I CARE FOR YOU

.

.

#11

.

.


..Why must Luhan..


Dont like dont reaad.

typo's every where..


Happy Reads..


Jongin menunduk memainkan jemari tangan dilutut. Memandangi sepatu convers putihnya lebih baik daripada melihat Sehun yang tengah memicing padanya. Tubuhnya terasa terbakar menerima tatapan Sehun yang semakin menajam.

Dia mendengar hembusan nafas gusar disampingnya. Saat dilirik. Sehun sudah duduk disampingnya. Lelaki itu seperti kehilangan kata-kata. Jongin ikut menghembuskan nafasnya perlahan. Hari ini dia menemui Luhan. Dia membuka kedok kakaknya langsung didepan Sehun. Namun dia tidak khawatir pada Sehun yang marah pada Luhan karena berbohong. Jongin lebih khawatir lagi saat Luhan menyatakan perasaannya juga didepan Sehun.

"Maafkan aku.."Cicitnya dengan suara super kecil. Sehun kembali menghela nafas.

"Tidak-tidak. Jongin. Jangan meminta maaf. Harus berapa kali ini bukan kesalahanmu."

Jongin akhirnya menegakkan kepalanya, ingin tahu bagaimana ekspresi Sehun sekarang. Sehun tengah menatapnya dengan senyum tipis disana. Andai lelaki ini memakai kacamatanya kembali, jantung nya akan semakin bergetar melihatnya.

"Tapi..Kau menyukai Luhan?"

Jongin mengernyit saat Sehun malah terkekeh. "Kenapa tertawa?"

"Aku tidak menyukainya.." Jongin berkedip cepat seperkian detik menyadari bagaimana bibir tipis Sehun menarik senyum miring seolah menemukan sesuatu yang menarik.

"..Lalu?" Suara Jongin terdengar seperti tidak terdengar.

"Sebenarnya aku masih memikirkannya. Apa aku harus menyukai Luhan atau tidak." Sehun menyunggingkan senyum lebar saat menangkap Jongin memutar bola matanya.

Jongin berdecak," Idiot."

Sehun hanya meringis mendengarnya, dia teringat sesuatu. "Oh ya, Aku ingin tahu kenapa kau marah saat Luhan menginap disini?"

Kedua bola mata Jongin hampir keluar dari tempat nya saat mendengar Sehun menanyakan penyebab sikap anehnya tadi. T-tentu saja dia akan marah. Dia tau fakta Luhan berniat buruk pada Sehun. dan Dia tidak mau Sehun melakukan sesuatu dengan Luhan. Itu hal wajar untuk —sedikit- Cemburu kan?

"Bukan apa-apa." Jongin memutus kontak matanya dengan Sehun. Telapak tangannya terasa dingin. Rasanya seperti ketahuan mencuri di toko pakaian dalam. Tanpa sepengetahuannya Sehun tersenyum tertahan mendapati kedua telingannya yang memerah. Tapi lelaki itu tidak mengatakan apapun.

"Kau tau?"

Jongin ingin sekali menoleh dan menatap mata sipit Sehun yang indah, tapi dia tidak melakukannya. "Ya?"

"Kau berubah banyak sejak pindah ke asrama.. itu bagus."

"benarkah?"

Sehun mengangguk. Dia memandangi Jongin lamat-lamat. Lihatlah sahabatnya ini. Berapa banyak hal yang tidak diketahuinya akhir-akhir ini. Mereka tidak pernah bertemu lagi selain bertukar pesan. Benar kata Sulli. Jongin sangat.. entahlah, Mungkin Sehun lebih menyukai bagaimana Jongin yang sekarang. Meskipun dia sedikit merindukan pemarah Jongin.

"Bagaimana kehidupan asrama?"

"Buruk. Ayo bertaruh kau takkan mau tinggal disana lebih dari satu hari. Banyak peraturan, sampai takkan bisa bernafas. Menyebalkan."

Sehun tertawa oleh ekspresi kesal Jongin yang sepertinya membenci bangunan tua yang disebut asrama. "Tapi kau bertahan lebih dari dua minggu dan masih hidup."

Jongin hanya tersenyum, membenarkan perkatan Sehun. Dia melirik kesamping. Sehun tidak lagi berkacamata. Softlense coklat gelap di matanya terlihat sempurna untuk kulit nya yang pucat. Rambut Sehun tidak banyak di gel seperti dulu saat awal Orientasi siswa SMP. Pfft, Dia ingat Sehun memang culun sejak kecil.

Sehun tau dirinya dipandangi Jongin. Maka ia ikut menoleh, bertatapan langsung dengan mata bulat Jongin. "Kenapa melihatku seperti itu?"

