajah cantik milik Luhan. Mengangkat penutup kepala itu keatas, selanjutnya sebuah sorot dari sepasang mata yang ia agungkan menatapnya dengan binar penuh cinta. Wanita didepannya itu tersenyum sekarang, membuat Luhan berlipat-lipat menjadi lebih cantik.

Jarak diantara mereka pun terkikis, Sehun terus mendekatkan wajah tampannya hingga membuat ujung hidung mereka bersentuhan. Lelaki itu sudah tak peduli dengan keberadaan para tamu undangan, yang ia pikirkan Luhan sudah menjadi miliknya seutuhnya.

Luhan, wanita itu hanya tersenyum lembut ketika menyadari gerak-gerik Sehun. Lelaki itu benar-benar gugup setengah mati. Sebelah tangan miliknya ia bawa untuk menyentuh lengan Sehun, mencoba memberikan sebuah ketenangan agar rasa gugup milik Suaminya itu berangsur menghilang. Sebenarnya, Luhan juga merasakan gugup yang luar biasa ketika wajah mereka saling mendekat dengan ujung hidung mereka yang bersentuhan.

Dengan gerakan spontan, Luhan menerima sentuhan lembut dari Sehun yang menyentuh bibir miliknya. Wanita itu memiringkan kepalanya agar sang Suami dengan leluasa memberinya sebuah kecupan penuh cinta. Hanya sebuah kecupan, karena setelahnya Sehun langsung menarik kepalanya kembali kemudian menatap Luhan yang hanya terdiam.

"Kita bisa melanjutkannya nanti sayang." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya, mencoba menggoda Luhan yang telah berubah menjadi kepiting rebus dengan wajah memerah.

Sebuah alunan nada indah mengalun dengan merdu didalam dada mereka. Nada cinta yang telah merasuki sepasang manusia yang telah resmi menjadi suami-istri. Mereka terus tersenyum, menggambarkan jika hari ini benar-benar menjadi hari yang paling dinanti. Hari yang menggambarkan bagaimana indahnya perjalanan cinta mereka.

Upacara pemberkatan pernikahan telah selesai, Luhan terus tersenyum ketika rangkaian bunga tulip miliknya ditangkap oleh Zitao. Teman perempuannya satu –satunya yang belum menikah. Wanita dengan mata seperti panda itu berteriak kegirangan ketika berhasil menangkap lemparan buket bunga pengantin dari Luhan. Ia berharap Kris –kekasihnya- segera menikahinya tentu saja.

Jemari panjang milik Sehun terasa sangat hangat ketika mengisi celah jemari milik Luhan. Sekarang mereka sedang berada di perjalanan menuju Apartemen. Lelaki tampan disampingnya terus menggenggam tangan Luhan sembari mengecupinya ringan. Membuat sang wanita terkekeh sembari menahan malu dengan semburat merah yang menghiasi kedua pipi miliknya.

"Hentikan Sehun." Kalimat itu sudah tak dapat Luhan tahan lagi. Luhan merasa malu sekarang, karena bukan hanya mereka berdua yang berada di dalam mobil ini. Ada seorang Sopir yang mengantar mereka.

"Kenapa ? Kau istriku sekarang." Sehun, lelaki itu tak mau mengalah. Dengan wajah polosnya yang tetap pada standar ketampanan yang dimiliki olehnya, Sehun tetap membawa sebelah tangan Luhan untuk ia kecupi kembali.

"Aku malu Sehun." Kepala kecil disampingnya kini menunduk dengan dalam mencoba menyembunyikan gurat-gurat rasa malu yang telah tercetak jelas pada paras cantiknya. Tanpa diduga, jemari panjang Sehun berada pada dagunya, kemudian yang ia rasa setelahnya tangan itu menarik kepalanya hingga kedua sorot miliknya bertatapan dengan sorot tajam milik Sehun. Mencoba mendekatkan wajah tampannya, menarik wajah Luhan pula agar menjadi lebih dekat. Kemudian membawa Luhan kedalam permainan hangat yang diciptakan oleh bibir tipisnya.

Kedua daging kenyal itu saling bertabrakan, melumat dan menghisap satu sama lain ketika merasakan sebauh rasa manis yang tercipta disana. Sehun membawa Luhan kedalam permainan memabukan miliknya. Sebelah tangannya menekan belakang kepala Luhan agar ia bisa leluasa menikmati bibir manis istrinya. Lidahnya menerobos masuk kedalam gua hangat milik Luhan, mencoba menikmati apa saja yang berada didalam sana. Bahkan didalam sana lebih manis dari bibir milik wanita itu. Luhan memejamkan matanya dan berusaha membalas apa yang dilakukan Sehun. Wanita itu terengah ketika Sehun berhasil mengambil alih tubuhnya. Ia benar-benar merasa lemas sekarang, hanya dengan sebuah lumatan Sehun berhasil membawanya melayang jauh keatas langit. Jika saja Luhan tak ingat mereka masih berada didalam mobil dan ada seorang lainnya mungkin mereka sudah melakukan hal yang lebih jauh. Sepasang tangan kecil itu memukul dada Sehun, mencoba memberi peringatan jika Luhan ingin menyudahi permainan ini. Lelaki itu menurut, ia menarik kepalanya dengan perlahan. Mencoba menikmati wajah Luhan yang memerah. Wanita itu segera meraup udara yang berada disekitarnya. Kemudian menatap Sehun dengan sebuah senyuman lembut. Cantik sekali.

