Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*
Genre : Romance
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun
and many more...
Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR
Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D
Happy Reading ~
Chapter 9
Yixing baru saja keluar dari toilet dan hendak kembali ke ruang pesta ketika dadanya tiba-tiba terasa sakit. Rasa sakitnya begitu mendadak sampai dia harus berhenti melangkah dan menggapai dinding untuk menahan tubuhnya. Karena tidak ingin membuat kehebohan, Yixing memilih masuk ke salah satu pintu kaca yang ada di depannya dan mendapati dirinya telah berada di sebuah taman kecil yang sepi dan disinari bulan. Udara dingin bulan Desember langsung menyergapnya, tapi Yixing tidak sempat merasakan dinginnya karena rasa sakit itu kembali menyerang dadanya. Yixing mengerang tertahan dan memejamkan mata rapat-rapat. Dia jatuh terduduk di tanah dengan tangan yang berpegangan pada salah satu bangku kayu yang berderet di jalan setapak taman itu.
Obat, pikir Yixing sambil menggigit bibir menahan sakit. Dengan susah payah, dirogohnya saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan botol plastik kecil berisi obatnya. Yixing membalikkan botol itu, mengeluarkan sebutir pil dan memasukkannya ke mulutnya. Yixing mendengar ponselnya berdering, tapi dia tidak bisa mengangkatnya karena dia sedang kesakitan dan berusaha mengatur nafasnya. Pandangannya mulai buram. Oh, tidak. Dia tidak boleh jatuh pingsan di tempat ini. Tidak boleh.
Tepat pada saat itu, suara seseorang menerobos kabut rasa sakit yang menyelubungi otaknya. Yixing merasa seseorang berlutut di sampingnya dan memegang lengannya. Yixing membuka mata dan melihat wajah Junmyeon yang pucat dan menatapnya dengan mata terbelalak cemas.
"Astaga, Zhang. Apa yang terjadi?" seru Junmyeon panik.
Ya Tuhan, kenapa Junmyeon hyung bisa ada disini? Kenapa namja itu harus melihatnya dalam keadaan seperti ini? Yixing menggeleng. Junmyeon menarik pelan tubuh Yixing, mendudukkannya di bangku dan membiarkan Yixing bersandar di bahunya.
"Kau sakit?" tanya Junmyeon lagi. Nada cemas masih terdengar dalam suaranya. "Kita harus ke rumah sakit."
Yixing mencengkeram lengan Junmyeon dan menggeleng keras. "Tidak." katanya lemah. "Aku akan baik-baik saja. Aku...sudah minum obat. Sebentar lagi...aku akan baik-baik saja."
Junmyeon menghela nafas. Dia melepas jasnya dan menyampirkannya di sekeliling tubuh Yixing. "Kau gemetaran." Gumamnya. Junmyeon merangkul bahu Yixing dan mengusap-usap lengan serta punggung Yixing.
Yixing memejamkan mata dan nafasnya perlahan-lahan kembali normal. Rasa sakit di dadanya perlahan berkurang. Dia tidak tau apakah itu karena sentuhan Junmyeon. Yang Yixing tau, dia merasa sedikit lebih baik sekarang.
"Apakah sakit sekali?" tanya Junmyeon lirih.
Yixing tersentak dan menggigil. "Aku ingin pulang. Apa kau keberatan?" bisiknya serak.
"Sama sekali tidak." sahut Junmyeon mantap. Dia mengeluarkan ponselnya, menelepon sopirnya, memintanya menunggu mereka di pintu depan. "Zhang, kau bisa berdiri?"
Sebenarnya Yixing masih merasa belum cukup kuat untuk bergerak, apalagi berdiri. Tapi dia harus memaksakan diri. Namun belum sempat Yixing menarik diri dan menjauh dari Junmyeon, namja itu telah mengambil keputusan sendiri. Dengan gerakan cepat, Junmyeon mengangkat tubuh Yixing dan menggendongnya di punggungnya.
"Hyung...kau ti..tidak perlu..."
"Sst, tidak apa-apa." gumam Junmyeon dengan nada menenangkan. Setelah memperbaiki posisi Yixing di punggungnya, Junmyeon melangkah lebar menyusuri koridor yang untungnya sepi dan langsung berjalan ke pintu depan.
Yixing mendesah pelan. Dia terlalu lemah dan kesakitan untuk memprotes atau melakukan apapun. Yang bisa dilakukannya hanyalah menyandarkan kepalanya di bahu Junmyeon dan memejamkan mata. Lagipula, dia merasa nyaman dipeluk seperti itu.
Ketika mereka sudah berada di kursi belakang Mercedes Junmyeon, Yixing mulai bernafas sedikit lebih teratur meski wajahnya masih terlihat pucat. Dia masih membiarkan Junmyeon merangkul bahunya dan masih membiarkan dirinya bersandar di sisi tubuh Junmyeon.
"Tuan Kim, apakah teman Anda sakit?" tanya sopir Junmyeon cemas sambil menatapnya dari kaca spion. "Apakah kita harus ke rumah sakit?"
