Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*
Genre : Romance
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun
and many more...
Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR
Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D
Happy Reading ~
Chapter 8
"Myeon, kapan kau akan menyelenggarakan konsermu yang tertunda?" tanya Yifan. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang di sebuah restoran di kawasan Chinatown.
"Kita bisa membahasnya nanti setelah tanganku benar-benar sembuh. Tidak perlu terburu-buru."
"Seingatku, dulu kau sendiri yang bilang kau tidak sabar menunggu tanganmu cepat sembuh agar kau bisa kembali bekerja. Tapi sekarang kau tenang-tenang saja. Sudah terbiasa bermalas-malasan?"
"Aku tidak bermalas-malasan, Fan. Aku hanya ingin menikmati waktu libur yang tersisa." Bantah Junmyeon.
"Baiklah, teruslah bermalas-malasan. Biarkan saja manajermu ini yang menghadapi orang-orang yang mendesak, terus bertanya kapan kau bisa mengadakan konser." Gerutu Yifan.
Junmyeon terkekeh. "Bukankah Wu Yifan bisa mengatasi masalah apapun?"
"Tentu saja. Tidak ada yang tidak bisa kuatasi." Jawab Yifan tegas. "Tapi aku butuh beberapa dokumen yang waktu itu kutinggalkan di apartemenmu. Kita bisa mampir dulu disana setelah makan siang."
"Tidak masalah."
"Oh ya, Myeon, apakah kita akan bertemu Yixing di apartemenmu?"
Junmyeon menoleh dan menatap Yifan dengan kening berkerut. "Memangnya kenapa?"
Yifan menyeringai kecil. "Aku sudah lama tidak melihatnya. Jadi, apakah dia ada di apartemenmu?"
"Tidak. Tadi katanya dia sedang mengantar Ummanya ke suatu tempat." Sahut Junmyeon datar.
Yifan mendesah kecewa. "Sayang sekali. Kalau begitu, tolong sampaikan salamku kalau kau bertemu dengannya. Ah, tidak, tidak. Biar aku saja yang meneleponnya nanti. Mungkin aku akan mengajaknya makan malam hari ini atau..."
"Tidak mungkin." Sela Junmyeon cepat.
"Kenapa tidak?"
"Karena malam ini aku mengajaknya ke pesta yang diselenggarakan Hyoyeon Dance Company."
Yifan mengerjab. "Oh. Bukankah kau bilang tidak akan datang?"
"Aku berubah pikiran. Ngomong-ngomong, aku belum menanyakan nomor apartemennya. Aku harus menanyakannya." Gumam Junmyeon sambil mengeluarkan ponselnyavdan sibuk menimbang-nimbang.
"Myeon, apakah kau sedang mencari alasan untuk menelepon Yixing?" tanya Yifan sambil tersenyum lebar.
Junmyeon berhenti mengutak-atik ponselnya. "Apa? Tentu saja tidak."
Yifan terkekeh. "Benarkah? Asal kau tau, sebenarnya kau tidak perlu mencari alasan untuk menelepon pacarmu."
"Dia bukan pacarku." Gerutu Junmyeon pelan.
"Tapi kau ingin dia menjadi pacarmu."
Junmyeon mengibaskan tangannya dan tidak menghiraukan perkataan Yifan. Dia menekan beberapa tombol dan menunggu. Beberapa detik kemudian, Junmyeon mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya dan sangat ingin didengarnya.
"Ya, hyung. Ada apa?"
Seulas senyum tersungging di bibir Junmyeon. "Zhang, kau belum memberitahu aku nomor apartemenmu."
**ooo**
Yixing mendesah pelan dan meletakkan surat kabar di rak kayu kecil di sampingnya. Hanya ada beberapa orang saja yang berada di ruang tunggu itu. Yixing menoleh ke arah Victoria yang duduk di sebelah kirinya.
"Sebenarnya Umma tidak perlu mengantarku, aku bisa pergi sendiri. Bukankah Umma sangat sibuk?"
"Umma ingin menemanimu, sayang. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." Victoria tersenyum dan menepuk punggung tangan Yixing dengan lembut.
Yixing memaksakan sepotong senyum. "Tentu saja, Umma. Semua akan baik-baik saja." Lalu dia mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, setelah ini kita akan makan siang dimana? Atau Umma akan kembali ke kantor?"
Victoria menggeleng. "Hari ini Umma tidak ke kantor. Jadi kita bisa makan siang bersama. Terserah kau saja mau makan dimana. Ada ide?"
Yixing tersenyum kecil. "Bagaimana kalau makanan Italia? Aku tau restoran Italia yang sangat enak di daerah Apgujeong."
"Boleh juga. Kau pernah kesana?"
"Ya. Bersama Junmyeon hyung."
"Oh, temanmu yang tangannya patah itu?"
"Umma, tangannya tidak patah." Koreksi Yixing.
Victoria mengangkat bahu. "Ya, ya. Apapun itu. Bagaimana keadaannya?"
"Tangannya sudah hampir sembuh."
"Itu bagus." Victoria mengangguk-angguk dan kembali menunduk menatap majalah di pangkuannya. Sesaat kemudian, dia kembali menatap Yixing. "Xingie-ya, apakah dia sudah tau?"
Yixing terdiam sejenak. Dia paham apa maksud Ummanya. "Tidak. Dia tidak tau. Lagipula aku berpikir, tidak ada alasan kenapa dia harus tau." Katanya pelan.
