I CARE FOR YOU. #8
CsyKaiJ Storyline
Main Cast : :
-Kim Jong In/Kai
-Oh Sehun
-Wu Yifan/Kris
-Lu Han
Cameo Girls : :
-Sulli Choi.
-Krystal Jung
-Others.
Hurt/Comfort, Drama, Friend/Family Ship.
WARN!BoysLove/Yaoi/ ShounenAi/BoyXBoy/ TopBott/DLL.
Happy Reading..
Seoul, 04.45 KST
Dalam asrama khusus pria, sudah jadi adat mereka untuk bangun lebih pagi. Selain bersekolah, mereka dipaksa untuk melakukan apa-apa sendiri kecuali soal makanan. Pihak sekolah tau kendala pria dalam hal dapur, jadi mereka memfasilitaskan Kafetaria 24 jam di ujung lorong.
Khusus pagi ini, tentunya adalah hari pertama Jongin menempa pelajaran disini setelah kemarin dipindah sekolah kan. Jam empat pagi, suara sirine asrama berbunyi sangat keras membuatnya mengeluh mengantuk. Sedihnya lagi, sampai sekarang dia tidak tau siapa teman sekamarnya. Mungkin akan lebih baik jika dia di rumah, Jongin sama sekali tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Semua serba disiplin dan terikat peraturan. Jongin merasa kehilangan kebebasannya, mungkin dia takkan menemui waktu pelajaran untuk dibolos ke atap.
Dia membuka pintu kamar bersamaan dengan penghuni asrama yang lain, benar-benar tidak ada perempuan disini selain staff kafetaria. Membosankan. Jongin menengok kanan-kiri tak mengerti kenapa siswa-siswa tetangga kamarnya terlihat terburu menggunakan celana trainning. Dari lorong kiri, seorang pria paruh baya terlihat berjalan tegak sambil memukul kepala yang muncul di balik pintu kamar asrama. Jongin merasa sekarang gilirannya, tapi saat menutup mata takut dia tak merasakan apa-apa.
Membuka mata, dia terkejut menemukan tuan Jinhyuk didepannya. Sebelum ini, dia tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan pria yang sedang dikenal secra umum di korea selatan berkat semua jalur usahanya. Bahunya ditepuk pelan, terasa berat walau tidak sakit. Dia melihat Tuan Jinhyuk tersenyum.
"Kau terkejut? Perkenalkan, aku pemilik asli asrama ini. Nah, anak muda.. Kau tidak keberatan jika setelah jam pertama mu nanti, bisakah kau datang ke ruangan ku?"
Jongin bahkan tidak menjawabnya setelah pria tua itu pergi memeriksa kamar lain. Dia hanya berpikir lebih keras, apa hubungan ayahnya dan luhan. Tapi tuan Jinhyuk? Seingatnya dia tak pernah mengenalkan diri, bagaimana orang itu tau?
.
.
.
"Namaku Kim Jongin. Siswa pindahan. Salam kenal."
Jongin membungkukkan badannya tapi tidak terlalu rendah, membuat seisi kelas bising hanya karena bisik-bisik kurang kerjaan para siswa nya. Dia tau apa yang dilakukannya tidak sopan, tapi bagaimana lagi? Seluruh peraturan sekolah serta asrama ini membuatnya tercekik, dia seolah kehilangan ruang untuk bergerak melakukan apa yang dia suka. Ini belum satu minggu, tapi dia benar ingin pulang saja.
"Jongin, kau duduk dengan Mino. Mino angkat tanganmu."
Jongin bertemu tatap dengan sepasang mata tajam yang jujur saja membuatnya hilang keberanian. Dia berjalan menghampiri bangkunya dan duduk disamping lelaki pemilik nama Mino. Kim jongin bukan seorang yang pendiam dan mudah gugup, tapi kenapa duduk disamping orang ini sudah membuatnya terintimidasi. Ini lebih buruk dari mendengar ocehan Sulli atau Sehun, setidaknya mereka takkan mengintimidasinya dengan tatapan tajam.
Jongin membuang muka ke samping kanan dan malah menemukan tatapan tajam lain yang lebih menjijikkan. Apa-apaan tatapan cemburu mereka, dia tak melakukan apa-apa.
"Sebenarnya.."
Suara berat yang terdengar terasa sangat dekat dengan telinganya, Jongin menggenggam pensilnya erat—mencoba untuk menahan diri untuk berlari keluar dari sini. Teman sebangku nya belum melanjutkan perkataannya walaupun Jongin sudah menyahut.
"—aku teman sekamarmu. Hm, salam kenal."
Jongin berfirasat jika Mino tengah menyeringai, dia memutuskan untuk tidak terlalu perduli pada nya dan melihat lurus-lurus ke papan tulis. Wajahnya belum menarik senyum sejak memasuki asrama penuh kejutan ini. Dia bingung, bagaimana Kris menemukan asrama macam ini. Benar-benar, Dia sekarang merindukan sekolahnya yang dulu.
"Sehun!?"
"Ah, Luhan?"
Luhan memanggil Sehun di lorong kelas, dia menghampiri Sehun dengan langkah panjang walau sebenarnya sangat malas menjumpai lelaki naif macam Oh ini. Sangat buruk juga, karena sedari kemarin dia tidak melihat Jongin-nya. Dia melihat senyuman malu dari Sehun, euh berkaca lah beast. Wajahmu terliht lebih buruk dari kacamatamu. Jangan tersenyum padaku.
