Chapter 3
I CARE FOR YOU
Hunkai or Hunhan?
Drama Hurt/Comfort
T -to- M
WARNING : : Yaoi,Typo,Shounen ai,Boy X Boy, Boys Love fic.
DONT LIKE SO DONT READ IT, SIDERS GO AWAY/? , HATERS I DONT CARE squint emotikon")/
I dont Own the Cast of EXO or another..
Sehun terduduk di pinggir ranjang, disana Jongin berbaring dan masih pingsan. Sehun tidak mengerti apa yang terjadi, Jongin tidak pernah seperti ini. Pemuda berkulit pale itu melepas kecamatanya, lalu ditaruh di atas meja belajar miliknya. Dia menaiki ranjang itu kemudian membaringkan diri disamping Jongin.
Dua puluh menit yang lalu, sejak membuka pintu apartemen Sehun sudah terburu mencari plester dan mengambil air hangat. Dia begitu khawatir saat Jongin sedang diobati dan sedikit meringis.. Seragam Jongin sudah tergantikan satu stel piama berwarna biru besar milik Sehun.
"Jongin..apa lagi yang kau lakukan? Berhentilah membuatku khawatir.."
Jemari Sehun begitu nyaman memainkan helai rambut sahabatnya, dia mengulas senyum menarik tubuh itu mendekat padanya. Dibawanya Jongin pada pelukan, begitu erat memeluk seolah menjadi tameng pelindung.
Sehun memejamkan matanya, saraf otaknya ingin beristirahat sejenak dengan imbalan tidur beberapa menit kedepan. Dia akhirnya tertidur dengan lengan yang memeluk Jongin.
.
.
.
Jongin mengerjap memperhatikan sekelilingnya, oh tunggu dia mengenal tempat bahkan pewangi ruangan beraroma lavender ini. Ah iya, Apartemen Sehun.
Jongin lalu memperhatikan lengannya yang berbalut kain piama yang nyaman. Lalu meraba beberapa sudut wajahnya. Mungkin Sehun yang melakukan ini semua. Perasaannya menghangat tiba-tiba, Jongin membalikkan tubuhnya menghadap pada Sehun.
"Se-hun?"
Jongin tertegun kala mendapati seseorang yang ditebaknya adalah Sehun, tapi kemana kacamata tebal itu? Dan apa pula poni itu? apa dia Sehun? Oh baiklah.. Ini pasti bukan Sehun sahabatnya.
Tanpa sadar, Jongin mengulurkan tangannya mengelus pipi Sehun. Hanya untuk memastikan jika yang didepannya adalah benar Sehun. Ya, ini Sehun. Jongin tersenyum samar, mungkin beberapa kali menginap disini, dia tak pernah mendapati Sehun yang seperti ini di tidurnya. Dan kali ini..
Untuk kesekian kalinya, dia berdebar. Untuk kesekian kalinya, Jongin merasa telah jatuh hati pada pemuda pale ini.
"Hm..Luhan."
Senyum Jongin menghilang mendengar igauan Sehun, tangannya tak lagi mengelus pipi Sehun. Dia terdiam memandangi wajah Sehun yang bersih tanpa gores. Dapat dilihatnya, Sehun tengah tersenyum dalam tidurnya.
"Aku disini Sehunna." gumam Jongin masih memandangi sayu Sehun.
"...If I could stay by your side like this ... If you didn't know the truth until the end. About how much I love you. I believe in you… as I look at you.."
".. turn around and look at me, stay by my side. You only look at other places like always, you always look at far places.. Living while seeing you love that other person. Do you know that is my love for you?.."
Jongin beranjak dari tidurnya, berjalan keluar kamar. Dia menutup pintu dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Sehun.
Dilihatnya jam dinding di sampingnya, belum terlalu malam untuk sekedar duduk dibalkon Sehun yang luas. Akhirnya namja tan itu berjalan ke balkon, terduduk di ayunan kayu buatan yang ada disana. Udara malam menerpa tubuh kurusnya, dia memejamkan mata seolah sama sekali tidak merasa dingin.
Jongin mengayunkan kakinya, menatap datar langit yang mulai gelap. Dia mengingat lagi semuanya, awal pertemuannya dengan Sehun. Jongin tersenyum menaikkan kedua tungkai kakinya keatas ayunan lalu memeluknya.
H U. N. K. A. I. H. A. N
Flasback
Saat itu umurnya baru menginjak kelas satu sekolah dasar. Jongin kecil selalu berbuat nakal hingga membuat para guru tersenyum gemas. Dia sudah banyak memiliki teman hanya bermodalkan wajab lucunya, tapi ada satu anak yang selalu diam saat dijahili Jongin.
