Chapter 2.
I CARE FOR YOU
Hunkai or Hunhan?
Drama Hurt/Comfort
T -to- M
WARNING : : Yaoi,Typo,Shounen ai,Boy X Boy, Boys Love fic.
DONT LIKE SO DONT READ IT, SIDERS GO AWAY/? , HATERS I DONT CARE squint emotikon
")/
I dont Own the Cast of EXO or another..
"Kai! Kai! Bangun!"
Seseorang mengguncang bahu Jongin keras, Jongin membuka matanya gusar. Dilihatnya seseorang itu malas.
Sulli—gadis itu tersenyum memberikan secarik kertas kecil, Jongin mengambilnya lalu dibaca.
DUKK
"Ash, guru itu .." Jongin menelungkupkan kepalanya lagi ke meja. Kertas tadi ternyata pemanggilan ke ruang BK. Jongin mengerang mengundang tatapan penasaran Sulli.
"Ada apa? Kau dipanggil lagi? Kenapa? Karena bertengkar atau membuat keributan? Jawab kai!"
"Diamlah, Sulli."
"Yah! Jawab dulu! Kai tung—HEI!"
Setelah berkata seperti itu, Jongin menyambar tasnya keluar kelas. Tangannya yang lain meremas erat kertas disana. Sulli memanggil nama Jongin keras, tapi namja itu sudah menghilang dibalik pintu. Sulli menghela nafas, dasar Jongin.. Suka seenaknya.
.
.
BRAKK
"YIFAN!?"
Pintu ruang BK ditendang kasar, Jongin masuk dengan kedua tangan mengepal.
"Tenanglah, sayang. Aku disini."
Pria bertubuh tinggi tegap menyambutnya, Jongin melangkah cepat kesana. Rasanya ingin menghantam kepala guru itu dengan batu kali besar. Kris— pria yang dipanggil yifan menghindar tepat sebelum murid berkulit tan itu akan memukul wajah tampannya. Jongin mendesis tak terima pukulannya meleset.
"Ada apa?"
"Ada apa kau bilang! Berhenti lah membuat panggilan untukku."
Jongin pasti sudah memukul pipi itu jika bukan tangan lain yang menduhuluinya. Kris menatap Jongin datar, dia mencengram kepalan tangan Jongin erat. Jongin meringis, menatap pria didepannya kesal.
"Tak bisakah kau jaga sikapmu, aku gurumu." Kris membalik keadaan keduanya, Menghempaskan tubuh Jongin ke tembok lalu menyudutkannya dengan mudah.
"Kris!"
"Kubilang tenang!"
Kali ini Jongin mengerang kecil merasakan nyeri di rahangnya. Guru BK ini sudah melukai aset wajahnya. Jongin mulai berontak, berusaha melepaskan diri dari kekangan Kris. Tapi sulit, karena bandingan tubuhnya yang jauh lebih kecil dari Kris.
"Khh, lepaskan aku. Jelaskan saja kenapa memanggilku,bodoh?!"
Kris menggeram tidak suka, dia memalingkan wajahnya menghindari sorot marah dari Jongin—keponakannya. Ya, Kris atau Wu Yifan adalah paman tiri Jongin dari pihak sang ayah. Sedikit informasi, keduanya tidak pernah berbicara tanpa kekerasan. Lebih sering berakhir dengan Jongin sendiri yang babak belur jika tak ada dari mereka yang sadar untuk mundur dan mengalah.
Jongin terdiam saat Kris memalingkan wajahnya, dia menghela nafas pelan. Mungkin kali ini dia yang harus mengalah lebih dulu.
"Baik, Paman Wu. Intinya saja, Apa?"
Kris menahan diri untuk tersenyum. Pria yang hampir berumur 30 tahun itu melepaskan cengkramannya, membiarkan Jongin berdiri tegak dan merapikan diri. Jongin mengelus pergelangan tangannya yang memerah, menahan kekesalan pada pamannya.
Kris melangkah mendekati meja kerja miliknya, mengambil sebuah map biru lalu mengisyaratkan Jongin untuk mendekat. Jongin menurut, tanpa basa-basi merebut map itu dari Kris.
"Apa ini?" Jongin membolak balik map itu penasaran. Kris tersenyum kecil mengacak surai Jongin.
"Simpan saja untukmu, itu hanya sampah lama."
Jongin menyentak tangan Kris dari kepalanya, betapa sangat mengganggunya hal itu jika yang melakukannya bukan Sehun. Bicara tentang Sehun, Jongin baru ingat jika yang membangunkannya tadi bukan Sehun. Bukankah anak itu bilang akan membangunkannya? Lagi pula seingat Jongin, di kelas tadi hanya ada dirinya dan Sulli. Lalu?