Sehun tidak menyangka akan disapa Luhan di awal hari, ini sangat menyenangkan jika keduanya menghabiskan waktu seharian selama di sekolah. Hitung-hitung,mengur angi kadar rindunya mengomeli Jongin. Kira-kira apa anak itu tidak berbuat ulah di hari pertamanya sekolah?
Luhan mengambil kesempatan untuk bertanya tentang adiknya. Dia yakin Sehun takkan menolak untuk menjawabnya.
"Oh ya, sedari kemarin tak ada Jongin. Kemana dia?" dia juga sengaja mengulas Senyum buatan untuk mempengaruhi Sehun.
"A-ah, dia.. Dia pindah sekolah."
"Benarkah? Kenapa?"
Luhan benar-benar terkejut mengetahuinya, dia akan mengirim orang tua itu ke liang tanah karena berani mempermainkannya. Di China, dia rela meninggalkan dunia modelling untuk kembali bersekolah tiga tahun di korea demi mengambil Jongin. Tapi dugaannya tidak sesuai, Orang tua Jongin benar-benar bertindak cepat.
"Dia pindah ke sekolah mana?"
Sehun tersenyum membenarkan lensa kacamatanya yang turun, dia juga menggaruk pipinya malu. Tatapan ingin tahu Luhan terlihat sama menggemaskannya dengan Jongin, bedanya Jongin mempunyai tatapan anjingnya.
"Tidak jauh, asrama tetangga. Dekat sini, hanya berjarak tiga halte bus."
Tringgg~
Luhan mengangguk paham, dia tersenyum mengucap terima kasih berbarengan dengan bel masuk kelas. Sehun menawarkan diri berjalan bersama, dia jadi berpikir..
Sampai kapan dia akan bermain seperti ini, karena Luhan sangat ingin membawa Jongin ke China.
-f-
Hari minggu pagi Jongin sepertinya akan berjalan sempurna, kedua orang tuanya pergi ke suatu tempat sampai tengah hari nanti. Kesempatannya untuk pergi berkendara mobil sendiri. Jadi tanpa rasa takut dia membuka kotak penyimpanan kunci lalu menyambar satu kunci mobil yang menurutnya unik.
Saat ayahnya dirumah, dia dilarang berkendara kemanapun sendirian selain ditemani kakaknya. Tak berbeda dengan ibunya yang terlalu over-protective padanya hingga dilarang menyentuh satupun kunci mobil bahkan motor. Karena hal itu dia selalu dicarikan sekolah yang dekat dengan rumah, pada akhirnya dia selalu mengurngi uang jajan untuk naik bis.
Jongin sekarang sedang berbinar memandangi bagian dalam mobil, walau sudah sering dia jarang duduk dimobil sendirian. Tangannya mengelus bundaran stir mobil perlahan seolah benar-benar mengendarainya. Terdengar tawa, Jongin terlalu senang hingga tawanya terlalu ceria. Dia memutar kunci, menyalakan mesin. Pikirnya takkan terjadi apa-apa, dan semua akan aman saja. Tapi kenyataannya dia salah berpijak hingga menekan tuas gas.
"Aaaaa!"
Mobil melaju cukup kencang, beruntung jalanan sedang sepi dan jarang kendaraan melintas. Jongin ketakutan dia tak mengerti cara menghentikan laju mobil yang dikendarainya. Dia menarik apa saja, dan melepas kemudi untuk mencari apapun yang bisa mengerem. Sayangnya..
"Appa!"
BRAKK!
Jongin terbangun penuh keringat, kerah seragamnya basah. Dia mengelap keningnya, berpikir apa yang terjadi dalam mimpi nya tadi. Jongin menatap sekeliling, baru ingat jika ini masih ruang kelas. Dengan terburu dia beranjak berlari menelusuri lorong mencari sebuah ruangan. Dia juga baru ingat jika tuan jinhyuk menunggunya.
Brakk
"Ah?"
Jongin termangu di ambang pintu setelah tak sengaja membukanya kasar. Dibalik pintu dia menemukan pria tegap sedang berdiri membelakangi memandangi jendela besar yang langsung menghadap taman belakang asrama. dia memutuskan untuk mengetuk pintu pengganti tata krama. Jongin membungkuk menyadari orang itu telah berbalik menatapnya.
"Jongin, duduklah." orang itu tersenyum penuh wibawa, mengingatkannya pada seserang karena diantara mereka berdua sedikit memiliki kemiripan.
"Yifan tempo hari menemuiku. Kau tau?" Jongin mengangguk kaku tanpa tau jika dia telah merubah kepribadiannya.
"Ya."
"Apa maumu anak muda?" tatapan tuan Jinhyuk sangat berbeda dengan pagi tadi. Jongin kesulitan meneguk ludah.
"Aku? A-a aku?"
Tbc
Note ::
I cant! Ah bener" susah buat manjangin ff ini. Maafin saya. Di chapter ini ada sedikit flashback. Saya suka bagian jongin ketemu mino. Seme baru jongin mengkhayal yang tinggi. Ukh.
Thanks for your attention 3
