Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*

Genre : Romance

Rate : T

Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun

and many more...

Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR

Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D

Happy Reading ~

Chapter 10

"Apa yang terjadi padaku?" gumam Junmyeon sambil meneguk red winenya.

"Temanku yang baik, kau sedang kacau. Meski aku tidak tau apa yang membuatmu kacau karena kau tidak mau mengatakannya padaku." Sahut Yifan.

Setelah satu minggu pulang ke apartemennya setiap malam dalam keadaan frustrasi dan emosi berantakan, Junmyeon memutuskan menelepon Yifan dan memaksa manajer sekaligus teman baiknya itu untuk menemaninya minum-minum di bar. Ya, Junmyeon merasa dia membutuhkan teman untuk bercerita sebelum dia menghancurkan semua benda yang ada di apartemennya dan menghabiskan seluruh persediaan winenya.

Junmyeon mendesah panjang. "Dia tidak mau mengangkat teleponku."

"Siapa?"

"Dia."

"Dia siapa?"

"Zhang."

Yifan menatap Junmyeon dengan tatapan tidak percaya. "Jiwa dan ragamu berubah mengenaskan seperti ini hanya karena Yixing tidak menjawab teleponmu?"

"Tentu saja tidak!" kata Junmyeon sambil menggeleng keras. "Itu hanya salah satu penyebab. Tidak, bukan. Maksudku... Aku... Oh, sialan!" Junmyeon meletakkan gelasnya dengan kasar.

"Dia tidak mau menjawab teleponmu. Hmm, kalian bertengkar?" tanya Yifan sambil memutar-mutar gelasnya dengan pelan.

Junmyeon mendengus keras.

"Yixing pasti sangat marah padamu sampai dia mengabaikanmu seperti ini."

Junmyeon merengut kesal. Diisinya kembali gelasnya dengan wine dan meneguknya dengan kasar.

"Kau sudah mencoba meminta maaf padanya?"

Junmyeon melotot kesal ke arah Yifan. "Bagaimana aku bisa melakukannya kalau dia tidak mau menjawab teleponku?"

Yifan menyeringai tipis. "Ah, benar juga. Maaf. Tidak perlu emosi, Myeon. Aku hanya mencoba membantumu."

Junmyeon mengambil sebotol wine lagi, membuka tutupnya dan menuangkan isinya ke gelasnya.

"Kau sudah mencoba menemuinya di studio tarinya?"

"Sudah. Tapi yeoja genit di meja resepsionis itu selalu berkata Zhang tidak masuk atau Zhang baru saja pergi." Gerutu Junmyeon jengkel.

"Apakah kau sudah mencoba pergi ke apartemennya?"

"Sudah. Tapi tidak ada yang menjawab. Entah karena dia benar-benar tidak ada di apartemen atau karena dia tidak mau membuka pintu."

Yifan mengusap dagunya dan mengangguk-angguk. "Wah, sepertinya dia benar-benar marah padamu, Myeon."

"Well, terima kasih karena telah menyadarkanku akan kenyataan itu." kata Junmyeon sinis.

"Kalau kau tetap sinis seperti ini, aku tidak akan membantumu."

"Memangnya siapa yang butuh bantuanmu?"

"Jadi kau mengajakku kesini bukan untuk meminta bantuan? Kalau begitu, sebaiknya aku membiarkanmu tenggelam dalam penderitaanmu sendiri."

"Hyungdeul, maaf. Aku terlambat."

Junmyeon yang sudah membuka mulutnya hendak menanggapi perkataan Yifan, menutup mulutnya kembali ketika Sehun mendadak muncul dan langsung mengambil tempat di sampingnya.

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Tentang Junmyeon yang tidak mau mengaku bahwa dia membutuhkan bantuanku." Sahut Yifan ringan.

Sehun tersenyum lebar dan menatap Junmyeon. "Hyung, bagaimana kabarmu? Kau sudah merasa lebih baik?"

Yifan mendengus. "Apanya yang lebih baik? Dia masih senewen seperti beruang yang belum mendapatkan pasangan di musim kawin."

"Beruang di musim kawin?" Sehun tertawa keras sementara Junmyeon berharap dia bisa mencekik Yifan.

"Sebenarnya dia sedang bertengkar dengan Yixing." lanjut Yifan yang membuat Junmyeon semakin ingin meninju manajernya itu.

