Dalam pelukan Sehun, Jongin mengerlingkan matanya melirik ke atas. Dia meremas jaket Sehun. "Karena kau, milikku." Gumam Jongin pelan namun yakin masih bisa terdengar Sehun, Mata nya pun berkilat saat mengatakannya.
Sehun mengelus punggung Jongin dengan seulas senyum tertahan, "Terdengar posesif." Lalu tertawa geli.
Jongin menggosok hidungnya di bahu Sehun, memberikan balasan atas pelukan Sehun. Dia ikut tertawa, "Tidak peduli."
'Aku juga menyukai mu..'
o
o
o
"Waaaa!"
Luhan menyumpal kedua telinga nya dengan earphone, Dia memutar bola mata jengah melihat Jongin dan Sehun terus berteriak dengan masing-masing mengeluarkan kepala mereka dari Jendela mobil.
"Hei, kau! Bocah! Masukkan kepala kalian! Memalukan, orang-orang menatap mobil mahal ku ini aneh! Ya!"
Luhan memekik menghardik Sehun dan Jongin yang kini malah tertawa seolah mereka tidak mendengar suara nya. "Ya!"
Jongin menoleh, Memberikan kakak tiri nya senyuman lebar. "Kenapa banyak sekali bus?"
Luhan menghela nafas, "untuk menarik minat wisatawan." Jawabnya lalu tersenyum menepuk kepala Jongin namun ditepis oleh adik tirinya dengan raut sebal.
Sehun menggeleng, lanjut melihat ke sekeliling jalanan yang dilewati mereka. "Luhan hyung?"
"Aku bukan kakakmu."
"Ya terserah, boleh nanti kita ke disney?" Luhan sudah bersiap menolak namun Jongin lebih dahulu memekik mengguncang bahu nya dengan wajah antusias.
"Ge! Aku ingin kesana!"
Luhan tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Lagipula dia mengajal Jongin ke China, untuk merebut hati nya tapi malah.. bocah itu juga ikut. "Ya-ya. Nanti saja."
"Ini kamar mu." Luhan membuka pintu bercat putih, dan menyingkir memperlihatkan Sehun isi ruangan dari kamar tamu. Sehun masuk, menaruh tas dan koper nya di ranjang—Dia berputar dengan wajah takjub.
"Wah, Kau kaya.."gumam Sehun tanpa sadar membuat Luhan menyeringai.
"Ya, Cukup kaya untuk menikahi Jongin."Timpal Luhan membuat Sehun terdiam. Mereka saling bertukar pandang.
"Hei, Kenapa hanya Sehun yang diberi kamar? Mana punya ku?" Celetuk Jongin saat menyusul masuk keduanya, dia baru saja kembali dari ruang bermain kucing Luhan. Dia tidak menyangka ada kucing semanis itu di rumah Luhan.
Langkah Jongin justru berhenti saat merasakan suasana hati dari Luhan dan Sehun. "Ada apa?" tanya nya membuat kedua lelaki berkulit putih itu menoleh.
Luhan menyunggingkan senyum lebar nya melihat Jongin, "Bukan apa-apa, Ah kamar mu?" Luhan menggenggam tangan Jongin lalu menariknya keluar dari kamar Sehun. "Biar kutunjukkan."
Bahkan setelah mereka menutup pintu Sehun belum bergerak seinchi pun dari tempatnya berdiri. Pikiran kosong dengan banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya. Kenapa Luhan ingin sekali menikahi Jongin? Kenapa..juga dirinya merasa keberatan? Apa—tapi..Wae?
Jongin memperhatikan Luhan dan Sehun yang memakan makan siang mereka dengan diam, tidak ada pembicaraan lain—mereka hanya makan tanpa memberikan nya perhatian. Tapi Jongin bergidik, dia bisa memikirkannya nanti. Sekarang dia harus menghabiskan satu porsi pasta dan sosis kalkun yang enak di piringnya.
"Aku selesai," Celetuk Sehun tiba-tiba membuat Jongin mendongak memperhatikan punggung Sehun yang menaiki tangga.
Jongin mengalihkan pandangannya pada kakaknya yang sekarang melahap makanannya dengan senyum penuh arti, "Kenapa kau tersenyum?"
Luhan terkekeh tanpa memberi tahu Jongin sebabnya. Pria itu hanya memberinya kerlingan.
