Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*
Genre : Romance
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun
and many more...
Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR
Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D
Happy Reading ~
Chapter 3
Kuijinkan kau menjadi pesuruhku? Yang benar saja!
Yixing mengerucutkan bibirnya dan mengikuti Junmyeon masuk ke dalam apartemennya yang luas.
"Jangan berpikir aku tidak ingin meminta ganti rugi darimu."
Yixing berhenti mengagumi ruang duduk yang dibanjiri cahaya matahari dan menoleh ke arah suara Junmyeon.
Junmyeon meletakkan kopinya di atas meja kecil yang dipenuhi kertas dan buku. Lalu dia menegakkan tubuh dan menatap Yixing. "Kau tau seberapa besar kerugian yang kau timbulkan?"
"Tidak." jawab Yixing jujur.
"Sehun bilang, kau tidak mungkin sanggup membayar kalau aku meminta ganti rugi darimu."
Yixing terdiam. Tanpa sadar, dicengkeramnya ujung kaosnya erat-erat. Sepertinya kerugian yang ditimbulkannya memang sangat besar.
Junmyeon mendengus. "Asal kau tau, Sehun yang memintaku agar tidak menyulitkanmu. Hah, menggelikan. Seharusnya dia tau siapa sebenarnya yang kesulitan disini."
Yixing terdiam. Tidak tau harus mengatakan apa. Pikirannya mendadak kosong. Bahkan ketika Junmyeon mengulurkan tangannya, Yixing menatap namja itu dengan bingung.
"Mana kunciku?" tanya Junmyeon datar.
Yixing tersadar dan cepat-cepat mengembalikan kunci apartemen Junmyeon yang masih dipegangnya.
"Nah, sepertinya kau sudah tak sabar ingin mulai bekerja. Bagaimana kalau kau membuat sarapan? Dapurnya di sebelah sana."
Yixing menoleh ke arah yang ditunjuk Junmyeon dan mendesah pelan. Dia sendiri yang menginginkan hal ini kan? Dia sendiri yang datang menawarkan diri untuk membantu namja itu.
"Kau mau sarapan apa?" tanya Yixing enggan.
Junmyeon mengikuti Yixing ke dapur. "Bagaimana kalau kau memberiku kejutan? Aku suka kejutan." jawab Junmyeon acuh.
Langkah Yixing mendadak terhenti ketika melihat keadaan dapur yang berantakan. Biji kopi yang berserakan, pecahan cangkir yang berhamburan, dan juga genangan air yang memenuhi meja dan lantai. Apa tempat ini baru saja diterpa angin topan?
"Sebaiknya kau membersihkan dapurnya dulu." Lanjut Junmyeon sambil berbalik meninggalkan Yixing dan masuk ke kamarnya.
Yixing mengerang kesal. Sepertinya Junmyeon ingin membuat kopi, tapi dia tidak bisa melakukannya dengan satu tangan. Dan beginilah hasilnya. Yixing menghela nafas dan mulai bekerja. Kim Junmyeon itu benar-benar menyebalkan, batinnya.
**ooo**
Junmyeon tertegun menatap sarapan yang disiapkan Yixing untuknya.
"Apa-apaan ini?"
"Apa? Kenapa?" tanya Yixing polos.
"Hanya susu dan sereal? Hanya ini yang bisa kau lakukan?" Junmyeon memicingkan mata, menatap Yixing dengan tatapan tidak percaya.
"Hanya ini yang kutemukan di dapurmu." Sahut Yixing gondok. Sedikit tersinggung mendengar nada mengejek dalam suara Junmyeon.
"Aku yakin masih ada daging dan telur."
"Tidak ada." Jawab Yixing tegas. "Kecuali kau menyembunyikannya di kamar tidurmu."
Junmyeon cemberut. "Aku yakin masih ada roti."
"Memang ada. Tapi aku sudah membuangnya. Memangnya kau mau makan roti yang sudah berjamur?"
Junmyeon semakin mengerucutkan bibirnya.
"Sungguh, tidak ada apa-apa di dapurmu. Harusnya kau yang lebih tau karena kau yang tinggal di sini."
Junmyeon menyipitkan mata, menatap Yixing dengan tajam, membuat Yixing kembali berharap bumi segera menelannya.
