Chapter 5

I CARE FOR YOU

Hunkai or Hunhan?

Drama Hurt/Comfort

T -to- M

WARNING : : Yaoi,Typo,Shounen ai,Boy X Boy, Boys Love fic.
DONT LIKE SO DONT READ IT, SIDERS GO AWAY/? , HATERS I DONT CARE squint emotikon")/
I dont Own the Cast of EXO or another..


Luhan keluar dari apartemennya, berjalan menuju cafe terdekat. Dia memesan secangkir americano panas dan duduk sendiri di samping jendela. Pahit kopi menyentuh lidahnya, Luhan tersenyum samar menemukan seseorang yang duduk tidak jauh darinya.

Namja mungil itu berdiri menghampiri seseorang yang dikenalnya,

"Kau—"

Luhan menyeringai mendudukkan diri didepan pria paruh baya yang terkejut karena nya.

"Selamat sore, Tuan Kim."

Itu tuan Kim, Ayah Jongin. Kim HanKyung, pria itu menatap nanar kedepan. Dirinya tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Luhan lagi setelah anak itu hilang sebelas tahun lalu.

Tak lama, Tuan Kim tersenyum lembut. Tidak ada yang berubah dari anak ini, mata dan bibir itu masih sama seperti dulu. Namun suara yang didengarnya terdengar sedikit berat dari sebelumnya. Ah, tentu.. Waktu telah berjalan begitu cepat. Luhan sudah berubah menjadi lebih tinggi beranjak dewasa seperti yang dia kira.

"Lu—

"Aku meminta hakku, tuan Kim... Atau bisa kusebut, Appa?"

Luhan menyeringai menatap pria didepannya, tuan Kim membeku ditempat tak mengerti apa yang harus diperbuat. Pria tua itu hanya bisa menatap Luhan, memudarkan semyumnya. Menunggu anaknya untuk berbicara.


"Jongiiinn. Jangan injak itu, argh! Sehun bodoh menjauh dari koleksi komikku. Yah! Kalian!"

Sulli berteriak memaki sana-sini, raut wajah kesalnya terlihat semakin aneh dengan mata membulat horror saat Jongin tidak sengaja menemukan satu pakaian dalamnya.

Jongin tertawa sangat keras, mengangkat benda di tangannnya tinggi. Sulli kembali merengek tapi Jongin tidak menggubris, dia masih sibuk tergeli dengan apa yang dipegangnya.

"Haha..polkadot pinkeu."

"Dasar kalian cabul! Keluar dari kamarku!" jerit gadis itu seraya merengek pada Jongin untuk melepaskan 'benda' itu.

Sehun tertawa membenarkan kacamatanya, kepalanya menggeleng berkali-kali saat melihat Jongin mencoba menggoda Sulli. Jongin berlari setelah dengan sengaja membuang 'benda' itu ke tempat sampah.

"Eh? Jangan menyalahkanku, aku tidak sengaja menemukannya. Aw! Sulli! Sakit! Gah!"

"Huwa, rasakan-rasakan-rasakan."

Sulli memukul bahu, kepala, dan menendang kaki Jongin dengan kesal. Seharusnya tadi dia mengunci kamarnya, jika begini kamarnya yang berantakan akan semakin berantakan. Jongin mengadu kesakitan memegangi badannya, dia memanggil Sehun untuk membantunya tapi justru mendapat cengiran.

Tepat beberapa menit yang lalu, mereka berdua datang ke rumah Sulli berniat menumpang makan atau sekedar mencuri beberapa lembar roti di pagi hari. Tapi saat si tuan rumah pergi ke dapur, mata Jongin melihat salah satu pintu terbuka cukup lebar membuatnya penasaran hingga menyeret Sehun untuk ikut masuk.

"Gezz, cepat keluar kalian!."

Jongin mendorong Sehun untuk segera keluar, mereka berdua masih tertawa.

BLAM!

'Eh?'

Hening.

Pintu kamar Sulli tertutup dengan keras, Sehun dan Jongin terdiam saling berpandangan. Tak lama gelak tawa terdengar dari keduanya, Sulli mendengar itu semakin bertambah kesal. Di dalam kamar, gadis itu mulai merapikan beberapa sudut ruangan yang berantakan sambil terus menggerutu.

Jongin merapikan rambutnya lalu mengambil tasnya, dia mengetuk pintu Sulli pelan.

"Sulli, kami pulang saja. Tidak jadi ma—"

"BAGUS! Cepat pergi kalian."