"Hyung bertengkar dengan Yixing?" tanya Sehun kaget. "Astaga, apa lagi yang hyung lakukan? Meskipun suasana hatimu sedang buruk, tapi jangan lampiaskan kekesalanmu padanya. Yixing tidak tau apa-apa, hyung."

Junmyeon mendengus dan ingin berkata bahwa sebenarnya Sehunlah yang tidak tau apa-apa. Tapi dia diam saja. Bagaimanapun, Junmyeon tidak bisa memberitahu Sehun bahwa suasana hatinya yang buruk itu ada hubungannya dengan Yixing.

"Sehun-ah, apa kau bertemu dengan Yixing hari ini? Apakah dia bercerita padamu bahwa Junmyeon membuatnya kesal?" tanya Yifan.

"Ya, aku bertemu dengannya hari ini. Tapi dia tidak terlihat kesal. Dia malah terlihat sangat gembira."

Junmyeon menoleh cepat ke arah Sehun. "Gembira?"

Sehun mendesah. "Kurasa itu karena Lee Jongin."

Junmyeon mengerutkan kening. Nama itu terdengar tidak asing. Oh, dia ingat. Namja yang mereka temui di pesta kemarin.

"Yixing sering menghabiskan waktu bersama namja itu akhir-akhir ini." sambung Sehun berapi-api.

Kerutan di kening Junmyeon semakin dalam.

"Yixing bahkan sering mengunjungi studio tari Hyoyeon ahjumma." Sehun merengut. "Tentu saja untuk menemui namja itu."

Rahang Junmyeon mengeras tanpa sadar.

"Kurasa Yixing menyukai namja bernama Lee Jongin itu. Jadi akhirnya aku memutuskan melakukan apa yang harus aku lakukan. Sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak dulu."

Junmyeon mengerjab.

"Apa yang harus kau lakukan?" tanya Yifan tidak mengerti.

Sehun tersenyum lebar. "Akhirnya aku berhasil menyatakan perasaanku padanya."

Junmyeon tertegun menatap adiknya. Jantungnya seolah-olah berhenti berdetak. Apa katanya tadi? Sehun sudah menyatakan perasaannya pada Yixing?

"Sehun-ah, jadi kau berhasil mendapatkan Yixing?" Yifan terkekeh. "Haish, seharusnya aku bergerak lebih cepat. Sayang sekali."

Junmyeon menatap Sehun tanpa berkedip. Pikirannya mendadak kosong.

"Selamat, Sehun-ah." Kata Yifan sambil mengangkat gelasnya untuk bersulang.

Tapi bukannya mengangkat gelasnya untuk ikut bersulang, Sehun malah terlihat ragu. Pipinya bersemu merah. "Sebenarnya...sebenarnya aku belum tau bagaimana perasaannya padaku."

"Hah? Apa maksudmu?" Yifan mengerjab bingung.

Sehun terlihat salah tingkah. "Aku menyatakan perasaanku tadi siang. Kukatakan bahwa aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar teman padanya. Dia tidak terlihat terkejut. Dia malah menatapku dengan tenang, padahal aku merasa sangat gugup. Jadi sebelum dia mengatakan apa-apa, kukatakan padanya bahwa dia tidak perlu menjawabnya sekarang. Dia boleh berpikir dulu sebelum memberikan jawabannya padaku."

Junmyeon menghembuskan nafas yang ditahannya sejak tadi. Setelah mengetahui Yixing belum menerima perasaan Sehun, Junmyeon baru bisa menemukan suaranya kembali. "Lalu kau langsung kabur begitu saja?"

"Ya, begitulah, hyung." Gumam Sehun malu.

Junmyeon mendengus keras menanggapi kebodohan adiknya.

Yifan tertawa. "Astaga, Sehun-ah. Tingkahmu seperti remaja ingusan yang ketakutan." Godanya sambil menyeringai lebar. "Tapi ngomong-ngomong, kapan kau akan meminta jawabannya? Kau tidak mungkin menunggu selamanya, kan?"

"Mungkin saat pertunjukkan perdana Hyoyeon Dance Company besok lusa."

Junmyeon tertegun. "Zhang akan menghadiri pertunjukkan itu?" tanyanya.

"Tentu saja. Bukankah si Jongin itu salah satu penari utama dalam pertunjukkan itu? Sudah pasti Yixing akan datang untuk mendukungnya." Sahut Sehun masam. "Bukankah kau juga sudah menerima undangan dari Hyoyeon ahjumma, hyung?"