"Kalau kau mau, aku bisa membantumu membeli persediaan makanan atau apapun yang kau butuhkan dan membawanya ke sini nanti sore, setelah aku selesai mengajar." Yixing menawarkan diri.
Sebelum Junmyeon sempat menjawab, bel pintu berbunyi. Refleks Yixing menoleh ke arah pintu kemudian menatap Junmyeon.
"Apa yang kau tunggu? Cepat buka pintunya!"
Yixing mendesah mendengar nada tajam dalam suara Junmyeon. Baiklah, dia mengerti kenapa namja itu selalu bersikap sinis padanya. Yixing berjalan ke pintu dan membukanya. Seorang namja muda, jangkung, dan berambut pirang menatapnya dengan alis terangkat.
"Siapa kau?" tanyanya tanpa basa-basi, tapi tidak ada nada tajam dalam suaranya.
Yixing belum sempat menjawab karena suara Junmyeon terdengar di belakangnya. "Oh, Yifan. Masuklah."
Yixing menepi dan membiarkan namja yang terlihat seperti atlet basket profesional itu berjalan melewatinya dan berjalan ke ruang duduk.
"Siapa dia? Dan apa maksudmu kau ingin membatalkan...Oh, astaga! Kim Junmyeon, apa yang terjadi padamu? Tanganmu kenapa?"
Junmyeon mendesah pelan. Disandarkannya tubuhnya ke sofa. "Karena itulah kubilang semua jadwalku sampai akhir tahun harus dibatalkan."
"Ini bencana." Gumam Yifan. "Aku harus segera menghubungi orang-orang. Bisakah kau ceritakan padaku apa yang terjadi pada tanganmu?"
Junmyeon menunjuk Yixing dengan dagunya. "Orang yang ada di belakangmu itu yang membuat tanganku jadi seperti ini."
Yifan berputar dan menatap Yixing. "Kau mematahkan tangannya?"
Yixing menggeleng cepat. "Tidak, bukan begitu. Aku tidak sengaja."
Yifan memiringkan kepala. "Sengaja atau tidak, kita tetap harus menghitung ganti ruginya."
"Eh, itu..." Yixing melirik Junmyeon sekilas sebelum menundukkan kepalanya.
"Dia teman Sehun. Jadi Yifan, kau tidak perlu repot-repot meminta ganti rugi darinya."
Yifan mengangkat bahu tak peduli. "Teman Sehun atau bukan..."
"Lagipula dia tidak akan sanggup mengganti kerugian sebesar itu. Dan dia juga sudah memikirkan cara lain untuk menggantinya."
Yifan mengerutkan kening. "Bagaimana caranya?"
Junmyeon mengayunkan lengan kirinya ke arah Yixing. "Yifan, kenalkan. Ini...tunggu, siapa namamu? Ah, sudahlah. Yifan, ini pengurus rumahku yang baru."
Pesuruh dan pengurus rumah. Sialan. Yixing menahan kekesalannya.
Yifan tersenyum kecil. "Pengurus rumah?"
Meskipun dongkol, tapi apa lagi yang bisa Yixing lakukan selain membungkuk kecil ke arah Yifan dan memperkenalkan diri?
"Halo, namaku Yixing. Zhang Yixing."
Yifan tersenyum lebar. "Wu Yifan. Aku agen sekaligus manajer Junmyeon. Jadi kau teman Sehun?"
"Ya, begitulah." Jawab Yixing. Sepertinya Yifan ini orang yang baik.
"Hei, Wu. Mengobrolnya nanti saja." Sela Junmyeon tajam. "Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
Yifan menoleh ke arah Junmyeon. "Ah ya, baiklah."
Teringat akan posisinya, Yixing bertanya enggan. "Mau minum kopi?"
"Boleh. Terima kasih." jawab Yifan cepat.
Yixing menyadari Junmyeon menatapnya dengan curiga. Apa? Sebagai pengurus rumah, aku harus menyuguhkan minuman untuk tamu kan? batin Yixing dongkol. Yixing menahan diri untuk tidak melempar sesuatu ke kepala Junmyeon.
"Kau mau juga?" tanyanya pendek.
Junmyeon terlihat berpikir, lalu menjawab. "Boleh."
Ketika Yixing kembali ke ruang duduk dan meletakkan cangkir kopi di atas meja, hanya ada Yifan yang duduk disana. Namja itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Sementara Junmyeon terlihat berdiri di beranda, juga sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Terima kasih." kata Yifan sambil menutup teleponnya dan meraih cangkir kopinya.
