Chapter 6
I CARE FOR YOU
Hunkai or Hunhan?
Drama Hurt/Comfort
T -to- M
WARNING : : Yaoi,Typo,Shounen ai,Boy X Boy, Boys Love fic.
LIKE SO DONT READ DONT IT, SIDERS GO AWAY/? , HATERS I DONT CARE
I dont Own the Cast of EXO or another..
Hidup penuh dengan kejutan, Sungguh merepotkan hingga Jongin ingin menyobek skenario tuhan. Kadang kau merasa senang dan detik berikutnya kau bisa saja kehilangan semua. Itu kata pamannya, terdengar tiang tua itu sudah mulai melapuk mirip kakek-kakek di panti jompo. Akhir-akhir ini pria itu juga menceramahi nya dengan cara aneh sekaligus membuatnya ingin menghancurkan wajah blaster an itu.
Seminggu yang lalu, tepat di tengah malam guru BK sok menawan itu menyeret nya pergi dari pelukan Sehun. Tentu setelah menunggu dua jam mereka baru bisa pergi karena Kris dan Sehun sibuk berdebat tidak penting. Lupakan sekolah, dia yakin hanya Sulli yang histeris menemukan bangku nya telah rongsok di gudang. Atau Para murd penggemarnya yang menangis penuh drama memalukan meratapi hilangnya dia ditelan bumi. Atau juga Sehun yang akan men-spam email dan media sosial nya dengan kalimat 'Jongin kau baik-baik saja' dan 'Jongin, tendang Kris dan kau selamat.' tapi dia tahu itu hanya bertahan dua-tiga hari karena yah.. Luhan. Oh betapa menyebalkan semua ini.
Salahkan Kris!
Pria yang menua tapi sial masih mempesona itu sudah mengurus kepindahannya. Bahkan keluarga nya terlihat biasa bahkan sangat ketara girang mengetahui dirinya dengan terpaksa dipindahkan ke sekolah khusus namja ber asrama. Kalau begini, dia sangat menyesal telah berbaikan dengan Kris bahkan membiarkan tubuhnya disentuh-sentuh pamannya, dia tentu juga sangat menyayangkan jari dan ponsel Sehun yang dipinjamnya untuk mengirim email pada pamannya.
"Hai, manis."
Lihat, baru satu hari diasrama ini tapi dia sudah ingin membobol pagar besi tinggi didepan. Kris disampingnya tersenyum tanpa dosa sibuk berbincang dengan kepala sekolah berkepala botak berbau licik. Sudah diputuskan, asrama ini pilihan buruk. Dia tau ini bagian dari otak ayahnya, tapi tidak menyangka akan berjalan sangat cepat. Hahh, sial disini tidak menyenangkan.
Selamat tinggal cemilan, selamat tinggal kebebasan, huhu selamat tinggal juga Sehun.
Jongin tertawa garing dalam imaginer, dia merasa berlebihan hanya karena matanya mulai berkunang membaca kertas berisi puluhan point denda untuk setiap pelanggaran rule asrama. Tapi, setidaknya cafetaria disini dibuka 24 jam penuh. Jongin melirik Kris, mendapati tangan pamannya sudah menjabat tangan pria botak tambun sang kepala sekolah. Dia ingin muntah melihat senyum bisnis keduanya.
"Sudahlah, Wajah kalian terlihat menjijikkan. Antarkan aku ke kelas. Oh maaf, siapa namamu? Pak lee? Ok. Mana kelas ku?"
Kurang ajar, Kris menatap datar Jongin. Dia melirik kepala sekolah yang terlihat sangat terkejut mendengar nada menyebalkan pemuda tan disampingnya. terkesan dengan etika anak bungsu keluarga Kim.
"Apa?" Jongin tidak merasa bersalah atas ucapannya, seharusnya Kris tau itu pribadinya. Dia sudah setengah hati merelakan hari-hari nya jauh dari Sehun, dan sebagai bayarannya tolong turuti apa saja mau nya. Just it.
Kris mengabaikan nya berlagak tidak peduli. Oh, Okay.. Dia juga tak mau peduli. Jongin mendengus, dia dibarisan belakang mengikuti pamannya.
"Jo—"
"Kai, pak tua."
"Aku pamanmu, sial."
"Aku sial, dan kau sialan? Begitu?"
"Hei!"