"Jangan coba-coba didepan orang lain." Luhan mengancam Sehun dengan wajah yang menurut lelaki itu sangat lucu. Membuat Sehun terkekeh menjawab ucapan Luhan.

"Jadi, aku bisa melakukannya jika hanya berdua denganmu ?" Sehun kembali mengedipkan sebelah matanya. Membuat wanita disampingnya mendengus sebal dengan sikap yang ia buat.

"Sehun, jangan berpikiran yang tidak-tidak." Kali ini, Luhan melipat kedua lengannya didepan dada dengan bibir yang mengerucut. Tolong ingatkan pada Luhan, jika sikapnya sekarang malah membuatnya mirip dengan anak bibi Kim disebelah rumahnya.

"Aku ? Kau yang berpikiran tidak-tidak." Lelakinya menggodanya. Sehun benar-benar bahagia ketika melihat Luhan mulai merajuk seperti ini. Benar-benar jauh dari ekspektasinya, Luhan masih memiliki sisi manja yang membuatnya ingin terus berada di sisi wanita itu.

"Oh Sehun !" Dengan pipi merah dan disambut gelegar tawa Sehun yang meledak. Luhan benar-benar kesal sekarang.

"Aku mencintaimu Luhan !" Sehun mengecup pipi putih itu dengan cepat. Membuatnya mendapatkan pukulan-pukulan dari lengan ranting milik Luhan.

.

.

.

.

"Kau yakin tak menginginkan resepsi pernikahan ?" Sehun memeluk Luhan. Wanita itu sedang berdiri dibalkon apartemen mereka. Menikmati lembut angin sore yang membelai lembut tubuhnya. Desiran-desiran halus dari hembusan angin itu mampu menerbangkan beberapa anak rambut milik Luhan, hingga harum dari shampoo yang ia pakai pagi tadi menguar begitu saja. Memasuki indera penciuman milik Sehun, membuat lelaki itu semakin erat memeluk istrinya. Menenggelamkan ujung hidung mancung miliknya kedalam perpotongan leher milik Luhan. Menghirup dalam-dalam wangi tubuh sang wanita pujaannya.

Tubuh Luhan menegang ketika merasakan sebuah hembusan nafas hangat milik Sehun pada perpotongan lehernya, kemudian ia tersenyum ketika dengan sepasang lengan kekar itu melingkari pinggangnya dengan erat.

"Tidak, aku hanya ingin yang seperti ini. Sederhana, cukup dengan upacara pemberkatan. Dan aku milikmu." mata rusa itu menampakkan binarnya dan Luhan tersenyum, kedua tangannya yang semula memegang besi pembatas balkon itu beralih. Kini memegang kedua lengan Sehun yang memeluk erat tubuh kecilnya. Dari rasa hangat yang diberikan lelaki itu, Luhan merasakan sebuah kenyamanan yang lelaki itu ciptakan untuknya.

"Luhan.." Suara Sehun berubah. Yang Luhan tangkap Suara milik prianya menjadi lebih berat dengan deru nafas yang semakin tak beraturan. Lelaki itu kembali mengeratkan pelukannya. Menenggelamkan lebih dalam lagi penciumannya pada perpotongan leher milik Luhan. Wangi istrinya benar-benar membuatnya terbang, seperti mengarungi awan dengan seluruh gairah yang telah berada pada ubun-ubun.

Luhan hanya terdiam, wanita itu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Sehun. Kepalanya sedikit terangkat, membuat Sehun semakin bebas menghirup –membawa harum Luhan untuk memenuhi kepalanya.

Wanita itu mendesis tertahan ketika dengan dalam Sehun menghirupnya, ditambah dengan kecupan-kecupan basah yang telah lelaki itu ciptakan. Getaran-getaran samar menyenangkan tercipta dari dalam perut Luhan, bagaikan ribuan kupu-kupu telah terbang didalam sana. Luhan mendesah, bulir keringat telah membasahi dahinya. Ini gila, mereka bahkan sedang berada di balkon apartemen sekarang. Tangan kekar milik Sehun dengan pasti merambat keatas, meraba dan meremas apapun yang disentuhnya. Luhan membusung, membawa tubuhnya melengkung, ketika tangan Sehun kini berada diatas payudara miliknya. Jemari panjang milik lelaki itu memijatnya perlahan dengan gerakan lembut. Sedangkan bibir basah Sehun masih dengan setianya bermain pada lehernya meniptakan tanda-tanda merah yang pastinya akan berbekas disana. Sebelah tangan Sehun menarik tubuh kecil Luhan membuat tubuh mereka semakin menempel. Luhan merasa Sehun telah menyentuhnya dimana-mana, pada seluruh titik sensitif yang berada pada tubuh wanita itu.

"Sehun.." Suara Luhan terdengar lirih dengan getaran yang ditahan. Luhan benar-benar kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Sehun yang menyadari perubahan atas tubuh istrinya langsung menarik wanita itu membawanya kedalam apartemen.

"Bisakah aku membersihkan diri dulu ? aku belum mandi Sehun." Luhan berusaha melepaskan tubuhnya dari Sehun. Wanita itu menatap sang lelaki dengan raut polos miliknya, Sehun hanya terkekeh kemudian begerak menjauh dari tubuh istrinya. Sehun membawa arah pandangnya pada Luhan, lengan dengan jemari panjang itu terulur merapikan surai panjang kecoklatan milik Luhan.