"Aku sudah membuat masalah besar, kan?" tanya Yixing dengan perasaan bersalah.
"Tentu saja." Jawab Yifan. Tapi nada suaranya terdengar ringan.
Yixing memeluk nampan dengan erat. "Seberapa parah?"
"Tenang saja. Jangan terlalu dipikirkan. Serahkan saja padaku. Tidak ada yang tidak bisa kuatasi." Yifan tersenyum lebar. Lalu dia melambaikan tangannya, memanggil Yixing. "Jangan berdiri saja disana. Sini, duduklah. Wah, kopi ini enak sekali."
Jawaban Yifan membuat Yixing sedikit merasa lega. Perlahan dia berjalan ke sofa dan duduk di samping Yifan. Yixing melirik sekilas ke arah Junmyeon lalu berbisik pada Yifan.
"Apakah dia sangat terkenal?
"Junmyeon? Tentu saja."
Mata Yixing melebar. "Benarkah?"
Yifan terkekeh pelan. "Dia memang tidak terkenal di kalangan remaja seperti penyanyi pada umumnya, tapi dia sangat terkenal di kalangan tertentu. Jika kau seorang pianis atau musisi, kau pasti pernah mendengar namanya."
Yixing mengangguk paham. "Oh, begitu."
Tepat pada saat itu, Junmyeon kembali bergabung bersama mereka di sofa. Dilemparkannya ponselnya begitu saja ke atas meja.
"Bagaimana?" tanya Yifan.
"Kacau. Memangnya apa yang lagi yang kau harapkan?" jawab Junmyeon muram. Diraihnya cangkir kopi dan menyesapnya pelan. Junmyeon tertegun sejenak dan tanpa sadar Yixing menahan nafas. Tapi Junmyeon tidak berkata apa-apa. Dia kembali menyesap kopinya dan Yixing menghembuskan nafas yang sejak tadi ditahannya. Yixing melirik arlojinya dan beranjak berdiri.
"Ah, aku harus segera pergi. Aku ada kelas mengajar siang ini."
"Mengajar apa?" tanya Yifan penasaran.
"Tari kontemporer."
Yifan membulatkan matanya takjub. "Wah, kau penari rupanya. Hebat."
"Kau sudah membersihkan dapur?" sela Junmyeon datar. Membuat suasana hati Yixing yang tadinya cerah menjadi suram kembali.
"Sudah. Kau mau memeriksanya?"
"Tidak usah. Nanti saja." Jawab Junmyeon acuh.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Permisi." Yixing meraih tasnya dan berjalan ke arah pintu.
Yifan berdiri dari sofa. "Aku akan mengantarmu."
Yixing tersenyum cerah. Yifan benar-benar namja yang baik, pikirnya. Sangat berbeda dengan namja satunya yang duduk di sofa dengan tangan dibebat dan wajah ditekuk. Hah, meski enggan, tapi pada akhirnya Yixing memutuskan bertanya pada Junmyeon.
"Apakah kau ingin aku datang lagi nanti sore?"
Yixing berharap Junmyeon akan menjawab : Tidak usah. Aku tidak butuh apa-apa, jadi jauh-jauhlah dariku.
"Tidak." sahut Junmyeon pendek.
Doa Yixing terkabul. "Baiklah."
"Kami juga akan pergi sebentar lagi. Ada banyak orang yang harus kami temui dan banyak masalah yang harus kami selesaikan. Jadi kami akan sibuk sepanjang hari." Jelas Yifan panjang lebar.
"Ya, kami harus menyelesaikan masalah yang kau timbulkan." Tambah Junmyeon.
Yixing menoleh ke arah Junmyeon dengan perasaan dongkol. Kenapa namja itu selalu mengungkit-ungkit tentang "masalah" yang ditimbulkannya? Yixing menyadari "masalah" yang sudah ditimbulkannya itu dan dia mengaku bersalah. Kalau tidak, untuk apa dia bertahan disini? Lagipula, itu kan bukan kesalahan Yixing sepenuhnya. Kalau Yixing benar-benar ingin membuat Junmyeon celaka, dia pasti tidak akan membuat tangan namja itu terkilir. Kalau perlu, dia pasti akan melakukan sesuatu yang lebih buruk. Misalnya...