Sebenarnya Junmyeon ingin membawa Yixing ke rumah sakit. Namja itu terlihat begitu kesakitan dan Junmyeon tidak mau mengambil resiko. Tapi kemudian Yixing mengangkat wajah dan menatap Junmyeon dengan tatapan memohon.
"Hyung, aku mohon. Aku tidak mau ke rumah sakit. Aku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu minum obat dan aku akan baik-baik saja. Sungguh."
"Tapi..." Junmyeon menatap Yixing dengan ragu.
"Sekarang aku sudah merasa lebih baik. Kalau kau melihatku kesakitan lagi, kau boleh membawaku ke rumah sakit. Tapi sekarang, aku hanya ingin pulang."
Junmyeon menghela nafas dan mengangguk enggan. "Baiklah. Kita pulang sekarang. Kita memang tidak akan pergi ke rumah sakit, tapi kau akan menginap di tempatku malam ini."
Mata Yixing sontak melebar. "Apa?"
"Aku tidak mungkin dan tidak akan meninggalkanmu sendirian di apartemenmu dalam keadaan seperti ini. Jadi mungkin kita bisa mampir sebentar ke apartemenmu kalau ada obat lain yang harus kau minum malam ini. Tidak ada bantahan. Ini perintah, Zhang."
"Tidak perlu. Aku menyimpan cadangan obat di apartemenmu." Kata Yixing pelan.
**ooo**
"Jadi selama ini, kau menyimpan obat-obatmu disana?" tanya Junmyeon sambil menyandarkan sebelah bahunya di pintu kulkas.
Saat itu mereka sudah berada di apartemennya dan Junmyeon mengamati Yixing mengeluarkan kantong plastik berisi obatnya dari salah satu lemari dapur. Keadaan Yixing sudah jauh lebik baik ketika mereka tiba di apartemen Junmyeon. Meski wajahnya masih sedikit pucat, tapi Yixing sudah bisa berdiri tegak dan berjalan tanpa perlu dipapah.
"Sudah kubilang aku akan baik-baik saja. Aku tidak perlu dijaga." Gerutu Yixing sambil memilah-milah obatnya di atas meja.
"Aku tidak akan mau berdebat denganmu soal ini. Kau tidak akan pergi kemana-mana malam ini. Kau bisa tidur di kamar tamu."
Yixing menelan obatnya satu per satu dan melotot pada Junmyeon yang membalasnya dengan senyum lebar. Kalau Yixing sudah bisa merasa kesal padanya, itu pertanda bagus. Setidaknya, namja itu sudah merasa cukup sehat untuk marah-marah.
"Ngomong-ngomong, apakah kau juga menyimpan persediaan baju disini?" tanya Junmyeon sambil mengamati Yixing dari atas ke bawah.
"Tidak. Kenapa?"
Junmyeon mengangkat bahu. "Zhang, kau memang terlihat keren dengan tuxedo itu. Tapi kau tidak mungkin merasa nyaman tidur dengan keadaan seperti itu."
Yixing menunduk menatap penampilannya yang kini terlihat sedikit berantakan. "Oh, benar." Gumamnya datar.
"Jangan khawatir. Ikut aku." Kata Junmyeon sambil berbalik dan memberikan isyarat pada Yixing agar mengikutinya.
Junmyeon membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan berderap menghampiri lemari di sisi ruangan. Junmyeon membuka pintu lemari dan mengeluarkan sehelai sweater dan celana panjang lalu menyerahkannya pada Yixing.
"Pakai ini. Pakaian ini pasti jauh lebih nyaman daripada setelan yang kau kenakan sekarang."
"Hmm, terima kasih." Gumamnya pelan.
Junmyeon menatap Yixing sejenak dan tersenyum kecil. "Kau butuh bantuan?"
Yixing menatap Junmyeon dan mendengus. "Tidak usah. Aku sudah merasa cukup sehat untuk berganti pakaian sendiri." Katanya sambil berbalik dan berjalan keluar dari kamar Junmyeon menuju kamar tamu.
Yixing menatap bayangannya di cermin dan mendesah pelan. Dia tau dia harus menjelaskan keadaannya pada Junmyeon. Namja itu pasti membutuhkan penjelasan ketika tadi dia menemukannya dalam keadaan seperti itu. Yixing memiringkan kepala dan bertanya-tanya bagaimana perasaan Junmyeon ketika melihatnya tadi. Takut? Panik? Suara Junmyeon pada awalnya memang terdengar panik, tapi ketika dia merangkul Yixing dan membiarkan Yixing bersandar di bahunya, nada suaranya terdengar terkendali. Saat itu, Yixing memang tidak sepenuhnya mendengar apa yang dikatakan Junmyeon, tapi suaranya yang rendah dan menenangkan berhasil meredakan ketegangan yang dirasakan Yixing.
Tadinya Yixing mengira Junmyeon akan membanjirinya dengan pertanyaan setibanya mereka di apartemen, tapi ternyata namja itu tidak berkata apa-apa. Kenapa? Sekali lagi Yixing mendesah, lalu dia berbalik dan melangkah keluar. Dia menemukan Junmyeon sedang duduk di sofa dan berbicara dengan seseorang di telepon. Junmyeon melihat kedatangan Yixing dan menepuk pelan sofa di sampingnya, memberi isyarat agar Yixing mendekat dan duduk disana.
