Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
Not own anything of Naruto.
This story is originally made by me.
Please Stay Beside Me
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 5
A Better Life
-Hidup yang Lebih Baik-
Flashback ON
"Tuan, Sasuke-sama tidak ada di sekolahnya."
"Apa?" Fugaku menatap tajam pada Juugo. Ia kemudian heran pada Juugo yang masih membatu dihadapannya. "Cepat cari kalau begitu! Kenapa kau masih berdiri di sini?!" teriak Fugaku.
"Baik, tuan!" Juugo segera berbalik badan dan pergi dengan beberapa bawahannya.
"Hei, kalian! Ikut aku! Kita cari Sasuke!" teriak Fugaku pada pengawal yang ada di sekitarnya.
Mereka semua bergegas dengan mobil. Mencari dan mencari, namun tidak menemukan apa pun. Juugo terpikir akan ponsel Sasuke. Ia sempat memasang GPS di ponselnya untuk berjaga-jaga. Dan tidak disangka, ketakutan Juugo menjadi kenyataan hari ini. Juugo tidak dapat mengedipkan matanya saat titik merah berkedip muncul di ponselnya, menunjukkan lokasi ponsel Sasuke saat ini. Gudang di pinggir kota? Untuk apa Sasuke pergi ke tempat seperti itu? Apa jangan-jangan… Juugo segera menghubungi nomor tuan besar Uchiha. Tidak lama setelah berkendara, dua mobil yang sangat familiar menyusul mobil yang Juugo kendarai. Ketiga mobil tersebut melesat menuju lokasi yang Juugo dapatkan.
Juugo memarkirkan mobilnya dengan asal, membuka pintu mobil dengan kasar dan segera berlari masuk ke gudang tersebut disusuli oleh tiga orang bawahannya. Matanya masih dapat menangkap beberapa mobil hitam yang melaju menjauhi gudang tua itu. Mo-mobil itu.. firasat Juugo semakin buruk.
Tanpa pikir panjang lagi Juugo terus berlari hingga menemukan apa yang ia cari.
"SASUKE-SAMA!" teriak Juugo saat menemukan Sasuke terlentang di lantai dengan bekas luka yang masih segar dan serbuk putih yang tersisa pada sela bibirnya. Juugo segera mengangkat kepala Sasuke dan menahan tubuh Sasuke dengan pundaknya. Jangan sampai Sasuke menjadi cacat atau apa, Juugo akan merutuki dirinya sendiri seumur hidup karena tidak dapat melindungi tuan mudanya itu.
"Kalian segera panggil ambulans, jangan diam saja!" teriak Juugo pada ketiga orang di belakangnya.
"Ba-baik." jawab salah seorang dengan gugup.
"Sasuke-sama! Bertahanlah! Kau anak yang kuat, aku tahu itu!" teriak Juugo sambil menggoyangkan pelan tubuh Sasuke.
"Ehh..emm" terdengar erangan kecil dari mulut Sasuke.
"Sasuke-sama!"
Sasuke membuka matanya dengan sangat perlahan, matanya masih mengenali wajah yang ia lihat meski samar-samar, "Ju..Juu..Juu..go?"
"Siapa yang melakukan ini padamu, Sasuke-sama?! Aku akan membalas dendam ini!" Juugo berteriak hingga tanpa sadar air matanya mengalir melalui mata kirinya.
"ASTAGA! SASUKE!" Fugaku tidak kalah terkejutnya dengan Juugo. Fugaku segera berlari menghampiri anak bungsunya, salah, anak satu-satunya yang ia punya.
"SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN INI PADAMU! JAWAB AKU! SIAPA, SASUKE?!" Emosi Fugaku benar-benar memuncak.
Sasuke menggunakan sisa tenaga yang masih ia punya, "Ka...rin.." Setelah itu Sasuke kembali tak sadarkan diri.
