Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Not own anything of Naruto.

This story is originally made by me.


Please Stay Beside Me

Written by Shady (DeShadyLady)


Chapter 1

Everything for you

-Segalanya untukmu-


"Kami dari keluarga Uchiha, tuan besar kami ingin bertemu dengan Anda."

Seorang pria berjas hitam yang berperawakan tinggi dan kekar muncul di depan pintu rumah Haruno Kizashi. Karena pria itu menyebutkan 'tuan besar', maka dapat Kizashi tangkap bahwa pria ini hanya orang suruhan atau pengawal. Kizashi hanya dapat terpaku bingung, ia hanya karyawan biasa di salah satu bank swasta, apa yang membuat seorang Uchiha ingin menemuinya?

"Baiklah, silahkan masuk." Kizashi hanya dapat menerima tamu spesial tersebut dengan sopan. Tidak mungkin ia menolaknya, ia tentu tahu siapa keluarga Uchiha itu. Keluarga pemilik usaha perindustrian terbesar di wilayah ini.

"Kizashi, siapa tamu kita?" tanya Mebuki dari dalam rumah.

"Uchiha, pelankan suaramu itu, Mebuki." jawab Kizashi.

"A-apa? Baiklah, maaf." Mebuki kembali masuk ke dapur, tangan cekatannya segera menyiapkan teh dan beberapa kue cemilan. Tidak hanya Kizashi, Mebuki juga heran. Untuk apa keluarga Uchiha mencari mereka yang hanya warga biasa saja.

Tidak perlu menunggu lama, tampak seorang pria dengan wajah tegas dan wanita cantik yang anggun dari mobil sedan hitam yang mewah tersebut. Kizashi menyambut baik tuan dan nyonya keluarga Uchiha. Siapa lagi kalau buka Uchiha Fugaku dan istrinya, Uchiha Mikoto.

"Selamat datang, maaf rumah kami sedikit berantakan." ucap Kizashi basa basi.

"Tidak apa, kami senang diterima disini." balas Mikoto dengan senyum lembut.

"Ah, silahkan dicoba teh dan cemilannya." ucap Mebuki yang muncul dari dapur sambil membawa nampan yang sudah berisi 4 gelas ocha dan kue sepiring penuh.

"Terima kasih." jawab Fugaku.

Mebuki duduk di sebelah Kizashi. Kini keluarga Uchiha dan keluarga Haruno duduk berhadapan.

"Begini, tuan Haruno. Maksud kedatangan kami kesini adalah untuk membahas putra kami, Sasuke." Fugaku menghela nafas sejenak. "Ia sangat menyukai putri kalian, Sakura." ucap Fugaku to the point.

"A-apa? Sakura? Tidak, tidak mungkin. Sakura itu sangat manja, bahkan sepatu dan tasnya saja tidak pernah dia bereskan." Mebuki tidak dapat menahan betapa terkejutnya ia dengan pernyataan tuan besar Uchiha.

"Mebuki." tegur Kizashi.

"Eh, maaf. Maaf. Aku keceplosan, hehe. Maafkan aku." ucap Mebuki pelan.

"Tidak mengapa, nyonya Haruno. Sasuke itu juga manja, haha. Ia juga tidak pernah mengerjakan apapun. Mungkin salah kami, orang tua yang selalu memanjakannya." balas Mikoto.

"Um, tapi aku pernah dengar dari Sakura, katanya Sasuke itu sangat pintar, ia selalu juara kelas sekaligus juara umum dari seluruh murid setingkatnya. Bahkan tidak ada satu orang pun yang dapat mengalahkan posisinya. Pasti kalian sebagai orang tuanya sangat bangga punya anak seperti itu." Kizashi mengingat-ingat perkataan putrinya mengenai Uchiha Sasuke.

"Hm, itu memang benar. Tapi itu semua dulu." Ucap Fugaku, raut kesedihan langsung tergambar di wajah tuan besar Uchiha yang tegas itu.

Tanpa berbasa basi lagi, Fugaku menceritakan seluruh kejadian yang dialami Sasuke. Mulai dari hari dimana Karin, yang Sasuke anggap sahabat terdekat, mencelakai putra bungsunya itu.

