Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Not own anything of Naruto.

This story is originally made by me.


Please Stay Beside Me

Written by Shady (DeShadyLady)


Chapter 7

A Broken Plan

-Rencana yang Gagal-


"Juugo, kau pergilah ke bandara dan periksa segalanya." ujar Fugaku sambil berusaha menahan tangisannya.

"Baik, tuan. Aku permisi." Juugo menunduk dalam kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

Entah mengapa lututnya merasa lemas, badannya terhuyung ke dinding, "Hiks.. Sasuke-sama..." Bagaimana pun dia selalu berada di sisi Sasuke sejak Sasuke kecil dan saat mendengar semua itu, hatinya seperti gelas yang terjatuh pecah ke lantai. Berkeping-keping dan tak dapat diperbaiki lagi.

:

Sakura dan Sasuke masih berada di ruang tunggu bandara. Sakura masih merasa pusing dan mual. Tsunade tidak mendapat apapun yang aneh pada tubuh gadis berambut semi itu.

"Ehm, sebelumnya maaf. Apa hubungan kalian sudah sangat intim?" Tanya Tsunade dengan sangat sopan.

Wajah Sakura dan Sasuke sama-sama memerah, saling berpaling ke arah lain.

"I-iya." Sasuke memberanikan dirinya untuk menjawab.

"Kalau begitu, sebentar." Tsunade mencari-cari sesuatu dalam tasnya.

"Ini, pakailah." Tsunade memberikan sebungkus benda dengan bertuliskan alat tes kehamilan kepada Sakura. "Kebetulan sekali aku ini dokter kandungan yang akan berangkat ke Singapura untuk menghadiri sebuah acara disana."

"Te-terima kasih." ucap Sakura malu-malu. Ia terlalu malu untuk mengatakan hal lainnya lagi.

"Pergilah ke toilet, kami akan menunggumu." ujar Tsunade. Sakura segera tersenyum dan pergi ke toilet.

"Hei, anak muda! Kau akan bertanggung jawab kan?!" teriak Tsunade. Sambil memukul punggung Sasuke.

Sasuke sempat terkejut sesaat, "Tentu saja, dia sangat berarti untukku."

"Baguslah, aku lega." Tsunade menghela nafas. "Siapa namamu?"

"Uchiha Sasuke." jawab Sasuke.

"A-apa? Apa ibumu bernama Uchiha Mikoto?" Tsunade tampak sangat bersemangat.

"I-iya, betul." Sasuke mengangguk.

"Da-dan ayahmu Uchiha Fugaku?" tanya Tsunade lagi.

Sasuke mengedipkan matanya berulang kali sambil mengangguk cepat.

"Ya ampun, kau sudah besar sekali!" Tsunade mengusap rambut Sasuke dengan cepat.

"Apa kau kenal ayah dan ibuku?"

"Iya, jelas sekali kenal! Aku ini dulu menjadi asisten dokter saat ibumu melahirkan kakakmu dan dirimu!"

"A-apa?" Sasuke sedikit terkejut. Benarkah? Tapi ibunya tak pernah bercerita mengenai hal ini. Tapi wanita ini memang sangat baik padanya dan bersedia ketinggalan pesawat demi menolong Sakura.

"Tentu saja! Kau sangat gemuk dan lucu dulu! Tapi kenapa kau kurus seperti ini? Tak mungkin kan keluarga Uchiha kurang makan? hahaha." canda Tsunade. Tapi memang Sasuke terlihat sangat kurus dari pria seusianya.

Sasuke terdiam, apa yang harus dia katakan? Mungkinkah ia berkata bahwa ia ini seorang pecandu narkoba? Meski ia bukan sengaja tapi tetap saja, penilaian manusia terhadap seorang pecandu itu sangat buruk bukan? Sejujurnya Sasuke sangat dikucilkan dari masyarakat dan tak dapat bekerja dengan baik untuk Sakura masa depan nanti. Maka dari itu, dia menerima ide ayahnya untuk diobati di Singapura.

"Ma-maaf, hasilnya dua garis. A-apa itu berarti.." suara Sakura memecah lamunan Sasuke.

"Wah, selamat! Sebentar lagi kalian akan menjadi ayah dan ibu!" ucap Tsunade sambil tersenyum lebar.

Sasuke segera memeluk Sakura. Entah ini berupa reflek atau apa, yang jelas saat ini Sasuke sangat senang. Ia tak menyangka bahwa impiannya menjadi kenyataan, bahkan sebelum resmi menikah saja mereka sudah dikaruniai seorang anak. Sakura juga membalas pelukan Sasuke tidak kalah eratnya, seakan ingin mengatakan betapa ia sangat mencintai pria yang sedang dipeluknya ini.

"Wah wah, kelihatannya aku menganggu yaa.. hehe"

Setelah mendengar suara Tsunade, Sakura dan Sasuke sama-sama terhentak dan melepaskan pelukan masing-masing. Jangan lupakan pip mereka yang merona merah.

"Terima kasih banyak, Tsunade baa-san." ujar Sakura sambil membungkukkan badannya. Sasuke tak berbicara namun juga ikut membungkukkan badannya.

"Eh? Tak perlu sungkan begitu, lagipula aku cukup mengenal keluarga Uchiha." ujar Tsunade sambil menepuk bahu kedua anak muda itu.

:

"Para anggota keluarga dari penumpang harap antri! Jangan menyerobot! Satu perwakilan dari satu penumpang. Kami akan melayani anda secepat mungkin." ujar salah satu pengurus maskapai Konoha Airlines dengan toa.

Juugo hanya bisa menggeleng. Ia tak mungkin bisa bersabar selama itu, mengingat masih ada puluhan orang yang mengantri di depannya. Kepalanya berpaling ke kanan kiri, berusaha mencari celah. Dan ia sungguh tak percaya apa yang dilihatnya.

"I-itu kan.." Juugo segera berlari ke arah dimana dua orang yang sangat ia kenal sedang berdiri berdekatan. Dan.. siapa wanita berambut pirang itu?

"Sasuke-sama! Sakura!" teriak Juugo.

"Juugo? Sedang apa kau disini?" tanya Sasuke heran.

"Hah? Apa kalian tidak tahu bahwa pesawat yang kalian tumpangi itu kecelakaan?" tanya Juugo. Sasuke dapat melihat wajah Juugo yang sangat sedih dan khawatir. Matanya juga sembab, apa ia menangis?

"Apa? Syukurlah aku tidak jadi naik." ujar Tsunade sambil mengeluas dadanya pelan.

"Benarkah Juugo? Astaga.." Sakura tampak sangat terkejut namun ia menghela nafas panjang karena bersyukur tak jadi naik pesawat itu.

"Apa ayah dan ibu mengira kami naik pesawat itu?" tanya Sasuke to the point.

"Tidak, aku akan menghubungi mereka untuk

memberitahukan ini."

"Tunggu, biar aku pulang menemui mereka saja. Dan aku juga ingin membawa nyonya Tsunade yang telah menolong Sakura ini. Ini merupakan kesempatan terbaik untuk bersembunyi dari Karin."

"Hm, Sasuke-sama benar. Baiklah, semua ikut aku." Juugo segera mengantar mereka ke mobil sambil mengawasi sekitar.

:

Saat tiba di kediaman Uchiha, mereka disambut dengan rasa haru dan syukur, dengan air mata dari kedua orang tua mereka masing-masing. Dan Mikoto terus menerus berterima kasih pada Tsunade. Tapi Tsunade berkata semua ini berkat anak yang dikandung Sakura. Jika saja saat itu Sakura tidak pingsan, mungkin saat ini mereka bertiga sudah menjadi korban kecelakaan tersebut. Jadi dengan tidak langsung, anak itu membawa keberuntungan bagi kedua orang tuanya.

Kizashi dan Mebuki yang sedang memeluk Sakura terkejut. Mereka berteriak senang dan bertanya pada Sakura apakah itu benar atau tidak, Sakura tersenyum dan mengangguk. Kizashi dan Mebuki pun mengelus perut Sakura dengan pelan kemudian kemlbalu memeluk anaknya itu. Mikoto dan Fugaku juga sangat bahagia, mereka mengucapkan terima kasih pada Sakura yang masih mau menerima Sasuke apa adanya dan sekarang tengah mengandung darah daging Uchiha, penerus keluarga Uchiha.

Dengan air mata yang berlinang, Mikoto memeluk Sasuke sangat erat. Sasuke hanya tersenyum tipis dan mengelus pelan rambut ibunya. Fugaku yang melihat kedekatan ibu dan anak itu merasa ingin memeluk Sasuke juga. Mikoto menoleh pada Fugaku, seolah mengisyaratkannya untuk mendekat. Fugaku pun berjalan dan langsung memeluk Sasuke seerat mungkin. Ia benar-benar tak ingin kehilangan putranya lagi.

