Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*
Genre : Romance
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun
and many more...
Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR
Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D
Happy Reading ~
Chapter 2
"Apa? Hyungmu seorang pianis?" Yixing menatap Sehun yang duduk di sampingnya dengan mata terbelalak lebar.
Sehun balas menatapnya dan tersenyum tipis, tapi Yixing dapat melihat raut kecemasan di wajah namja itu. "Ya. Dan dia sangat terkenal." Sahut Sehun pelan.
Yixing merasa sekujur tubuhnya berubah dingin. "Aku mematahkan tangan seorang pianis terkenal. Ya Tuhan." Gumamnya lirih. Yixing memejamkan mata dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Yixing-ah, ini bukan kesalahanmu." Sehun memegang bahu Yixing dan mengguncangnya pelan, mencoba menghiburnya. "Kau juga tidak sengaja tersandung karpet dan menjatuhkan diri dari tangga untuk mencelakainya."
Yixing menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Dia dan Sehun sedang duduk di deretan bangku panjang di koridor rumah sakit, menunggu Junmyeon yang masih berada di ruang periksa. Ajaib, Yixing sendiri tidak terluka setelah terjatuh dari tangga. Hanya ada sedikit memar di pahanya. Pergelangan kakinya hanya terkilir ringan dan sekarang sudah sembuh.
Sedangkan Kim Junmyeon... Mereka tidak tau separah apa cedera yang dialami Junmyeon, tapi melihat namja itu memejamkan mata dan menggertakkan gigi menahan sakit selama perjalanan ke rumah sakit, Yixing sudah mempersiapkan diri menerima yang terburuk. Dia tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa yang akan kau lakukan jika kau mematahkan tangan pianis terkenal?
Tentu saja hal pertama yang harus dilakukan adalah meminta maaf. Yixing belum sempat melakukan itu tadi. Yah, dia harus minta maaf. Setelah itu? Apa lagi? Membayar biaya perawatannya? Bagaimana kalau Junmyeon tidak bisa bermain piano lagi?
Gagasan itu tiba-tiba menyelinap dalam benak Yixing dan seketika dia menegang. Ya Tuhan, semoga itu tidak terjadi. Dia akan merasa sangat berdosa jika hal itu sampai terjadi.
Yixing menghela nafas berat. Bau rumah sakit yang sangat dibencinya membuat dadanya terasa sesak. Samar-samar telinganya menangkap suara-suara di sekitarnya. Tiba-tiba Sehun melompat berdiri di sampingnya. Yixing mendongak dan melihat Junmyeon keluar dari ruang pemeriksaan bersama seorang dokter yang sudah berumur. Sang dokter mengatakan sesuatu dan Junmyeon mendengarkan sambil mengangguk muram. Pandangan Yixing beralih ke tangan kanan Junmyeon yang dibebat dan tergantung kaku di depan dadanya.
Jadi... tangannya benar-benar patah?
"Hyung, bagaimana tanganmu? Apa kata dokter?" tanya Sehun ketika Junmyeon berjalan menghampiri mereka.
Yixing ikut berdiri dengan perlahan. Saat itu juga mata Junmyeon beralih menatapnya dan Yixing merasa jantungnya berhenti sejenak dan nafasnya tercekat. Mata hitam yang menatapnya dengan dingin itu membuat Yixing sangat yakin bahwa Junmyeon sama sekali tidak senang melihatnya berada disana. Yixing berharap, bumi menelannya saat itu juga. Seandainya tatapan bisa membunuh, sekarang Yixing pasti sudah terkapar tak bernyawa.
Lalu tatapan mematikan itu beralih ke Sehun. "Kenapa dia masih ada di sini?" tanya Junmyeon dengan nada rendah dan pelan.
Yixing menggigit bibir dan melirik Sehun sekilas. Dia tau persis siapa "dia" yang dimaksud Junmyeon. Begitu pula Sehun.
"Hyung, ayolah. Yixing tidak sengaja mencelakaimu." Kata Sehun berusaha menenangkan Junmyeon.
Junmyeon tidak berkata apa-apa. Tanpa melihat ke arah Yixing, dia berjalan melewati Sehun dengan langkah lebar.
"Hyung." Panggil Sehun. "Hyung!"
Yixing menatap punggung Junmyeon yang berjalan pergi menyusuri koridor dengan perasaan campur aduk. Bingung, cemas, takut.
Sehun mendesah berat dan menatap Yixing sambil tersenyum. "Ayo." Ajaknya.
