Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Not own anything of Naruto.
This story is originally made by me.
Please Stay Beside Me
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 2
Give Me Strength
-Beri aku kekuatan-
"Sakura, kemarilah." Kizashi duduk di ruang tamu yang tadi siang menjadi tempat berkunjung tuan dan nyonya Uchiha. Kizashi masih dapat mengingat jelas apa yang mereka bicarakan. Anak, ya, anak. Orang tua akan berkorban dan melakukan apa saja jika dapat membuat anaknya bahagia.
"Ada apa ayah?" Sakura meletakkan sumpitnya dan segera berjalan ke ruang tamu dan duduk di sebelah ayahnya. Ia baru saja selesai makan malam. Ibunya segera mengambil mangkuk serta sumpit yang berada di meja untuk dicuci.
Kizashi berdeham, "Ada yang ingin ayah bicarakan. Apa.. kau.. mengenal Uchiha Sasuke?"
"Sasuke-kun? Tentu saja! Ada apa dengannya? Apa ayah tahu kabarnya? Dia sudah setahun lebih tidak bersekolah. Padahal sebentar lagi ujian akhir, semua murid sedang susah payah belajar untuk persiapan ujian, tapi ia masih tidak muncul juga sampai saat ini." jelas Sakura panjang lebar. "Kadang aku menjadi khawatir apa yang terjadi padanya." Sakura menundukkan wajahnya.
Kizashi tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. Ternyata putrinya itu sangat memperhatikan Sasuke. Yang lebih tidak ia sadar lagi, sebentar lagi putrinya sudah akan lulus dari sekolah. Dan putrinya pernah berkata ingin melanjutkan ke universitas kedokteran di Eropa atau Amerika dengan beasiswa. Meski Kizashi belum mengiyakan keinginan putrinya, ia semakin bingung dengan keadaan ini. Apakah putrinya mau bertemu dengan Sasuke yang sudah sangat berbeda?
Kizashi mengusap wajahnya. Bagaimana pun ia harus mengatakan hal ini pada putrinya. Untuk terima atau tidaknya dia, itu urusan nanti. Yang penting Kizashi harus mengatakan dulu keinginan dari tuan dan nyonya Uchiha. Kizashi bukan tipe pria yang mengingkari perkataannya sendiri.
"Berjanjilah untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun, Sakura."
"A-apa?" Sakura menatap ayahnya dengan ragu, "Baiklah."
"Begini, Sakura. Tuan dan nyonya Uchiha ingin kau menemui Sasuke."
.
.
.
.
.
Pagi yang cerah. Awan memberikan matahari kesempatan untuk menyinari Bumi. Burung-burung berterbangan melintasi dahan-dahan kecil. Menciap-ciap menyanyikan lagu pagi.
Pria remaja yang segera beranjak dewasa itu masih terbaring di atas ranjangnya. Ia tahu ini sudah pagi karena cahaya menusuk ke matanya, tapi ia lebih memilih berbaring saja karena merasa lemas. Semenjak hari itu, hari dimana ia disiksa, ia tidak suka memakai baju, hanya celana dalam yang dibungkus jeans biru tua bertengger di pinggangnya. Hal ini mengekspos tubuhnya yang kurus dan penuh bekas luka.
-Tok tok tok
"Masuk,"
"Sasuke-sama,ini sarapan anda." Juugo datang membawa nampan berisi makanan. Sarapan pagi yang cukup bergizi, telur, sosis, kentang tumbuk, serta beberapa buah tomat ceri yang sudah dibumbui. Jangan lupakan segelas susu putih di samping garpu dan pisau.
"Hn. Letakkan saja disana. Kau boleh keluar." Sasuke menunjuk meja tempat ia biasa makan sambil mendudukkan dirinya. Juugo meletakkannya dengan sempurna kemudian keluar dari kamar Sasuke.
Bukan menyentuh sarapannya, Sasuke memilih untuk mengambil sepuntung rokok dari bungkusannya. Ia menahan rokok tersebut di mulut. Mengambil pemantik dan menyalakannya. Ia menghisap rokok itu dalam-dalam sambil menutup mata, kemudian menghembuskan keluar asapnya dengan kasar seolah memaksa beban dalam dirinya untuk keluar.
Stres dan depresi.
Ya, dua kata itu yang menggambarkan kondisi psikis seorang Uchiha Sasuke saat ini. Stres karena kejadian hari itu membuat perubahan yang sangat drastis dalam hidupnya. Depresi karena sedih dan putus asa, yang menyebabkan dirinya saat ini mengidap insomnia, tidak ada motivasi untuk melakukan apapun, menarik diri dari lingkungan, serta tidak makan banyak seperti dulu.