Sehun menepuk bahu Jongin, menariknya untuk segera keluar dari sini sebelum Sulli bertambah kesal pada mereka. Tapi Jongin tertawa tanpa suara menyadari kekanakkannya Sulli. Namja tan itu menurut saja saat pergelangan tangannya ditarik pergi Sehun.

.

.

Mereka berdua sudah sampai di apartemen Sehun, Jongin langsung menghampiri sofa dan menidurkan diri disana. Tapi Sehun menarik kaki Jongin, mencoba membangunkan paksa sahabat beruangnya ini. Ayolah sekarang masih jam setengah sembilan pagi, masa Jongin sudah mengantuk.

"Ash, Sehun. Aku mengantuk." Jongin menggoyangkan kakinya melepaskan diri dari tangan Sehun.

"Tidak, bangun. Lepas seragam—

Srett

Pluk

Ucapan Sehun terhenti saat dirasakannya sebuah kain seragam mendarat di wajahnya. Jongin terkekeh mendapati wajah datar Sehun menatap tajam dirinya setelah seragamnya jatuh ke lantai. Dengan wajah yang dibuat polos Jongin menunjuk seragamnya.

"Lihat, sudah kulepas."

Sehun mendesah maklum, tapi melempar balik seragam itu pada Jongin. Pemuda pale itu terpaksa menarik kedua tangan Jongin untuk membuat sahabatnya beranjak. Jongin tersenyum kecil, memandangi wajah kesal Sehun.

"Lihat dirimu, mandi sana. "

Jongin merengut setelah tubuhnya terduduk, dia menatap tidak suka Sehun tapi namja itu sudah menghilang di balik pintu. Jongin memainkan kemeja seragam di tangannya. Tubuhnya hanya berbalut singlet hitam pamannya kemarin, tak ada niatan untuk melepaskannya dan pergi mandi sesuai perintah Sehun. Seluruh sendi nya tiba-tiba sangat malas berjalan ke kamar mandi.

"Mandi.. Tch." Jongin malas bersentuhan dengan air pagi ini, gravitasi bumi terlalu membuatnya terpesona hingga kembali menidurkan diri di sofa.

"Jongin?"

Mata Jongin terbuka sesaat setelah baru lima detik memejamkan mata, dia mengerang kesal. Sehun menarik tangannya untuk berdiri, dengan malas Jongin menurut. Kedua mata sayu nya mendelik menyadari bagaimana penampilan Sehun.

Bertelanjang dada, dengan handuk di bahu kiri dan celana trainning hitam.

'Gah, S-sial. Sehun!'

Jongin membuang muka kesamping segera, menyumpah serapahi Sehun yang seolah merasa tidak ada apa-apa. Ash, memalukan.

"Kau tidak mau mandi?"

Jongin menggeleng tanpa menatap wajah lawan bicaranya. Sehun melihatnya tidak mengerti, dia mengguncang bahu Jongin.

"Kenapa menoleh kesitu, Jong?"

Jongin tetap menggeleng sebagai jawaban. Dia membalikkan badannya berjalan ke area dapur, melarikan diri dari sosok topless Sehun.

Sehun mengikuti dari belakang, dia melepas kaca matanya lalu mengusap lensanya dengan handuk lalu memakainya lagi. Jongin membuka kulkas berniat mengambil buah kiwi kesukaannya, tapi kebingungan saat tidak ada satupun kiwi nya di sana.

"Mencari apa?" tanya Sehun tidak berdosa.

"Buah kiwi ku.. Hilang?"

Jongin berbalik memperlihatkan wajah lesunya. Sehun melihatnya dengan rasa bersalah, seharusnya jus kiwi semalam tidak disuguhkan pada Luhan. Pemuda pale itu menggaruk lehernya pelan, menatap Jongin tidak enak.

"Maaf, Kiwi-mu.. Itu hehe. Kuberikan pada Luhan."

Jongin berdecak setelah menemukan alasannya. Dia menekan rasa kesalnya dan dengan terpaksa tersenyum. Luhan lagi? Heh, mati kau rusa China sialan. Tangannya bahkan sudah terkepal di belakang.

"Yasudah. Tidak apa."

"Hah?"

"Aku mau mandi, minggir."

Jongin memang tersenyum tapi nada datar yang didengar Sehun seolah menjelaskan bahwa sahabatnya sedang berusaha untuk tidak marah. Handuk di bahu Sehun terambil Jongin yang berjalan melewatinya. Sehun tersenyum melirik punggung yang menjauhi jarak pandangnya. Entah kenapa tapi perasaan senang mendatangi nya begitu saja.

"Oh, bajuku. Eh?"

Sehun tersadar kalau dia sedari tadi bertelanjang dada, tiba tiba Sehun tertawa pelan.

"Begitu? Pantas saja."

Dia baru tau kenapa Jongin memalingkan wajahnya, dan tidak mau menatapnya tadi kemungkinan Jongin malu padanya. Mengingat semalam sebelum Jongin pergi, dia sempat menggoda sahabatnya itu dengan pertanyaan bodoh.

'Apa aku tampan? Tentu saja.'

Sehun tertawa pelan memegangi wajahnya, sedetik kemudian dia menghentikan tawanya dan memilih memandangi langit dari jendela balkon tak jauh dari dapur. Tapi senyum di bibirnya belum luntur.

"Kim Jongin."


Setelah mandi Jongin keluar menggosok rambutnya yang basah, seraya berjalan mendekati Sehun. Namja itu mengerang malas merutuki Sehun yang masih belum memakai pakaiannya. Jongin datang dan menendang betis Sehun cukup keras, lalu melenggang tidak memperdulikan Sehun yang kesakitan.

"Kai!"

Jongin merengut melirik kebelakang, dia tak mau menatap Sehun. Rasa malu menghinggapi dirinya, mengingat sahabatnya itu bertelanjang dada setenang itu. Sehun menyadari tingkah aneh Jongin, kembali tertawa tanpa suara. Dia hanya sengaja, mengulur waktu untuk berpakaian. Dia berjalan mendekat pada Jongin yang membelakanginya.

Hug.

Jongin berjengit kedepan, merasakan pelukan Sehun. Dia sedikit melirik kebelakang, wajahnya ditekuk merasa kesal sendiri. Jongin menyikut perut dibelakangnya hingga Sehun melepaskan pelukan dan meringis memegangi perutnya. Jongin tau itu pasti sakit tapi sungguh.. Itu hanya refleknya. Dia berbalik melempar handuknya pada wajah Sehun. Lalu memukul kepala Sehun pelan.

PLAKK

"ADUH, Kim!"

"Heh, Pakai bajumu bodoh. Kau tidak punya rasa malu apa hah? Berkeliling ruangan dengan telanjang dada. Kau mau masuk angin dan sakit begitu? Gzz, pakai atau kau mati."

Sehun hanya terkekeh mendengar kalimat terakhir Jongin yang serupa dengan ancaman. Pemuda pale itu akhirnya menuruti Jongin, dia berjalan ke kamarnya mengambil kaos polos warna abu-abu. Setelahnya dia kembali ke dapur., mendapati Jongin yang masih merengut padanya.

"Sudahlah, jangan marah. Kau mau makan apa?"

"Makanan yang bisa dimakan, tidak ada racun, yang pasti membuatku kenyang."

"Dua porsi, spagetti?" Jongin mengangguk malas, menolak kenyataan bahwa dirinya tidak bisa lebih lama menahan kesal. Sehun mengelus surai gelap Jongin lalu mendekati kulkas mengambil bahan-bahan. Jongin mengikutinya , ikut membantu membawakan beberapa telur.

Jongin duduk di meja makan, menatap baik-baik wajah Sehun yang serius memasak. Dia menumpu wajahnya di tangan kiri, masih menatap Sehun dan peralatan memasak yang tak jauh didepannya. Jongin tidak bisa memasak walau hanya merebus air, dia terbiasa memakan apa yang ibu nya berikan atau yang Sehun masakkan. Sedangkan namja pale sahabatnya, memang sejak dia tinggal di panti. Bibi panti sudah mengajarkan anak-anak panti untuk mandiri jadi yah memasak salah satunya.

Bicara tentang panti Sehun dulu, Jongin jadi kembali mengingat masa-masa cengeng nya. Dulu sekali, saat Sehun masih tinggal di panti.. Jongin sering kabur dari rumah dan pergi ke sana hanya untuk bermain dengan Sehun. Saat sorenya, Sang kakak akan mejemputnya untuk pulang. Nah, diwaktu itu Jongin ingat, dimenangis keras bahkan merengek untuk menginap dipanti. Sayang, kakaknya yang kejam dan tidak berperikeadikkan yang jelas langsung menggendong nya di bahu seperti karung beras.

Jongin melamun, tanpa menyadari dua piring spagetti dan Sehun yang sudah duduk didepannya. Sehun meniru cara Jongin menumpu wajah, lalu menatapi wajah Jongin yang sedang melayang jauh ke waktu lampau. Dia tersenyun, mengambil sendok lalu di pukulkannya ke kening Jongin dua kali.

"Akh! Aduh!"

Jongin memegangi keningnya nyeri, dia menatap terkejut spagetti dan Sehun bergantian.

"Eh? Sudah?"

"Tidak mau ya? Ya sudah." Sehun menarik lagi piring Jongin, tapi segera ditahan Jongin.

"Aish, jangan diambil lagi hun."

Sehun hanya tersenyum, ikut memakan ukuran jenis mi panjang di piringnya. Jongin juga begitu tapi sedikit lebih lahap, dia sangat kelaparan.

"Hun? Pinjam ponselmu." Jongin menengadahkan tangannya meminta ponsel Sehun.

Sehun memberikan ponselnya, menatap penasaran Jongin yang terlihat mengetik sesuatu di benda petak tipis miliknya. Tak lama, Jongin mengembalikannya lalu tersenyum lebar dam kembali menyantap makanannya.

"Untuk apa pinjam ponselku hah?"

"Email ke Kris. Err paman Wu."

Sehun mendadak bermood buruk, dia menyakukan ponselnya asal. Dia melirik Jongin yang terlihat tidak perduli sekitar dan terus terfokus makan. Sehun menghela nafas tidak mengerti.. Kenapa dirinya seperti ini.


"Tuan Jinhyuk-ssi?"

Pria paruh baya berjas mahal menghentikan langkahnya saat sebuah suara menyapa pendengarannya. Dia berbalik mendapati Kris berdiri memakai Kemeja hitam berpengan panjang yang di lipat.

Kris menundukkan kepala hormat sebelum menjabat tangan yang baru saja disapanya. Dia mengerti pandangan bingung yang ditujukan padanya tapi Kris hanya tersenyum formal.

"Yifan?"

"Ya, benar tuan."

Tuan Jinhyuk tertawa pelan, kagum dengan cara berpakaian Kris yang sederhana. Dia menepuk kedua bahu yang lebih tinggu darinya,

"Ada apa?"

"Apa anda memiliki sedikit waktu?"

Tuan Jinhyuk tersenyum samar, lalu mengangguk dan dengan mudahnya menyeringai begitu saja.

"Tidak, aku punya banyak waktu untukmu. Bicaralah sebanyak yg kau mau dan kau tahu, aku akan mendengarkan semuanya."

Kris tersenyum menyambut bicara pria tua itu yang hangat, dia mengeluarkan beberapa lembar foto dan kertas juga beberapa lembar surat. Tuan Jinhyuk menerima nya dengan antusias, dia tersenyum kagum tidak menyangka Kris melakukannya.

"Anak itu sudah besar rupanya,hm Kris?"

"Ya."

"Terima kasih."gumam Tuan Jinhyuk pelan memandangi salah satu foto.

Kris mengangguk sebagai jawaban, dia melirik layar ponsel di tangan kirinya. Sebuah email dari keponakan kurang ajarnya, Jongin. Kris tersenyum samar setelah membacanya.

"Jadi.. Karena Keponakanmu?" Kris mengangguk, menerawang langit diatasnya.

"Mungkin dunia ini memang Sempit, tuan." Orang yang disebutnya Tuan, hanya tertawa pelan penuh wibawa.

Tuan Jinhyuk memberikan foto serta kertas itu pada sekertarisnya, dia menepuk bahu Kris pelan. Kris sendiri menunduk hormat, lalu mengikuti langkah tuan Jinhyuk-nya.

"Kita akan berbicara cukup lama, ya kan?"

"Benar."

Kris lagi-lagi tersenyum formal membenarkan ucapan basa basi dari pria tua didepannya. Dia teringat email Jongin, dia kini tersenyum lebar.

'Kau benar..'


TBC.


Sorry ya pendek, abisnya lagi buru-buru mau daftr ulang kakak" sekalian. Bangku Sma menanti huwaa gk sabar *plak pen tak bawa jonginnya biar satu sekolahan pacman emotikon dan chapter ini kayaknya, aku uda sedikit ngilangin scene JongJong/? Yang kietatiew/? Hehe.

Di Chapter sebelumnya, aku mau kasih bocoran aja ya?
Semua peran di sini akan saling terkait sama Tuan Kim dan Jonginnya sendiri. Ah hayo tebak peran Luhan jadi siapa? ntar kalo ada yg bener. Pas adegan sisi manis nya nini ntar tak munculin namkor kalian *sogok/? pacman emotikon ah apa lah ini lupakan saja. Saya yakin tidak berminat.

Thanks for reading.^^