Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Not own anything of Naruto.
This story is originally made by me.
Please Stay Beside Me
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 6
Unplanned Meeting
-Pertemuan yang tidak direncanakan-
"Sasuke, kemari sebentar."
"Ada apa tou-san?"
"Hm, langsung saja ya." Fugaku melipat koran yang ia baca. "Aku sudah menyiapkan tiket." Ia menyodorkan dua lembar tiket yang diambil dari nakas kepada Sasuke.
"Apa ini, tou-san? Aku tidak mengerti." Sasuke menerima kedua tiket itu dari tangan ayahnya.
"Pergilah kesana dengan Sakura."
"Tapi.. bagaimana dengan tou-san dan kaa-san?"
"Kau tak perlu mengkhawatirkan kami, Sasuke." Fugaku memegang pundak anaknya. "Disana ayah sudah siapkan dokter yang hebat dan yang akan merawatmu adalah Sakura. Kalian juga akan homeschooling disana."
"Apa Sakura sudah tahu akan hal ini?" Sasuke meremas pelan tiket yang digenggamnya.
"Belum, ayah ingin kamu yang memberitahunya."
"Kenapa?" Sasuke masih mencerna, ini terlalu tiba-tiba.
"Ayah ingin memastikan bahwa kau tidak keberatan, Sasuke. Bagaimana pun, ayah sudah kehilangan Itachi dan ayah tak mau lagi kehilanganmu, nak." Fugaku terlihat frustasi dan menutup wajah dengan sebelah tangannya. "Maka pergilah untuk sementara sampai semuanya aman. Dan berobatlah dengan baik. Ayah dan Ibu akan mendoakan kalian dari sini." Fugaku memandang anaknya dan berusaha tersenyum. Meski sangat tipis, Sasuke dapat melihatnya. Ini pertama kalinya ayahnya tersenyum padanya.
"Tapi.. bagaimana dengan orang tua Sakura?"
"Kami sudah membicarakan hal itu."
Flashback On
"Hiks hiks, aku tidak akan bisa bertemu Sakura ku setiap hari lagi, hiks." Kizashu masih sedih harus melepas putri semata wayangnya itu.
"Kizashi, hentikan sikapmu yang kekanakan itu! Kita harus melakukan ini demi keselamatan mereka berdua." ujar Mebuki.
"Tuan Kizashi, kita berada di posisi yang sama. Apakah aku akan bertemu dengan Sasuke setiap hari? Tapi kita semua tahu bahwa membiarkan Sasuke dan Sakura disini tidaklah aman. Mereka belum cukup kuat untuk bertahan dari serangan licik dari pihak Karin." jelas Mikoto dengan tegas.
Kizashi mengusap mata dan mulai serius, "Ah- masalah itu, Sakura kan punya sabuk hitam karate? Benar 'kan Mebuki?"
"Apakah Sakura akan sanggup melawan semua anak buah Karin itu? Berpikirlah, Kizashi. Anak buah Karin sangat banyak dan mereka semua terlatih." balas Mebuki.
"Itu benar. Aku sudah memeriksa semuanya mengenai mereka. Organisasi gelap di balik perusahaan properti yang sudah lama didirikan, namun tak pernah tersentuh oleh polisi mana pun." Fugaku melipat tangannya dan berdeham. "Dan kau tahu? Mereka juga ada menculik beberapa anak dibawah umur. Meski tidak jelas tujuannya untuk apa, dari tindakan Karin ke Sasuke dulu, sudah jelas kan mereka berbahaya?"
"Haaaah? Tidaak tidak, aku tidak mau terjadi apa dengan Sakuraku!" Kizashi berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Maka dari itu, mereka harus pergi untuk sementara." Mebuki mencubit kuat perut Kizashi. Ia sudah tak tahan dengan kelakukan suaminya yang seperti anak-anak.
"Aaa!" teriak Kizashi sambil mengelus perutnya yang tadi dibcubit.
"Ehm, jadi intinya kalian setuju kan?" tanya Fugaku.
"A-ah, iya tentu saja setuju. Demi kebaikan Sasuke dan Sakura juga." Mebuki mengangguk tegas. Kizashi juga ikut mengangguk meski anggukannya sedikit terpaksa.