Ia rasa ia tidak dapat kembali ke Uchiha Sasuke yang dulu lagi. Uchiha Sasuke yang cemerlang itu sudah tidak ada. Anak kebangaan keluarga Uchiha itu sudah tidak ada. Anak yang menjadi juara umum itu sudah tidak ada. Yang ada hanyalah seorang pria pecandu narkoba. Pria tak berguna yang mengurung dirinya di dalam kamar setiap hari. Pria tak berguna yang hanya bisa mengonsumsi obat terlarang dan rokok setiap harinya.
Sasuke tidak dapat melupakan hari itu, hari dimana ia disuguhi sejumlah obat terlarang secara paksa ke dalam mulutnya. Terkadang ia merasa ingin mati saja daripada hidup menderita seperti ini. Lebih baik ia meninggalkan dunia fana ini daripada mendengar ibunya menangisinya setiap hari. Jika ia mati, mungkin ayah dan ibunya dapat mengadopsi anak lain, untuk menjadi penerus perusahaan. Namun jauh dalam lubuk hatinya, masih tersimpan secercah harapan untuk kembali seperti dulu lagi. Bukan untuk menjadi kebangaan Uchiha dengan segala hartanya. Tapi hanya untuk mengejar gadis itu, gadis dengan rambut merah muda yang manis.
Tiba-tiba rasa 'itu' menyerang tubuhnya lagi. Rasa menginginkan sesuatu. Ia harus mendapatkannya sekarang, sekarang juga.
"Juugo! Juugo!" Sasuke berteriak dari dalam kamarnya.
"A-ada apa tuan muda?" Juugo segera masuk ke kamar Sasuke.
"Be-berikan aku itu."
"Ta-tapi tuan, ini masih pa-"
"Sudah kubilang, be-berikan sa-ja!" Sasuke berusaha menahan kakinya yang sedang kejang. Keringat dingin juga mengucur dari dahinya.
"Ba-baik."
Juugo menghilang dari kamar Sasuke. Kemudian kembali dengan sebuah jarum suntik yang sudah diisi dengan cairan tertentu.
Sasuke segera menyambar jarum suntik itu. Ia mencari pembuluh vena di lengan kirinya. Kemudian membuka tutup jarum suntik dan menyuntikkan tepat pada pembuluh vena. Rasa puas berkesinambungan yang sangat hebat menjalar di tubuh Sasuke. "Ahh~"
"Keluar," perintah Sasuke.
Juugo tidak menjawab namun segera mundur dan keluar dari kamar Sasuke.
Seketika Sasuke merasa tenang dan sejahtera, euphoria. Rasa senang berlebihan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasa hidupnya sangat bahagia, untuk sesaat. Kepalanya berat, badannya juga sulit berpindah tempat. Semakin ia melawan rasa kantuknya, Sasuke semakin mengantuk. Sampai pada akhirnya ia menyerah dan tertidur di lantai begitu saja.
.
.
.
.
.
Jika ada sesuatu yang terjadi pada Sasuke, Juugo wajib melaporkannya pada Fugaku. Termasuk hal mengonsumsi obat terlarang. Hal ini adalah perintah Fugaku agar ia tahu perkembangan Sasuke. Fugaku tidak ingin Sasuke melakukan hal bodoh yang seharusnya tidak ia lakukan. Fugaku yang sedang duduk santai di ruang tamu sedikit tersentak saat Juugo menemuinya sepagi ini.
"Tuan besar, hari ini tuan muda meminta lagi." Juugo membungkuk dalam.
Fugaku berusaha tenang meski raut khawatir muncul di wajahnya, "Sepagi ini? Lalu? Kau berikan yang seperti apa padanya?"
"Yang seperti tuan besar perintahkan. Tidak murni, hanya 50%."
"Bagus, aku sudah mendapat solusi. Aku tidak ingin dia seperti ini lagi."
"Aku juga, tuan besar. Aku tidak ingin melihat tuan muda kesakitan dan hidup dalam kegelapan terus menerus. Aku tidak tega melihatnya."
Terlintas di pikiran Juugo saat Sasuke masih berusia 10 tahun. Saat pertama kali ia ditugaskan untuk menjaga Sasuke. Ya, saat itu Sasuke adalah seorang anak ceria dan cemerlang akan prestasinya. Meski kematian Itachi saat ia berumur 13 tahun berhasil membuat Sasuke sedih dan putus asa, tapi anak itu bangkit lagi dari keterpurukannya. Sasuke kembali meraih banyak piala dan selalu menyempatkan dirinya ikut dengan ayahnya untuk pergi berbisnis. Selain itu Sasuke juga mempunyai ketertarikan besar pada dunia komputer. Sasuke rajin mempelajari cara membuat aplikasi secara otodidak dari internet. Juugo mengingat betapa ambisiusnya Sasuke dulu. Dia tidak ingin Sasuke semakin jatuh dan jatuh hanya karena perempuan sialan itu, Karin. Bahkan Juugo pernah bersumpah dalam dirinya, ia akan membunuh Karin dengan tangannya sendiri bila perempuan itu berani menyakiti Sasuke lagi.