"Sebenarnya, kau tak perlu mandi jika pada akhirnya akan berkeringat." Sehun tersenyum dengan sebelah mata yang mengedip jahil ke arah Luhan. Membuat Luhan kembali merasakan hangat yang tiba-tiba menjalar pada kedua pipinya. Kepala kecil itu tertunduk menghindari tatapan mata Sehun yang setajam elang. Dengan langkah kecil yang tergesa Luhan lebih memilih berlalu meninggalkan sang pujaan hati yang terkekeh dibalik punggung sempitnya.

Uap-uap hangat yang tercipta dari guyuran air memenuhi box mandi yang berada didalam ruangan yang didominasi oleh warna putih. Bahkan, uap-uap itu menempel pada box kaca yang semula tembus pandang membuatnya menjadi buram. Sebuah siluet wanita dengan lekuk tubuh yang indah sempurna tercipta disana, Luhan wanita itu memutuskan membersihkan dirinya setelah dibuat bersemu oleh Sehun. Memang, setelah pemberkatan tadi Luhan sama sekali belum membersihkan badan karena Sehun yang memakai kamar mandi terlebih dahulu.

Dan pikirnya sekarang, ini benar-benar masih di sore hari. Tak mungkin kan jika mereka akan melakukannya sekarang ?

"Lu, kau melupakan jubah mandimu." Suara Sehun membuat Luhan tersadar dari lamunanya. Ia melihat siluet seorang lainnya yang berdiri pada ambang pintu kamar mandi.

"Letakkan disana saja Sehun." Hanya sebuah suara. Suara lembut milik Luhan mampu membuat sang lelaki melangkah jauh untuk masuk kedalam ruangan itu.

Sehun benar-benar tak menyangka jika Luhan memilih mandi didalam box shower. Lelaki itu pikir, Luhan akan memilih merendam tubuhnya didalam bathup dengan air hangat. Sepasang matanya masih menatap dimana kotak buram yang dipenuhi uap itu berada. Siluet tubuh sempurna tercetak dengan jelas disana, membuatnya merasakan sesuatu yang tiba-tiba menegang di balik celana rumahan miliknya.

Langkah panjangnya membawanya mendekat pada box shower itu. Dan sepertinya sang istri belum menyadari keberadaanya yang sekarang telah berada dibalik pintu kotak kaca tersebut. Suara guyuran air dari shower tiba-tiba berhenti, Luhan telah selesai dari aktivitasnya membersihkan diri. Luhan berbalik untuk keluar dari kotak itu, selanjutnya setelah pintu box terbuka tubuh wanita itu menegang. Sehun berdiri disana, menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan. Menelusuri segala lekuk tubuh miliknya dengan tatapan yang tak terbaca.

Sekarang, salahkan Luhan yang melupakan jubah mandinya dan membuat Sehun masuk kedalam kamar mandi. Tubuh telanjangnya di dorong oleh lelaki itu untuk masuk kembali pada box shower. Hingga Membuat punggung polosnya merasakan basahnya kaca yang tertutupi oleh uap-uap air hangat.

Mungkin saat ini, tubuh Sehun di kuasai oleh sisi gelapnya. Lelaki itu langsung melumat bibir kecil milik Luhan tanpa ampun, hingga membuat wanita itu merasakan sesak didalam rongga dadanya. Box shower ini benar-benar sempit ditambah dengan bekas uap air hangat yang membuat pasokan oksigen didalam sana benar-benar menipis.

Bahkan Sehun tak peduli jika kedua tangan ranting milik Luhan terus memukul dadanya, memaksanya untuk melepaskan ciuman basah ini. Sehun sedikit mengerti kemudian, lelaki itu menarik wajahnya dari wajah Luhan. Membuat sang wanita mengais udara disekitarnya dengan rakus. Luhan benar-benar ingin mati dibuatnya.

Sementara Luhan masih mengisi rongga dadanya dengan udara, Sehun kembali bermain disana –pada perpotongan leher wanita itu- membuat Luhan kembali mendesah berat karena ulah Sehun.

"Hentikan Sehun." Suaranya terdengar bergetar karena perilaku Sehun yang tiba-tiba menyerangnya seperti ini. Punggungnya sedikit sakit karena membentur dinding kaca terlalu keras.

"Aku suamimu Luhan." Ucapan Sehun dengan suaranya yang begitu mengintimidasi membuatnya tersadar sekarang. Luhan sudah berubah status, ia istri Sehun sekarang. Biar bagaimanapun, wanita itu harus memenuhi kebutuhan suaminya. Tapi, tubuhnya sekarang benar-benar terasa lelah. Luhan belum siap.

Sehun membawa kecupan-kecupan ringannya kebawah, menyusuri garis sensitif milik Luhan. Mengecup dada wanita itu bergantian hingga sang pemilik mendesah tertahan. Tubuh Luhan sangat indah dan Sehun mengangguminya. Lelaki itu terus mengecup, menghisap dan membasahi apapun yang dilewati oleh bibirnya. Kulit putih milik Luhan bahkan telah berubah menjadi bercak-bercak merah yang diciptakan oleh Sehun.

Luhan merasakan tubuhnya memanas karena sentuhan yang diciptakan oleh Suaminya, bibir hangat itu menyentuh apapun yang membuatnya mendesah dengan mengangkat kepalanya. Bahkan, perut datar dan pinggangnya disana tak luput dari sentuhan lidah milik Sehun.

Perutnya terasa bergetar ketika Sehun sampai pada pusat tubuhnya, getaran-getaran asing memenuhinya. Luhan merasa ia benar-benar seperti diterbangkan di udara, membuatnya tersenyum ketika berkali-kali Sehun mengucapkan kata-kata yang sama dibawah sana.