Flashback ON

Sasuke berusaha membuka matanya. Kepalanya terasa pusing dan sakit. Yang dapat ia ingat hanyalah ada yang menculiknya sesaat setelah pulang sekolah. Ia berusaha bergerak, tapi tidak ada gunanya. Tangan dan kakinya diikat erat dengan tali. Ia melihat sekelilingnya…, saat ini ia berada di kursi penumpang bagian belakang mobil yang tampak mewah. Ia masih berusaha melepaskan dirinya dari ikatan tersebut dengan menggerakkan tubuhnya sebisa mungkin.

-dlek

Pintu mobil terbuka.

Sasuke dapat melihat seorang pria berbadan besar berpakaian setelan jas rapi menyeretnya keluar dari mobil mewah ini. Bahkan pria itu dapat mengangkatnya dengan satu tangan. Saat Sasuke berusaha melawan, yang ia dapati adalah pukulan keras di perutnya. Sasuke tidak tahu akan dibawa kemana, saat ini ia hanya berharap keajaiban yang tidak pernah dipercayainya itu menjadi kenyataan. Ia berharap siapa saja datang untuk menolongnya.

Pria berbadan besar itu mendudukkan Sasuke dengan kasar di sebuah kursi dan diikat erat pada kursi tersebut. Yang dapat Sasuke lihat tempat ini tampak seperti gudang. Hanya ada 1 kursi di tempat itu, kursi yang ia duduki saat ini. Sasuke merasa seperti akan diadili atau dipukuli hingga tewas. Perasaannya semakin buruk. Tidak, ia tidak boleh mati. Kepergian kakaknya sudah cukup membuat keluarganya terpuruk. Jika ia juga pergi, maka Sasuke tidak dapat membayangkan seperti apa hidup kedua orang tuanya. Sasuke berjanji dalam hati akan kuat apapun yang terjadi padanya.

"Heh, dasar bajingan. Akhirnya kau berhasil ditangkap juga?" Karin bersama sejumlah pengawalnya berjalan mendekati kursi yang Sasuke duduki.

Sasuke tidak menjawab, hanya membalas tatapan tajam pada Karin. Kemudian menatap ke arah lain dan mempertahankan wajah datarnya.

"Hei! Lihat aku! Jangan berlagak sombong kau dihadapanku!" ucap Karin sambil menggerakan dagu Sasuke dengan kasar dan memaksa Sasuke untuk melihatnya.

"Apa? KAU MAU APA?" tantang Sasuke. "Cuih!" Sasuke meludah tepat di muka Karin.

"Heh, berani sekali kau?" Karin menyetuh bekas ludah Sasuke di wajahnya dengan jari telunjuk. "Tapi rasamu manis juga, hahaha." Kemudian memasukkan jari tersebut ke dalam mulutnya.

Sasuke menggeleng melihat kelakuan gadis di depannya, eh salah, sepertinya ia tidak gadis lagi, terlintas di pikiran Sasuke saat melihat Karin bercinta dengan salah satu pria yang dia tidak kenal saat perayaan ulang tahun ke 18 wanita itu.

"Kenapa kau tidak sekalian hamil saja wanita gila? Dengan begitu kau bisa jadi nyonya besar dan tidak usah menggangguku lagi!" teriak Sasuke lantang.

"Apa? Kau panggil aku wanita gila? Heh, kau lupa aku ini siapa?" Karin mengerutkan alisnya dan tersenyum sarkastik.

"Memangnya kau siapa? Kau hanya wanita jalang yang tak tahu diri setelah ditolak!" Sasuke membalasnya dengan pandangan meremehkan.

"Lihat saja, akan aku cari tahu siapa gadis yang kau sukai dan aku akan membunuhnya!"

"KAU!" Sasuke tentu marah dengan ucapannya. Sumpah demi apapun, Sasuke akan segera membunuh Karin saat ini juga jika ia tidak terikat. Sasuke tidak akan membiarkan Karin melukai gadis merah mudanya itu.

