I CARE FOR YOU

.

.

#10

.

..Let's Solve The Problem..


Happy Reading.


"Kau sudah mengaturnya, Kris?"

Jongin mengigit ujung kukunya memperhatikan jalanan di kaca jendela—cemas. Mereka berdua merubah rencana awal. Terima kasih pada Kris yang lupa membuat janji dengan tuan Jinhyuk dua minggu lalu, dia jadi lebih lama bersekolah di asrama itu. Sudah lewat satu bulan—Jongin ingin mendamprat Luhan jika bisa, dia merindukan rumah dan Sehun.

Dan.. Hari ini Jongin sudah berjanji pada dirinya sendiri.

"Ya.. Dan Apa yang kau harapkan sekarang?" sahut pria disampingnya , ini sudah kesekian kali nya Jongin bertanya.

"Tentu aku berharap.. Ini akan selesai. Semuanya."

Kris melihat kaca spion di atas, dia tersenyum miring mendapati perubahan raut keponakannya. Lebih serius dari yang dikira. Memang keturunan tak pernah berbohong, Kris dapat melihat bayangan kakak tirinya di mata tajam Jongin.

"..kau akan membantuku kan paman?"

"Tentu sayang. Aku disampingmu."

.

.

.

Jongin menggenggam erat tangan nya sendiri. Ini pertama kalinya dia bersikap serius di depan keluarganya. Disampingnya ada Kris yang berdiri menepuk bahunya. Sangat beruntung, dua kakaknya pergi keluar. Karena jika mereka disini Jongin yakin dia akan mengeluarkan banyak tenaga untuk sekedar berbicara..

"Abeoji, bisa kah kau jujur padaku?"

Hankyung hanya bergeming menatap putra bungsunya. Tak pernah terlintas hari ini akan datang. Dia tak pernah terbayang Jongin akan bertanya masalah yang telah ditutupinya sepajang tahun.

Jongin menghampirinya dengan wajah memohon. Ada kilat memaksa di sepasang mata Jongin. Hankyung menarik nafas panjang.

"Duduklah. Akan kuceritakan semuanya.."

Jongin mendengar cerita panjang ayahnya. Dia sekilas melihat mata ibunya yang terhalang airmata. Jongin ingin menghampiri wanita itu lalu memeluk juga berbicara semua baik-baik saja. Tapi dia hanya bisa duduk memainkan jemari bertukar pandang dengan sang kepala keluarga.

"Sayang.. Kami tak memiliki pilihan. Saat itu—saat itu kami hanya terpikir keselamatanmu dan Luhan sangat..kami tak bisa menolaknya." sahut ibunya terbata, Jongin mengerti.. Mereka orangtuanya. Mereka tentu akan melakukan apa saja untuk hidupnya.

"Tapi—Kenapa harus.. Luhan? Ibu, ayah. Kalian tau, ini sudah tidak benar. Kami—tidak mungkin."

Jongin menghela nafas dengan berat hati. Tangannya saling menggenggam pertanda dia tak bisa menahan lagi.

Kris tidak memperlihatkan satu ekspresi pun. Dia ada di sana saat Luhan menawarkan bantuan dan kesepakatan itu. Tangannya terus bergerak mengelus bahu keponakan yang amat disayangnya. Dia dapat merasakan bahu Jongin bergetar, tubuh remaja itu membungkuk menatap lantai di bawah. Sementara kedua matanya lurus menatap sang tuan kepala keluarga.

"Ayah. Aku—"

Tuan Kim berdiri dari duduknya, berlutut merengkuh wajah putra bungsu yang amat di sayangnya.

"Maafkan kami, sayang." Jongin menggeleng.

"Tidak. Ini—Luhan. Aku akan bicara padanya."

"Tidak-tidak. Jangan bertemu dengannya. Kami takut di—

"Appa— aku janji. Biarkan aku meluruskan semua pertanyaanku sendiri." Jongin mengulas senyum tipis, menyambut ayahnya dengan pelukan beruang yang seingatnya sering dia lakukan sejak kecil dulu.

Nyonya Kim tersenyum haru. Kim Jongin, bayi kecilnya sudah bartambah tinggi dan dewasa. Anak itu benar, dia bisa menyelesaikan semua ini sendiri.