"Baiklah, aku akan berbicara dengan Sasuke besok."
Flashback Off
"Begitulah, mereka sudah setuju." ucap Fugaku.
"Oh, mereka juga sudah setuju ya. Kalau begitu baiklah, aku dan Sakura akan pergi." lirih Sasuke sambil menatap dalam ayahnya. Tangannya menggegam erat tiket pesawat yang sudah tertera berbagai nomor dan tentu saja destinasinya, Singapura.
:
"Sakura, ada yang harus aku bicarakan." Sasuke menutup pintu kamar.
''Hm? Ada apa, Sasuke-kun? Apakah hal ini sangat serius?" Sakura menepuk pelan sisi samping ranjang yang sedang ia duduki dan sudut bibirnya terangkat.
Sasuke yang mengerti akan isyarat tersebut, mendudukkan dirinya di samping Sakura. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Ia memberikan dua lembar kertas itu pada Sakura.
"Sa-sasuke-kun, i-ini..."
"Hn, itu tiket. Besok kita akan berangkat ke Singapura. Aku akan berobat dan kita akan homeschooling disana."
"A-apa tou-san dan kaa-san.."
"Mereka yang memberikan itu padaku, Sakura. Bahkan ayah dan ibumu juga sudah setuju. Mereka bilang, lebih baik kita pergi dulu untuk saat ini."
"Tapi.. mereka tak bilang apapun padaku?"
"Mereka ingin aku memastikan kau akan ikut denganku kesana."
"Aa, tentu saja. Aku tidak mungkin meninggalkan Sasuke-kun. Me-meski.. aku agak berat untuk berpisah dengan ayah dan ibuku."
"Maaf, Sakura. A-aku sungguh tak ber-gu-na.." Sasuke menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal keras.
"Sasuke-kun, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Jangan seperti ini, kau masih ingat janjimu untuk bangkit kan?" Sakura memeluk Sasuke dan mengelus kepalanya perlahan.
"Sa-sakura.. maaf.. maafkan aku.." lirih Sasuke sambil membalas pelukan Sakura.
"Tidak apa-apa, Sasuke-kun. Aku akan selalu disampingmu."
:
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Suigetsu masih tak tahu apa yang ada dipikiran Karin hingga ia sangat terobsesi dengan Sasuke sampai tega berbuat kejam pada teman masa kecilnya sendiri. yah, yang dapat Suigetsu lakukan saat ini hanya dapat duduk diam dan menemani Karin menonton televisi.
"Karin. kau tak ingin pulang?" tanya Suigetsu.
"Diamlah, aku tak ingin bertemu tua bangka itu." balas Karin sambil mengganti channel televisi.
"Hei, hei. Kau itu, dia itu ayahmu tau? Kalau dia tak ada, kau juga tak ada."
"Haha, siapa juga yang tidak tahu. Dasar bodoh. dia memang ayahku, tapi dia tidak tahu apa yang ku inginkan." Karin mematikan televisi.
"Haaahh- sudahlah. Ayo cari makan." ujar Suigetsu.
"Makan? Boleh juga. Tapi- aku.. lebih ingin.." Karin mendekatkan dirinya dengan Suigetsu. Membuka kancing atas bajunya dan menundukkan kepalanya dengan manja di pundak Suigetsu.
"Karin, hentikan." sebenarnya Suigetsu sudah lelah menjadi pelampiasan Karin selama ini. Lebih tepatnya, muak. Tapi karena ada sisi lain dari hati Suigetsu yang menyukai Karin, ia tak bisa benar-benar menolaknya.
"A-ayolah.." Karin meletakkan tangan Suigetsu pada dadanya. Wajahnya dibuat memelas sebisa mungkin.
"Ka-karin, jangan memaksaku." Hal inilah yang paling tidak disukai Suigetsu, kalau Karin sudah seperti ini, dia akan sangat sulit menolaknya.
Karin terus menerus mendekatkan dirinya pada Suigetsu. Suigetsu tak bisa menahannya lebih lama lagi, ia mencium Karin dengan kasar dan meremas dadanya penuh nafsu. Mreka berciuman cukup lama hingga berhenti untuk mengambil nafas.