'Ayo maiiin'
'Tidak mau.'
Anak kecil pendiam itu selalu bermain dan duduk sendiri dikelas, Dia juga selalu menolak ajakan Jongin kecil yang ingin bermain dengannya. Karena kesal selalu ditolak, Jongin kecil sampai menarik tangan guru kelas nya untuk membujuk anak itu bermain.
Anak pendiam itu adalah Oh Sehun, tinggal di panti asuhan yang bersebelahan dengan sekolah dasar ini. Kehilangan ibunya saat melahirkannya lalu dibuang ayahnya.
'Hai!?'
'P-pergi.'
'Tidak mau, ayo maiinn. Bu guruuu, anak ini tidak mau main sama Jonginnn'
Guru kelas mereka hanya tertawa kecil melihat interaksi keduanya, Jongin kecil terus merengek pada anak itu walau tidak mengetahui namanya. Anak pendiam itu pun terus menolak bermain dengan Jongin. Sang guru mensejajarkan tingginya, dia tersenyum mengusap kepala keduanya.
'Bu guru harus menulis pr kalian dulu ya? Nanti kesini lagii.'
'Andwaee, bu guruu. Tapi..'
'Jongin tidak boleh nakal begini, jja bu guru pergi dulu.'
Setelah pergi, Jongin menarik tangan anak kecil itu ke bangku nya yang ada dibelakang. Bocah tan itu mengeluarkan seluruh mainan yang dia bawa di dalam tasnya. Ada berbagai model mini car, robot dan sebuah buku saku cerita dongeng. Semua benda-benda itu didorongnya ke arah Sehun. Tapi Sehun kecil tidak memberi respon apapun hanya diam memperhatikan semua barang Jongin.
Jongin mengerucutkan bibirnya kesal, menggebrak meja pelan.
'Kenapa tidak mau main sama Jongin.?'
Sehun kecil hanya menggeleng tapi terus terpaku memperhatikan setiap mainan Jongin. Melihat itu Jongin mengerti hingga mengambil robot merahnya juga sebuah buku saku Dongeng lalu tangannya yang lain menarik tangan Sehun, dan menaruh robot dan buku itu disana. Sehun kecil menatap bingung Jongin.
'Kamu mau itu kan? Ambil saja, Jongin punya baaanyaak dirumah.'
Dengan wajah ceria Jongin tertawa menggambarkan seberapa banyak dia memilik mainan di rumah. Sehun kening menatap Jongin lalu ikut tersenyum.
'Hm?. Arra. Hun mau jadi t-teman Jongin.'
'Eh?'
Kiss.
Jongin kecil mengerjap merasakan pipinya basah. Sehun menciumnya di pipi lalu tersenyum.
'Kata ibu panti, ciuman di pipi berarti sayang.'
'..ah huweeeee bu guruuu Sehun nakalll'
Jongin malah menangis mendengar penuturan Sehun, Sehun kecil yang melihat hanya tertawa kecil beranggapan Jongin juga menyayangi nya. Bu guru datang dan langsung menggendong Jongin, saat ditanya kenapa.. Jawaban Jongin justru membuat sang guru juga tertawa kecil.
'Jangan menangis,jangan menangis. Sehun hanya bilang sayang Jongin.. Cup cup, uljimaa kk.'
'Huwaa bu guru juga nakalll.'
Semenjak saat itu keduanya saling bermain bersama, seiring bertumbuhnya umur Sehun tumbuh menjadi anak rajin dan Jongin masih sama nakalnya. Di tahun ketujuh, keduanya memasuki sekolah menengah pertama. Saat itu lah, Jongin sadar dia menyukai Sehun yang selalu sabar dengannya, lalu bertemu dengan Sulli, gadis cerewet yang sangat pemarah.
Flashback end.
Jongin menggaruk pipi nya malu menyadari dirinya diwaktu kecil sangat bodoh. namja itu mengusap wajahnya, lalu terhenyak saat tiba-tiba seseorang memeluk lehernya dari belakang.
"Kukira kau hilang,Jongin."
Suara berat familiar menyapa pendengarannya, Jongin merasakan pelukan Sehun selalu nyaman. Pelukan itu dipererat, Sehun menumpukan berat badannya pada bahu Jongin.
"Kau bukan Sehun kan?"
"Hah?"