"Maaf, kami harus meninggalkan pesta lebih awal karena tiba-tiba aku ingat aku punya janji lain."
"Sehun?" tanya Yixing tanpa suara.
Junmyeon mengangguk singkat sebelum kembali berbicara di ponsel. "Aku akan menjelaskannya besok. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Hyoyeon ahjumma dan yang lainnya."
"Kita tidak pamit pada siapapun tadi." gumam Yixing menyesal ketika Junmyeon sudah menutup ponselnya. "Aku merasa bersalah pada Hyoyeon noona karena menghilang tiba-tiba."
"Jangan khawatr. Aku sudah meminta Sehun menjelaskan kepergian kita pada Hyoyeon ahjumma." Kata Junmyeon. Lalu dia menunjuk dua cangkir coklat panas di atas meja. "Itu untukmu."
"Coklat?" tanya Yixing dengan mata berkilat senang. Dirahnya cangkir yang paling dekat dengannya dan menghirup aromanya. Yixing menyesapnya sedikit lalu menoleh menatap Junmyeon. "Hyung, apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?"
Junmyeon mencondongkan tubuhnya dan meraih cangkirnya. "Aku berencana menanyakannya besok. Aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya."
Yixing tersenyum. "Terima kasih. Tadinya aku mengira kau akan menginterogasiku begitu kita tiba di rumah."
Junmyeon balas tersenyum. "Aku memang penasaran. Tapi aku tidak mungkin menghujanimu dengan pertanyaan sementara kau jelas-jelas sedang tidak sehat. Jadi kita akan bicara besok." Junmyeon menatap Yixing dan bertanya lembut. "Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku sudah merasa jauh lebih baik." Kata Yixing. Dia menangkup cangkirnya dengan kedua tangan dan membiarkan rasa hangat itu menjalari telapak tangan, lengan, dan sekujur tubuhnya.
"Apa kau lelah?"
Yixing mengangguk. Dia merasa lelah. Dan mengantuk. Ini aneh, karena dia jarang mengantuk. Mungkin efek dari coklat hangat dan apartemen Junmyeon yang nyaman yang membuatnya mengantuk.
"Kalau begitu, ayo. Sebaiknya kau beristirahat sekarang." Junmyeon berdiri dan mengulurkan tangannya pada Yixing.
Yixing menghabiskan coklatnya, meletakkan cangkirnya yang sudah kosong di atas meja dan menyambut uluran tangan Junmyeon. Junmyeon meletakkan kedua tangannya di bahu Yixing dan mendorongnya dengan lembut ke kamar tamu.
"Apakah kau juga akan menyelimutiku?" tanya Yixing sambil tertawa pelan ketika mereka sudah berada di kamar tamu.
Junmyeon mengangkat selimut dan menyuruh Yixing naik ke tempat tidur. Yixing menurut. Dia merangkak naik ke ranjang dan membiarkan Junmyeon menyelimutinya.
"Apakah kau akan membacakan dongeng pengantar tidur untukku?" gurau Yixing sambil tersenyum lebar.
Junmyeon tertawa dan berpikir sejenak. "Baiklah. Kau ingin mendengar cerita tentang apa?"
"Apa saja." Sahut Yixing sambil meringkuk miring, mencari posisi yang nyaman di balik selimut. "Mari kita lihat seberapa kreatifnya dirimu."
Junmyeon menarik kursi dan duduk di tepi ranjang, tepat menghadap Yixing. "Pada jaman dahulu kala," Junmyeon mulai bercerita, "di sebuah negeri yang sangat jauh yang diperintah oleh raja yang bijaksana, hiduplah seorang gadis yang tinggal bersama neneknya yang sudah tua. Seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat cantik, rambut sehitam arang, mata segelap malam, bibir semerah cherry, dan kulit sepucat bulan purnama. Astaga, sepertinya gadis itu mirip denganmu, Zhang. Mengejutkan, kan?"
Yixing mengerucutkan bibirnya. "Aku namja, hyung. Jangan samakan aku dengan gadis itu. Aku tampan, bukan cantik." protes Yixing tidak terima. Meski dia tak bisa memungkiri betapa jantungnya berdebar kencang ketika menyadari Junmyeon memujinya secara tidak langsung.
Junmyeon mengibaskan tangannya, tidak mempedulikan protesan Yixing. "Tapi kau memang cantik, Zhang. Mau dengar kelanjutannya tidak?"
Masih dengan bibir yang dimajukan beberapa senti, Yixing mengangguk.
"Gadis itu suka menari, sama sepertimu. Dia menari dimanapun dia berada. Di rumah, di tengah jalan, di alun-alun desa, bahkan di hutan, ditemani kicauan burung dan tarian kupu-kupu. Suatu hari, ketika dia sedang menari di hutan seperti biasa, dia mendengar keributan. Ternyata sang pangeran sedang berburu bersama para pengawal. Itu adalah pertama kalinya si gadis melihat sang pangeran dengan mata kepalanya sendiri. Oh, kau mau aku menggambarkan sosok sang pangeran?"