Junmyeon mengangguk dan berpikir. Dia sudah berusaha menghubungi dan menemui Yixing akhir-akhir ini. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya namja itu memang benar-benar ingin menghindarinya. Baiklah. Sekarang Junmyeon bisa menemuinya di pertunjukkan itu. Yixing pasti akan datang. Junmyeon akhirnya bisa bertemu dengannya disana. Dan ketika saat itu tiba, Yixing harus mendengarkan penjelasan Junmyeon. Kalau perlu, Junmyeon akan mengikatnya agar namja itu tidak melarikan diri.

"Hyung akan pergi kesana?" tanya Sehun.

Seulas senyum tersungging di bibir Junmyeon. "Sepertinya begitu."

"Myeon, lusa kita sudah punya janji makan malam dengan beberapa produsermu." Sela Yifan tiba-tiba.

Junmyeon mengerang. "Fan, bisakah kita menggeser acara makan malam itu ke hari lain?"

Yifan menggeleng tegas. "Tidak, tidak, tidak. Kau tau mereka tidak akan suka kalau kau tiba-tiba membatalkan rencana padahal kau sudah menyetujuinya sejak awal."

"Aku tidak membatalkannya, aku hanya ingin mengganti harinya." Bantah Junmyeon. Yifan benar, dia tidak mungkin membatalkan acara makan malam dengan produser-produser pentingnya. Melihat Yifan terus mendesah dan menggeleng-geleng, Junmyeon mengerang dan menggerutu. "Baiklah, baiklah. Tidak usah berlebihan begitu, Fan. Aku akan tetap menghadiri acara makan malam itu."

Setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Zhang, tambah Junmyeon dalam hati.

Pokoknya kali ini, Yixing harus mendengarkan Junmyeon.

**ooo**

"Yixing-ah, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Yuri.

Malam ini adalah malam pertunjukkan perdana Hyoyeon Dance Company di Seoul dan meskipun Yixing tidak terlalu antusias menyaksikan pertunjukkan itu -karena mengingat kenyataan bahwa dia tidak bisa mewujudkan mimpinya menari di atas panggung-, tapi dia sudah berjanji akan menemani Yuri dan dia juga sudah berjanji pada Jongin bahwa dia akan datang memberikan dukungan. Jadi disinilah Yixing sekarang, di sebuah cafe kecil di lobby gedung pertunjukkan, menunggu pertunjukkan dimulai dan pintu teater dibuka.

"Apa maksudmu?"

Yuri mencondongkan tubuhnya dan menatap Yixing dengan lekat. "Kau terlihat murung akhir-akhir ini. Kau berubah pendiam. Kau juga sering melamun. Kau terlihat pucat dan kau..." Yuri menghentikan kata-katanya dan menarik nafas. "Yixing-ah, aku tidak akan mendesakmu memberitahuku apa yang mengganggu pikiranmu. Aku hanya ingin kau tau bahwa kalau kau butuh seseorang untuk diajak bicara, aku ada disini. Aku mungkin tidak bisa banyak membantu, tapi aku bisa mendengarkan."

Yixing menelan ludah dan menarik nafas dengan susah payah. Dadanya terasa sakit, tapi dia memaksakan seulas senyum untuk Yuri. "Terima kasih, Yuri-ya. Tapi aku tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Yuri balas tersenyum lebar dan kemudian mengalihkan pembicaraan. "Lalu, bagaimana hubunganmu dengan penari utama Hyoyeon Dance Company?"

"Maksudmu, Jongin?"

"Ya. Mengingat kau sering menghabiskan waktumu bersamanya akhir-akhir ini, aku jadi bertanya-tanya apakah kalian benar-benar hanya berteman."

"Kami hanya teman." Tegas Yixing. "Jongin akan kembali ke Daegu setelah pertunjukkan mereka disini selesai, jadi kupikir tidak ada salahnya aku menemaninya selama dia ada disini. Lagipula, kami sudah lama tidak bertemu."

Ya, itulah alasan dia sering menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Jongin dan teman-teman lamanya di studio tari Hyoyeon. Setidaknya, itulah alasan yang dikatakannya pada dirinya sendiri. Bukan karena dia kesepian. Bukan karena dia merasa harus mengisi kekosongan hatinya. Bukan karena dia ingin menyingkirkan Junmyeon dari pikirannya. Lalu, kenapa kemarin malam kau mendapati dirimu berdiri di depan gedung apartemen Junmyeon hyung? tanya Yixing pada dirinya sendiri.