Kau Indah.

Ini benar-benar membuat Luhan merasakan terbang dilangit.

Membuatnya sampai pada titik tertinggi rasa gairahnya.

Lidah panjang dan hangat milik Sehun masih bermain di pusat tubuhnya, menusukkannya dengan lembut disana. Beberapa kali klitoris miliknya lelaki itu hisap hingga membuat wanita itu menengang sembari memejamkan mata mencoba menikmati sensasi oleh lelaki itu berikan.

Ini adalah pengalaman pertama milik Luhan, wanita itu benar-benar tipikal seorang wanita baik-baik dan mematuhi apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Jadi, Luhan lebih memilih pasrah dan tak menolak sekarang, karena ini adalah tugasnya sebagai seorang istri. Memenuhi apapun keinginan lelaki itu.

Udara didalam kotak kaca itu benar-benar terasa menghilang, Luhan bahkan kesulitan bernafas dengan bulir-bulir keringat yang kini membasahi tubuhnya. Wanita itu seperti merasakan jika sebentar lagi akan ada sesuatu yang meledak dibawah sana. Penglihatannya tiba-tiba memutih ketika sebuah rasa asing menyenangkan menggelitik dasar perutnya.

"Sehun, sepertinya aku akan keluar." Luhan membawa pandangannya kebawah, melihat kepala dengan rambut hitam kelam itu masih bergerak-gerak dibawah sana. Luhan tak tahan sekarang, kepala kecilnya ia bawa mendongak dan kemudian sebuah bayangan putih menghantamnya. Getaran itu berubah menjadi pelepasan gairah pertama miliknya dengan nama Sehun yang mengiringinya. Wanita itu menyebut nama Sehun dalam pelepasan indah miliknya. Membuat sang pemilik nama dibawah sana tersenyum ketika mendengar suara merdu itu dengan rasa manis yang menyapa indera pengecapnya.

Sehun merasa cukup sekarang, Luhan telah siap dan basah untuk menerimanya. Lelaki itu kembali membawa tubuhnya agar sejajar dengan Luhan. Sehun terus mengamati wajah Luhan yang entah kenapa tampak terlihat lebih cantik disaat seperti ini. Kedua kelopak dengan bulu mata panjang itu tertutup, bibir ranum kecilnya terbuka dengan dadanya yang naik turun. Luhan masih menikmati pelepasan pertama yang diciptakan oleh Sehun.

Sadar jika tubuh Luhan semakin melemas, Lelaki itu membawa tubuhnya agar menempel lebih dekat dengan sang istri. Membawa sebelah lengan kurus Luhan untuk ia lingkarkan pada lehernya dan sebelah tangannya yang lain terselip diantara kedua lutut Luhan. Kemudian bak mengangkat sebuah kapas, dengan ringan Sehun Mengangkat tubuh wanita itu-memindahkannya kedalam kamar-

.

.

.

.

Yang Luhan rasa, punggung polosnya telah menyentuh sebuah permukaan hangat dengan lembut. Tak ada lagi rasa dingin dari kaca yang menyentuh kulitnya. Hanya saja, sentuhan hangat dari suaminya telah menghilang berganti dengan udara yang kini membelai lembut tubuh polos miliknya.

Sehun bangkit setelah meletakkan tubuh Luhan diatas ranjang. Lelaki itu dengan hati-hati meletakkan tubuh Luhan bak sebuah porselen yang siap pecah kapan saja.

Setelahnya, Sebuah lengkungan tipis tercetak samar pada bibir Sehun. Ia tersenyum ketika melihat istrinya yang benar-benar sangat memikat hatinya. Tanpa pikir panjang lagi, lelaki itu membuka atasan miliknya. Menampakkan tubuh dengan otot dada yang kuat dan beberapa otot perut yang membentuk sebuah pack sempurna.

Selanjutnya dengan perlahan Luhan membuka kedua kelopak matanya ketika Sehun tersenyum kearahnya, kemudian sebuah kecupan hangat menghampiri keningnya.

Oh Tuhan, Luhan benar-benar menyukai saat seperti ini.

Penuh kehangatan.

"Aku mencintaimu." Suara rendah milik Sehun menghampiri telinga Luhan, ia tak sadar jika suaminya itu telah melepaskan semua kain yang ada pada tubuh atletisnya, membuat Sehun sama seperti Luhan. Tak menggunakan sehelai benangpun. Kemudian, dengan pelan Sehun merangkak diatas tubuh istrinya. Sedikit membebankan berat tubuhnya pada Luhan –menghimpit wanita itu-

"Kau siap ?" Sadar dengan apa yang dikatakan Sehun, Luhan membawa pandangannya turun kebawah. Ia sedikit menegang ketika melihat sesuatu dibawah sana. Kejantanan milik Sehun telah menegak dengan urat-urat yang menonjol. Kelopak rusa itu sedikit membesar ketika menangkap apa yang berhasil korneanya lihat.

"Sehun, bagaimana bisa..." Lirih tapi pasti. Ia ragu sekarang.

Luhan belum selesai dengan ucapannya ketika lelaki itu kembali mendekatkan wajah mereka, mengecupnya sekilas.

"Percaya padaku, kau boleh berteriak atau mencakarku jika perlu. Kau akan baik-baik saja sayang." Sehun tersenyum dengan menatap sepasang mata yang penuh keraguan disana.