"Tapi kau boleh datang besok pagi." Lanjut Junmyeon datar, memotong jalan pikiran Yixing yang mulai melantur.
"Ya?" Yixing mengerjab bingung.
"Besok pagi, jam delapan tepat." Ulang Junmyeon tegas.
"Apa yang akan kalian lakukan? Aku bisa membantu kalau boleh." Sela Yifan sambil tersenyum cerah.
"Wu Yifan, kau mau menjadi manajer merangkap pengurus rumahku?"
Yifan menyeringai kecil. "Tidak, terima kasih. Menjadi manajermu saja sudah cukup merepotkan."
"Bagus." Junmyeon kembali menatap Yixing. "Kau boleh pergi."
Kata-kata terakhir Junmyeon dan caranya mengucapkan kata-kata itu, membuat Yixing merasa seolah-olah dia memang telah menjadi pesuruh namja itu. Yixing hampir tidak percaya dia sendiri yang dengan suka rela melemparkan diri ke dalam masalah ini. Siapa yang menduga Kim Junmyeon ternyata bisa sangat menyebalkan?
Yixing baru menyadarinya, Penyesalan memang selalu datang terlambat.
**ooo**
Bunyi samar piring yang berdenting membuat Yixing terjaga. Diraihnya jam beker yang dia letakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Hampir jam enam. Berarti dia hanya tidur sekitar tiga jam. Sudah seminggu terakhir ini dia tidak bisa tidur. Dia lelah, tapi tidak bisa tidur. Apakah ini wajar? Apakah insomnia ini akan berlangsung terus? Haruskah dia minum obat tidur? Yixing menarik nafas dan merasa dadanya sesak.
Bunyi samar yang menandakan bahwa Ummanya sedang berkutat di dapur membuat Yixing tenang. Sebentar lagi Appanya akan bangun dan bergabung dengan Ummanya untuk sarapan. Yixing tersenyum. Acara sarapan bersama itu selalu menyenangkan karena mereka akan membicarakan hal-hal yang menarik. Sebaiknya Yixing harus segera turun dan bergabung dengan orangtuanya.
"Halo, jagoan. Apa semalam tidurmu nyenyak?" tanya Zhoumi, Appa Yixing, sambil menyenggol sedikit bahu putranya dan menepuk-nepuknya pelan.
"Pagi, Appa. Yeah, tidurku sangat nyenyak." Yixing tersenyum lebar. Berbohong sedikit tidak apa, batin Yixing. Dia tidak mau membuat orangtuanya cemas.
"Matamu sedikit bengkak." Gumam Zhoumi sambil memperhatikan Yixing dengan seksama.
"Mungkin hanya sedikit lelah."
"Kau tau, Appamu ini memang sangat protektif." Timpal Victoria, Umma Yixing, sambil meletakkan sepiring sandwich di meja makan.
"Aku tau. Itu karena Appa sangat menyayangiku."
Zhoumi mengacungkan jempolnya. "Benar sekali, jagoan."
Mereka tertawa ringan. Yixing meraih sepotong sandwich dan menggigitnya pelan. "Mmmm, sandwich ini enak sekali."
"Kau mau membawa beberapa potong untuk...siapa nama temanmu itu?"
"Teman yang mana? Rekanku di studio?" tanya Yixing.
"Temanmu yang tangannya terkilir."
Yixing tersedak. "Maksud Umma, Kim Junmyeon?"
Yixing memang sudah bercerita pada orangtuanya tentang Junmyeon. Tentang kecelakaan yang menyebabkan tangan kanan namja itu dibebat, juga tentang dirinya yang membantu Junmyeon, karena dialah penyebab kecelakaan itu. Tentu saja Yixing tidak bercerita tentang sikap buruk Junmyeon padanya. Orangtuanya tidak perlu tau tentang itu. Appanya pasti akan murka kalau tau putra semata wayangnya diperlakukan seperti pesuruh oleh Junmyeon.
"Dia bukan temanku. Dia kakak temanku." Bantah Yixing sambil mengerucutkan bibirnya. Mendadak bad mood karena teringat pada namja menyebalkan itu. "Satu-satunya alasan kenapa aku membantunya adalah karena Appa dan Umma mendidikku dengan baik, agar aku bisa menjadi orang yang baik."
"Bawalah beberapa untuknya." Kata Victoria sambil mencari kotak plastik di lemari dapur.