"Syukurlah kau selamat, Sasuke. A-ayah.. tak tahu.. bagaimana jika kau tidak ada lagi.." ucap Fugaku sambil menahan tangisannya.

"Tou-san, maaf sudah membuatmu khawatir. Mungkin saat ini kurang tepat untuk merasa senang, tapi aku rasa ini waktu yang tepat untuk bersembunyi dari Karin. Karena ia akan menganggap aku sudah mati atau apalah. Aku yakin dengan kuasanya dia pasti tahu aku naik pesawat itu dari jaringan anak buahnya." jelas Sasuke. Otaknya kembali encer lagi, dan Fugaku senang akan hal itu. Lambat laun Sasukenya mulai kembali seperti dulu lagi.

"Hm, benar. Bagaimana menurutmu, Mikoto?" tanya Fugaku. Yah, suami satu ini memang sangat menghormati pendapat istrinya. Sepertinya sifat itu juga menurun pada Sasuke.

"Baiklah, katakan kalian mau pergi kemana? Tidak mungkin terus menerus ada di rumah ini 'kan?" ujar Mikoto.

"Ya, benar kaa-san. Aku dan Sakura akan tetap pergi ke Singapura. Sesuai yang direncanakan, aku rasa itu lebih baik." jawab Sasuke tegas.

Mikoto mengangguk, "Hm, baiklah. Aku akan berbicara dengan Tsunade mengenai hal ini. Aku ingin dia menjaga kandungan Sakura."

"Ya, aku setuju akan itu. Dan aku juga akan mengatur jadwal penerbangan mereka dengan meminjam pesawat pribadi temanku." tambah Fugaku.

Fugaku dan Mikoto saling mengangguk. Dan mereka tahu bahwa orang tua Sakura sedari tadi mendengar semua pembicaraan mereka, begitu juga dengan Tsunade.

"Ah, kami setuju saja asal Sakura aman, benar begitu Kizashi?" Mebuki mencubit perut Kizashi yang tampaknya masih tak setuju.

"Aw! Mebuki bagaimana kalau Sakura kenapa-kenapa nantinya? Apa kau tidak takut?" Kizashi beragumen.

"Tenang saja, tou-san. Aku bisa jaga diri. Dan aku juga yakin Sasuke-kun selalu menjagaku dan anak kami." ucap Sakura sambil mengelus pelan perutnya yang masih rata.

"Itu benar, Kizashi jii-san. Tidak mungkin aku melihat Sakura menderita. Dan aku juga sudah berpikir untuk menikahinya saat ini juga. Bagaimana, Sakura?"

"A-aku setuju." wajah Sakura sungguh memerah.

"Baiklah, aku akan menyuruh Juugo persiapkan semuanya." Sasuke tersenyum.

"Dan aku rasa para orang tua juga tidak keberatan kan?" Sasuke menoleh pada keempat orang tua mereka.

Keempat orang tua itu hanya mengagguk senang. Merasa bahwa mereka semakin tua dan anaknya saat ini sudah dewasa. Bahkan sebentar lagi mereka akan menjadi kakek dan nenek. Sungguh sesuatu yang harus disyukuri.

Upacara pernikahan mereka berlangsung sangat sederhana. Hanya ada orang terdekat mereka, yaitu keluarga. Hanya ditambah Juugo dan Tsunade. Beberapa bawahan juga diberi liburan mendadak oleh Fugaku untuk mencegah kebocoran informasi. Tidak ada teman dan jauh dari hiruk pikuk pesta.

Sasuke hanya mengenakan setelan jas dan celana hitam seadanya. Ia berdiri menunggu mempelai wanita di ruang keluarga beserta ayah, ibunya dan juga Juugo.

Tak lama kemudian, Kizashi dan Mebuki menggandeng putri semata wayangnya yang berbalut gaun putih dengan renda bunga pada bagian dada. Gaun itu sangat sederhana. Namun Sakura terlihat sangat cantik di mata Sasuke, secantik malaikat yang turun dari langit.

Pemberkatan dimulai oleh seorang pemuka agama. Setelah selesai pemberkatan, mereka pun bertukar cincin. Sasuke mencium kening Sakura sebagai tanda kasih sayang pada istrinya. Segalanya berlangsung lancar dan khidmat. Setelah ini mereka akan merencanakan keberangkatan Sasuke dan Sakura ke Singapura dengan lebih hati-hati. Sasuke tak mau terjadi hal yang tidak-tidak pada istri dan anaknya.

:

"A-apa katamu? Hahaha.. Jangan membohongiku, Suigetsu." ujar Karin sambil tertawa terbahak-bahak saat mendengar dari Suigetsu bahwa Sasuke telah meninggal.

"Kau tidak percaya? Pesawatnya kecelakaan, Karin!" teriak Suigetsu, berusaha meyakinkan Karin.

"Tidak! Aku tidak percaya denganmu! Kau pasti bohong!" Karin masih tidak percaya.

"Baiklah, kau telepon saja anak buahmu!"

Karin menelepon salah satu anak buahnya, dan Karin sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya melalui ponselnya.

"Ti-tidak.. Ini tidak mungkin.." Karin menundukkan kepalanya, perlahan tubuhnya tersungkur ke bawah dan pandangannya kosong. "Sasukeeeee..!" teriak Karin histeris sambil menangis.

Karin melihat Suigetsu dengan penuh amarah. "Kau!" Karin menunjuk Suigetsu dengan jari telunjuk. "Pasti kau yang merecanakan semua ini! Ya 'kan? Pasti ayah yang mennyuruhmu! Ya 'kan? Benar 'kan?"

Suigetsu terdiam, ia hanya menggeleng. Karin mencengkeram baju Suigetsu, "Jawab aku, sialan!"

PLAKKK

Karin tersentak, badannya tersungkur jatuh ke lantai. Salah satu tangannya memegang pipinya yang memerah. Matanya masih penuh dengan air mata. Wajahnya menunduk lemas.

"Dengar kau, jalang!" Suigetsu mengangkat dagu karin dengan kasar. "Dengarkan aku baik-baik!" suigetsu sudah tidak tahan lagi, amarahnya sudah seperti gunung yang akan meletus.

"Sasuke itu tidak suka padamu! Jika kau benar-benar menyukainya, seharusnya kau tak menyakitinya dengan narkoba! Kau puas dengan keadaannya yang menderita?" Teriak Suigetsu.

Mata Karin hanya menerawang ke depan menatap Suigetsu, air matanya terus mengalir keluar. Seolah dia hanya raga tanpa jiwa.

"Kau sungguh tak tahu bersyukur, Karin! Kau punya segalanya! Tapi kenapa sikapmu seperti anak-anak?" Suigetsu melepas cengkramannya dengan kasar. Karin terhempas ke lantai.

"Ka-kau... Kau tahu apa tentang cinta? Kau tahu apa tentang perasaanku? Tahu apa kau, hah?" teriak Karin.

"Sialan. Kau pikir selama ini aku tidak menahan? kau pikir selama ini aku tidak mempunyai orang yang aku ingin lindungi? Kau pikir selama ini aku bertahan denganmu untuk apa? Aku bahkan tak berkata apapun saat kau dengan senangnya bercerita tentang Sasuke. Kau bahkan menyebut nama Sasuke saat kau bercinta denganku! Kau bahkan tak pernah melihatku yang jelas-jelas menyukaimu!"

Karin terdiam.

Apa? Suka? Suigetsu menyukainya?

"Ha-hahaha.. Hahahaha." Karin tertawa disela tangisannya. "Kau kira.. aku percaya padamu? Kau kira aku bisa percaya dengan segala perkatannmu?"

PLAKKK

Bagus Karin, kau membuat Suigetsu benar-benar marah.

Karin terjekut dengan perlakuan Suigetsu. Namun ia tak melawan meski ia sudah tersungkur ke lantai untuk kedua kalinya.

"Silahkan, silahkan saja kau remehkan aku. jangan cari aku saat aku sudah sukses nanti! Jalang sialan!" Suigetsu membalikkan badannya.

"Dan lagi, aku akan keluar dari perkumpulan ayahmu. Dia sudah memberiku kebebasan sejak dulu." Suigetsu berjalan pergi tanpa melihat Karin.

Karin terdiam sesaat. Suigetsu akan meninggalkannya? Lalu dia akan bersandar kepada siapa? Ayahnya? Tidak, dia sangat membenci ayahnya.

