Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*

Genre : Romance

Rate : T

Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun

and many more...

Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR

Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D

Happy Reading ~

Chapter 5

Sehun menekan bel interkom gedung apartemen Junmyeon dan menunggu. Sudah berkali-kali dia mencoba, tetap tidak ada jawaban.

"Kemana mereka?" gumam Sehun heran. Sehun berpikir, mungkin hyungnya sedang pergi bersana Yifan, jadi sudah pasti Yixing juga tidak ada disini. Lalu Sehun mencoba menelepon Yixing tapi namja itu tidak menjawab. Sehun menutup ponselnya dan melangkah pergi. Mungkin Yixing ada di studio, jadi Sehun memutuskan untuk menemui Yixing disana. Dia ingin bertanya bagaimana keadaan Yixing. Apakah Junmyeon memperlakukan Yixing dengan baik. Terakhir kali Sehun melihat mereka dua minggu lalu, hyungnya itu masih sering uring-uringan dan tidak berusaha bersikap ramah pada Yixing.

Sehun baru saja menuruni anak tangga pertama ketika dilihatnya mobil Yixing berhenti di depan gedung apartemen. Alis Sehun terangkat heran ketika melihat Junmyeon turun dari pintu penumpang dan menunggu Yixing. Sehun melihat tangan kanan Junmyeon tidak lagi digantung, meski pergelangan tangannya masih diperban. Mereka asyik berbincang sehingga tidak menyadari kehadiran Sehun disana. Yixing mengaduk-aduk tasnya, mencari sesuatu. Saking sibuknya mengaduk-aduk tasnya, kunci mobil Yixing terlepas dari genggaman dan terjatuh ke tanah. Tanpa diminta, Junmyeon membungkuk dan memungutnya. Sehun tertegun sejenak, kemudian tersenyum kecil. Sepertinya hyungnya sudah mulai berubah.

"Kau ini benar-benar merepotkan." Gerutu Junmyeon sambil menyodorkan kunci mobil pada Yixing.

"Tolong peganglah dulu...Aish, dimana benda itu?" kata Yixing, masih mengaduk-aduk tasnya. Sesekali dia juga merogoh saku celana dan juga jaketnya.

Junmyeon mengerang pelan. "Jangan bilang kau menghilangkan kunci rumahku."

"Enak saja! Aku yakin sudah memasukkannya ke tas. Nah, ini dia!" Yixing mengacungkan kunci rumah Junmyeon dengan penuh kemenangan. Saat itulah dia melihat Sehun berdiri di pintu depan gedung. Yixing tersenyum lebar.

"Sehun-ah, hai!" sapanya riang.

"Oh, kau sudah kembali dari Beijing?" tanya Junmyeon.

Sehun tersenyum lebar. "Yixing-ah, apa kabar? Kalian dari mana?"

Junmyeon memutar bola mata dan mendengus. Lagi-lagi Sehun mengabaikannya.

"Kami dari rumah sakit. Pemeriksaan rutin. Dokter bilang tangannya sudah tidak perlu digantung lagi." sahut Yixing sambil menunjuk tangan Junmyeon.

"Tadi aku meneleponmu."

Yixing menaikkan alis. "Oh, ternyata kau yang menelepon?"

Sehun mengangguk. "Ya. Tapi kau tidak menjawab. Aku kira kau sedang mengajar."

Yixing melirik Junmyeon sekilas. "Junmyeon hyung melarangku menjawab telepon saat aku sedang mengemudi. Padahal aku kan..."

"Tentu saja kau tidak boleh menelepon sambil mengemudi. Kalau kita celaka bagaimana? Apa belum cukup kau mematahkan tanganku?" sela Junmyeon.

"Padahal aku selalu menggunakan earphone. Tapi orang ini tetap melarangku." Kata Yixing sambil merengut kesal.

"Sudahlah. Yixing-ah, kau tidak mengajar hari ini?" Sehun mengalihkan topik pembicaraan agar kedua orang itu tidak bertengkar lagi.