Mata Fugaku dan Juugo membulat. Mereka ingin memaki Karin dengan kata yang paling kasar, tapi mereka jauh lebih peduli pada Sasuke yang tak sadarkan diri.
"HEI MANA AMBULANSNYA!" teriak Juugo pada bawahannya.
"Se-sepertinya belum sampai.." jawab salah satu bawahan.
"APA! Sudahlah, ayo kita bawa Sasuke ke rumah sakit secepatnya!" Juugo segera mengangkat Sasuke. Sasuke cukup berat, tapi berat yang dirasakan Juugo tidak seberapa dengan hatinya yang hancur melihat keadaan Sasuke saat ini.
"Tunggu, Juugo!" panggilan Fugaku membuat Juugo berhenti.
"Tuan, Sasuke-sama harus sege-" Juugo terdiam ketika melihat Fugaku menyentuh sela bibir Sasuke. Juugo memang sudah menyadari sejak tadi, tapi emosi membuat ia melupakan segalanya.
"Kalian, cepat ambil sampel dan suruh orang periksa apa ini!" perintah Fugaku yang langsung dilaksanakan oleh para pengawalnya. Terlihat seorang sibuk mengambil sampel dari bibir Sasuke dengan cotton bud kemudian memasukkannya pada kantung plastik putih. Kemudian lainnya sedang menelepon ahli forensik yang mereka kenal untuk membantu.
"Tuan, ada temanku yang sedang senggang dan bersedia membantu. Namanya Hatake Kakashi. Ia seorang dokter sekaligus salah satu ahli forensik terbaik di kota ini." Ucap Yamato, salah satu pengawal keluarga Uchiha.
"Baik, kita bawa Sasuke ke sana sekarang juga." Fugaku menatap Juugo.
"Baiklah." Juugo menurut saja, ia tahu tatapan mata tuan besarnya itu. Terdapat perih yang mendalam, namun harus tetap kuat menghadapi tantangan. Sungguh seorang lelaki yang hebat dan patut dijadikan panutan. Mungkin hal ini juga yang membuat pengawal di keluarga Uchiha selalu hormat dan patuh pada Fugaku.
Tanpa basa basi lagi mereka segera berangkat ke tempat Kakashi, teman dari Yamato yang mungkin dapat menyelamatkan nyawa Sasuke.
Ruangan putih bersih, detakan jam dinding dan dentangan benda besi. Ini bukan ruang praktek dokter, melainkan ruang belajar kedokteran yang ada di kediaman Hatake yang sudah digunakan turun temurun. Tampak seorang pria berpakaian rapi dan mengenakan masker menggulung lengan kemejanya ke atas, bersiap mengobati anak muda yang sedang terbaring di atas tempat tidur pasien.
Pria bernama Hatake Kakashi ini sangat hati-hati dalam pekerjaannya. Bahkan sebisa mungkin ia tak mau membangunkan pasiennya, Uchiha Sasuke yang masih diberi infus dan alat bantu pernafasan. Maka ia mengobati lukanya dengan sangat perlahan.
Setelah selesai membalut seluruh luka yang ada di badan Sasuke, Kakashi bernafas lega seolah melepas bebas 1 ton dari badannya. "Cepatlah sembuh, anak emas." gumam Kakashi.
Setelah menenangkan diri, Kakashi membuka pintu. Dan hanya mempersilahkan tiga orang untuk masuk melihat keadaan Sasuke. Ketiga orang yang masuk adalah Fugaku, Juugo dan Yamato.
"Uchiha-sama,apakah anda sudah siap mendengar keterangan dari saya?" tanya Kakashi.
"Ya." jawab Fugaku sambil mempersiapkan mentalnya.
"Tuan Uchiha Fugaku, dengan berat hati saya harus memberitahu anda bahwa serbuk putih yang ada di sela bibir anak anda, Uchiha Sasuke adalah heroin. Dan sepertinya ia dipaksa untuk memakannya, aku membersihkan beberapa serbuk yang tertinggal di giginya."