Yixing menatap Sehun, lalu menatap sosok Junmyeon yang semakin menjauh, lalu kembali menatap Sehun. "Eh...kurasa aku tidak..."
"Ayolah." Sela Sehun sambil meraih siku Yixing dan menariknya menyusul Junmyeon yang sudah tiba di depan pintu lift di ujung koridor. Begitu pintu lift terbuka dan mereka melangkah masuk, Yixing langsung berdiri menempel di sudut. Junmyeon tidak berbicara sepatah katapun. Sehun menatap Yixing dan Junmyeon bergantian, lalu menghembuskan nafas pelan.
"Jadi, hyung, apa kata dokter?" tanya Sehun sekali lagi.
Yixing memberanikan diri melirik Junmyeon. Dia tidak bisa melihat namja itu dengan jelas dari tempatnya berdiri, tapi dari apa yang bisa dilihatnya, wajah Junmyeon masih terlihat menakutkan. Lalu terdengar suara Junmyeon yang rendah. "Aku tidak boleh menggerakkan tanganku. Dan tanganku akan tetap dibebat seperti ini selama dua bulan ke depan. Setelah itu kita baru bisa tau dengan pasti apakah ada kerusakan permanen dan apakah aku bisa menggerakkan tanganku seperti dulu lagi."
"Dua bulan?" tanya Sehun kaget. "Berarti konsermu minggu depan..."
"Mm."
Konser? Minggu depan? Konser apa? Yixing menatap Sehun dan Junmyeon bergantian. Apa yang sedang mereka bicarakan? Jangan-jangan...
"Harus dibatalkan."
Tepat setelah Junmyeon mengucapkan kalimat itu, pintu lift terbuka. Junmyeon dan Sehun melangkah keluar dari lift, sementara Yixing masih mematung sejenak. Kemudian dia tersadar dan cepat-cepat menyusul mereka.
Jadi Kim Junmyeon seharusnya mengadakan konser minggu depan? Dan sekarang dia harus membatalkan konser itu karena tangannya cedera? Yixing memang tidak tau banyak tentang penyelenggaraan konser, tapi membatalkan suatu pertunjukkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada masalah ganti rugi dan semacamnya. Bukankah begitu? Astaga, masalah ini semakin rumit.
Sepanjang perjalanan pulang, Yixing berusaha menenangkan diri dan mengumpulkan keberaniannya. Dia memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Baru saja Yixing hendak membuka mulut untuk meminta maaf pada Junmyeon, tiba-tiba namja itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menekan salah sartu tombol dan menempelkan benda itu ke telinga. Yixing mengurungkan niatnya dan menutup mulutnya kembali.
"Hyung menelepon siapa?" tanya Sehun.
"Yifan."
"Manajermu?"
Junmyeon mengangguk singkat. "Yifan? Ini aku. Aku ingin kau membatalkan konser minggu depan."
Yixing menggigit bibir.
"Tidak, bukan hanya konser di London. Tapi semuanya. Ya, semuanya. Paris, Berlin, Roma, Madrid...Ya, Yifan, semuanya. Batalkan semua jadwalku sampai akhir tahun."
Yixing menggigit kukunya. Jadi bukan hanya satu konser? Apakah keadaan bisa lebih buruk lagi?
"Akan kuceritakan besok." Lanjut Junmyeon. "Sekarang katakan padaku apa yang bisa kau lakukan tentang pembatalan ini?"
Yixing tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan setelah itu. Yixing memandang keluar jendela, tapi dia tidak benar-benar menikmati sesuatu. Pemandangan di luar sana melesat lewat begitu saja seperti bayangan samar. Hari ini bukan hari yang mudah bagi Yixing. Bukan hanya karena masalah dengan Junmyeon, tapi harinya sudah terasa salah sejak Yixing membuka mata pagi ini. Dan sekarang segalanya bertambah buruk.
Sehun menghentikan mobilnya di depan salah satu gedung bertingkat empat di tepi jalan. Junmyeon menutup ponsel dan menoleh pada Sehun. "Sehunie, apakah besok kau bisa mengantarku menemui Yifan? Aku tidak bisa mengemudi dengan keadaan seperti ini."
"Maaf, hyung. Besok aku tidak bisa." Jawab Sehun dengan nada menyesal. "Kami harus tampil dalam acara amal untuk anak-anak."