"A-ahh.. Kenapa berhenti?" gerutu Karin.
"Jangan menyesal kalau kau hamil." ujar Suigetsu dengan penuh penekanan.
"Jangan lari kalau kau menghamiliku." balas Karin dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Tenang saja."
Aktivitas mereka selanjutnya sangat panas dan bergairah hingga mereka lupa waktu dan terlelap dalam pelukan satu sama lain.
:
-tringgg tringg tringgg
"A-apa?" Karin sangat terkejut saat menerima panggilan dari bawahannya. Ia terbangun dari tidurnya karena ada yang meneleponnya.
"Apa yang terjadi?" Suigetsu terbangun karena teriakan Karin. Ia melirik jam dinding, pukul 11 malam.
"Tidak, ini tak boleh terjadi!" teriak Karin. Pandangannya kosong dan air matanya mulai mengalir.
"Karin, ada apa?" Suigetsu memegang pundak Karin.
"TIDAK! Jika aku tak bisa memiliki Sasuke, maka jalang pink itu juga tidak boleh!" Karin berteriak. Suigetsu hanya bisa terdiam dan masih melihat Karin yang sudah sangat berantakan.
"Sasu-ke.. kenapa.. kenapa kau memilihnya? hiks hiks.." Karin menangis.
"Ka-kau bahkan akan pergi bersamanya ke Singapura? Sungguh, kau keterlaluan, Sasuke! Kau brengsek!" Karin terus memukul dada Suigetsu sambil marah-marah. Setelah itu Karin hanya menangis tersedu-sedu dan Suigetsu hanya dapat memeluk untuk menenangkannya.
Lama kelamaan Suigetsu muak dengan nama Sasuke. Selalu Sasuke, Sasuke, dan Sasuke. Apa Karin tidak pernah memikirkannya sekali pun? Padahal ia dan Karin sudah sangat intim, dan hal itu bukan hanya dilakukan sekali atau dua kali.
Setelah berpikir cukup lama, suigetsu hanya menyeringai, "Tunggulah Uchiha, kau akan segera musnah!"
:
Pagi ini langit menangis. Awalnya rintik-rintik kemudian semakin deras disertai dengan halilintar yang terus menyambar. Udara yang dingin merasuki tubuh wanita bermahkota merah muda yang sedari tadi berdiri di balkon kamar.
"Sakura, apa yang kau lakukan?" teriak seorang lelaki berambut biru tua.
"Ah, Sasuke-kun.." Sakura membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Ada apa? Apakah ada yang menganggu pikiranmu?" Sasuke memeluk erat Sakura.
"Tidak, hanya saja aku merasa cuaca hari ini sangat tidak mendukung." lirih Sakura.
"Tenanglah. Kita akan melewati ini bersama." Sasuke mengusap pelan kepala Sakura.
"Ya, baiklah." Sakura menutup matanya, menikmati kehangatan tubuh pria yang sangat dicintainya.
-tok tok tok
"Sasuke, apa kalian sudah siap?" suara Fugaku terdengar dari depan pintu.
"Sudah, tou-san." Sasuke membuka pintu kamarnya. Tampak Sakura dan Sasuke yang sedang mendorong koper masing-masing. Namun wajah Sakura tampak lesu dan sedih.
"Apa kamu merasa tak sehat, Sakura?" tanya Fugaku.
"Ah, aku tidak apa-apa." Sakura sedikit memakskan senyumnya.
"Baiklah, segeralah berangkat. Penerbangan kalian satu setengah jam lagi." jelas Fugaku sambil melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
"Aaaa, Sakurakuuu!" Kizashi berlari dan memeluk putrinya.
"Tou-san, aku pasti akan pulang." balas Sakura sambil menepuk pelan punggung ayahnya.
"Berjanjilah pada ibu, Sakura." Mebuki tampak tak rela melepaskan putrinya juga.
"Tentu, kaa-san." Sakura mengangguk.
"Kami titip Sasuke padamu, Sakura." ucap Mikoto sambil menepuk pundak Sakura.
"Ya, jii-san, baa-san." balas Sakura.
"Kalian semua tenaglah, kami akan baik-baik saja." ujar Sasuke sambil memberi senyuman yang benar-benar senyuman. Hal ini membuat Mikoto reflek memeluk Sasuke.
"Baiklah, ayo kami antarkan kalian." ujar Fugaku berjalan mendahului.
Mereka menuruni tangga, berjalan hingga mobil hitam yang akan mengantar mereka. Sakura dan Sasuke melambaikan tangan pada ayah dan ibu mereka. Hujan yang terus turun seolah menandakan suasana hati keluarga Uchiha dan Haruno yang harus melepas anak semata wayang mereka demi keselamatan. Meski berat melepas, hal ini adalah keputusan paling tepat saat ini.
:
Sesampainya di bandara, Sasuke dan Sakura mengantri dan berjalan masuk ke tempat tunggu seperti orang lainnya. Mereka sesekali bercanda dan membicarakan hal-hal saat mereka bersekolah dulu.
"Apa? Ada laki-laki yang menyukaimu? Siapa?" Sasuke tampak tak senang.
"Haha, jangan cemburu begitu. Lagipula aku tidak menerimanya." balas Sakura.
"Siapa namanya?" tanya Sasuke ketus.
"Gaara." balas Sakura dengan senyum menggoda dan sebelah alisnya terangkat.
"Heh? Apa-apaan wajahmu itu? Seperti nya kau menyukainya?" Sasuke semakin tidak senang.
"Pftttt.. hahahahah" Sakura terbahak-bahak. "Ada yang cemburu.. hahaha."
"Diam, Sakura." Sasuke memalingkan wajahnya, tidak ingin mengakui kecemburuannya.
"haha- ho-hoek.. hoek.." Sakura menutup mulutnya dengan tangan kirinya, dia mual.
"Sakura, ada apa denganmu?" Sasuke panik.
"A-a- hoek.. aku tidak ta- hoek.. hu." jawab Sakura terbata-bata.
"Ayo ke toilet sekarang."
Sakura tak menolak, mereka segera berjalan menuju toilet. Sasuke membiarkan Sakura masuk sendiri ke dalam toilet wanita. Sasuke masih dapat mendengar suara muntahan Sakura. Entah dia mual atau benar-benar muntah.
5 menit..
10 menit..
15 menit..
Sakura masih tak keluar. Dan suara Sakura sudah tak terdengar lagi.
"Sakura, apa kau tidak apa-apa?" Sasuke sedikit berteriak agar sakura mendengar. Ia tidak peduli dengan siapa pun yang berada di dalam toilet itu dan mendengar teriakannya. Yang jelas ia sangat mengkhawatirkan Sakura saat ini.
"Ma-maaf.. Apa pacarmu yang sedang berada di toilet?" seorang wanita paruh baya berambut pirang keluar dari toilet wanita dan bertanya pada Sasuke.
"Benar, apa dia belum keluar?" Sasuke tak dapat menyembunyikan raut wajah khawatirnya.
"Bagaimana kalau aku yang mengeceknya? Daritadi kamar mandi itu tidak ada suara. Aku hampir berpikir bahwa tidak ada orang di dalamnya." balas wanita itu.
"APA?" Sasuke tak peduli lagi. Masa bodoh dengan segala aturan. Sakuranya jauh lebih penting.
"Tu-tuan!" Wanita itu berteriak dan berusaha menghentikan Sasuke. Untung saja tak ada orang lain di toilet wanita selain wanita paruh baya tadi dan Sakura yang masih berada dalam salah satu ruangan toilet. Tanpa pikir panjang Sasuke segera mendobrak satu-satunya pintu toilet yang terkunci.
-bruaak
"SAKURA!" betapa terkejutnya Sasuke menjumpai sakura tergeletak lemas di lantai toilet itu dengan posisi terduduk dan badan bersandar ke dinding.
"Astaga!" wanita itu juga sangat terkejut. "A-aku ini dokter! Bolehkah aku membantu?" tanya wanita itu.
"To-tolong!" ujar Sasuke. dia sudah sangat frustasi dengan keadaan ini, tadi Sakura masih baik-baik saja.