"Jangan melamun. Sekarang, duduklah. Ada hal yang ingin kubicarakan padamu."
Nada bicara Kris terdengar asing ditelinga Jongin, pamannya tidak pernah berbicara dengan intonasi dingin seperti ini. Jadi dirinya hanya memilih untuk duduk dan menunggu pamannya bicara. Mungkin se-jam atau dua jam dia takkan kembai ke kelas. Tapi Jongin ragu, bagaimana kalau Sehun mencarinya? Bagaimana kalau Sehun marah padanya?
'..che, dia sedang sibuk sekarang.'
"Sehun? Jadi nama mu Oh Sehun?"
Sehun mengangguk cepat, kedua mata nya terpaku pada satu orang didepannya. Luhan tau jika dirinya sedang diperhatikan oleh namja cupu ini, tapi dia hanya tersenyum. Senyum itu sungguh terlihat manis, dan tidak pernah terlihat membosankan untuk Sehun.
Keduanya berkeliling sekolah dengan Sehun sebagai pemandunya, Luhan kadang tertawa kecil menyadari kegugupan Sehun saat bertemu tatap dengannya. Sehun juga terlihat semangat hingga memberi semua detail bagian-bagian Sekolah, hampir tidak memperdulikan tatapan aneh dari beberapa murid yang melewati mereka.
"Dan yang terakhir ini adalah ruang BK, hanya satu guru yang bertugas di ruang ini. Namanya Wu yifan saem, Kris. Dia yang paling muda..."
Luhan tidak mendengar semua penjelasan Sehun, dia lebih mementingkan apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Mata nya memicing saat mendapati Jongin didalam sana tersudut oleh seseorang yang mungkin dimaksud Sehun tadi. Luhan semakin bertambah penasaran tapi tidak berlangsung lama karena Sehun menariknya pergi.
"Sepertinya bel akan berbunyi, kita harus masuk kelas."
Luhan masih menyempatkan diri mengintip ke dalam ruangan itu sebelum benar-benar pergi kembali ke kelas. Dan sekiranya, berbagai pertanyaan berputar didalam kepalanya.
Sehun menduduki bangkunya, tidak mendapati tas juga pemiliknya—Jongin. Dia bertanya-tanya dan mengira Jongin pulang memilih membolos. Sehun mengernyit sesaat setelah menyadari Jongin bukan seseorang yang suka meninggalkan kelas bahasa karena Sehun tau, Jongin sangat menyukai pelajaran ini.
Seorang guru bertubuh pendek memasuki kelas, dia mulai mengabsen seluruh murid termasuk Luhan yang notabene adalah murid baru. Sehun terus melirik bangku kosong milik Jongin, tidak menyadari jika namanya sudah dua kali disebut.
"Yah! Sehunna!"
Sulli menepuk meja Sehun, membuat namja itu tersadar dan mengangkat tangannya. Dia meminta maaf pada Lee saem setelahnya kembali menatapi bangku Jongin bingung.
' kau kemana Jongin?'
.
.
.
Cklekk.
Seseorang membuka pintu kelas dan langsung membungkuk minta maaf. Seluruh murid memekik saat orang itu menegakkan lagi tubuhnya. Itu Jongin, dengan kemeja bagian bawah sobek dilengkapi blazer yang ditali dipinggang. Tidak melupakan lebam di rahang juga sudut bibir yang berdarah.
Sehun langsung berdiri di bangkunya saat Jongin masuk dalam keadaan yang buruk. Dia terduduk lagi, mencoba tidak memperdulikan Jongin yang menatapnya minta maaf. Sehun menunduk menyibukkan diri membaca buku paket tebalnya.
"Baiklah, Kim Jongin. Kau sudah terlambat dua jam pelajaran dikelasku, aku tidak perduli apapun alasanmu. tetap berdiri disana. Angkat satu kaki mu,sampai bel pulang nanti."
Jongin tidak mengatakan apapun, hanya menuruti perintah hukuman dari guru Lee. Dia meringis pelan merasakan sakit di rahangnya kembali. Namja tan itu pun menundukkan kepalanya menyembunyikan raut lelah juga sakitnya.
Sulli melihat Jongin begitu, dia tidak tega. Dia jengah pada Sehun yang mengaku Sahabat hidup mati Jongin tapi malah bertingkah sok acuh pada Jongin. Sulli mengangkat tangan kanannya, mengintrupsi sang guru yang akan melanjutkan pelajaran.