"Hm, terima kasih sudah menjaga Sasuke, Juugo." Fugaku menatap dalam Juugo.
"Sudah tanggung jawab saya, tuan besar." Juugo membungkuk hormat pada Fugaku.
Kedua pria itu terdiam. Memandang ke arah jendela besar yang sedikit terbuka saat mendengar ciapan beberapa burung gereja yang hinggap di dahan pohon. Pagi hari yang terlalu indah untuk dilewatkan. Sayang, suasana hati mereka tidak seindah langit cerah pada pagi hari.
"Fugaku, bagaimana Sasuke?" Mikoto memasuki ruangan sambil menggenggam ponselnya.
Juugo mundur beberapa langkah dari posisinya dan membungkuk hormat pada Mikoto. Mikoto hanya membalasnya dengan senyum tulus.
"Hm, seperti biasa. Ia meminta lagi." jawab Fugaku.
"Benarkah? Aku sungguh khawatir padanya."
"Tenanglah, kita sudah mencari Sakura, bukan?"
"Oh iya, Kizashi meneleponku. Dia berkata Sakura bersedia datang." Mikoto mendudukkan dirinya di samping Fugaku.
"Benarkah? Bukankah itu kabar baik?"
"Ya, tapi aku takut. Aku takut Fugaku. Aku takut Sakura tidak akan dapat menerima Sasuke yang seperti itu." Mikoto tidak dapat menyembunyikan raut wajahnya.
"Tenanglah, tenang. Aku sudah menyelidiki gadis itu. Dia gadis yang baik dan kuat." Fugaku segera memeluk dan menenangkan istrinya.
"Benarkah? Baiklah, aku akan berusaha tenang."
"Apa Kizashi dan keluarganya akan datang hari ini?"
"Iya, sore ini pukul 6, aku mengajak mereka makan malam bersama."
"Baiklah." Fugaku melepas pelukannya dan menatap Juugo. "Juugo, jangan katakan apapun pada Sasuke." Juugo mengangguk.
"Kami memanggil Sakura, gadis yang sering disebut Sasuke itu. Bagaimana menurutmu, Juugo?" Mikoto menanyakan pendapat Juugo.
"Menurutku itu sangat baik, nyonya besar. Dan aku harap tuan muda akan menerima kehadiran gadis itu. Kita semua tahu betapa seringnya tuan muda menyebut nama gadis itu." Juugo menjawab sambil membungkuk hormat.
"Ya, kami harap juga begitu, Juugo." lirih Mikoto.
Fugaku hanya menatap lurus kedepan kemudian menutup matanya. Berharap seluruh kesakitan putranya itu segera berakhir dengan datangnya gadis merah muda itu.
.
.
.
.
.
Pagi berganti siang, siang berganti malam. Sekarang disinilah keluarga Haruno berada, di ruang makan keluarga Uchiha. Perbincangan mereka hanya mengenai hal-hal umum yang sedang terjadi belakangan ini. Sakura hanya sesekali tersenyum dan menanggapi jika ditanya.
"Aku selesai." ucap Sakura sambil meletakkan sumpitnya diatas mangkuk nasi.
"Oh, Sakura. Hmm.. apa kau sudah tahu.. kondisi Sasuke saat ini?" Mikoto memberanikan diri untuk bertanya.
"O-oh, itu.. tou-san dan kaa-san sudah menceritakan semuanya padaku."
Flashback ON
"Apa? Orang tua Sasuke-kun datang kemari?" tanya Sakura tidak percaya.
"Ya, begitulah Sakura. Mereka sampai berlutut di depan ayah dan ibu, kau tahu. Astaga, mimpi apa ayah semalam, sampai tuan dan nyonya Uchiha datang memohon seperti itu." Kizashi mengangkat bahu dan menggeleng.
"Anata, hentikan sikapmu itu. Kau tidak mengajarkan hal yang baik pada Sakura kita." Mebuki muncul dan duduk tepat di hadapan Sakura.
"Tapi benar 'kan, bahkan kau juga takjub sekaligus gugup waktu itu." Kizashi menatap Mebuki.
"Sudah, sudah. Kembali ke topik. Tidak ada gunanya berbedat denganmu saat ini." Mebuki melambaikan tangannya pada Kizashi. "Sakura, ada sesuatu yang perlu kau ketahui mengenai kondisi Sasuke." Mebuki menatap Sakura dengan serius.
"A-ada apa kaa-san? Apa yang terjadi padanya? Apa dia mengidap penyakit serius? Dimana ia di opname?" tanya Sakura bertubi-tubi.