Yixing melirik arlojinya. "Jam berapa sekarang? Gawat, aku lupa. Aku harus pergi sekarang. Sehun-ah, untung kau ada disini. Tolong kau temani hyungmu hari ini ya." katanya sambil menyerahkan kunci rumah Junmyeon.

Sehun terbengong. Sudah hampir dua minggu dia tidak melihat Yixing dan sekarang setelah bertemu sebentar, namja itu malah harus segera pergi? "Tapi, Yixing-ah..."

Sayangnya Yixing sudah berbalik menuju mobilnya.

"Hei, Zhang." Panggil Junmyeon.

Yixing berhenti melangkah dan menoleh. "Ya?"

"Kau melupakan sesuatu." Kata Junmyeon sambil mengacungkan kunci mobil Yixing yang masih dipegangnya.

Yixing tertawa malu dan berlari-lari kecil menghampiri Junmyeon. "Terima kasih."

Sebelum Yixing berbalik dan pergi lagi, Sehun cepat-cepat bertanya. "Yixing-ah, kau ada waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu makan malam. Kau bisa?"

Yixing berpikir sejenak kemudian tersenyum. "Tentu saja."

Sehun tersenyum lebar. Lalu seperti teringat sesuatu, Sehun menoleh ke arah Junmyeon yang sedari tadi hanya diam. "Hyung, kau tidak membutuhkan Yixing malam ini, kan?"

"Tidak." sahut Junmyeon singkat.

"Baguslah kalau begitu. Sehun-ah, sampai jumpa nanti malam." Kata Yixing sambil melambaikan tangan dan melangkah pergi.


"Jadi, hyung, semuanya baik-baik saja kan selama aku tidak ada?" tanya Sehun sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Seperti yang kau lihat sendiri."

"Oh ya, apa hyung tau kalau Appa dan Umma akan segera pulang ke Seoul?"

"Ya. Umma meneleponku sebelum mereka naik pesawat." Kata Junmyeon sambil berjalan ke arah dapur.

"Umma pasti akan jantungan kalau tau soal tanganmu."

"Umma sudah tau. Tadi dia berteriak-teriak padaku di telepon. Ngomong-ngomong, kau mau minum apa, Sehunie?"

"Apa saja, hyung." Jawab Sehun setengah berseru.

Junmyeon kembali dari dapur dengan membawa sebuah apel dan jus jeruk di tangan kirinya. "Minum ini."

Sehun menatap jus jeruk yang disodorkan Junmyeon padanya. "Hyung, kau pikir aku anak kecil apa?"

Junmyeon mendengus pelan. "Dia menjejali kulkasku dengan aneka macam buah dan jus. Kalau kau tidak suka jeruk, masih ada tomat, apel, dan entah apa lagi. Cari saja sendiri."

"Dia? Maksud hyung, Yixing?"

Junmyeon mengangkat bahu. "Ya. Siapa lagi?"

"Ya sudah, jus jeruk juga tidak apa-apa. Oh ya, hyung, apakah kau memberitahu Umma tentang Yixing?"

Junmyeon duduk di depan piano sambil menggigit apelnya. "Tidak. Aku bilang pada Umma aku terjatuh dari tangga. Dan memang benar, kan? Aku terjatuh setelah ditubruk orang itu."

Sehun terkekeh pelan. "Sepertinya kau harus bersiap-siap, hyung. Aku rasa Umma akan langsung datang kesini setelah turun dari pesawat."

"Yeah, aku tau."

"Hyung, aku senang kau sudah tidak terlalu sinis padanya. Dia namja yang menyenangkan, kan?"

"Oh ya?" jawab Junmyeon acuh.

"Jangan terlalu keras padanya, hyung. Yixing hanya ingin membantumu." Bujuk Sehun.

Junmyeon hanya bergumam tidak jelas.

"Ngomong-ngomong, itu apa, hyung?" tanya Sehun sambil menunjuk deretan pot kecil di bingkai jendela.

Junmyeon melirik sekilas ke arah yang ditunjuk Sehun. "Namja itu yang membawanya kesini. Dia bilang tanamannya bisa mendapat lebih banyak cahaya matahari disini daripada di apartemennya."