Yixing mendesah. Apakah Ummanya masih akan memberikan sandwich kepada Junmyeon kalau dia tau sikap namja itu pada Yixing? Mungkin saja. Karena bagaimanapun, Yixing yang telah membuat tangannya terkilir. Haishh...
**ooo**
Junmyeon merengut kesal. Ini sudah hampir pukul sembilan, tapi namja itu belum datang. Dia belum mendapatkan kopi paginya dan itu membuatnya uring-uringan. Junmyeon membutuhkan namja itu untuk membuatkan kopi untuknya. Kalau nyali namja itu ciut dalam sehari dan memutuskan untuk tidak datang, Junmyeon terpaksa harus pergi ke cafe ujung jalan untuk membeli kopi dan dia akan kebingungan lagi saat harus membuka pintu gedungnya dari luar. Junmyeon menatap tuts piano di hadapannya dan suasana hatinya semakin buruk. Piano itu mengingatkannya pada tangannya yang patah, ah, terkilir lebih tepatnya. Tapi tidak ada bedanya, kan? Toh tangannya jadi tidak bisa digunakan, kan? Junmyeon berjalan mondar mandir di ruang duduk sambil terus menggerutu.
Bel interkom tiba-tiba berbunyi. Junmyeon melangkah lebar menghampiri interkom yang terpasang di dinding dan menatap layar kecil di sana. Tanpa sadar Junmyeon mendesah lega. Malaikat kegelapannya akhirnya datang juga. Junmyeon menekan tombol untuk membuka pintu depan gerbang dan menunggu. Tak berselang lama, bel pintu apartemennya berbunyi. Junmyeon membuka pintu dengan satu sentakan cepat dan menemukan Yixing sedang berdiri dengan ponsel menempel di telinga. Melihat Junmyeon, Yixing cepat-cepat mengakhiri percapakannya di telepon.
"Kau terlambat. Satu jam tiga menit." Kata Junmyeon dengan alis bertaut.
"Aku tau. Maaf. Kau sudah sarapan?" tanya Yixing sambil melangkah masuk ke dalam apartemen.
"Aku tidak butuh sarapan. Aku butuh kopi."
Yixing meletekkan tas dan kantong plastik yang dibawanya di meja ruang duduk. "Aku akan membuatkanmu kopi."
"Jadi kenapa kau terlambat padahal aku menyuruhmu datang jam delapan tepat?"
"Jalanan sangat macet hari ini. Biasanya aku tidak membutuhkan waktu lama dari Incheon ke sini."
"Kau tinggal di Incheon?"
"Tidak. Aku punya apartemen disini. Orangtuaku yang tinggal di Incheon. Kemarin aku menginap di rumah orangtuaku."
Junmyeon hanya bergumam dan menjatuhkan dirinya di sofa. Dia mendongak menatap Yixing yang masih berdiri di tempatnya.
"Kenapa masih berdiri disana? Cepat sana, buatkan aku kopi!"
"Iya iya." Yixing melangkah ke dapur. Tapi kemudian dia berbalik dan berkata pelan. "Oh, ya. Aku membawa sandwich. Karena kau belum sarapan, kau bisa makan sandwichnya dulu sementara aku membuat kopi."
Junmyeon mengamati kotak plastik yang diletakkan Yixing di meja di hadapannya. "Tidak usah. Aku tidak butuh sarapan."
"Semua orang butuh sarapan. Masa kau hanya minum kopi setiap pagi?"
"Ya."
"Cobalah dulu."
"Tidak."
"Kenapa? Takut aku meracunimu?"
Junmyeon mendongak ketika didengarnya nada kesal dalam suara Yixing. "Mungkin. Siapa tau?" jawabnya cuek.
Yixing menyipitkan mata dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sepertinya dia sedang menahan emosi. "Tidak ada racun. Ummaku yang membuatnya. Dia menyuruhku memberikannya padamu."
"Ummamu mengenalku?" tanya Junmyeon heran.
"Tidak. Tapi dia tau tentang kecelakaan itu dan dia tau aku akan membantumu selama tanganmu masih dibebat. Aish, sudahlah. Makan saja. Kau tidak perlu menghabiskannya kalau tidak mau."
Junmyeon hanya diam. Ditatapnya sandwich di hadapannya lalu mendongak menatap Yixing. "Mana kopiku?"