Jongin tertawa tanpa suara, membuat Kris diambang emosi labil sangat membantunya terhibur. Cukup suntuk mendengar si kepala botak licik didepan sana berbicara angkuh menyombongkan beberapa aset sekolah.
Kris membenarkan ikatan dasinya, tenggorokannya tiba-tiba kering menyahuti perkataan menyebalkan dari Jongin. Sedangkan keponakannya itu masih tertawa tanpa mau repot memperhatikan bangunan sekolah dan setiap lorongnya. Sungguh, Kadang Jongin sangat aneh. Ber mood swing yang bisa berubah dengan cepat.
"Di ruang musik ini terdapat piano merk a—"
"Apa mulutmu tidak berbusa menyombongkan aset sekolah yang bahkan bukan milikmu pribadi,pak? Kau terlihat bangga dengan sikap menyedihkan mu ini. Mana kelas ku?"
Ucapan pedas itu sudah membuat sang kepala sekolah berhenti berbicara dan mempercepat langkah ke kelas yang akan Jongin masuki nanti. Kris tidak terkejut dengan ucapan tidak sopan itu, Jongin memang akan seperti itu dengan orang yang berkesan buruk padanya. Dia sendiri selalu merasakannya setiap ada kesempatan Jongin membully nya.
"Ini kelas mu, masuklah dan memperkenalkan diri. Didalam sana, adalah guru Nam—wali kelas mu."
Jongin hanya melirik kepergian si kepala botak itu, dia puas mendapati wajah pucat dan canggung beliau. Kris menepuk bahunya dan dia berbalik.
"Ap—" Kris menarik wajah Jongin mendekat, dan mengecup singkat bibir kissable Jongin. Kris tidak tersenyum, tapi pandangannya menyendu beberapa detik sebelum berubah menjadi tatapan kesal. Jongin mengerjap memproses apa yang terjadi, terkadang pamannya rumit. Dan kadang dengan senang akan dibandingkannya dengan rumus fisika.
"Jaga dirimu beberapa hari kedepan, Lusa Sehun akan menjengukmu. Aku pergi, good luck dear."
Jongin berdecak, mengusap bibirnya kasar. Ada sedikit rona merah yang bertengger samar di pipi, tapi tidak terlalu terlihat. Itu tadi memalukan sekaligus menjijikan, dasar pedopil pedofilia tua dan argh sial. Kalau begini dia jadi..
Sehun.. Aku merindukanmu.
"SEHUNNN! SEHUNNN!"
Sehun mengangkat rangselnya dan berlari cepat keluar sekolah. Dia tak mau ditanyai macam-macam, mood nya memburuk bersamaan dengan hilangnya Jongin. Dia mengerti alasannya, tapi dia tak mengerti dengan paman Jongin. Pria itu terlalu mengunci diri hingga beberapa orang sulit menebak cara berpikirnya.
"Ah tunggu dulu, Culun!"
"Sulli.."
Desah Sehun lelah tidak digubrik Sulli, gadis jakung itu menyeret lengan putih ditangannya dengan paksa tak mau ditolak. Sudah muak rasanya, sejak kemarin Sehun menjauhinya hanya untuk menghindar dari ribuan pertanyaan bodoh darinya.
Sehun membenarkan kacamatanya menatap lurus kedepan dengan wajah datar, suasana kafe dengan konsep aneh dan norak ini sangat buruk tapi aneh banyak pelanggan yang kesini. Sulli memesan dua kopi americano panas yang sangat dibencinya. Tapi dia ingat itu kesukaan Jongin.
Hahh Jongin lagi.
"jadi jelaskan, sekarang. Sehun."
Sulli sedang mengintimidasinya, tapi caranya sangat buruk. Dia sama sekali tidak merasa tertekan karena tatapan tajam menuntut gadis itu padanya.
"Kau suka padaku? Berhentilah mencoba terlihat menyeramkan."
Sulli menggeplak kepala Sehun Kesal, tak ada yang menyebalkan dihidupnya kecuali Sehun dan Jongin. Keduanya sangat menyebalkan.
"Aw! Akk ok, Jongin? Dia.. Maksudku seperti perkataan pak Han. Dia pindah ke asrama pria, asrama elit di gangnam sana Sulli. Kenapa?"
Sulli memekik histeris, tatapan berbinar kini mengisi penuh kedua matanya. Para pengunjung kafe menatapi meja mereka sangsi dengan cara Sulli yang cukup berlebihan. Sehun menghela nafas seakan terbiasa dengan Sulli yang selalu memalukan di publik juga saat bersama.
"Benarkah!" Sulli mengguncang Bahu Sehun antusias, Sehun merasa bosan. Ini menyebalkan. "Kalau begitu turuti saja Kris saem, kita jenguk dia Lusa. Ah ya ampun itukan asrama nya pria-pria tampan d-dan kyaaa disana juga ada.."
Sulli tidak melanjutkan perkataannya karena dia tau Sehun pasti mengerti apa maksudnya. Sehun memutar bola mata, terlalu hiperbola mendapati Sulli yang memerah terlihat sedang membayangkan sesuatu.
"Dasar fujoshi. Itu asrama pria, jadi jelas ."
Sulli tertawa riang. Dirinya telah kembali dari kekhawatiran, dia sudah tidak lagi membuang waktu khawatir pada Jongin karena mungkin pemuda itu sudah banyak melanggar pelanggaran di hari pertamanya. Atau mengacau mood pamannya.
Sehun sudah menghabiskan kopinya, dia masih menunggui Sulli yang semakin memerah dan tenggelam dalam lautan fantasi yang bodoh miliknya.
"Kenapa lusa jika nanti malam bisa."
Sehun berujar pelan tapi itu masih terdengar Sulli. Gadis itu memekik keras lagi membuat Sehun benar-benar malu. Kini bukan hanya pengunjung kafe bahkan kasir juga para pelayan mulai melirik mereka.
"Kau benar! Kau pintar sekali Sehun! AAA—" Sehun menghindar dan langsung pergi tak mau dipeluk Sulli.
"Jam 6, di sini."
"AYAY!"
Sehun menghela nafas, dia menghindari pandangan orang-orang lalu berlalu dengan cepat. Sulli, gadis itu masih tersenyum gila mengimajinasikan 'sesuatu' di dalam asrama pria. Biar kuberi tahu suatu rahasia, Terkadang dibanding pria.. Imaginasi para Wanita jauh lebih berbahaya. Itu benar.
Luhan mengunjungi sebuah rumah tradisional kayu berlantai dua diantara jejeran rumah mungil yang mengelilinginya. Dia mendongak keatas menatapi sebuah jendela yang terbuka. Namja berbahu sempit itu tersenyum kecil. Di tubuhnya masih jelas seragam SMA dan tas nya, sepulang sekolah langsung kesini tanpa pulang ke apart.
Pintu terbuka setelah dua ketukan, Luhan tersenyum sopan seolah dia tidak mengenal wanita paruh baya didepannya. Dia membungkuk sedikit menunjukan tata krama sebagai orang Tiongkok. Sedangkan wanita didepannya terdiam menutupi bibirnya terkejut.
"Lu?"
"Apa kabar nyonya Kim?"
Luhan tersenyum lebar, menerima pelukan erat ditubuhnya. Bahu nya basah mungkin wanita ini sedang menangis merindukannya. Sudah lama dia tidak mendatangi rumah ini, tapi toh dia samasekali tidak merindukan bangunan tua penuh kenangan disini. Meskipun memang diantara tempat mana pun, rumah ini yang paling nyaman.
Nyonya Kim melepas pelukannya dia menarik senyum lembut menarik lengan Luhan untuk masuk. Dia berteriak memanggil anak tengah nya, terdengar bising diatas. Seperti beberapa barang keras yang jatuh dan seseorang yang tersandung sesuatu. Luhan hanya tertawa menyadari itu berasal dari gadis yang menuruni tangga dengan super tergesa.
"Kau!"
Hyoyeon membulatkan matanya hingga merasa perih di bola mata, dia menyesal telah menuruni tangga. Ini membuatnya seperti bocah labil menemukan mainan lama. Luhan kembali ke Korea, itu bagus tapi sekaligus buruk. Dia berjalan lambat nan kaku menghampiri ibu nya yang masih saja berseri.
"Kenapa kau kesini hah?"
"Hyoyeon!"
Nyonya Kim menyayangkan sikap kasar Hyoyeon, Disampingnya Luhan hanya menyeringai tipis membalas sambutan kurang bersahabat dari adik tiri nya.
"Sebenar nya, aku ingin bertemu Tuan Kim. Bukan kalian."
Oh lihatlah senyum palsu itu, kedua tangan Hyoyeon gatal ingin menarik sudut-sudut nya melebar hingga robek. Selama dirinya lahir, dia tak pernah menyukai Luhan. Nyonya Kim tertawa canggung, merasa suasana ruangan berubah karena dua remaja ini.