Yixing tersenyum lebar. "Apakah kau akan berkata bahwa sang pangeran memiliki ciri-ciri yang sama denganmu?"
Junmyeon berpura-pura berpikir. "Hmmm, sebenarnya kalau dipikir-pikir, sang pangeran memang mirip denganku. Tampan, tinggi, penuh pesona, dan memiliki karisma yang luar biasa."
Yixing mengamati Junmyeon dengan cermat. "Menurutku kau tidak terlalu tinggi, hyung."
Junmyeon merengut masam. "Sampai dimana kita tadi?"
"Sang pangeran sedang berburu." Jawab Yixing sambil terkikik geli.
"Ya, sang pangeran sedang berburu bersama para pengawal. Si gadis ingin melihat pangeran dari dekat supaya dia bisa menggambarkannya dengan jelas pada teman-temannya nanti. Tapi entah bagaimana, pergerakan si gadis membuat kuda putih sang pangeran terkejut. Sang pangeran terjatuh dari kuda dan terlempar ke tanah dengan keras. Kecelakaan itu membuat kakinya patah. Sang pangeran marah besar dan memerintahkan pengawalnya agar menyeret gadis itu ke istana dan menghukumnya menjadi pelayan pribadi sang pangeran."
Yixing tersenyum kecil. "Kau yakin bukan gadis itu yang menawarkan diri menjadi pelayan pribadi sang pangeran karena dia merasa bersalah dan ingin bertanggungjawab?"
Junmyeon bergumam pelan. "Mungkin si gadis memang ingin membantu, tapi dia sudah pasti tidak dengan sukarela menawarkan diri menjadi pelayan pribadi sang pangeran."
Yixing tertawa. "Lalu, bagaimana kelanjutannya? Bagaimana gadis itu menjalani hukumannya?"
"Itu adalah cerita untuk lain hari. Sekarang waktunya tidur." Jawab Junmyeon tegas.
"Astaga, kau terdengar seperti Appaku." Gerutu Yixing.
Junmyeon mendengus. Dia memilih mengabaikan perkataan Yixing tadi dan memperbaiki selimut Yixing. "Kau bisa memanggilku kalau kau membutuhkan sesuatu."
"Hyung?" panggil Yixing ketika Junmyeon sudah hampir mencapai ambang pintu.
"Ya?" Junmyeon berbalik.
Yixing beringsut bangun dan duduk di atas ranjang. Ditatapnya Junmyeon lekat-lekat. "Terima kasih, karena kau membuatku merasa jauh lebih baik." Katanya tulus.
Junmyeon tersenyum. "Sama-sama. Selamat malam, Zhang." Katanya sebelum melangkah keluar.
**ooo**
Junmyeon membuka matanya yang terasa berat dan duduk di ranjang. Dia menguap sejenak sebelum melirik jam beker di samping tempat tidurnya. Jam tujuh lewat sepuluh menit. Junmyeon berdiri dan berjalan ke arah pintu. Tadinya dia bermaksud pergi ke kamar sebelah untuk melihat keadaan Yixing, tapi begitu membuka pintu, aroma kopi yang harum langsung menyapa indera penciumannya. Berarti Yixing sudah bangun.
Junmyeon menemukan Yixing di dapur, masih mengenakan sweater dan celana panjang milik Junmyeon. Yixing pasti baru bangun, karena terakhir kali Junmyeon melihatnya tiga puluh menit yang lalu, namja itu masih tertidur pulas di balik selimutnya. Pagi ini wajahnya terlihat ceria dan segar.
"Selamat pagi, hyung." Sapa Yixing sambil tersenyum lebar ketika dilihatnya Junmyeon berdiri di ambang pintu dapur.
Junmyeon bergumam tidak jelas dan duduk di salah satu bangku tinggi di dapur.
"Astaga, kau terlihat mengerikan, hyung. Ada lingkaran hitam di matamu. Tidurmu tidak nyenyak semalam?" kata Yixing sambil memperhatikan wajah Junmyeon dengan seksama.
Junmyeon memang merasa mengerikan. Dia masih sangat mengantuk dan lelah. Semua itu karena dia bangun setiap jam sepanjang malam untuk memeriksa keadaan Yixing dan memastikan namja itu baik-baik saja. Junmyeon lega melihat namja itu tertidur pulas sepanjang malam. Tapi tenti saja dia tidak akan mengatakan hal itu pada Yixing. Bukannya menjawab pertanyaan Yixing, Junmyeon malah balik bertanya. "Bagaimana keadaanmu pagi ini?"
"Sangat baik." Sahut Yixing senang. "Dan tidurku sangat nyenyak semalam. Ajaib sekali. Aku tidur selama hampir tujuh jam semalam, padahal biasanya aku tidur tidak lebih dari tiga jam. Dan pagi ini, aku merasa sangat sehat."