"Yifan, terima kasih sudah menjaga putra ku."

Pria tinggi berdarah tiongkok itu lantas mengalihkan pandangan dinginnya ke jendela ruangan. Dia sama sekali tidak tersentuh oleh tatapan kakaknya. Tentu dia akan menjaga keponakan kesayangannya. Kris takkan membiarkan Jongin dalam keadaan seperti ini lagi lain kali.

Jongin tiba-tiba tertawa kecil. Dia mengeluas punggung tangan pamannya seraya melempar tatapan penuh canda.

"Tentu saja. Paman Wu akan selalu melindungiku. Dia paman terbaik. Jjang!"

Kris menahan senyum, dia mengusak rambut keponakannya. Jongin sudah berubah banyak. Dia telah kembali menjadi si bungsu yang manis. Pria itu senang melihat sisi lama Jongin telah kembali. Namun tak lama Kris bergumam.

"Jongin.."


CKLEK

Kris mendongakkan kepala, langsung bertemu tatap dengan seorang wanita renta berseragam. Beliau mempersilahkannya masuk kedalam. Kedua kakinya berjalan mengikuti langkah sang wanita renta tersebut.

Tak jauh dibelakangnya, Jongin berlari kecil menyusul pamannya. Setelah dari rumah, Kris membawa nya kemari. Dia tak mengerti ini rumah milik siapa—yang jelas, ini bukan sekedar rumah. Astaga ini istana! Banyak pilar di setiap ruang yang dilewati mereka serta warna car emas lumayan mendominasi.

Pelayan wanita—yang baru diketahui bernama xia Junmeii itu mempersilahkan keduanya memasuki ruang lain yang dua kali lebih luas. Jongin takjub menatap sekeliling ruang itu di tutup oleh deret rak buku. Dia merasa ada di asrama, ruangan ini familiar dengan perpustakaan disana.

"Selamat datang."

Kris maupun Jongin berbalik, menemukan sang tuan rumah baru menutup pintu. Sama-sama membungkuk memberi salam.

"Tn. Jinh—"

"Duduklah dulu."

Pembawaan yang kelewat tenang. Jongin memainkan lengan kemeja pamannya, lagi-lagi dia merasa tertekan disekitar Tuan Jinhyuk. Aura pria tua itu terlalu mengintimidasi.

Manik Kris bergulir menatap Jongin dengan senyum serta anggukkan. Secara bersamaan mereka duduk di sofa beludru dekat kursi kayu goyang didepan mereka.

"Silahkan diminum, jangan sungkan."

Bibir Jongin terkatup lagi, setiap dia ingin membuka pembicaraan sebenarnya tuan Jinhyuk memotongnya. Seperti sengaja mengulur waktu. Baik Kris maupun Jongin saling bertukar pandang.

Menghela nafas. Kris akhirnya mengambil alih suasana, "Tuan, Sehun perlu menemui anda."

Jongin menggigit bibir bawahnya resah setelah tawa pelan terdengar sebagai balasan.

"Tidak perlu."

"Tapi—"

"Jika kami bertemu, dia akan semakin membenciku."

"Tidak."

Jongin memekik, dia lama-lama tak tahan jadi pribadi pendiam. Gila, dia bukan sesabar itu. Dengan berani dia melempar tatapan tajam pada pria lansia yang tengah menatapnya seraya menyesap secangkir kopi.

"Anak muda, jaga sopan santunmu." Jongin menahan nafasnya. Dia sudah diambang kesal. Kapan, kapan!

"Kumohon, temui Sehun. Dia—dia.. Ah! Paman bantu aku."

Jongin melempar perkataannya pada Kris, dia tak pandai merangkai kata apalagi berbicara seperti ini. Pria tinggi itu berdecak padanya sebelum menghela nafas panjang.

"Anda harus—"

"Cukup. Aku mengerti."

menatap pintu dibelakang mereka. Dia mengulas senyum hangat saat putra nya ikut masuk meramaikan suasana.

"Jongin.. Hai?"