Fugaku membatu, ia tahu betul apa itu heroin.
"Apakah saya boleh tahu bagaimana ia di paksa untuk mengonsumsinya?" tanya Kakashi.
Juugo menatap Fugaku dan ia mendapat anggukan persetujuan dari Fugaku. Juugo pun menceritakan secara keseluruhan. Meski Juugo tak tahu apa yang dilakukan Karin, tapi dapat dilihat pada badan Sasuke terdapat sejumlah siksaan berupa bekas cambukan serta serbuk dan air yang menggenang maka dapat disimpulkan bahwa Karin memaksa Sasuke untuk menelan heroin tersebut dengan air. Kakashi yang mendengar cerita Juugo terkejut dan masih tak percaya seorang wanita yang masih belia sudah berani melakukan hal seperti ini. Sungguh dunia sudah semakin kejam.
"Yang saya takutkan jika dia sudah menelan heroin dalam jumlah yang tidak sedikit, dia akan menjadi.. pecandu." ucap Kakashi.
"Lalu.. apa yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkannya?" kali ini, Fugaku tampak sangat pasrah. Meratapi nasibnya yang malang. Untuk apa mempunyai harta bergelimang tapi tidak bahagia. Ia bekerja hingga seperti ini demi istri dan anak-anaknya namun takdir mungkin berkata lain, ia sudah kehilangan Itachi dan saat ini ia tidak ingin kehilangan Sasuke lagi.
"Saran saya, dia direhabilitasi. Tapi.. sebelum itu.. apakah ia mudah menurut?" tanya Kakashi lagi.
"Tidak, Sasuke-sama tidak suka diperintah apalagi disuruh-suruh." kali ini Juugo yang bersuara.
"Kalau begitu, sebenarnya ada cara lain.. Jika ia meminta obat itu, ya berikan saja namun kurangi dosisnya secara perlahan dengan itu dia bisa tetap tinggal di rumah." ucap Kakashi.
"Benarkah? Apa pun akan ku lakukan agar anakku sembuh." ucap Fugaku.
"Sebenarnya ini baru hipotesaku saja, berhasil atau tidaknya, sembuh atau tidaknya, semua bergantung pada anakmu tuan. Kecanduan obat-obatan itu bukan hanya butuh penyembuh dari fisik namun secara psikis juga. Harus ada keinginan hidup dan movitasi untuk sembuh dari si pecandu." jelas Kakashi.
"Baiklah, kalau begitu aku titip Sasuke disini sampai dia merasa lebih baik. Dan jadikan ini rahasia." Fugaku menjulurkan tangannya pada Kakashi.
"Tentu saja, aku dengan senang hati membantu anda, Uchiha-sama." Kakashi menyambut tangan tersebut dan mereka berakhir bersalaman.
"Tolong sembuhkan Sasuke-sama,Hatake-san" Juugo membungkuk dalam pada Kakashi.
"Ah, tidak usah seperti itu, panggil Kakashi saja. Aku juga akan senang jika anak ini sembuh." Kakashi melihat ke arah Sasuke.
"Terima kasih." Juugo tersenyum dan Kakashi membalasnya, tampak dari mata Kakashi yang ikut tersenyum juga.
"Mohon bantuannya, kawan." ucap Yamato.
"Ya, kalian semua tenang saja. Aku akan lakukan yang terbaik." balas Kakashi.
Mendengar ucapan itu, Fugaku, Juugo dan Yamato pun keluar dari ruangan tersebut.
"Fugaku-sama, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Juugo.