"Kalian, lepas bajunya." Perintah Karin pada sejumlah pengawalnya yang berpakaian setelan jas dan berkamacata hitam. "Kemudian pukuli dia dengan itu." Karin menunjuk pada cambuk yang tergantung pada dinding.

Mata Sasuke membulat mendengar perintah Karin. Tubuhnya beku seketika.

Tampak salah seorang pengawal Karin melepas atasan- lebih tepatnya baju seragam Sasuke. Menyisakan celana panjang Sasuke yang dipakainya.

-Syuuut

Cambuk itu melayang tinggi ke atas.

-Ctaaak

Kemudian jatuh mengenai tubuh Sasuke.

"Ngh!" Sasuke menahan rasa perih di punggungnya.

-Syuuut -Ctak

-Syuuut –Ctak

Begitu terus hingga badan Sasuke terhuyung jatuh bersama dengan kursi tersebut.

"Hah, hah, haaahh.." Nafas Sasuke terengah-engah. Punggungnya bengkak, tubuhnya tidak berdaya. Peluh yang membasahi tubuhnya terasa perih ketika mengenai luka bekas cambukan yang masih basah.

Karin terlihat memunggunginya sejak tadi. Karin sepertinya tidak tega melihat Sasuke kesakitan seperti itu. Setetes air mata mengalir jatuh ke pipinya. Tapi, keputusannya sudah bulat. Ia tidak akan membatalkan rencananya itu. Sasuke sudah menolaknya, Sasuke sudah mencintai gadis lain selain dirinya dan hatinya jauh lebih sakit saat penolakan itu daripada saat ini.

"Berikan dia yang sudah kita bicarakan sejak awal." teriak Karin dengan lantang, posisinya masih membelakangi Sasuke.

"Baik, nona muda." Jawab seluruh pengawal itu serentak.

Karin berjalan keluar dari ruangan itu setelah memberikan perintah.

Pengawal Karin mengambil sebuah bungkusan berwarna coklat muda. Pengawal itu membuka sedikit bungkusan itu untuk mengecek isinya. Dari pandangan Sasuke, ia dapat melihat serbuk putih dalam jumlah banyak. Meski Sasuke belum pasti, ia memiliki perasaan buruk mengenai hal ini. Pengawal itu kemudian mendekati Sasuke sambil membawa sebungkus obat tersebut. Kemudian beberapa pengawal sudah bersiap menahannya dan memaksanya membuka mulutnya.

"A-apa yang a-akan ka-ka-lian la-kukan?!" ucapan Sasuke terbata-bata karena para pengawal yang berusaha membuka mulutnya dan ia melawannya.

"Diamlah! Dan minum ini!" ucap Pengawal yang memegang bungkusan tersebut.

Pengawal tersebut menuangkan seluruh isi bungkusan tersebut ke dalam mulut Sasuke.

"Ti- er- eggh-erh dak!" seru Sasuke sambil menggerakkan badannya, berusaha melawan tindakan pengawal tersebut.

Para pengawal menuang air putih ke mulut Sasuke agar obat tersebut larut dan termakan olehnya.

Karena tak dapat melawan pengawal yang memaksanya membuka mulut, tidak sedikit obat tersebut larut dan tertelan oleh Sasuke. Seketika tubuh Sasuke tergeletak di lemas di lantai karena bekas cambukan tadi. Tapi berbeda dengan pikirannya, pikirannya entah melayang kemana. Pandangannya samar, ia melihat Sakura mendekati dirinya, ia melihat Sakura menjadi kekasihnya, ia melihat dirinya dan Sakura menikah kemudian dikaruniai banyak anak. Tubuh Sasuke semakin lemah dan akhirnya ia tak sadarkan diri di tempat tersebut.

Sesaat setelah para pengawal tersebut pergi, Fugaku dan bawahannya baru tiba di gudang tersebut. Terlambat, semua sudah terlambat. Sasuke sudah tergeletak lemas dengan bekas luka dan tubuhnya yang membengkak. Fugaku juga tidak melewatkan bungkusan obat serta bekas serbuk putih pada mulut anaknya. Ia segera menyuruh bawahannya untuk memeriksa. Saat itu juga hatinya hancur. Terluka amat sangat dalam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Mikoto mengenai kondisi Sasuke yang seperti ini. Maka ia memutuskan untuk menyembunyikan Sasuke di vila pinggir pantai miliknya.

