Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*

Genre : Romance

Rate : T

Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun

and many more...

Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR

Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D

Happy Reading ~

Chapter 7

"Xing...Yixing...Yixing-ah!"

Yixing tersentak dan mendongak menatap Yuri yang duduk di depannya. "Apa?"

Yuri mengerucutkan bibirnya sedikit. "Kau melamun lagi?"

"Tidak." sahut Yixing, lalu menyesap tehnya yang ternyata sudah dingin. Sudah berapa lama mereka duduk di cafe ini? Entahlah.

"Akhir-akhir ini kau sering melamun. Kau tidak mendengar kata-kataku, kan?" tanya Yuri sambil menatap Yixing dengan tajam.

"Memang apa yang kau katakan tadi?"

Yuri menghela nafas pelan. "Hari ini ulang tahun Sooyoung dan dia ingin mengajak kita makan malam. Kau ikut, kan?"

"Tentu saja. Kenapa tidak?"

Yuri mendecakkan lidah. "Kau tau, sebenarnya Sooyoung ingin mengajakmu makan malam berdua, tapi karena dia malu, akhirnya dia juga mengajakku dan Yunho oppa. Entah dia ingin menjodohkan aku dengan Yunho oppa atau dia hanya butuh tameng saja, tapi aku yakin dia tidak tau kalau Yunho oppa sebenarnya juga tertarik padamu. Kau tau, kadang aku menyesal menjadi temanmu. Kau punya banyak sekali penggemar dan hal ini seringkali membuat aku terlibat dalam hubungan kalian yang rumit itu."

Yixing mengaduk-aduk tehnya dengan pelan dan memilih mengabaikan gerutuan Yuri. "Kenapa harus malu? Aku tidak pernah menolak ajakan makan malam."

"Kau tau sendiri waktu itu kau sangat sibuk mengurus kakak Sehun dan hampir tidak punya waktu untuk teman-temanmu. Bahkan aku juga jarang melihatmu. Untunglah dua minggu terakhir ini dia tidak mengganggumu, jadi kau punya waktu untuk bersantai."

Yixing tersenyum samar. Dia memandang keluar jendela dan menghela nafas panjang. Sudah dua minggu dia tidak bertemu Junmyeon. Selama dua minggu ini, Yixing pergi ke apartemen Junmyeon untuk merapikan dan membersihkannya. Sebenarnya, Yixing tidak perlu datang kesana setiap hari, toh apartemen itu tidak akan berubah berantakan dalam sehari. Apalagi Junmyeon juga tidak ada di rumah. Tapi Yixing merasa ada yang kurang jika dia tidak datang ke apartemen namja itu. Mungkin karena dia sudah terbiasa berada di apatemen Junmyeon. Mungkin juga karena dia berharap dia bisa bertemu Junmyeon, walau hanya sebentar.

Tapi...kenapa aku ingin bertemu Junmyeon hyung? Yixing menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Entahlah. Tapi harapannya tidak terkabul. Dia sama sekali tidak bertemu dengan Junmyeon. Dan namja itu juga tidak pernah menghubunginya atau meninggalkan pesan apapun untuknya di apartemennya. Apalagi seminggu terakhir ini Yixing mendapati ranjang Junmyeon terlihat selalu rapi, tidak pernah ditiduri. Itu berarti sudah seminggu Junmyeon tidak pulang ke apartemennya. Lalu kemana dia?

Yixing mendesah pelan. Bagaimana bisa dia merasa kesepian karena tidak melihat Junmyeon? Konyol sekali.

"Oh, berhentilah mendesah." Suara Yuri membuyarkan lamunan Yixing. "Sebenarnya ada apa denganmu, Yixing-ah?"

"Tidak ada apa-apa."

"Kalau begitu, waktu istirahat selesai. Ayo, pulang. Kita harus bersiap untuk pesta nanti malam, kan?" Yuri bangkit dari duduknya dan meraih tasnya.

Yixing tersenyum kecil. "Lebih tepatnya kau, Yuri-ya. Bukankah para yeoja banyak menghabiskan waktu mereka untuk berdandan? Berbeda dengan kami, para namja."

Yuri memajukan sedikit bibirnya. Meski begitu, wajahnya tetap cerah ceria. "Oh ya, Sooyoung bilang dia sudah memesan tempat di The Square."

"The Square?" tanya Yixing heran. Dia pernah mendengar tentang restoran yang terkenal itu. Sulit sekali mendapatkan meja disana kalau tidak memesan jauh-jauh hari sebelumnya.

"Sepertinya dia ingin membuatmu terkesan." Kata Yuri sambil tersenyum manis.

**ooo**

"Makan malam di luar?" Junmyeon mendongak menatap Appanya yang berdiri tak jauh darinya. Saat ini mereka sedang membahas beberapa hal mengenai pertunjukkan orkestra dan Appanya berkata dia akan mentraktir beberapa musisinya untuk makan malam di luar malam ini.

"Ya, Appa sudah memesan meja di restoran kenalanku."

"Appa, bagaimana kalau aku tidak ikut?"

Siwon mengangkat alis. "Kenapa? Kau ada acara?"

"Tidak, aku hanya lelah. Aku makan malam di rumah saja."

"Hari ini Ummamu pergi berbelanja bersama teman-temannya. Katanya dia akan pulang setelah makan malam."

Junmyeon mengerang.

"Lebih baik kau ikut saja. Lagipula Appa sudah berjanji pada mereka akan mengajakmu makan malam bersama kami." Siwon tersenyum simpul.

"Mereka siapa?" tanya Junmyeon curiga.

Siwon terkekeh. "Gadis-gadis muda yang tergabung dalam orkestraku. Para pemain biola. Mereka sangat terkesan padamu dan mereka berpikir tanganmu yang diperban itu terlihat sangat seksi."

Junmyeon mendengus. "Aku sungguh tidak punya waktu untuk itu."

Saat itu pintu ruangan diketuk dan salah seorang pegawai Appanya melongokkan kepalanya dari balik pintu.

"Tuan Kim, bisa berbicara sebentar?"

"Tentu." Siwon bangkit dari kursi dan melangkah keluar. Dia menyempatkan diri menoleh pada Junmyeon dan bertanya.

"Bagaimana, Myeon? Kau mau ikut makan malam atau tidak?"

"Biar kupikir-pikir dulu."

Siwon mengangkat bahu lalu keluar meninggalkan Junmyeon sendirian di ruang kerjanya.

Junmyeon menyandarkan kepalanya dan menatap langit-langit. Dia benar-benar lelah. Yang diinginkannya saat ini hanyalah pulang ke rumah dan beristirahat. Tapi Ummanya sedang tidak ada di rumah, jadi tidak ada yang menyiapkan makan malam untuknya. Junmyeon mendengus kesal.

Tapi dia masih punya pilihan lain. Dia bisa menelepon Yixing dan menyuruh namja itu datang ke apartemennya untuk menyiapkan makan malam untuknya. Itu pilihan utamanya dan pilihan yang paling menarik.

Sudah dua minggu Junmyeon tidak bertemu dengan Yixing. Sebenarnya selama dua minggu ini, dia berulang kali ingin menelepon namja itu, tapi selalu tidak jadi. Kenapa? Karena dia tidak tau apa yang harus dikatakannya pada Yixing. Namja itu membuat pikiran dan perasaannya kacau. Berada di dekat Yixing membuat Junmyeon bingung. Dia jadi tidak mengerti apa yang diinginkannya dan apa yang dirasakannya. Walaupun begitu, Junmyeon tetap ingin bertemu dengan Yixing. Mendengar suaranya. Demi Tuhan, jangan tanya kenapa, karena Junmyeon sendiri tidak mengerti dan tidak mau memkirikannya terlalu jauh.

Junmyeon mengeluarkan ponselnya dan menatap benda itu dengan bimbang. Haruskah dia menelepon Yixing dan menyuruhnya datang?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kenapa Yixing juga tidak berusaha menghubunginya?

Junmyeon memberengut kesal ketika pertanyaan itu melintas di otaknya. Kalau namja itu memang tulus ingin bertanggungjawab dan ingin membantu Junmyeon, seharusnya dia menelepon Junmyeon untuk memastikan Junmyeon baik-baik saja, kan? Seharusnya dia bertanya apakah Junmyeon membutuhkan bantuannya atau tidak. Seharusnya seperti itu, kan?

Kerutan di kening Junmyeon semakin dalam. Ditatapnya ponselnya dengan tajam, seolah-olah benda itu sudah melakukan kesalahan besar padanya. Haish, namja itu pasti sedang bersenang-senang sekarang, batinnya gondok.

Sambil menggerutu tidak jelas, Junmyeon menekan beberapa tombol di ponselnya. "Appa? Aku akan ikut makan malam dengan kalian. Dimana tempatnya?" Junmyeon menunggu sejenak sebelum mengangguk. "The Square? Baiklah."

**ooo**

"Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di The Square." Kata Yuri sumringah.

"Berterimakasihlah pada Sooyoung nanti." Gumam Yixing sambil tersenyum.

"Tentu. Walaupun dia melakukan semua ini untukmu."

Yixing mengabaikan perkataan Yuri dan tersenyum pada seorang pelayan yang menyambut mereka. "Meja atas nama Choi Sooyoung."

"Silakan ikut saya." Pelayan itu berjalan mendahului mereka masuk ke ruangan utama. Saat itu adalah jam makan malam dan restoran itu sangat ramai. Yixing tidak melihat ada meja yang kosong.

"Yuri-ya, apakah mereka sudah datang?" tanya Yixing sambil mengedarkan pandangannya.

"Entahlah. O-oh, itu mereka."

Yixing melihat Yunho dan Sooyoung, temannya sesama penari, melambai ke arah mereka. Yixing tersenyum lebar dan balas melambai.

"Zhang?"

Suara itu membuat Yixing menoleh dan matanya melebar kaget melihat orang yang berdiri di dekat bar.

Itu Kim Junmyeon.

Dan jantung Yixing mulai berdebar dua kali lebih cepat. Oh, celaka.

Junmyeon menatap Yixing sejenak, lalu perlahan-lahan, seulas senyum tersungging di bibirnya. "Zhang, aku tidak menyangka bertemu denganmu disini. Ini benar-benar kejutan."

Yixing sudah membuka mulutnya, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Dia tidak menyangka melihat sosok Junmyeon setelah sekian lama namja itu membuat pikirannya kacau.

"Yixing?"

Kepala Yixing berputar dan kali ini dia menemukan Yuri yang sedang menatapnya dengan heran. Begitu pula dengan Yunho dan Sooyoung. Ah, dia harus menyapa teman-temannya terlebih dulu. Tapi...

Yixing kembali menoleh dan menatap Junmyeon. "Tetaplah disini. Aku akan segera kembali."

Yixing meninggalkan Junmyeon dan menghampiri teman-temannya. "Yunho hyung, apa kabar? Sooyoung-ah, selamat ulang tahun." Yixing tersenyum lebar sambil memeluk Sooyoung dan mengusap kepalanya dengan lembut.

"Terima kasih, oppa." Kata Sooyoung sambil mengecup kedua pipi Yixing.

"Soo-ya, aku tidak menyangka kau akan mengundang kami makan disini." Kata Yuri senang.

Sooyoung tersenyum manis. Pipinya merona merah.

"Ah, maaf. Tadi aku melihat seorang temanku di bar. Aku ingin menyapanya dulu. Kalian boleh memesan dulu kalau mau." Sela Yixing.

Yuri berbisik pelan. "Siapa dia?"

"Kim Junmyeon." Yixing balas berbisik.

Yuri mengangguk paham. "Oh, Junmyeon yang itu."

"Oppa, kau mau aku memesankan sesuatu untukmu?" tanya Sooyoung.

"Yixing-ah, kau mau pesan apa?" Yunho turut bertanya.

Yixing tersenyum. "Pesankan apa saja untukku. Aku akan segera kembali."

Yixing meninggalkan ketiga temannya dan berjalan kembali ke bar. Junmyeon masih ada di sana, duduk di salah satu bangku tinggi dan mengobrol dengan seorang bartender. Saat itu debar jantung Yixing sudah kembali normal, sehingga dia bisa tesenyum kepada Junmyeon ketika namja itu berbalik menghadapnya.

"Hai. Maaf, tadi aku harus menyapa mereka dulu." Kata Yixing sambil mengarahkan ibu jarinya ke meja yang ditempati teman-temannya.

"Kencan ganda?" tanya Junmyeon datar.

Yixing mengangkat bahu. "Bisa jadi."

Junmyeon mendengus pelan. "Tentu saja. Semua orang juga bisa menduganya dari pelukan dan ciuman tadi."

"Apa?" Yixing tidak mengerti apa maksud Junmyeon, tapi sepertinya namja itu sedang kesal. Yixing mengabaikannya dan balas bertanya. "Ngomong-ngomong, kau sedang apa disini?"

Dengan dagunya, Junmyeon menunjuk ke arah meja panjang yang ditempati banyak orang. "Aku datang bersama Appaku dan beberapa anggota orkestranya."

"Oh, Appamu juga ada disini?"

"Ya. Kau mau menyapanya?"

Yixing menoleh ke arah meja yang ditunjuk Junmyeon tadi dan menggeleng. "Nanti saja. Sepertinya ahjussi sedang membahas hal penting dengan temannya."

Junmyeon mengetuk bangku di sampingnya. "Duduklah."

Yixing menurut. "Sudah lama kita tidak bertemu. Jadi, bagaimana kabarmu, hyung?" tanyanya ringan, mencoba berbasa-basi, mecoba meredakan kekesalan Junmyeon. Walaupun Yixing tidak tau kenapa Junmyeon terlihat kesal dan walaupun dia juga tidak tau kenapa dia merasa perlu menghibur namja itu.

"Biasa saja." Jawab Junmyeon datar.

"Bagaimana tanganmu?"

Junmyeon mengangkat tangan kanannya, menunjukkannya pada Yixing. "Aku sudah bisa menggerakkan pergelangan tanganku sedikit. Kata dokter, aku akan sembuh total."

"Itu berita bagus, kan?" kata Yixing senang.

"Ya, begitulah. Lalu, kau sendiri bagaimana?"

"Sangat baik." Jawab Yixing sambil tersenyum cerah.

Tapi sepertinya Junmyeon tidak percaya. Ditatapnya Yixing dengan pandangan menyelidik, lekat dari atas ke bawah, membuat wajah Yixing mendadak terasa panas.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Yixing gerah.

Kening Junmyeon berkerut samar. "Kau terlihat pucat dan lelah. Kau juga terlihat lebih kurus. Kau yakin baik-baik saja?"

Yixing menahan nafas. Bagaimana Junmyeon bisa tau? Teman-teman dekatnya saja tidak pernah berkomentar tentang wajahnya yang pucat atau berat badannya yang berkurang.

"Berapa jam kau tidur semalam?"

Suara Junmyeon membuat Yixing tersentak. "Apa?"

"Berapa jam kau tidur semalam?" ulang Junmyeon.

"Setelah dua minggu menghilang tanpa kabar, kau hanya ingin menanyakan ini?"

"Aku tidak menghilang tanpa kabar."

Yixing memutar bola mata. "Aku datang ke apartemenmu setiap hari dan tidak melihatmu disana."

Junmyeon tersenyum samar. "Aku pergi pagi-pagi sekali untuk sarapan bersama Appaku dan kami sibuk bekerja sepanjang hari."

"Kau bahkan tidak pulang sama sekali selama seminggu terakhir."

Junmyeon hendak membuka mulutnya untuk membalas perkataan Yixing ketika suara seorang yeoja menyela pembicaraan mereka.

"Oppa, tadi kau bilang ingin memesan minuman?"

Mata Yixing langsung beralih menatap yeoja ramping berambut cokelat panjang yang muncul di belakang Junmyeon. Lalu matanya bergerak turun dan berhenti di tangan yeoja itu yang menyentuh lengan Junmyeon.

"Aku sudah memesannya. Nanti mereka akan mengantarkannya ke meja. Tunggu saja disana. Aku ingin megobrol sebentar dengan temanku."

"Oh, baiklah." Gumam yeoja itu. Setelah tersenyum kecil pada Yixing, yeoja itu berbalik dan kembali ke mejanya.

"Sekarang aku tau kenapa kau tidak pulang ke rumah." gumam Yixing datar.

Junmyeon menoleh. "Apa maksudmu? Hei, seminggu terakhir ini aku tinggal di rumah orangtuaku."

Yixing mengangkat bahu. "Itu bukan urusanku, kan? Lalu kenapa kau menjelaskannya padaku?"

"Benar juga. Kenapa aku harus menjelaskannya padamu? Aku mau kemana saja, itu terserah aku, kan?"

Yixing mendengus. "Lupakan. Aku juga tidak tau kenapa aku sempat khawatir karena kau tidak pulang."

Junmyeon tersenyum kecil. "Zhang, kalau kau mengkhawatirkanku, kau bisa meneleponku, kau tau?"

"Tadinya aku memang berniat begitu, tapi kemudian aku ingat kau pernah bilang kau akan meneleponku kalau kau membutuhkan bantuan. Karena kau tidak menghubungiku, jadi kupikir kau baik-baik saja."

"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padaku yang membuatku tidak bisa menghubungimu? Misalnya ponselku hilang atau..."

"Kalau terjadi sesuatu padamu, aku yakin keluargamu adalah orang pertama yang tau. Dan kalau sudah begitu, otomatis Sehun sudah pasti akan memberitahuku."

Junmyeon mendengus. "Aku rasa kau memang tidak pernah mengkhawatirkanku. Kau pasti sibuk memanfaatkan waktu luangmu."

Yixing mengangguk. "Tentu saja aku senang karena tidak perlu mengurusmu sepanjang hari, sehingga aku punya waktu lebih untuk melakukan apapun yang ingin kulakukan."

"Salah satunya, berkencan dengan para pengagummu?"

"Mungkin." Sahut Yixing ringan.

Yixing tidak tau kenapa Junmyeon sepertinya mulai kesal lagi. Astaga, namja itu benar-benar susah ditebak. Yixing bisa melihat rahang Junmyeon sedikit mengeras. Yixing heran, tapi dia sungguh tidak ingin berada di dekat Junmyeon kalau suasana hati namja itu sedang buruk. Yixing bangkit dari kursinya. "Sebaiknya aku kembali pada teman-temanku."

"Ya. Sebaiknya kau kembali pada teman kencanmu."

Yixing mendesah mendengar suara Junmyeon yang terdengar ketus itu. "Kau juga sebaiknya kembali pada temanmu yang tadi itu." Yixing berbalik dan melangkah menuju mejanya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan menoleh lagi pada Junmyeon.

"Oh ya, kalau kau memutuskan tinggal di rumah orangtuamu, kurasa aku tidak perlu datang ke apartemenmu setiap hari. Aku akan datang dua atau tiga kali seminggu untuk membersihkannya. Bagaimana?"

"Tidak." Sahut Junmyeon pendek.

Yixing mengerjab. "Apa maksudnya tidak?"

"Aku berencana pulang malam ini, jadi pastikan kau datang besok pagi dan menyiapkan sarapan untukku seperti biasa."

Junmyeon turun dari bangku dan berjalan kembali ke mejanya, meninggalkan Yixing yang masih mematung di tempatnya. Apa-apaan itu? Apakah itu berarti hari-harinya sebagai pesuruh dan pengurus rumah Junmyeon akan dimulai lagi?

Yixing menahan kekesalannya dan melangkah kembali ke meja yang ditempati teman-temannya.

"Maaf, aku sudah membuat kalian menunggu."

"Tidak apa-apa, oppa. Oh ya, aku sudah memesankan steak Salmon. Oppa suka, kan?" Sooyoung tersenyum manis.

"Tentu saja. Terima kasih, Soo-ya."

"Yixing-ah, kau suka jus alpukat, kan? Aku memesankan satu gelas untukmu." Timpal Yunho tidak mau kalah.

Yixing tersenyum. "Terima kasih, hyung."

Yuri mencondongkan tubuh ke arah Yixing dan berbisik pelan. "Jadi itu kakaknya Sehun?"

Yixing mengangguk. "Ya."

"Dia sangat keren." Bisik Yuri lagi.

Yixing melirik sekilas ke arah meja Junmyeon. Namja itu duduk di samping yeoja yang menyela pembicaraan mereka tadi. Yixing menyipitkan mata melihat Junmyeon mengatakan sesuatu pada beberapa yeoja yang ada disana dan membuat mereka tertawa.

Yixing mendengus dan menggerutu pelan. "Apanya yang keren? Dia itu sangat menyebalkan, kau tau?"


Kenapa dia selalu tersenyum seperti itu pada semua orang? batin Junmyeon sementara matanya terus mengawasi Yixing dari mejanya. Namja itu terlihat begitu menikmati obrolannya dengan teman-temannya. Sesekali dia tersenyum dan tertawa riang.

Kenapa melihat Yixing yang sedang tersenyum gembira membuat perasaan Junmyeon seketika muram, semendung langit menjelang hujan?

Karena namja itu tersenyum pada orang lain? Sebuah suara menyusup ke dalam benak Junmyeon. Haish, yang benar saja! Gagasan macam apa itu?

Junmyeon tidak keberatan Yixing tersenyum pada siapapun. Sungguh! Yang membuat Junmyeon dongkol adalah sikap namja itu ketika melihatnya tadi. Yixing bersikap...yah, seperti biasa. Dia tersenyum pada Junmyeon seperti biasa, menyapa Junmyeon seperti biasa, seolah-olah mereka baru bertemu kemarin. Padahal mereka sudah tidak bertemu selama dua minggu. Itu yang membuat Junmyeon kesal.

Menahan diri untuk tidak menemui Yixing selama dua minggu ternyata tidak memberikan hasil apa-apa. Awalnya, Junmyeon memutuskan menghindari Yixing karena dia merasa bersalah pada Sehun dan ingin memberikan kesempatan pada adiknya itu. Malam itu seharusnya Sehun menyatakan perasaannya pada Yixing, tapi Yixing malah menghabiskan malam itu bersama Junmyeon, makan malam bersama, mengobrol dengannya, dan menemaninya. Junmyeon merasa bersalah karena merampas kesempatan Sehun, walaupun tanpa sengaja.

Tapi coba lihat apa yang dilakukan Sehun selama dua minggu Junmyeon tidak menemui Yixing. Tidak ada! Sehun tidak melakukan apa-apa. Sehun berkata dia memang sempat mengajak Yixing pergi makan siang atau makan malam, tapi Sehun mengatakan, itu bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya.

Anak bodoh! Pikir Junmyeon kesal. Dia tidak tau kenapa dia berniat membantu adiknya, tapi ketika tau adiknya tidak melakukan apa-apa, Junmyeon tidak akan mau ikut campur lagi. Biar Sehun mengurus masalahnya sendiri. Junmyeon tidak akan menghindari Yixing lagi demi Sehun. Dia ingin Yixing membuatkan kopi untuknya setiap pagi. Dia ingin Yixing membuatkan makanan untuknya setiap hari. Dia ingin Yixing kembali melakukan apapun yang dia minta setiap hari. Dia ingin Yixing kembali berada di tempat yang bisa dilihatnya. Dia ingin Yixing kembali berada di dekatnya.

Junmyeon tertegun dan menyipitkan mata. Tunggu, dia akan menyingkirkan jauh-jauh dua point terakhir. Dia pasti sudah tidak waras karena ingin malaikat kegelapannya berada di tempat yang bisa dilihatnya ataupun berada dekatnya.


Yixing mendengar pembicaraan ketiga temannya dengan setengah hati. Meski begitu, sesekali dia masih bergumam untuk menunjukkan dia masih mendengarkan mereka. Mereka sedang membicarakan pertunjukkan yang akan diselenggarakan oleh Hyoyeon Dance Company minggu depan dan Yixing sama sekali tidak ingin membicarakan hal itu. Getaran ponselnya yang menandakan ada pesan masuk membuat Yixing sedikit tersentak sekaligus lega. Karena kini dia jadi punya alasan untuk tidak mendengarkan pembicaraan ketiga temannya. Alisnya terangkat heran ketika melihat bahwa pesan itu dari Kim Junmyeon.

Zhang, kau terlihat bosan.

Apa maksudnya? Yixing mengerucutkan bibirnya dan menoleh ke arah meja Junmyeon. Namja itu menatapnya sekilas dan tersenyum tipis.

Aku tidak bosan.

Balasan dari Junmyeon datang dalam waktu kurang dari satu menit.

Tidak apa-apa kalau tidak mau mengaku. Tapi aku tau kau bosan. Aku juga bosan. Jadi, temani aku mengobrol.

Aku yakin kau tidak kekurangan teman mengobrol disana. Tapi, baiklah. Apa yang ingin kau obrolkan?

Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Berapa jam kau tidur semalam?

Yixing memutar bola mata membaca pesan itu.

Seperti biasa.

Seperti biasa? Berarti kau masih tidak bisa tidur nyenyak sampai sekarang?

Itu bukan hal baru, hyung. Aku sudah terbiasa.

Kau sudah mencoba tidur sambil mendengarkan laguku? Waktu itu kau langsung mengantuk dan tertidur begitu mendengar laguku.

Sudah. Tidak berhasil.

Berarti kau harus tidur di apartemenku.

Yixing merengut dan mendengus pelan.

"Oppa? Oppa sedang apa?"

Yixing tersentak dan mengangkat wajah menatap Sooyoung. "Ya?"

"Oppa sedang mengirim pesan pada siapa?"

"Eh, Ummaku." Sahut Yixing cepat, lalu menyunggingkan senyum minta maaf pada ketiga temannya. "Dia ingin tau apa apa yang sedang aku lakukan."

"Orangtua memang selalu mencemaskan anak mereka. Terutama jika anak satu-satunya." Komentar Yunho. "Sama seperti orangtuaku yang..."

Yixing tidak lagi mendengar perkataan Yunho selanjutnya. Yixing menoleh ke arah Junmyeon dan menatap namja itu dengan tajam. Tapi Junmyeon hanya mengangkat alis dan menatap Yixing dengan tatapan -memangnya apa yang sudah kulakukan?-

Yixing memutuskan tidak membalas pesan Junmyeon dan berusaha mendengarkan pembicaraan ketiga temannya. Tapi tidak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi.

Oh ya, Zhang, jangan buat janji kencan dengan penggemarmu besok malam.

Yixing menggigit bibir dengan jengkel.

Kenapa? Kau ingin mengajakku kencan?

Wah, aku tidak tau ternyata kau ingin aku mengajakmu kencan.

Haish, lupakan kata-kataku. Memangnya apa yang harus kulakukan besok malam?

Akan kuberitahu besok pagi.

Yixing mendesah pelan. Dia masih menimbang apakah dia harus membalas pesan tersebut atau tidak ketika ponselnya kembali bergetar.

Zhang, sebaiknya kau habiskan makananmu. Kau terlihat seperti tengkorak berjalan.

Kali ini Yixing melemparkan tatapan tajam pada Junmyeon yang tersenyum polos ke arahnya. Yixing mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku celananya, menandakan bahwa dia tidak sudi melanjutkan obrolan ringan mereka.

**ooo**

Junmyeon membuka matanya yang berat dan mendesah pelan. Dia membiarkan dirinya berbaring di kasur hangatnya sedikit lebih lama sebelum mengulurkan tangan meraih jam tangannya. Jam delapan lewat lima belas menit. Baiklah. Waktunya bangun. Dia turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Begitu pintu terbuka, aroma kopi yang harum langsung menerjang indera penciumannya, membuat rasa kantuknya hilang tak berbekas. Aroma kopi itu membuat perasaannya senang dan sekujur tubuhnya terasa hangat.

Namja itu sudah datang, pikir Junmyeon sambil tersenyum. Dia memejamkan mata sejenak, menghirup aroma kopi yang sudah lama dirindukannya. Lalu telinganya menangkap alunan musik yang samar. Piano? Junmyeon melangkah pelan menuju ruang duduk. Alunan musik itu semakin jelas. Di ambang pintu ruang duduk, langkah Junmyeon terhenti. Seulas senyum tersungging di bibirnya ketika dia melihat Yixing menari mengikuti irama musik yang mengalun dari CD player.

Sebenarnya namja itu tidak benar-benar menari. Dia hanya mencoba beberapa gerakan. Sepertinya dia sedang memikirkan sebuah koreografi. Terkadang dia berhenti sejenak setelah melakukan satu gerakan, berpikir dengan kepala dimiringkan sedikit, lalu mulai bergerak lagi.

Walaupun begitu, Junmyeon mendapati dirinya kembali terpesona, sama seperti ketika pertama kali dia melihat Yixing menari di Kyunghee. Junmyeon menyandarkan bahu ke dinding, matanya tak lepas mengawasi Yixing yang sedang menari mengikuti irama musik. Junmyeon suka melihat Yixing menari. Junmyeon tidak keberatan kalau dia harus berdiri disana, mengamati namja itu menari sepanjang hari. Justru dia akan melakukannya dengan senang hati.

Yixing melakukan gerakan berputar dan tepat pada saat itu, dia melihat Junmyeon. Yixing memekik kaget, kakinya tergelincir dan akhirnya jatuh terduduk dengan keras di lantai. Junmyeon bergegas menghampiri Yixing dan tersenyum lebar ketika melihat Yixing meringis kecil sambil mengusap-usap bokongnya.

"Selamat pagi." Gumam Junmyeon sambil mengulurkan tangan kirinya pada Yixing.

Yixing tersenyum malu dan menyambut uluran tangan Junmyeon. "Selamat pagi juga, hyung. Apa aku membangunkanmu?"

"Tidak." sahut Junmyeon ringan. "Sudah berapa lama kau disini?"

"Hampir setengah jam. Tadi aku sempat melongok ke kamarmu, tapi kulihat kau tidur dengan begitu nyenyak. Akhirnya aku memutuskan membiarkamu tidur. Hmmm, tumben sekali kau baru bangun."

Junmyeon tersenyum kecil. "Semalam aku menemani Appa dan para anggota orkestranya sampai larut."

Yixing bergumam pelan dan menunduk. Junmyeon mengikuti arah pandang Yixing dan tatapannya jatuh pada tangan kirinya yang masih menggenggam tangan Yixing. Aneh sekali, tangan Yixing terasa begitu pas di tangannya. Dengan berat hati, dilepaskannya genggamannya pada tangan Yixing lalu memasukkan tangannya ke saku celana tidurnya.

Junmyeon berdehem dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang duduk. "Rupanya kau sering berlatih menari di rumahku?"

Yixing tersenyum malu. "Itu karena kau punya koleksi lagu yang sangat bagus. Seperti lagu ini."

Junmyeon mengangguk-angguk kecil. "Apa kau sudah membuat kopi untukku?"

"Tentu saja. Akan kuambilkan untukmu." Kata Yixing sambil melangkah ke dapur. Junmyeon mengikutinya. Melihat Yixing berada di dapurnya membuat Junmyeon merasa senang. Dua minggu tanpa kopi Yixing membuat Junmyeon sering uring-uringan. Sebenarnya bukan hanya itu saja. Entah sejak kapan, Junmyeon merasa, kehadiran Yixing di apartemennya adalah suatu keharusan. Yixing memang seharusnya ada disana, menjaga semuanya tetap seimbang dalam hidup Junmyeon. Apakah ini terlalu berlebihan?

Junmyeon menangkup cangkir kopinya dan mendesah lega. "Akhirnya." Gumamnya pelan.

Yixing tersenyum. "Aku tau kau merindukanku, hyung."

Junmyeon balas tersenyum. "Kopimu, Zhang. Aku merindukan kopimu."

Yixing mengangkat bahu acuh. "Sama saja. Kopiku. Aku. Kalau kau tidak bisa hidup tanpa kopiku, berarti kau hampir tidak bisa hidup tanpaku. Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana kau akan melanjutkan hidupmu setelah semua ini berakhir?"

"Apanya yang berakhir?" tanya Junmyeon bingung.

"Hyung, ketika tanganmu sembuh, kau tidak lagi membutuhkan pesuruh untuk membuatkanmu kopi, kan?"

Junmyeon mengernyit mendengar perkataan Yixing. Awalnya dia memang kesal pada namja itu dan dengan senang hati menganggap Yixing pesuruhnya. Tapi sekarang, Junmyeon tidak lagi menganggap Yixing sebagai pesuruhnya. Sama sekali tidak. Junmyeon malah mulai berpikir namja itu adalah...adalah...apa? Entahlah. Yang penting bukan pesuruh. Tapi tunggu, apakah Yixing baru saja berkata bahwa dia akan meninggalkan Junmyeon ketika tangan Junmyeon sembuh? Junmyeon menggeleng-gelengkan kepala. Dia sangat tidak suka dengan gagasan itu. Junmyeon tau tangannya akan segera sembuh. Tapi setelah itu, Yixing tidak akan membuatkan kopi untuknya lagi. Yixing tidak akan datang ke apartemennya lagi. Apakah Yixing akan memindahkan semua tanamannya kembali ke apartemennya sendiri?