Junmyeon tersenyum. "Aku senang mendengarnya. Sepertinya kau memang harus tidur disini kalau kau ingin tidur nyenyak."
Yixing tertawa. "Bisa juga karena ceritamu tadi malam. Kau akan melanjutkan ceritanya hari ini?"
"Tidak masalah. Tapi setelah kau menjelaskan beberapa hal padaku."
Yixing menghela nafas dan menggigit bibirnya. "Ya, sebaiknya memang begitu. Kau mau cuci muka dulu sementara aku menyiapkan sarapan untukmu?"
Lima belas menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di meja makan. Junmyeon menyesap kopinya sementara Yixing mengaduk-aduk teh hijaunya.
"Jadi kau mau menjelaskan kenapa kau kesakitan seperti kemarin?"
"Bukankah sebaiknya kau sarapan dulu?" kata Yixing, berusaha mengulur waktu.
"Kita bisa bicara sambil makan." Jawab Junmyeon sambil memasukkan sepotong kentang ke mulutnya.
Yixing meletakkan cangkir tehnya di atas meja dan berdehem sejenak. "Ada sedikit masalah dengan jantungku. Aku tidak boleh terlalu lelah."
"Masalah seperti apa?"
Yixing tidak menjawab. Cukup lama keheningan menyelimuti ruang makan itu.
"Zhang?" panggil Junmyeon pelan.
Yixing mengangkat wajah. "Kenapa kau selalu memanggilku Zhang?"
"Usahamu tidak berhasil. Jadi sebaiknya kau tidak usah mengalihkan pembicaraan."
Yixing merengut, meraih garpu dan menusuk-nusuk kentangnya.
"Masalah seperti apa?" tanya Junmyeon lagi.
"Jantungku tiba-tiba saja berhenti berfungsi normal sekitar satu setengah tahun yang lalu." Sahut Yixing enggan. Dia tetap menunduk menatap cangkir tehnya. "Jantungku tidak bisa memompa darah sekuat seharusnya. Dokter sudah melakukan berbagai macam tes tapi dia tetap tidak tau apa yang menyebabkan jantungku terus melemah setiap hari."
Yixing mendongak dan menemukan Junmyeon tengah menatapnya dengan terkejut. "Lalu, apa lagi yang dikatakan dokter?"
Yixing menggigit bibir. "Katanya aku tidak boleh terlalu lelah, aku harus menjaga pola makanku dan aku harus meminum obat yang diharapkan bisa memperbaiki kondisi jantungku, atau setidaknya, memperlambat proses melemahnya jantungku."
"Jadi karena itu kau mengundurkan diri dari Hyoyeon Dance Company?" tanya Junmyeon.
"Dokter mengatakan aku harus berhenti menari kalau tidak ingin membuat kondisi jantungku semakin parah. Saat itu, sebagian diriku ingin mengabaikan perintah dokter. Aku seorang penari. Menari adalah hidupku. Apalagi yang bisa kulakukan kalau aku tidak boleh menari? Tapi sebagian diriku yang lain sadar bahwa kondisiku yang seperti ini tidak memungkinkanku untuk menjalani latihan keras setiap hari seperti yang dijalani penari lain tanpa mengalami serangan."
"Serangan?" tanya Junmyeon dengan kening berkerut. "Maksudmu serangan seperti yang kau alami kemarin malam?"
Yixing mengangguk.
"Apakah kau sering mengalami serangan seperti itu?"
"Tidak terlalu sering. Hanya kalau aku terlalu lelah atau terlalu memaksakan diri."
"Apakah kau pernah mengalami serangan disini?"
"Tidak." jawab Yixing tenang.
"Kau yakin?"
"Ya. Hyung, membersihkan apartemen dan menyiapkan makanan untukmu sama sekali bukan pekerjaan berat."
Yixing mengamati Junmyeon, mengira akan melihat tatapan iba yang dilemparkan Junmyeon padanya. Dia sudah mempersiapkan diri. Dia tidak butuh dikasihani, apalagi oleh Kim Junmyeon. Tapi Yixing salah. Ketika dia menatap mata Junmyeon, dia tidak melihat ada kilatan rasa iba disana. Namja itu malah terlihat...marah?
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku sebelum ini?" tanya Junmyeon tajam.
"Aku merasa tidak ada alasan untuk memberitahumu." Sahut Yixing, tidak mengerti kenapa Junmyeon tiba-tiba marah padanya.
"Tidak ada alasan untuk memberitahuku?" seru Junmyeon tidak percaya.
Yixing mengernyit mendengar suara Junmyeon yang meninggi. "Ya. Ini masalah pribadiku dan tidak ada hubungannya denganmu. Jadi kenapa aku harus menceritakannya padamu? Dan kenapa kau berteriak-teriak padaku?"
"Haruskah aku mengingatkanmu bahwa kau menghabiskan sebagian besar waktumu disini?" kata Junmyeon kesal. Oh, dia masih marah, tapi dia berusaha mengendalikan suaranya. "Apakah kau sadar kalau terjadi sesuatu padamu disini maka akulah yang akan disalahkan?"
