"Kau sebut dirimu pamannya, tapi kau menyentuhnya. Brengsek."
"Khh, Bocah." Kerah Kris ditarik kasar oleh Sehun, Keduanya bertukar pandang dengan tajam.
Jongin meneguk ludah melihat Sehun dan Kris untuk
pertama kalinya mungkin akan saling memukul. Apa yang dilakukannya sekarang?
Chapter 7
I CARE FOR YOU
T+
PG-16
H/C, RomCom, Family/Friendship
WARN! BadSumm/BoyXboy/ yaoi/ShounenAi/ BoysLove/CrackCouple/ Typos
Dont Like dont Read.
I hate Silent riders..
No Copy Paste.
"Kau mau apa sekarang?"
Sehun terkejut bisa melakukan ini, menarik kerah leher Kris yang tinggi sama sekali tidak terpikirkan dari dulu. Sekarang dia melihat Kris sedang menatapnya jenuh, bukan malah balas mendelik atau membentaknya. Kris menyeringai memiringkan kepalanya menunggu tindakan Sehun selanjutnya. Dia ingin tau sesakit apa bogem an dari bocah naif ini. Dugaannya, menyedihkan. Bahkan Kris tau, Sehun tidak bisa berkelahi. Apa benar dia lelaki? Ia tak mengerti apa yang keponakan nya suka dari bocah lemah ini?
"Kau." geram Sehun tak terima diremehkan oleh tatapan kris.
Sehun mengangkat tangannya, tapi hanya terhenti di udara saat tak sengaja melirik keadaan Jongin, dia tanpa sadar menahan nafas mendapati Jongin tengah menatapnya tidak suka. Sehun membuang muka, ini pertama kali nya Jongin menatapnya seperti itu. Entahlah, waktu seolah berhenti sekarang.
"Tidak ada. Sulli, Kita pulang."
"Eh? Kenapa? Aish, Jongin kami pulang dulu. Selamat malam." Sulli memeluk Jongin Sekilas sebelum membungkuk singkat pada guru BK pirang disamping Jongin lalu menyusul Sehun.
"A—Sehun?"
Sehun menyentak tubuh Kris menjauh sampai menabrak dinding, lalu secepat mungkin melangkah pergi. Jongin hendak menahan Sehun tapi lengannya tertahan oleh pamannya. Saat berbalik, sebelum ia bersuara pamannya terlebih dulu menyela.
"Ada yang lebih penting dari itu."
Jongin mengangguk kaku, menatap khawatir punggung Sehun yang mulai tak terlihat. Dia lalu kembali bertatapan dengan pamannya lalu memejamkan mata bersamaan dengan ciuman di kening didapankannya dari bibir Kris.
.
.
.
"Apa maksudmu? Ash, Kris jangan merumitkannya. Ceritakan saja."
Pria yang dipanggil Jongin Kris tanpa embel embel paman itu tengah menyeduh secangkir kopi hitam. Dia lebih terlihat tidak perduli dengan rengekan Jongin, hanya menatap remaja itu jengah.
Akhirnya dia beranjak, melempar map merah pada muka keponakannya. Jongin mengaduh memegangi hidung, tapi dia mulai terfokus pada baris huruf yang dibacanya. Bola matanya melebar, secara reflek membuang Map merah itu ke sudut ruangan.
"Apa ini? Kau mempermainkan ku? Ya! Paman!"
Jongin semakin dongkol di seringai i oleh pamannya. Kris memeluknya dari belakang, mengendus tengkuk sampingnya. Walaupun itu geli, tapi dia tak punya waktu mendesah macam pemurah di bawah pamannya. Dia menyiku perut Kris sekuat tenaga, tak perduli jika pamannya kesakitan memegangi perut sekarang. Jongin menutupi wajahnya, dia kesal sekarang. Bagaimana mungkin Kris memberinya kertas tua dan beberapa foto ayahnya dengan wanita lain. Maksudnya, dia tau ayahnya bukan orang baik tapi.. Tidak mungkin tuan Kim besar itu berselingkuh?
"Hah, bodoh." Jongin mendengar celaan Kris dan tawa nya yang mengejeknya.
"Jangan tertawa, dasar tua."
Pukk pukk
Kris menepuk kepala Jongin yang condong kearahnya. Dia tersenyum lalu mulai menampilkan ekspresi serius mengingat beberapa kilatan masa lalu. Sejenak dia menatap Jongin ragu, lalu menghela nafas.
"Baiklah, sudah saat nya kau tau. Atau mungkin kau juga berusaha lah mengingat detailnya,Kim."
Jongin mengangguk antusias, tapi terpaksa menyambut pelukan Kris dengan wajah masam.
'..belasan tahun yang lalu? Apa? Ada apa? Khh, kenapa kepalaku sakit?'
"Sehun kau kenapa?"
"Sehun jawab aku!" Sehun menggeleng singkat. Menyibukkan diri memasak makan malam untuknya.