Wanita itu segera membaringkan Sakura dengan benar dan memompa pelan dada Sakura.
"U-huk!" mata sakura terbuka perlahan.
"Sakura! Syukurlah!" Sasuke segera mendekap sakura dengan erat.
"Hei, anak muda! Pacarmu bisa pingsan lagi!" teriak wanita itu. Kemudian ia membantu Sakura untuk duduk.
"A-ah, maaf Sakura. Apa yang terjadi? Apa kau tidak enak badan?" tanya Sasuke.
"A-aku tidak tahu. beberapa hari ini aku merasa pusing dan mual di pagi hari." Sakura memegang kepalanya.
"Hm? Jangan-jangan.. apa kau ingin aku memeriksamu? Aku ini dokter. Namaku Tsunade." ujar wanita itu.
"Ta-tapi pesawat..." Sakura tampak ragu.
"Sudah lupakan, kesehatanmu jauh lebih penting. Bolehkah ia dia diperiksa diluar saja?" tanya Sasuke.
"Baik. Kita bisa duduk diluar." Tsunade mengangguk.
:
Di kediaman Uchiha, Mebuki masih terus menerus berusaha menenangkan Kizashi. Fugaku hanya diam menatap awan yang gelap disertai petir yang menyambar.
"Apa kau tidak mau duduk sebentar? Dari tadi kau sudah berdiri seperti ini." tawar Mikoto pada Fugaku.
"Ah, baiklah." Fugaku akhirnya duduk di sofa yang ada pada ruang keluarga itu.
Mikoto tersenyum, ia menyalakan televisi untuk menghilangkan suasana canggung ini. Sejujurnya hati Mikoto jauh lebih sakit daripada siapapun, hanya saja ia tak menunjukkannya.
Breaking News!
Pesawat Konoha Airlines dengan nomor penerbangan KH2808 telah menghilang dari radar ATC sejak 15 menit yang lalu. Diketahui terdapat 95 penumpang di dalam pesawat dengan tujuan Singapura. 10 diantaranya adalah anak-anak dan 3 diantaranya masih balita. Saat ini para petugas sedang berusaha untuk menghubungi pesawat dan memperkirakan letak pesawat.
Hati Fugaku seolah remuk ketika mendengar berita tersebut. Ia tak pernah terpuruk lebih dari ini. Tentu saja ia sangat jelas tahu itu pesawat yang ditumpangi Sasuke dan Sakura. Seketika mulutnya tersegel dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata apapun.
"Fu-fugaku.. katakan padaku bahwa itu bukan pesawat yang ditumpangi.." Mikoto tampak panik.
Fugaku hanya terdiam dan menunduk. Ia mengangguk dengan perlahan namun pasti.
Mikoto terdiam, air matanya berlinang begitu saja. Tubuhnya seketika lemas dan tersungkur ke lantai. Matanya yang kosong menatap lurus ke depan, bagai tubuh tak berarwah.
"A-apa? Tidak! Sakura!" Kizashi histeris.
Mebuki masih menatap televisi, "Sa-Sakuraaa..! Huaaaa..!" teriakan dan tangisan Mebuki tak tertahankan.
"Tu-tuan, nyonya, apa yang terjadi?" Juugo yang baru saja masuk ke ruangan itu tentu bingung melihat keadaan kacau keempat orang tua itu dengan televisi yang menyala.
"Sa-sasuke.." lirih Mikoto diiringi tangisan. "Kembalikan anakku!"
:
Sementara itu di tempat lain.
"Kau sudah memastikan kecelakaannya?" tanya Suigetsu pada seseorang di telepon.
"Ya, pesawat itu sudah jatuh. Kami berada tak jauh dari lokasi jatuhnya saat ini." suara dari seberang telepon.
"Hm, baiklah. Terima kasih. Kerja bagus." Suigetsu pun menekan tombol merah pada ponselnya. "Khukhu.. rasakan kau Uchiha! Sekarang Karin hanya milikku dan dia tidak akan memikirkanmu lagi!"
To be Continue
Hiyaaa, maafkan author lagi ya readers.. astaga sudah lama sekali ini.