"Perintahkan seluruh bawahan kalian untuk rahasiakan ini dari pihak mana pun terutama Mikoto. Dan setelah Sasuke siuman aku akan membawanya ke vila pinggir pantai." perintah Fugaku. Sejujurnya Fugaku sedikit khawatir dengan para bawahan, mengingat pengamanan keluarga Uchiha terdiri dari tiga lapisan, yaitu Penjaga, Pengawal dan Bawahan. Para pengawal merupakan orang-orang yang dekat dan berinteraksi langsung dengan anggota keluarga Uchiha. Para penjaga adalah orang-orang yang menjaga bagian luar rumah Uchiha. Sedangkan bawahan merupakan kelompok dari penjaga yang diatur oleh para pengawal.
"Baik, Fugaku-sama." jawab Juugo dan Yamato bersamaan.
Flashback OFF
'Tok tok tok'
"Sasuke, apa kau sudah bangun?" Mikoto mengetuk pintu kamar Sasuke. Bermaksud mengajaknya sarapan.
Hal ini tentu saja mengejutkan Sakura yang tidur seranjang dengan Sasuke dan sudah bangun 10 menit yang lalu.
"Sasuke-kun, bangun. Bibi memanggilmu." Sakura menggoyangkan badan Sasuke sekuat tenaga.
"Emm.. " Sasuke menggumam, ia malah berbalik memeluk Sakura.
"Sasuke! Bangun!" kali ini Sakura mencubit perut Sasuke.
"Aw! Apa yang kau lakukan Sakura?" Sasuke terbangun dan bingung atas sikap Sakura.
'Tok tok tok'
"Sasuke!" Mikoto kembali memanggil.
"Gawat." gumam Sasuke yang menyadari ibunya berada di depan pintu kamarnya sedangkan ia dan Sakura masih terbaring tanpa busana.
"Sekarang baru berkata gawat? cepat pakai celanamu dan temui ibumu." ucap Sakura.
"Ya ya, aku akan keluar. Kau tidak perlu bersembunyi." Sasuke mengecup pelan bibir Sakura dan segera memakai celananya.
Sakura tidak ingin mengambil resiko, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berpakaian. Ia juga berusaha sepelan mungkin agar tidak ada yang mendengarnya.
'Clkek'
"Hoaaam, ada apa kaa-san?" Sasuke muncul dari balik pintu sambil menggaruk kepalanya. Tak ada yang jauh berbeda darinya, tubuhnya masih banyak bekas suntikan. Hanya saja wajahnya terlihat lebih bahagia dan tubuhnya kembali sedikit berisi.
"Baru bangun Sasuke? Kau terlihat lebih segar sekarang?" Mikoto tersenyum pada Sasuke.
"Hn." Sasuke membalas senyum ibunya dengan anggukan dan senyum yang amat sangat tipis.
"Wah, sudah lama ibu tak melihatmu tersenyum, nak." Mikoto tak dapat menahan dirinya untuk tidak menyentuh pipi Sasuke. Mikoto terpukau dengan senyum Sasuke yang sudah lama tak ia lihat.
"Jangan menangis, kaa-san." Sasuke mengusap air mata ibunya yang hampir jatuh.
"Eh, maaf." Mikoto mengusap air matanya yang tidak ia sadari tadi.
"Oh ya, tadi ibu mendengar kau memanggil Sakura, apa Sakura ada di dalam? Ibu belum melihatnya pagi ini." tanya Mikoto.
"Oh itu, emm.. mungkin aku bermimpi mengenai Sakura lagi, kaa-san. Dan mungkin saja Sakura belum bangun atau sedang mandi." Sasuke berusaha menutupi keberadaan Sakura.
"Hmm, begitu ya. Padahal ibu berharap Sakura benar ada bersamamu. Ibu akan lebih cepat melihat sasuke-sasuke kecil berlarian di rumah ini, hahaha." ucap Mikoto.
"Akan kuusahakan secepatnya, kaa-san." balas Sasuke sambil memberi senyum penuh arti pada Mikoto.
"Eh? Benarkah?" Mikoto tampak sangat senang "Oh iyaa, ibu hampir lupa. Jangan lupa untuk berdikusi dengan Sakura mengenai tanggal pernikahan kalian."