"Apakah kau bermaksud memberitahunya?" tanya Victoria.
Dering ponselnya yang nyaring menyelamatkan Yixing dari pertanyaan Ummanya. Melihat nama yang terpampang di layar ponselnya, jantung Yixing mulai berdebar lebih cepat. Setelah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan, Yixing menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
"Ya, hyung. Ada apa?" tanyanya dengan nada sewajar mungkin.
"Zhang, kau belum memberitahu aku nomor apartemenmu." Kata Junmyeon di seberang telepon.
"Apa?"
"Nomor apartemenmu. Sudah kubilang aku akan menjemputmu nanti malam, tapi aku lupa menanyakan nomor apartemenmu."
"2-A. Kalau kau sudah tiba, kau hanya perlu meneleponku dan aku akan turun."
"Begitukah? Lihat saja nanti."
Yixing tidak mengerti tapi dia tidak bertanya.
"Jadi, apa yang sedang kau lakukan?"
Yixing menggigit bibir dan melirik Victoria. "Aku sedang bersama Ummaku."
"Makan siang?"
"Ya. Kau sendiri?"
"Aku juga sedang makan siang, bersama Yifan. Dia titip salam untukmu." Sahut Junmyeon. Tapi beberapa saat kemudian, suaranya terdengar lagi. "Tidak, aku tidak akan mengijinkanmu bicara dengannya. Aku sudah menyampaikan salammu, kan? Jadi sekarang diamlah."
Yixing mengerjab kaget. "Apa?"
"Ah, maaf. Kata-kata tadi untuk Yifan, bukan untukmu." Jawab Junmyeon cepat.
Yixing tertawa kecil. "Sampaikan salamku pada Yifan hyung."
Junmyeon menggerutu tidak jelas.
"Kalian makan siang dimana?" tanya Yixing.
"Chinatown."
"Benarkah? Ah, aku jadi merindukan kampung halamanku."
"Kalau mau, aku akan mengajakmu kesini lain kali."
"Benarkah?" Yixing tertawa. Tiba-tiba Yixing mendengar seseorang memanggil namanya. "Tuang Zhang? Dokter Park meminta Anda menemuinya di ruangannya."
"Ah, maaf, hyung. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa nanti malam." Yixing menutup ponselnya dan bangkit dari kursi, diikuti Victoria. Mereka masuk ke ruang periksa dan menyapa seorang dokter setengah baya yang sudah mereka kenal dengan baik.
Dokter Park Yoochun, salah seorang kardiolog terbaik di rumah sakit itu, tersenyum kecil dan menyapa mereka dengan ramah.
"Yixing-ssi, bagaimana keadaanmu? Apakah ada keluhan?"
**ooo**
"Yifan, aku akan mengambil dokumen yang kau perlukan. Kalau kau mau minum, ambil saja sendiri di dapur." Kata Junmyeon sambil melangkah ke kamarnya. Setelah menemukan dokumen yang dicarinya, Junmyeon melangkah ke ruang duduk.
"Myeon." Panggil Yifan dari arah dapur. Junmyeon agak heran mendengar nada suara Yifan yang terdengar serius.
Tidak lama kemudian, Yifan muncul di ruang duduk sambil membawa tabung plastik kecil. Ditatapnya Junmyeon dengan curiga.
"Apa?" tanya Junmyeon tidak mengerti.
"Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tanya Yifan serius. Junmyeon dapat mendengar seberkas kekhawatiran dalam suara Yifan.
"Yifan, apa maksudmu?"
Yifan mengacungkan botol plastik yang dipegangnya. "Apakah ini milikmu?"
Junmyeon menggeleng. "Bukan. Dimana kau menemukannya?"
"Di meja dapur."
"Mungkin itu milik Zhang."
"Milik Yixing?" gumam Yifan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Mungkin tertinggal disini ketika dia datang tadi pagi." Junmyeon mengangkat bahu.
"Tapi obat ini..." kata Yifan ragu.
"Kenapa? Kau tau obat apa itu?"
Yifan mengangguk. "Shin ahjumma -adik Ummaku-, juga minum obat ini. Terkadang dia memintaku menebus obat-obat ini."
Junmyeon menahan nafas, menunggu Yifan melanjutkan kata-katanya.
Yifan menatap Junmyeon dan bertanya. "Apakah Yixing menderita penyakit jantung?"
**ooo**
Yixing mengaduk-aduk isi tasnya dan membongkar lemarinya. Tidak ada. Dia tetap tidak menemukan obat yang dicarinya. Yixing menggigit bibir. Dimana obat sialan itu? Dia sungguh membutuhkan obat itu sekarang.
Tiba-tiba bel interkomnya berbunyi. Yixing melangkah ke pintu dan menekan tombol interkom disana. "Ya?"
"Zhang, ini aku."
Yixing tersenyum kecil mendengar suara Junmyeon di interkom. Dia menekan tombol lain untuk membuka pintu. Baiklah, dia akan mencari obatnya sepulangnya dari pesta. Semoga dia tidak membutuhkan obatnya malam ini. Semoga dia bisa bertahan sampai pesta itu berakhir.
Tepat setelah Yixing mengancingkan kancing teratas kemejanya, bel apartemennya berbunyi. Yixing menarik nafas dalam-dalam, membuka pintu dan tersenyum lebar pada Junmyeon yang berdiri di hadapannya. Ya Tuhan, namja itu terlihat begitu menawan dalam balutan tuxedo abu-abu gelapnya. "Kau sangat tepat waktu, hyung." Kata Yixing, berusaha menjaga agar suaranya tetap terdengar biasa saja.