"Aku bisa." Dua kata itu meluncur begitu saja dari mulut Yixing, membuat kedua namja Kim yang duduk di depannya serentak menoleh menatapnya. Yah...sebenarnya hanya Sehun yang menoleh menatapnya. Junmyeon hanya memiringkan kepala sedikit, melirik Yixing sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Aku..." gumam Yixing salah tingkah. "Aku bisa... Maksudku..."
Junmyeon menghela nafas panjang. "Tidak perlu. Biar kusuruh Yifan yang datang kesini besok pagi." Katanya sambil membuka pintu dan melangkah keluar.
Sehun melempar seulas senyum menenangkan ke arah Yixing lalu bergegas menyusul Junmyeon yang sudah mulai menaiki tangga batu di luar gedung. Yixing tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan kedua kakak beradik itu. Yixing menelan ludah ketika mata gelap Junmyeon menoleh ke arahnya. Lalu Yixing melihat Junmyeon berbalik dan masuk ke dalam gedung. Ketika pintu depan itu tertutup, barulah Yixing menghembuskan nafas yang ternyata ditahannya sejak tadi.
Sehun menuruni tangga dan meghampiri Yixing. "Jangan khawatir. Junmyeon hyung tidak menyalahkanmu."
Yixing menatap Sehun dengan ragu. "Kau yakin? Kau tau, dia terlihat sangat menakutkan bagiku."
Sehun tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. "Aku akan mengantarmu kembali ke studio."
Yixing menggeleng. "Tidak perlu, Sehun-ah. Lebih baik kau temani hyungmu saja." Melihat Sehun yang sepertinya hendak membantah, Yixing memaksa bibirnya untuk tersenyum dan cepat-cepat menambahkan. "Aku akan meneleponmu nanti. Oke?"
**ooo**
Yixing berlari-lari kecil memasuki studionya dan segera pergi ke loker untuk bersiap-siap. Kelasnya akan dimulai setengah jam lagi. Yixing sudah menjadi instruktur tari kontemporer di studio itu selama kurang lebih satu tahun. Yixing menyukai pekerjaannya. Menari adalah hidupnya. Menari adalah jiwanya. Dia tidak punya keahlian apapun selain menari. Yixing tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya apabila dia tidak bisa menari lagi.
Yixing membuka pintu loker dan mengeluarkan tasnya. Lalu dia duduk di bangku panjang di tengah-tengah ruangan dan menarik nafas panjang. Yixing mengeluarkan tabung plastik kecil dari dalam tas, membuka tutupnya, menjatuhkan sebutir pil ke telapak tangannya dan langsung memasukkannya ke mulut.
"Yixing?"
Yixing tersentak dan menoleh. "Oh, Yuri-ya, annyeong." Sapanya ketika melihat rekan kerjanya.
Yuri menggerakkan dagunya, menunjuk tabung plastik yang ada di genggaman Yixing. "Kau sakit?" tanyanya.
Yixing melempar tabung plastik itu dalam tasnya dan mendesah. "Sakit kepala."
"Karena jatuh dari tangga?"
"Bagaimana kau bisa tau tentang kejadian di tangga tadi?" Yixing balas bertanya. "Bukankah tadi kau tidak ada?"
Yuri tertawa kecil. "Hyukjae oppa memberitahuku begitu aku kembali sehabis makan siang. Dia bilang Sehun dan temannya juga ada disana waktu itu dan mereka yang mengantarmu ke rumah sakit."
Yixing mengernyit. "Dia bukan teman Sehun, tapi kakaknya. Dan bukan aku yang terluka, tapi dia."
"Oh, ya? Tapi dia tidak apa-apa, kan?
Yixing mendesah berat. "Tangannya terkilir dan harus dibebat selama dua bulan ke depan."
"Oh? Apakah dokter mengatakan sesuatu? Apakah cederanya serius?"
Yixing mengangkat bahu. "Entahlah."
"Kalau cederanya parah, pasti dokter sudah mengatakan sesuatu. Mungkin hanya terkilir sedikit. Bukan masalah besar." kata Yuri.
Yixing tersenyum samar. "Mudah-mudahan begitu."
Yuri melepas jaketnya dan menggantungnya di balik pintu loker. "Aku lega kau tidak terluka, tapi aku ingin sekali melihat reaksi Sehun ketika kau terjatuh dari tangga. Dia pasti panik setengah mati."
Yixing memasukkan tasnya ke dalam loker. "Oh ya? Kenapa?"