Tubuh Jongin bergeming, dia merasakan pelukan singkat dibahu. Dan saat kembali menatap kedepan, dia harus menelan kebingungannya sendiri.
Pertanyaannya.. Kenapa Mino di sini?

"Kau harus mendapat restu ku sebelum menikah dengan Adikku nanti Jongin."

Mino menarik senyum miring. Kedua matanya menyipit, mengeluarkan desis kekehan pelan. Itu sudah cukup untuk membuat Jongin menyadari sesuatu. Dia mengerti sekarang.

Sehun, seperti perkataan kemarin. Sahabatnya itu berbeda secara fisik namun secara mental dan sifat sikap mereka menyerupai. Mino, Jongin yakin jika Dia adalah putra kembar tidak identik yang lain. Lelaki itu memang menuruni garis wajah dari sang ayah. Sedangkan Sehun, Jongin pikir rahang Sehun itu turunan dari kedua orang tuanya.

Kali ini Jongin bersyukur. Bukan karena tahu Mino kembaran Sehun. Tapi dia bersyukur karena akhirnya dia bisa menepati janji kecil antara Sehun dan dirinya saat masih kanak-kanak.

'..Aku tidak punya orang tua, mereka hilang.'

'Sehun tenang saja, jangan sedih lagi! Jongin akan mencarikannya!'

'Benarkah?'

'Aku berjanji! Hehe.'

Sepanjang hari dalam hidupnya setelah lulus SD , dia terus mengusik pamannya. Meminta, membujuk, bahkan memohon agar Kris membantu mencari orang tua Sehun. Dari perjuangan mencuri sehelai rambut Sehun, hingga ketahuan mencuri koran lama di perpustakaan Kota.

Sejujurnya, sebelum masuk orientasi siswa di SMA. Jongin sudah membujuk pamannya agar pindah profesi dari Direktur menjadi guru BK di sekolahnya. Setiap saat Kris akan membuat surat panggilan untuknya agar pria itu dapat memberinya satu-dua, besar-kecil nya informasi.

Hingga entah kejaiban apa, otak Kris berputar balik ke panti asuhan tempat Sehun dirawat dulu. Pria itu mengambil satu arsip berisi data lengkap setiap anak panti. Dan.. Mereka menemukan nama familiar. —ternyata adalah kolega juga teman lama sang ayah. Tapi meski begitu, Jongin tidak membicarakannya dengan sang ayah.

"Kupikir ayahku benar. Sehun sudah terlanjur membe—Jongin! Apa yang kau lakukan!"

Jongin tidak menggubris, dia menurunkan lututnya menyentuh dingin lantai marmer. Kris menatap keponakannya tajam, dia menarik tubuh tan itu kembali berdiri. Tapi Jongin memberontak.

"Kumohon.. Temui putramu, juga adikmu. Kumohon. Aku—aku sudah berjanji padanya. Aku.. A-aku.. Mohon." lirihnya terdengar memelas.

Jongin menunduk menatap marmer dibawahnya dengan mata berkabut airmata. Dia akan melakukan apapun. Semua untuk Sehun.

menepuk bahu Mino, agar putra nya kembali tenang. Pria tua itu mengulurkan kedua tangannya mengangkat pundak Jongin berdiri kembali menatapnya. Dia tersenyum.

"Bukan tidak ingin. Kau harus tau, bagaimanapun juga dia bagian kecil keluargaku. Aku akan menemuinya, jika perlu membawanya kemari. Tapi bukan sekarang. Kau mengerti?"

"—Sekarang bangunlah."

Mino di belakang ayahnya, memberi senyum. Lantas berterima kasih lewat bisikan non verbal. Dia menatap Jongin yang bersanda di bahu ayahnya. Lelaki itu membalas pelukan ayahnya dengan senang hati. Dia tertawa pelan mengusap air mata. Ah, dasar cengeng.

Jongin mengira akan bagaimana, tapi nyatanya memang sengaja bermain kata. Membuatnya bingung saja. Dia memeluk sosok seumuran ayahnya erat. Lalu mengangguk pada Mino didepannya.

Kris menyembunyikan senyumnya. Dia melihat arloji, waktu masih panjang. Dia takkan menganggu keponakannya lagi mulai sekarang. Jongin sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa, berpikir matang-matang demi sebuah janji. Itu pria sejati.

Kris tertawa dalam hati. Mengumpat pada pemikiran tak bergunanya. Dia senang melihat interaksi serta Jongin. Dari belakang, dia ikut mengusak rambut dark brown Jongin. Menyalurkan kebanggaannya sendiri.

"Terima kasih, Yifan."

"Hn." kedua nya mengulas senyum tersembunyi.

.

.

.

"Jadi.. Kemana Kai?"

Jongin meninju lengan Mino dengan tawa pelan. Dia sedikit tersinggung oleh nada ejekan murahan itu. Sedangkan, Mino tertawa mengusap lengannya. Mereka berjalan mendekati kolam ikan di taman belakang mansion.

"Darimana kau tau itu?"

"Dari pamanmu. Tentu saja."

Dulu saat awal-awal Kris menemui mereka. Dia mengira akan segera bertemu adiknya, maka dia gencar menanyakan siapa saja yang diceritakan Kris padanya. Tak perlu heran, Kris cukup bersahabat saat itu jadi Mino banyak bertanya tentang siapa Kai? Siapa Jongin? Karena pria tinggi itu terus mengucap kedua nama itu berulang.

"Oh ya, perubahan mu mengejutkan seisi asrama beberapa hari terakhir. Mereka terus membicarakanmu." Jongin menoleh, menendang air kolam di tungkai nya.

"Kenapa?"

"Kau terlihat berbeda."

"Berbeda apanya?"

"Lebih manis." goda Mino jujur.

Jongin terkejut, sesegera mungkin menampar air di bawah mereka mengenai muka Mino. Dia tak menerima pujian murahan. Just please.

Mino tertawa menyuruh Jongin berhenti. Dia tidak berbohong jika perubahan Jongin begitu mengejutkan. Dia juga tak begitu mengira jika ucapannya itu dianggap serius oleh Jongin. Menyuruh agar anak ini memaniskan sikap, oh hell dia hanya iseng bercanda. Sekali tatap, seisi sekolah pun tau wajah Jongin mendeskripsikan kata Manis.

"Lagipula aku bercanda saat itu. Kenapa kau anggap begitu serius?"

Kali ini, Jongin kembali menendang permukaan air dengan kesal. Dia menatap Mino merajuk.

"Karena, aku tak mau Sehun menyukai kakakku."

Mino tersenyum geli. Dia menepuk kepala pemuda yang lebih pendek darinya.

"Tenang saja, aku hanya merestui mu." wajah Mino mengundang gelak tawa Jongin. Lucu sekali.


"Kau mau kembali ke asrama?"

Kris bertanya dengan pandangan lurus kedepan. Hari sudah mulai larut, sekitar jam sepuluh. Dia melirik Jongin lewat ekor mata, merasa tak ada sahutan.

"Jongin?"

"Ah ya?"

Kris berusaha maklum mendapati keponakannya melamun lagi. Dia memutar kemudi, putar balik. Jongin melihat sekeliling, rasa bingung menghinggapinya. Bertanya-tanya kemana pamannya akan pergi.

"Kenapa? Kita kemana?"

Jongin menggoyang lengan Kris, dia tak juga mendengar pamannya memberi penjelasan.

Kris menatap sekilas Jongin, lalu dengan dingin berujar. "Ke apartemen Sehun. Bertemu Luhan."

.

.

.

"Oh! Kai!"

"Hai?"

Sehun terkejut mendapati Jongin ada didepannya sekarang. Dia menarik tangannya masuk kedalam.

Jongin membiarkan tubuhnya ditarik Sehun memasuki ruang tamu. Lelaki pale itu mendudukkannya di atas sofa coklat yang dulu sering dipakai mereka mengerjakan tugas bersama. Saat pintu terbuka, Jongin tak mengira langsung bertemu tatap dengan Sehun. Bedanya tanpa kacamata, dan sepertinya lelaki itu juga merubah cara berpakaiannya.

"Sehun.."

Orang yang dipanggil malah hanya diam menatap nya. Jongin mengerjap saat telapak tangan Sehun menangkup wajahnya. Mereka saling bertatapan.

"Sehun. Kau kenapa?"

"Apa ini kau?"

Jongin tidak bisa menahan raut blank nya mendengar pertanyaan Sehun yang keluar dari topik.

"Kau mengecat rambutmu jadi coklat." Jongin mengangkat alis. Dia menjambak pelan rambutnya sendiri.

"Kau sendiri, kemana kacamata mu?" Jongin menyahut dengan ketus. Dia sejujurnya lebih menyukai Sehun berkacamata. Sial sekali kenapa dia berhenti memakainya. Cihh.

Sehun tersenyum, "Luhan yang menyuruhku."

Oh. Hampir melupakan sesuatu. Jongin segera mendorong dada Sehun menjauh lalu segera berjalan menelusuri tiap ruang.

"Eh?"

"Iya. Dimana dia? Luhan tinggal disini kan?"

Sehun mengikuti Jongin yang dengan gusar membuka tutup pintu-pintu yang ada. Dia heran, darimana Jongin tau jika Luhan disini?

"Dan. Kenapa dia disini?"

"Jongin—"

"Kenapa, Sehun?!"

Jongin kehilangan kesabaran. Dia berteriak dengan nada cukup tinggi. Jongin tak mau Sehun lebih dekat dengan Luhan.

"Kau kenapa? Dia hanya—"

"Dia punya apartemennya sendiri disini. Kenapa dia ada disini?"

Sehun berusaha menjelaskan tapi Jongin selalu memutusnya tiba-tiba. Dia menarik lengan Jongin yang hampir membuka pintu kamarnya.

"Kau ini kenapa hah?"

Jongin membuang muka, dia tak ingin memberi jawaban. Toh, jika diberi.. Sehun takkan mengerti. Yang dilakukannya sekarang hanyalah menatap lantai dibawahnya.

"Urgh. Sehun kenapa ber—Jongin?"

Kedua orang itu serempak mengalihkan pandangan. Jongin mengigit bibirnya pelan, Luhan ada didepannya menatapnya dengan raut terkejut ditengah pintu. Dia harus apa sekarang? Apa?

Dia tak bisa mengeluarkan kata apapun yang terlintas, seperti yang diajarkan Kris saat mengantarnya kesini. Lidahnya terasa kelu secara tiba-tiba. Setelah mengetahui fakta Luhan kakak tirinya, Jongin merasa kaku jika harus berbicara dengan pria Tiongkok itu.

"..Jongin, apapun alasanmu marah. Luhan tinggal disini, karena ruangannya terbakar kemarin. Pemilik gedung sedang memperbaiki nya sekarang."

Jongin melirik Sehun lalu beralih menatap wajah Luhan. Entah kenapa dia yakin ada senyum miring di sana.

"Lu ge, aku ingin bicara padamu."

Mata Luhan sedikit terbuka, dia terkejut mendengar panggilan yang sudah lama tidak ia dengar. Rasa senang melingkupi hati, dirinya melempar senyum tipis—balas tatap Jongin yang juga menatap nya dengan raut muka tegas. Oh dia tampan. Berbeda saat dulu.. Jongin kecil yang manis.

"Apa? Lu ge?"pekikkan Sehun menarik perhatian Jongin. Membuat lelaki tan itu menoleh menatapnya sayu.

"Sehun.. Apa yang harus kulakukan? Dia kakakku." bisik Jongin pelan.

Sehun menatap keduanya aneh, lalu tertawa garing mengibas tangan. Tidak lucu sekali Jongin.

"Kau bercanda? Kita seumuran man—"

Sehun menghentikan ucapkannya saat menyadari Jongin tengah menatapnya tajam.

"Dia lulus tiga tahun lalu." Jongin menoleh kesamping, menatap dingin pria yang lebih pendek darinya.

".. Kau harus tau, penipu ini kakak tiriku."

Luhan menyeringai, menatap puas pada Jongin. Bagus. Sang adik rupanya telah mengingat semua..

.

.

.

RnR?

.

.


TBC


HAI BALIK LAGIIIII.

lama ya gk update ini.. mau nya kemaris di discontinue aja. hehe.. sekali lagi maaf late update nya