Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Not own anything of Naruto.
This story is originally made by me.
Please Stay Beside Me
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 3
Love is Unbeatable
-Cinta itu Tidak Terkalahkan-
Wanita berambut merah itu memandang keluar dari kaca mobil. Ia duduk santai di kursi penumpang bagian belakang sedan mewah yang dikendarai oleh supir pribadinya. Matahari bersinar terang menandakan musim kemarau. Musim yang sangat dibencinya. Meski rambutnya berwarna merah dan identik dengan panas, tapi ia benar-benar membenci cuaca panas. Hal ini mungkin disebabkan ayahnya yang sangat memanjakannya dari sejak kecil. Anak perempuan itu menjadi egois dan harus mendapatkan apapun yang diinginkannya.
Wanita itu menerima panggilan masuk dari ponsel keluaran terbaru yang dibelinya beberapa hari yang lalu, "Ya? Baiklah, kau atur orang untuk melacaknya. Selangkah saja dia keluar dari rumah itu, segera tangkap dan bawa dia ke tempat yang sudah kita bicarakan." Senyum sinis terlihat dibibirnya, "Ya, terima kasih." Dia mengakhiri panggilan tersebut dengan menekan tombol 'end' berwarna merah.
Wanita itu masih tersenyum sinis, membuka gallery di ponsel mewahnya itu. Jarinya mengusap pelan layar untuk mengganti foto yang ingin ia lihat. Kemudian…, ia jarinya berhenti. Pada foto seorang pria remaja berambut raven sedang tersenyum melihat ke arah lain. Sepertinya itu foto lama yang disimpannya, mengingat pria itu sudah tidak mungkin sesehat itu saat ini. Dan yang perlu diingatnya lagi dan lagi, pria itu sudah bukan sahabatnya.
Tidak ada kata 'sahabat' lagi di masa depan. Kata 'sahabat' itu sudah ia hancurkan sendiri dengan alasan 'cinta' yang tak terbalaskan. Tidak, ia tidak ingin menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat dan putuskan. Air mata mengalir ke pipi kiri wanita itu. Wanita itu segera mengusapnya, dan kembali tersenyum sinis. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain juga tidak akan memilikimu." gumam wanita itu dengan suara sekecil mungkin.
.
.
.
.
.
Siang itu, keluarga Uchiha terasa sangat lengkap. Bagaimana tidak, anak bungsu mereka seperti baru saja lahir kembali. Setelah setahun lebih, akhirnya Sasuke ikut makan siang bersama dengan orang tuanya dan orang tua kekasihnya, Haruno Sakura. Meski wajahnya masih lesu dan matanya masih sayu, penampilannya sudah sedikit lebih rapi. Ia juga sudah memakai baju putih bersih lengan panjang. Celana jeansnya diganti dengan celana training hitam.
"Sasuke-sama, ini tomat pesanan anda."
"Ah, iya. Terima kasih, Juugo." balas Sasuke sambil mengambil piring berisi setumpuk penuh tomat ceri dari tangan Juugo.
Sasuke makan dengan lahapnya. Semua mata di meja makan itu memandangnya dengan rasa senang. Senang rasanya bisa melihat seseorang yang begitu terpuruknya dengan masa lalu dan juga kesehatannya yang masih lemah dapat kembali bangkit. Ya, Sasuke bangkit karena kekuatan Cinta. Cinta dan Harapan yang ia simpan selama ini menjadi kenyataan.
Bahkan gadis –eh, wanita yang dicintainya itu juga membalas cintanya dengan tulus. Hal ini membuat Sasuke menjadi lengkap, tidak kekurangan apapun lagi dalam hidupnya. Yang ada dipikiran Sasuke, hanyalah berusaha sembuh demi Sakura. Mengambil alih perusahaan Uchiha jika sudah saatnya, kemudian menikahi Sakura dan membangun keluarga mereka sendiri. Sesederhana itulah keputusan yang diambil seorang Uchiha Sasuke. Ia benar-benar ingin mewujudkan semua mimpinya.