Yuri menoleh dengan alis terangkat. "Kenapa? Yixing-ah, Sehun jelas-jelas menyukaimu. Dia setuju mengajar disini karena kau yang memintanya. Jangan bilang kau tidak menyadarinya."
Yixing menyadarinya, tapi dia hanya tersenyum. "Sehun memang baik."
Yuri menutup pintu loker dan menatap Yixing. "Dia memang baik. Jadi apa yang kau tunggu?"
"Apa?"
"Dia baik, menyenangkan, dan menurutku enak dipandang. Jadi apa lagi yang kau tunggu?" tanya Yuri sekali lagi. "Kau tidak menyukainya?"
"Aku menyukainya." Bantah Yixing.
"Tapi bukan dalam pengertian yang itu."
Yixing menutup pintu loker dan tersenyum kecil. "Ayo, kita pergi. Kelas akan dimulai sebentar lagi."
"Lagi-lagi mengalihkan pembicaraan." Gerutu Yuri, lalu mengikuti Yixing keluar dari ruangan.
**ooo***
Junmyeon berjalan menyusuri trotoar, kembali ke gedung apartemennya sambil menyesap kopinya dengan perasaan lega. Dia tidak bisa berfungsi dengan baik sebelum minum secangkir kopi setiap pagi. Karena itu, pagi ini dia hampir gila karena tidak bisa membuat kopi seperti biasa. Kemarin dia baru menyadari bahwa ada banyak hal sederhana yang tidak bisa dilakukannya dengan satu tangan, termasuk membuat kopi. Satu-satunya hal yang berhasil dilakukan Junmyeon dengan satu tangan adalah membuat dapurnya berantakan.
Semua ini gara-gara namja itu. Junmyeon mengumpat dalam hati. Tidak, dia tidak akan memikirkan namja itu. Tidak sekarang. Kalau dia memikirkan namja itu, yang ingin dilakukannya sekarang adalah meremukkan gelas plastik berisi kopinya atau meninju sesuatu. Jadi, tidak, dia tidak akan memikirkan namja itu sekarang. Sekarang dia hanya ingin menikmati kopinya. Meskipun kopi yang dibelinya di kafe ujung jalan itu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kopi buatannya, tapi hanya ini yang bisa didapatkannya sekarang. Dan dia harus puas dengan ini. Kopi ini saja sudah cukup. Dia tidak perlu sarapan walaupun dia kelaparan. Dia juga tidak perlu...
Junmyeon menghentikan jalan pikirannya seiring langkah kakinya yang berhenti mendadak di tengah anak tangga di depan gedung apartemennya. Terkutuklah dirinya. Junmyeon melhat namja itu berdiri di pintu depan gedung apartemennya.
Namja itu.
Mimpi buruknya.
Malaikat kegelapannya.
Dan suasana hati Junmyeon pun kembali buruk.
Namja itu berdiri membelakangi Junmyeon, menghadap interkom yang terpasang di samping pintu, menekan bel apartemen Junmyeon berkali-kali. Setelah menunggu beberapa detik dan tidak mendapat jawaban, namja itu menghela nafas panjang. Tentu saja dia belum menyadari bahwa Junmyeon sebenarnya sedang berdiri tepat di belakangnya. Junmyeon mengerutkan kening menatap malaikat kegelapannya yang mendadak muncul di depan matanya. Kenapa namja itu datang ke sini?
Namja itu masih berdiri menghadap interkom. Sebelah tangannya terangkat sekali lagi hendak menekan bel, tapi diurungkannya. Diturunkannya tangannya dan mendesah pelan. Lalu dia berbalik dan langsung terkesiap begitu melihat Junmyeon. Yixing mematung di hadapan Junmyeon dengan mata melebar kaget. Junmyeon tidak berkata apa-apa, hanya memberengut menatap namja yang telah menghancurkan dunianya dan membuatnya cacat dalam sekejap.
Yixing hendak membuka mulut, tapi Junmyeon lebih cepat. "Jangan coba-coba jatuh lagi." katanya tajam.
Yixing menatap Junmyeon dengan bingung. Dia menunduk dan menyadari apa yang dimaksud Junmyeon. Dia berdiri di puncak tangga sementara Junmyeon berdiri di tengah-tengah tangga. Wajahnya sedikit memerah. "Tidak, aku..."
"Sedang apa kau disini?" Sela Junmyeon dan dia sama sekali tidak mencoba membuat suaranya terdengar ramah.
"Aku datang untuk meminta maaf." Kata Yixing cepat. Ditatapnya Junmyeon sambil menggigit bibir.
Junmyeon menyipitkan mata.
"Aku belum sempat meminta maaf. Kemarin, maksudku. Jadi hari ini aku datang untuk meminta maaf. Aku sangat menyesal. Sungguh. Aku benar-benar tidak sengaja."
Junmyeon terdiam selama beberapa saat. "Baiklah, kau sudah mengatakannya. Sekarang pergilah." Katanya sambil berjalan menaiki anak tangga ke arah pintu depan. Junmyeon merasa harus segera menyingkir dari posisinya yang berbahaya di tengah tangga, sebelum namja itu jatuh lagi, menubruknya, dan mematahkan kedua tangan serta kakinya.
"Aku ingin membantu." kata Yixing tiba-tiba.
Junmyeon menoleh dengan alis berkerut. "Apa?"
Yixing tetap berdiri di tempatnya dan menatap Junmyeon lekat. "Aku ingin membantu." ulangnya. "Bagaimanapun, aku yang membuatmu menjadi seperti ini. Jadi..."
"Dan bagaimana kau membantuku?" potong Junmyeon datar, sama sekali tidak berniat menerima bantuan apapun dari namja itu.
Yixing terdiam sejenak, lalu berkata ragu. "Aku...bisa menjadi tangan kirimu."
"Kau bisa bermain piano?"
"Eh? Tidak."
"Kalau begitu tidak ada gunanya kau menjadi tangan kiriku." Tukas Junmyeon, lalu berbalik ke arah pintu. Junmyeon tertegun. Matanya menatap kenop pintu, lalu menunduk menatap tangan kanannya yang dibebat dan tangan kirinya yang memegang gelas kopi.
Oh, sialan.
"Kau mau aku memegangi kopimu sementara kau mengeluarkan kunci?"
Junmyeon menoleh ke arah Yixing dengan perasaan dongkol, tapi dia tidak menemukan ekspresi mengejek di wajah namja itu. Malaikat kegelapannya itu hanya menatapnya dengan ragu.
Tanpa menunggu jawaban, Yixing meraih kopi Junmyeon dan mau tidak mau, Junmyeon terpaksa membiarkan namja itu mengambil alih kopinya. Sementara Junmyeon merogoh saku celana jinsnya, Yixing melanjutkan, "Aku bisa menyirami tanamanmu kalau kau punya tanaman."
Junmyeon mengeluarkan kunci dan memasukkannya ke lubang kunci.
"Aku bisa memberi makan anjingmu...atau kucingmu, kalau kau punya anjing atau kucing."
Junmyeon memutar kuncinya dan langsung menyadari kesulitan lain yang dihadapinya. Untuk membuka pintu dari dalam, yang perlu dilakukannya hanyalah memutar kenop dan pintu akan terbuka. Tapi untuk membuka pintu dari luar, dia harus memutar kunci dan kenop pintu sekaligus. Nah, bagaimana pula...
Tiba-tiba Yixing mengulurkan tangannya yang lain di depan Junmyeon dan memutar kenop pintu. "Aku bahkan tidak keberatan disuruh bersih-bersih." Lanjutnya.
"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Yixing lagi.
Junmyeon menarik nafas dan menghembuskannya dengan kesal. Lalu dia mendorong pintu dan masuk ke dalam gedung tanpa berkata apa-apa.
Yixing menghembuskan nafas putus asa. Apakah sebaiknya dia pergi saja? Karena menghadapi Kim Junmyeon sepertinya percuma saja. Yang ada malah namja itu akan semakin membencinya. Ya, sepertinya hal terbaik yang bisa dilakukan Yixing untuk membantu Junmyeon adalah menyingkir dari hadapannya. Setidaknya untuk sementara, sampai namja itu sedikit lebih tenang.
Tapi...Yixing menunduk. Menatap kopi Junmyeon yang masih dipegangnya.
Setelah menarik nafas dalam-dalam untuk menguatkan hati, Yixingpun menyusul Junmyeon masuk ke dalam gedung.
"Tunggu." Panggil Yixing ketika dia melihat Junmyeon berjalan menaiki tangga. "Kopimu..."
Tentu saja Junmyeon tidak menjawab. Yah, mungkin dia tidak mendengar panggilan Yixing karena sosoknya sudah menghilang ketika dia berbelok di tengah tangga. Yixing mendesah dan bergegas menyusulnya.