Sehun menoleh pada Jongin yang memalingkan wajahnya, dia mengernyit bingung. Bukan bagaimana? Jelas saat ini yang bersama Jongin adalah dirinya, Sehun. Dan tentu dia hanya satu didunia.
"Sehun rambutnya kan.. Disisir belah pinggir."
Jongin mengecilkan nada bicaranya, wajahnya mendatar menutupi rasa malunya. Beruntung dia memiliki warna kulit gelap, jadi Sehun takkan mengetahui rona di pipinya.
Sehun terkekeh, menyentuh kepalanya sendiri. Dia lalu menatap jahil Jongin. Rambutnya berantakan karena habis bangun tidur tadi.
"Kenapa? Apa aku tampan?"
Jongin mendengus, mendorong kepala Sehun menjauh darinya. Walau sedikit dari batinnya menyetujui perkataan Sehun. Tapi tetap saja.. -"
Sehun berhenti tertawa, dia membenarkan kacamatanya. Kemudian berjalan ke samping Jongin. Sehun mendudukkan dirinya di tempat yang tersisa, menarik bahu Jongin untuk sekedar menatapnya.
"Kau berutang penjelasan padaku, Kai."
Jongin tidak menyukai nada bicara Sehun, dia diam tak berniat membuka suara perihal yang tadi. Dia hanya menatap Sehun, berharap Sehun mengerti arti tatapannya.
"Kau pasti berkelahi lagi, kapan kau berubah? Jangan terus seenaknya seperti ini. Dua tahun lagi kita akan lulus, kau bahkan hampir tidak pernah menyimak para guru atau sekedar membuka buku."
Rahang Jongin mengeras, mendengar ucapan Sehun tidak suka. Jongin membuang muka kesamping lalu berdiri kembali masuk kedalam tanpa berbicara apapun. Sehun menghela nafasnya, selalu seperti ini.
Jongin mengambil tas punggungnya yang ditaruh Sehun di sofa, piamanya sudah berganti seragam sekolah lagi. Sehun datang dan langsung menghadang Jongin dengan tatapan tajam.
"Kau mau kemana? Ini sudah malam."
"Pulang." jawabnya dingin.
Jongin tak sanggup menatap Sehun karena perubahan penampilan namja itu, itu membuatnya seperti meleleh. Jongin mendorong bahu Sehun untuk menyingkir, tapi tangannya ditahan oleh Sehun. Jongin bergumam memperingatkan Sehun. Tapi Sehun sendiri terlalu keras kepala hingga mengeratkan genggamannya.
"Diluar dingin."
"Masa bodoh, minggir."
"Jongin! Kai?!"
Jongin menghentak tangannya melepas genggaman Sehun, dia berjalan cepat menuju pintu. Membuka nya kasar tanpa repot mau menutupi nya kembali. Sehun terlihat frustasi menghadapi Jongin yang kali ini lebih emosional dan bertambah keras kepala. Dia menjatuhkan dirinya lemas ke sofa, dia mengusap wajahnya gusar.
Dia benar-benar berharap Jongin akan berubah, setidaknya beberapa sifatnya harus dirubah. Dia memang sudah terbiasa dengan Jongin yang nakal dan bla bla lainnya, tapi kali ini sudah keterlaluan.
"Hahh.. Jongin."
Di tempat lain..
Luhan memandangi sebuah album foto dengan datar, tangannya menyentuh beberapa foto tapi salah satunya dia ambil. Foto itu diremas, lalu dibuangnya ke tempat sampah.
"Kau selalu memiliki semuanya, tapi yang satu ini.. Biarkan aku yang memilikinya."
'...karena Merusak adalah bagian paling menyenangkan saat permainan sudah dimulai.'
Namja bersurai pirang itu menatap beberapa bingkai foto masa kecilnya yang bersama seorang anak kecil lainnya. Senyum terlihat di setiap foto, membuat Luhan muak. Di dorongnya satu-persatu bingkai foto itu jatuh dan pecah. Raut datarnya tak menyiratkan makna apapun selain kebencian.
Luhan menatap pecahan kaca di lantai dengan senyum miring, dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana pendeknya.
"Kau akan sama seperti mereka.. Pecah dan hancur. "
Jongin berjalan menelusuri trotoar dibawahnya, dia menatap tanpa ekspresi kedepan. Sebenarnya pikirannya melayang jauh mengingat setiap detail perkataan Sehun yang menyinggungya.
'..Berubah?'