Makan siang kali ini sangat senyap, mungkin takut salah bicara. Sehingga hanya dentingan sendok, garpu, dan pisau yang terdengar. Bagi tuan dan nyonya Uchiha, melihat anaknya dapat bangkit dan keluar dari kamar tidur adalah sebuah keajaiban. Bahkan Fugaku sudah menyuruh bawahannya membeli cincin serta beberapa perhiasan untuk pernikahan secara diam-diam. Fugaku bukan manusia bodoh yang tidak tahu apa akan terjadi jika pria dan wanita yang saling mencintai berada satu kamar semalaman. Meski kamar Sasuke memang sudah kedap suara dari sananya, tapi tentu saja ada celah yang membuat segala aktivitas Sasuke dan Sakura malam tadi terdengar. Mungkin mereka berdua lupa kalau di rumah itu dipenuhi sejumlah anak buah perusahaan Uchiha.
Terlintas di pikiran Mikoto, ia tidak henti menitikkan air mata saat putra bungsunya menghampirinya pagi-pagi tadi dan memeluknya erat, kemudian memanggilnya 'ibu'. Mikoto tidak dapat lebih berterima kasih lagi pada Kami-sama, maupun pada keluarga Haruno. Oh, terutama pada Sakura. Mikoto tahu betul apa itu cinta. Saat ini juga, Mikoto tak hentinya tersenyum memerhatikan Sakura dan Sasuke yang duduk berdampingan di hadapannya. Terlintas di Mikoto untuk segera menikahkan mereka berdua saja. Mungkin setelah ini, ia akan mengajak para orang tua untuk berbicara serius.
Untuk Kizashi, sudah ia duga Sasuke itu sangat tampan seperti dirinya saat muda dulu. Selera Sakura cukup tinggi ternyata. Meski saat ini Sasuke masih terlihat sangat lemas dan lesu, Kizashi masih dapat melihat ketampanan yang tersimpan. Kizashi tak hanya menyukai Sasuke karena ia tampan, tapi ternyata anak itu juga sangat sopan menurut Kizashi. Sasuke bahkan meminta maaf karena Sakura harus menjaganya semalaman. Memang pikiran nakal sempat menaungi benak Kizashi, tapi ia segera menepisnya. Saat pertama kali ia bertemu Sasuke, Kizashi memeluknya dengan tulus dan berkata 'Semua akan baik-baik saja, kau pasti akan sembuh, nak'. Sasuke sampai terharu dan menitikkan air mata yang tentu saja segera diusapnya. Terlintas dibenak Kizashi untuk menyerahkan Sakuranya pada pria ini saja. Selain tampan dan sopan, ternyata ia juga berhati lembut.
Mebuki tersenyum kecil memandang Sakura yang sangat memerhatikan Sasuke. Bahkan sisa makanan di mulut pria tersebut juga dibersihkan oleh Sakura di hadapan para orang tua. Mebuki merasa sedikit aneh pada kelakuan Sakura itu, terkesan sangat berani menyentuh Sasuke. Sasuke juga demikian, bahkan tadi ia sempat menyuapi Sakura. Tapi Mebuki rasa tidak ada yang salah dengan semua ini. Mebuki malah berharap jika Sasuke benar mencintai Sakura, lebih baik segera nikahkan saja mereka. Mengingat keluarga Uchiha juga sangat mapan, Mebuki tidak keberatan. Sakura dapat dipastikan hidup bahagia di keluarga Uchiha ini.
"Aku selesai" ujar Sasuke sambil meletakkan pisau dan garpu yang ia genggam tadi.
"Aku juga." sambung Sakura.
"Tou-san, kaa-san, ji-san, ba-san, aku dan Sakura permisi terlebih dulu ya." Ucap Sasuke dengan tegas sambil menggenggam erat tangan Sakura.
"Iya, ambil saja waktu kalian. Kami pastikan tidak ada yang mengganggu." Balas Mikoto.
"Terima kasih." Balas Sasuke.