Lelaki itu kembali mengecup wanitanya, mencoba menenangkan Luhan jika semua ini akan baik-baik saja.

"Bagaimana ? aku akan melakukan ini dengan ijinmu. Jika kau benar-benar tak siap tak apa." Sehun tersenyum lembut. Demi Tuhan, ia bahkan rela menyerah disaat sudah sangat siap seperti sekarang.

Hening.

Luhan hanya menatapnya dengan sebuah sorot yang tak dapat diartikan lelaki itu.

Beberapa detik kemudian yang ditangkap oleh sepasang mata tajam itu adalah sebuah lengkungan lembut dari bibir wanitanya. Luhan tersenyum dengan sebuah anggukan pelan.

"Aku Siap." Dengan satu hembusan nafas, wanita itu siap dibawah Sehun sekarang. Suaminya.

Dengan sebuah kecupan lembut yang diberikan Sehun, ia memulai pergerakannya. Sebelah tangannya ia bawa untuk mengelus kemudian mengarahkan batang kejantanannya pada surga miliknya. Luhan membawa kepala kecilnya untuk mendongak keatas, menahan rasa sakit yang semakin lama semakin terasa pada area kewanitaan miliknya.

Sehun melumat bibir ranum itu ketika menyadari Luhan menahan sebuah rasa sakit dibawah sana, Bahkan lelaki itu terus menghisap dan melumat bibir Luhan ketika ia merasakan sesuatu yang mencengkram kejantanannya. Sebuah penghalang dirasakan oleh Sehun, sebuah jalan yang ditutup oleh sesuatu. Mungkin ini saatnya, lengan kanannya ia bawa untuk memegang pinggul Luhan, sedikit mengangkatnya agar Lelaki itu dapat bergerak dengan leluasa. Sedangkan Lengan kirinya, ia bawa pada tangan Luhan. Mengangkat lengan kurus itu pada samping kepala sang wanita, kemudian mengisi ruas kosong jemari milik Luhan dengan jari panjang miliknya -menggegamnya dengan erat- Bersamaan, dengan sekali hentak Sehun berhasil menerobos kewanitaan Luhan, membuat wanita itu meringis ketika merasakan sakit yang luar biasa pada rahimnya. Tangannya yang kosong ia tancapkan pada punggung Sehun, mencoba menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan. Pertahanan Luhan benar-benar runtuh sekarang. Ia telah menjadi seorang wanita bersuami.

Ketika rasa sakit itu datang, Luhan merasakan sebuah bulir-bulir yang mencoba berlomba membasahi kelopak matanya. Ia menangis.

"Tak apa, aku disini." Itu bisikan dari Sehun yang Luhan dengar. Membuatnya dengan berani membuka kelopak matanya, menatap sang lelaki yang berada diatasnya. Mengecupi bibir dan dahinya secara bergantian.

"Bergeraklah.." Dengan suara lirih yang hanya dapat Sehun dengar, wanita itu tersenyum kearahnya dengan sisa-sisa air mata. Luhan tak ingin Sehun menunggu lebih lama lagi. Tanpa jawaban dari Sehun, lelaki itu bergerak dengan perlahan. Memaju mundurkan pinggulnya, mencari-cari dimana titik terdalam milik istrinya.

Gerakan-gerakan yang dibuat oleh Sehun membuat Luhan memanas, membuat wanita itu terus mengucapkan nama lelakinya. Desahan milik Luhan dan geraman nikmat yang keluar dari bibir Sehun memenuhi kamar mereka. Pendingin ruanganpun seolah-olah tak berfungsi ketika tubuh mereka dipenuhi dengan bulir-bulir keringat dengan hembusan nafas panas. Sehun tanpa ampun terus menghujamkan kejantanannya pada pusat Luhan membuat wanita itu benar-benar terbang tinggi hingga mencapai langit, berkali-kali yang Luhan rasakan perutnya yang bergetar dan hangat. Berkali-kali pula wanita itu mendesahkan nama Sehun dengan panjang, dan entah keberapa kali pula perutnya terasa seperti digelitik. Sentuhan-sentuhan lembut yang diciptakan oleh Sehun benar-benar membuatnya lupa diri sekarang. Bisikan-bisikan penuh cinta terus memenuhi telinga Luhan membuat ruangan luas itu semakin memanas dengan kegiatan mereka. Bahkan mereka sudah tak peduli lagi jika sekarang, matahari belum sepenuhnya tenggelam diluar sana.

Hingga pada saatnya, dengan sekali hentak pada titik terdalam milik Luhan, Sehun menggeram karena merasakan miliknya dicengkeram terlalu kuat dibawah sana. Sedangkan Luhan, wanita itu mendesah dengan tubuh melengkung ketika merasakan milik Sehun semakin membesar dibawah sana. Sehun terus mengejar puncaknya dengan tusukan-tusukan yang membuat pandangan Luhan memutih. Hingga pada tusukan terakhir, tubuh Luhan mengejang. Wanita itu juga tak dapat menahan lagi pelepasan miliknya yang kesekian kali. Sehun mendesahkan nama Luhan bersamaan dengan sebuah semburan hangat yang memenuhi rahim Luhan. Bibir kecil Luhan bahkan terus mengucapkan nama Sehun ketika ia merasa sesuatu sampai pada puncak kenikmatan tertinggi milik mereka.

"Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Terimakasih telah menerimaku." Bisik Sehun tepat didepan bibir Luhan.

"Aku juga mencintaimu. Oh Sehun. Terimakasih pula kau telah memilihku."Luhan tersenyum dengan membawa kecupan ringan pada bibir Sehun.