"S-Sui!" Karin mengumpulkan tenaganya dan segera berlari keluar untuk mengejar Suigetsu. Ia berharap Suigetsu belum pergi.

Saat tiba di depan, Suigetsu sudah bersiap untuk memasuki mobilnya.

"Sui, tunggu!" teriak Karin.

Suigetsu hanya berhenti tanpa menoleh ke belakang.

"Ma-maafkan aku.. Aku mohon, aku.. aku tidak punya siapa-siapa lagi."

"Jangan mendramatisir keadaan, Karin. Ayahmu kaya dan pelayanmu segudang. Aku yakin kau bisa segera mencari pengganti pemuas nafsumu." Suigetsu melirik sedikit ke belakang. Ia dapat melihat keadaan Karin yang berantakan, tapi saat ini ia sungguh tak ingin peduli lagi dengan perempuan itu.

"Su-Sui, k-kau.. bukan hanya sekedar pemuas nafsu bagiku.. A-aku bisa ke-sepian.. tanpamu.. hiks." tangis Karin.

"Persetan. Kau hanya mencariku saat kau butuh! Enyahlah kau!" Suigetsu masuk ke dalam mobilnya.

"Su-Sui! Suigetsu!" Karin masih berusaha mengetuk kaca hitam mobil Suigetsu. Namun Suigetsu tak mempedulikannya, mobilnya melaju kencang. Meninggalkan Karin yang berlinang air mata dengan kedua pipi yang memerah.

"Sial!" Suigetsu memukul setir dan melajukan mobilnya dengan kencang. Meski rencana ia berhasil untuk membuat Karin memandangnya, tapi ia masih tidak senang dengan sikap Karin yang terlalu manja. "Jika tidak ada yang menghukummu, aku yang akan memberimu pelajaran Karin!"

Suigetsu memang mencintainya, tapi.. seorang wanita dengan pola pikir seperti itu, masih terlalu cepat untuk dijadikan pendamping hidup, benar bukan?

:

"Sasuke-kun, kapan kita akan pergi ke Singapura?" tanya Sakura. Sakura sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.

"Hn, secepatnya. Kalau bisa besok." balas Sasuke dengan mata menatap serius ke laptop. Ia tampak mengerjakan sesuatu.

"Baiklah, untung saja kita sudah mengepak barang sebelumnya. Kalau tidak, akan jadi pekerjaan lagi." ujar Sakura sambil menghampiri Sasuke yang duduk di atas tempat tidur.

"Hn, tenang saja. Kalau capek kau boleh memanggil salah satu pembantu untuk membantumu, Sakura." balas Sasuke, jarinya masih sibuk mengetik.

"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Sakura melihat ke layar laptop Sasuke.

"Nama bayi?" ujar Sakura. "Hi-hihihi." kekeh Sakura.

"Kenapa kau tertawa? Kau tidak senang seorang calon ayah menyiapkan nama untuk bayinya?" ketus Sasuke. Ya, Sasuke lama sudah mulai kembali.

Sakura memegang kedua tangan Sasuke, menghentikannya mengetik. "Sasuke-kun, um- A-anata.. Masih terlalu cepat. Santailah sedikit."

"Ta-tadi kau memanggilku apa?" tanya Sasuke, dia menutup laptop-nya.

"A-anata.." Sakura berusaha tersenyum pada Sasuke, meski sebenarnya dia sangat malu. Tapi dia memang ingin memanggil Sasuke seperti itu.

Sasuke memeluk Sakura dengan erat. Senyum simpul terlihat di bibirnya.

"Aku berjanji akan membuatmu bahagia, Sakura." Untuk saat ini kedua pengantin baru itu bahagia, sungguh bahagia.


To Be Continue


Aaaaa! Hai minna-san :D

Oh Astaga.. sudah berapa lama ya, 3-4 bulan ada ya. Maafkan saya late update :(

Ah sekarang author sudah kerja, jadi untuk fanfic ya author usahakan mengetik saat hari sabtu-minggu selesai kerja tambahan hehe

Kalian belum lupa cerita ini kan? Kalau lupa, baca aja lagi dari prologue XD hahaha

Ok, langsung saja.