Beberapa hari kemudian, Mikoto mengetahui keberadaan Sasuke dari salah satu bawahan Fugaku. Mikoto segera pergi ke vila tersebut dan betapa terkejutnya ia melihat kondisi Sasuke. Mikoto menangis, tersedu-sedu. Ia menatap dalam Fugaku, Fugaku menunduk dan sudah siap dimarahi dengan kata apapun. Tapi lain yg didapatkan Fugaku, Mikoto memeluk Fugaku dan menangis dalam pelukan suaminya itu.

"Hiks.. Mengapa? Mengapa harus anak kita, Fugaku? Mengapa? Katakan padaku, Mengapaaa? Hiks Hiks.." Mikoto tetap menangis sambil memukul dada suaminya.

Fugaku hanya terdiam dan memeluk erat istrinya. Air matanya juga tak dapat ia tahan lagi.

"Sa-saku-sakuraaa.."

Mikoto merasa mendengar sesuatu dari kamar Sasuke.

"Sakura, sakura," Sasuke terus menggumamkan kata tersebut sambil memutar kepalanya. Sepertinya ia mimpi buruk lagi.

"Tenanglah, sayang. Ibu ada disini." Mikoto hanya dapat mengusap kepala anaknya itu dan berharap Sasuke cepat sembuh. Sejak saat itu juga, Mikoto berkata pada dirinya sendiri. Bahwa ia akan melakukan apapun untuk menyembuhkan Sasuke. Sekali pun nyawa taruhannya, ia tak akan menyerah. Cinta Ibu memang tak terhingga sepanjang masa.

Flashback Off

Cerita Fugaku di dengar dengan baik oleh Mebuki dan Kizashi.

"Kemudian kami semakin sering mendengarkan Sasuke menggumamkan nama Sakura. Terutama saat ia terlelap." Mikoto menatap dalam Mebuki.

"Dan kami pun bertanya padanya, siapa itu Sakura." sela Fugaku.

"Ia berkata bahwa Sakura adalah seseorang yang penting baginya." sambung Mikoto.

"Seperti kemarin, kami tidak sengaja mendengarkannya menggumamkan nama Sakura lagi. Dan setiap kali menggumamkan nama Sakura secara sadar, Sasuke akan menangis." Mikoto tidak dapat menahan tangisannya lagi saat pikirannya terus teringat pada Sasuke.

Kizashi dan Mebuki hanya terdiam. Mereka sungguh tidak tahu harus menjawab apa.

Orang tua Sasuke mungkin tidak tahu apa yang membuat Sasuke jatuh cinta pada Sakura. Tapi mereka yakin, saat ini, hanya Sakura yang dapat menyembuhkan Sasuke. Hanya Sakura yang dapat menyemangati Sasuke agar ia kembali menjadi Uchiha Sasuke yang cemerlang seperti dulu lagi.

"Tuan Haruno, bolehkah mempertemukan Sakura dengan anakku, Sasuke?" tanya Fugaku.

Kizashi bingung, entah apa yang harus dijawabnya. Bukannya tidak mau, ia tahu keluarga Uchiha sangat terhormat. Tapi… setelah mendengar cerita tadi, ayah mana yang mengiginkan anaknya dekat dengan seorang pecandu narkoba?

Kizashi dan Mebuki saling menatap, kebingungan semakin melanda mereka.

"Tuan, kami mohon." Mikoto berdiri dari duduknya, membungkuk dalam pada Kizashi dan Mebuki.

Fugaku juga mengikuti pergerakan istrinya itu.

Tidak mendapat jawaban, Mikoto segera berlutut di depan Kizashi dan Mebuki.

Fugaku tersentak, ia segera mendekati istrinya dan memutuskan untuk membuang semua harga dirinya. Ia juga ikut berlutut di hadapan kedua orang tua Haruno Sakura.