Sehun mengerjab heran. "Yixing yang membawanya kesini?"

Junmyeon mengangguk. "Dia suka tanaman."

"Dan hyung mengijinkannya membawa semua tanamannya kesini?"

Junmyeon mengangguk singkat. Sehun mengerjab. Kenapa selama ini dia tidak tau Yixing suka tanaman? Lalu apa lagi yang disukai Yixing?

"Hyung, belakangan ini Yixing lebih banyak menghabiskan waktunya bersamamu. Jadi kurasa hyung pasti lebih tau. Apa lagi yang hyung ketahui tentang Yixing?" tanya Sehun.

"Apa?" tanya Junmyeon bingung.

"Apa lagi yang hyung ketahui tentang Yixing?" tanya Sehun lagi. "Kau harus membantuku, hyung. Aku ingin mendekatinya, tapi aku tidak tau apa-apa tentang dirinya. Apakah dia pernah membicarakan aku? Bagaimana pendapatnya tentang aku? Apa..."

"Kalau kau memang menyukainya, kenapa kau tidak bertanya langsung padanya? Bukankah kalian berdua sangat dekat?" potong Junmyeon sebelum Sehun menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan lain.

Sehun menunduk. "Aku tidak tau, hyung. Entahlah, walaupun dia selalu bersikap baik, tapi aku merasa dia masih menjaga jarak. Aku takut aku akan menanyakan hal yang salah dan dia semakin menjaga jarak denganku. Aku...tidak tau bagaimana cara menghadapinya."

Junmyeon menghela nafas sejenak dan menatap Sehun. Tidak sampai hati juga melhat adik semata wayangnya terlihat sebegitu putus asanya.

"Dia seorang penari." Kata Junmyeon pelan.

"Kalau itu aku tau, hyung."

"Dia lulusan Kyunghee."

Sehun tertegun menatap Junmyeon. "Apa?"

"Kau tidak tau, kan?"

Sehun menggeleng. Bagaimana bisa dia tidak tau Yixing lulusan Kyunghee?

"Dia suka lagu Italia. Dan makanan Italia."

"Kalau begitu aku harus membawanya ke restoran Italia malam ini." gumam Sehun. "Apa lagi, hyung?"

"Dia..." Junmyeon menggantung ucapannya.

"Dia kenapa?"

"Tidak apa-apa. Terkadang, dia bisa sangat merepotkan. Itu saja." Lanjut Junmyeon sambil bangkit dari bangkunya.

"Hanya itu yang bisa kau ceritakan padaku, hyung?" tanya Sehun sedikit kecewa.

"Kau mengenalnya lebih dulu daripada aku. Seharusnya kau lebih tau tentang dirinya." Sahut Junmyeon datar.

"Seharusnya memang begitu. Tapi bahkan aku tidak tau Yixing lulusan Kyunghee."

"Itu karena kau tidak pernah bertanya."

Sehun terdiam. Hyungnya benar. Dia memang tidak pernah bertanya. Sehun selalu merasa salah tingkah di depan Yixing. Lalu bagaimana caranya membuat Yixing memandangnya dan hanya dirinya?

"Jangan bertanya padaku. Kau yang harus memikirkannya sendiri."

Sehun menatap Junmyeon dan menyadari bahwa dia kelepasan bicara, menyuarakan apa yang dipikirkannya. "Kurasa aku harus bertindak cepat. Aku bukan satu-satunya orang yang berusaha mendekatinya."

"Hmmm, aku tau itu."

"Kau tau, hyung?"

"Dia sering mendapat telepon. Dia bilang mereka semua temannya."

Sehun mendesah. "Itulah masalahnya. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Aku harus memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaanku padanya."

Junmyeon tertegun. "Kau mau menyatakan perasaanmu? Malam ini?"

"Tentu saja. Sampai kapan aku akan berdiam diri seperti ini terus? Aku harus melakukannya sebelum orang lain melakukannya. Aku tidak mau terlambat, hyung."

Junmyeon tidak menjawab. Hanya kembali menggigit apelnya. Tapi anehnya, kenapa sekarang apel itu terasa masam di mulutnya?

"Aku pergi dulu ya, hyung. Doakan aku sukses malam ini." kata Sehun sambil melangkah ke pintu dan pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban Junmyeon.

Dan sepertinya Sehun tidak menyadari bahwa Junmyeon sama sekali tidak menjawab.

**ooo**

Junmyeon menekan tuts yang menghasilkan nada mi rendah dengan jari telunjuk. Selang beberapa detik, dia mengangkat jarinya. Lalu dia kembali menekan tuts yang sama, menekannya sebentar, lalu melepasnya. Junmyeon melakukannya berulang-ulang hingga hanya satu nada monoton menyedihkan itu yang bergema di apartemennya yang sunyi. Tadinya Junmyeon berencana menghabiskan malam ini dengan duduk di depan piano, menulis lagu. Tapi otaknya malah buntu. Tidak ada satu idepun yang melintas di benaknya. Pikirannya kosong melompong.

Bosan...

Lapar...

Junmyeon bangkit dan berjalan ke dapur. Yixing tidak menyiapkan makan malam untuknya dan Junmyeon tidak bisa menyiapkan makan malamnya sendiri dengan satu tangan. Well, asalkan berusaha, sebenarnya dia bisa melakukannya. Tapi Junmyeon tidak mau. Karena selama ini, ada Yixing yang melakukan segala hal untuknya. Dan sekarang namja itu tidak ada. Sebenarnya selama ini Yixing tidak pernah tinggal sampai malam di apartemen Junmyeon. Dia akan pulang setelah menyiapkan makan malam. Dan Junmyeon tidak pernah keberatan. Tapi kenapa hari ini berbeda?

Karena namja itu pergi makan malam dengan Sehun?

Junmyeon jadi kesal sendiri ketika gagasan itu berkelebat dalam benaknya. Karena namja itu pergi makan malam dan membiarkan aku kelaparan disini, koreksi Junmyeon dalam hati. Ya ya, itulah alasannya.

Junmyeon kembali ke ruang duduk dan tanpa sengaja matanya terpaku pada ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Dia bisa menyuruh Yixing datang setelah acara makan malamnya dengan Sehun selesai. Junmyeon meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat.

Apa kau bisa datang kesini setelah acara makan malammu selesai?

Beberapa menit berlalu dan tidak ada balasan. Junmyeon menatap ponselnya dengan tajam. Kalau tatapan bisa menghancurkan sesuatu, ponsel Junmyeon pasti sudah hancur lebur sekarang. Baru saja Junmyeon hendak menelepon namja itu, terdengar bunyi pelan tanda ada pesan masuk. Memang dari namja itu, tapi hanya satu kata.

Kenapa?

Apa katanya? Kenapa? Batin Junmyeon jengkel. Junmyeon mengetikkan balasan dengan cepat.

Karena kau belum menyiapkan makan malam untukku.

Dua menit kemudian, ponsel Junmyeon berbunyi lagi.

Bagaimana kalau kau mengajak Yifan hyung saja?

Junmyeon membalas, Yifan sudah ada janji dengan orang lain.

Balasan datang lagi. Mungkin Sehun bisa menemanimu.

Sehun? Junmyeon melirik jam. Jam delapan lewat. Apakah acara mereka sudah selesai? Cepar sekali. Kalau begitu, mungkin saja Sehun bisa menemaninya. Tapi, kenapa namja itu menolak datang? Kalau acaranya dengan Sehun sudah selesai, seharusnya dia bisa datang. Tapi kenapa? Yixing seolah-olah enggan datang ke apartemennya. Junmyeon tidak suka memikirkan ini, tapi apakah Yixing sedang bersama orang lain? Namja yang sering meneleponnya? Atau mungkin dokter muda yang ditemuinya di rumah sakit waktu itu?

Haish, itu bukan urusanku, dumal Junmyeon kesal.