Apakah ada cara supaya dia tetap disini meski tanganku sembuh? Apakah aku harus mematahkan tanganku lagi? pikir Junmyeon bimbang.

Lalu bunyi ponsel Yixing membuyarkan lamunannya. Yixing berjalan ke ruang duduk dan menyapa si penelepon dengan riang. "Halo, Sehun-ah?"

Junmyeon mendesah dan menyesap kopinya.

"Maafkan aku, Sehun-ah, aku tidak bisa. Aku sudah ada janji akan menemani hyungmu malam ini." kata Yixing dengan nada menyesal.

Junmyeon mengangguk-angguk sendiri. Dia bisa menebak apa yang diinginkan Sehun. Sayang sekali, dongsaengku sayang, kau terlambat selangkah, batin Junmyeon sambil tersenyum puas.

"Aku juga tidak tau. Akan kutanyakan padanya nanti. Ah ya, tentu saja. Bye."

Yixing kembali ke dapur. "Sehun bertanya padaku apakah aku ada acara malam ini. Aku mengatakan padanya bahwa aku sudah berjanji akan menemanimu. Ngomong-ngomong, apa yang harus kulakukan malam ini?"

"Apa yang dikatakan Sehun?" Junmyeon balik bertanya.

"Dia tidak mengatakan apa-apa."

Junmyeon tersenyum kecil. "Kurasa dia punya rencana yang sama denganku."

"Rencana apa?"

"Aku yakin dia ingin mengajakmu ke pesta yang kami hadiri malam nanti."

"Pesta apa?"

"Kau pernah dengar tentang Hyoyeon Dance Company?"

Yixing terdiam sejenak. "Hyoyeon Dance Company? Ya, tentu saja. Itu nama salah satu kelompok tari terkenal yang berbasis di Daegu. Kudengar mereka akan mengadakan pertunjukan di Seoul minggu depan."

Junmyeon mengangguk. "Tadinya aku tidak ingin pergi karena kupikir aku pasti tidak mengenal siapapun disana. Tapi karena orangtuaku mengenal direkturnya, mau tidak mau aku harus datang, kan? Lalu aku berpikir, kau juga seorang penari. Kau pasti ingin menghadiri pesta yang diselenggarakan kelompok tari terkenal. Lagipula, kalau ada kau, aku tidak akan bosan. Kau bisa menemaniku."

Junmyeon mengamati namja yang sedang berdiri di hadapannya dengan heran. Tadinya dia berpikir Yixing akan senang diajak ke pesta yang diselenggarakan kelompok tari paling berpengaruh di Korea Selatan. Tapi sepertinya dia salah. Yixing tidak terlihat antusias.

"Sepertinya kau tidak terlalu antusias." Komentar Junmyeon dengan alis bertaut.

"Memangnya kau ingin aku berkata apa?"

Junmyeon menumpukan tangannya di meja dapur. "Entahlah. Mungkin sesuatu seperti 'Astaga, Junmyeon hyung, terima kasih banyak. Aku senang sekali.' Begitu mungkin?"

Yixing tertawa. "Baiklah. Hyung, terima kasih karena kau mengundangku ke pesta itu."

"Jadi? Kau mau pergi denganku atau tidak?"

Yixing menghela nafas. "Baiklah. Memangnya aku punya pilihan lain?"

Junmyeon tersenyum. "Tidak." Lalu sambil beranjak turun dari bangkunya, Junmyeon menatap Yixing dan berkata. "Baiklah, sekarang aku mandi dulu dan kau..."

"Aku akan menyiapkan sarapan untukmu. Aku tau." Sela Yixing sambil mengibaskan sebelah tangannya.

"Anak pintar." Junmyeon melangkah keluar. Di ambang pintu, dia menambahkan. "Oh ya, setelah sarapan..."

"Aku akan mengantarmu ke tempat Appamu atau kemanapun tujuanmu. Aku tau." Yixing lagi-lahi menyelanya.

Junmyeon mengerjab dan menatap Yixing yang sedang memeriksa isi lemari dapurnya. Merasa diperhatikan, Yixing menoleh dan bertanya. "Apa?"

"Zhang, kau bisa membaca pikiranku. Itu menakutkan." Kata Junmyeon.

Yixing tertawa kecil. "Benarkah? Mungkin ini salah satu akibat aku terlalu sering bersamamu."

"Kalau begitu, aku tidak bisa mengeluh." Gumam Junmyeon.

"Apa katamu?"

"Tidak. Tidak apa-apa." Junmyeon tersenyum lebar, lalu berbalik dan keluar dari dapur.

TBC


A/N :

Apa kabar semua? Saya datang lagi #tebardollar

Bagaimana dengan chapter ini?

Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.

Saranghae all *kecupsatusatu*

Sampai jumpa chapter depan ~

Wanna to review again? /wink/