Jongin mengangkat alisnya, sadar dari lamunan konyolnya. "Tidak. Hanya berpikir kemana Sehun si cupu itu pergi."

"Kau merindukan si cupu itu?"

Jongin membuka bibirnya namun tak ada satupun kata yang dikeluarkan. Mata nya bergulir kesana kemari mencari suatu jawaban yang tepat.

"Kalian sedang apa?"

Suara lain mengejutkan keduanya. Sehun berkedip bingung melihat Luhan tengah memberinya tatapan dingin. Oh wow, kemana Luhan yang cantik dan .. lembut?

"Lu—"

"Bocah. Aku lebih tua darimu." Suara datar Luhan memotong ucapan Sehun. Lelaki itu meneguk ludah. Dia tak percaya jika Pria ini sama dengan Luhan yang dikenalnya sebagai teman sekelas yang lembut, baik dan ramah.

"Ha?" Jongin menatap Sehun geli. Dia akui sahabat nya ini tampan bahkan saat memakai kacamata super tebal sekalipun. Tapi tetap saja. Lihat sekarang, Sehun mengeluarkan ekspresi bodoh nya lagi.

Jongin mengalihkan pandangannya pada Luhan yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria itu memberikan dirinya dan Sehun tatapan tajam. Jongin berdehem pelan membersihkan tenggorakannya yang terasa kering. Dia tak tahan untuk bersikap canggung, Meskipun Dia adalah kakak tirinya. Tetap saja dia merasa Luhan bukan orang terdekatnya—walaupun dia tau jika mereka pernah dekat. Oh, ukh okay.. Dia juga terkejut mengetahui sifat asli Luhan. 180 derajat. Sangat berbeda dengan wajah dan image saat pertama kali Jongin melihatnya di kelas. Dia pernah mendengar Kris menceritakan kakak tirinya. Kris bilang, Luhan sangat tempramental, dan sedikit berkepribadian Complicated.

Dan Jongin membenarkannya.

Lagi. Jongin berdeham. membuat Luhan memusatkan pandangannya pada Jongin. "Gege.. Kau harus kembali ke China. Aku—"

"Aku takkan kembali tanpa membawamu bersamaku." Potong pria berwajah cantik itu tegas. Dia menatap adik tiri nya lurus-lurus.

Sedangkan Jongin melempar pandangannya pada Sehun. Mereka saling bertukar tatap, berkomunikasi lewat kontak mata. Sehun mengangkat alisnya, "Kau bilang apa? Kenapa Jongin harus ikut denganmu?"

Luhan malah menarik seringai tipis.

"Aku akan menikahinya."

"Apa?"

Mulut Jongin menganga. Apa-apaan ini. Dia masih sekolah. Kenapa Luhan masih membawa-bawa soal pernikahan. "Gege!"

Baik Jongin dan Luhan. Mereka saling menatap tajam satu sama lain. Jongin sendiri rasanya benar-benar akan melayangkan kepalan tinju di wajah porselen China itu. Walau tak banyak yang diingatnya tentang Luhan, Jongin selalu merasa aneh jika pria itu tersenyum padanya. Sesuatu yang familiar.

"Wow-Wow! tunggu dulu.." Sehun memekik mencegah tinju Jongin yang hampir melayang pada Luhan. Dia disini tidak mengerti duduk permasalahannya. Apapun yang dibicarakan Jongin dan Luhan membuatnya pusing. "Kenapa kau menikahi Jongin? Dia kan adikmu? Ya kan Jong?"

Untuk saat ini..Jongin hanya bisa mengerling datar pada lelaki tinggi disampingnya. Sehun itu bodoh, sudah begitu tidak peka. Dasar payah.

Luhan terkekeh. "Kau mencoba menjadi naif? Hubungan kami sedarah beda ibu. Terserah padaku menikahinya atau tidak." Luhan menyeringai pada wajah Linglung Sehun. Bocah malang. Dia turut kasian pada adiknya Jongin yang tolol menyukai Sehun. Keduanya bodoh. Tapi tidak benar-benar bodoh. "Lagipula..Jongin tau Aku mencintainya." sambungnya dengan senyum tipis yang diulasnya pada Jongin.

Sehun tanpa sadar meremas pergelangan tangan Jongin di genggamannya. Ucapan Luhan terasa panas saat didengar. Apalagi kalimat terakhir itu. Membuatnya gatal untuk menendang Pria manis itu angkat kaki dari apartemennya. Dia tak percaya kenapa dia pernah tertarik pada orang macam Luhan.