Sulli menatapnya prihatin, tak menyangka sahabatnya bisa seperti ini. Sehun tidak pernah mengacuhkannya, jika iya setidaknya temannya itu masih mau bertatap muka. Tapi ini? Melirik saja tidak. Ah dasar pria, Sulli yang manis ini sungguh bingung pada makhluk mu yang satu itu Tuhan.
"Aa,Sulli? Boleh aku bertanya?"
Sulli mengangguk tanpa suara, saat Sehun beralih menatapnya putus asa. Sebenarnya apa yang menggangggu pikiran Sehun? Apa masalah ciuman manis KrisJong tadi? Oh ayolah, itu manis sekali Sehun. Cobalah menerima kekalahanmu, Kawan. Hidup tak selalu tentang mu tuan. Inner Sulli seraya berpura-pura tersenyum lebar.
"Apa kau tidak berpikir jika Kris-saem sangat terobsesi pada keponakannya? Maksudku y-yeah, I mean..um Jongin?"
Eh-eh?
Sulli mulai memikirkan pertanyaan Sehun, Itu benar. Tapi, untuk apa Sehun menanyakannya. Seingatnya Jongin pernah bercerita sesuatu tentang pamannya, Oh! Sulli mengingatnya. Dia menyeringai jahil dibelakang Sehun.
"Kenapa bertanya? Memang kau perduli pada Jongin?"
Sulli membuka aplikasi Line, mendapat satu sticker marah dari salah satu temannya. Dia tertawa pelan, mengirim sticker brown dengan tanda tanya. Tak lama dia kembali menatapi punggung tegap Sehun. Terlihat sekali, pemuda berkacamata itu sedang berpikir. Perempuan yang juga berkulit putih pucat itu berdiri menepuk bahu sahabatnya, dia mengulas senyum menenangkan.
"Tidak, Jongin pernah bercerita jika pamannya itu Bi. Tapi sejauh ini Jongin masih meragukannya. Lagipula apa kau tertinggal gosip? Kris-saem akan menikah tahun depan dengan model cantik dari China."
Sulli benar-benar tertawa, wajah blank Sehun sangat lucu. Itu benar, bahkan Jongin sendiri yang bercerita padanya bahwa pamannya akan menikah disertai ekspresi lega sekaligus bahagia. Sulli mengetahui beberapa potret hubungan Jongin dan pamannya. Andai dulu Jongin tidak mengalami kecelakaan mungkin Jongin akan menjadi anak manis yang penurut bukan malah melupakan jati dirinya lalu menjadi pribadi yang berbeda yang sebenarnya sulit Sulli terima. Tapi tak apa, mata sulli masih menemukan tingkah manis tersembunyi Kim Jongin.
Dibalik lamanya persahabatan Jongin-Sehun, Hanya Sulli yang mengetahui detail tentang apa-apa yang berhubungan dengan Jongin. Sehun? Dia terlalu sibuk menganggumi beberapa sosok di dua-tiga tahun ini. Hah, dia juga tidak pernah peka. Kasian juga Jongin. Terkadang dibanding Sehun, Sulli sangat yakin Jongin lebih mempercayainya.
Tokk Tokk
Meninggalkan Sulli sendiri, Sehun berlari menghampiri pintu melihat siapa tamu nya. Pemuda tinggi itu sempat membelalakkan mata terkejut. Sosok manis yang sejujurnya lama dia tidak menemuinya hari ini. Sangat sangat rindu.
"Selamat malam, maaf mengganggu mu. Aku ingin pinjam beberapa buku,Boleh?"
Sehun terdiam di tengah jalan masuk, menatap gugup sosok yang tak terduga telah bertamu. Itu Luhan, dengan Kaos V neck tipis berwarna abu-abu. Dia tersenyum kecil mencoba menarik perhatian Sehun.
Sehun menunduk sebentar membenarkan frame nya. Dia menggaruk rambutnya gugup.
"O-oh, itu.. Boleh. Tentu saja boleh."
"Ah, aku—"
"Siapa hun!?" Sulli berteriak menyusul, langkah berhenti mendapati tingkah absurd Sehun. Dia mengintip dan mendengus menemukan Luhan disana.
"Oo, Luhan? Masuklah." Senyum Sulli terlihat mengerikan dimata Sehun, sangat lebar dari biasanya dan juga mata gadis itu memicing kesal padanya. Tapi walaupun begitu Luhan masih balas tersenyum ramah. Ah, Sulli benar-benar ingin kekamar mandi saat matanya melihat gelembung lovey dovey disekitar Sehun. Gadis itu memutuskan untuk menyingkir berniat makan di dapur. Dia tak menjamin tidak muntah melihat wajah kepura puraan Luhan. Kenapa lelaki seperti itu menjadi bagian hidup Jongin?
