I CARE FOR YOU
KimJongIn/Kai
OhSeHun
LuHan
Etc.
Hurt/Comfort||Romace||Family||Friendship||Gaje||BadPlot||vMolla:p
PG-14
WARN!BoysLove!BoyXBoy|BL!ShounenAi!BadSumm!Typo!NoEYD!NoSIDERS!NoPlagiat.
Note : ada kangen ff ini? Adakah yg mikir kalau ff ini makin ribet? Sama ay'em juga. :(( saking ribet sampe banyak ide dtg, bingung buatnya jadinya ff ini slalu late update. Molor bgt dari jadwal post tiap Sabtu/minggu. tapi untunglah. Masuknya Mino disini buka pintu pikiran saya. kaya cahaya dari langit pas baca ulang, ide nya langsung ngalir. Mana lancar :-vv thanks lah buat bias di winner. :vv dan buat kalian yg request ff. Maaf saya blm berani ngambilnya takut ditengah" saya malah ngubah cerita awal. Itu kbiasaan heheh. Selamat membaca.
Happy Reading.
Jongin berjalan menelusuri jembatan mini di taman, wajahnya terlihat kusut dari biasanya. Bibirnya membuka tutup dengan teratur. Namun ketara sekali jika gelisah sepertinya mengganggu namja manis itu. Kedua tangan yang awalnya di saku celana, dikeluarkan gusar. Lelah juga berusaha keep calm.
Saat kafetaria terlihat, Jongin segera berjalan cepat kesana. Dalam sejarah sekolah, Ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di kantin. Alasan simple, dia tak mau berdesakan apalagi mengantri hanya untuk makanan. Selebihnya karena Sehun selalu ada dikelas dan membawakannya bekal setiap hari. Sahabat yang baik juga kekasih idaman. Jongin jadi ragu, apa salah satu itu akan terwujud. Kedatangan Luhan sangat mengganggu.
Bicara tentang pria itu, Luhan seharusnya sudah bekerja atau mungkin masih semester terakhir kuliah. Yang dibingungkannya, kenapa saudara tirinya itu kembali ke Sma?
Asik dengan dunia nya, Jongin tak sadar jika tiga orang siswa seumuran dengannya berjalan kearahnya dengan canda tawa.
BYURrr
"Gah!?"
"Wa! Maafkan aku."
Jongin memandangi tubuhnya yang basah. Dia tak bisa bicara apa-apa saat melihat siswa kurus didepannya membungkuk dan meminta maaf berkali-kali. Dipikirannya terlintas untuk menghajar masalah didepannya, tapi nyatanya saat tak sengaja bertemu pandang dengan seseorang. Nafsu makan Jongin hilang. Secepatnya dia pergi dari kafetaria, tak memperdulikan puluhan pasang mata mencemooh akan tatakramanya. Peduli apa. Malas sekali jika bertemu orang itu lagi.
O
o
O
Mino duduk disudut kafetaria, saat kegaduhan terjadi. Bertepatan sekali, itu Jongin. Dia tersenyum miring mencomot satu kentang goreng. Menarik ditonton, dia ingin tau tampang marah Jongin yang ceritakan seseorang. Yang didengarnya, manis. Ternyata benar.
'Oh, lihat itu.' Batin Mino saat Mata kedua nya bertemu. Dia mencoba melempar senyum tapi malah seringai yang terulas. Bisa dipastikan Jongin semakin kesal.
Kiri dan kanan nya semakin dipenuhi bisikan-bisikan tak suka dari siswa lain saat Jongin pergi begitu saja. Para siswa dikafetaria membicarakan kesopanan Jongin sebagai murid baru. Tak ada sikap ramah. Mino mencibir mereka, bergumam seraya tetap memakan sepiring kentang goreng.
"Anak itu kesepian."Gumam Mino tak mempercaya fakta yang hanya dikira-kira. Namun ini benar, hanya sekali lihat saja pemuda itu langsung menebak bagaimana pribadi Jongin. Well, sesuai dengan yang dikatakan kenalannya.
'Menarik.'
Mino membersihkan tangannya, lalu pergi menyusul Jongin tak menghiraukan beberapa tatapan dari penggemar. Yeah, dia terkenal disini. Asrama ini, sekolah ini, Bahkan setiap sudutnya..semua siswa akan mengenalnya. Berlebihan? Hey, bung. Siapa kau? Ini hidupku.
