Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*

Genre : Romance

Rate : T

Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun

and many more...

Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR

Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D

Happy Reading ~

Chapter 6

"Zhang... Zhang."

Mendengar suara yang tidak asing itu, perlahan Yixing membuka matanya dan mendapati dirinya duduk bersandar di bahu Junmyeon.

"Dimana aku?" tanyanya serak.

"Di apartemenku. Aku belum membawamu kemana-mana." Sahut Junmyeon.

Yixing mengerjabkan matanya dan tersenyum malu. "Maaf, aku ketiduran."

Junmyeon tersenyum dan berdiri. "Ayo, aku akan mengantarmu pulang."

Yixing melirik arlojinya. Sudah hampir tengah malam. "Mengantarku? Mobilku ada di bawah, aku bisa pulang sendiri."

"Sudah malam. Dan kau juga sedang sakit. Tinggalkan saja mobilmu disini."

"Apa?"

"Pakai jaketmu. Ayo, taksi sudah menunggu di bawah."

Yixing mengenakan jaketnya dengan patuh. "Kapan kau menelepon taksi?"

"Ketika kau masih tidur. Kau tidak tau seberapa keras usahaku meraih ponsel dengan posisiku tadi."

Yixing merasa pipinya kembali memanas mengingat dia tertidur di bahu Junmyeon tadi. Dia tidak tau bagaimana dia bisa bersandar pada namja itu, tapi ada dua hal yang membuatnya heran. Pertama, dia heran Junmyeon membiarkannya bersandar padanya dan tidak mendorongnya jauh-jauh. Dan yang kedua...

"Kau menelepon taksi ketika aku tidur dan aku tidak terbangun?" tanya Yixing heran.

Junmyeon membuka pintu dan membiarkan Yixing keluar lebih dulu. "Tidurmu nyenyak sekali."

Kening Yixing berkerut. "Benarkah? Aneh."

"Apanya yang aneh?"

"Sebenarnya akhir-akhir ini aku tidak pernah tidur nyenyak. Aku selalu terbangun mendengar suara sekecil apapun." Kata Yixing.

"Kenapa bisa begitu?" tanya Junmyeon sambil menekan tombol lift.

"Entahlah."

"Sudah berapa lama kau tidak bisa tidur?"

"Hampir dua bulan."

"Seharusnya aku tidak membangunkanmu tadi." Gumam Junmyeon.

"Tidak apa-apa. Toh aku juga tidak mungkin tidur disini semalaman, kan?"

"Kenapa tidak?"

Yixing menatap Junmyeon dengan bingung.

"Sebenarnya aku bisa saja membiarkanmu tidur disini sepanjang malam, tapi menurutku, tidur dalam posisi seperti itu pasti tidak nyaman. Dan aku juga tidak bisa menggendongmu ke sofa dengan tangan begini."

Yixing mengerjab. Ehem, sebenarnya dia sama sekali tidak merasa tidak nyaman. Dia justru merasa sangat nyaman. Terlalu nyaman malah.

"Kau tidak apa-apa? Wajahmu merah." Kata Junmyeon tiba-tiba.

Yixing tersentak dan menggeleng cepat. "Tidak...Aku tidak apa-apa."

Tiba-tiba telapak tangan Junmyeon kembali menempel di kening Yixing dan jantung Yixing...astaga...jantungnya...

"Agak hangat." Gumam Junmyeon. "Kau yakin tidak apa-apa?"

Yixing mengangguk singkat. Saat itu pintu lift terbuka. Junmyeon melangkah keluar dan Yixing menghembuskan nafas yang sejak tadi ditahannya. Mereka masuk ke dalam taksi yang menunggu di depan. Setelah memberitahu sang sopir dimana alamatnya, Yixing menoleh pada Junmyeon yang duduk di sampingnya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kau membuka pintu depan ketika kau pulang nanti?"

"Aku bisa meminta salah satu tetanggaku untuk membukakan dari atas."

"Tengah malam begini?"