Yixing menggeleng keras, berusaha mengenyahkan suara kecil menyebalkan yang bergema dalam benaknya itu. Kemarin malam, ketika dia hendak pulang dari studio tari Hyoyeon, entah bagaimana dia mendapati dirinya menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen Junmyeon. Yixing benar-benar tidak mengerti apa yang membuatnya mengarahkan mobilnya kesana. Dia tidak tau apa yang dipikirkannya. Merasa konyol dan yakin bahwa dia mulai kehilangan kewarasannya, Yixingpun bergegas pergi tanpa melakukan apa-apa.

"Lihat? Kau melamun lagi!"

"Aku tidak melamun." Bantah Yixing, meskipun dia tau dia memang melamun tadi.

Yuri menghela nafas dan bangkit berdiri. "Terserahlah. Aku mau ke toilet dulu."

"Mmm."

Yuri tersenyum. "Silakan lanjutkan lamunanmu sampai aku kembali." Katanya sambil melenggang pergi.

Yixing mendesah dan duduk termenung. Diaduknya mochaccinonya tanpa minat. Getaran ponselnya membuat Yixing tersentak. Dia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan ponsel dan tertegun ketika melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.

Kim Junmyeon.

Yixing meletakkan ponselnya di atas meja, membiarkannya terus bergetar. Pada akhirnya, getaran itu akan berhenti dengan sendirinya. Dia tidak akan menjawab telepon itu. Dia tidak ingin menjawabnya.

Setelah ponselnya berhenti bergetar, Yixing menghembuskan nafas yang ditahannya sejak tadi dan meraih ponselnya.

"Sampai kapan kau akan menghindariku?"

Yixing melompat kaget, sama sekali tidak menyangka akan mendengar suara bernada datar yang sering menghantuinya akhir-akhir ini. Dia mendongak dan langsung berhadapan dengan mata gelap Junmyeon. Lidah Yixing terasa kelu. Sejenak pikirannya kosong. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Dia hanya menatap Junmyeon yang kini sudah duduk di hadapannya, di kursi yang ditempati Yuri tadi.

Junmyeon menatap Yixing lekat-lekat. "Katakan padaku, sampai kapan kau akan menghindariku?" tanyanya sekali lagi, membuat Yixing tersadar dari rasa terkejutnya. "Dan jangan coba-coba berkata kau tidak menghindariku karena kulihat kau sama sekali tidak berniat menjawab teleponku tadi."

Yixing menghela nafas dan memalingkan wajah. "Baiklah. Apa yang kau inginkan?"

"Kenapa kau mengindariku?" tanya Junmyeon lagi.

"Aku hanya menghindari orang yang ingin dihindari"

"Apa?" kening Junmyeon berkerut. "Kau pikir aku ingin kau menghindariku"

Yixing mengangkat bahu.

"Kalau aku memang ingin dihindari, menurutmu kenapa aku meneleponmu berkali-kali? Menurutmu kenapa aku terus berusaha menemuimu?" tanya Junmyeon. Suaranya terdengar begitu frustrasi.

"Aku tidak tau." Tukas Yixing ketus. "Terakhir kali kita bertemu, kau mengatakan dengan jelas bahwa kau sama sekali tidak ingin berurusan denganku, Kim Junmyeon."

Junmyeon membuka mulut hendak membantah, tapi akhirnya mengurungkan niat dan menutup mulutnya kembali. Raut wajahnya terlihat marah, tapi dia berusaha mengendalikan dirinya. Karena Junmyeon hanya terdiam, Yixing mendesah keras dan memaksa diri menoleh menatap Junmyeon.

"Hyung, apa yang sebenarnya kau inginkan?"

"Aku..." Junmyeon menghela nafas dan menghembuskannya dengan pelan. "Aku minta maaf."

Mata Yixing melebar tapi dia tidak berkomentar.

"Zhang..." Junmyeon mencondongkan tubuh ke depan dan menatap Yixing. "Aku tidak ingat apa yang kukatakan padamu waktu itu, tapi percayalah, aku sama sekali tidak bermaksud menyuruhmu menghindariku. Aku tau apa yang kukatakan terdengar salah, karena itu aku minta maaf."