Luhan mengendap-endap mencari sesuatu diantara rak buku perpustakaan. Dari atas dia beralih ke rak paling bawah. Yang dicari bukan buku biasa, hanya lembaran data lama. Beruntung sekali sekolah ini mempunyai fasilitas seperti ini. Bahkan koran atau benda di beberapa tahun lalu masih disimpan rapi di ruang arsip yang tersembunyi disudut perpustakaan.
"Ketemu."
Luhan menyeringai kecil menemukan map yang dicari. Dia menelusuri setiap foto murid baru di satu-dua tahun lalu.
"Jongin?" Foto Jongin tak ubahnya seperti seorang perempuan. Tapi terlihat gemuk, Luhan hampir tidak mengenalinya. Dia tertawa pelan menyadari jika manis nya Jongin tidak berbeda dengan sekarang.
"Kau.."
"—Oh Sehun, kelahiran Seoul. Bla-blablabla tidak penting. Dan, panti asuhan. Hm?"
Menemukan foto Sehun lengkap dengan biodata. Luhan membaca semuanya, sangat teliti tidak meninggalkan satu huruf pun. Aneh sekali dirinya mencari tahu siswa itu. Tapi ini penting. Apapun untuk Jonginnya.
Luhan membuka aplikasi kamera, memotret selembaran kertas sebelum dilesakkan kembali dalam rak sembarang. Membersihkan debu di lutut, Luhan berjalan tenang keluar dari sana menuju kelas. Dia perlu bertemu Jongin. Sangat rindu. Lebih dari saudara, Luhan sangat menyayangi Jongin sedari kecil. Malaikat kecil yang membuatnya tersenyum setiap hari. Sayang sekali kecelakaan itu hilangkan semua.
Saat kecelakaan itu terjadi, kebetulan sekali dia baru tiba di korea bertepatan dengan hari libur. Dan waktu mendengar Jongin kritis, Luhan langsung berlari mencegat taxi menuju rumah sakit. Ayahnya yang juga ayah Jongin menatap nya memohon. Begitu juga kakak juga ibu tiri nya. Saat bertanya kenapa, Hyoyeon memberi tahunya dengan tangis menyebalkan bahwa Jongin memerlukan banyak darah. Tentu. Berasal dari daging yang sama, membuat mereka memiliki golongan darah yang sama pula. Ibu dan kakaknya -O sedangkan Jongin A. Pak tua Kim jelas tidak bisa mendonor karena penyakitnya. Tidak berguna. Luhan menyeringai licik mengingat persyaratan yang dia ucapkan saat itu. Tak pernah menyangka juga akan langsung diiyakan.
"Lu!"
"O, Sehun?"
Tak sengaja, Pemuda berdarah tiongkok itu bertabrakkan dengan Sehun. Pemuda berkacamata, yang bodoh sekali menyakiti adiknya dan malah menyukai dirinya. Luhan tersenyum merapikan blazer dari debu, menatap Sehun dilantai seolah khawatir. Oh, ayolah ini hanya akting murahan.
"Kau tak apa?"
"Ng, Ya. Tentu."
Hampir saja dia memutar bola mata karena sudah bosan menerima sikap tak normal dari Sehun. Sudah cupu, berkacamata, jelek dan tidak peka. Lebih baik jika Jongin menyukainya, apa bagusnya pemuda yang menatapnya lembut ini.
Sehun berdiri dibantu dengan Luhan, sebenarnya sudah sejak jam istirahat dimulai dia telah mencari Luhan kemana-mana tapi tidak ketemu. Dia ingin memberi bekal kimbap kiriman ibu panti padanya dan memakannya bersama. Tidak adanya Jongin membuat dia tak punya pilihan lain selain berbagi dengan Luhan. Siapa tahu mereka bisa lebih dekat.
"Luhan. Ayo makan?"
"Tidak. Aku tidak lapar. Maafkan aku Sehun, Aku harus ke ruang guru sekarang."
Sehun menawarkan bekal yang dibawanya, tapi senyum enggan Luhan dilewatkannya. Luhan terburu pergi membuat Sehun menghela nafas kesepian. Dia menatap kotak bekal ditangannya, lalu tersenyum kecil saat mendapat suatu ide. Pulang sekolah nanti, dia akan mengunjungi Jongin lagi. Melanggar aturan berkunjung di asrama itu tak masalah. Sayang jika kimbap ini tidak dimakan. Seingatnya Jongin sangat menyukai masakan ibu panti. Dia akan menyukainya. Pasti.