Sebaiknya kau datang kesini sekarang juga, ketik Junmyeon lalu menekan tombol "kirim" dengan kasar.


Membaca pesan dari Junmyeon membuat Yixing terpaksa bangkit dari rebahannya. Yixing meraba dadanya, sudah tidak terlalu sakit. Kepalanya juga tidak terlalu pusing.

Aku tidak boleh terlalu lelah, batinnya.

Yixing meraih ponselnya dan mendesah pelan ketika membaca pesan yang dikirim Junmyeon untuknya.

Jadi kau bisa datang atau tidak?

Yixing menggigit bibir dengan kesal. Apakah namja itu tidak bisa membiarkannya tenang sedikit?

Baiklah, balasnya singkat. Yixing turun dari tempat tidurnya dan melirik tabung plastik yang diletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur. Dia akan pergi ke apartemen Junmyeon, jadi sebaiknya dia minum sebutir obat lagi.

**ooo**

Yixing merapatkan jaketnya dan menekan bel interkom gedung apartemen Junmyeon. Sedetik kemudian pintu terbuka dan Yixing segera berjalan masuk ke lift. Pintu lift terbuka di lantai empat dan langkah Yixing terhenti ketika dilihatnya Junmyeon sedang berdiri bersandar di pintu apartemennya yang terbuka.

"Kenapa kau berdiri di situ?" tanya Yixing heran.

"Kenapa kau tidak menjawab teleponmu?" Junmyeon balas bertanya.

"Telepon?" ulang Yixing. "Aku sudah membalas pesanmu, kan?"

"Bukan pesan. Aku meneleponmu berkali-kali tadi."

Yixing mengerjab. "Oh, sepertinya ponselku tertinggal. Maaf."

Junmyeon mendesah pelan. "Masuklah."

Yixing mengikuti Junmyeon dan begitu masuk ke dalam apartemen, Yixing langsung merasa nyaman. Sebenarnya hal itu tidak aneh mengingat beberapa minggu ini Yixing lebih banyak menghabiskan waktunya di apartemen Junmyeon daripada di apartemennya sendiri. Yixing menyampirkan jaketnya di sandaran kursi ruang duduk.

"Jadi, kenapa kau belum makan?"

"Karena seseorang tidak menyiapkan makan malam untukku. Memangnya kau pikir aku bisa memasak sendiri dengan tangan seperti ini?" jawab Junmyeon acuh.

"Baiklah. Kau mau makan apa?"

Ketika Yixing hendak berjalan ke dapur dan melewati Junmyeon, tangan namja itu terulur menahan lengannya, membuat Yixing sedikit terkejut. Sentuhan itu sangat singkat, hanya sentuhan sekilas sebelum Junmyeon menurunkan tangannya kembali.

"Kau tidak apa-apa?"

Yixing mengerjab. Apa dia tidak salah dengar? Apakah dia benar-benar mendengar seberkas kekhawatiran dalam suara Junmyeon?

"Kau terlihat pucat." Kata Junmyeon lagi.

Yixing menelan ludah dan menggeleng. Dia memaksakan senyum kecil dan berkata dengan nada bercanda. "Kim Junmyeon mengkhawatirkanku? Ini benar-benar kejadian langka." Ketika melihat Junmyeon hanya terdiam, Yixing menambahkan. "Aku baik-baik saja."

Lalu Yixing berjalan ke dapur dan Junmyeon mengikutinya dari belakang. Yixing membuka kulkas dan melihat apa yang sekiranya bisa dimasaknya. "Kau mau makan apa?"

"Apa saja."

"Bagaimana kalau sup ayam dengan kentang?"

Junmyeon mengangguk. "Boleh."

Yixing mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Tadinya dia mengira Junmyeon akan membiarkannya bekerja sendirian, tapi dia salah. Junmyeon tetap berdiri bersandar di lemari dapur sambil memperhatikan gerak-geriknya, membuat Yixing semakin gelisah.