"Ada apa nona Choi?" guru Lee menatapinya datar, membuat Sulli sedikit ragu tapi setelah melirik Jongin dia kembali mengangkat tangannya.
"Itu, A-anu saem. Jong— eh? Maksudku Kai, dia sedang terluka. Apa boleh aku mengantarnya ke ruang kesehatan?"
"Jika maksudmu, kau mau menggantikan Jongin berdiri disana. Silahkan."
Sulli menurunkan tangannya kecewa, dasar guru tidak berperasaan. Gadis itu ingin menangis saat memperhatikan Jongin yang terus menunduk seolah baik-baik saja. Dia tau Jongin kesakitan, Walaupun Jongin itu terkadang jahat padanya, ketus, suka seenaknya, nakal dan keras kepala. Tapi Jongin sebenarnya sangat baik dan penuh sifat hangat lainnya. Dia tau karena, dia dan Sehun sudah berteman selama 9 tahun dengan Jongin.
Kelas kembali stabil, guru Lee membiarkan para murid mengerjakan tugas di buku selama beberapa menit. Sulli membalikkan badannya menghadap bangku Sehun, dia menatap kesal pada albino berkacamata minus didepannya.
Sehun mengalihkan perhatiannya pada Sulli, menatap gadis itu seolah tidak ada apa-apa. Sulli mendesis kesal, memukulkan buku paket milik Sehun ke kepala namja cupu itu dengan keras. Sehun mengadu kesakitan memegangi pucuk kepalanya, dia menatap tajam Sulli.
"Lihat sahabatmu, luka begitu bukannya diobati malah sibuk membaca buku."
"Mau bagaimana lagi?"
Sehun memperhatikan Jongin yang masih berdiri didepan kelas, Sulli juga ikut memperhatikan. Mereka berdua merasa aneh, karena ini pertama kalinya Jongin membolos dan kembali dengan luka di wajahya. Sehun mengusap wajahnya, membenarkan kacamatanya sembarangan. Dia berbalik kebelakang, melihat jarum jam kelas. Pulang sekolah masih lama, Sehun menghela nafas.
Saat ingin berbalik mata Sehun tidak sengaja bertemu pandang dengan seseorang yang membuatnya gugup. Luhan menatapnya dengan wajah yang ditumpu di tangan kiri, ditambah dengan seulas senyum tipis. Dengan cepat dia kembali menghadap ke papan tulis, mendesah lega.
"Ada apa hun?" Sehun menggeleng saat Sulli bertanya.
Sulli melirik ke bangku belakang deret kedua, dilihatnya Luhan yang sedang memperhatikan Sehun.
"Kau menyukai anak baru itu?"
Sehun mengangguk pelan, menyembunyikan rasa senang berbagi nama perasaan yang dirasakannya pada Luhan. Tidak menyadari tatapan Sulli berubah sedih dan kesal secara bersamaan.
BUKK
BUKK
"Yah,Sulli!"
Sehun memegangi kepalanya lagi, dia menatap tidak mengerti pada sosok gadis didepannya. Sulli mendengus membalikkan tubuhnya ke depan, mengabaikan tatapan bingung Sehun karena mendapat pukulan buku paket ketiga kalinya.
"Sehun pabo."
"Hah? Kau bilang apa?"
Sehun melonggokkan tubuhnya kedepan saat telingannya mendengar ucapan Sulli. Gadis itu menggeleng mendorong kepala Sehun menjauh.
"Tidak ada."
'...dan sudah jadi sifatmu. Dasar Sehun bodoh bodoh bodoh.'
Bel pulang telah berbunyi sepuluh menit yang lalu, para murid telah bergegas meninggalkan kelas. Jongin menurunkan kakinya, dan langsung terduduk lesu di lantai. Dia memegangi kepalanya yang terasa berputar.
"Kita pulang." ucap Sehun dingin, Jongin mendongak mendapati Sehun menatapnya khawatir. Namja berwajah manis itu tertawa pelan menyadari nada bicara dan raut muka Sehun yang tidak sikron.
"Kai? Kau tidak apa kan?"
Jongin berdiri dibantu Sulli, lagi-lagi namja itu terkekeh ditatap sedih oleh gadis yang sudah dianggapnya adik. Benar, Sulli ingin menangis sekarang walau Jongin sudah berkata dia baik-baik saja.
Sehun menatap datar Sulli, menyentil kening gadis itu cukup keras. Sulli mengerang memegangi keningnya sakit.
"Cengeng, kita antar Jongin pulang."