Kizashi dan Mebuki langsung menyetarakan tubuh mereka dengan tuan dan nyonya Uchiha itu.

"Bangunlah terlebih dulu, anda tidak perlu seperti ini, nyonya Uchiha." ucap Mebuki sambil memegang bahu Mikoto dan mengajaknya berdiri. Maka keempat orang tua itu berdiri secara bersamaan.

"A-aku tidak tahu bagaimana lagi caranya. Aku hanya ingin Sasuke sembuh.. Hiks" tangis Mikoto.

"Baiklah, akan kami sampaikan pada anak kami saat ia sudah pulang dari sekolah." balas Kizashi. Mebuki hanya diam dan ikut terlarut dalam kesedihan nyonya Uchiha. Ia turut meneteskan air mata. Meski begitu, Mebuki tetap berusaha tersenyum pada tuan dan nyonya Uchiha. Kizashi juga demikian.

"Terima kasih, hiks. Terima kasih." isak Mikoto. Fugaku merangkul istrinya yang sudah sangat lemah itu, mendudukkan tubuh mereka berdua kembali.


To be Continue


Hai hai readers, author update ini lagi. Bagaimana? Mohon penilainnya ya readers sekalian.

Author minta maaf karena ada kesalahan dan kekurangan di epilog. Masa atasnya Juugo bawahnya author tulis Jiro, oh astaga. Maafkan ketidaktelitian author. Dan juga ada beberapa typo yang sdh author perbaiki.

Author akan berusaha semaksimal mungkin dalam tiap fic, hehe

Balasan Review

dewiehyeojaekhw: yup ini kelanjutannya. Yes, SasuSaku always :D hehe. Thanks sudah read dan review :D

HD-C: Hai, HD-C. terima kasih sudah suka, ini kelanjutannya. Thanks sudah read dan review :D

LORDmarionettespieler: hehehe, tiba2 ide ini kelintas. Bagaimana? Lebih baik atau lebih buruk dari sebelumnya? Hm.. Thanks sudah read dan review :D

Kirara967: Bukan Sasu gamau lho, ortunya yg gamau. Tapi Sasunya jg ga minta sih, hahaha. Sasu msh sedih, meski udah setahun dia masih aja ga bisa move on dari kesedihannya. Hm, Sakura? Mungkin iya mungkin tidak kali ya, hahaha. Tggu chapter depan utk selengkapnya. Thanks sudah read dan review :D

Guest: Iya semoga saja. Thanks sudah read dan review :D

Joanna Katharina: Hai Joan, maaf kalau msh byk yg kurang. ini lanjutannya, apakah msh ad yg kurang? Shady takut jg nih ngecewain readers, hehe. Thanks sudah read dan review :D

Asuka Kazumi: iya author juga berharap gitu, semoga aja yah. Thanks sudah read dan review :D

Baby NA: makasih sudah sukaa, ini nih kelanjutannya. Thanks sudah read dan review :D

sarahachi: hahaha, mungkin saja dia malu karena itu sih. Karena dulunya kan Sasuke itu sangat sempura *clingcling bgitu hahaha. karin memang keterlaluan itu, hmm lebih baik dibinasakan saja ya? apa gmna ya? Wah sampe nyanyi, hahaha. Thanks sudah read dan review :D

Taeoh: iya, ini sudah dilanjutkan. Thanks sudah read dan review :D

Laila: ini nih chapter 1nya, bagaimana? msh keren atau malah jdi jelek? huhu. Thanks sudah read dan review :D

Khoerun904: iya mari kita berharap bersama. Thanks sudah read dan review :D

CEKBIOAURORAN: iya, ga bisa liat Sasuke tersiksa juga, hiks. Thanks sudah read dan review :D

Makasih banyak semua yang read dan reviiiiewww! Author seneng banget, hehe.

Terutama untuk para silent readers juga.

Ayo review lagi ya setelah read chapter ini. Author sangat butuh kritikan dan saran untuk semakin baik lagi nulis ficnya.

Terima kasih banyakkk :D

Sincerely,

Shady.