Jongin mengerang jijik melepas kemeja serta blazer ditubuhnya. Rasanya lengket dan berbau jeruk. Dia melempar kain-kain itu ke keranjang baju kotor kesal. Andai saja tadi tidak ada Mino, sudah dipastikan Jongin akan membogem murid tadi. Tak perduli bagaimana pandangan orang lain, Jongin tidak terbiasa dengan teman baru. Siapa butuh, dia tidak butuh sama sekali.
Jongin menglap setengah tubuh atasnya dengan beberapa lembar tisu basah. Lupakan saja mandi, malas sekali kesana.
"Oh, maaf."
Jongin terkesiap saat bahunya ditepuk dari belakang. Saat berbalik, dia menemukan teman sekamarnya menatapnya konyol. Dia melempar tisu basah ke wajah Mino kesal.
"Apa?!"
Mino tertawa pelan membuang tisu itu ke rak sampah. Dia tak menyangka akan menemukan Jongin setengah telanjang di dorm. Itu mengejutkan, karena dari belakang dia hampir tergoda mengelus punggung Jongin dan pinggangnya sekalian.
"Euh, mandilah bung. Bau mu itu.."
Jongin ingin menyumpal mulut roommate nya, tak menyangka kepribadian Mino jauh dari ekspestasi nya. Berbanding terbalik dengan pertemuan pertama mereka di kelas. Dia menatap kesal padanya, tak perduli jika tinggi Mino melebihinya.
"Ash, kelu—"
"Dengar."
Jongin memundurkan wajahnya, melihat gelagat aneh Mino. Dia tidak sempat melanjutkan perkataan saat Lelaki itu bergerak maju hingga membuat punggungnya menempel dinding. Kenapa tatapan intimidasi itu lagi? Jongin tidak bisa bersuara jika saat ini Mino menatapnya tenang namun berkesan tajam dan tegas. Mino meletakkan satu tangan bersandar di samping kepala Jongin, mengurung lelaki itu untuk tetap menatapnya.
"Ku nasehati satu hal, Kim Jongin. Kau manis sekali, jadi kuharap kau juga mau 'memaniskan' sikapmu disini. Jangan mencari musuh baru jika kau bisa menjalin sekutu—"
Jongin mengeraskan rahangnya, saat elusan terasa disekitar tulang rusuknya. Sialan, dia baru saja dilecehkan. Tapi sekalipun dia tidak bergerak melaksanakan kehendaknya guna menendang selangkangan lelaki didepannya. Walaupun terbesit juga memberi pukulan kepala antar kepala. Kediamannya rupanya disambut positif oleh Mino, lelaki itu mengelus daun telinga Jongin perhatian. Lalu berbisik.
"Kau tak mau kan, jika Sehun-mu itu lebih memilih kakak tiri mu?"
Di akhir kalimat, Jongin melupakan sumpah serapahnya dan hanya bisa linglung membiarkan tubuhnya dipeluk posesif Mino. Sangat terkejut mengetahui jika Mino.. Dia tahu dari mana?
"Kau mengerti maksudku, sayang? Oh, aku melihatmu memasuki ruangan pribadi Tuan Jinhyuk. Ada sesuatu?" bahkan saat tangan besar dan hangat itu memainkan surainya, Jongin hanya bisa diam mengingat Sehun dan apa yang dikatakan tuan Jinhyuk tadi.
FLASHBACK
"Aku.. Ingin bertanya alasanmu membuat Sehun tinggal di asrama. Dia anakmu kan?"
Sejauh ini, Dia terkesan melihat sikap serius Jongin mengucap nama anak bungsunya—Sehun. Selama ini dia hanya mendengar Yifan bercerita jika sayang Jongin pada Sehun sudah sangat jauh. Ini yang menjadi bukti. Anak ini telah memintanya menemui Sehun yang mungkin saja telah membencinya. Menjadi ayah tidak lah mudah, saat kau memiliki kehidupan sulit dengan dua anak kembar tidak identik. Memimpin bisnis dengan ambang perceraian didepan mata karena kesalahpahaman merusak keluarga kecilnya.
Dia menatap Jongin lurus-lurus, mencari beberapa jawaban yang harus dikatakan untuk memuaskan Jongin akan pertanyaan.
"Istriku melahirkan dua orang putra tidak identik. Dia menjadi istri yang sangat baik, tapi tidak untuk peran ibu. Satu putra ku mempunyai banyak kemiripan dengan kami berdua tapi satu putraku yang lain tidak. Dia berkulit lebih pucat dan terus menangis.—"
Jongin walau bingung hanya mampu mendengarkan sebanyak yang dia bisa. Untuk Sehun, untuk senyum Sehun dia ingin melakukan ini. Dan dia sudah menebak siapa bayi pucat itu. Pasti Sehun. Jongin tersenyum samar, Kulit Sehun sangat pucat. Itu membuatnya tampan. Menangis, Sehun sekarang sangat cerewet.
"Istriku tanpa seijinku, dia membawa putraku itu ke panti asuhan. Meninggalkannya sendirian. Nak, kurasa tidak perlu kuteruskan. Kau pasti mengerti. Ya kan?"
Tuan Jinhyuk tersenyum melihat raut bingung keponakan Yifan. Dia menepuk puncak kepala Jongin sebelum beranjak meninggalkan ruangan. Setidaknya pertanyaan Jongin sudah terjawab, namun dia yakin anak itu takkan lelah untuk berusaha bertemu lagi dengannya. Untuk hal itu dia sudah mewakilkannya pada seseorang.
Pria tua itu tersenyum hangat berjalan melewati koridor. Bertegur sapa dengan para pengajar juga beberapa murid lain. Tapi saat seseorang menghampirinya, membungkuk hormat menatapnya tegas. Dia seperti melihat cermin. Tuan Jinhyuk mengelus pundak putranya, memberi suatu isyarat padanya.
"Aku mengerti."
"Bagus."
Sebulan kemudian, Jongin benar-benar menuruti perkataan Mino. Lelaki itu selalu membuatnya berhenti melakukan hal yang seenaknya. Bahkan saat kunjungan Kris, pamannya begitu terkejut bertemu sosok baru Jongin. Dimana biasanya keponakannya itu akan mengumpat dan berlaku tidak sopan, tapi dia tidak melakukan itu semua. Jongin jadi lebih banyak diam dan terlalu penurut membuat Kris tidak mengenalnya lagi.
"Kau sakit?"
Jujur saja, sudah setengah jam yang lalu sejak pamannya bertanya itu lagi. Sepertinya pamannya belum menerima perubahannya. Atau apapun yang terjadi selama sebulan ini. Mino membuatnya muak dan antusias secara bersamaan. Dia bukan orang terdekat Jongin, tapi kenapa lelaki itu berhasil mempengaruhinya hingga merubah total kebiasaanya. Bodoh sekali dia mempercayai perkataan Mino tentang Sehun dan Luhan, padahal dia tau Mino sama-sekali tidak mengenal mereka—atau mungkin Ya. Entahlah.
Yifan terlihat frustasi tidak jelas, menemukan Jongin seperti ini jauh dari pikirannya. Mungkin keponakannya ini gila, atau dirinya saja yang mengada-ada.
"Aku tidak mengerti, ada apa denganmu?"
Pandangan Kris pun tidak mengubah diamnya Jongin. Jongin sendiri juga bosan ditanyai aneh-aneh oleh pamannya. Out of Character sekali dia bertanya hal yang sama berkali-kali. Pada akhirnya, Jongin hanya menggidikkan bahu tak perduli.
Jongin memperhatikan pamannya yang menghela nafas sebelum kembali menatapnya dengan pandangan Serius. Dia tersenyum, menunggu berita apa yang dibawa pamannya kali ini. Tak butuh basa-basi, Jongin akan tetap seperti ini walau beberapa hal memang berubah.
"Ceritakan padaku, yang terjadi sebulan ini."
Suara Jongin pun dari terakhir kali Kris mendengar, sedikit menjadi tegas namun bertempo lambat. Hampir memiliki kemiripan dengan ayahnya. Saat Keduanya menatap, Kris mengetahui apa yang telah diubah Jongin. Bukan sesuatu seperti kepribadian.. Tapi dia sedilit bangga menebak jika Jongin merubah sudut pandangnya. Itu bagus.
"Sejujurnya aku lebih mencintai Jongin yang dulu—Oh okay, jangan menatapku seperti itu. Akan kuceritakan."
Sedikit banyak Jongin berterima kasih pada Mino karena berkatnya dia bisa lebih fokus mendengar hingga langsung mengerti maksud pamannya. Satu bulan terlewati, ternyata Sehun masih mendekati Luhan. Jongin hampir kehilangan harapannya pada Sang sahabat, karena mengira mungkin dia takkan mendapat cela. Mino benar, walaupun lelaki itu sok tahu. Dia tak perlu melakukan apapun pada Sehun, karena dia tidak bisa mengubah jalan pikiran orang lain untuk beralih menyukainya. Jongin masih menyukai Sehun, tapi mungkin akan berhenti memperlihatkannya mulai sekarang. Karena ada hal lain, yang lebih penting darinya.
"Bagaimana dengan Luhan Hyung?"
"Kau memanggilnya kakak?"
"Hm. Ceritakan saja."
Jongin mendengar secara seksama cerita Kris tentang Luhan. Lelaki China itu rupanya berkali-kali menemui keluarganya, menuntut janji mereka pada Luhan.
"Janji apa?"
"Saat kau kehilangan banyak darah, sebelum Luhan mendonorkan darahnya dia memberi persyaratan untuk orang tuamu."
Ekspresi Jongin yang sebelumnya tenang berubah bingung. Ada beberapa pertanyaan mengganjal tapi dia tidak mengeluarkannya. Maka Jongin hanya menatap ingin tahu pamanya sedangkan secara diam-diam, meremas kain celana yang dipakai.
"Luhan ingin membawamu ke China, dan menikahimu."
Gumam Kris enggan mengatakannya. Dia membenci fakta jika Luhan juga keponakannya, namun beruntung sekali mereka belum pernah bicara sebelumnya.
"Kau bercanda! Jangan berbohong!"
Emosi Jongin tersulut entah mengapa. Dia tak pernah mengira jika tingkat obsesi Luhan terlalu tinggi. Apa yang kakaknya itu pikirkan dulu? Mereka tetap bersaudara walau tidak ber ibu yang sama. Jongin mengingat jika dia sangat menyayangi Luhan dulu. Tapi dia.. Dia tak bisa bisa berpikir lagi. Ini gila, pikirnya.
"Dan buruknya, Luhan dan Sehun sekarang satu Apartemen."
Jongin termangu kedua kaki yang seharusnya mampu menopang diri, kini secara perlahan melemas. Kembali mendudukkan diri pada ranjang. Pikirannya kembali dipaksa untuk berpikir, penyebab nya. Sehun tak semudah itu memutuskan tinggal bersama orang lain. Jika Luhan tinggal bersama Sehun, lalu bagaimana dengannya?
Jongin menatap sedih pamannya namun dengan wajah Linglung, Kris tidak mengada memberitahu fakta yang diberi Sulli dua hari yang lalu. Gadis itu sering menghubunginya untuk mengetagui keadaan Jongin. Berbeda dengan Sehun yang langsung bertukar pesan dengan Jongin via ponsel.
"Paman, bagamana cara membuat si cupu itu tahu? Aku ingin membencinya sekarang, karena muak dia terus memperhatikan Luhan. Dia bodoh sekali sampai aku ingin memukul kepalanya hingga pintar membaca perasaan orang lain."
Yifan tertawa kecil menperhatikan Jongin yang baru saja berbicara omong kosong, baru kali ini dia mendengarnya. Dia menepuk puncak kepala Jongin membuat lelaki berwajah manis itu menatapnya. Andai dia belum bertunangan, mungkin dia akan meniru Luhan untuk menikahi Jongin saja. Tapi dia tak mau patah hati karena kenyataannya Jongin hanya melihat Sehun.
"Apa maksudmu? Sudahlah. Dimana teman sekamarmu?" Kris mengalihkan pembicaraan dengan nada terhibur.
"Mino? Dia di luar, akan kembali jam satu pagi."
"Ey, kau ini. Tadi pendiam sekarang.."
"Ya! Paman Wu!"
Keduanya tertawa dengan Kris yang menarik tengkuk Jongin mendekat. Dia memberikan pelukan hangat pada Jongin. Saat melepaskannya, Jongin teringat satu hal dan menanyakannya pada Kris.
"Bisa kau buat rencana dengan Tuan Jinhyuk? Akhir pekan ini aku akan membolos."
"Hm. Terserah kau saja."
.
.
.
.
.
TBC
Saya mampet. Mepet buntu. Gk ketemu jln. Gk ada ide tapi akhirnya bisa post juga. Bagian Mino itu sesuatu lho. Abis nonton the heirs versi Winner soalnya :vv . maaf bgt gk ada hunkai momentnya. Fokus ke jongin dulu. Omong" gk ada yng mau tau gmn hunhan seapartemen? Itu chap depan ya. Sekalian bkl dibanyakin hunkai nya kok.
Thanks for your reading.