"Sakura…, sepertinya kau sangat perhatian ya pada Sasuke itu?" Kizashi menatap putrinya sambil mengerutkan dahi.
"Ti-tidak. Se-sebagai teman 'kan wajar saja aku seperti itu. Lagi pula, Sasuke sudah tidak bersekolah setahun lebih. Kami semua temannya khawatir padanya." Sakura menundukkan wajahnya agar rona merah di wajahnya tidak disadari oleh kedua orang tuanya.
"Hm, ada benarnya juga sih. Tapi berjanjilah Sakura, jangan beritahu siapa pun mengenai Sasuke. Apalagi mengenai tuan dan nyonya Uchiha yang berkunjung kemari. Mengerti?" Mebuki memberi peringatan.
"Iya, kaa-san, aku sudah berjanji pada tou-san tadi. Ayolah, cepat katakan apa yang terjadi pada Sasuke?"
Kizashi berdeham sesaat, "Hm, dia dijebak mengonsumsi obat terlarang dalam dosis yang besar oleh sahabatnya sendiri."
Pupil mata Sakura melebar. Apa? Sasuke mengonsumsi apa? Apa ia tak salah dengar?
"A-apa? Maksud ayah? Sejenis narkoba?"
"Ya. Dan demi kelangsungan hidup dari Sasuke, ayah dan ibunya juga memberinya sampai saat ini."
"Ja-jadi Sasuke menjadi se-seorang… pecandu?"
"Tidak hanya itu, dia juga gemar merokok sekarang." tambah Kizashi.
"Tapi ia terpaksa, Sakura. Ia dijebak. Bahkan sebelum itu dia dicambuk sampai lemas." Mebuki berusaha memberi pengertian pada putrinya. Sakura menoleh saat ibunya berbicara.
"A-apa itu benar?" Sakura semakin khawatir pada Sasuke.
"Buat apa kami berbohong padamu, Sakura." Kizashi menatap serius Sakura.
"Lalu.. apa hubungannya denganku? Apa yang membuat orang tua Sasuke ingin aku menemui Sasuke?"
"Orang tua Sasuke sering mendengar Sasuke menyebut namamu." ucap Kizashi.
Pada detik itu juga, wajah Sakura merona. Benar-benar merah.
"Apa kalian cukup dekat Sakura?" tanya Mebuki.
"Ti-tidak, kami hanya sebatas teman, kaa-san."
"Benarkah? Lalu… kenapa wajahmu seperti itu?" Mebuki mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura.
"Ti-tidak!" Sakura menutup wajahnya.
"Hahaha" Kizashi merasa lucu, putrinya sudah mulai dewasa rupanya. "Jadi bagaimana Sakura? Apa kau ingin bertemu dengannya?"
Sakura diam dan bepikir, "Baiklah, tou-san, kaa-san, aku mau bertemu dengannya. Dan aku pastikan aku akan berusaha menerimanya apa adanya. Aku juga tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun."
Kizashi mengangguk dan Mebuki tersenyum memandang putri semata wayang mereka. Setelah perbincangan itu, Sakura permisi ingin tidur terlebih dulu. Meninggalkan kedua orang tuanya di ruang tamu.
"Anata, apa kau lihat sikap Sakura yang aneh itu?" tanya Mebuki.
"Hm, sepertinya memang ada sesuatu antara dia dan Sasuke. Apa dia pernah bercerita padamu?" ujar Kizashi sambil menggeleng.
"Tidak, dia tak pernah bilang apa-apa. Tapi, jangan-jangan.. Sakura… jatuh cinta?"
"Hah? Kalau begitu.. mungkin saja Sasuke itu tampan seperti diriku! Hahaha."
"Siapa yang bilang kau tampan?" Mebuki mengambil hiasan kaca yang di dekat sofa tersebut dan bersiap melemparnya ke arah Kizashi.
Kizashi segera bangkit dari tempat duduknya dan lari menuju kamar. "Aaaa, jangan lempar aku, Mebuki!"
Mebuki hanya menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang tidak pernah dewasa itu.
Flashback OFF
"Jadi.. apa kau mau bertemu dengan Sasuke?" tanya Fugaku. Tuan besar Uchiha ini memang selalu to the point.
"Aku akan menemuinya." jawab Sakura.
"Baiklah," Fugaku melihat sekelilingnya, salah satu bawahannya segera maju mendekatinya. "Panggil Juugo untuk mengantarkan Sakura ke kamar Sasuke." Bisik Fugaku pada bawahannya itu dan hanya di jawab dengan anggukan.
Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam.. tu-
Belum sempat Sakura menghitung satu sampai sepuluh untuk menenangkan dirinya. Pria bertubuh besar dengan rambut jingga sudah tiba dan tersenyum padanya. Maka Sakura dapat mengasumsikan bahwa pria itu adalah Juugo yang dibicarakan oleh tuan besar Uchiha tadi.