Yixing menatap Junmyeon dengan lekat, mencoba menilai kesungguhannya. Oh, Yixing bisa melihat kesungguhan di mata hitam itu. Dia juga melihat ada seberkas kegugupan disana. Siapa yang menyangka seorang Kim Junmyeon bisa merasa gugup di hadapan Zhang Yixing?

"Kau berteriak-teriak padaku waktu itu." kata Yixing datar.

"Aku juga minta maaf soal itu."

Yixing ingin tetap marah pada Junmyeon, tapi dia tidak bisa. Ketika pertama kali dia mendongak dan melihat Junmyeon berdiri di hadapannya, Yixing tau dia sudah memaafkan Junmyeon dan tidak marah lagi padanya.

Seolah-olah bisa membaca pikiran Yixing dan tau bahwa dia sudah dimaafkan, Junmyeon tersenyum. "Kau tau? Kalau kau tidak sibuk menghindariku, kau pasti sudah mendengar permintaan maafku sejak awal."

Yixing mendengus dan memutar bola matanya. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyum yang perlahan mulai menghias bibirnya.

"Jadi, bagaimana kabarmu?" tanya Junmyeon. Mendengar betapa lembutnya suara Junmyeon saat menanyakan hal itu, jantung Yixing kembali berdebar dengan cepat. Astaga, ini konyol sekali.

Yixing berdehem dan mengangguk kecil. "Aku baik-baik saja. Kau sendiri? Bagaimana tanganmu?"

Junmyeon mengangkat tangan kanannya yang masih diperban. "Sudah tidak ada masalah. Aku sudah bisa mengemudi. Dan sebentar lagi aku pasti bisa bermain piano lagi."

"Baguslah kalau begitu."

Junmyeon menatap Yixing dengan seksama. "Kau sungguh baik-baik saja? Tidak ada serangan lagi seperti waktu itu?"

Yixing terdiam ragu. Dia memang tidak mengalami serangan, tapi akhir-akhir ini dadanya sering terasa sakit. Dia juga merasa lebih cepat lelah daripada biasanya. Tapi sepertinya Junmyeon tidak perlu tau soal itu. Setelah melihat reaksi namja itu ketika mengetahui kondisi jantungnya, Yixing tidak ingin menambahkan hal-hal lain yang bahkan belum diketahui dokternya. Mereka baru saja berbaikan dan Yixing tidak ingin mereka bertengkar lagi karena masalah ini.

"Zhang?"

Yixing mengerjab dan menatap Junmyeon. "Tidak. Tidak ada serangan lagi." sahutnya.

"Kau bisa tidur nyenyak?"

Seulas senyum masam tersungging di bibir Yixing. "Tidak juga."

"Well, kau tidak sendirian dalam hal itu."

Yixing baru saja hendak membuka mulutnya untuk bertanya apa maksud Junmyeon ketika Yuri kembali ke meja mereka.

"Hai." Sapa Yuri sambil tersenyum dan membungkuk kecil. "Kau pasti Junmyeon oppa, kakak Sehun. Namaku Kwon Yuri. Salam kenal."

Junmyeon tersenyum lebar. "Aku Kim Junmyeon. Dan ya, harus kuakui kalau Sehun itu adikku."

"Aku sudah mendengar banyak cerita tentang dirimu." Kata Yuri sambil menarik sebuah kursi dan duduk di samping Yixing, tidak menyadari tatapan tajam yang dilemparkan Yixing padanya.

"Oh ya? Cerita seperti apa?"

"Yuri-ya, kenapa kau lama sekali di toilet? Pertunjukkannya akan dimulai sebentar lagi." sela Yixing. Dia melirik Junmyeon yang sedang tersenyum geli dan Yixing yakin namja itu tau bahwa dia sedang mengalihkan pembicaraan.

"Kurasa aku tidak terlalu lama." Bantah Yuri sambil mengangkat alis.

Saat itu ponsel Junmyeon berbunyi. "Ya, Yifan? Iya, aku tidak lupa. Aku akan kesana sekarang juga. Jangan berlebihan."

Yixing menoleh ketika Junmyeon menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku. "Ada apa dengan Yifan hyung?"

Junmyeon meringis. "Dia hanya mengingatkanku bahwa kami punya janji makan malam dengan produser-produserku. Kurasa sebaiknya aku pergi sekarang."