Yixing mengatupkan bibirnya rapat-rapat, berusaha meredam amarahnya yang mulai terbit.
"Bodoh." Lanjut Junmyeon, masih terlihat sangat marah. "Zhang, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau melakukan semua ini dalam kondisi seperti ini? Kenapa kau masih datang kesini, membersihkan rumah, menyiapkan makanan dengan kondisi seperti ini? Kau mau aku pulang ke rumah dan menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri di lantai?"
"Sudah kubilang aku baik-baik saja! Jadi kau tidak perlu takut menemukanku tergeletak tak sadarkan diri di lantaimu. Dan tidak akan ada orang yang akan meminta pertanggungjawabanmu!" Bantah Yixing keras. Matanya menatap Junmyeon dengan marah. "Dan kau bertanya kenapa aku melakukan semua itu? Bukankah kau sendiri yang memaksaku menjadi pengurus rumahmu? Kau masih berani bertanya?"
"Itu karena kau tidak mengatakan apa-apa tentang kondisimu!" Balas Junmyeon tak kalah keras. "Kalau saat itu aku tau, aku tidak mungkin membiarkanmu menginjak apartemenku!"
Yixing tersentak dan memucat mendengar kata-kata Junmyeon. Dia menelan ludah, berusaha mengatur nafas yang mendadak tercekat di dada. Yixing mengerjab ketika dirasanya airmata mulai menusuk-nusuk kelopak matanya.
Selama ini Yixing mengira Junmyeon akan merasa kasihan padanya setelah namja itu tau kondisi jantungnya. Dia tak pernah menduga Junmyeon akan marah. Dan Junmyeon marah karena Yixing tidak memberitahunya sejak awal. Dia marah karena dia merasa terbebani dengan penyakit Yixing. Dia marah karena tidak ingin dipersalahkan kalau sesuatu terjadi pada Yixing di apartemennya. Tadi Junmyeon bilang, kalau dia tau tentang penyakitnya, dia tidak mungkin membiarkan Yixing menginjak apartemennya.
Yixing tidak tau mana yang lebih buruk, dikasihani atau dibenci Junmyeon. Tapi yang jelas, saat ini dia merasa seolah-olah seseorang telah menusuk dadanya. Hatinya terasa begitu nyeri. Dan rasa nyeri itu hampir membuatnya tak bisa menahan airmata. Baiklah, sudah jelas bahwa Junmyeon tidak ingin Yixing berada di dekatnya, jadi sebaiknya dia pergi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Yixing bangkit dari kursi dan berderap ke kamar tamu. Mengambil semua barangnya dan melangkah ke luar sambil membanting pintu.
Sialan! Rutuk Junmyeon dalam hati. Terkutuklah dirinya. Begitu kata-kata itu meluncur kelur dari mulutnya, dia langsung sadar bahwa ucapannya terdengar salah. Sangat salah. Junmyeon bisa melihat ekspresi Yixing berubah dari marah menjadi...menjadi sesuatu yang membuat Junmyeon ingin melukai dirinya sendiri.
Junmyeon memang marah pada Yixing, karena namja itu merahasiakan kondisi jantunganya. Menurut Junmyeon, Yixing benar-benar bodoh karena mengambil resiko memperparah kondisi jantungnya dengan membiarkan Junmyeon memperlakukannya seperti pengurus rumah. Demi Tuhan, Junmyeon bukan monster. Kalau dia tau sejak awal, dia tidak mungkin memaksa Yixing datang membersihkan apartemennya dan menyiapkan makanan untuknya setiap hari. Junmyeon juga merasa bersalah. Dia sadar dia selalu bersikap buruk pada namja itu, terutama pada awal pertemuan mereka. Junmyeon ingat dia sering menyulitkan Yixing. Dia sering menyuruh Yixing melakukan ini dan itu. Dia bahkan pernah menyuruh Yixing datang ke apartemennya ketika namja itu sedang sakit. Astaga!
Membayangkan Yixing mungkin saja mendapat serangan dan kesakitan sendirian disini, di apartemennya, membuat sekujur tubuh Junmyeon mendadak dingin. Membayangkan Yixing mungkin tergeletak tak sadarkan diri disini tanpa sepengetahuannya, membuat darah Junmyeon seolah-olah membeku. Dia tidak tau kenapa dia merasa seperti itu, tapi seandainya terjadi sesuatu pada Yixing...Tidak, dia tidak mau memikirkannya.
Kalau saja dia tau kondisi Yixing sejak awal, dia tidak mungkin memaksa namja itu menjadi pengurus rumahnya. Dia tidak mungkin melakukan apa yang sudah dilakukannya pada namja itu. Dia tidak mungkin memperlakukannya dengan buruk. Itulah maksud kata-kata Junmyeon tadi. Tapi perasaan bingung, marah, dan bersalah membuat ucapannya terdengar lebih kasar daripada maksud sebenarnya.
Junmyeon sadar dia telah menyakiti namja itu. Junmyeon bisa melihat kilatan kemarahan yang tadinya berkobar di mata Yixing perlahan meredup. Wajahnya berubah pucat dengan bibir yang terkatup rapat.