"Mari saya antarkan, Sakura-sama."
"Ah, baiklah." Sakura segera bangkit dari tempat duduknya. Membungkuk dan tersenyum kepada para orang tua kemudian berjalan pergi mengikuti Juugo.
Sakura dan Juugo berjalan menyusuri kediaman Uchiha. Bangunan ini lebih tepat disebut istana dibanding rumah.
"Oh ya, jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja Sakura." Ucap Sakura memecah keheningan.
"Tapi-"
"Sakura saja." Sakura tersenyum tulus saat Juugo melihat ke arahnya.
"Baiklah. Sakura." Juugo membalas senyum Sakura.
"Apa Sasuke-kun baik-baik saja selama ini?"
"Hm, di bilang baik-baik saja juga tidak. Kesehatan fisik dan psikis tuan muda cukup buruk. Lebih tepatnya menderita."
"Apa? Separah itu kah?"
"Ya. Tuan dan nyonya besar tidak ingin tuan muda direhabilitasi dengan alasan tuan muda akan lebih menderita lagi."
"Hm? Mengapa seperti itu?"
"Karena tuan muda tidak suka orang asing berada di dekatnya. Jika dia direhabilitasi, maka besar kemungkinan ia akan menderita dan bisa saja disiksa jika tidak menuruti perintah. Tuan dan nyonya besar tidak ingin tuan muda diperlakukan seperti itu."
"Benarkah? Kurasa.. aku dapat mengerti perasaan ayah dan ibu Sasuke."
"Sebenarnya.. apa hubungan Sakura dengan Sasuke-sama?"
"A-apa? Tidak ada, kami hanya teman, hehe." Sakura berusaha menutupi rasa malunya dengan tawa hambar.
Flashback ON
Ruang kelas, Sasuke dan Sakura berada di kelas yang sama. Kelas unggulan. Hari ini guru biologi menugaskan mereka untuk membahas dan mengerjakan soal mengenai sistem reproduksi dengan lawan jenis. Kelompoknya berpasangan dan ditetapkan oleh si guru. Sakura gugup, sungguh. Pasangannya adalah Sasuke. Si pangeran tampan yang cemerlang di sekolahnya. Oh, setelah pelajaran ini pasti akan ada banyak fans Sasuke yang mencibir dirinya.
"Sa-sasuke, kita sekelompok 'kan?" Sakura memberanikan dirinya bertanya pada Sasuke. Ini pertama kalinya ia bicara dengan seorang Uchiha Sasuke meski sudah sekelas selama 4 bulan terakhir.
"Hn."
Sakura hanya mematung, tidak berani duduk di kursi sebelah Sasuke yang sudah sejak tadi ditinggalkan teman sebangku Sasuke, Naruto.
"Kau mau sampai kapan disitu? Duduk. Aku tidak makan orang kok." ujar Sasuke. Meski dingin, ia sudah berusaha untuk bercanda agar tidak terlihat menyeramkan.
"A-aa, iya." Sakura segera duduk dan meletakkan buku biologi yang ia bawa di atas meja.
"Kita.. mulai dari mana?" tanya Sasuke. Ia menutup wajah dengan sebelah tangannya. Jujur saja, ia juga malu membicarkan hal ini. Apalagi pada lawan jenis. Salahkan saja guru biologi mesum itu, Jiraiya. Kalau ini bukan demi nilai, Sasuke tidak akan duduk di tempat dan menerima perintah bodoh ini.
"A-aa, bagaimana kalau dari sini?" Sakura membuka buku biologinya dan menunjuk bagian pertanyaan.
"Langsung menjawab? Baguslah, aku juga tidak ingin lama-lama." ujar Sasuke.
Sakura merasa adanya penolakan dari pria itu, Sakura tidak dapat membunyikan raut wajah sedihnya. Padahal ia kan baru saja duduk dan mereka juga baru saja akan mulai menjawab pertanyaan di buku. Apakah Sakura sangat jelek sehingga Sasuke tidak ingin melihatnya lama-lama? Sakura hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Menyadari ada yang salah dengan Sakura, Sasuke pun mengambil tindakan. "Hei, aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku.. hanya.. malu. Maaf." Sasuke memalingkan wajahnya saat mengucapkan kata maaf.
Ucapan Sasuke berhasil membuat Sakura menatap ke arahnya. "A-aku juga malu. Maaf aku sudah salah sangka." Sakura membalas ucapan dengan Sasuke dengan cepat.
"Ya sudah, aku cari jawabannya dan kau mencatat saja. Bagaimana?"
"Baiklah, aku percaya padamu, tuan juara umum." Sakura segera mengambil secarik kertas dari dalam buku catatan yang sudah ia siapkan.