Wajah Sakura hanya dapat memerah. Ia benar tak mengerti apa yang berada di pikiran ibu dan anak Uchiha itu. Meski begitu, ia tetap mengikuti kemana Sasuke mengajaknya. Karena ia merasa tidak mungkin Sasuke mencelakainya. Sakura dapat merasakan cinta Sasuke padanya. Cinta itu tulus, tanpa paksaan, dan apa adanya. Dan untuk Sakura, hatinya sudah lama diambil oleh pria ini. Dan malam kemarin, ia hanya memberikan apa yang dapat seorang wanita berikan pada pria mereka.
Flashback ON
"A-aah.. Sa-Sasuke-kun.."
"Tidak, kita berhenti." Sasuke bangkit dari posisinya yang menindih Sakura. Kemudian ia duduk di samping gadis yang masih berbaring. "Maaf.." ujar Sasuke sambil mengusap pelan rambut Sakura yang sangat disukainya. Merah muda, manis seperti gulali. Sedari tadi ia menciumi bibir gadis itu dan sedikit meremas gundukan dadanya. Rasanya sangat memabukkan, membuat Sasuke ingin dan ingin lagi. Tapi Sasuke rasa cukup, ia belum mau melakukan itu pada wanita yang dicintainya. Tidak sebelum sah menikah, begitu prinsip yang selalu ia pegang teguh.
Sakura terlihat tidak senang dengan perlakuan Sasuke. Apakah dirinya sejelek itu sampai Sasuke menghentikan semua ini? Bahkan Sakura tahu jelas tonjolan apa yang berada dibalik jeans Sasuke itu. Memang dada Sakura tidak terlalu besar, tapi tubuhnya ramping dan mulus. Apa semua ini masih tidak cukup untuk Sasuke?
"Sasuke-kun.. Apakah aku sejelek itu, sampai kau tidak ingin?"
"Aa-HAH?" Sasuke menunjukkan ekspresi kagetnya, "A-apa yang barusan kau tanya?"
"Apakah aku sangat jelek sampai kau tidak menginginkanku? Jangan pura-pura tidak dengar!" Sakura ikut bangkit dan duduk. Kerutan dahi Sakura dapat dilihat jelas oleh Sasuke.
"Sakura, jangan berpikiran macam-macam. Aku bukan pria seperti itu, kau tahu." Sasuke mengusap kepala Sakura, memeluknya dan meletakkan kepalanya pada dadanya.
"Ta-tapi aku juga tahu, semua pria menginginkan hal itu." Sakura menunduk.
Sasuke terdiam sesaat, ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.
"Shh.. Jangan menggodaku, Sakura." Ia berusaha menyingkirkan tangan Sakura dari bendanya.
"Sasuke-kun, jujur saja aku sudah.. sangat menyukaimu dari dulu. Terserah kau mau menilaiku sebagai perempuan seperti apa, yang jelas aku sangat menyukaimu dan mengagumimu." Ucap Sakura sambil mengangkat tangannya.
"Kau tahu bahwa aku sudah bukan Sasuke yang dulu lagi 'kan?" balas Sasuke yang merasa lega. Ia menurunkan wajahnya untuk menatap Sakura.
"Ya, tapi aku tetap jatuh cinta padamu. Aku juga sangat khawatir padamu. Dan melihatmu seperti ini hanya menambah rasa cintaku padamu, kau tahu? Aku semakin mencintaimu." Sakura mengeratkan pelukannya.
"Benarkah? Mungkin setelah ini aku harus berterima kasih pada Karin. Haha" Sasuke tertawa hambar.
"Oh, jadi wanita yang mencelakaimu itu Karin? Karin di kelas sebelah? Karin rambut merah menyebalkan itu?" Sakura mendongakkan kepalanya dan menatap Sasuke dengan serius.
"Hn, kau juga tidak suka padanya?"
"Huh, jangan harap aku suka dengan perempuan menjijikkan dan sok hebat itu. Kau tahu kerjaannya?" Sakura melepas pelukannya "Dia hanya selalu memamerkan barangnya, menceritakan malam-malamnya dengan pria tampan, kemudian menghina kami yang tidak cukup mampu sepertinya." Kemudian Sakura melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa? Apa dia pernah menghinamu secara langsung?" Sasuke menatap dalam Sakura.