Junmyeon mengamati Yixing dengan alis terangkat. Yixing terlihat begitu bersinar dengan balutan tuxedo hitamnya yang elegan. "Zhang, terlihat sangat menawan dengan setelan itu." pujinya.
Mengabaikan jantungnya yang kembali berdebar kencang dan berharap semoga pipinya tidak memerah, Yixing tersenyum ringan dan berkata. "Tentu saja. Aku tidak akan membuatmu malu."
"Aku percaya itu. Kita berangkat sekarang?"
"Baiklah."
"Jadi, apakah kau baik-baik saja?" tanya Junmyeon setelah mobil Mercedes hitam miliknya melaju di jalan raya.
"Hm, maksudmu?"
"Kemarin malam, kau terlihat tidak begitu baik."
"Mmm. Aku baik-baik saja."
"Sungguh? Kau baik-baik saja?" tanya Junmyeon sangsi.
"Sungguh. Aku hanya sedikit lelah. Hanya itu."
"Berapa jam kau tidur semalam?"
Yixing mendesah. "Sepertinya kau sangat terobsesi dengan jam tidurku?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Berapa jam?" sela Junmyeon.
Yixing memalingkan wajah. "Dua atau tiga jam. Tapi aku sudah terbiasa."
"Kau sudah berkonsultasi dengan dokter?"
"Untuk apa?"
"Kau mengalami insomnia selama...berapa bulan? Tiga bulan? Itu tidak normal dan seharusnya kau berkonsultasi ke dokter."
"Tidak perlu." Kata Yixing tegas. "Aku bisa mengatasinya. Lagipula aku sudah terbiasa. Kau tidak perlu khawatir. Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi." Yixing menghela nafas dan memandang ke luar jendela. Meski Junmyeon tidak berkata apa-apa, tapi Yixing tau namja itu masih terus memandanginya. Yixing menoleh dan menatap Junmyeon dengan enggan.
"Apa?"
Junmyeon mengeluarkan sesuatu dari saku bagian dalam jasnya dan mengacungkannya di depan Yixing.
"Apakah ini milikmu?"
Yixing menatap benda di tangan Junmyeon dan terkesiap. Melihat reaksi Yixing, Junmyeon yakin obat itu memang miliknya.
"Dimana kau menemukannya?"
"Kau meninggalkannya di apartemenku." Kata Junmyeon sambil mengulurkan tabung plastik itu pada Yixing. Alisnya terangkat heran melihat tangan Yixing yang sedikit gemetar ketika menerima tabung itu.
"Jadi...obat apa itu?" lanjut Junmyeon. Tentu saja dia tau obat apa itu, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Yixing.
Yixing berdehem. "Vitamin. Hanya vitamin."
"Vitamin? Yifan bilang itu obat untuk penyakit jantung."
Meski penerangan di dalam mobil tidak cukup bagus, tapi Junmyeon yakin dia melihat wajah Yixing memucat.
"Ini vitamin untuk jantung. Dokter yang menyarankannya untukku, karena sebagai penari, aku harus menjaga kesehatan jantungku."
"Apakah ada masalah dengan jantungmu sehingga dokter memberimu vitamin?"
"Tidak ada yang serius."
"Kau yakin?"
Yixing tersenyum samar lalu bergumam pelan. "Apakah kita masih jauh? Kuharap kita tidak terlambat."
Junmyeon mendesah. Jelas sekali kalau Yixing tidak ingin membicarakan hal itu lagi. Karena itu, Junmyeon memutuskan tidak akan mendesaknya.
**ooo**
Empat puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di gedung tempat pesta diselenggarakan. Suasana sudah sangat ramai ketika mereka berdua memasuki aula yang luas itu. Semua perhatian pengunjung tertuju pada seorang wanita cantik berusia di awal lima puluhan yang tengah memberikan kata sambutannya pada para undangan.
Junmyeon menyenggol lengan Yixing dengan pelan dan berbisik. "Itu Hyoyeon."
Yixing mengangguk-angguk.
"Kau mau minum?"
"Boleh."
"Kalau begitu, ayo." Junmyeon menarik Yixing ke meja minuman. Mereka menyesap minuman mereka masing-masing sambil mendengarkan Hyoyeon mengakhiri kata-kata sambutannya.
"Sekali lagi, terima kasih atas kehadiran Anda sekalian dan silakan menikmati hidangan kecil yang telah kami sediakan. Anda juga bisa mengajak pasangan Anda berdansa."
Para tamu bertepuk tangan. Hyoyeon turun dari panggung dan band mulai memainkan musik untuk mengiringi pasangan-pasangan yang ingin berdansa.
"Myeoni? Kau datang?"
Junmyeon menoleh ke arah suara dan melihat sang Umma tengah tersenyum lebar ke arahnya. "Umma? Appa kemana?"
"Appamu sedang berbincang dengan temannya. Biarkan saja."
"Selamat malam, ahjumma." Sapa Yixing sopan.
Wajah Yoona berseri-seri melihat Yixing. "Halo, Yixing-ah. Astaga, kau keren sekali."
"Terima kasih. Ahjumma juga terlihat sangat cantik."
Yoona tersenyum lebar. "Ngomong-ngomong, apa kalian sudah bertemu Sehun?"
"Belum. Dia sudah datang?"