Jongin sangat ingin tertawa mengulang pertayaan itu berkali-kali, dia mulai memperhatikan para pengemudi di jalanan kota Seoul. Jika dipikir, seharusnya dia meminta pada ayahnya untuk membelikan mobil. Tapi tidak, jika dia melakukan itu.. Dia tentu takkan bisa berjalan beriringan dengan Sehun.
Namja itu mengerang kecil, menyesali tindakannya tadi. Apa Sehun akan marah padanya? Bagaimana kalau Sehun menjauhi nya?
"Argh.. Sehun lagi." gerutunya menarik rambutnya.
Langkahnya berhenti, membalikkan badan berniat kembali ke apartemen Sehun dan mungkin menambahkan sedikit acara meminta maaf pada Sahabatnya, dia benar-benar tidak ingin Sehun marah padanya.
Ya, dia harus meminta maaf.
Jongin telah sampai di pintu apartemen Sehun, mengetuknya beberapa kali. Tapi tidak ada sahutan yang didengar, akhirnya dia menekal tombol intercom dan tetap tidak ada yang menyambutnya. Jongin menyadari sesuatu, hingga memukul kepalanya merasa bodoh.
'Benar, aku kan tau passwordnya. '
Jongin menekan beberapa angka yang merupakan gabungan tanggal lahir keduanya, pintu terbuka Jongin masuk begitu saja. Dia mencari Sehun ke kamarnya tapi tidak ada. Dengan kesal dia berjalan menuju bar dapur Sehun.
Jongin tersenyum saat melihat Sehun berdiri disana dengan menggunakan apron putih.
"Haha, benarkah? Kalau begitu aku akan sering kemari. Masakanmu enak sekali."
"I-iya boleh, datanglah sesering mungkin."
Langkah Jongin terhenti, suara yang sempat ingin dikeluarkannya terpaksa tertelan lagi. Dia terdiam beberapa saat memandangi interaksi Sehun dengan seseorang didepannya. Sehun tampak begitu senang hingga terus tersenyum pada Luhan. Ya, itu Luhan.
Jongin mundur perlahan lalu bergegas pergi keluar, tak ada ekspresi khusus yang dikeluarkan nya saat melihat apa yang didapatinya tadi. Jongin pun menutup pintu apartemen Sehun dengan sangat pelan agar tidak mengganggu pemuda pale itu dengan orang yang disukainya, Luhan.
".. My heartache, only looking at you. Pretending not to know, pretending that it's not, pretending I didn't see it..
This is the love that I secretly learned as I met you every single day.
Even though I miss you, I want to hold onto you, I want to just hug you..
But I couldn't even say the words, I love you, and I turned away, Even though I miss you.."
Jongin berlari memasuki hotel bintang lima yang tidak jauh dari gedung apartemen Sehun. Lift terbuka dan dia langsung masuk kesana menekan lantai nomor 12. Dia terduduk di lantai lift lemas, menghela nafas cepat namun berulang. Jongin mengusap wajahnya, dia menunduk menumpu kepalanya di lutut.
Setelah keluar dari gedung apartemen, dia berlari cukup kencang kesini. Entahlah dia hanya berfikir untuk datang ketempat ini, jika pulang kerumah tentu tak mau membuat ibu nya khawatir. Jongin kembali berdiri saat pintu lift terbuka. Namja itu keluar lalu berjalan menelusuri setiap pintu kamar hotel dengan tidak sabar. Dia terus bergumam panik.
"3016..3017..3018..3019.."
"3020!"
Tok Tok Tok
Setelah menemukan pintu yang dicarinya, Jongin tak menunggu waktu lama lagi untuk mengetuk pintu bercat coklat, malas menekan bel atau sekedar tombol intercom. Dia bersandar ke dinding menatap kebawah saat tak ada sahutan dari dalam.
Cklekk
Seseorang membuka pintu, Jongin kembali menegakkan tubuhnya. Menatap seseorang itu dengan tatapan kecewa.
"Jo—"
BRUKK
orang itu belum menyelesaikan perkataannya saat Jongin menerjang dirinya. Bahu dan leher nya dipeluk sangat erat, hingga membuatnya harus menunduk. Dia mengusap punggung Jongin berusaha menenangkan namja yang memeluknya tiba-tiba ini.
"Ken—"
"Paman Wu.." lirih Jongin kembali mengeratkan pelukannya.
TBC.
Aaa, i like it. Makasih yang uda review, aku baca nya senyum sendiri lho. XD kyk ada manis"nya gitu. Di chap 3 ini kyk nya alurnya kecepetan ya? '-' gomen, mian, sorry, maaf. Aku juga gk bias bls review kalian, ah miann.