"Aku tau ada salah satu tetanggaku yang tidak bisa tidur sebelum jam dua pagi."

Ketika taksi mereka berhenti di depan gedung apartemen Yixing, Yixing turun dari taksi dan Junmyeon juga ikut turun.

"Sudah sampai. Apartemenku di lantai dua. Sekarang kau bisa pulang dengan tenang."

"Masuklah. Udara sangat dingin malam ini."

"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Kata Yixing.

Junmyeon tersenyum. "Sama-sama. Selamat malam. Sampai jumpa besok."

Aneh. Senyum itu membuat seluruh tubuh Yixing terasa hangat dan ringan, seolah-olah melayang. Yixing tidak bisa menjelaskannya dan dia tidak mau memikirkannya saat ini. Dia hanya ingin menikmati perasaan yang menyenangkan itu selama mungkin. Dan untuk pertama kalinya sepanjang ingatannya, Yixing tidak sabar menunggu hari esok.

**ooo**

Bunyi bel pintu membangunkan Junmyeon dari mimpi indahnya. Junmyeon mengerang pelan dan membuka mata dengan susah payah. Siapa yang membunyikan bel sepagi ini? Zhang Yixing? Tumben namja itu datang sebelum jam delapan.

Bel pintunya kembali berbunyi. Junmyeon bangkit dari tempat tidurnya dan menyeret kakinya dengan malas ke pintu. Ditekannya tombol interkom di samping pintu.

"Zhang?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Lalu terdengar suara yeoja balas bertanya. "Siapa itu Zhang?"

Junmyeon mengerutkan kening. Bukan Yixing? Lalu siapa? "Siapa ini?" tanyanya.

"Orang yang melahirkanmu ke dunia."

Junmyeon mengerjab. Kantuknya langsung hilang seketika. "Umma?"

"Satu-satunya. Cepat buka pintunya sebelum Appa dan Ummamu membeku disini."

Junmyeon segera menekan tombol untuk membuka pintu dan beberapa saat kemudian Appa dan Ummanya sudah berada di apartemennya.

"Apa yang terjadi dengan tanganmu?" tanya Kim Yoona, Umma Junmyeon, tanpa basa-basi begitu masuk ke apartemen putranya.

"Jangan khawatir, Umma. Hanya kecelakaan kecil. Aku terjatuh dari tangga." Kata Junmyeon singkat, merasa tidak perlu menceritakan keterlibatan Yixing.

Yoona mendecakkan lidah dengan kesal. "Kau ini. Kenapa tidak hati-hati?" gerutunya.

"Seharusnya kita membeli makanan dulu sebelum datang kesini. Yeobo, aku lapar." Kata Kim Siwon, Appa Junmyeon, pada istrinya.

"Benar juga. Kau mau minum kopi dulu? Aku akan membuatkannya sekarang. Myeoni, kau masih punya kopi kan?" Tanpa menunggu jawaban Junmyeon, Yoona segera beranjak ke dapur.

"Sebenarnya aku punya banyak makanan disini." Kata Junmyeon. Tapi sepertinya Ummanya tidak mendengar.

Siwon memperhatikan partitur-partitur yang tersebar di meja. "Lagu baru?" tanyanya. Dulu dia seorang pianis, tapi kini dia lebih aktif sebagai produser.

Junmyeon mengangguk. "Appa mau mencoba memainkannya? Aku belum pernah benar-benar memainkannya karena tangan ini."

"Tentu saja. Coba kita dengar seperti apa lagu ini."

Siwon memainkan beberapa baris dan dia terlihat terkesan. "Lumayan." Gumamnya.

"Hanya lumayan?" Junmyeon mengangkat alis.

Jemari Appanya masih menari-nari di atas piano. "Lebih dari lumayan." Lanjutnya. Melihat raut wajah Junmyeon, Siwon tertawa kecil. "Baiklah, Appa mengaku. Lagu ini sangat bagus."