"Sudah. Dia datang bersama Soojung."
Junmyeon tersenyum geli. "Sehun mengajak Soojung kesini?"
Yoona terkekeh. "Soojung tau kita akan menghadiri pesta ini dan dia memohon, ah, lebih tepatnya memaksa Sehun mengajaknya kesini."
Yixing menoleh ke arah Junmyeon dan bertanya. "Siapa itu Soojung?"
"Soojung adalah sepupu kami dari pihak Umma. Aku tidak tau apa yang membuat Sehun setuju mengajaknya kesini. Yah, mungkin Soojung sangat berambisi menjadi penari meski dia tidak punya bakat sama sekali. Tapi Soojung bukanlah tipe yeoja yang bisa kau ajak ke pesta resmi seperti ini."
"Kenapa?"
"Karena dia tidak bisa mengendalikan mulutnya. Dia terlalu blak-blakan."
Yixing hanya mengangguk singkat.
Yoona mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang dan bergumam pelan. "Oh, itu Sehun."
"Halo, hyung. Ini kejutan yang menyenangkan. Biasanya kau tidak menghadiri pesta-pesta semacam ini. Kau bilang ini membosankan." kata Sehun ketika dia sudah berdiri di hadapan mereka.
"Karena itulah aku mengajak Zhang. Supaya dia bisa menemaniku dan aku tidak akan bosan." Sahut Junmyeon datar.
"Tapi aku harap hyung tidak keberatan aku meminjamnya sebentar." Tanpa menunggu jawaban Junmyeon, Sehun beralih menatap Yixing. "Yixing-ah, mau berdansa denganku?"
Yixing tersenyum dan akan menerima ajakan Sehun ketika dia teringat bahwa seharusnya dia menemani Junmyeon. "Hyung, kau tidak keberatan, kan?" tanyanya ragu.
"Junmyeon hyung tidak keberatan." Jawab Sehun, meski bukan dia yang ditanya.
Junmyeon mendengus. "Umma bilang kau datang bersama Soojung. Mana dia?"
"Entahlah. Aku rasa dia sedang mencari mangsa disana. Jadi selagi dia sibuk dengan urusannya, Yixing bisa menemaniku berdansa. Yixing-ah, ayo."
Junmyeon mengerucutkan bibirnya ketika melihat Sehun menarik lengan Yixing. Yixing menoleh pada Junmyeon dengan pandangan bertanya.
Junmyeon menghela nafas. "Pergilah. Aku akan menunggu disini."
Yixing tersenyum cerah. "Aku akan segera kembali." Katanya sebelum Sehun menariknya ke tengah ruangan, bergabung bersama puluhan pasangan lain.
"Myeon, apakah kau sedang memberikan kesempatan untuk adikmu?" tanya Yoona.
"Sebaiknya dia sadar ini untuk yang terakhir kalinya." Gumam Junmyeon.
"Melihat caranya tersenyum, sepertinya Yixing juga menyukai Sehun."
Kepala Junmyeon berputar cepat ke arah Yoona. "Dia selalu tersenyum seperti itu kepada semua orang."
"Ah, kau benar. Dia tersenyum pada semua orang dengan cara yang sama dan dia juga menatap semua orang dengan cara yang sama. Tunggu, itu tidak benar. Umma pernah melihatnya menatap seseorang dengan cara yang berbeda."
"Maksud Umma?"
Yoona terkikik geli dan menangkup wajah Junmyeon dengan kedua tangannya. "Putraku sayang, jangan menekuk wajahmu seperti ini. Kau sangat jelek, kau tau?"
"Yoona! Junmyeon! Senang sekali kalian datang malam ini!"
Kedua ibu dan anak itu serentak menoleh pada Hyoyeon yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Tentu saja aku tidak akan melewatkan pestamu, Hyo."
"Junmyeon-ah, apa kabar? Kau datang berdua bersama ibumu?"
Sebelum Junmyeon sempat menjawab, Yoona menyela. "Tentu saja tidak. Dia tidak mungkin mau menjadi pasangan ibunya di pesta-pesta seperti ini. Ayahnya sedang berbicara dengan temannya entah dimana dan Sehun baru saja menculik pasangannya, jadi aku terpaksa menemaninya."
Hyoyeon tertawa. "Oh, Sehun juga datang?
"Ya, itu dia." Sahut Junmyeon sambil menunjuk ke tengah ruangan. "Ahjumma bisa melihatnya?"
Hyoyeon memanjangkan leher dan melihat ke arah yang ditunjuk Junmyeon. "Ya, aku melihatnya. Dia-oh...oh!"
"Ada apa?" tanya Junmyeon ketika melihat mata Hyoyeon melebar dan terpaku pada Sehun.
"Astaga, bukankah itu Zhang Yixing?" tanya Hyoyeon takjub.
"Ahjumma mengenalnya?" tanya Junmyeon terkejut.
"Tentu saja." Jawab Hyoyeon tegas. "Dia penari terbaik yang pernah bergabung dengan kelompok tariku. Satu dari lima penari kontemporer terbaik dunia saat ini. Dan aku sangat...sangat kecewa ketika dia tiba-tiba mengundurkan diri tahun lalu."
Ketika Yixing berjalan kembali ke tempat Junmyeon, dia melihat Hyoyeon juga ada disana. Wanita itu melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum lebar. Yixing yakin Hyoyeon sudah menceritakan semuanya pada Junmyeon. Yixing mendesah. Apa yang harus dikatakannya kalau Junmyeon bertanya kenapa dia tidak pernah menyinggung soal dirinya yang pernah bergabung dalam kelompok tari Hyoyeon?