"Pernikahan?" Sasuke tak pernah menyangka akan menikah secepat ini.
"Ya, ayah dan ibu Sakura juga sudah setuju untuk menikahkan kalian secara resmi." ucap Mikoto.
"Tapi aku ingin sembuh dulu, kaa-san." balas Sasuke.
"Itu tidak masalah, yang penting pilihlah dulu tanggalnya. Untuk tahunnya, hm.. iburasa kalian tentukan saja. Yang jelas, kami akan menyiapkan semuanya."
"Baiklah, terima kasih, kaa-san." ucap Sasuke dengan tulus.
"Tak usah berterima kasih, seharusnya sudah dari dulu ayah dan ibu mencari Sakura untukmu. Kita yang harus berterima kasih padanya."
"Ya, kaa-san tenang saja. Aku akan menjaganya sebaik mungkin. Namun aku harus kembali dulu, aku tidak bisa melindunginya dengan diriku yang sekarang ini."
"Berushalah, Sasuke. Karena tidak ada suatu apapun yang mudah dalam kehidupan ini. Ibu akan sangat senang melihatmu bangkit kembali. Apalagi ayah, dia pasti akan sangat bangga nantinya." Mikoto memegang pundak anaknya.
"Hn." Sasuke mengangguk dan tersenyum.
"Ya sudah, cepatlah mandi, semua menunggumu untuk sarapan bersama."
Setelah berucap dan saling tersenyum dengan Sasuke, Mikoto akhirnya pergi. Sasuke kembali ke dalam kamarnya dengan senyum bahagia.
"Hmm, pernikahan ya? Kami-sama, apakah benar mimpiku akhirnya menjadi nyata?" gumam Sasuke sambil melihat ke arah pintu kamar mandi. Yang mana ia tahu bahwa Sakura sedang berada di dalam.
.
.
.
.
.
Wanita berambut merah itu berjalan dengan menghentak-hentak kakinya ke lantai, ia menggenggam keras ponselnya, kemudian merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Tou-san, apa maksud semua ini? Mengapa ada e-mail yang masuk dan mengatakan aku diterima di Universitas Osaka?" Karin sedikit membentak pada ayahnya.
"Huh? Apa itu? Ayah tidak tahu." ucap Uzumaki Danzo dengan tidak memalingkan pandangannya dari koran yang sedang ia baca.
"Apa? Jangan berpura-pura tou-san! Aku tahu tou-san yang merencanakan semua ini!" Karin berdiri di hadapan ayahnya.
Danzo melipat koran yang ia baca, "Lalu kenapa? Kau tidak bosan di kota kecil seperti Konoha ini?"
"Aku tidak akan kemana-mana, tou-san!"
"Kau ini kenapa? Apa salahnya sih pergi keluar kota? Kau harus banyak belajar agar dapat menyambung usaha tou-san."
"Apa hanya itu yang tou-san pikirkan?" Karin memalingkan wajahnya.
"Memangnya apa lagi? Apa yang kau sembunyikan dariku?" Danzo menatap putrinya.
"Sudahlah, tou-san tak akan mengerti perasaanku!" Karin berlari keluar dari ruang tamu. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Hei, jemput aku sekarang dan temani aku malam ini." ucap Karin pada seseorang di ponselnya.
Mobil sedan hitam mewah tiba tepat di depan kediaman keluarga Uzumaki. Karin langsung berlari dan masuk ke dalam mobil tersebut dan membanting pintunya.
"Hei, hei, mobil ini belum lunas." ucap seorang pria berambut putih pada bagian kemudi.
"Jalan." ucap Karin.
"Baiklah, tuan putri." Jawab pria tersebut.
Setelah berkendara, sampailah mereka di sebuah rumah kecil minimalis. Karin turun dan diikuti oleh pria berambut putih tersebut. Sesampainya di dalam rumah tersebut, Karin duduk di sofa hitam dan menghidupkan televisi.