"Tidak, aku juga tidak terlalu dekat dengannya. Hanya pernah bertemu beberapa kali saat makan di kantin."
"Hn, baguslah." Sasuke memiringkan kepalanya untuk melihat jam di atas nakas.
Sasuke terkejut dengan Sakura yang tiba-tiba sudah duduk dipangkuannya. Bahkan bokong Sakura berada tepat pada benda sensitifnya.
"Shh.. Sakuraaa, jangan. Ini- shh.. belum saat shh… nya, kau tahu?"
"Hm, aku tidak percaya kau tidak menginginkanku, Sasuke-kun." Sakura masih terus melakukan kegiatannya.
"A-aaah..! Iya aku menginginkanmu, Sakuraaa. Shh.. Ah!"
"Kalau begitu miliki aku, Sasuke-kun."
"Jadilah kekasihku. Aku sangat mencintaimu, Sakura." ujar Sasuke tegas sambil mengangkat dan mencium pelan tangan kanan Sakura. Ia berusaha berbicara senormal mungkin.
Wajah Sakura memerah dan menunduk sesaat, "Baiklah, aku mau."
"Tentu saja harus mau, memangnya aku bilang kau boleh menolak, Sakura?" Sasuke membalikkan badan Sakura dan menindihnya kembali. Sebuah seringaian tampak di bibirnya.
"Sa-sasuke-kun.." Sakura tidak henti-henti mengerjapkan matanya saat menyadari betapa seksinya seringaian Sasuke itu.
"Hm, kau sudah berpikir akan hal ini?"
"Tentu."
"Kau tidak akan menyesal?"
"Untuk apa?"
"Baiklah, kalau begitu.." Sasuke mencium Sakura dengan kasar tapi tulus, sepertinya ia sudah tidak tahan dengan birahi yang membakarnya. "Berikan aku Uchiha-uchiha kecil yang lucu dan menggemaskan."
Mendengar itu Sakura hanya dapat terdiam dan kembali menerima ciuman panas dari Sasuke.
Malam itu menjadi malam yang sangat berarti bagi kedua pasangan yang baru saja sah menjadi kekasih. Mereka sudah cukup lama memendam rasa untuk satu sama lain. Perasaan cinta yang disalurkan melalui tubuh mereka masing-masing. Sungguh mereka terlarut, hingga tak memerhatikan dua orang yang melewati kamar Sasuke dan mendengar desahan erotis. Meski suaranya kecil karena kamar Sasuke dipasang peredam sejak dulu, dua anak buah Uchiha itu tahu betul desahan apa yang mereka dengarkan sekarang. Maka mereka segera menjauh dan berniat melaporan kejadian ini pada tuan besar Uchiha, Fugaku.
Flashback OFF
"Sasuke, kita mau kemana?" tanya Sakura yang masih tidak tahu tujuan Sasuke.
"Apa kau bawa baju renang?" Sasuke bertanya kembali.
"Apa? Tidak. Ada apa, Sasuke-kun?"
"Hn, hanya ingin mengajakmu berenang."
"Berenang? Di mana?"
"Disini."
Sakura menatap ke depan. Kolam renang besar dan sangat indah. Di sampingnya terdapat tumbuhan yang membuat lingkunga kolam renang ini menjadi asri dan nyaman. Jangan lupakan juga beberapa tenda dan kursi santai yang diletakkan di samping kolam renang.
"Sebenarnya aku lebih ingin masuk Jacuzzi."
"Ha? Kau punya itu juga di rumah?" Sakura tidak percaya isi rumah Uchiha begitu mewah.
"Hn, masalah?"
"Astaga ayahmu kaya sekali, Sasuke."
"Salah, sebentar lagi juga aku yang akan memiliki semua ini. Aku berjanji padamu."
"Haha, rasanya aku sudah mulai melihat Sasuke-kun yang dulu." Sakura tersenyum.
"Yang dulu? Tidak. Aku tidak mau. Aku akan mulai belajar bela diri sore ini. Aku ingin bisa melindungimu dan melindungi semua orang yang aku sayangi." Sasuke membalas senyuman Sakura.
"Benarkah kau akan langsung membuat kegiatan sebanyak itu?"
"Ya, kau yang menyuruhku memikirkan kegiatan bukan?"
"Hm, iya iya. Aku ikut senang, Sasuke-kun."
Sasuke berbisik, "Hn, dan jangan lupakan Uchiha kecil kita yah, Sakura." Mendengar itu Sakura hanya dapat menelan ludahnya.
"Tenang aku tidak akan memaksamu, tidak usah takut, Sakura." Sasuke menjauhkan wajahnya dan tersenyum santai.
Sakura memandang Sasuke yang tersenyum tipis padanya. Oh, ternyata pandai sekali Sasuke menggoda wanita. Awas saja kalau Sasuke berani menggoda wanita lain selain dirinya. Sepertinya, Sasuke belum tahu kalau Sakura punya sabuk hitam Karate. Jadi siap-siap saja Sasuke jika kau berani menggoda wanita lain selain Sakura.
"Ayo ke tempat pergantian baju." ajak Sasuke sambil kembali berjalan. Tangannya masih setia menggenggam tangan Sakura.
"A-apa?"
"Tentu saja ganti baju, apa kau mau bajumu basah?"
"Sa-sama-sama?"
"Hn, kalau aku tak salah ingat.. kau sudah melihat semuanya bukan? Dan begitu pula denganku."
"Ta-tapi..!" Sakura sangat ingin memukul Sasuke sekarang juga, tapi ia kalah pada rasa malunya begitu saja saat Sasuke menyinggung kejadian kemarin malam.
"Di dalam sana, pakaian pria dan wanita terpisah." Ujar Sasuke dengan tenang.
"Ba-baiklah, terima kasih."
"Aku yang harus berterima kasih padamu yang masih mau menerimaku, Sakura."
"Hm.., kalau begitu, sama-sama Sasuke-kun!" Sakura memberikan senyumnya yang termanis.
.
.
.
.
.
Matahari sudah bersiap pulang ke asalnya melalui jalan lain. Bulan dan bintang mulai bermunculan. Langit cerah tadi pagi mulai meredup, berubah warna menjadi hitam kebiruan. Para orang tua sedang berkumpul di ruang tamu rumah Uchiha, sambil meminum teh dan menikmati beberapa cemilan ringan.
"Mebuki" | "Mikoto." Mereka saling memanggil bersamaan.
"Ah, kau saja terlebih dulu, Mebuki."
"Tidak, tidak. Kau terlebih dulu, Mikoto."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan langsung saja. Ehm, aku kira.. sebaiknya kita segera menikahkan Sakura dengan Sasuke." Ujar Mikoto dengan penuh keraguan. Terselip rasa takut jika permintaannya ditolak.
"Wah, pemikiran kita sama!" balas Mebuki.
Fugaku dan Kizashi saling menatap tersenyum satu sama lain dan saling mengangguk.
"Aku sudah membeli cincinnya dan beberapa perhiasan yang dibutuhkan." ucap Fugaku santai.
"Apa? Benarkah?" Mikoto tak percaya suaminya juga sepikiran dengannya.
"Hm, aku juga sangat setuju! Sasuke itu sangat tampan sepertiku dulu, jadi aku tak keberatan, hahaha!" Kizashi juga mempunyai pemikiran yang sama.
Mebuki bersiap melempat cangkir kosong yang digenggamnya, "Kizashi, ini bukan rumah kita."
Kizashi langsung menelan ludah dan menghentikan tawanya, "i-iya."
"Ah, aku punya usulan. Bagaimana jika kalian tinggal saja disini? Kita akan dapat memantau perkembangan Sasuke dan Sakura bersamaan. Dan juga, mungkin saja.. cucu-cucu kita nanti." Ujar Fugaku sehabis meminum teh dari cangkirnya.
"Hm, aku tidak keberatan jika Mebuki setuju." Kizashi melirik Mebuki.
"Ya, ya. Tentu saja aku setuju! Aku tidak ingin jauh dari Sakura." Ucap Mebuki.
"Baiklah, kalau begitu kita hanya tinggal memberitahu mereka hal ini dan menyuruh mereka memilih tanggalnya." Mikoto tersenyum.
Fugaku tidak dapat menahan senyumnya karena sudah lama ia tidak melihat senyum semanis itu dari Mikoto. Baik keluarga Uchiha maupun keluarga Haruno, mereka bahagia, benar-benar bahagia.
.
.
.
.
.
Seorang pria besar berpakaian lengkap dengan setelan jas rapi membungkuk pada seorang remaja berambut merah menyala.
"Nona, semalam kami melihatnya bersama dengan seorang wanita berambut merah muda berendam di Jacuzzi di perkarangan rumah Uchiha."
"Hm? Berendam? Haha, jadi dia sudah keluar rumah ya sekarang?"
"Kelihatannya begitu, nona."
"Jangan lupakan rencana kita. Awasi saja terus. Sudah kau boleh pergi sekarang."
"Baik, Nyonya." Pria itu membungkuk kemudian berjalan pergi.
Senyum sinis itu muncul lagi dari bibir wanita berambut merah menyala, "Heh, kita lihat saja Uchiha, permainan baru saja akan dimulai."
To be Continue
Hai hai semuanya, ketemu lagi dengan Shady.
Chapter ini Shady selesaikan dalam 3 jam dan edit hanya 1 jam. Mengecewakan tidak ya? Hm..
Semoga tidak deh ya, hehe. Apalagi untuk yang sudah bersedia menunggu.
Terima kasih banyak untuk yang sudah favorite, follow, read dan review! Shady selaku author benar-benar senang melihat review yang bertumpuk puluhan untuk pertama kalinya. Yaa, meski tidak lebih banyak dari author lain yang reviewnya ratusan atau ribuan, Shady sangat senang dan sangat menghargai semuanya.
Terima kasih juga sudah memberi Shady semangat sampai sejauh ini. Oh ya, fic lain menyusul yah kelanjutannya, hehe.
Balasan Review
sofi asat: mirip cerita yang mana yah? hehe. Yang jelas cerita ini murni ide author sendiri. Kalo ada mirip-miripnya itu benar-benar unsur ketidaksengajaan. Author bisa buktikan ini bukan plagiat atau semacamnya, hahaaa. Lagipula athor juga tidak mendapat keuntungan apapun dari fic ini, murni author buat fic ini karena hobi menulis dan sangat suka pada SasuSaku. Ini sudah lanjut. Thanks sudah read dan review :D
lightflower22: aduh maaf ya TBCnya ada lagi, hehe. Ini sudah dilanjutkan. Thanks sudah read dan review :D
Laifa: nih, nih, ada di chapter ini hehe. Thanks sudah read dan review :D
Miyuki: Whoaa, makasih banyak lhoo motivasinyaaa! *bungkukdalamdalam. Author sangat menghargai segala bentuk review, terutama dari readers satu ini nih. Hmm, kebetulan dosen pembimbing author itu baik banget, hahaha. Oh ya panggil saja atuhor dgn Shady ya :D Malah jadinya Shady yang gak enak sama dosen itu kalau ga nemuin dia atau chat dia hehe. Ini udah mau mulai juga ngerjain 3D objeknya. Laporannya disuruh entar aja sama si dosen. Mengenai Sasuke dan Sakura. Sasuke pasti akan bangkit untuk Sakuranya! Thanks sudah read dan review :D
Asuka Kazumi: Ah bener banget itu! Siapa yang tertarik dengan pesona Uchiha Sasuke? *eh, hahaha. Iya nih bahkan orang tua juga sudah rencanain pernikahan mereka. Karin masih ga ada habisnya tuh dengan Sasuke, hadeh hadeh. Thanks sudah read dan review :D
Guest: Itu sebenarnya hanya utk melengkapi cerita, hehe. Maaf kalau membosankan, author minta maaf. Ini sudah dilanjutkan. Thanks sudah read dan review :D
Yoshimura Arai: Hiyaa ini sudah lanjut. Gimana apa masih penasaran? hahaha. Thanks sudah read dan review :D
Younh: yosh, ini sudah lanjut. Thanks sudah read dan review :D
d3rin: iya ini sudah lanjut lho, gimana masih manis ga? hehe. Thanks sudah read dan review :D
Laila: author juga ikut terlarut, semoga mereka sweet terus yaaa. Thanks sudah read dan review :D
glowree: iya ini Sasuke sudah bangkit lho, sudah semangat banget dia ini! Thanks sudah read dan review :D
sarahachi: hahaha, iya ini Sasu sudah kembali ke jalan yang benar! Thanks sudah read dan review :D
PIYORIN: Hello, Piyorin. I am so sorry. I don't really understand all of Japanese even i like anime very much. But i understood your review after translating it with google translate. This is the first ever Japanese review I have ever received, forgive me if i am way too excited, hahaha. Thanks for liking my fiction, i hope this chapter will continue to make you like it! Thank you!
Nurulita as Lita-san: Hai Lita-san, iya author juga berharap demikian. Ini sudah dilanjutkan. Thanks sudah read dan review :D
Cherry Kanako-Ah: yes ini sudah lanjut, makasih yaa sudah fav fic ini. Thanks sudah read dan review :D
Kirara967: Bener donkkk, hahaha. Karin? Hm, sepertinya penuh dengan rencana licik. ini sudah lanjut, gimana? hehe. Thanks sudah read dan review :D
Colomus: iya ini sudah update, Thanks sudah read dan review :D
suket alang: yes, sekali sama Karin. Sisanya dikasi lagi sama ortunya lho karena dia minta dan ortunya gak rela anaknya kesakitan gitu, makanya lama-lama jdi kecanduan. Tenang saja, sekarang sudah bangkit Sasukenya. Thanks sudah read dan review :D
hanazono yuri: yes ini sudah lanjuttt Thanks sudah read dan review :D
cherryxsasusaku: iya makasi reviewnya, makasi juga lho sudah suka fic author yang masih abal-abal ini, hehe. Thanks sudah read dan review :D
devanichi: iya rencananya sih bisa dibilang begitu, tapiii Karin itu Karin, haduh, dia masih tarok mata-mata dekat rumah Sasuke lho... hm. Haha, iya fic ini bukan cinta segitiga sih, cuman ada pengganggu saja kayak kecoa yang harus dibasmi itu. Sayangnya si kecoa belum nampak, masih sembunyi di bawah lemari, hahaha. Jadi kita tunggu dulu kecoa itu muncul lalu hap! ditangkap, eh itu cicak ya? hahaha.. Thanks sudah read dan review :D
rona337: hiks, iya nih Sasu kasian, baru aja bisa bangkit nih karena ada Sakura. Thanks sudah read dan review :D
Uchiha Naya09: ayoo bakar bakar..! bakar sate maksudnya, hahaha. Hm, nanti ada hari dimana Karin menerima semua yang sudah ia perbuat. Terlalu sadis memang dia. Thanks sudah read dan review :D
Mustika447: iya bener! hebat reader satu ini bisa ngeramal. Jangan donk, masa Sasunya didorong ke laut? Ke kolam renang aja biar ga ilang, hahaha. Ini sudah lanjut. Thanks sudah read dan review :D
Applessian: Wah, makasih banyak sudah suka dan sudah di favorite. Sasuke ga nolak rejeki kok, hehe. iya ini sdh update. Thanks sudah read dan review :D
CEKBIOAURORAN: yosh, ini sudah lanjut. Gimana masih keren ga? hehe Thanks sudah read dan review :D
gome: iya makasi banyak sudah suka, ini lanjutnya. Jelas Sasuke bangkit hanya untuk Sakura, mari kita beri Sasuke semangat lagi! Thanks sudah read dan review :D
Zalfaaaa: wah pas banget ini, author memang mau update! Thanks sudah read dan review :D
Sekian balasan review untuk chapter 3, ayo review lagi ya semuaa.
Author pingin tahu semua pemikiran readers, agar fic author lebih baik lagi kedepannya.
Terima kasih semuanyaaa :D Jumpa lagi ya di kolom review, hehe.
Sincerely,
Shady.