"Yixing-ah, ini kejutan yang menyenangkan. Apa kabar?" seru Hyoyeon sambil memeluk Yixing dengan erat.
"Halo, noona. Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu. Kabarku sangat baik. Bagaimana dengan noona?"
Sehun memandang mereka dengan heran. "Kalian saling kenal?"
"Ya. Hyoyeon noona adalah guruku dan aku sudah belajar banyak darinya." Jawab Yixing.
"Omong kosong. Kau adalah penari terbaik yang pernah kumiliki dan kau sudah menguasai semua yang harus kau kuasai. Aku tidak mengajarkan apa-apa padamu." Bantah Hyoyeon sambil tertawa. "Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan Jongin?"
"Jongin? Dia ada disini?" tanya Yixing dengan mata berkilat-kilat senang.
"Tentu saja. Aku akan memberitahunya kalau kau ada disini. Dia pasti ingin bertemu denganmu." Kata Hyoyeon sambil berpamitan dan pergi untuk menyapa tamu-tamunya yang lain. Sepeninggal Hyoyeon, Yoona juga ikut pergi, mencari Siwon yang kini entah berada dimana.
"Yixing-ah, aku tidak menyangka kau pernah bergabung dengan Hyoyeon Dance Company. Kenapa kau tidak pernah menceritakannya selama ini?" kata Sehun takjub.
"Aku hanya merasa hal itu tidak perlu terlalu dibesar-besarkan." Yixing mengangkat bahu.
"Sehunie, sebaiknya kau pergi mencari Soojung. Tidak baik kalau kau meninggalkannya begitu saja sendirian." Sela Junmyeon tiba-tiba.
Sehun mengerang. "Kau benar, hyung. Sebaiknya aku mencarinya sebelum dia membuat memangsa semua orang disini. Haish, apa yang kupikirkan ketika memutuskan mengajakknya kesini tadi?"
Sehun berbalik dan berjalan pergi sambil menggerutu pelan, meninggalkan Junmyeon dan Yixing berdua. Yixing melirik Junmyeon sekilas dan menunggu namja itu menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan Sehun tadi. Tapi ketika Junmyeon bersuara, yang keluar dari mulutnya adalah,
"Zhang, kau mau berdansa denganku?"
Yixing mengerjab terkejut. "Denganmu?"
"Zhang, aku memang tidak mengerti soal tarian waltz, hip-hop, kontemporer, dan apapun itu. Tapi aku tau cara menari." Junmyeon menggerutu pelan. "Sedikit-sedikit."
Yixing tertawa. "Baiklah kalau begitu. Coba kita lihat kemampuanmu."
"Kau akan tercengang." Jawab Junmyeon sambil tersenyum lebar dan meraih tangan Yixing.
Getaran hangat kembali menjalari tangan Yixing setiap kali Junmyeon menyentuh tangannya. Tapi dia berusaha mengenyahkan perasaan itu. "Tolong jangan injak kakiku."
Yixing seorang penari. Jadi sudah pasti ini bukan pertama kalinya dia berdiri begitu dekat seseorang. Ini bukan pertama kalinya dia bersentuhan dengan ini pertama kalinya dia berada begitu dekat dengan Junmyeon. Ini pertama kalinya dia meletakkan sebelah tanganya di bahu Junmyeon sementara tangannya yang lain berada dalam genggaman Junmyeon.
Yixing menelan ludahnya dengan gugup. Jantungnya berdebar begitu keras dan dia tidak berani menatap wajah Junmyeon. Ketika tangan kiri Junmyeon meraih pinggangnya dan menariknya lebih dekat, Yixing hampir lupa cara bernafas. Kemudian Junmyeon bergerak dan Yixing mendapati dirinya mengikuti gerakan Junmyeon dengan mudah. Oh, Junmyeon bukan penari profesional dan dia tidak berusaha menari waltz, tapi ada sesutu yang terasa menyenangkan dari gerakannya yang ringan. Yixing tidak lagi mempedulikan teknik yang benar atau postur tubuh yang tepat. Tangan Junmyeon yang menggenggam tangannya terasa begitu hangat. Tangannya yang lain yang menempel di punggungnya juga mengirimkan getaran hangat yang menjalari seluruh tubuhnya. Yixing merasa begitu nyaman dan dia berusaha keras agar tidak menyandarkan dagunya di bahu Junmyeon.
Ini menyenangkan, pikir Yixing sambil memejamkan mata. Menyenangkan, tapi beresiko. Yixing menarik nafas dalam-dalam. Untuk mengalihkan pikirannya yang mulai melantur, Yixingpun berusaha membuka percakapan. "Hyung, apa kau tidak ingin bertanya kenapa aku tidak pernah bercerita bahwa aku mengenal Hyoyeon noona?"
Junmyeon mengangkat bahu dan memutar Yixing dengan pelan. Ketika Yixing kembali ke pelukannya, Junmyeon berkata. "Aku yakin kau punya alasan sendiri kenapa kau tidak mau, atau lebih tepatnya, belum mau mengatakan yang sebenarnya."
Yixing menatap Junmyeon dan terkejut ketika menyadari namja itu mengenalnya dengan baik.
"Jadi aku tidak akan mendesakmu. Kau akan mengatakannya padaku saat kau memang ingin mengatakannya. Benar, kan?" lanjut Junmyeon sambil terssnyum.