Junmyeon tersenyum. "Sudah kuduga."

"Apa judulnya?"

Junmyeon belum sempat menjawab karena Yoona memanggilnya dari arah dapur dan berderap menghampirinya.

"Ya, Umma. Ada apa?"

Yoona memandang sekeliling ruang duduk dengan seksama lalu menatap Junmyeon lekat-lekat.

"Kau sudah punya pacar?"

"Apa?"

"Pacarmu tinggal disini?"

"Apa?" Junmyeon benar-benar tidak mengerti apa maksud Ummanya.

Yoona kembali memandang sekeliling ruangan dengan tajam. "Hmmm, Umma sudah tau ada yang aneh. Kulkas dan lemari dapur yang biasanya kosong melompong kini jadi penuh makanan. Apartemenmu juga terlihat jauh lebih bersih dan rapi. Dan pot-pot itu. Sejak kapan kau suka menghiasi apartemenmu dengan tanaman?"

Junmyeon menoleh ke arah yang ditunjuk Ummanya dan melihat pot-pot tanaman milik Yixing yang berderet di jendela. "Itu... dia..."

"Jadi kau sudah punya pacar?" kali ini Appanya yang bertanya.

"Tidak!" bantah Junmyeon. Dia tersenyum geli dan menatap orangtuanya bergantian.

"Jadi, siapa dia?" tanya Yoona lagi. Matanya berkilat-kilat penasaran.

"Dia datang kesini setiap hari untuk membantuku sejak aku tidak bisa menggunakan tanganku. Dan dia bukan pacarku. Dia juga tidak tinggal disini. Dia hanya teman. Teman. Oke? Lagipula dia namja, sama sepertiku."

"Teman?" tanya Siwon sangsi.

"Ya, teman." Jawab Junmyeon tegas. "Lebih tepatnya, dia itu teman Sehun dan jangan sampai Sehunie tau Umma pernah berpikir dia itu pacarku."

Yoona mengangkat alis. "Teman Sehun? Oh."

"Apa maksudnya 'oh'?" tanya Junmyeon.

Yoona mengangkat bahu. "Tidak apa-apa. Hanya sedang berpikir apakah mungkin kedua putra Umma menyukai orang yang sama."

"Umma, apa...?" Junmyeon mengerang dan menatap Appanya, meminta bantuan. Tapi Siwon mengangkat bahu tak peduli. Dia memilih kembali ke piano dan memainkannya.

"Baiklah kalau begitu. Karena disini ada banyak makanan, aku akan membuatkan sarapan untuk kalian." Kata Yoona sambil melangkah ke dapur. "Ah ya, Myeoni. Umma jadi ingin bertemu dengan namja itu. Dia sudah banyak membantumu, jadi seharusnya aku berterima kasih padanya." Tambahnya.

Junmyeon paham sekali sifat Ummanya, mungkin sebaiknya dia menghubungi Yixing dan memberitahunya supaya tidak perlu datang pagi ini. Tapi ketika Junmyeon hendak kembali ke kamar dan mengambil ponselnya, bel interkom berbunyi. O-oh, namja itu sudah datang.

**ooo**

Yixing keluar dari lift dan alisnya terangkat heran melihat Junmyeon berdiri di depan pintu apartemennya yang tertutup.

"Kenapa kau berdiri di situ?"

"Aku baru saja hendak meneleponmu." Kata Junmyeon tanpa menjawab pertanyaan Yixing.

"Oh ya? Ada apa?"

Junmyeon tidak langsung menjawab. Ditatapnya Yixing dengan lekat. "Kau masih terlihat agak pucat. Bagaimana keadaanmu pagi ini?"

Yixing mengerjab. "Eh, oh, aku sudah sehat." Sahutnya. Tanpa sadar, Yixing mundur selangkah, tidak ingin Junmyeon menyentuh keningnya seperti kemarin. Tindakan Junmyeon kemarin sungguh berakibat buruk untuk jantungnya.