Kenapa Junmyeon tidak menggunakan lift? Yixing tidak tau, tapi nafasnya sudah tersengal ketika dia tiba di lantai empat. Yixing berdiri di puncak tangga sambil berpegangan pada dinding dan berusaha mengatur nafas.
"Kenapa kau mengikutiku?"
Yixing mendongak mendengar suara yang dalam dan tajam itu. Diangkatnya tangannya yang masih memegang gelas kopi. "Ini..."
Junmyeon memiringkan kepala sedikit, menatap Yixing. "Naik tangga sedikit dan kau sudah kehabisan nafas? Seingatku Sehun pernah berkata bahwa kau seorang penari."
Yixing menegakkan tubuh. "Penari juga manusia." Jawabnya datar.
Junmyeon berkacak pinggang dan menggerutu kesal. "Kenapa kau terus mengikutiku? Apa sebenarnya yang kau inginkan?"
Yixing memejamkan mata sejenak. Dia harus mengendalikan diri. Tarik nafas... keluarkan... tenangkan diri. Lalu dia membuka mata dan menatap Junmyeon. "Baiklah, aku akan mengatakannya padamu sekali lagi." katanya dengan nada pelan tapi jelas. "Aku datang kesini untuk meminta maaf dan sebenarnya ingin bertanggungjawab atas semua yang sudah kulakukan. Sehun merasa kau membutuhkan bantuan dan karena dia tidak bisa menemanimu setiap saat, kupikir mungkin aku bisa membantu." Yixing berhenti sejenak untuk mengambil nafas, lalu melanjutkan. "Aku sudah meminta maaf dan aku sudah menawarkan bantuan. Tapi sepertinya kau tidak bersedia keduanya. Baiklah, tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan. Dan sekarang kurasa aku tidak perlu merasa bersalah lagi."
Junmyeon menatap Yixing dengan alis terangkat, walaupun raut wajahnya sulit dibaca.
Yixing menghampiri Junmyeon dan menyodorkan kopi yang masih dipegangnya ke arah namja itu. "Ambil ini." katanya pendek. Junmyeon menerimanya, tapi masih tetap tidak berkata apa-apa.
"Semoga harimu menyenangkan." Gumam Yixing datar, lalu berjalan ke arah lift. Dia tidak sudi turun melalui tangga.
"Siapa namamu?"
Yixing berhenti melangkah dan berbalik menatap Junmyeon dengan curiga. Apa lagi sekarang? Namja itu mau melaporkannya ke polisi?
"Yixing. Zhang Yixing."
"Kau benar."
Yixing mengerutkan kening. "Apa?"
"Kau benar." Ulang Junmyeon. Seulas senyum hambar terlukis di bibirnya. Yixing tidak yakin dia suka melihat senyum seperti itu. "Kau memang bersalah. Dan kalau dipikir-pikir, kau memang harus bertanggungjawab karena telah mengacaukan hidupku dan membuatku cacat."
"Cacat? Kau tidak cacat." Sela Yixing. " Tanganmu akan sembuh dalam beberapa bulan."
"Tidak ada yang menjamin tanganku bisa kembali seperti sediakala." Balas Junmyeon tajam. "Dan semua ini gara-gara kau."
Yixing menelan ludah."Aku tau. Karena itulah..."
"Baiklah." Potong Junmyeon tanpa menghiraukan perkataan Yixing. "Kalau kau memang ingin menjadi pesuruhku, kuijinkan kau menjadi pesuruhku."
Apa!? Pesuruh? batin Yixing dongkol.
TBC
Yuhuuuuuu, saya datang bawa chapter 2. Bagaimana? Apa kalian suka? :D
Mulai dari sini bakal banyak SuLay momentnya. Meski bukan moment manis sih #plak. Secara Yixing kan memulai hari-harinya sebagai pesuruh Junmyeon, hahahaha. Jadi, kemanapun Junmyeon pergi, otomatis Yixing bakal ikut.
So, selama menikmati ~ ~
Terima kasih untuk yang udah baca, review, fav dan follow cerita ini. Gomawo *peluksatusatu*
Oke, saatnya balas reviewer yang gak login :
~ GabyGaluh : Oke, gomawo :D
~ guestexoxeo : Saya juga mewek baca novelnya. Menyentuh banget #malahcurhat. Untuk endingnya, ikutin aja ya xD. Gomawo :D
~ flappyixing : Ini udah lanjut. Gomawo :D
Sampai jumpa chapter depan ~
Wanna to review again? /wink/