Yixing mendesah lega karena Junmyeon tidak mendesaknya agar menjelaskan semuanya. Siapa yang menyangka seorang Kim Junmyeon bisa bersikap penuh pengertian seperti itu?
"Terima kasih." Gumam Yixing pelan.
"Tapi ada satu hal yang harus kutanyakan."
"Apa?"
"Siapa itu Jongin?"
Mata Yixing sedikit melebar. "Oh, Jongin?"
"Ya. Siapa Jongin?" tanya Junmyeon lagi.
"Salah seorang penari utama Hyoyeon Dance Company dan teman yang sangat baik. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Aku jadi ingin tau bagaimana keadaannya sekarang."
"Kalian tidak berhubungan setelah kau mengundurkan diri, kan?"
Yixing menggeleng. "Mereka berbasis di Daegu dan aku kembali ke Seoul. Kurasa kami hanya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing."
Junmyeon menatap Yixing yang sepertinya masih terlarut dalam masa lalunya. Sebenarnya Junmyeon tidak ingin bertanya, tapi dia harus tau. "Kau yakin hanya teman baik? Sepertinya hubungan kalian lebih dari itu." tanya Junmyeon, berusaha membuat suaranya terdengar ringan.
Yixing tersenyum kecil. "Kau benar, hyung." akunya. Dan Junmyeon merasa perutnya menegang. "Dulu aku memang menyukainya. Bagaimana tidak? Dia menarik, berbakat, baik, dan penuh perhatian. Seandainya aku tidak mengundurkan diri, kurasa kami sudah bersama sekarang."
Terlalu banyak informasi, gerutu Junmyeon dalam hati. Terlalu banyak informasi yang tidak ingin kudengar. Jadi Yixing pernah menyukai namja bernama Jongin itu? Gagasan itu membuat Junmyeon gelisah. Apakah perasaan itu masih ada sampai sekarang?
"Kenapa kau yakin sekali kalian pasti bersama? Memangnya dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu?" tanya Junmyeon sambil merengut.
"Dia pernah menyatakan perasaannya padaku, tepat setelah aku memutuskan mengundurkan diri." Jawab Yixing pelan.
Lagi-lagi informasi yang tidak ingin Junmyeon dengar. Jadi mereka saling menyukai. Hebat. Junmyeon menggertakkan rahang dan bertanya. "Lalu kenapa kau mengundurkan diri?"
Yixing tersenyum samar. "Itu...Ceritanya panjang. Akan kuceritakan lain kali."
Tepat setelah itu, lagu berakhir dan orang-orang bertepuk tangan. Yixing menurunkan kedua tangannya dan mundur selangkah, memberi jarak di antara mereka. Ini gila, tapi Junmyeon merasa sangat kehilangan. Berusaha menutupi perasaannya yang aneh, Junmyeon bertanya.
"Mau minum lagi?"
Yixing mengangguk. "Boleh."
Sebelum mereka meninggalkan lantai dansa, seseorang memanggil nama Yixing dan mereka serentak menoleh. Seorang namja bertubuh proporsional, berkulit sedikit gelap, dan berambut coklat berdiri di hadapan Yixing dan tersenyum lebar.
"Ketika Hyoyeon noona memberitahuku bahwa kau ada disini, aku hampir tidak percaya. Tapi kau benar-benar ada disini." Kata namja itu pelan. Mata hitamnya menatap Yixing yang masih mematung. Perlahan-lahan, sudut-sudut bibirnya terangkat ke atas, membentuk seulas senyum yang sangat menawan. "Yixing hyung, apa kau tidak mau menyapaku?"
Yixing mengerjab sekali. "Jongin." Bisiknya pelan, tapi Junmyeon bisa mendegarnya. Sedetik kemudian, Yixing sudah melemparkan diri ke namja berkulit eksotis itu dan memeluknya dengan erat.
Apa-apaan...? Dengan susah payah, Junmyeon menahan diri untuk tidak menarik Yixing dari namja itu. Apalagi ketika namja itu mengangkat kedua lengannya dan balas memeluk Yixing tak kalah erat.
"Jongin." Gumam Yixing sambil tersenyum lebar, masih memeluk namja itu. "Jongin, Jongin, Jongin."
Jongin tertawa pelan. "Aku juga senang melihatmu lagi, hyung."
Tepat ketika Junmyeon merasa tidak bisa menahan diri lagi, Yixing melepaskan pelukannya dan menatap Jongin dengan mata berbinar-binar.
"Hyung, bagaimana kabarmu?" tanya Jongin. Junmyeon merengut melihat namja itu menggenggam tangan Yixing.
"Aku sangat baik. Bagaimana kabarmu?"
"Hyung bisa melihatnya sendiri, aku baik-baik saja." Jawab Jongin, lalu matanya beralih ke arah Junmyeon yang masih berdiri di belakang Yixing.
Seperti baru menyadari keberadaan Junmyeon, Yixing berbalik dan menoleh. "Hyung, kenalkan ini teman baikku, Lee Jongin. Jongin, ini Kim Junmyeon."
"Apa kabar?" sapa Jongin ramah. Junmyeon hanya bergumam pelan. "Oh ya, bisakah aku berdansa sebentar dengan Yixing hyung?"
Junmyeon menggertakkan gigi. "Tentu. Tapi pastikan kau mengembalikannya padaku setelah itu."