Jongin menggeleng, "Aku tidur di tempatmu, Hun."
Sehun mengangguk mengerti, sudah kebiasaan Jongin takkan pulang saat dirinya terluka atau telah melakukan sesuatu.
"Hei?"
Sebuah suara mengalihkan pandangan ketiganya, Sehun berubah menjadi gugup tiba-tiba. Raut dingin dan datarnya telah pergi entah kemana saat Luhan menyapa ketiganya, tidak memperdulikan dua pasang mata lainnya tengah mengernyit menyadari perubahan sikap Sehun.
"Boleh pulang bersama?"
Luhan tersenyum pada ketiganya, lebih khusus pada Sehun.
"Tid—''
"Te-tentu boleh." sahut Sehun memotong ucapan Jongin dan Sulli dengan binar senang yang berlebih. Luhan mengangguk, dirinya melirik ke arah Jongin sekilas. Berfikir sesuatu lalu hanya mengulas senyum manisnya lagi.
Sulli merasa Jengah dengan euphoria yang diciptakan Sehun pada anak baru itu. Gadis itu memutuskan untuk membantu Jongin berjalan meninggalkan namja berkacamata sahabat mereka.
"Sehun! Cepat kau mau pulang tau tidak hah?! Lambat." sahut Sulli ketus.
"E-eh? Iya. Sebentar, err anu haha. L-luhan, ayo pulang."
Luhan mengangguk menyejajarkan langkah dengan Sehun. Mereka berdua berjalan tepat dibelakang Sulli dan Jongin. Sulli tampak kesusahan membantu Jongin berjalan, gadis itu berniat meminta tolong Sehun tapi urung saat melihat kesibukkan namja itu berbicara dengan Luhan.
Sulli melirik Jongin disampingnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tangan gadis itu yang Lain mengelus surai Jongin lembut, membuah kan Senyum tipis Jongin yang seolah menjawab semua akan baik-baik saja.
"Jongin?" Sulli berbisik.
"Diamlah Sulli. Diamlah..aku tidak apa." jawab Jongin pelan.
"Kau tinggal dimana ,Luhan?"
Anggap saja, hanya sekali ini Sulli ingin meramah kan diri dengan murid Tiongkok itu.
Luhan tertawa pelan tanpa sebab, itupun masih membuat Sehun terpesona. Jongin melirik dua orang dibelakangnya tidak suka.
"Gedung apartemen b-c no 12."
Mata Sehun terbuka Lebar, dia tersenyum semakin lebar. Dia membenarkan bingkai kacamatanya lalu menimpali dengan semangat.
'Ada apa denganmu, Sehun?'
"Oh! Aku juga tinggal disana, no 18. Kita bertetangga."
"Benarkah? Aku akan berkunjung." canda Luhan, membuat Sehun tersenyum. Sedangkan Sulli, gadis itu mengeratkan pegangannya pada bahu Jongin.
Jongin hanya menatap jalanan dibawahnya datar, moodnya menurun dan semakin buruk. Hari ini tak ada yang menyenangkan, semua tak ada yang menyenangkan bahkan kepalanya semakin berat dan keinginan untuk tidur semakin kuat.
BRUGH.
"K-kai!?"
Pekikkan Sulli membuat Sehun berhenti tersenyum. Namja itu terkejut melihat Jongin terjatuh. Dengan segera, lengan kekarnya memeluk pinggang Jongin erat.
"Jongin-ah? Bangun? Hei?"
"Kurasa dia pingsan." sahut Luhan pelan.
Sehun merendahkan tubuhnya, menggendong Jongin yang tengah pingsan di punggungnya. Namja itu tidak memperdulikan kacamatanya yang hampir terjatuh, atau bahkan keberadaan Luhan maupun Sulli. Dengan cepat berlari meninggalkan dua orang manusia dibelakangnya.
"Aish! Dasar Sehun!." sungut Sulli menendang batu kecil di pinggir selokan.
"Luhan, aku pulang dulu. Maaf soal Sehun ya? Pai."
Luhan mengangguk tanpa berbicara apapun. Namja bertubuh kecil itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana lalu berjalan menatap punggung Sehun serta Jongin yang menjauh. Tak lama sebuah senyum terulas di bibir.
'..merusak adalah bagian yang menyenangkan.'
TBC,
Ada banyak penggunaan kata -nya-, aku minta maaf. Masih pemula maaf -.- T,T
Gimana menurut kalian chap 2 ini? Jika ada sesuatu yang kurang atau berlebihan, aku bakal berusaha memperbaiki. mohon maaf jika masih bnyk ksalahan