Junmyeon hanya bisa mematung ditempatnya ketika Yixing berdiri dari kursinya dan beranjak pergi. Oh, tidak. Dia tidak ingin Yixing pergi. Tapi saat itu dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Terlalu banyak hal yang melintas di benaknya, membuatnya tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah Yixing melangkah melewati pintu apartemennya.
Ketika Yixing membanting pintu dan melangkah keluar dari apartemennya, Junmyeon merasa seolah-olah Yixing melangkah keluar dari hidupnya. Junmyeon hanya bisa terduduk diam seperti orang bodoh sementara perasaan hampa perlahan-lahan merayapi dirinya.
**ooo**
"Yixing-ah, bukankah kemarin kau menghadiri pesta yang diselenggarakan Hyoyeon Dance Company? Bagaimana pestanya? Menyenangkan?" tanya Yuri ketika mereka sedang bersantai di salah satu ruang latihan di studio tempat mereka mengajar.
"Mmm. Biasa saja." Gumam Yixing datar.
Tadinya Yuri berharap dia bisa mendengar cerita yang lebih mendetail tentang pesta itu. Tapi sepertinya suasana hati Yixing tidak seberapa baik hari ini dan sepertinya namja itu tidak berniat berbicara panjang lebar. Yuri menghela nafas lalu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, kau tidak pergi ke tempat kakak Sehun? Hari ini kau tidak ada kelas, kan?"
"Tidak."
"Tidak? Kenapa?"
"Karena dia tidak membutuhkan bantuanku lagi."
Yuri mengernyit heran. "Kalian bertengkar?" tanyanya hati-hati.
"Yuri-ya, bisakah kita bicarakan hal lain saja?"
Jawaban Yixing menegaskan dugaan Yuri bahwa kedua orang itu sedang bertengkar. Meski dia penasaran apa yang terjadi sebenarnya, tapi dia memutuskan tidak ikut campur. "Baiklah. Bagaimana kalau kita pergi makan siang?"
"Maaf, aku..."
"Halo, semua. Apa kabar?" Sapaan riang dari arah pintu memotong perkataan Yixing.
Mereka serentak menoleh ke arah suara. "Oh, Sehun-ah, hai." Yuri balas menyapa.
"Aku sempat mampir ke apartemen Junmyeon hyung. Kukira kau ada disana." Kata Sehun sambil menatap Yixing.
"Oh ya?" jawab Yixing acuh.
"Untunglah kau tidak pergi kesana hari ini. Saat ini suasana hati Junmyeon hyung sedang sangat buruk. Amat sangat buruk." Sehun meringis.
Yuri mengangkat alis dan melirik Yixing yang terlihat tidak peduli.
"Kau tau ada apa dengannya?" tanya Sehun lagi. Tidak menyadari raut wajah Yixing yang berubah kaku. "Dia tidak mau bicara denganku dan terlihat seolah-olah tangannya harus diamputasi sehingga dia tidak bisa bermain piano lagi seumur hidupnya. Junmyeon hyung salah makan obat atau apa?"
Yixing mengangkat bahu tanpa berkata apa-apa.
Sehun mengibaskan tangannya. "Ah sudahlah, biarkan saja dia. Kalian sudah makan? Mau makan siang bersama?"
"Ah, maaf. Kalian berdua saja yang pergi. Aku sudah ada janji."
"Dengan siapa?"
"Jongin." Sahut Yixing santai.
"Siapa itu Jongin?" tanya Yuri penasaran.
"Teman lama. Kami bertemu di pesta kemarin." Tepat setelah itu, ponsel Yixing berdering. Yixing merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya."Oh, Jongin-ah, hai."
Yuri tersenyum simpul melihat raut wajah Sehun berubah. Namja itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Isi hatinya terlihat jelas di wajahnya.
"Sepertinya Yixing menyukai namja bernama Jongin itu." kata Yuri ketika mereka sudah tinggal berdua saja di ruangan itu.
Sehun mendengus dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Sehun-ah, kau akan diam saja?"
Sehun menoleh cepat ke arah Yuri. "Tentu saja tidak." Katanya tegas, lalu berderap keluar dari ruang latihan dengan langkah kesal.
Kasihan Sehun, desah Yuri. Sepertinya dia benar-benar menyukai Yixing. Tapi Sehun pasti akan patah hati. Yuri yakin itu.
**ooo**
Junmyeon merasa frustrasi sepanjang hari itu. Tidak ada yang bisa memperbaiki suasana hatinya yang buruk. Semua terlihat salah di matanya. Tidak ada satu halpun yang membuatnya senang. Alunan musik di studio Appanya yang biasanya selalu bisa menenangkan dirinya, hari ini terdengar sumbang, jelek, dan semakin membuatnya jengkel. Hari ini Junmyeon terlihat sangat menakutkan dan berkali-kali membentak siapa saja yang kebetulan lewat di dekatnya, sampai-sampai orang menjauhinya seperti wabah penyakit. Tidak ada yang berani mendekatinya. Kecuali Appanya.