.

.

.

.

Hari ini sudah lebih dari tiga minggu Luhan mendapat memar ditubuhnya. Bercak-bercak berwarna biru keunguan itu tiba-tiba saja muncul tanpa ia ketahui apa penyebabnya. Awalnya, bercak itu muncul di pinggangnya pada pagi hari setelah malam panas pertama mereka. Luhan hanya berpikir mungkin Sehun mencengkram bagian pinggang itu terlalu kuat hingga membuat memar tanpa disengaja disana. Tapi, akhirnya wanita itu sadari memar itu bahkan muncul ketika ia tak melakukan hal yang menyakiti tubuhnya. Atau mungkin ini semua hanya tanda kelelahan ? karena akhir-akhir ini Luhan juga sering merasa sakit pada kebagian kepalanya dengan tubuh yang tiba-tiba terasa mudah lelah.

Seperti saat ini, Luhan hanya berdiam diri pada sofa yang terletak di ruang tengah apartemen miliknya. Hembusan nafas lirih keluar dari bibirnya yang kemudian mengerucut, jemari tangan miliknya mengusap pelan beberapa memar yang muncul pada kakinya. Dan karena memar-memar itulah Sehun tak mengijinkan Luhan untuk bekerja kembali. Wanita itu benar-benar diberhentikan dari perusahaannya, Sehun terlalu khawatir dengan keadaan tubuhnya untuk beberapa minggu terakhir.

Luhan tak terbiasa sendiri, wanita dengan wajah cantik itu cepat bosan dengan keadaan yang terlalu hening.

"Masih jam lima sore." Luhan memilih bangkit dari duduknya, kemudian berjalan kearah dapur yang tak jauh dari tempatnya semula. Memilih berkutat disana dengan beragam alat masak yang terbuat dari alumunium. Luhan mulai menyiapkan makan malam untuk Sehun.

Wanita itu terus bersenandung dengan suara miliknya yang merdu bagaikan hembusan angin musim semi yang dengan lambut membelai kulit. Menyenangkan.

Beberapa bahan masakan telah ia persiapkan, wanita itu menunduk ketika memotong beberapa tangkai sayur yang dibutuhkannya. Tiba-tiba hidungnya terasa aneh, seperti ada sesuatu yang merembes keluar dari sana. Sebuah bercak merah terjatuh mengenai alas potong yang digunakannya. Luhan mengalami pendarahan pada hidungnya.

Kepala kecilnya ia bawa untuk mendongak agar cairan merah itu tak jatuh kembali, sedangkan tangan kanannya sibuk mencari dimana letak tissue berada. Setelah mendapatkannya, gulungan kecil itu ia bawa untuk menyumbat hidungnya.

"Astaga apa yang terjadi padamu ?" Sebuah suara baritone terdengar, ketika Luhan sudah membawa tubuhnya untuk kembali bersandar pada sofa yang terletak diruang tengah. Wanita itu gagal membuat makan malam untuk suaminya.

Luhan membuka matanya ketika mendengar suara disusul dengan langkah tergesa dan kemudian merasa sebuah gerakan halus disampingnya. Suaminya sudah kembali. Sehun duduk disana dengan raut khawatir yang terpampang jelas pada wajah tampan itu.

"Kau sudah pulang ?" Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Luhan melontarkan pertanyaan untuk suaminya dengan senyuman yang selalu ia berikan ketika lelaki itu merasa lelah dengan pekerjaan di perusahaan.

"Apa yang kau lakukan seharian ini ? kenapa bisa seperti ini ?" Sehun mengelus pipi Luhan ketika melihat gumpalan tissue yang penuh dengan bercak kemerahan. Sehun benar-benar tak tega melihat Luhan seperiti ini. Melihat tubuh Luhan dipenuhi memar saja sudah membuat Sehun ingin mengunci Luhan didalam kamar, agar wanita itu bisa tidur seharian berharap memar itu akan hilang kemudian.

"Tak ada yang kulakukan, hanya duduk menonton televisi. Membersihkan rumah dan menunggumu pulang." Jawab Luhan dengan sebuah gelengan kecil sebelumnya.

"Sudah kukatakan berulang kali padamu, kita membayar asisten rumah tangga saja untuk mengurus rumah." Dan sudah berulang kali pula Sehun mengatakan hal yang sama pada Luhan.

"Tidak Sehun, aku bisa melakukannya sendiri. Aku istrimu dan aku yang akan melayanimu, memenuhi semua kebutuhanmu." Dan sudah berulang kali Luhan menjawab dengan jawaban yang sama.

"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan." Luhan tersenyum, mencoba meyakinkan jika tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh lelaki itu. Tapi, Sehun benar-benar tak bisa menghilangkan rasa khawatir miliknya begitu saja.

"Akan kusiapkan air hangat untukmu."

Ketika melihat Luhan berlalu dari hadapannya, Sehun tersadar wanita itu banyak kehilangan berat badan bahkan wajahnya sedikit memucat. Sudah berapa lama Sehun tak memperhatikan istrinya ? Sudah berapa lama pula wanita itu menjadi seperti ini ? Sehun merasa menjadi seorang suami yang gagal sekarang. Bukan hanya dirinya yang ingin merasa diperhatikan, tapi Luhan. Wanita itu juga membutuhkan sebuah perhatian darinya. Ia menjadi menyesal karena terlalu sibuk akhir-akhir ini.

Langkah panjangnya ia bawa untuk menyusul Luhan yang berjalan menuju kamar utama. Setelah melalui pintu besar dengan warna dominan abu-abu, Sehun melihat Luhan yang terduduk didepan meja rias milik wanita itu.

"Ah, airnya sudah siap Sehun." Wanita itu sedikit terkejut ketika melihat bayang Sehun yang berdiri dibelakangnya melalui cermin.

"Sebenarnya, apa kau mempunyai sebuah masalah Luhan ? katakan padaku." Sehun mendekati wanitanya, berdiri persis dibelakang Luhan. Beradu tatapan dengan wanita itu melalui cermin besar dihadapan mereka.

"Tidak, aku tidak mempunyai masalah apapun. Sungguh, aku hanya kelelahan Sehun." Luhan mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Suaminya sangat khawatir dengan keadaannya. Kondisi tubuhnya lebih tepatnya.

Wanita itu berdiri, membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan tubuh tinggi Sehun. Menuntun lelaki itu agar duduk dipinggir ranjang.

"Ada yang ingin kutunjukkan padamu Sehun." Luhan tersenyum ketika melihat raut bingung pada Sehun. Lelaki itu tak mengerti maksud dari perkataan istrinya. Sehun hanya terdiam mengamati wanita itu ketika Luhan berjalan menjauhinya, berjalan menuju lemari kecil yang dipenuhi laci dan bingkai-bingkai foto mereka diatasnya. Luhan membuka sebuah laci yang terletak pada posisi paling atas. Mengambil sesuatu yang tak dapat Sehun lihat dengan jelas karena wanita itu langsung menyembunyikannya pada balik tubuhnya ketika tatapan mereka kembali beradu.

"Maafkan aku jika baru memberitahunya sekarang, aku mendapatkannya tiga hari yang lalu." Luhan mendekat dengan kepala menunduk. Dan Sehun tahu pasti ada raut ketakutan yang tercetak pada wajah cantik milih istrinya.

"Ini untukmu." Sepasang lengan putih milik Luhan terjulur dihadapan Sehun, wanita itu membawa sebuah benda panjang tipis di genggamannya. Tanpa berpikir dua kali, Sehun mengambil benda itu dan terkejut ketika mengetahuinya. Sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah pada ujungnya. Luhan positif. Luhan hamil, mengandung buah hatinya didalam sana.

Sehun tak dapat lagi membendung rasa bahagia yang memenuhi rongga dadanya, lelaki itu membawa tubuh kecil Luhan mendekat dan menenggelamkannya pada pelukannya. Berulang kali Sehun mengecup lembut puncak kepala Luhan, membawa kecupan itu pada kening Luhan dan turun pada bibir ranum itu.

"Terimakasih Luhan, Terimakasih." Sehun mengeratkan pelukannya, dan Luhan terus tersenyum didalam kehangatan yang diciptakan oleh Sehun.

"Kau yang terbaik Sehun." Luhan membalas pelukan Sehun tak kalah erat. Mencoba ikut menyalurkan betapa bahagianya dirinya saat ini.

Selamat datang di dunia, baby.

.

.

.

.

Dunia selalu berputar dan tak terasa waktu telah cepat berlalu. Sudah lima bulan Luhan mengandung buah hatinya, dan sudah lima bulan pula wanita itu dengan rutin memeriksa bagaimana keadaan si mungil. Hidupnya terlalu indah selama lima bulan ini, Sehun menjadi lebih sering meluangkan waktu untuknya ditengah jadwal miliknya yang sangat padat. Lelaki itu selalu berusaha memenuhi apapun yang diinginkan oleh Luhan. Bahkan disela-sela jadwal padat Sehun, Lelaki itu selalu menyempatkan diri untuk menemani sang istri duduk pada barisan para calon ibu.

Rumah sakit, mereka berdua telah berada disini sejak satu jam yang lalu. Sehun dengan setelan kerjanya menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Kening Sehun mengkerut ketika merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam genggamannya. Tangan Luhan basah, wanita itu berkeringat. Sehun membawa pandangannya pada Luhan. Wanita itu terlihat tampak lebih pucat dengan bulir-bulir keringat dingin yang memenuhi keningnya. Bibirnya yang terpoles lipstick bahkan terlihat sangat pias.

"Kau baik-baik saja ?" Tangan milik Sehun ia bawa ke kening istrinya, mencoba mengukur suhu badan disana. Panas, Luhan demam."

"Sehun.. bisakah kita pulang ?" suara Luhan terdengar bergetar sekarang, wanita itu berusaha memeluk tubuhnya sendiri ketika merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya sampai ke tulang.

"Tidak, aku akan membawamu ke gawat darurat." Belum selesai Sehun membawa tubuhnya untuk berdiri, Luhan sudah terlebih dahulu ambruk pada pelukannya. Wanita itu telah kehilangan kesadaran.

Sehun mengangkat tubuh Luhan, hingga menarik perhatian beberapa orang yang berada disana. Tahu jika dalam keadaan genting, seorang perawat membantuh Sehun untuk membawa Luhan ke Departemen gawat darurat. Langkah panjang Sehun ia bawa dengan tergesa ketika merasakan hawa panas menerpa perpotongan lehernya, Suhu tubuh istrinya meningkat.

Beberapa perawat langsung meminta Sehun untuk menurunkan Luhan pada ranjang gawat darurat ketika mereka sampai disana. Dengan perlahan, lelaki itu meletakkan tubuh Luhan dengan hati-hati pada ranjang rumah sakit.