"Sebenarnya kalian kenapa?" Tanya Jongin lagi setelah melihat Luhan mendorong piring kosongnya.
Luhan mengecap bibirnya, "Jangan dipikirkan, adikku sayang. Ah, tadi pamanmu Kris menelpon—Tolong urus itu, sementara aku akan pergi ke perusahaan sebentar. Bye." Ucap Luhan menyerahkan ponsel nya pada Jongin, lalu terburu berjalan meninggalkan Jongin sendirian duduk dikelilingi lima maid dan enam butler.
Jongin menatap layar ponsel dengan bibir tertekuk, Benar Paman Kris menelpon. kira-kira ada apa?
Akhirnya Jongin memutuskan untuk menggeser tombol di layar—lalu mendekatkan benda itu ke telinga nya. Dia terdiam sejenak mendengar gemerisik kertas dan udara—mungkin mesin dari speaker.
'Kai?'
"Euh, Ya?" sedikit aneh rasanya mendengar nama lama nya. Dia sudah cukup terbiasa dipanggil dengan nama kecilnya, Jongin.
'Kau terdengar baik, Jadi bagaimana China?'
Jongin beranjak, berjalan melewati dua orang butler tinggi menuju pintu belakang—yang mengejutkannya tersambung dengan hamparan bukit penuh rumput dan bunga warna-warni.
"Paman.." Pandangan Jongin sekilas menangkap sebuah gazebo didepannya—dia mendekat dan duduk disana.
'Ada masalah, Putri?' Jongin mendengar kekehan Kris yang mengejeknya disebrang.
"Bisa kau kemari?" Pinta Jongin tiba-tiba, Lelaki tan itu mengayunkan kaki nya bergantian. Langit sedang berawan, membuat pohon-pohon menciptakan bayangan yang rindang.
'Kenapa?' Tanya Kris penasaran membuat Jongin ingin mendengus keras. "Datang saja. Aku-butuh seseorang diajak bicara."
'Oh, Sekarang kau terdengar merindukanku. Bisakah kau memohon?'
"Paman!" Kris terkekeh mendengar suara kesal Jongin. Dia menebak pasti Sekarang Jongin sedang mengerutkan bibirnya. tapi Jongin tidak tau jika, Pria yang ada disambungan menarik sebuah seringai. "Cih baiklah. kumohon datang kemari dan temani aku."
'tunggu aku dalam dua puluh menit, sayang. Dan siapkan baju renang—Aku akan menculikmu dari rumah Luhan.'
Klik
Jongin mengantongi ponsel Luhan, Setelah sambungan diputus pamannya. Bibirnya tersenyum puas—Senang juga memiliki seorang paman tampan yang tidak pernah mengecewakannya. Kalau dia bisa memilih—Antara Luhan dan Sehun—Dia akan berpaling pada pamannya.
Mereka bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Kris.
Tapi kalau ditanya lagi, dia tetap menjawab nama Sehun. "Ah lebih baik aku memberi tahu Sehun." gumamnya seraya berlari masuk menuju lantai dua.
Dia berlari melewati lorong berpintu, Jongin tidak heran ada banyak ruangan di rumah Luhan. Karena rumah inu besar. Sangat besar. Ah benar.. Dia lupa jika Luhan adalah salah seorang direktur yang berpengaruh Di Tiongkok atau China. Meskipun itu masih termasuk cabang perusahaan ayahnya.. tapi dia dengar Luhan yang membangunnya dari bawah—kata Kris hanya dalam kurun waktu Dua setengah tahun, tepat setelah Luhan lulus SMA. Wow.
Jongin bergumam kesal. mengumpati luas rumah Luhan. Dia membuka pintu kamar tamu yang ditempati Sehun, Dia melonggo kan kepala nya kedalam dan menemukan sahabat nya itu berdiri memandang keluar Jendela.
"Oh Se-hun ie.. "panggil Jongin dengan suara berbisik. Dia tahu jika begitu Sehun takkan mendengarnya. Jadi dia mendekat merangkul pundak Sehun dari belakang.
"Jongin." Sehun mengalihkan lagi pandangannya ke jendela.
"Sebentar lagi Kris akan datang. Siapkan pakaian renang, mungkin dia akan membawa kita ke pantai. Kau suka pantai kan?"
Sehun menatap Jongin dengan mata membulat, "Si Kris itu juga disini?!" Jongin mengangguk tanpa dosa.