"Sebelum kau membuat semua staf Appa beramai-ramai mengundurkan diri, sebaiknya kau bercerita ada ada denganmu hari ini." kata Siwon sambil menatap Junmyeon dengan tegas.
Junmyeon duduk bersandar di sofa Appanya yang luas. Raut wajahnya segelap langit di kala badai. "Staf Appa tidak ada yang becus. Para pemain biola itu tidak pernah menganggap pertunjukkan ini serius. Memangnya mereka kira ini pertunjukkan Natal untuk murid Sekolah Dasar? Dengan penampilan seperti itu, aku tidak yakin mereka pantas tampil dalam pertunjukkan Natal di Taman Kanak-Kanak sekalipun!" seru Junmyeon keras.
Siwon tidak berkata apa-apa. Dia membiarkan Junmyeon melampiaskan seluruh kekesalannya. Setelah rentetan omelan itu berhenti dan Junmyeon menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan mata, Siwon baru membuka mulutnya.
"Kau mau memberitahu Appa tentang apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak."
"Kau mau memberitahu Ummamu?"
"Tidak."
"Kau mau memberitahu Sehun?"
"Tidak!" Junmyeon membuka mata dan menatap Siwon dengan kesal. "Apa maksud Appa dengan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti itu?"
Siwon mendengus keras. "Myeon, sikapmu seperti orang yang belum mengkonsumsi kafein hari ini."
"Aku sudah minum kopi dan asal Appa tau, kopi disini rasanya mengerikan." Gerutu Junmyeon sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya kembali di sandaran sofa.
"Kenapa kau tidak minum kopimu sendiri di rumah seperti yang biasa kau lakukan?" tanya Appanya.
"Sudah. Dan rasanya juga sama mengerikannya."
Rasanya tidak sama dengan kopi buatan Yixing. Junmyeon merengut keras ketika pemikiran itu melintas di benaknya.
"Kalau kau tidak mau membicarakan apa yang membuatmu uring-uringan seperti ini, sebaiknya kau pulang dan tenangkan dirimu. Kau boleh datang lagi besok setelah kau mendinginkan kepalamu."
Bagus! pikir Junmyeon muram. Sekarang Appanya juga tidak menginginkannya. "Baiklah, aku pergi." Desis Junmyeon. Diraihnya jaketnya dengan kasar lalu melangkah keluar dan membanting pintu dengan keras.
Apartemennya terasa aneh ketika dia pulang ke rumah malam itu. Aneh karena Junmyeon tidak pernah menduga apartemennya akan sesunyi itu. Ketika dia masuk dan menyalakan lampu, dia memandang sekeliling apartemennya dan mendesah. Kenapa apartemennya terasa begitu...kosong?
Tadinya Junmyeon berharap -walaupun dia tau kemungkinan harapannya terkabul sangat, sangat tipis, bahkan mungkin tidak ada-, ada seseorang yang menunggunya ketika dia pulang. Dia berharap mendengar Yixing berseru "Hyung, kaukah itu?" dari dapur ketika dia membuka pintu. Dia berharap mencium aroma makanan. Dia berharap... Dia berharap...
Junmyeon berharap melihat Zhang Yixing di apartemennya setiap kali dia pulang.
Oh, terkutuklah dirinya!
Dia sudah terbiasa hidup tanpa namja itu. Kenapa tiba-tiba dia membutuhkan kehadiran namja itu sekarang? Junmyeon menggeleng-gelengkan kepala untuk menjernihkan pikirannya. Ini benar-benar tidak masuk akal. Sebaiknya dia tidur lebih awal dan berharap besok dia bisa kembali seperti sedia kala.
Tapi tidak. Harapannya tidak tekabul. Keesokan harinya suasana hatinya masih tetap berantakan. Begitu pula keesokan harinya. Dan keesokan harinya lagi. Junmyeon merasa seperti di neraka.
Dia sudah berusaha mengendalikan emosinya ketika bekerja. Dia berusaha keras tidak membentak setiap orang yang lewat di hadapannya. Dia berusaha menahan diri sepanjang hari dan perasaannya sama sekali tidak membaik ketika dia pulang ke apartemennya setiap malam. Semakin hari, Junmyeon merasa semakin terpuruk.
Demi Tuhan, apa yang terjadi padanya?
TBC
A/N :
Annyeong yeorobun :D
Perasaan, chapter ini lebih banyak diksinya daripada dialognya ya?
Taraaaaa, ini dia konfliknya. Kurang gregetkah? #ditabok
Thanks to :
guestexoxo, Kin Ocean, Xiao yueliang, MommyTao, xing mae30, chenma, SodariBangYifan, park sehan, shintalang, selviansummer, BangMinKi, Cosmo, BabyMoonLay, BlackandBlue, steffanyelfxoticsbaby, GabyGaluh, xingmyun, maymaayy, lalaland, Shim Yeonhae, Andhita Zhang, dan segenap guest sekalian...
Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.
Saranghae all *kecupsatusatu*
Sampai jumpa chapter depan ~
Wanna to review again? /wink/