Balasan review

Uchiharuno Phorepeerr: omg, thanks for waiting one of my stories. Oh iya, memang kalau udah cinta, jadi gelap mata hahaha. Sip, ini sudah update. Thanks sudah read dan review :D

Uchiha Nazura: maaf baru sempat update :( belum lupa cerita ini kan? Thanks sudah read dan review :D

kise ryota flash: makasih banyak lho ud nggu, aku terhura.. eh terharu haha. maaf baru update ya :( Thanks sudah read dan review :D

Guest: Oops, bener juga ya hahaha. Thanks sudah read dan review :D

Kirara967: yups, dia hamil lho. selamat gak ya? baca dulu chapter ini, hehe. ehh aku pola pikirnya juga gitu lho hahaha. sttt rahasia dulu ah, nanti ga seru haha. makasih sudah ikutin terus. Thanks sudah read dan review :D

Laifa: oh jelas Saku lebih penting di atas segalanya XD haha. Mereka baik-baik saja kok :D Thanks sudah read dan review :D

CEKBIOAURORAN: dibaca chapter ini, kali ini Sui baru beneran emosi. Makan tuh Karin hahaha #evillaugh Thanks sudah read dan review :D

ann: wah, tau aja nih. Thanks sudah read dan review :D

Laila: bener, di chapter ini bakal kelihatan sih. Suigetsu lebih waras dari Karin hahah. Thanks sudah read dan review :D

wowwohgeegee: yes, you're right. Sui malah ga senang lho, coba read chapter ini hehe. Thanks sudah read dan review :D

DCherryBlue: oh itu ditunggu aja tanggal mainnya, author sudah menyiapkan segalanya.. khukhukhu #evillaugh XD Thanks sudah read dan review :D

Yume shin: iya, aku juga gak tega mereka ke napa2 :( Thanks sudah read dan review :D

uchi: ah iya betul. makasih lho doanya, sudah kerja sekarang. ga lupa kok, tenang aja XD Thanks sudah read dan review :D

homg: maaf baru lanjut :( Thanks sudah read dan review :D

ChanbaekSaranghaeHeni: iya heheh ga tega aku ngebunuh mereka :( Thanks sudah read dan review :D

CherrySand: Balasannya? Oh pasti donk.. karma exist. Thanks sudah read dan review :D

sarahachi: aaa sara-chan, maaf lama update :( dan kurang panjang ya :( maaf yaaa. aku di kepri hehe sudah dapat kok :D kebykn milih kemarin hahahaah XD Makasih semangatnya :D Sara-chan juga semangat yaa dalam mengerjakan segala sesuatu :D jangan lupa baca fic aku juga hahaha. Thanks sudah read dan review :D

d3rin: ha? berterimakasih pada Sakura dan Suigetsu? Karena apa ya? Don't get it, hmm. Maaf uda malam otak author mampet XD wkwkwk. Thanks sudah read dan review :D

Marie Ravenwolf: waduh baru buat acc nih? wah selamat bergabung ya :D Keren nickname nya XD semoga di chapter ini baper lg ya wkwk Thanks sudah read dan review :D

Jamurlumutan434: ulah Suigetsu lho itu.. tapi yah, mungkin tidak semua rencana berjalan lancar. Thanks sudah read dan review :D

Desta Soo: Entah -.- mau gimana lah, dia memang jahat tapi itu usaha dia untuk dapatkan Karin.. tapi ya balik lagi ke karma exist haha. Thanks sudah read dan review :D

Lazyffa: ga perlu bunuh, toh nanti bakal dapat karmanya XD hahaha. ehh iya nanti author sampaiin ya ke mereka XD Thanks sudah read dan review :D

gome: maaf lama update :( Thanks sudah read dan review :D

Uchiha Naya09: ga jdi kok, ah betul dia hamil wkwkwk maaf lama lanjutnya :( Thanks sudah read dan review :D

ALSKY: mantav XD maaf lama update. Thanks sudah read dan review :D

luhputusetia.p: maaf baru sempat update :( Thanks sudah read dan review :D

Ingrid Patricia: iya, maaf baru lanjut ya :( Thanks sudah read dan review :D

TaSasuSaku: ga jadi ga jadi hehe. iya tenang pasti lanjut cuman butuh waktu :( Thanks sudah read dan review :D

Makasih banyak minna-san :D sudah mengikuti fic aku sampai sejauh ini. Aku harap kalian tetap mengikutinya yaa.

Karena pasti update, hanya saja agak lama :( Author minta maaf lagi untuk updatenya yg lama.

Happy Reading, jangan lupa review ya :D

Sincerely,

Shady.