"Brengsek."Gumam Sehun dengan suara berbisik. Matanya berkilat menatap Luhan seakan ingin membunuh seseorang. Jongin ada disamping Sehun. Gumaman sepelan apapun, ia pasti mendengarnya. Dia mendongak memperhatikan raut sahabatnya.

oooOOooo

Pukul sebelas malam, Jongin menyelinap keluar dari kamar Sehun dan pergi duduk di sofa hangat depan televisi. Dia tak berniat menyalakan benda persegi itu karena tau Korea tak punya tayangan berkualitas di pertengahan malam. Luhan membuat kepalanya berdenyut. Ia bahkan tidak bisa memejamkan kedua matanya untuk tidur.

Jongin menghela nafas pelan. Rasanya sulit. Tak ada paman Kris disini. Berarti Pria itu tidak bisa membantunya membujuk Luhan untuk pergi dan berhenti terobsesi padanya.

"Paman Kris.." Jongin melempar kepalanya pada sandaran sofa malas. Dia setengah merengek menyebutkan nama paman yang amat sangat dibenci—sayangi- nya.

Besok adalah hari minggu. Dan Jongin tak yakin akan berhasil membuat Luhan mengerti. Sehun? Dia tak bisa diandalkan. Sehun bahkan tidak tau siapa Luhan. Dia hanya tau Luhan adalah kakak tirinya. Selebihnya tidak ada.

Bicara tentang Sehun. Jongin ingat cara Sehun mengumpat diam-diam. Cara yang sama saat Sehun hampir berkelahi dengan Kris. Raut marah Sehun selalu membekas diingatan Jongin. Tidak. tapi seluruhnya. Semua. Jongin telah melihat semua ekspresi Sehun. Sehun jarang marah pada sesuatu. Jikapun marah.. Ada banyak alasan untuk itu tapi tentu saja Jongin tidak mengerti yang mana satu.

Beban di sampingnya bertambah. Jongin menoleh kesamping, tidak terkejut saat menemukan wajah masam Luhan disana. "Gege."

Luhan bergumam. Dia menguap, melipat kedua kakinya di atas sofa. "Kau tidak tidur?"

Jongin menggeleng pelan.

"Kenapa?" Suara halus Luhan membuat Jongin bergemetar. Dia terlalu familiar akan suara penuh perhatian ini. "Ini sudah malam. Kembali lah tidur." Telapak tangan Luhan dirasakan Jongin tengah mengusak rambut nya pelan.

Setelah itu mereka hanya diam. Menyelami pikiran masing-masing. Berusaha memeriksa keganjalan apa yang mengganggu benak mereka. Jongin melirik Luhan. "Apa kau akan tinggal disini lebih lama?"

Pria itu mengusap kedua mata rusa yang dimilikinya dengan segaris senyuman geli di bibir. "Tidak juga." Luhan bersandar kebelakang, menyangga kepalanya menghadap pada Jongin. "Kenapa bertanya? Kau ingin kita ke China lebih cepat?"

Jongin menggeleng cepat. Dia hampir lupa cara bernafas saat menebak Luhan akan membahas pernikahan lagi. Oh, Demi tuhan. Dia bahkan tidak pernah berpikiran untuk itu.

Luhan terkekeh, tangannya menyibak anak rambutnya asal. "Aku tau kau akan menolak. Bahkan untuk kakak yang menyayangimu ini." ucapnya pelan. Pria itu menunduk menatap lantai di bawah mereka dengan senyuman miris.

Melihat Luhan seperti itu Jongin merasa tidak enak. Dia mengigit kecil bibir bawahnya pelan. "Aku tak mau ke China untuk menikah. Aku kesana untuk Liburan bolehkan?" Jongin berpura-pura polos untuk menghibur Luhan. Nyatanya cara itu berhasil. Luhan tertawa pelan, kembali mengusap rambutnya. Jongin tersenyum. Ikut senang.

"Haha, kau ini.."

o

O

O

Sekitar jam sembilan pagi, apartemen Sehun tidak lebih baik dibanding mood Sehun. Lelaki yang semula ber-kacamata itu menendang selimut di tubuhnya, mencari Jongin di luar kamar. ia baru terbangun setelah mendengar suara Luhan memenuhi tempat tinggalnya.

Mata nya mengerling datar, mendapati Luhan berada di depan kompor dengan apron biru. Sedangkan Sehun menemukan Jongin duduk di meja makan, persis seperti anak hilang.

"Kalian sedang apa?"

Pertanyaan Sehun membuat keduanya menengok. Jongin segera beranjak dari duduknya menghampiri Sehun. Dia menyunggingkan senyuman lebar.

"Lu ge memasak. Selamat pagi."

Sehun mengerjap, sedangkan Luhan berdecih. Pria rusa itu kembali terfokus pada masakannya. Pasta dengan saus kaleng. Makanan ecek-ecek untuk sarapan mereka bertiga.

"Dia.. tidak marah?"