"Jadi, kenapa kau meneleponku?" tanya Yixing sekali lagi.

"Untuk menyuruhmu tidak usah datang hari ini."

"Oh? Memangnya kenapa?" Yixing melirik pintu apartemen Junmyeon yang tertutup dengan curiga. Apakah ada wanita? Yixing mengamati Junmyeon dari atas sampai bawah. Penampilannya berantakan, sepertinya baru bangun tidur. Apakah...?

"Jangan berpikiran macam-macam. Aku tau apa yang ada di otakmu sekarang ini, tapi aku yakinkan padamu bahwa alasannya bukan seperti yang kau pikirkan itu."

"Jadi apa alasannya?"

Sebelum Junmyeon sempat menjawab, pintu apartemen terbuka dan Yixing melihat seorang wanita bertubuh ramping yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah menginjak setengah abad itu.

"Myeoni, sedang apa... Oh." Mata wanita itu melebar ketika melihat Yixing. Dia tersenyum ramah dan bertanya. "Apakah kau teman Sehun yang sudah membantu Junmyeon?"

"Ya?" Yixing mengerjab bingung lalu menatap Junmyeon.

Junmyeon mendesah dan berbisik pelan pada Yixing. "Inilah alasannya." Lalu katanya dengan suara lebih keras. "Zhang, ini Ummaku. Umma, ini Zhang Yixing."

Yixing langsung tersenyum dan membungkuk sopan di depan Yoona. "Selamat pagi, ahjumma."

Yoona tersenyum lebar dan menepuk bahu Yixing dengan lembut. "Jadi kau orangnya. Senang bertemu denganmu."

Meski Yixing tidak mengerti apa yang dimaksud wanita itu, tapi dia tersenyum saja.

"Jadi inilah alasan aku meneleponmu dan menyuruhmu tidak perlu datang. Ummaku ada disini dan dia memaksa akan membuatkan sarapan untukku."

Yixing mengangguk-angguk. "Oh, begitu."

"Karena kau sudah ada disini, bagaimana kalau kita sarapan bersama?" tawar Yoona.

Yixing menatap Junmyeon dan Yoona bergantian. "Eh, aku tidak ingin mengganggu.."

Yoona mengibaskan sebelah tangannya. "Sama sekali tidak mengganggu. Lagipula aku ingin berterima kasih padamu karena sudah membantu putraku. Ayo, masuk."

Sementara Yoona sudah masuk ke dalam, Yixing dan Junmyeon masih berdiri di luar. Yixing menatap Junmyeon dengan bingung, meminta pendapat.

Junmyeon menggerakkan kepalanya ke arah pintu. "Masuklah. Sebaiknya kau juga berkenalan dengan Appaku."

"Appamu juga ada disini? Apa aku mengganggu acara keluarga?" tanya Yixing sungkan.

"Tidak." sahut Junmyeon. Dia meraih pergelangan tangan Yixing dan menariknya masuk. "Mereka baru tiba dari Macau dan mereka hanya ingin melihat keadaanku. Tidak ada acara resmi."

"Ini suamiku." Kata Yoona ketika Junmyeon dan Yixing tiba di di ruang duduk. Junmyeon melepaskan tangan Yixing dan Yixing mendapati dirinya bisa bernafas kembali dengan normal.

Yixing tersenyum dan membungkuk sopan di depan Siwon."Selamat pagi, ahjussi."

Selagi mereka bertukar sapa, Yixing mendengar Yoona berkata pada Junmyeon. "Myeonie, tolong kau telepon Sehun dan suruh dia datang kesini untuk sarapan bersama. Dan kau sebaiknya segera mandi."

"Tapi..." jawab Junmyeon enggan.

"Tidak ada tapi-tapi. Cepat mandi, setelah itu kita akan sarapan." Yoona memukul pelan bahu Junmyeon.

Junmyeon menghampiri Yixing dan berbisik pelan. "Aku mandi dulu sebentar. Kau tidak apa-apa kan?"