Author lagi sibuk mencari kerja.. betapa kerasnya hidup.. hiks.
dan author juga sbuk main Mobile Legends XD hahaha, kalau yang ini bukan alasan sih sepertinya wkwk
Dan utk selanjutnya, maaf ya author tidak bisa memastikan kapan akan update. Terima kasih masih mengikuti cerita ini.
Balasan review:
CEKBIOAURORAN: hoo kalau itu mungkin beberapa chapter ke depan lagi, kita lihat sasuke bakal maafin karin atau tidak ya heheh. Thanks sudah read dan review :D
Laila: wkwk, masih stres nihh nyari krja karena ga ada yang cocok sm author hmp.. iya ini baru update, maaf ya. Thanks sudah read dan review :D
Yoshimura Arai: wkwk karin sudah terobsesi tuh sama sasuke. maaf nih baru update :( Thanks sudah read dan review :D
Bukan Guest: hahaha, lho ini kan hanya cerita fiksi. kenapa disangkut paut pada kenyataan? lagipula, nanti Sasuke juga akan dirawat. sebenarnya selama ini itu dia bukan tidak direhabilitasi sama sekali lho. kalau mau dikaitkan dengan dunia nyata, silahkan google jurnal resmi ttg rehabilitasi. disana ditulis ada rehabilitasi rawat jalan. sooo, sasuke bukan tidak direhabilitasi sama sekali. #spoiler. Thanks sudah read dan review :D
Kirara967: wkwkwk aduh aku juga rindu Kirara-chan wkwk waduh sabar sabar.. om Fugaku udah punya rencana tuh, satu2 rencananya wkwk udah lulus malahan jdi galau nyari kerjanya, hmp. maaf nih baru sempat dilanjut. Thanks sudah read dan review :D
uchi: eh, stuju banget! meski author masih gak tegaan sih liat orang jahat menderita hmp. tapi yaa saksikanlah nanti wkwk. Thanks sudah read dan review :D
gome: semi-hiatus deh wkwk maafkan author ya baru sempat update sekarang :( Thanks sudah read dan review :D
Dewazz: itu yah, kalau menurut jurnal rehabilitasi yang resmi, seharusnya bisa tapi butuh waktu. butuh dukungan dari lingkungan dan masyarakat juga. namun yaa darahnya kan sudah ada narkoba, nah keturunannya pasti ada yang lemah. kemarin author baca sih jelasinnya gitu jurnalnya, hehe. tapi balik lagi. ini kan cerita fiksi hahaha, ga sama kyk kenyataan gpp donk harusnya ya? wkwkw Thanks sudah read dan review :D
PIYORIN: author yang terima kasih masih mau baca meski updatenya gak pasti waktunya gini :( Thanks sudah read dan review :D
hanazono yuri: iya, maaf baru sempat lanjut :( Thanks sudah read dan review :D
eka: ini nih, maaf ya nunggu lama :( Thanks sudah read dan review :D
sarahachi: wkwkwk halo sara-chan, iya sepertinya sui yang akan menyadarkan karin ya :p saya kuliah sistem informasi hehe, terima kasih ucapan selamatnya. Maaf ya lama update :(. Thanks sudah read dan review :D
Tiqahh401: maaf lama update :( padahal udah greget ya wkwkwk Thanks sudah read dan review :D
CherrySand: iya, nyebelin banget's' wkwk. Thanks sudah read dan review :D
UchihaNaya09: waduh ini review semalam ya, author tersanjung masih ada yang review setelah lama ga update, hehe. author juga sibuk cari krja dan main game sampe gak konsen sm fic ini XD hehe. ini sudah lanjut lho. Thanks sudah read dan review :D
Oh ya, author mau tanya nih. Untuk para readers maupun readers yang merangkup author, dalam pembuatan fic lebih bagus sesuai kenyataan atau bagaimana ya? Karena sepertinya dilema juga XD kalau sesuai kenyataan, imajinasi terbatas. kalau tidak sesuai nanti di komplain XD wkwk
Mohon bantuannya ya hehe
Thanks sudah read, review, favorite dan follow fic ini :D
Sincerely,
Shady.