"Sekalian, boleh kau ajarkan aku beberapa rumus kimia atau mungkin bahasa dan budaya bab 5?"
Sulli kembali memutar bola matanya melihat adegan Sehun yang malu-malu menganggukkan kepala sebelum dia benar-benar pergi ke area dapur.
My Own Stories
Dilain tempat, Jongin tengah meringkuk meremasi rambutnya beberapa kali. Yifan atau Kris juga duduk disebelahnya memainkan aplikasi game ponsel.
"Paman.." panggil Jongin pelan.
Kris mematikan ponselnya lalu mengubah posisi duduk menghadap Jongin. Tangan besarnya terangkat mengusak pelan rambut dark brown ponakannya. Suara parau Jongin menunjukkan seberapa besar terkejutnya dia mengtahui beberapa fakta penting—Sial sekali, karena selama ini dia melupakannya. What the heck..
"Jadi, Luhan kakakku dari lain ibu? Ayahku pernah menikah sebelumnya d-dan berselingkuh dengah ibu ku sekarang? Fakta bodoh apa ini, Paman. Kau bercanda?!"
Sumpah demi apapun, Jongin tidak pernah ingat jika pernah kecelakaan di masa lalu. Dia juga tak pernah tau, jika—jika Luhan.. Orang yang disukai Sehun adalah kakaknya itu menjadi satu satunya malaikat saat dia hampir meregang nyawa. Tapi tunggu..
Jongin terbelalak menatap kedua iris Kris, dia baru menyadari sesuatu. Dia menarik Kris mendekat.
"Untuk apa Luhan kesini dan bersekolah disini? Bukankah dia seharusnya sudah lulus tiga tahun yang lalu? Paman! Jangan diam jawab aku."
Kris menghela nafas, dia mengalihkan matanya ke beberapa sudut benda di sekitarnya. Si kim kakaknya dipastikannya akan membayar ini dan akan berterima kasih padanya nanti.
Kris menyerah dan kini berusaha menatap tegas Jongin, berharap Jongin tidak terkejut atau kemungkinan buruknya anak ini akan semakin penasaran.
"Alasannya sama, dia terobsesi denganmu. Jadi orang tua mu yang cemas memindahkanmu kesini. Jongin, kuharap kau jauhi Luhan. Kupikir dia merencanakan sesuatu pada Sehun."
Mata Jongin sempat menatap pamannya nanar sebelum menutupi wajahnya gusar. Kenapa harus dijauhi, jika dia kakaknya pasti Luhan menyayanginya. Dan kenapa harus Sehun.
"Tap—"
"Kau dengar, jauhi dia. Selamat malam. Tidur lah."
Kris beranjak setelah sebelumnya menepuk pelan pipi tirus Jongin. Dia khawatir keponakannya akan terus memikirkan ini. Setelah menutup pintu, Kris berjalan menyusuri lorong sepi. Dia mengeluarkan ponselnya, wajah nya berubah datar menatapi dingin layar bidang datar ditangannya.
Brother Kim Calling..
S EHUN K AI
Kedatangan Luhan membuat Sulli terburu-buru pulang. Tak tahan jika melihat kedekatan keduanya, Sulli bisa saja menendang rusa itu tapi ada Sehun. Dia takut.
Tinggal mereka berdua, Sehun masih terserang virus gugup karena bahu Luhan menyentuh bahunya. Walaupun begitu, Sehun masih berusaha untuk tidak tersenyum sangat lebar. Luhan disampingnya terlihat berwajah serius mempelajari rumus kimia yang baru diajarinya beberapa menit lalu.
Wajah Serius Luhan mengingatkannya pada bayangan Jongin saat mereka ujian tahun lalu. Saat itu wajah Jongin sangat serius karena berusaha mengerjakan soal matematika sendirian. Walaupun Sehun menawarkan bantuan seperti biasa tapi janji makan ayam masakan ibunya ternyata lebih banyak menyita pikiran Jongin.
"Hm, Jongin."
Luhan secara reflek menoleh pada Sehun karena pemuda itu menggumamkan nama adiknya dengan mata menerawang disertai senyum tipis. Kedua mata rusa itu tak tahan untuk memicing tak menyukai cara Sehun menggumamkan nama Jongin.
"Kenapa melamun?" Sehun tersadar lalu ikut menoleh pada Luhan yang berpura-pura menatapnya bingung.
Dibawah meja, sesungguhnya tangan kiri Luhan tengah mengepal ingin memukul rahang pemuda bodoh disampingnya ini. Walau bibirnya tengah tersenyum, sebenarnya hatinya tengah mengumpat sebanya yang dia bisa.
'Jongin..milikku, dan selamanya akan begitu.'
TBC
Ternyata saya tetap telat, dan gk bisa nepatin janji memperpanjang alur sampai 2-3K. Maaf ya, saya bakal berusaha di chap depan.^^ MAAAAAF YA PLISS
Thanks for your reading.