"Kenapa? Kau iri? Kau Haruno Sakura yang selalu menempati juara dua kan?" ucap Sasuke sambil membaca buku biologi tersebut.
"Siapa yang iri. Ka-kau tahu aku?"
"Aku tahu semua sainganku."
"Oh, begitu." Sakura merasa ditusuk untuk yang kedua kalinya. Oh, apakah pria ini memang sekejam itu?
"Maaf kalau ucapanku menusuk, tapi itulah diriku. Lagipula aku juga tidak begitu cocok dengan siswa siswi di sekolah ini. Kurasa mereka hanya akan sakit hati jika aku berbicara pada mereka."
"Benarkah? Tapi aku lihat banyak gadis yang mengagumimu?" Sakura menatap Sasuke yang terlihat serius mencari jawaban.
"Ya, itu karena aku belum berbicara pada mereka. Rasanya ingin sekali aku bilang mereka semua jelek agar mereka tidak mengejarku lagi."
"Jadi.. aku juga?"
"Hn? Kau salah satu dari mereka?" Tatapan Sasuke masih setia pada buku biologi yang ia baca sejak tadi.
"Ti-tidak! A-aku.. hanya.. mengagumimu.. Tapi aku tidak bergabung dengan mereka." Sakura beralih menatap kertas putih dihadapannya yang masih kosong.
Sasuke berhenti membaca sesaat, "Oh." Kemudian tangannya bergerak lagi menuju buku catatannya. "Kalau begitu.. kau sedikit berbeda." Sasuke melanjutkan kegiatan membacanya dengan tenang.
Sakura terdiam dengan wajah yang sudah memerah. "A-apa jawaban nomor satu sudah ketemu, Sasuke..-kun?" Ia mengganti topik dan memberanikan dirinya memanggil Sasuke dengan suffiks –kun.
Sasuke menatap Sakura saat ia merasa gadis itu memanggilnya dengan cara yang berbeda. Ia tersenyum dan membuka halaman yang berisi jawaban nomor satu. "Ini." Sasuke menunjuk pada tulisan di dalam buku tersebut. "Catat yang lengkap. Jangan malu saat mencatat yah."
"Kau yang jangan membayangkan hal tidak-tidak saat membaca, Sasuke-kun." ucap Sakura sambil mengambil buku tersebut dan mencatat jawaban. Ia tidak berani melihat ke wajah Sasuke saat sadar ucapannya itu menggoda.
"Hm, apa.. kau pernah melakukannya, Sakura?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Ma-maksudnya, melakukan.. seks?" Sakura berhenti menulis.
"Hn."
"Me-mengapa Sasuke-kun ingin tahu hal itu?" wajah Sakura memerah lagi untuk kesekian kalinya.
"Ini. Ada pertanyaan.. mengenai pengalaman saat berhubungan." Sasuke menunjuk pada bagian pertanyaan yang terdapat pada buku biologi miliknya.
"Apa?" Sakura membuka halaman berisi pertanyaan itu. "Aku rasa sekolah ini harus mengganti buku sekaligus guru biologi mesum itu."
"Hn, kau benar."
"Baiklah, mari kita jawab semua itu! Apa yang kau tahu mengenai hal itu? Kurasa pria lebih mengetahuinya?" Sakura tersenyum pada Sasuke untuk menunjukkan semangatnya.
"Hm, jujur saja. Aku pernah menontonnya bersama Naruto dan yang lain." Sasuke berhenti sesaat. Sakura hanya menutup wajahnya dan berusaha mendengar seluruh ucapan Sasuke dengan benar. "Tapi aku tidak pernah melakukannya. Satu kali pun tidak pernah." tambah Sasuke.
Sasuke diam sejenak, kemudian melanjutkan penjelasannya, "Di video tersebut, kelihatannya mereka sangat nikmat. Si pria terus mencium wanitanya. Wanita itu juga terlihat sangat menikmati saat si pria meremas payu- ah, dadanya." Tampak rona kemerahan pada wajah Sasuke. "Ehm, kemudian saat si pria memasukkan itu, kau tahu itu apa." Sasuke berhenti sejenak lagi. "Mereka berdua sama-sama mendesah dan mendesah hingga mencapai orgasme masing-masing. Kau mengerti, Sakura?" Sasuke memberanikan dirinya untuk menatap Sakura setelah ia menjelaskan sesuatu yang sangat memalukan.
Sakura hanya mengangguk "A-aa, jadi? Apa yang harus ditulis Sasuke-kun? Sakit.. atau nikmat?" Sakura tidak dapat menahan rasa malunya saat harus bertanya seperti itu pada Sasuke.
"E-em.., itu.. tulis saja keduanya. Sakit dan nikmat. Biar saja, untuk kali ini aku rela tidak mendapat nilai sempurna."
"Ba-baik, tulis saja begitu. Aku juga, Sasuke-kun. Ini sungguh memalukan."
"Hn."
"Aku ingin tahu, a-apa pria memang sering menonton film atau video seperti.. itu?"
"Kalau aku pribadi, tidak. Aku diajak oleh baka Naruto itu kemarin."
"Oh, begitu yah.." Senyum tipis tampak pada bibir Sakura. Ia kembali mencatat.
"Hn, awas saja kalau ada pria yang berani macam-macam padamu." gumam Sasuke dengan suara yang sangat kecil.
"A-apa Sasuke-kun?" Sakura melihat Sasuke dan merasa mendengar sesuatu.
"Tidak, bukan apa-apa."
Sakura lanjut menulis jawaban di kertas tersebut. Sedangkan Sasuke mencari jawaban untuk soal yang lain lagi. Wajah mereka sama-sama memerah, masih malu satu sama lain. Tapi mungkin ini adalah awal yang baik. Bagi Sasuke maupun Sakura, mereka sudah tahu bahwa masing-masing memiliki ketertarikan terhadap satu sama lain. Tapi tidak ada salah seorang dari mereka yang berani mengungkapkan terlebih dulu. Maka biarlah semua berjalan seperti sungai yang mengalir dengan tenang.
Flashback OFF
"Kita sudah sampai, Sakura." Juugo berhenti saat tiba di sebuah pintu besar.
"I-ini kamar Sasuke -kun?" Sakura sedikit terkejut melihat pintu yang megah di hadapannya.
"Ya, apakah Sakura sudah siap bertemu dengannya?" Juugo bertanya sambil memegang gagang pintu.
"Tentu, buka saja pintunya." Sakura menganggukkan kepalanya.
Juugo tersenyum kemudian membuka pintu itu perlahan. Sakura melangkah masuk ke dalam kamar tersebut. Juugo hanya diam dan menutup kembali pintu kamar itu. Membiarkan tuan mudanya dan gadis tersebut waktu untuk berdua.
Sakura tidak dapat menahan ekspresinya saat ia mulai mencium bau asap rokok. Ia terkejut melihat Sasuke yang sangat kurus, duduk di atas ranjang tanpa busana. Tubuhnya penuh bekas luka. Rokok bertengger di mulutnya. Matanya sayu dan wajahnya bertambah dingin. Kamar Sasuke tidak tertata, tidak sedikit puntung rokok dan beberapa jarum suntik bekas yang berserakan di lantai. Bahkan ada juga botol-botol minuman beralkohol yang isinya sudah tinggal setengah.
"Sasuke-kun.." panggil Sakura dengan perlahan.
Sasuke mengusap matanya. Melepas rokok dari mulutnya dan mematikannya di asbak. "Sa-sakura?" ia masih mengedipkan matanya dan tidak percaya apa yang ia lihat.
Sakura tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Ia tak sanggup melihat Sasuke dalam keadaan seperti ini. Sakura berlari dan segera memeluk Sasuke. Sakura memeluknya dengan erat. Tidak lama kemudian, tangisan Sakura pecah. Cairan bening itu mengenai permukaan kulit Sasuke. Sasuke hanya diam terhadap perlakuan Sakura. Hangat, memang nyaman rasanya dipeluk oleh Sakura. Tapi Sasuke tidak ingin Sakura ikut terjatuh ke dalam lubang yang sama. Sakura tidak boleh bersamanya, Sakura harus mendapat seseorang yang lebih baik.
"Pergi." Sakura melepas pelukannya dan memandang Sasuke dengan bingung.
"Pergi. Enyah dari hadapanku." lanjut Sasuke.
Sakura mundur beberapa langkah dari tempat Sasuke berada. Tangisannya semakin kuat. Ia tak percaya. Benar-benar tidak percaya apa yang diucapkan Sasuke. Tapi Sakura pernah berbicara dengan Sasuke, ia tahu bahwa ini bukan Sasuke yang sesungguhnya.
"TIDAK! Aku tidak akan pergi!"
"Sakura,"
"TIDAK!"
Sasuke masih bingung dengan gadis ini. Ia sudah bukan Uchiha Sasuke yang dikagumi oleh seluruh gadis di sekolah lagi. Ia sudah tidak pantas. Apalagi hal ini menyangkut Sakura, gadis yang sangat disukainya. Tapi apa yang membuat gadis ini bertahan meski Sasuke sudah mengusirnya? Sasuke hanya diam. Pikirannya kosong.
Sakura kembali mendekati Sasuke, kini ia duduk tepat di samping Sasuke. Menatap mata Sasuke sejenak dan kembali memeluk Sasuke dengan erat.
"Awas saja kalau wanita itu berani macam-macam lagi padamu."