Meski Yixing tidak mengerti kenapa Junmyeon bertanya seperti itu, tapi dia tersenyum dan berkata. "Tidak apa-apa. Aku bisa mengobrol dengan Appamu atau membantu Ummamu."

Junmyeon tersenyum. "Aku tidak tau kenapa aku sempat ragu meninggalkanmu bersama orangtuaku. Seharusnya aku tau kau pasti bisa menghadapi mereka dengan baik."

Junmyeon berbalik dan masuk ke kamarnya, meninggalkan Yixing yang masih mematung di tempatnya. Sungguh, bukan hanya sentuhan Junmyeon yang berakibat buruk bagi jantung Yixing, tapi senyumnya juga. Bagaimana ini?


Junmyeon mandi dan berganti pakaian dengan cepat. Dia kembali ke ruang duduk dan tidak menemukan seorangpun disana. Lalu Junmyeon berjalan ke dapur dan menemukan Yixing dan kedua orangtuanya disana. Mereka bertiga berbincang dengan akrab sambil meminum kopi. Melihat keakraban mereka, Junmyeon merasakan sesuatu yang aneh menjalari hatinya. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Terlebih ketika Yixing menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar. Perasaan aneh di hati Junmyeon terasa semakin nyata. Ada yang terjadi padanya?

"Aku sudah menyiapkan kopimu." Kata Yixing ketika Junmyeon masuk ke dapur dan duduk di bangku tinggi d samping Siwon.

"Kau tau? Yixing bisa membuat kopi yang sangat enak."

"Aku tau, Appa." Gumam Junmyeon.

Sementara Siwon bercerita pada Yixing tentang pertunjukkan orkestra yang akan digelarnya minggu depan, Yoona turun dari bangku tingginya dan berjalan menghampiri Junmyeon.

"Myeoni, kenapa kau tidak memberitahu Umma bahwa Yixinglah yang membuat tanganmu cedera? Dia yang menceritakannya pada Umma. Karena itulah dia memutuskan untuk membantumu sampai tanganmu sembuh. " bisik Yoona.

"Oh ya?"

"Kenapa kau tidak bilang soal itu? Kau takut Umma akan marah-marah padanya? Melakukan sesuatu yang buruk padanya?"

"Lalu setelah mengetahui ini semua, apa Umma akan memarahinya?" tanya Junmyeon sambil menatap Yoona dengan tatapan menyelidik.

Yoona tersenyum penuh arti. "Tenang saja. Umma tidak marah. Sepertinya dia namja yang baik. Sehun beruntung mempunyai teman seperti dia."

"Apa?"

"Kau bilang dia teman Sehun, kan? Dan dari apa yang kau katakan tadi, Umma merasa Sehun menyukai namja itu."

"Ya, begitulah." Desah Junmyeon pelan.

"Oh ya, Sehun bilang dia akan segera datang. Aku dan Yixing sudah menyiapkan sarapan. Kalian mau makan dulu atau menunggu Sehun?" kata Yoona.

"Aku mau makan dulu. Aku sudah lapar." Sahut Siwon cepat.

"Kau juga mau makan?" tanya Yixing.

Junmyeon mengangguk. "Tentu saja. Hmmm, ngomong-ngomong, kulihat kau sudah berteman baik dengan orangtuaku."

"Orangtuamu sangat menyenangkan." Jawab Yixing sambil tersenyum lebar.

Junmyeon baru saja hendak membuka mulut untuk mengatakan sesuatu ketika bel interkom berbunyi.

Yixing menoleh ke arah pintu. "Ah, itu pasti Sehun."

**ooo**

Diam-diam Yoona mengamati kedua putranya selama sarapan. Sehun jelas-jelas menyukai Yixing. Astaga, dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya. Yixing pastilah buta atau benar-benar bodoh kalau dia tidak menyadari Sehun menyukainya.

Sedangkan Junmyeon...Yoona tidak tau apa yang dipikirkan putra sulungnya. Junmyeon lebih sulit dibaca daripada Sehun. Dia lebih pendiam, lebih tenang, dan lebih pandai menyembunyikan perasaan. Tapi sesekali Yoona melihat Junmyeon memandangi Yixing ketika namja itu tidak menyadarinya. Yoona tidak bisa mengartikan pandangan itu, tapi dia yakin ada sesuatu disana. Ada sesuatu yang terjadi antara Junmyeon dan Yixing. Menurut pengamatannya, di antara kedua putranya, Sehunlah yang terlihat lebih akrab dengan Yixing. Sehun yang lebih sering mengobrol dengan Yixing dan melibatkan namja itu dalam percakapan di meja makan. Tapi anehnya, sepertinya Junmyeonlah yang lebih mengenal Yixing. Yoona melihat bagaimana Junmyeon mengambil serbet dan mengulurkannya pada Yixing ketika melihat namja itu mencari-cari sesuatu. Yoona juga melihat bagaimana Junmyeon otomatis mendorong mangkuk kecil berisi potongan lemon ke hadapan Yixing ketika namja itu keluar dari dapur sambil membawa secangkir teh dan duduk di antara Junmyeon dan Sehun di meja makan.

Ini menarik, pikir Yoona. Sehun yang lebih akrab dengan Yixing, tapi Junmyeonlah yang lebih mengenal kebiasaan-kebiasaan namja itu. Lalu bagaimana dengan Yixing sendiri? Yoona penasaran dengan apa yang ada di dalam pikiran namja itu.

Yixing sepertinya memperlakukan Junmyeon dan Sehun dengan cara yang sama. Sepertinya dia tidak memiliki ketertarikan khusus pada salah satu putra Kim. Namja itu menatap mereka dengan cara yang sama, berbicara dengan mereka dengan cara yang sama, dan tersenyum pada mereka dengan cara yang sama. Tiba-tiba alis Yoona berkerut samar. Apakah Yixing hanya mempermainkan dan memanfaatkan mereka? Tidak, tidak mungkin. Yoona yakin Yixing bukan orang seperti itu. Mungkin Yixing memang tidak tertarik pada mereka berdua.

Putra-putraku yang malang, desah Yoona dalam hati.

Lalu Yoona melihat Yixing berdiri, mengangkat piringnya yang sudah kosong dan menoleh pada Junmyeon. Yoona tidak seberapa mendengar apa yang mereka bicarakan, karena dia berpura-pura tertarik pada topik yang sedang dibahas oleh suami dan putra bungsunya. Sesekali Yoona ikut menimpali obrolan mereka, meski diam-diam terus melirik ke arah Junmyeon dan Yixing. Kemudian Yoona melihat Junmyeon bangkit dari kursinya dan menyusul Yixing ke dapur.

Yoona mengubah sedikit posisi duduknya supaya bisa melirik ke arah dapur. Dia melihat Junmyeon duduk di salah satu bangku tinggi disana sementara Yixing menuangkan kopi ke cangkir Junmyeon. Yixing mengatakan sesuatu yang membuat Junmyeon tersenyum. Dan Yixing sendiri juga ikut tersenyum.

Yoona tertegun. Tidak, perkiraannya tadi salah. Dari apa yang dilihatnya, Yixing mungkin saja berbicara pada Junmyeon dan Sehun dengan cara yang sama. Dia mungkin saja tersenyum pada mereka berdua dengan cara yang sama. Tapi sudah pasti dia tidak menatap mereka dengan cara yang sama.

Itu tidak diragukan lagi. Karena Yoona melihat perbedaannya dengan mata kepalanya sendiri.

Ini menarik sekali.

**ooo**

"Jadi, kau akan membantu Siwon ahjussi mengurus pertunjukkan orkestranya?"

Junmyeon mendengus pelan dan mengangguk. "Kau tidak dengar apa yang dikatakan Appaku tadi? Hah, dia malah senang aku tidak bisa menggerakkan tanganku dan terpaksa membatalkan konserku. Karena dengan begitu, aku baru punya waktu untuk membantunya mengurus orkestranya. Tadinya kupikir dia akan berterima kasih padamu karena sudah membuat tanganku patah."

Yixing menyipitkan mata mendengar kata-kata terakhir Junmyeon, tapi dia memutuskan untuk mengabaikannya. "Tapi kurasa kau juga senang bisa membantu Appamu."

"Aku sedang tidak sibuk. Jadi aku punya banyak waktu luang untuk membantunya." Sahut Junmyeon acuh.

Yixing mendengus dan memutar bola mata malas.

"Jadi, karena mulai besok aku harus mulai bekerja dengan Appaku, aku akan jarang di rumah." Meski ragu, tapi akhirnya Junmyeon merogoh celananya, mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di atas meja.

"Kunci?" tanya Yixing heran.

"Ini kunci pintu bawah dan kunci apartemen ini. Dengan begini kau tetap bisa datang kesini meski aku tidak ada di rumah."

Yixing mengerjab. "Tapi kenapa?"

"Kau tidak lupa kalau kau harus membersihkan apartemenku setiap hari, kan?"

"Oh, kau benar."

"Dan kau juga harus mengurus tanaman-tanamanmu." Tambah Junmyeon.

"Tentu." Kata Yixing sambil meraih kunci di atas meja.

"Tapi kau tidak perlu menyiapkan makanan untukku. Salah satu keuntungan bekerja dengan Appaku adalah dia yang akan memastikan aku makan dengan benar." Sambung Junmyeon.

Yixing mengangguk tanpa berkata apa-apa. Aneh sekali. Kenapa tiba-tiba dia merasa kesepian?

"Kalau aku membutuhkan sesuatu, aku akan meneleponmu." Tambah Junmyeon lagi.

Yixing mengangguk lagi dan menarik nafas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan sebersit perasaan kecewa yang muncul di hatinya.

Lalu mereka berdua terdiam, larut dalam pikiran dan kegiatan masing-masing. Sampai kemudian suara riang Sehun memecah keheningan.

"Hai, apa yang kalian bicarakan?" tanyanya sambil berjalan ke kulkas dan mengambil sebotol air mineral.

"Tentang aku yang akan membantu Appa mengurus orkestranya." Sahut Junmyeon ringan.

Sehun tersenyum lebar. "Bukankah itu bagus, hyung? Kau jadi punya kesibukan dan Yixing jadi punya waktu luang."

Junmyeon mengangkat bahu.

Sehun menatap Yixing. "Yixing-ah, apa kau sudah punya rencana untuk mengisi waktu luangmu?"

"Belum. Aku baru tau hari ini kalau aku akan punya banyak waktu luang. Hmmm, mungkin aku akan lebih banyak berlatih. Mungkin aku juga bisa keluar dan menghabiskan waktu bersama teman-temanku."

"Kalau kau bosan, kau bisa meneleponku. Dengan senang hati aku akan menemanimu." Sehun menawarkan diri.

Yixing tertawa. "Sehun-ah, bukankah kau dan krumu akan sibuk dengan kampanye hip-hop yang akan dimulai minggu depan?"

Sehun mengerang pelan. "Aduh, Yixing-ah, kau benar. Aku lupa soal itu. Yah, kurasa aku bisa menemanimu setelah kampanye itu selesai."

"Tentu. Telepon saja kalau kau sudah punya waktu." Sahut Yixing ringan.

Meski Yixing merasa Junmyeon menatapnya dengan tajam, tapi Yixing mengabaikannya. Dia melirik arlojinya dan berkata. "Aku harus pergi sekarang."

"Ke studio?" tanya Sehun.

"Ya." Lalu Yixing beralih menatap Junmyeon dan bertanya. "Apa aku perlu datang lagi nanti sore?"

Junmyeon berpikir sejenak. "Tidak. Tidak perlu."

"Oh." Gumam Yixing pelan. "Baiklah kalau begitu. Sebaiknya aku berpamitan dulu pada orangtua kalian." Katanya sambil berjalan ke ruang duduk. Tapi seperti teringat sesuatu, Yixing berbalik dan menatap Junmyeon yang masih duduk di tempatnya.

"Hyung, apa kau melihat kunci mobilku? Sepertinya kunci mobilku tertinggal disini tadi malam."

"Kunci mobil?" gumam Sehun heran.

"Mungkin ada di meja ruang duduk. Coba cari disana." Jawab Junmyeon datar.

Yixing mengangguk, lalu berjalan ke ruang duduk untuk mencari kunci mobilnya, kemudian berpamitan pada Siwon dan Yoona.

**ooo**

"Yixing-ah, kenapa kunci mobilmu bisa tertinggal di apartemen Junmyeon hyung?" tanya Sehun ketika mereka sudah keluar dari gedung dan masuk ke mobil Yixing. Sehun memutuskan ikut dengan Yixing ke studio karena dia penasaran. Sehun tidak mengerti bagaimana bisa Yixing meninggalkan kunci mobilnya di tempat Junmyeon. Seingat Sehun, setelah mengantar Junmyeon ke rumah sakit, Yixing langsung pulang dan tidak kembali sore harinya karena Junmyeon sendiri mengatakan dia tidak membutuhkan namja itu.

"Oh, aku datang kesini tadi malam." Jawab Yixing sambil melajukan mobilnya di jalan raya.

Kening Sehun berkerut. Yixing membatalakan janji makan malam mereka karena katanya dia sedang tidak enak badan. Tapi...kenapa?

"Kau bilang kau tidak enak badan."

"Memang. Tapi dia memintaku datang."

"Junmyeon hyung?"

"Ya."

"Kenapa dia memintamu datang? Aku sudah memberitahunya bahwa kau sedang tidak enak badan dan dia masih memintamu ke apartemennya?"

"Sebenarnya Junmyeon hyung sudah berusaha menghubungiku untuk menyuruhku tidak usah datang. Tapi ponselku tertinggal di rumah dan aku sudah terlanjur dalam perjalanan."

Sehun masih menatap Yixing dengan kening berkerut. "Untuk apa Junmyeon hyung memintamu datang?"

"Dia ingin aku menyiapkan makan malam untuknya."

"Apa? Dia..."

"Saat itu aku juga belum makan dan aku lapar." Sela Yixing sambil tersenyum, menenangkan Sehun. "Lagipula aku sudah minum obat dan sudah merasa lebih baik saat itu, jadi tidak masalah."

"Jadi kalian makan bersama?"

Yixing mengangguk. "Ya. Setelah itu dia mengantarku pulang. Karena itu, mobilku kutinggal di rumah hyungmu."

"Junmyeon hyung mengantarmu pulang?"

Yixing mengangguk lagi, sama sekali tidak menyadari perubahan nada suara Sehun.

Sehun memalingkan wajah dan memandang ke luar jendela. Dia tidak tau apa yang seharusnya dipikirkannya setelah mendengar Yixing membatalkan janji makan malam dengannya tapi akhirnya makan malam bersama Junmyeon. Sehun akui dia tidak suka mendengarnya, tapi Yixing bukannya sengaja membatalkan janjinya gara-gara Junmyeon. Meski hyungnya itu tidak lagi bersikap sinis dan dingin pada Yixing, tapi Sehun tidak bisa membayangkan hyungnya itu mengejar-ngejar Yixing dan berusaha menarik perhatiannya.

Sehun tidak tau apakah dia harus merasa cemburu pada Junmyeon.

TBC


A/N :

Apa kabar semua? Saya datang lagi #lambailambaigaje

Bagaimana dengan chapter ini? :D

Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.

Saranghae all *kecupsatusatu*

Sampai jumpa chapter depan ~

Wanna to review? /wink/