"Ya! Aku menyuruhnya."
"Aakh.." Desah Sehun mengusap wajahnya. Dasar Jongin, Terkadang dia bingung kenapa lelaki nakal macam Jongin ini dikelilingi pria-pria lumayan yang—menurutnya terlalu memuja Jongin. Contoh nya, ya Kris itu.
Jongin mendorong-dorong Sehun pada almari, Menyuruh lelaki pucat itu mengambil beberapa potong pakaian dan memasukkannya pada tas.
"Bagus! kita tinggal tunggu si tua Kris." Ujar Jongin semangat.
Sedangkan Sehun tampak lesu memperhatikan raut antusias Jongin. Tapi dia tetap mengulas senyum, Dia selalu merasa senang melihat wajah Jongin yang seperti itu.
Sehun menghela nafas, lalu bergumam kecil. "Ini bukan liburan. Ini hanya soal mencuri hati Jongin..kan?" Bibir tipis itu mengeluarkan dengusan geli akan pemikiran konyolnya. Tapi bagaimana dia tidak berpikir seperti itu jika semua terlihat memanjakan tuan puteri, Kim Jongin—mengesampingkab fakta Jongin adalah lelaki tentu nya.
"Kita akan memancing, berenang, lalu.." Sehun membiarkan Jongin berceloteh panjang. Dia cukup diam memperhatikan bagaimana ekspresi Jongin berubah-ubah.
Ah, Sahabat nya.. Kim Jongin. Dia ternyata sudah berubah terlalu banyak.
Sehun tanpa sadar tersenyum tipis memandangi Jongin.
"Jongin, Aku bawa sesuatu. Jongin?" Luhan masuk terkejut melihat kamar tamu Jongin kosong. Dia berganti melangkah membuk pintu kamar tamu Sehun, Wajahnya terlihat bingung.
kemana dua bocah itu?
"Hei kau?" Panggil Luhan pada seorang maid bertubuh kurus. Maid itu membungkuk, "Dimana kedua tamu ku?"
"Tuan Kris baru saja membawa mereka pergi." Maid itu tetap menunduk bahkan setelah debaman keras di pintu kayu disamping mereka dipukul oleh Luhan kesal.
"Kemana mereka?"
"Anu—Dari pakaian mereka, Mereka sepertinya pergi ke pantai."
Luhan berdecih, melangkahkan kaki nya lebar-lebar menuju kamar nya sendiri. Dia mengambil kaos bergaris, dan mengganti kemeja nya dengan itu. Dia mengambil topi lalu menyambar jaket, dia pergi—menyusul sang penculik.
"Kris Sialan."
Sementara itu, Sehun dan Kris duduk bersampingan di pasir pantai memperhatikan Jongin yang berenang di laut sendirian dikelilingi pengunjung pantai lainnya. Mereka berdua menarik perhatian para kaum perempuan disana—Wajah mereka yang tampan, serta tubuh atletis yang bertelanjang dada. Cukup sudah mereka menjadi sorotan.
Kris membenarkan kacamata hitam yang dipakainya, Dia melirik Sehun. "Kau benar-benar totally changed, huh?"
Sehun tidak menoleh, menimpali ucapan Kris dengan malas. "Ya. Terima kasih pada Luhan."
Mendengarnya Kris tertawa, "Kau sempat menyukainya." dan Sehun mendengus, "Dia tidak semanis yang kupikirkan sebelumnya."
"Beruntunglah, Kau belum terlalu dalam menyukai nya." Gumam Kris kembali memperhatikan Jongin yang melambai pada mereka. Mereka melambai balik, membuahnya senyum lebar Jongin. Dalam pikiran Jongin, dia bersyukur dua makhluk adam tampan itu sudah mulai bersahabat.
"Yah, Aku beruntung." Timpal Sehun mendengar gumaman Kris. "Dia mengerikan." Sambungnya.
"Kenapa?"
"Diawal dia sangat manis padaku, Dan saat Jongin mengatakan Luhan adalah kakak nya. 180° pria itu bahkan tidak pernah menunjukkan senyumnya lagi padaku."
Kris hanya tertawa membalas tanggapan Sehun tentang Luhan. "Maka nya, Dont judge by the cover." Sehun memutar bola matanya diam-diam mendengar kalimat inggris lainnya dari Kris.
"Diamlah, Dasar pria tua."
"Kau mau bertengkar disini, bung." Mereka masing-masing melempar tatapan tajam. ow, mereka rupanya belum sepenuhnya bersahabat.
"Aah, Segar sekali. Kenapa kalian tidak ikut berenang?"
Jongin datang, dan mengambil duduk diantara kedua nya. tubuhnya yang basah membuat Kris menutupi dada telanjang Jongin dengan handuk putih besar. "Hei!"
Kris menatap Jongin polos, "Apa? Kau mau diperkosa para turis disini?" mata Jongin membulat.
"h-huh?"
"Ya kau harus tahu, Orang luar banyak yang berorientasi Bi." ujar Kris santai menggosok rambut Jongin dengan handuk, mengeringkannya.
"Sama seperti mu." dengus Jongin. Kris hanya tersenyum mendengar timpalan kesal Jongin.
Sehun menawarkan roti isi bekas gigitannya pada Jongin, "Aa?" Jongin membuka mulut melahap dalam gigitan besar membuat Sehun terkekeh.
Sehun menguap, menggosok mata nya yang terasa berair. hari ini dia tidak memakan kontak lens, jadi mata nya sedikit gatal. tapi beruntung beberapa minus mata nya telah berkurang.
"Kalian terlihat akur." Komentar Jongin jujur membuat Kedua nya bermuka masam.
"Kami tidak berniat berteman, Jongin." Sehun berucap dengan muka kesal.
"Yah, terlalu merepotkan berteman dengan remaja labil dan naif." Sehun melirik Kris datar. Jongin tertawa, menepuk-nepuk paha kedua nya untuk berhenti bertengkar.
"Sudah-sudah."
Setelah lama berjemur, Jongin mengajak Sehun untuk berjalan sekedar membeli minuman dingin—Tentu dengan se-
izin Kris, pamannya.
Mereka berjalan lebih lambat, menikmati hembusan angin pinggir pantai yang hangat. Jongin mendekatkan diri pada Sehun. "Apa kau ingat janji ku dulu?"
Sehun bergumam, "Hmm.." Lalu menggeleng, "Tidak. Janji yang mana?" Tanya nya penasaran.
Jongin mendesah kecewa, "Entah kau pelupa atau memang ingatan mu yang payah. Tapi terserah."
Sehun terkekeh menepuk-nepuk bahu Jongin pelan. "Kau mengejek dirimu sendiri." Timpalnya bersamaan dengan dengusan Jongin.
Langkah mereka tepat berhenti didepan sebuah toko kecil, membeli beberapa minuman isotonik. Setelah itu mereka duduk pada bangku kayu didekat sana.
"Aku bohong. Aku ingat. Maksudmu pasti janji konyol itu kan?" Jongin mengangguk mengiyakan. Dia sudah menebak jika Sehun berbohong tentang lupa janji itu.
"Hah.." Sehun menghela nafas panjang, "Itu sudah lama. Jadi kenapa tidak kita lupakan saja." Jongin menoleh terkejut. matanya berubah sayu.
"Apa?"
Sehun terkekeh tanpa menyadari raut kosong Jongin yang menatapnya seolah tidak percaya.
"Hm. Lupakan saja. Lagipula itu tidak penting lagi sekarang."
"T-tapi apa kau tidak mau bertemu keluargamu?"
Jongin menarik bahu Sehun guna menghadap pada nya. "Bagaimana dengan ayah mu? Kau tidak mau?" Jongin mengguncang bahu Sehun. Dia membuang muka saat merasa Sehun akan terus diam. Jongin berdiri dari duduknya dengan wajah yang sulit dibaca.
"Jongin.." Sehun beranjak mencoba mengajak Jongin kembali sebelum pantai kembali ramai.
"Tidak—" tapi Jongin cepat memberi isyarat pada Sehun untuk meninggalkannya sendiri. "Pergilah, A-Aku akan menyusul nanti. Duluan saja."
Sehun meneriakkan nama Jongin namun sahabatnya itu tidak juga berpaling. Ia mendesah gusar, lalu menendang pasir kesal. Sebenar nya apa masalah nya? kenapa Jongin seperti sangat kecewa pada nya?
sementara itu Punggung Jongin semakin tertelan ramai nya pengunjung pantai—Membuat Sehun mau tak mau menuruti perkataan Jongin. Dia kembali ke tempat Kris dan memutuskan untuk membiarkan Jongin sendirian. Dia akan mengajaknya bicara nanti.
Luhan berlari mengitari sekitar pantai, Mata nya menangkap punggung tegap seseorang yang dikenalnya tengah duduk bersantai. Dia menggeram kesal.
"Paman Yifan!"
Kris tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang barusan memanggil nama kecilnya. Dia mengulas senyum lebar menyapa keponakan nya yang lain. Luhan menghampirinya dengan raut kesal.
"Maaf. Aku lupa mengabari mu. Kau membawa beruang kecilku tiba-tiba dan Aku takut dia menangis disini."
"Tsk," Luhan hanya bisa mendesis mendengarnya. Dia melihat sekeliling mereka, gagal menemukan Jongin. "Mana Jongin?" tanya nya.
Kris memakai kaos nya, lalu mendengus geli."Duduklah. Mereka akan kembali. ini kan liburan, Setidaknya buang obsesi mu sebentar. Lu."
Luhan terpaksa menurut, dia mendudukkan dirinya asal disamping tubuh pamannya. Dia menoleh kesana kemari dengan tidak sabar dan mengacuhkan pamannya.
"Jangan menikahi nya." Celetuk Kris dengan nada santai. Pria tinggi itu mengamati ombak laut yang mulai meninggi.
"Huh?" Luhan akhirnya menoleh, Mengangkat alisnya bingung dia tidak mendengar ucapan Kris. "Bisa kau ulangi?"
Kris menghela nafas, "Kau tahu kan, Bocah itu menyukai temannya."
"Ya. Sehun—Aku tahu." Balas Luhan tidak perduli. Terserah apa kata pria ini. Dia hanya ingin mengambil janji ayahnya.
"Aku tidak akan melarang mu. Karena jujur saja, Kita lebih baik dibanding bocah itu." Luhan membulatkan matanya mendengar kata pamannya, "Apa? Kita?"
Kris menoleh dengan seringai tanpa dosa," Andai aku tidak memiliki calon pengantinku sendiri, Aku sudah mendahului mu menikahi nya."
"—Tidak apa, Aku sudah menyentuh nya sedikit. Bibir anak nakal itu cukup manis."
"Kau—"Luhan menarik kerah Kris, Dia menggunakan tangan lainnya mencekik leher pamannya. Dia tidak menghiraukan tatapan bingung beberapa pengunjung pada mereka. Kris menatap Luhan dengan pandangan menantang.
"Woah, Tangan kecilmu bisa membunuhku."
"Tch, Sialan."
Pada akhirnya Luhan melepaskan cengkramannya. Dia masih menghargai Kris sebagai pamannya. Hal itu membuat Kris mendengus geli. Sedetik kemudian Pria itu mengulurkan tangannya menarik kepala Luhan mendekat. Tangan besar nya mengusak rambut Luhan.
Tak berapa lama kemudian, kedua nya dikejutkan oleh kedatangan Sehun yang mendudukkan dirinya dengan tampang tertekuk. Kris menertawai Sehun dalam Hati.
"Mana Jongin? dan ada apa denganmu?"
"Dia akan menyusul. Tsk, Aku tidak mengerti. Apa kau tahu sesuatu? Kenapa Jongin begitu marah ketika aku menyuruhnya untuk—Untuk melupakannya saja."
Sehun mengeluarkan emosinya saat mengatakan nya. Dia awalnya terkejut mendapati Luhan bersama dengan Kris. Tapi sudahlah. Kepalanya masih berputar karena Jongin.
Kris bergumam, menganggukkan kepala nya seolah mengerti apa yang sedang terjadi.
"Kalian bertengkar." Mendengar ucapan Kris membuat Luhan diam-diam tersenyum puas. Dia akan sangat senang jika itu terjadi.
Sehun menarik nafas panjang, "Mungkin." Timpalnya dengan nada pasrah.
"Apa soal Janji kalian sewaktu masih ingusan?"
Luhan mendengarkannya dengan seksama sementara Sehun terkejut. "Kau tahu?!"
"Jika kau menyuruhnya untuk melupakan itu, sama saja kau membuang Harga diri Jongin." Kris menggeleng pelan, menyayangkan Sehun dan kebodohan bocah itu. "Dia sudah sangat keras berusaha menepati nya. Kau pikir kenapa aku bekerja tiba-tiba di sekolah kalian?"