Sasuke tersentak, ucapannya pada Sakura dibalas kembali oleh gadis itu. Apakah Sakura mendengarnya saat itu? Apakah ini sudah saatnya jujur pada perasaannya sendiri? Apakah ini sudah saatnya ia mengungkapkan semuanya? Tapi, kondisinya masih labil. Bahkan Sasuke masih sangat bergantung pada obat-obatan itu. Ia memang butuh kekuatan untuk bangkit. Dan saat ini, kekuatan itu hanya bisa dia dapatkan dari Sakura. Tapi apakah tindakan membiarkan Sakura berada disisinya adalah benar? Bagaimana jika Karin datang menyerang Sakura? Bagaimana jika Sakura juga menjadi pecandu sepertinya? Sasuke bingung, ia bingung.. dan untuk pertama kalinya, seorang Uchiha Sasuke tidak tahu harus berbuat apa.
To be Continue
Yak, akhirnyaaa selesai juga! Hehe
Maaf yah author sibuk banget di Real Life. Aduh skripsi ga kelar-kelar... Mending lanjutin fic aja deh hahahaha
Oh ya, gimana ini readers? Bantu si Sasuke donk? Dia bingung tuh, harus gimana. Sepihak cinta sama Sakura, sepihak lagi dia ga boleh biarkan Sakura ikut terjerumus ke dalam kegelapan. Hm,, bagusnya gimana ya?
Balasan review
Thasya Rafika Winata: ini nih ada reaksinya. Maaf ya lama update, author sibuk huhu. Thanks read dan reviewnya :D
Yoshimura Arai: aduh maaf bikin baper.. mari kita doakan Sasu bersama, hiks. Thanks read dan reviewnya :D
dewiehyeokjaehw: iya nih author akhirnya bs update setelah mengumpulkan semangat yang sempat ilang, haha. Disini ada momentnya, tapi mungkin lebih lengkapnya next yaa. Thanks read dan reviewnya :D
aulifahoul: ini sudah ditambahin. gimana chapter ini? hehe. Thanks read dan reviewnya :D
Asuka Kazumi: halo Asuka, rasanya memang harus diberi pelajaran yah si Karin? hm.. iya pokoknya Sasu harus sembuh! #ngotot hahaha. Thanks read dan reviewnya :D
sofi asat: ini sudah lanjut, bagaimana chapter ini? Thanks read dan reviewnya :D
Dewazz: iya ini dilanjutkan, gimana? mengecewakan tidak? hmm.. Thanks read dan reviewnya :D
Guest: iya, ini lanjutannya. Thanks read dan reviewnya :D
Laifa: hm, begitulah. Takdir sepertinya. Thanks read dan reviewnya :D
sarahachi: huhu, bener banget itu. Dan apa sih yang gak dilakukan demi cinta? #ehganyambung hehe. Baiklah, nanti kita beri Karin pelajaran, semacam hukum karma? hahaha. Thanks read dan reviewnya :D
Kirara967: sepertinya Saku mau deh, tapi kita tunggu lebih lengkapnya chapter depan. Ini Saku baru aja ketemu Sasunya. Dan Sasunya bingung harus gimana. tidak apa, author tidak keberatan sama sekali hehe. Tumpahkan saja semua pertanyaan. Author akan jawab sebisa mungkin. Thanks read dan reviewnya :D
Laila: iya, huhu, mari kita berdoa untuk Sasu supaya cepat sembuh yaa. Thanks read dan reviewnya :D
ArukichiArakida: ok sip, ini lanjutannya. Gimana masih menarik ga? hehe. Thanks read dan reviewnya :D
hanazono yuri: ini lanjutannya. Thanks read dan reviewnya :D
: iya ini dilanjutkan. apa sudah mengobati rasa penasaran? Thanks read dan reviewnya :D
Tia TakoyakiUchiha: sip, ini lanjutannya. Thanks read dan reviewnya :D
Chichak Deth: Maaf telat update... huhu, author sibuk. Semoga ga mengecewakan yah. Silahkan f&f nya, kalau perlu diajak teman-temannya utk baca, hahaha. Thanks read dan reviewnya :D
FashionSaku: jujur saja, author sendiri sedih sih waktu ngetik cerita ini. Tapi author benar-benar ingin ketik cerita ini. Karena cinta itu harus diperjuangkan #macemiyaajaauthor ini, hahaha. Thanks read dan reviewnya :D
Yaaa readers, semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian yang sudah menunggu lama.
Terima kasih banyak untuk yang sudah favorite, follow, read dan review. Terima kasih juga untuk para silent readers.
Silahkan beri komentar lagi yaaa, mohon reviewnya.
Oh ya, jangan lupakan Sasuke yang butuh bantuan readers, hahaha.
Sincerely,
Shady.