"Dia akan pulang sebentar la—"
"Dimana Jongin?"
Nyonya Kim hanya bergumam memikirkan kata-kata yang tepat. Sedangkan Hyoyeon masih berwajah masam pada Luhan.
"Dia sekarang di asrama nya sampai akhir minggu, baru pulang. Kenapa hm?" Luhan menatap tidak suka pada nyonya Kim yang baru menyebutkan Asrama. Jadi benar Jongin pindah? Kenapa?
Nyonya Kim mengerti alasan tatapan Luhan padanya, wanita itu hanya maklum karena memang sejak dulu sebelum Luhan pindah ke rumah ini. Jongin dan Luhan memang sudah dekat, apalagi sedari kecil Jongin sangat menyukai Luhan. Tapi itu tidak bertahan begitu lama setelah suatu kesalahpahaman membuat berantakan semua. Luhan kabur dan menetap di China dengan Nenek dari mendiang ibu kandung nya. Meninggalkan marga Kim, memakai marga kakeknya yaitu Lu.
Luhan beralih balas menatap Hyoyeon datar, dia menghela nafas pendek. Dia menoleh pada nyonya Kim, mulut nya terbuka membisikkan suatu pernyataan membuat kedua perempuan itu terdiam.
Setelah itu, tanpa pamit dia melangkahkan kaki keluar dari rumah tua ini. Nyonya Kim dan Hyoyeon saling berpandangan beberapa saat. Salah saty dari mereka memejamkan mata menenangkan diri.
'Aku akan kembali, Aku ingin Jongin. Dia hakku. Ku pastikan dia takkan lama untuk mengingat siapa aku.'
Di lain tempat, Kris berada di ruang kerja nya. Dia kembali ke sekolah,dan langsung menuju pintu BK. Pria itu mencari map biru yang disimpannya di meja kerja, bertumpuk daftar nama siswa nakal dan brengsek sekalipun. tapi mungkin dia lupa, map itu entah ada dimana. atau mungkin disimpan oleh Jongin. jadi entahlah Kris memijat pelipisnya, jika bukan karena Jongin.
Dia tentu takkan mau melakukan ini semua, bahkan terhitung hal yang memalukan seperti menjatuhkan harga diri di depan tuan Jinhyuk atau Si Kepala Kim kemarin. benar-benar..bocah satu itu.
''Akhirnya, Saem datang juga!" ini jam pulang sekolah, dan masih ada siswa disini. Kris melirik tanpa minat seorang siswi ber rok pendek didepannya. gadis itu menduduki meja nya tanpa rasa malu atau sopan santun.
"Saeem, kumohon dengarkan ceritaku yaaa?" Kris mengangguk, toh ini juga pekerjaannya. Guru BK memang begini, jadi tempat curahan siswa nya selain mengisi kertas dengan point juga nama. Krystal tersenyum lebar berniat memberikan pelukan, Tapi guru BK tampan itu justru menghindar seperkian detik sebelum tubuh mereka menempel. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal, memang susah ternyata meluruskan yang bengkok. akh sial.
Kris melonggarkan dasinya, Rasanya ini akan sedikit lama. mungkin dia akan kembali ke asrama Jongin sekitar jam 7-8 malam nanti.
"Kim Jongin?"
Jongin baru saja menyelesaikan makan nya saat suara serak memanggil nama nya. Dia menoleh dengan mulut penuh makanan, dan bergumam untuk menyahut. pria pemilik suara itu adalah penjaga asrama. em, mungkin.
"Ada yang men—"
"KAIIII!"
"U-Uhuk, Sulli!" Tiba-tiba saja, Sulli masuk dan memeluk dirinya hingga tersedak. air mana air?! Jongin terbatuk dan Sulli hanya terkekeh senang, dia merindukan Jongin. Sehun masuk setelah si penjaga keluar, dia menatap bingung pada Sulli tapi hanya mendapat kacang dari gadis imut itu.
"Kalian kenapa kesini? bukannya lusa?" Sulli mendengus kesal, dia meninju bahu Jongin pelan lalu membuat mimik wajah sedih yang berlebihan.
"buuuu, Lusa kan lama. Kris saem juga tidak akan tau."
Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, Meneliti setiap sudut hingga bagian bagian detailnya. Dia masih tidak percaya, Manusia seperti Jongin akan mulai tinggal dan bersekolah disini. Dia belum juga mengerti alasan Tuan Kim yang memindahkan anaknya itu ke sini. Padahal Jarak asrama ini dan Rumah Jongin juga tidak terlalu jauh jika menggunakan motor. dan Kris. Pria itu tempo hari juga menperdebatkan hal ini dengannya. jelas saja, Dia tak mau berjauhan dari Jongin.
Jongin meninggalkan Sulli yang sedang mengoceh tentang akibat hilangnya ia dari Sekolah. Pemuda tan itu kini malah sibuk menatap Sehun, sejak datang sahabatnya itu hanya diam tidak mengatakan apapun.
"Sehun?" yang disahuti hanya bergumam, membuat Sulli mulai menghentikan bicaranya dan memberi kesempatan pada Jongin.
"Kau tidak merin—Ah, Luhan? bagaimana Luhan?" Jongin mengganti topik pembicaraan mengira betapa bodoh pertanyaan nya tadi jika diucapkannya dan malah menjadikan nama Luhan menjadi tameng. Sehun menoleh dengan cepat, bibirnya juga tanpa perlu detik sudah tersenyum lebar. Jongin yang melihat Senyuman itu hanya membalas seadanya, sedikit enggan karena penyebabnya adalah orang lain.
"Kami semakin dekat, bukankah itu bagus? mungkin saja, nanti dia akan jadi pasanganku." Jongin mengangguk paksa, berganti dia yang tak ingin mengeluarkan suara. Luhan mungkin sudah meracuni Sehun hingga pemuda pale itu mulai bodoh dan buta di waktu bersamaan.
Sulli menghela nafas, lalu memekik ceria memecahkan kecanggungan keduanya. Dia tau bagaimana perasaan Jongin pada Sehun, tapi gadis itu hanya diam tak mau mencampuri urusan keduanya. biarlah waktu berjalan dan mereka akan menemukan jawaban sendiri. Sulli menyebutnya jalan kedewasaan. Jongin ingin membenci Luhan, jika bukan karena Sehun mungkin itu takkan terjadi. hah menyebalkan.
"Bagaimana kelas baru mu,Kai? apa disini ada guru tampan? atau pangeran pirang? dan siapa roommate mu? apa Roommate mu juga tampan? setampan apa? apa seperti paman kanada mu itu—err Kris saem?"
Sehun sudah terduduk di karpet biru tosca yang tergeletak rapi depan ranjang tempat Jongin dan Sulli duduk. Jongin melirik datar Sulli seolah tau pertanyaan-pertanyaan itu akan keluar. Gadis itu hanya terkekeh kecil.
"Kau bertanya apa yang sudah kau tau? Cih."
"Ish, Kaiiii." Sehun membenarkan kacamatanya, menatap Lurus pada Jongin yang sepertinya tidak sadar , Hari ini ada yang berbeda dengan Jongin. Diliatnya pemuda tan itu atas ke bawah. benar, Jongin merubah gaya berpakaiannya. Sweater tebal cream—Jelas bocah itu lebih menyukai Kaos oblong, Celana training hitam, dan bracellet di tangan kiri— dan tentu, Jongin tidak menyukai hal rumit seperti aksesoris. Cukup terlihat manis, ditambah dengan poni Jongin yang bertambah panjang.. kenapa Sehun baru menyadari nya? Bibir Jongin bergerak menjawab setiap pertanyaaan bodoh Sulli, itupun tak luput dari mata Sehun. Seakan tersihir, Sehun tak mau berkedip. Malam ini Jongin membuatnya kehilangan ucapan.
"Sehun?" Yang dipanggil berdeham, Sulli memperhatikan sesuatu yang asing, yang juga baru disadari. Dia memeriksa setiap detail tubuh Jongin dengan matanya. Gadis itu memekik heboh menarik keras tangan kerempeng Jongin. Jongin mengerang menjauhkan kepala Sulli dari tubuhnya, kenapa juga dia bisa kuat berteman dengan orang yang berisik macam Sulli?
"Jong! Kai! kau memakai gelang— eh? K?" Ada huruf K berukuran sedang yang terukir di liotin bracellet yang digunakan Jongin. Sulli melirik Sehun yang juga kebingungan. mungkin K untuk Kai atau..
"Ya, K for Kris. ini gelang paman Wu, bukan punya ku."