"Kata Sehun, kau membatalkan acara makan malam karena kau tidak enak badan. Sebenarnya setelah tau itu, aku meneleponmu untuk memberitahumu agar kau tidak perlu datang. Tapi kau tidak mengangkat telepon."

Yixing tidak tau harus berkata apa. "Oh, begitu."

Tiba-tiba Yixing merasa Junmyeon menghampirinya dan sedetik kemudian, Yixing merasakan telapak tangan Junmyeon yang dingin menyentuh keningnya. Saking terkejutnya, Yixing hampir saja menjatuhkan panci yang dipegangnya.

"Tidak panas." gumam Junmyeon lalu menurunkan tangannya.

Yixing berbalik dan jantungnya melonjak lagi ketika menyadari Junmyeon berdiri tepat di depannya. Terlalu dekat. "Aku...memang tidak demam." Jawab Yixing gugup dan segera beringsut menjauh. Keningnya memang tidak panas, tapi Yixing merasa pipinya memanas. Dan jantungnya juga berdebar dengan begitu keras dan cepat. Ini tidak normal. Ada apa dengan dirinya?

"Jadi..kau sakit apa?" tanya Junmyeon lagi.

Yixing menunduk. "Aku...hanya kecapekan."

"Dan aku menyuruhmu datang kesini malam-malam begini."

Mendengar kalimat yang bisa diartikan sebagai permintaan maaf itu, Yixing tersenyum. "Tidak apa-apa. Kalau hanya masak sup, sama sekali tidak sulit."

Junmyeon mengulurkan tangan kirinya dan mematikan keran yang masih menyala. Lalu mengambil panci di tangan Yixing dan meletakkannya di atas meja. "Lupakan saja. Aku tidak lapar. Sebaiknya hari ini kau istirahat. Pulanglah."

"Aku tidak apa-apa, sungguh. Emmmm, dan kau tau, sebenarnya aku juga belum makan."

"Kenapa belum makan?" tanya Junmyeon dengan alis berkerut.

"Karena aku tidak lapar." Yixing tersenyum lebar. "Tapi sekarang aku mulai lapar."

"Benarkah? Jadi kau sudah merasa lebih sehat?"

Yixing mengangguk. "Sebenarnya aku merasa jauh lebih baik setelah datang kesini."

Junmyeon memiringkan kepala, mengamati Yixing. Dan tersenyum. "Sepertinya kau tidak terlalu pucat lagi. Baguslah kalau begitu."

Senyum itu membuat wajah Yixing kembali memanas dan jantungnya kembali berdebar kencang sampai-sampai Yixing takut Junmyeon bisa mendengarnya.

Kenapa hanya dengan satu senyuman bisa membuat jantung Yixing berdebar-debar seperti itu? Ya Tuhan, ini benar-benar gawat.

**ooo**

Sebenarnya aku merasa jauh lebih baik setelah datang kesini.

Entah kenapa Junmyeon merasa sangat senang ketika Yixing mengatakan kalimat itu. Dan Junmyeon merasa bodoh karena beharap...Tunggu, apa sebenarnya yang diharapkannya? Entahlah.

Mereka makan di ruang duduk. Mereka duduk di karpet hangat di lantai sambil menonton TV. Saat ini adalah saat Junmyeon merasa paling nyaman bersama Yixing. Selama ini, dia memang sudah terbiasa dengan kehadiran namja itu di apartemennya, tapi malam ini dia merasa mereka seperti dua sahabat yang saling mengenal sejak kecil. Mereka makan malam bersama di lantai sambil menonton TV, berbicara, dan menertawakan hal kecil yang tidak berarti. Kapan Junmyeon pernah merasa sesantai ini mengobrol dengan seseorang? Dia tidak ingat.

"Junmyeon hyung.."

Junmyeon merasa ada sesuatu yang aneh dalam dadanya ketika mendengar Yixing memanggil namanya. Aneh, tapi sama sekali bukan dalam arti yang buruk. "Apa?"

"Aku harus mengakui sesuatu." Yixing tersenyum kecil. "Aku memang sudah membeli albummu, tapi aku belum pernah mendengarkannya."