"Apa yang terjadi padamu, Karin?" tanya pria itu, dia duduk di sebelah Karin.
"Ayah sialan. Dia sama sekali tak mengerti perasaanku." ucap Karin dengan ketus.
"Hei jangan bicara seperti itu, ayahmu itu sangat menyayangimu. Kau sendiri pasti sadar akan hal itu." balas Suigetsu.
"Tapi kenapa dia menyuruhku pindah ke Osaka?"
"Entahlah, mungkin agar kau lebih baik Karin."
"Tidak, aku tidak akan lebih baik sebelum Sasuke jadi milikku!" teriak Karin.
" Ha...Hah..? Hahahahahaha." Suigetsu tak habis pikir pada Karin yang nampaknya saja dewasa, tapi pikirannya ternyata terlalu dangkal.
"Apanya yang lucu? Kalian para pria memang tak berguna, tak ada yang bisa di harapkan!" Karin tak terima dengan tawa Suigetsu yang ia tahu betul mengejeknya.
"Lalu, kenapa kau sebegitu terobsesi dengna Sasuke? Apa dia buka pria? hahaha"
"Diam kau, jangan samakan Sasukeku dengan pria-pria lain!"
"Sasukemu? Hahahah.. Karin.. karin.. kau masih belum sadar bahwa Sasuke sama sekali tidak menyukaimu? Atau bahkan dia sudah sangat membencimu sekarang."
"Tau apa kau soal Sasuke?! Aku jauh lebih mengenal Sasuke daripada kau!" ucap Karin ketus.
"Karin, aku tahu kau itu sangat menyukainya dan kalian sudah bersama sejak kecil dan dia juga adalah anak emas keluarga Uchiha. Tak sepertiku yang dipungut ayahmu. Sedikit nasihat dariku, manusia bisa berubah, Karin. Tak selamanya Sasuke adalah Sasuke yang kau kenal."
"Omong kosong. Kau hanya mencoba untuk mengikuti keinginan ayahku 'kan? Pasti ayahku yang menyuruhmu! Dan aku mau rencanaku selanjtunya berjalan lancar!" Karin masih saja ingin memiliki Sasuke. Jika ia tak bisa memiliki Sasuke, maka gadis pink itu juga tidak akan memiliki Sasuke, begitulah pemikiran Karin.
Suigetsu menggeleng. "Ah, terserahmu sajalah tuan putri. Yang jelas malam ini aku tidak akan tidur denganmu sebelum kau sadar bahwa kau salah."
"Oh jadi sekarang kau majikanku, hah? Kau lupa aku juga bisa memecatmu?" Emosi Karin semakin meledak.
"Terserahmu saja." Suigetsu berdiri dan berjalan mendekatin pintu keluar. Karin masih duduk di sofa dengan wajah cemberutnya.
"Oh ya, satu hal lagi tuan putri. Jangan terlalu mengkhayal hingga kau tak melihat apa yang ada dihadapanmu." tambah Suigetsu.
'Blam'
Suigetsu membanting pintu utama rumah tersebut.
Kemudian masuk dalam mobilnya dan melesat tanpa tujuan tanpa arah. Yang ia tahu sekarang, ia tak pernah sekesal ini dengan siapapun. Ia juga tak pernah sepeduli ini dengan orang lain. Apakah ini pertanda perasaan... ah, tidak, tidak boleh, Karin adalah anak dari majikannya. Tentu Danzo akan sangat marah bila mengetahui putrinya berpacaran dengan anak buahnya.
Pikiran Suigetsu terus berputar, hingga pada saat ia melakukan seluruh pekerjaan kotor yang Karin perintahkan padanya. Dimulai dari penyiksaan Sasuke di gudang tua sampai kemarin saat ia memata-matai kediaman Uchiha.
Flashback ON
"Suigetsu, apa kau sudah di posisi?" terdengar suara dari dalam headset yang dipakai di telinga Suigetsu.