"Apa?" Luhan menyahut, memotong percakapan dua orang lelaki tinggi disampingnya. "Apa maksudmu, paman?"
Pertanyaan Luhan diabaikan Kris. Pria itu bersikap seolah tidak mendengarnya berbicara. Itu membuat Luhan berdecih.
"Dia sudah berlutut didepan ayahmu. dan kau tega menyuruhnya melupakan saja?!" Kris mengerang membayangkan apa yang sekarang dilakukan Jongin sendirian. Keponakannya itu pastilah sedang menunduk. Jongin pasti kecewa.
"Apa? Kenapa?"
Sehun sontak berdiri, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Kris. Berlutut?! Apa Jongin gila? Dengan helaan nafas lainnya, Kris juga ikut berdiri menatap Sehun dengan pandangan dingin.
"Entah." Dusta Kris menyambar tas nya lalu berjalan meninggalkan Sehun dan Luhan. Dia takkan mengatakan apa-apa sebelum Jongin. Dia seharusnya tahu Sehun yang bodoh itu tidak akan berhenti bersikap idiot. Dia merasa kasihan pada Jongin. "-Kenapa kau tidak mencari tahu nya sendiri?" sambung Kris sebelum benar-benar pergi. Dan Sehun tertegun mendengar pertanyaan sarkas paman Jongin.
Kenapa..
Kris memutuskan mencari Jongin. Dia tidak perduli jika barusaja meninggalkan Luhan dan Sehun berdua. Beberapa kali ia bertanya pada turis hingga rumah makan kecil yang dilewatinya. Namun seperti nya mereka tidak sekalipun pernah melihat ciri-ciri pemuda yang ditanyakannya.
Sudah terlalu jauh berjalan, Kris rasa. Karena sekarang dia tidak mendapati turis-turis maupun pertokoan di pinggir pantai. Dia berhenti sejenak mengamati deburan ombak.
"Paman."
Suara dari belakang nya membuat Kris membalik tubuhnya dengan cepat. Tubuh tinggi itu tersentak kebelakang mendapat sebuah pelukan tidak terduga. "Hei.. Kau kemana saja? Kami khawatir. Luhan bahkan datang menyusul."
Jongin melepaskan pelukannya, memeluk tubuhnya sendiri karena dia masih bertelanjang dada. "Maaf." Kepalanya tertunduk tanda menyesal, membuat Kris tidak tahan untuk mengusap surai coklat Jongin.
Kris memakaikan Jongin jaket nya. "Jadi?" Tanya nya menunggu Jongin menatap matanya.
"Apa nya yang jadi?" Kris mendelik melihat tampang bodoh Jongin.
"Aku tahu ka—"
"Aku mau makan." Potong Jongin dengan nada memerintah. "Sekarang."
Kris tidak bisa untuk tidak tersenyum menanggapi sikap Jongin, "Baiklah."
Sementara itu, Sehun dan Luhan kembali ke mobil milik Kris. menunggu pria itu menyusul dengan harapan—Juga bersama Jongin. Hening nya suasana membuat Sehun gatal untuk bertanya. Dia ingin tahu satu hal.
"Kenapa kau datang?"
Luhan mengalihkan pandangannya pada Sehun, "Kesini?" Sehun menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Luhan.
"Bukan. Maksudku, Kau mau susah-susah menyamar jadi murid sma lagi. Mendekati ku lalu—"
Ucapan Sehun terpotong oleh decakkan Luhan. Saat dilirik, Sehun hanya mengernyit mendapati kakak tiri Jongin itu sedang menahan seringai an.
"Aku datang ke Korea, menemui adik tiri ku Jongin. Biar kuperjelas—Kami punya ayah yang sama. Dulu dia mengalami kecelakaan, dan kehilangan banyak darah. Ibu dan kakaknya tidak memiliki golongan darah Jongin. Sedangkan si tuan Kim sendiri tidak dapat diandalkan karena saat itu si tua itu sedang sakit. Dan Hanya aku yang bisa jadi kudonorkan dengan satu syarat." Jelas Luhan panjang lebar tanpa menghilangkan nada sinisnya pada Sehun. Matanya menatap tajam bocah disampingnya. Sehun meneguk ludah menerimanya.
"—Saat sadar. Siapa sangka, Jongin malah amnesia. Tsk, sialnya karena itu Si tua Kim menyuruhku untuk kembali ke China. Jadi aku sengaja ke sekolah kalian, Menyamar jadi murid baru. Tapi aku tidak tau jika kau yang malah menyukai ku." Sehun tergelak, Apakah sejelas itu sikapnya sampai Luhan tahu tentang perasaannya.
"—Terlihat jelas."Timpal Luhan seolah bisa membaca pikiran Sehun. Sehun menyengir membuat Luhan mendengus.
Sehun teringat perkataan Luhan dan merenungkannya. Oh, Jadi.. Jongin pernah—Dia tidak tahu itu. Tapi syarat yang dikatakan Luhan itu sudah pasti tentang pernikahan kan? Tapi—Tapi- Jongin masih sekolah, Dia juga harus kuliah. Apa Luhan tidak bisa menunggu sampai umur Jongin cukup untuk itu?
Luhan tersenyum tipis, "Aku tidak akan menikahi nya sekarang. Jika itu yang kau khawatirkan, Bodoh."
"Oh—Benarkah?" Luhan mengangguk pasti. "Aku tidak berbohong."
Sehun membuang muka kesamping, bibir tipis nya diam-diam mengulas senyum.
'Syukurlah.'
"Jongin?!"
"Jangan bicara padaku. atau kupatah kan lehermu."
Sehun termangu dipintu mendengar ancaman Jongin. Dia tak bisa pikir kenapa temannya ini begitu marah pada nya, Itu kan hanya masalah kecil. Sehun berdecih, menganggap sikap Jongin sangat lah berlebihan.
Sesampainya dirumah Luhan, Jongin langsung berlari menaiki tangga dan membanting pintu kamar nya. Dia semakin sebal melihat Luhan dan Kris yang malah berseringai puas. Apa?! Apa mereka sebegitu senang nya bila Jongin dan dirinya bertengkar?
"Kenapa kau disitu?"
Melihat badang jakung Sehun ditengah pintu mengundang Luhan bertanya, Dia mendekat membawa sebuah miniatur Iron man ditangan nya—yang tadi ingin diperlihatkan pada Jongin.
Sehun menoleh dengan lirikan tidak bersahabat, "Bukan urusanmu." ketus Sehun membuang muka. Mendengar nya Luhan bukan merasa kesal, Pria berwajah menyerupai perempuan itu malah mendengus geli.
"Oh, Kalau begitu kau pasti tidak keberatan kan menyingkir sebentar dari pintu—Aku mau masuk." Luhan mendorong bahu Sehun ke samping, ia lalu masuk tanpa lupa menjulurkan lidahnya mengejek Sehun.
Sehun berdecak, dia diam saja melihat Luhan yang kini menyodorkan miniatur tadi pada Jongin. Jongin terlihat senang-senang saja menerima nya, sedang saat tanpa sengaja bertatapan dengannya—Jongin langsung memalingkan wajah.
"Jongin.." Sehun akhir nya merengek, tapi teman nya itu belum juga menoleh. Sedangkan Luhan disana terkikik senang.
"Jongin?" panggilnya lagi.
"Kai!"
"Apa!"
Sehun tersentak, terkejut mendengar suara lantang Jongin yang baru menyahuti panggilannya. Sekarang dia tersenyum lebar, berpikir Jongin sudah sedikit memaafkan nya.
"Ayo kita ke Dis—"
"Tidak mau!" potong Jongin cepat seraya membuang muka ke jendela kamar.
Luhan mengelus bahu Jongin bangga. Wajah nya tersenyum luar biasa bahagia melihat tampang bodoh Sehun yang melongo karena jawaban Jongin.
"Tsk," dengus Sehun menatap kesal punggung Jongin."Kau ini kenapa ha?"
"Molla."
"Aish Jongin.."
TBC
note:
Liburan panjanggg.. *teriak*Nari ubur"*
chap sebelumnya bukankah terlalu berat? jadi di chap ini qku buat no problems for awhile. Kadang-kadang Jongin perlu refreshing. :'v dia bingung milih lamaran yg mana.
yg Sehun ama Kris diatas gk sengaja aku bayangin pas ngetik. Duh baper.. T^t)
Liat diary Bella di trans gk kemarin? si bella ke namsan tower foto di kursi bersejarah Nya Ot12 Ah kan baper lagi. Fuah!
ok ini pendek dulu ya. (masa ini pendek) T,,T
selamat menjalankan puasa..