Jongin menatap Junmyeon dengan heran, tapi kemudian dia menyahut ringan. "Baiklah. Tidak masalah."
Junmyeon menoleh sekilas ke arah Yixing. "Aku akan menunggu di tempat tadi." gumamnya sambil berbalik pergi. Di tengah jalan Junmyeon berpapasan dengn seorang pelayan yang menawarkan sampanye. Diraihnya segelas sampanye itu dan dihabiskannya dalam sekali teguk. Lalu dia mengambil segelas lagi sebelum pelayan itu pergi.
"Pasangan yang serasi, kan?"
Junmyeon menoleh cepat pada Hyoyeon yang entah kapan sudah berdiri di sampingnya. Junmyeon mengikuti arah pandang wanita itu dan matanya terpaku pada sosok Yixing dan Jongin yang bergerak mengikuti irama. Mata Junmyeon mengawasi Yixing yang bergerak seringan kupu-kupu yang terbang di pagi hari. Ketika Junmyeon melihat namja itu mendongak menatap Jongin dan tertawa lepas, Junmyeon merasa ada sesuatu yang meledak-ledak dalam dadanya. Sialan, mereka memang terlihat serasi.
"Mereka adalah pasangan emasku. Mereka memiliki kemampuan yang sama, teknik yang sempurna, dan gairah menari yang besar." lanjut Hyoyeon dengan bangga.
"Mereka sangat bagus dipasangkan dengan gadis manapun, tapi mereka akan jauh lebih sempurna ketika mereka dipasangkan satu sama lain. Mungkin ini terdengar sangat konyol, tapi aku yakin mereka saling menyukai." Hyoyeon terkikik pelan.
"Begitukah?" tanggap Junmyeon enggan.
Hyoyeon mendesah. "Seandainya Yixing tidak mengundurkan diri, seandainya mereka bisa kembali berpasangan di pertunjukkanku ini. Yah, meskipun sekarang penari wanitaku sangat cocok berpasangan dengan Jongin, tapi tidak ada yang bisa menandingi Yixing. Seandainya saja aku bisa melihat Yixing menari dalam pertunjukkan ini, meskipun hanya sekali, aku akan..."
Tiba-tiba Hyoyeon menghentikan aliran kata-katanya dan menatap Junmyeon. "Junmyeon, kurasa aku baru saja mendapatkan ide bagus. Maaf, aku harus pergi sekarang."
Junmyeon menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia merasa seseorang menggandeng lengannya dan terdengarlah sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya itu.
"Halo, oppa. Kenapa kau berdiri sendirian disini seperti orang patah hati?"
Junmyeon menoleh dan balas tersenyum pada Soojung yang berdiri di sampingnya. "Kemana Sehun? Kulihat tadi dia sedang mencarimu."
"Oh, kami sudah bertemu tadi. Lalu Sehun oppa diculik oleh seorang yeoja mungil yang menariknya begitu saja ke lantai dansa. Kasihan, dia jadi tak berdaya."
Junmyeon tertawa.
"Aku rasa teman kencan oppa juga diculik orang lain?"
Junmyeon mengarahkan dagunya ke tengah ruangan, menunjuk Yixing. Soojung mengangguk. "Itu yang namanya Zhang Yixing? Tuxedo hitam, wajah mulus yang menawan, rambut sehitam malam, dan senyum secerah matahari?"
Junmyeon tersenyum kecil dan mengangguk. "Satu-satunya."
"Meski dia bukan tipeku, tapi aku tidak akan menolak kalau dia mengajakku berdansa." Soojung menyeringai kecil.
"Jung Soojung, jangan coba-coba mendekatinya."
Soojung tertawa dan tidak menghiraukan ancamam Junmyeon. "Kalem saja, oppa. Aku tidak akan pernah merebut kekasih saudaraku. Hmm, karena pasangan kita sama-sama diculik orang lain, bagaimana kalau kita berdansa bersama?"
Junmyeon mendengus pelan. "Kurasa bukan ide yang buruk." Katanya sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
"Aku tau Sehun oppa menyukainya." kata Soojung ketika mereka sudah bergabung di lantai dansa.
"Siapa?" tanya Junmyeon pura-pura bodoh.
"Zhang Yixing."
"Oh ya?"
Soojung mengangguk. "Tidak sulit menebaknya. Lagipula Sehun oppa sama sekali tidak berusaha menyembunyikan perasaannya. Dan dari caramu menatap namja itu sejak tadi, aku yakin oppa juga tertarik padanya dan tidak suka melihatnya berdansa dengan orang lain."
"Kau berlebihan, Soojung-ah."
"Apakah Sehun oppa tau kau juga tertarik pada Zhang Yixing?"
"..."
"Apakah dia tau kalian berdua tertarik padanya?"
"..."
"Aku rasa dia tau Sehun oppa menyukainya, tapi tidak tau bahwa kau juga menyukainya."
"..."
"Oppa, aku benar kan?"
"Soojung?"
"Ya?"
"Tidak heran sampai sekarang kau masih belum punya pacar. Kau terlalu banyak bicara."
Soojung melotot pada Junmyeon. "Apa? Kim Junmyeon, asal kau tau, banyak namja yang mengejarku dan..."