Yixing berbalik menuju dapur sambil menggerutu tidak jelas. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke ruang duduk dan meletakkan kopi itu di hadapan Junmyeon. Junmyeon langsung meraih cangkir itu dan menyesapnya pelan.
"Kau boleh mulai membersihkan rumah. Penghisap debu dan peralatan lainnya ada di lemari di samping pintu masuk. Dan ingat, jangan sentuh pianoku dan jangan sentuh kertas-kertasku." Peringat Junmyeon tajam. Lalu dia bangkit berdiri dan berjalan ke kamarnya. Yixing menatap pintu kamar yang sudah tertutup itu dan mendesah pelan. Yixing berjalan menuju lemari yang ditunjuk Junmyeon, mengeluarkan alat penghisap debu dan kawan-kawannya, lalu mulai bekerja.
**ooo**
Junmyeon melepas headphonenya dan melemparkannya ke atas tempat tidur. Moodnya benar-benar buruk hari ini. Bermain piano dengan satu tangan adalah hal yang menyedihkan. Apalagi dia belum mendapat inspirasi untuk lagu barunya. Semua ini karena namja itu. Eh, tapi, kemana namja itu?
Junmyeon menempelkan telinganya ke pintu, tidak terdengar apapun di luar sana. Padahal tadi Junmyeon mendengar suara berisik yang ditimbulkan namja itu selama dia melakukan pekerjaan beres-beresnya. Sekarang kemana dia? Apa sudah pulang? Junmyeon melirik jam. Ternyata sudah lumayan lama dia mengurung diri di kamar. Sekarang dia merasa sedikit kelaparan. Junmyeon melangkah keluar dari kamarnya, menuju ke dapur dan memberengut kesal ketika tidak menemukan apa-apa di kulkasnya.
Dengan malas, Junmyeon menyeret langkahnya ke ruang duduk dan menyalakan TV. Tanpa sengaja, matanya terpaku pada kotak berisi sandwich di atas meja. Hah, baiklah. Junmyeon menyerah. Dia akan makan sandwich itu. Toh namja itu sudah tidak ada. Ternyata sandwich itu sangat enak. Junmyeon merasa lebih baik dan lebih tenang setelah memakannya.
Junmyeon sedang mengunyah potongan terakhir sandwichnya ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Dia berjalan ke pintu, membukanya, dan langsung berhadapan dengan malaikat kegelapannya. Malaikat kegelapan yang memeluk dua kantong belanjaan.
"Hai. Kau mau makan apa untuk makan siang?" sapa Yixing sambil melewati Junmyeon dan masuk ke apartemen.
"Apa itu?" tanya Junmyeon bingung.
Yixing tersenyum kecil. "Karena tidak ada apapun di dapurmu, akhirnya aku memutuskan membeli beberapa persediaan makanan. Tadinya aku ingin memberitaumu, tapi kupikir kau sedang beristirahat karena kau tidak menjawab ketika aku mengetuk pintu kamarmu, karena itu aku langsung pergi saja."
"Apa saja yang kau beli?"
"Makanan sehat. Jadi kau mau makan apa untuk makan siang? Aku rasa kau belum kenyang hanya dengan makan sandwich."
Junmyeon sedikit terkejut mendengar bahwa namja itu tau dia sudah menghabiskan sandwichnya, tapi Junmyeon berhasil menjaga raut wajanya agar tetap terlihat datar. "Sandwich saja tidak cukup membuatku kenyang. Pastikan saja masakanmu itu bisa dimakan."
Yixing mendengus pelan.
"Apakah aku harus membayar untuk semua ini?" tanya Junmyeon sambil menatap barang-barang belanjaan Yixing.
"Tidak usah. Anggap saja aku sedang membayar ganti rugi padamu. Bagaimana?" jawab Yixing sambil memasukkan bahan-bahan makanan itu ke dalam kulkas.
Junmyeon mengangguk. "Baguslah kalau begitu."
"Oh, ya, apa kau tidak ingin pergi kemana-mana hari ini?" tanya Yixing.
"Pergi kemana?"
Yixing mengangkat bahu. "Siapa tau kau bosan berada di rumah terus dan ingin pergi menemui temanmu, atau ke suatu tempat. Aku bisa mengantarmu."
"Kenapa kau ingin mengusirku dari rumahku sendiri?"
Yixing menghentikan kegiatannya dan menatap Junmyeon dengan kesal. "Aish, lupakan saja. Aku juga tidak tau kenapa aku bertanya."
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel dan Yixing bergegas mengambil tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ketika melihat nama yang terpampang di layar, Yixing segera menggeser ikon berwarna hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. "Sehun-ah, ada apa?"
Junmyeon mengangkat alis. Ternyata adiknya.
"Aku? Aku ada di rumah hyungmu." Kata Yixing sambil melirik Junmyeon sekilas.
Saat itulah Junmyeon ingat dia belum memberitahu Sehun bahwa namja yang disukainya kini menjadi pengurus rumah Junmyeon. Junmyeon ingin tau bagaimana reaksi Sehun kalau dia tau soal ini.
"Membantunya. Karena sepertinya dia memang sangat membutuhkan bantuan. Iya, aku baik-baik saja. Eh, tidak usah, kau tidak perlu datang." Yixing terdiam sejenak lalu berseru pelan. "Apa? Kau sudah ada disini?"
Junmyeon dan Yixing serentak menoleh ketika bel pintu berbunyi. Yixing berjalan keluar dari dapur dan pergi membuka pintu. Junmyeon tidak menyusul. Dia duduk di salah satu bangku tinggi di dapur dan memeriksa barang-barang yang dibeli Yixing tadi.
"Sehun-ah, apa kabar? Kau sudah makan siang?" sapa Yixing riang. Mereka lalu beriringan masuk ke dalam dan langsung menuju dapur. Sehun duduk di bangku tinggi di samping Junmyeon. Dia menatap Yixing yang kembali sibuk dengan barang belanjaannya lalu menatap Junmyeon.
"Hyung, kenapa Yixing bisa ada disini?"
"Tanyakan saja padanya. Bukan aku yang memaksanya datang kesini." Sahut Junmyeon tanpa dosa.
"Aku sendiri yang menawarkan bantuan, Sehun-ah." Jawab Yixing
"Lalu bagaimana dengan jadwal mengajarmu? Tidak mengganggu?"
"Sama sekali tidak."
Dan bel pintupun berbunyi lagi.
"Siapa lagi itu?" gerutu Junmyeon.
"Aku akan melihatnya." Sehun turun dari bangku tinggi yang didudukinya.
"Tidak usah. Biar aku saja. Membuka pintu adalah salah satu tugasku disini." Cegah Yixing sambil bergegas menuju pintu.
"Hyung, kuharap kau memperlakukannya dengan baik."
"Dia masih disini. Belum berlari terbirit-birit. Tapi kau boleh membawanya pergi dan hidupku akan tenang. Aku selalu merasa dia akan mematahkan tanganku yang lain." Kata Junmyeon cuek.
Sehun terkekeh pelan. "Kurasa aku tidak akan bisa membujuknya melupakan niatnya membantumu. Dia merasa sangat bersalah. Oh ya, bagaimana tanganmu?"
"Seperti yang kau lihat. Masih cacat. Kau tidak memberitahu Appa dan Umma soal ini kan?"
Sehun menggeleng. "Hyung tenang saja. Aku tidak ingin membuat mereka jantungan di tengah-tengah liburan."
"Bagus."
"Oh, Yifan hyung. Junmyeon ada di dapur bersama Sehun. Kau sudah makan?" Junmyeon mendengar suara Yixing menyapa manajernya.
"Yifan? Kenapa kau datang kesini?" tanya Junmyeon ketika manajernya itu masuk ke dapur bersama Yixing.
"Tentu saja aku datang karena aku tau aku bisa menemukan Yixing disini." Yifan tersenyum lebar. "Oh, Sehun-ah. Apa kabar?"
Junmyeon melirik Sehun yang menatap Yifan lekat-lekat.
"Yifan hyung sudah mengenal Yixing? Kapan?"
"Kemarin." Sahut Yifan ringan. Sama sekali tidak menyadari bahwa Sehun kini tidak lagi memandangnya sebagai teman atau kakak, tapi sebagai saingan.
"Yixing membuat kopi yang sangat enak kemarin." Yifan duduk di banku tinggi di sebelah Sehun dan tersenyum pada Yixing.
Yixing tertawa. "Kau bukan orang pertama yang jatuh dalam pesona kopiku, hyung."