Sehun berbisik, menatap takut-takut punggung Luhan. Jongin tertawa kecil, menggeleng sebagai jawaban.

"liburan musim panas depan, Aku pergi ke China." Ucap Jongin dengan wajah sumringah, membuat kedua mata Sehun membola. Pria itu menaruh kedua tangannya menggoyangkan bahu Jongin untuk sadar.

"Apa yang kau bicarakan?! Kau akan menikah begitu? Tega sekali kau.."

Kini Jongin yang mengerjap—memperhati kan wajah Sehun dari jarak dekat. Sahabat nya itu terlihat marah dan khawatir. Dia tersenyum, membingkai wajah Sehun. Lalu menepuk pipi gemil Sehun yang mulai berisi.

"Kau mau liburan gratis?"

"Libu—

"Aku disini. Jangan pamer kemesraan didepanku. Dasar bocah." Luhan mendengus di akhir kalimat, dia duduk dengan nyaman setelah menaruh dua piring lainnya di meja.

Luhan mendongak, menatap datar dua bocah didepannya. "Tunggu apa lagi, makan."

Sehun dan Jongin sempat melempar pandangan satu sama lain, kemudian duduk bersampingan di sisi lain Meja.

OoO

"Benarkah? gratis? Semuanya?" Tanya Sehun beruntun pada Jongin disampingnya. Dia memasang wajah tidak percaya.

Jongin mengangguk ," Mau ikut?" Tawar Nya pelan.

Well itu hanya modus Jongin agar dia tidak berdua bersama Luhan dan sekalian mendekati Sehun. Sekarang ini mereka bejalan-jalan di taman. Mereka meninggalkan Luhan diam-diam.

"Aku?" Sehun menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum miring. "Tentu saja. Lalu, Sulli?"

"A—dia.."Jongin terbata, menggaruk telinganya asal. "Tidak usah. Hehe.."

Sehun menarik Jongin agar duduk di sebuah kursi taman di bawah pohon beringin yang rindang. "Besok kau kembali ke asrama?"

Jongin mengangguk, menurunkan bahu nya lesu. Dia akan kembali ke sekolah itu lagi. Sial. Andai saja pamannya itu tidak memindahkannya kesana dan Luhan tidak kembali untuknya. Sekarang Sehun pasti sudah jadi kekasihnya. Masa bodoh dengan dia harus menunggu Sehun melakukannya duluan. Dia tak mau menunggu lagi, apa salah nya ia yang mengatakannya duluan? Tak ada bedanya, toh mereka ini sama lelaki nya.

"Sehun.."

Yang dipanggil mengalihkan matanya, menatap Jongin dari samping. Sahabat manisnya itu sedang menunduk memainkan jemari nya. Dia tersenyum. Tidak buruk.

"Aku..menemukan a-ayahmu."

"Siapa?"

Senyum Sehun luntur begitu saja. Hal bodoh apa yang didengarnya barusan. Ayah? Sehun mendengus geli. Jongin sedang bercanda. tidak lucu, Dia kan tidak memiliki ayah. Ataupun..keluarga.

Jongin mendongak, memperhatikan rahang Sehun yang sejengkal lebih tinggi darinya. Sepertinya Sehun bertambah tinggi. Raut Sehun yang berubah kaku, membuat Jongin harus berpikir dua kali untuk berkata sesuatu.

"Tidak, lupakan saja. Kita bicarakan yang lain. Bagaimana dengan perasaanmu dengan Luhan?"

Jongin mengigit lidahnya. Kenapa disaat seperti ini dia harus mengangkat topik Luhan. Bodoh sekali.

Sehun mengangkat alisnya, "kau mau aku menyukainya lagi?"

Jongin memekik, menggeleng. "Tentu tidak!"

Sehun terkekeh, menyandarkan kepalanya pada kepala Jongin. Dia memeluk sahabatnya. Sangat erat sampai ia harus sesak sendiri.

"Kenapa?"

Dalam pelukan Sehun, Jongin mengerlingkan matanya melirik ke atas. Dia meremas jaket Sehun. "Karena kau, milikku." Gumam Jongin pelan namun yakin masih bisa terdengar Sehun, Mata nya pun berkilat saat mengatakannya.

Sehun mengelus punggung Jongin dengan seulas senyum tertahan, "Terdengar posesif." Lalu tertawa geli.

Jongin menggosok hidungnya di bahu Sehun, memberikan balasan atas pelukan Sehun. Dia ikut tertawa, "Tidak peduli."

'Aku juga menyukai mu..'

.

.

RnR

.

.


TBC


Note ::

Im sorry, update nya molor lagi -. Pendek juga. Em, kalian boleh protes kok. Hiks/? Maaf ya. besok dipanjangin jadi 4k. ^^

Gak ada lainnya, selamat hari minggu..