"Eh,kenapa? tapi jika dilihat, semenjak kau hilang kau tambah manis. Kau kerasukan apa?" Sehun kesal sebenarnya mendengar nama paman Jongin, lainkali dia akan memberikan gelang lain yang lebih bagus dari itu. dan pasti mengangganti bracellet jelek itu dengan yang berliontin S.
Sulli terkikik sendiri menyadari kedua lelaki yang tak bukan adalah sahabatnya, Jongin pasti tak senang dengan pujian manis darinya atau Sehun yang mungkin tanpa sadar cemburu masalah aksesoris Kris saem yang dipakai Jongin.
"Kau menyebalkan." Sulli tertawa mendengarnya, Jongin jarang merajuk seperti ini. Perubahan yang mengejutkan memang, tapi ini bagus. Secara tidak langsung Sulli tau kenapa dan detailnya. well, Jongin.. kau yang terbaik.
"Jong—Kalian?" Kedua diantara nya membulatkan mata mereka horror mendengar derit pintu terbuka serta suara bass lainnya. Dengan bersamaan menoleh ke sumber suara.
Damn, itu pamannya berdiri diambang pintu dengan raut dingin. Jongin secara reflek langsung berdiri menyadari mood buruk Kris. Begitu juga, Sulli. Gadis itu bersembunyi dibalik punggung Jongin takut-takut. tapi Sehun tetap ditempatnya, berwajah tenang mengabaikan kehadiran Kris disana.
"Pa-paman.."
"Kukira, Kalian tau arti Lusa. tapi ternyata telinga kalian tidak berfungsi. Cepat pergi dari sini dan Pulanglah." Mendengar itu, Sulli dengan segera menarik lengan Sehun pergi tapi tangan Pale itu menolak ajakannya. Dia malah hanya berdiri balas menatap Kris tidak senang. Jongin memutar bola matanya, menghela nafas lalu mengumpat pelan. ini tidak akan berakhir mudah.. "Kalian pulanglah."
"Tidak."
Jongin menatap Sehun, Dibalik kacamata itu Sehun sedang menatapi pamannya dingin dan seolah menantang. Lalu, Jongin juga beralih ke pamannya yang secara mengejutkan tengah tersenyum. ini sepertinya..buruk. benar-benar—
"Kau yakin? Na, Sulli menjauh lah sedikit dari Kai."
Kris berjalan mendekati Jongin, Sulli pun ikut menggeser tubuhnya menjauhi Jongin. Sehun memicing tidak suka kedua tangan Kris menyentuh Pinggang juga bahu Jongin. Sedangkan Jongin sendiri hanya menampilkan mimik aneh, mencoba meloloskan diri. pamannya memang gila, dan sekarang dia sangat meyakini nya.
"Kau yakin tak mau pergi?" Kris menatap Sehun dengan ekspresi licik yang dia punya, Sehun mendengus mendekat tapi..
"Pam—
Kiss
"Kris! Ka—
Kiss.
Sehun dan Sulli menampilkan ekspresi terkejut, Sulli memekik haru sedikit menyesal tak membawa kamera untuk mengabadikannya. dan Ah sial, Jongin ingin meninju pamannya sekali lagi berharap pukulannya bisa membawa pria tua ini serangan jantung hingga terkapar di rumah sakit. Kris baru saja menciumnya, Jongin menendang perut pamannya dengan lutut. Kris mengerang memegangi nyeri pinggulnya, Tenaga Jongin memang tidak main-main. Sehun termangu ditempat, kakinya mendadak ingin ikut menendang tubuh guru BK itu. Dia menatap nyalang Kris.
"Kau sebut dirimu pamannya, tapi kau menyentuhnya. Brengsek."
"Khh, Bocah." Kerah Kris ditarik kasar oleh Sehun, Keduanya bertukar pandang dengan tajam. Jongin meneguk ludah melihat Sehun dan Kris untuk pertama kalinya mungkin akan saling memukul. Apa yang dilakukannya?
TBC.
sorry for late update, ini pendek ya? maaf. akhir" ini aku lagi sibuk sama sekolah baru. Tau gk? Bagian KrisKai kiss diatas keinspirasi kakak osis keren yang pas mos ngawasin gugus ku. aaa mau leleh. wajahnya itu lho perpaduan Kris-Sehun. beneran gk boong ya tuhan tapi orang jutek T^T. duh kok malah curhat. hehe. saya tau chapter ini gaje bgt. maaf ya. Thanks for reading.