"Aku jadi penasaran seperti apa rasanya." Kata Sehun dengan kening berkerut.
"Rasanya susah dijelaskan. Tanyakan saja pada Junmyeon. Dia juga mencobanya kemarin. Kopi buatan Yixing sangat enak kan, Myeon?"
"Biasa saja." Kata Junmyeon datar. "Itu merk kopi yang biasa kubeli. Merk yang sama seperti kopi yang biasa kau minum setiap kali datang kesini."
"Aku tetap ingin mencobanya." Sehun bersikeras.
Yixing menatap tiga orang itu bergantian. "Aku bisa membuatkan kopi untuk kalian setelah makan siang."
Yifan dan Sehun mengangguk serempak. Sementara Junmyeon hanya terdiam.
Yixing tersenyum. "Oh ya, Yifan hyung, bukankah tadi kau bilang ada yang ingin kau bicarakan dengan Junmyeon?"
Junmyeon menoleh ke arah manajernya. "Apa ada masalah?"
Yifan menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin menanyakan tentang jadwalmu di akhir tahun."
Sebelum Junmyeon sempat menjawab, Yixing menyela. "Bagaimana kalau kalian mengobrol di ruang duduk saja sementara aku menyiapkan makan siang?"
"Kenapa kau mengusirku dari dapurku sendiri?" tanya Junmyeon sinis.
Yixing memutar bola mata malas. "Memangnya kau suka mengobrol disini? Kukira kau lebih suka jauh-jauh dariku."
"Kau benar. Sebaiknya aku memang jauh-jauh darimu." Kata Junmyeon sambil turun dari bangku tingginya dan mengajak Yifan serta Sehun ke ruang duduk.
"Yixing-ah, panggil saja kalau kau butuh bantuan." Kata Yifan sebelum turun dari bangkunya.
"Kau yakin tidak butuh bantuan?" Sehun turut bertanya.
Yixing tersenyum. "Tidak, terima kasih. Aku bisa mengatasinya."
Junmyeon tidak habis pikir apa yang membuat Sehun dan Yifan tertarik pada namja itu. Terutama Yifan, karena manajernya itu baru bertemu dengan Yixing kemarin. Apakah karena kopi yang dibuat namja itu?
Sebenarnya Junmyeon tidak mau mengakuinya, tapi yeah, Yifan benar. Kopi buatan Yixing memang sangat enak. Dan terkutuklah Junmyeon jika dia mengakui hal itu pada Yixing. Sebenarnya Junmyeon juga tidak keberatan Yixing datang ke apartemennya setiap hari dan mungkin saja membahayakan nyawanya, asalkan namja itu tetap membuatkannya kopi setiap pagi. Mungkin Junmyeon memang harus mengakui, dia membutuhkan Yixing, ralat, lebih tepatnya, Junmyeon membutuhkan kopi buatan Yixing.
Untuk saat ini, sepertinya begitu. Tapi tidak ada tau apa yang akan terjadi selanjutnya, kan?
TBC
A / N :
Saya kembali datang bawa chapter 3. Mumpung liburan, jadi bisa update asap, mwehehehe. Setelah ini, mungkin gak bakal bisa update secepat ini. Tapi jangan khawatir, saya gak akan menelantarkan FF ini kok.
Untuk yang tanya bakal ada cinta segitiga ato gak, jawabannya mungkin bakal ada. Tapi konfliknya gak bakal berat kok :D
Untuk endingnya, beberapa mungkin ada yang udah tau. Untuk yang belum tau, so, nikmatin aja cerita ini ya #nyengir
Oya, ada yang tanya ini remake novel apa. Ini adalah remake dari novel Sunshine Becomes You karangan Ilana Tan.
Oke, sekian bacotan dari saya :D
Thanks to :
dontyouworrychild, welkom, remotipi, SodariBangYifan, GabyGaluh, Xiao yueliang, steffanyelfxoticsbaby, MommyTao, chenma, BabyMoonLay, xing mae30, selviansummer, shintalang, guestexoexo, flappyixing, hipopan, Kin Ocean, hyunhyun, lalaland, uyakuya, idareyou, dan segenap guest, favoriter, dan follower sekalian...
Mian kalo ada yang kelewatan. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.
Gomawo all *kecupsatusatu*
Sampai jumpa chapter depan ~
Wanna to review? /wink/