"Apa yang terjadi padanya ?" Seorang dokter jaga menghampiri Luhan, kemudian bertanya pada Sehun sembari memeriksa bagian vital Luhan.

"Dia demam, dan tiba-tiba pingsan." Nafasnya terengah ketika menjawab pertanyaan sang dokter. Sehun kalut sekarang, tapi laki-laki itu berusaha tetap tenang berharap kondisi Luhan baik-baik saja.

"Kau bisa keluar sebentar." Perintah Dokter lelaki itusembari menatap Sehun sekilas. Hingga membuat Sehun lebih memilih perintah sang dokter.

Kondisi Luhan tidak lebih baik dari sebelumnya, wanita itu selalu mengeluh kelelahan pada Sehun. Terkadang, beberapa memar juga kembali muncul pada tubuhnya. Dan beberapa kali pula, Luhan kembali mengalami pendarahan pada hidungnya. Hingga suatu saat Sehun pernah menemukan Luhan pingsan didalam kamar mereka. Itu semua benar-benar membuat Lelaki itu khawatir dengan kondisi Luhan yang sebenarnya. Luhan hanya mengatakan ia baik-baik saja atau ini semua adalah efek dari kehamilan yang pertama kali ia jalani. Bodohnya, Sehun mengalah pada semua ucapan Luhan. Lelaki itu terlalu percaya pada wanitanya.

"Tuan Oh." Seorang perawat menyadarkan lamunan Sehun hingga membuat punggungnya menjauh dari sandaran kursi dan membawa pandangannya pada seorang wanita berseragam putih.

"Anda harus menemui Dokter Kim." Perawat itu membawa Sehun pada sebuah ruangan yang tak jauh dari unit gawat darurat. Dengan diam, Sehun mengikuti wanita itu untuk masuk kedalam sana. Menemui seorang Dokter yang tadi dengan sigap menangani Luhan.

"Oh Sehun. Silahkan duduk." Mungkin umur sang Dokter dengan Sehun setara karena dilihat dari wajah mereka yang sepertinya hanya terpaut beberapa bulan. Dokter itu tersenyum ketika melihat Sehun menarik kursi dihadapannya dan duduk disana.

"Aku tak akan berbasa-basi, mulai kapan keadaan tubuh istri Anda berubah ?" Kim Junmyeon, nama lengkap yang terukir pada papan kaca yang terletak diatas meja itu. Sehun mencoba mengingat kembali sejak kapan keadaan Luhan menjadi seperti ini.

"Sekitar Lima Bulan yang lalu. Luhan menjadi lebih merasa lelah, beberapa kali mengalami pendarahan pada hidungnya, muncul memar secara tiba-tiba pada tubuhnya dan aku juga pernah menemukan ia pingsan." Jawabnya dengan menatap lurus Junmyeon. Lelaki didepan Sehun itu hanya menghembuskan nafasnya berat, tangannya menarik kacamata yang dipakainya. Melepasnya dan meletakkan diatas meja.

"Apa memang Anda tidak tahu mengenai hal ini ?" Junmyeon memajukan tubuhnya.

"Yang ku tahu, mungkin ini hanyalah tanda-tanda kehamilannya. Luhan benar-benar tak ingin kubawa kerumah sakit."

Entah darimana Junmyeon akan mengatakan hal ini karena pasiennya adalah sepasang calon orang tua. Mungkin, mereka akan merasa sakit hati jika Junmyeon mengatakannya. Tapi, ia adalah seorang dokter yang akan mengatakan hal sebenarnya terjadi. Sebenarnya pula, ia harus melakukan beberapa tes lagi untuk memastikan kondisi Luhan. Pada pemerikasaan awal dengan tes darah yang sempat ia lakukan pada Luhan, sungguh membuatnya yakin jika dugaannya benar-benar tak salah. Dan dua nyawa ada pada tangannya sekarang.

"Oh Sehun, aku sudah melakukan tes darah pada istrimu. Dan hasilnya juga sudah keluar sekarang." Junmyeon membuka map berwarna coklat didepannya, menagamati isi laporan yang tertulis disana. Laporan kondisi pasien yang bernama Oh Luhan.

"Oh Luhan istrimu, terkena Leukimia."

.

.

.

.

TBC

Happy HUNHAN DAY !

Still believe what you wanna belive. And let's be strong together.

Yeay.. oiya Happy Birthday Daddy Sehunnn... /kecup-kecup dipipi/

Semoga makin ganteng, makin gede, gede badannya bukan anunya /hohoho/ semakin tahan lama ya dadd /mesum emang/

Yuri bawa Chapter 1 nih buat projectnya, alurnya kecepeten ? biarin deh namanya project. Jadi ga bakal punya anu panjang. Chapternya maksudnya. Malah rencananya mau dibikiin oneshoot. Kan sayang T_T

Maafin kalo Angst tapi ada ena enanya. Udahlah ku emang ga polos lagi -.-

Tapi kuyakin ini ga Angst -.-

OIYA YURI UPDATE DOUBLE BARENGAN SAMA ONEDAY !

Please Review ya. Budayakan Review karena satu Review dari kalian berharga buat membangung semangat dan mood Yuri

Update barengan anak-anak mesum yang katanya masih polos -.-

Baekbeelu,HHS Hyuga L,Arthur Kim, sehooney

Semalem ada juga dari; HunHanslays dan Ramyoon

UDAH YA JANGAN LUPA REVIEW~

See You cintah :*

-Keep the faith –SL-