Junmyeon tertawa sementara Soojung terus berceloteh tentang namja yang menurutnya mengejar-ngejar dirinya di kampus. Biarkan saja, setidaknya sekarang Junmyeon berhasil mengalihkan perhatian Soojung dari topik tentang Yixing. Junmyeon memandang melewati kepala Soojung dan menatap ke arah Yixing yang masih terhanyut dalam dunianya bersama namja berkulit tan itu. Tunggu, kenapa dia berpelukan lagi dengan si Jongin itu? Kenapa dia harus tersenyum pada Jongin seperti itu? Junmyeon berusaha keras menahan dirinya agar tidak berderap ke tempat mereka dan menarik Yixing dengan paksa dari tangan Jongin. Demi Tuhan, sebaiknya Yixing berhenti tersenyum kepada semua orang seperti itu.
"Hyung, kau melamun?"
Yixing tersentak dan mengalihkan pandangannya dari Junmyeon yang sedang berdansa dengan seorang yeoja cantik berambut panjang dan kembali menatap Jongin.
"Maaf, Jonginie. Tadi apa kau katakan?"
"Tadi aku berkata bahwa kita akan sering bertemu sekarang karena aku akan tinggal di Seoul selama satu bulan ke depan, selama kami mengadakan pertunjukkan disini."
"Benarkah? Bagus sekali."
"Jadi, apakah besok hyung punya waktu luang? Mungkin kita bisa makan siang bersama."
Teringat bahwa waktu luangnya kini tergantung pada Junmyeon, Yixing otomatis kembali menoleh ke arah Junmyeon dan mendapati namja itu sedang tertawa lepas. Tiba-tiba saja Yixing jadi penasaran apa yang dikatakan yeoja itu sehingga membuat Junmyeon tertawa seperti itu.
"Hyung?"
Yixing mengerjab dan kembali menatap Jongin. "Eh, besok? Tentu saja aku bisa."
Jongin tersenyum senang. "Bagus. Aku senang bertemu denganmu lagi, hyung. Aku merindukanmu."
Yixing balas tersenyum. "Aku juga merindukanmu, Jongin-ah." Kata Yixing sambil memeluk Jongin. Saat itu bayangan Junmyeon yang sedang tertawa lepas melintas di benaknya. Entah kenapa, Yixing berharap dirinyalah yang membuat Junmyeon tertawa seperti itu.
Dimana dia?
Junmyeon mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan mendesah kesal. Satu jam yang lalu, Jongin sudah "mengembalikan" Yixing padanya setelah mereka selesai berdansa. Lalu Yixing dihampiri oleh beberapa temannya dari Hyoyeon Dance Company dan mereka mengobrol. Junmyeon membiarkan Yixing berbincang bersama temannya sementara dia sendiri berbincang dengan beberapa kenalan Appanya. Tapi dimana namja itu sekarang? Sudah hampir dua puluh menit berlalu sejak Yixing berpamitan pergi ke toilet. Junmyeon sudah mencarinya ke seluruh toilet yang ada di gedung itu, tapi dia tetap tidak menemukan Yixing dimanapun. Junmyeon mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi Yixing dan menanyakan keberadaannya. Junmyeon melangkah keluar menuju sebuah taman kecil di samping gedung. Udara dingin seketika menyergap Junmyeon ketika dirinya tiba taman dengan penerangan yang remang-remang itu.
Yixing tidak menjawab telepon. Junmyeon menekan nomornya sekali lagi dan menunggu. Dia menuruni tangga batu dan menyusuri jalan setapak di tengah-tengah taman. Tiba-tiba Junmyeon mendegar bunyi samar yang membuatnya tertegun. Tanpa menutup sambungan teleponnya, Junmyeon terus menyusuri jalan setapak itu, mencari sumber dering ponsel yang semakin lama semakin jelas dan yang kini dikenalnya sebagai nada dering ponsel Yixing.
Junmyeon terbelalak kaget dan sekujur tubuhnya mendadak menjadi dingin melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya. Junmyeon merasa jiwanya ditarik dengan paksa dari raganya ketika melihat Yixing berlutut di tanah sambil memegangi dadanya. Junmyeon mendengar jelas rintihan yang keluar dari mulut namja itu.
"Astaga Zhang! Apa yang terjadi?" seru Junmyeon panik.
TBC
A/N :
Apa kabar semua? Saya datang lagi #tebarbulucandy(?)
Bagaimana dengan chapter ini? Mulai sini, mungkin bakal ada sedikit konflik, hohoho #smirk.
Ah ya, disini saya buat marga uri Kkamnjong kita jadi Lee. Semoga gak terlalu mengganggu ya, hehehehe #peace.
Balasan buat reviewer yang gak login :
~ Kin Ocean : Iya, sebenarnya yang penting kan kualitas (?) dari interaksi itu sendiri. Biar dikit tapi nendang. Ini udah dilanjut. Gomawo :D
~ xingmyun : Ini udah dilanjut, chingu. Gomawo :D
~ cloudy : Sehunnya gak kenapa-napa kok. Kan dia dateng juga ke pesta itu. Dan dia juga sempet dansa ama Yixing. Hahaha, biar gengsi, tapi flirting jalan terus xD. Gomawo :D
~ Lafinya : Wah, ini mamanya Yixing ya? Apa kabar, ahjumma? #abaikan. Ya, mungkin bakal banyak hati yang tersakiti. Chingu mau menampung salah satunya? Gomawo :D
~ byun b : Aduh, makasih banyak atas apresiasinya. Gomawo :D
Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.
Saranghae all *kecupsatusatu*
Sampai jumpa chapter depan ~
Wanna to review again? /wink/