"Kenapa kau membelinya kalau kau tidak mau mendengarkannya?" gerutu Junmyeon.

"Karena Chanyeol berkata seharusnya aku mendengar permainanmu secara langsung." Jawab Yixing ringan.

"Yah, kau harus menunggu lama untuk itu." kata Junmyeon sambil mengangkat tangan kanannya yang masih diperban.

Yixing menatap tangan Junmyeon dan wajahnya berubah muram. "Maaf." Gumamnya pelan.

"Sudahlah. Kau sudah terlalu sering meminta maaf."

Junmyeon melirik Yixing yang tengah fokus menatap layar TV di depannya. "Kau akan mendengarkannya secara langsung saat tanganku sembuh nanti."

Yixing menoleh dan tersenyum. "Terima kasih."

"Tapi kalau kau mau mendengarnya sekarang juga boleh." Lanjut Junmyeon sambil meraih remote TV dan mematikan suaranya. Lalu dia meraih remote lain untuk menyalakan CD playernya.

"Kau suka memamerkan diri rupanya."

"Karena aku tau aku hebat." Jawab Junmyeon percaya diri.

Yixing tertawa dan Junmyeon mendapati dirinya bertanya-tanya bagaimana dulu dia bisa menganggap namja itu malaikat kegelapannya. Sungguh, malaikat kegelapan tidak mungkin tersenyum semanis itu. Junmyeon tertegun. Tunggu, apa yang barusan dipikirkannya? Astaga, dia mulai tidak waras.

Junmyeon menyingkirkan pikiran aneh itu dari otaknya dan menekan remote untuk memutar player. Beberapa detik kemudian, dentingan piano yang merdu memenuhi ruang duduk.

"Mmm." Gumam Yixing sambil memejamkan mata.

"Apa maksudmu dengan 'mmm'? Bagus? Biasa saja? Tidak sesuai harapan?"

Yixing membuka mata dan menatap Junmyeon. "Sangat indah. Kau benar. Kau memang hebat."

Junmyeon tidak tau kenapa dia merasa sangat senang hanya karena satu kalimat sederhana dari namja itu. Junmyeon juga tidak tau berapa lama mereka duduk berdiam sambil mendengarkan alunan musik dari CD player itu, ketika Junmyeon menyadari kepala Yixing terkulai ke samping.

"Zhang?" panggil Junmyeon pelan. Tidak ada jawaban.

Teringat kalau Yixing sedang tidak enak badan dan takut kalau namja itu tiba-tiba pingsan, Junmyeon mencondongkan tubuh ke arah Yixing untuk memastikan.

Ternyata namja itu tertidur.

"Dia bilang laguku bagus, tapi malah ketiduran mendengarnya." Gerutu Junmyeon. Dia melirik jam. Sebaiknya dia membangunkan Yixing dan menyuruhnya pulang sebelum malam semakin larut. Junmyeon menatap Yixing, hendak membangunkannya. Tapi ketika melihat wajah tidur Yixing yang begitu damai, Junmyeon mengurungkan niat. Mungkin sebaiknya dia membiarkan namja itu tidur sebentar.

Junmyeon tidak tau kenapa dia melakukannya, tapi ketika melihat kepala Yixing terkulai miring seperti itu, perlahan-lahn dia bergeser lebih dekat ke arah Yixing. Lalu dengan satu tangan, Junmyeon meraih sisi kepala Yixing dan menyandarkannya dengan hati-hati di bahunya.

"Zhang Yixing, kau ini benar-benar merepotkan." Gumamnya pelan.

Junmyeon tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, tapi ketika kepala Yixing bersandar di bahunya, segalanya terasa benar.

TBC


A/N :

Yuhuuuu, saya datang lagi #lambailambaigaje

Bagaimana chapter ini? Kurang fluffykah SuLay momentnya? xD

Untuk chapter ini, saya gak akan banyak ngebacot, mwehehehehe :D :D

Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.

Saranghae all *kecupsatusatu*

Sampai jumpa chapter depan ~

Wanna to review? /wink/