"Ya. Saat ini aku berada pada bagian luar kebun kediaman Uchiha. Aku tidak bisa melewati pagar ini, terlalu banyak pengaja, Sai." Suigetsu melapor kembali.
"Lalu apa yang dapat kau lihat dari sisimu?" tanya Sai. Sai adalah pengikut Danzo yang paling setia. Ia sudah lama menjadi pengikut Danzo sejak seluruh keluarganya meninggal saat ia berumur 5 tahun.
"Hmm, para penjaga dan.. tunggu! itu.." Suigetsu masih tak percaya apa yang ia lihat, ia mengucek dan mengedipkan matanya berulang kali.
"Itu? Itu apa?" tanya Sai.
"A-aku.. kurasa aku melihat Uchiha Sasuke." ucap Suigetsu sambil menelan ludahnya perlahan.
"Apa? Kau serius?" Sai pun tak percaya apa yang dikatakan Suigetsu.
"Dan ada seorang gadis berambut pink, tampaknya seumuran dengan Sasuke." ucap Suigetsu seperti berbisik dengan mendekatkan mic yang dijepit pada sisi jasnya.
"Eh, tunggu! Sasuke sepertinya kejang-kejang dan meminta barang itu lagi. Aku melihat salah satu pengawalnya berlari masuk ke dalam rumah dan keluar dengan mengambil suntikan." lanjut Suigetsu.
"Bisakah kau mengambil gambar dari posisimu?" tanya Sai.
"Sial, kamera pengintaiku tertinggal. Akan aku gunakan kamera ponselku." balas Suigetsu.
Suigetsu berusaha mencari lokasi yang bagus sampai ia tak sadar bahwa ia sudah terlihat oleh para penjaga kediaman Uchiha. Tiba-tiba muncul kaki beberapa orang yang menghalangi lensa kamera Suigetsu.
"Hei, siapa kau!" salah satu penjaga di dekat kolam renang tersebut meneriaki Suigetsu.
Suigetsu terkejut dan kabur. Tanpa hasil foto dan tanpa informasi apa-apa. Saat ini nyawanya jauh lebih penting daripada apapun. Hal ini bukan mengenai Suigetsu yang takut terbunuh, melainkan ia ingin melindungi Karin dan Danzo dari keluarga Uchiha selama mungkin yang ia bisa lakukan. Setelah berlarian cukup jauh, para penjaga itu tak lagi mengejar Suigetsu. Tapi jelas kemungkinan besar nyawa Suigetsu sudah terancam karena para penjaga itu sudah mengenali wajah Suigetsu.
Flashback OFF
Suigetsu menghentikan mobilnya, "Sial" teriaknya sambil memukul setir.
Ia kembali menyetir ke arah rumah Karin. Ia sebenarnya sudah tak peduli, tapi hatinya berkata lain. Ia khawatir Karin membahayakan dirinya sendiri. Meski ia tak bisa memiliki Karin, ia juga tak mau kehilangannya.
To be Continue
Haiii semuanya! Ah akhirnya Shady bisa comeback jg setelah 2 bulan hiatus :D hehe
Shady sudah resmi lulus dan tinggal tunggu wisuda, ah senangnya hahaha. Terima kasih semua.
Oh ya yang sempet nanyain Shady kemana, nah ini sudah hadir sekarang. maaf lama juga ngilangnya XD
Chapter ini Shady kerjakan secepat mungkin, jadi mohon maaf bila ada kesalahan dalam pengetikan atau hal yang kurang berkenan dalam cerita.