"Sekarang? Bukankah kau datang untuk menonton pertunjukkan?" tanya Yixing heran.

Junmyeon menggeleng dan tersenyum kecil. "Tidak."

"Lalu?"

"Aku kesini untuk menemuimu. Kau menghindariku. Kau tidak mau menjawab teleponku. Jadi kupikir kau tidak akan bisa menghindar kalau aku datang menemuimu disini."

Yixing mengerjab. Sementara Junmyeon bangkit dari kursi dan mengangguk kecil. "Senang berkenalan denganmu, Yuri-ssi. Maaf, aku harus pergi sekarang." Setelah itu Junmyeon menatap Yixing dan tersenyum. "Zhang, pastikan kau menjawab teleponmu mulai sekarang." Katanya sebelum berbalik dan berjalan pergi.

Yixing masih melongo. Apa katanya tadi? Junmyeon datang kesini hanya untuk menemuinya?

"Astaga, dia menyukaimu."

Yixing menoleh cepat ke arah Yuri. "Apa?"

Yuri mendesah menatap punggung Junmyeon yang mulai menjauh. "Yixing-ah, dia menyukaimu."

Perkataan Yuri menimbulkan sebersit perasaan aneh dalam diri Yixing. Perasaan hangat dan menyenangkan yang membuatnya tanpa sadar mengulas sebuah senyum kecil. Meskipun begitu, Yixing tetap menggeleng pelan untuk membantah pernyataan Yuri.

"Kulihat dia berhasil membuatmu tersenyum kembali."

Yixing menatap Yuri dengan tatapan bertanya. "Apa?"

"Akhir-akhir ini kau selalu murung. Ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum. Benar-benar tersenyum, bukan senyum sopan atau senyum terpaksa."

Yixing hanya diam sambil menyesap mochaccinonya.

Yuri mengerjab. "Oh, dan kau juga..."

"Tidak. Tidak seperti itu." Sela Yixing cepat.

Yixing tau apa yang ingin Yuri katakan, tapi dia tidak ingin mendengarnya. Meski dia tau, jauh di dalam lubuk hatinya dia merasakan hal itu, tapi dia tidak mau mengakuinya. Itu adalah perasaan terlarang baginya. Dia tidak boleh merasakannya, dia tidak boleh memikirkannya. Karena itu Yuri tidak boleh mengatakannya. Apabila Yuri mengatakannya, segalanya akan terasa nyata dan Yixing terpaksa harus menghadapinya. Segalanya akan lebih mudah jika dia bersikap seolah-olah perasaan itu tidak ada. Jadi itulah yang Yixing lakukan sekarang.

Yuri tersenyum samar. "Benarkah? Lalu kenapa kau langsung bisa tersenyum dan terlihat gembira setelah bertemu dengannya?"

"Aku...Aku..." Yixing tergagap, tidak tau apa yang harus dikatakannya.

"Hai semuanya." Suara Sehun seperti dewa penyelamat bagi Yixing.

"Oh, hai Sehun-ah." Sapa Yixing sambil tersenyum, lega karena dia tidak perlu mendengar ocehan Yuri lebih jauh lagi.

"Boleh aku duduk?" tanya Sehun ragu.

"Tentu saja. Kau datang sendiri?" sahut Yuri.

"Ya, begitulah." Jawab Sehun agak canggung. Yixing tau Sehun bersikap seperti itu karena dirinya. Dia sama sekali belum bertemu dengan Sehun setelah Sehun tiba-tiba menyatakan perasaannya dan pergi begitu saja.

Yixing mendesah. Sebenarnya dia tau Sehun menyukainya, tapi dia sudah berusaha mencegah Sehun mengutarakannya. Karena itu, dia tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat Sehun berpikir dia menyukainya. Dia memperlakukan Sehun seperti teman biasa, sama seperti dia memperlakukan teman-temannya yang lain.

Menurut Yixing, pernyataan perasaan adalah hal yang merepotkan. Karena kalau seseorang menyatakan perasaan padanya, dia terpaksa memikirkan cara yang halus namun tegas untuk menolak. Ya, dia akan menolak. Saat ini sudah cukup banyak masalah yang harus dipikirkannya. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan masalah cinta. Dan salah satu alasan utamanya tentu saja adalah kondisinya. Dengan kondisi kesehatannya yang seperti itu, apakah dia masih sanggup memikirkan cinta? