Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*
Genre : Romance
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun
and many more...
Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR
Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D
Happy Reading ~
Chapter 4
Setelah murid terakhirnya meninggalkan kelas dan menutup pintu, Yixing mengeluarkan sekeping CD dari tasnya dan memasukkannya ke player. Dia berjalan ke tengah ruangan dan berdiri menghadap cermin besar yang mengelilingi seluruh ruangan. Musikpun mengalun dan Yixing mulai bergerak sesuai irama. Saat-saat paling membahagiakan bagi Yixing adalah ketika dia menari. Dengan menari, dia bisa melupakan segalanya. Ketika lagu berakhir, Yixing mendengar tepuk tangan dari arah pintu. Yixing menoleh dan menemukan Yuri berdiri di sana.
Yuri berdecak kagum. "Yixing-ah, mendengar lagu tadi dan melihat tarianmu, astaga...indah sekali. Itu adalah gerakan paling sempurna yang pernah kulihat. Lulusan Kyunghee memang selalu mengagumkan."
Yixing tersenyum kecil. "Kau terlalu berlebihan Yuri-ya. Tapi, terima kasih."
"Ngomong-ngomong, aku ingin mengajakmu menonton pertunjukan nanti malam. Kau bisa?"
Yixing meringis. "Maaf. Aku tidak bisa."
"Ah iya, kau harus ke tempat kakak Sehun ya?
Yixing mengangguk.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Biasa saja." Yixing mengangkat bahu.
"Apa dia masih marah padamu?"
"Sepertinya begitu. Dia memang sudah tidak terlalu sinis padaku, tapi dia juga tidak bersikap ramah padaku."
Sudah hampir dua minggu Yixing menghabiskan hampir seluruh waktunya di apartemen Junmyeon. Tapi selama itu, dia jarang berbicara dengan Junmyeon. Namja itu lebih sering mengurung dirinya di kamar. Dia hanya keluar untuk mengambil kopi dan makan. Terkadang Yifan datang dan mereka berdua akan membahas masalah pekerjaan. Jika mereka pergi menemui seseorang, Yixing diijinkan pulang.
"Lalu Sehun bagaimana?" tanya Yuri lagi. Yeoja itu memang selalu penasaran.
"Dia sering datang ke apartemen Junmyeon untuk melihat keadaanku. Dia bilang dia hanya ingin memastikan hyungnya itu memperlakukan aku dengan baik."
"Sehun memang selalu baik padamu." Gumam Yuri.
Yixing mendesah muram. "Padahal aku berharap dia tidak bersikap sebaik itu padaku."
**ooo**
Yixing menekan bel interkom dan menunggu Junmyeon membukakan pintu seperti biasa. Tapi kali ini, suara namja itu terdengar dari interkom. "Zhang?"
"Iya, ini aku."
"Kau bawa mobil?"
"Iya, kenapa?"
"Tunggu disana."
Yixing mengernyit. Dia tidak tau apa yang sebenarnya Junmyeon inginkan, tapi dia menurut saja. Yixing duduk di tangga batu dan menunggu. Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Oh, Yunho hyung. Halo?" kata Yixing sambil menempelkan ponselnya ke telinga. "Ya, tadi Yuri mengajakku tapi sayang sekali, aku tidak bisa ikut hari ini. Maafkan aku... Apa? Benarkah?"
Suara berdehem yang keras membuat Yixing berbalik dan mendongak. Dilihatnya Junmyeon sedang menatapnya dengan kening berkerut.
"Yunho hyung, maaf. Aku harus pergi sekarang. Lain kali kita bicara lagi." Yixing menutup teleponnya, lalu berdiri dan menepuk bagian belakang celananya.
"Jadi, ada apa?"
"Antarkan aku ke rumah sakit." Kata Junmyeon singkat.
Mata Yixing melebar. "Memang kenapa? Ada yang salah dengan tanganmu?"
"Tidak. Aku hanya ingin dokter memeriksa dan mengganti perbannya."
Yixing mengangguk paham. "Oh."
"Yifan sedang rapat, jadi dia tidak bisa mengantarku. Begitu pula dengan Sehun yang sudah terbang ke Beijing untuk menghadiri festival hip-hop. Jadi pilihannya tinggal taksi atau...kau." Jelas Junmyeon sambil memandangi Yixing dengan ragu.
Yixing menghela nafas. "Sudahlah, aku akan mengantarmu." Yixing berjalan turun dari tangga batu dan menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari sana. Junmyeon mengikutinya dari belakang.
Yixing membuka pintu penumpang dan bergumam pelan. "Masuklah. Eh, tunggu, jangan duduki jaketku."
Yixing menarik jaketnya dari kursi penumpang dan melemparkannya ke kursi belakang. Tapi Junmyeon sempat melihat emblem yang tertempel di jaket itu.
"Kyunghee? Kau lulusan Kyunghee atau ada seseorang yang memberikan jaket itu padamu?" tanya Junmyeon tidak percaya.
"Memangnya lulusan Kyunghee hanya kau saja?" jawab Yixing sambil memasang sabuk pengamannya.
Junmyeon tertegun sejenak. "Jadi kau memang lulusan Kyunghee? Tapi darimana kau tau aku lulusan Kyunghee?"
"Sehun pernah mengatakannya padaku." Sahut Yixing ringan.
Junmyeon mendengus. "Kurasa Sehun terlalu banyak bicara. Apa lagi yang dikatakannya?"
"Tidak banyak." Kata Yixing. Tapi melihat senyum kecil yang tersungging di bibir namja itu, Junmyeon yakin Sehun sudah bercerita banyak kepada Yixing demi menarik perhatian namja itu.
"Sehun tidak pernah bilang kau lulusan Kyunghee."
"Itu karena dia tidak tau." Jawab Yixing santai.
"Dia tidak tau? Kenapa bisa?"
"Dia tidak pernah bertanya."
Junmyeon melirik namja yang sedang mengemudi di sampingnya. Sepertinya Sehun sudah mengatakan banyak hal pada namja itu. Tentang dirinya, dan bahkan mungkin tentang keluarganya. Tapi Junmyeon bertanya-tanya, sebenarnya seberapa banyak hal yang diketahui Sehun tentang Yixing? Entah mengapa Junmyeon merasa, Sehun tidak benar-benar mengenal Yixing.
**ooo**
Junmyeon keluar dari ruang pemeriksaan. Perbannya sudah diganti dengan yang baru. Junmyeon mengerucutkan bibirnya kesal mengingat penjelasan dokter yang mengatakan tangannya tidak akan sembuh secara ajaib hanya dalam waktu dua minggu. Dokter menyuruhnya bersabar. Yang benar saja! Mana bisa dia bersabar melihat tangannya bergantung tak berdaya seperti itu? Rasanya Junmyeon ingin sekali menghancurkan sesuatu. Junmyeon mengedarkan pandangannya ke area ruang tunggu itu. Kemana namja itu? Katanya dia akan menunggu selagi Junmyeon berada di ruang periksa. Lalu Junmyeon menemukan sosok Yixing yang sedang berdiri di dekat meja perawat dan berbincang dengan seorang dokter wanita. Dokter muda itu telihat menanyakan sesuatu pada Yixing dan namja itu menjawabnya sambil tersenyum. Saat itulah Yixing menoleh dan melihat Junmyeon. Yixing membungkuk kecil ke arah yeoja itu dan berbalik. Tapi sang dokter menahan lengan Yixing dan mengatakan sesuatu. Junmyeon melihat Yixing menepuk pelan bahu yeoja itu dan tersenyum kecil. Yaoja muda itu menghela nafas dan mengangguk.
"Apa yang dikatakan dokter?" tanya Yixing ketika dia sudah tiba di depan Junmyeon.
"Belum ada perubahan berarti." Jawab Junmyeon singkat. Dia tidak bertanya apa yang Yixing bicarakan dengan dokter tadi. Well, Junmyeon berpikir itu bukan urusannya.
"Kau akan baik-baik saja."
"Mudah bagimu mengatakannya." Gerutu Junmyeon sebal.
Yixing mengabaikannya. Sudah terbiasa dengan Junmyeon yang suka sekali mendebat perkataannya. "Sekarang kau mau kemana? Pulang?"