Yak, langsung saja
Balasan review
Asuka Kazumi: Ah haii Kazumi, suatu hari Sasu pasti sembuh kok. Terima kasih sudah read dan review :D
gome: Terima kasih sudah read dan review :D
sarahachi: hahaha, yaaa bagi author, Karin itu sifatnya memang begitu dan tidak dapat diubah haha, cocoknya jadi antagonis saja. Wah lemon? maybe next chapter or chapter after next chapter wkwkwk. Terima kasih sudah read dan review :D
Laila: hmm belum, belum itu hehe masih di depannya lagi, author pingin jelasin dulu beberapa flashbacknya. Terima kasih sudah read dan review :D
CEKBIOAURORAN: nah ini ada penjelasannya. Terima kasih sudah read dan review :D
Akemi no Hana: hahaha, ayo pukul! Nah chapter ini dijelaskan. Jangan lupa baca yaa supaya nyambung. Terima kasih sudah read dan review :D
Guest: chapter 4 itu, sebenarnya hanya menunjukkan kekuatan dan ketegaran Sakura dalam mencintai Sasuke. Nah chapter ini lebih ke flashback yang belum terjelaskan. Terima kasih sudah read dan review :D
Yoshimura Arai: ok ini sudah next. hmm, mungkin belum akan tobat dia hahaha. Terima kasih sudah read dan review :D
wowwohgeegee: hahaha, bisa jadi bisa jadi. Terima kasih sudah read dan review :D
Uchiha Naya09: hehe, iya tuh. ini sudah lanjuutt. Terima kasih sudah read dan review :D
LORDmarionettespieler: sudah update nihh biar ga penasaran dibaca yuk, hehe. Terima kasih sudah read dan review :D
Kirara967: hmm betul betul, harus di balas lebih kejam. enak saja perlakukan Sasuke seperti itu dan sekarang mengincar Sakura. terima kasih doanya, skripsi author sudah selesai :D hehe. Terima kasih sudah read dan review :D
Laifa: waaa makasih uda suka, hehe. Karin tobat? hmm, sepertinya... masih sangat lama haha. Terima kasih sudah read dan review :D
Guest: mengenai itu dari awal sudah diceritakan. Hal ini karena Sasuke yang memang ga bisa di suruh suruh, kalau di tempat rehabilitasi kan harus menurut menjalani pengobatan ini dan itu. Sedangkan Sasuke waktu itu tidak ada semangat hidup sama sekali. Kalau dikasi masuk ke tempat rehabilitasi kondisi Sasuke pasti akan semakin parah. bukankah begitu? hehe. Terima kasih sudah read dan review :D
Rina227: ada donk! wkwk untuk pembahasan keluarga Karin.. diikuti terus ya. Terima kasih sudah read dan review :D
sqchn: hahaha aduh hapenya kasian jgn digigit. gigit Karin aja wkwk. hmm bgtu ya? boleh dipikir dlu ya hahaha tapi Sasu uda mau sembuh nihh wkwk. Terima kasih sudah read dan review :D
hanazono yuri: yak ini sudah lanjut. Terima kasih sudah read dan review :D
DeidaraTamvanJualPetasan: hahaha, itu bener banget, saya setuju. Terima kasih sudah read dan review :D
rona337: oh okeii, ini masih chapter 5, awalnya ada prolog. Terima kasih sudah read dan review :D
Uchiha Nazura: ini lanjutannya, Terima kasih sudah read dan review :D
Guest: sama, author jg ga tega, tergantung semangat Sasunya deh kapan sembuh, haha. Terima kasih sudah read dan review :D
Hime Luvchubby: ehhh belum belum ini, belum di apa-apain hahaha. tunggu tanggal mainnya ya. ah itu, kurang tahu juga. bisa ditanya langsung ke Sasunya? hahaha. Terima kasih sudah read dan review :D
silent reader xD: okei, nama yang unik wkwk. nah itu sabar yaaa wkwk. Kan sekarang Sakura belum tau siapa itu Karin. Sip ini sudah lanjut. Terima kasih sudah read dan review :D
Thanks semua yang sudah berkenan membaca dan mereview fic ini :D
Mind to review this chapter again?
Sincerely,
Shady.