Junmyeon berpikir sejenak. Pembicaraannya dengan Yixing tadi membuat Junmyeon tiba-tiba merindukan guru pianonya.
"Aku ingin mengunjungi guruku."
"Dimana rumahnya?" tanya Yixing sambil mengeluarkan kunci mobilnya.
"Saat seperti ini dia pasti sedang berada di sekolah. Antarkan aku ke Kyunghee."
"Apa? Kyunghee? Asal kau tau, susah sekali mencari parkir disana."
Junmyeon mengangkat bahu tak peduli. "Itu urusanmu. Kau hanya perlu menurunkanku di pintu depan dan kau bisa mencari tempat parkir sendiri. Aku akan meneleponmu kalau aku sudah selesai. Berapa nomormu?"
Tanpa terasa, sudah tiga jam lebih Junmyeon berbincang dengan gurunya. Sepertinya dia harus segera pamit karena sang guru sangat sibuk dan Junmyeon tak ingin menganggu gurunya lebih lama.
"Senang sekali bertemu denganmu lagi, Junmyeon-ssi. Datanglah lagi lain kali dan berbincanglah denganku. Kalau tanganmu sudah sembuh, kau bisa datang kesini dan menunjukkan permainan pianomu kepada murid-murid disini. Mereka pasti akan senang mendengar Kim Junmyeon menjadi instruktur mereka walau hanya sehari."
Junmyeon tertawa. "Tentu saja, Sung sonsaengnim. Terima kasih."
Setelah keluar dari ruangan gurunya, Junmyeon mengeluarkan ponsel dan menelepon Yixing. Tapi namja itu tidak mengangkatnya. Junmyeon mencoba sekali lagi. Tetap tidak diangkat. Kemana lagi dia? Batin Junmyeon. Setelah melewatkan siang yang menyenangkan bersama gurunya, suasana hati Junmyeon menjadi sangat baik. Junmyeon memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat gedung yang sudah lama ditinggalkannya sambil mencari Yixing. Seorang penari yang ditemui Junmyeon berkata bahwa Yixing mungkin ada di lantai tiga.
"Penari-penari senior sedang berlatih di teater untuk pertunjukan bulan depan. Mungkin orang yang kau cari ada di sana." kata yeoja manis itu ramah.
Setelah mengucapkan terima kasih, Junmyeon naik ke lantai tiga dan berjalan menuju ke sana. Teater yang luas dan megah itu biasanya digunakan untuk pertunjukan para murid Kyunghee. Junmyeon sendiri pernah tampil beberapa kali disini. Junmyeon mendorong pintu dengan pelan dan alunan musik yang lembutpun langsung terdengar. Ruangan itu tampak kosong. Hanya ada beberapa penari pria dan wanita yang sedang berlatih di atas panggung. Perlahan Junmyeon menuruni anak tangga dan mengedarkan pandangan, mencari sosok Yixing. Tapi Junmyeon tidak melihat namja itu dimanapun. Junmyeon mendengus kesal dan berbalik.
"Oke. Istirahat sepuluh menit." Seru seorang yeoja dengan suara menggelegar. Apakah semua instruktur tari memiliki suara sekeras itu?
Junmyeon sudah berjalan menaiki tangga, bersiap keluar ketika suara yeoja itu terdengar lagi. "Dan aku ingin kalian berkenalan dengan Zhang Yixing."
Langkah Junmyeon terhenti.
"Dia adalah salah satu penari terbaikku ketika masih disini. Kurasa beberapa dari kalian sudah pernah mendengar namanya."
Junmyeon melihat sosok Yixing berdiri di samping yeoja itu. Dan ini adalah pertama kalinya Junmyeon melihat Yixing dalam balutan pakaian menarinya.
"Kebetulan dia sedang berkunjung di sini, aku berhasil membujuknya untuk menunjukkan beberapa gerakan kepada kita. Kalian bisa belajar banyak darinya. Jadi perhatikan dan pelajari." Sambung yeoja itu tegas.
Semua penari langsung duduk bersila di tepi panggung dan mengamati Yixing dengan tatapan kagum. Junmyeon mendapati dirinya kembali menuruni tangga dan duduk di deretan kursi penonton. Dia penasaran. Sebenarnya dia sudah penasaran sejak tau Yixing lulusan Kyunghee dan sekarang rasa penasarannya bertambah setelah mendengar pujian yang dilontarkan insruktur yeoja itu.
Yixing menyerahkan sesuatu seorang namja di sisi panggung. Yixing mengambil posisi di tengah panggung dan musikpun mulai mengalun di seluruh penjuru teater.
Junmyeon langsung mengenali lagu itu. Una Favola.
Begitu nada pertama terdengar, Yixing langsung bergerak mengikuti irama lagu. Gerakannya halus, namun terkendali. Seluruh tubuhnya menari, dari ujung jari tangannya sampai ujung jari kakinya. Bahkan raut wajahnya turut berubah mengikuti emosi tariannya. Teknik Yixing tanpa cela. Junmyeon belum pernah melihat seseeorang menari seindah itu. Junmyeon bisa merasakan kisah yang ingin diceritakan Yixing melalui tariannya. Dia bisa merasakan emosi namja itu. Jiwanya. Hatinya.
Sama seperti semua orang yang ada di teater itu, Junmyeon tidak bisa mengalihkan tatapannya dari namja yang tengah menari di atas panggung itu. Gerakannya seolah-olah memiliki kekuatan yang menyihir semua orang yang melihatnya. Membuat semua orang terpaku. Setelah lagu berhenti dan gerakan Yixing ikut berhenti, teater itu hening untuk beberapa detik. Lalu, seolah-olah baru tersadar dari mimpi, semua orang bertepuk tangan dan bersorak.
Junmyeon masih menatap sosok Yixing yang kini dikerumuni penari lain. Nafasnya sedikit ngos-ngosan, tapi dia tetap tersenyu lebar pada orang-orang yang mengelilinginya.
Junmyeon tau pasti, lulusan Kyunghee memang dapat menari dengan sangat indah. Dan Zhang Yixing menari dengan sangat sempurna. Terlihat jelas namja itu menari dengan segenap jiwa dan raganya. Dia berhasil membuat Junmyeon yakin bahwa dia memang seorang penari yang hebat. Tapi kemudian Junmyeon bertanya-tanya, seorang penari sehebat itu seharusnya bergabung dengan kelompok tari terkenal dan menari di pertunjukan-pertunjukan besar di seluruh dunia. Lalu kenapa Yixing memilih mengajar di studio tari kecil yang tidak terkenal?
Yixing terkesiap ketika melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Junmyeon di ponselnya. Namja itu pasti marah besar, pikir Yixing cemas. Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Junmyeon. Yixing berlari-lari kecil menyusuri koridor di deretan kursi penonton. Pada deringan kedua, suara Junmyeon terdengar di ujung teleponnya.
"Zhang? Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Kau tau sudah berapa lama aku menunggu?"
"Maaf. Aku tidak mendengar bunyi ponsel. Kau dimana sekarang? Aku akan segera kesana." Kata Yixing.
"Berhenti!" kata Junmyeon tiba-tiba.
Langkah Yixing otomatis berhenti. Dia benar-benar tidak mengerti maksud Junmyeon. "Apa?"
"Ya, berhenti seperti itu. Sekarang, berputarlah ke kiri."
Yixing menurut dan matanya melebar ketika melihat Junmyeon duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Namja itu tersenyum kecil padanya sambil menurunkan ponsel.
Yixing mengerjab heran. Pertama, karena Junmyeon tersenyum padanya. Benar-benar tersenyum. Bukan senyum hambar nan sinis yang sering ditunjukkan namja itu padanya. Kedua, karena Junmyeon ada disana.
"Kenapa kau bisa ada disini? Sudah berapa lama kau disini?" tanya Yixing heran.
Bukannya menjawab pertanyaan Yixing, Junmyeon malah berkata ringan. "Oh ya, kau boleh menurunkan ponselmu sekarang."
Yixing tersentak dan menyadari ponselnya masih menempel di telinga. Dia segera memasukkan ponselnya ke tas dan menghampiri Junmyeon.
"Jadi itu yang namanya tari kontemporer. Dan aku tidak menyangka kau juga mendengarkan lagu-lagu Italia." Gumam Junmyeon.
Yixing mengangkat bahu. "Aku bahkan tidak menyangka kau tau itu lagu Italia."
"Aku ini musisi. Tentu saja aku tau semua jenis lagu dan musik." Sahut Junmyeon cepat. Sedikit menyombongkan diri.
Yixing baru saja akan membuka mulutnya untuk membalas perkataan Junmyeon ketika namja itu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar. Yixing mengurungkan niatnya dan memutuskan mengikuti Junmyeon.
"Jadi kau sudah bertemu dengan gurumu?" tanya Yixing berbasa-basi.
"Sudah."
"Dia masih ingat padamu?
"Tentu saja." Sahut Junmyeon sedikit tersinggung. "Ngomong-ngomong, yang tadi itu gurumu?"
Yixing melirik Junmyeon. Tumben sekali namja itu mengajaknya mengobrol. Padahal biasanya Junmyeon akan berbicara seperlunya saja. Sepertinya suasana hati Junmyeon sedang baik hari ini.
"Ya." sahut Yixing singkat.
"Dia sangat memujimu tadi. Dan dia juga berkata kau adalah salah satu penari terbaiknya."
"Benarkah?" Yixing mengangkat bahu. "Banyak penari lain yang lebih hebat dariku. Oh ya, kau mau kemana sekarang? Pulang? Baiklah, kau tunggu saja di pintu depan. Aku akan mengambil mobil..."
"Aku belum ingin pulang." Sela Junmyeon.
Yixing megerjab. "Lalu kau mau kemana?"
Junmyeon tersenyum samar. "Toko musik."
Sementara Junmyeon sibuk di bagian musik klasik, Yixing memilih beberapa lagu yang ingin didengarnya dan memasang headphone. Sambil menunggu namja itu, Yixing bisa bersantai sejenak menikmati dunianya. Suasana hati Junmyeon yang sedang baik itu perlahan-lahan mencarkan ketegangan yang Yixing rasakan setiap kali berada di dekat namja itu. Tapi mereka belum bisa disebut teman, meski Yixing tau Junmyeon tidak membencinya. Kalau mengobrol dengan guru pianonya membuat Junmyeon berubah sedikit menyenangkan seperti hari ini, Yixing tidak keberatan mengantar namja itu menemui gurunya setiap hari.
Yixing tidak tau berapa lama dia berdiri disana dan mendengarkan lagu, sampai dia menyadari Junmyeon sudah berdiri di sampingnya.
"Apa yang kau dengarkan?" tanyanya sambil melirik sampul CD yang berada di genggaman Yixing. "Lagu Italia?"
"Ya."
"Kalau kau suka lagu Italia, coba dengarkan lagu ini." kata Junmyeon sambil memasukkan CD yang dipilihnya ke player.
"Lagu apa itu?"
"Eppure Sentire."
Yixing tidak tau apa artinya, tapi judul itu terdengar bagus ketika Junmyeon mengucapkannya. Yixing memejamkan mata dan mendengarkan alunan musik yang mengalun di telinganya. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Lagu itu sangat bagus. Lagu itu berhasil menyusup ke dalam jiwanya, membuat bulu kuduknya meremang dan membuatnya melayang. Gerakan-gerakan tari seketika terbayang dalam benaknya. Setelah lagu berhenti, Yixing menoleh dan tersenyum lebar pada Junmyeon.
"Aku harus mencari lagu ini. Lagu ini sangat bagus. Kau memang jenius. Terima kasih banyak." Kata Yixing semangat. Matanya berkilat-kilat senang.
Junmyeon tertegun, menyadari bahwa itu pertama kalinya Yixing tersenyum padanya. Junmyeon merasa aneh. Namja itu memang sering tersenyum. Kepada Sehun, kepada Yifan, kepada semua orang. Tapi tidak pernah kepada Junmyeon. Junmyeon tau benar itu, karena dia sendiri yang tidak pernah memberi Yixing alasan untuk tersenyum padanya. Untuk apa? Untuk apa kau ingin malaikat kegelapanmu tersenyum padamu? Tapi sekarang, setelah melihat bagaimana namja itu tersenyum padanya, Junmyeon harus mengakui bahwa dia tidak pernah tau ada malaikat kegelapan yang bisa tersenyum semanis itu.
Eh, apa? Manis? Haish...
Dan Junmyeon hanya bisa mendesah pelan ketika dilihatnya namja itu menghampiri salah seorang pegawai toko lalu mereka berdua pergi sambil bercakap-cakap. Junmyeon menggeleng-geleng dan mengenakan headphonenya.
Lima belas menit kemudian, Yixing mendekat ke arah Junmyeon dengan namja pegawai toko yang mengekor di belakangnya.
"Lihat, apa yang ditemukan Chanyeol untukku."
Chanyeol? Junmyeon melirik sekilas name tag yang terpasang di dada kiri namja jangkung yang tengah tersenyum lebar itu, menampilkan barisan giginya yang putih dan rapi. Oh, jadi namanya Chanyeol. Lalu Junmyeon mengalihkan tatapannya kembali pada Yixing. "Apa itu?"
"Albummu. Aku bertanya pada Chanyeol apakah mereka punya albummu dan ternyata mereka punya. Aku akan membeli satu karena aku belum pernah mendengar lagumu."
Junmyeon mendengus. Sebenarnya dia ingin berkata bahwa dia bisa memberikan CD-nya secara gratis kalau namja itu mau, tapi Junmyeon mengurungkan niatnya. Sebaliknya dia malah bertanya, "Memangnya kau mendengarkan lagu instrumental juga?"
"Tentu saja."
Saat itu Chanyeol menatap Junmyeon dan mengerjab. "Oh, kau Kim Junmyeon?"
"Ya." jawab Junmyeon datar.
"Wah, keren. Aku penggemarmu. Boleh minta tanda tangan dan foto bersama?"
Meski enggan, tapi Junmyeon menuruti permintaan Chanyeol.
"Dia meminta foto bersamaku padahal keadaanku seperti ini." gerutu Junmyeon ketika mereka keluar dari toko musik.
Yixing tertawa. "Tenang saja. Aku sudah memastikan tanganmu tidak terlihat."
"Terima kasih." sahut Junmyeon masam.
**ooo**
Walaupun sikap Junmyeon pada Yixing membaik, tapi bukan berarti dia mendadak berubah menjadi pangeran berkuda putih. Ketika mereka mampir ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan, namja itu tetap memperlakukan Yixing seperti pesuruh.
"Zhang, ambil trolinya."
"Zhang, cepatlah sedikit."
"Zhang, bukan yang ini. Tapi yang itu."
"Zhang, bayar."
Bahkan Yixing yang mengangkut semua barang belanjaan ke mobil. Sementara Junmyeon malah tenang-tenang saja. Lagaknya sudah seperti boss saja.
"Memangnya kau pikir aku bisa membantumu dengan keadaan seperti ini?" kata Junmyeon tanpa beban.
Yixing merengut kesal. Lihat saja nanti. Junmyeon akan mendapat balasannya. Menambahkan lada banyak-banyak ke dalam sup untuk makan malam nanti sepertinya ide yang bagus. Atau Yixing akan membuatkan makanan yang tidak bisa dimakan dengan satu tangan. Steak misalnya. Atau...
"Malam ini aku ingin makan di luar." Kata Junmyeon tiba-tiba. Seolah-olah dia bisa membaca rencana busuk yang sedang disusun Yixing untuknya.
"Apa?"
"Aku ingin makan di luar. Ada restoran yang sudah lama tidak kukunjungi. Di daerah Apgujeong. Nanti aku tunjukkan jalannya."
Sial. Gagal sudah rencana sup lada itu, batin Yixing. Dia mendesah pelan dan membelokkan mobilnya ke jalan raya.
Tiba-tiba Yixing tersentak kaget. Dikeluarkannya ponselnya dari saku celananya. Yixing memasang earphone ke telinganya, menggeser ikon hijau di layar ponselnya dan menyapa riang. "Halo, Sehun-ah."
Junmyeon menyipitkan mata. Sepertinya Sehun sering sekali ya menelepon Yixing?
"Ya, aku masih bersama hyungmu. Kami akan pergi makan malam. Semua baik-baik saja disini. Bagaimana festivalmu?"
Sementara Yixing masih terus berbicara dengan Sehun sambil sesekali tertawa kecil, tiba-tiba Junmyeon teringat apa yang pernah dikatakan Sehun padanya dulu.
Kadang-kadang aku berpikir dia menyukaiku. Kau tau, hyung, ada saatnya ketika dia menatapku, tersenyum padaku, atau ketika dia berbicara padaku, kupikir dia menyukaiku. Tapi kemudian aku sadar bahwa dia juga menatap, tersenyum, dan berbicara kepada orang lain seperti itu.
Itulah yang dikatakan Sehun. Dan yah, Sehun benar.
Cara Yixing menatap Junmyeon tadi, caranya tersenyum, dan caranya berbicara kepada Junmyeon, sama seperti caranya menatap, tersenyum, dan berbicara kepada Sehun. Juga kepada Yifan, teman-teman yang sering meneleponnya, teman-temannya di Kyunghee tadi, bahkan kepada Chanyeol, si pegawai toko musik.
Sesuatu yang aneh menyusup ke dada Junmyeon. Mungkin karena dia tidak ingin adik semata wayangnya merasa kecewa karena hal itu sedikit banyak membuktikan bahwa Yixing tidak memiliki perasaan khusus kepada Sehun. Ya, pasti itu alasannya.
Bayangan dirinya samar-samar memantul di kaca jendela ruang duduknya. Langit di luar terlihat hitam kelam. Junmyeon memandang keluar jendela. Dia sudah lama berdiri disana, sekitar setengah jam yang lalu, ketika Yixing mengantarnya pulang ke apartemen. Kening Junmyeon berkerut samar. Otak jeniusnya berputar. Bayangan-bayangan jelas berkelebat dalam benaknya. Bayangan ketika Yixing menari di atas panggung. Gerakan tubuh namja itu, ekspresi wajahnya, semuanya.
Junmyeon berputar dan berjalan cepat ke arah pianonya. Dia meraih setumpuk partitur yang kosong dan meletakkannya di penyangga buku. Tangan kirinya mulai menari-nari di atas piano, memainkan beberapa nada, lalu Junmyeon meraih pensil dan menuliskannya di atas kertas. Proses itu terus berulang. Meski dia tidak bisa menggunakan tangan kanannya, tapi tidak apa-apa. Junmyeon bisa membayangkan gabungan nadanya, kord-kord yang akan melengkapi melodi ini. Dia bisa membayangkan keseluruhan lagunya. Dia bisa mendengarnya. Junmyeon menulis lagu baru, bukan melanjutkan lagunya yang belum selesai itu. Lagu yang tiba-tiba saja terbersit dalam otaknya dan mengalun cepat dalam benaknya.
Kim Junmyeon akhirnya mendapatkan inspirasi. Yeah, inspirasi yang datang ketika dia teringat pada seorang Zhang Yixing.
TBC
A/N :
Yuhuuuuu, saya kembali datang bawa chapter 4.
Buat para SuLay shipper sejati, bersiaplah. Karena setelah ini, bakal banyak SuLay moment yang bertebaran. Sepertinya mereka sudah mulai saling jatuh cinta :D
So, siapkan diri kalian untuk menyaksikan moment-moment mereka yang bikin melayang #smirk.
Coming soon di situs fanfiction kesayangan Anda (?)
Sekian bacotan dari saya :D
Thanks to :
dontyouworrychild, welkom, remotipi, SodariBangYifan, GabyGaluh, Xiao yueliang, steffanyelfxoticsbaby, MommyTao, chenma, BabyMoonLay, xing mae30, selviansummer, shintalang, kerdus susu, xingiemyun, guestexoexo, flappyixing, hipopan, Kin Ocean, hyunhyun, dazzle, xingmyun, lalaland, uyakuya, idareyou, imsexyandiknowit, dan segenap guest, favoriter, dan follower sekalian...
Mian kalo ada yang kelewatan dan typo penname. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya. Mian gak bisa bales satu-satu.
Gomawo all *kecupsatusatu*
Sampai jumpa chapter depan ~
Wanna to review? /wink/
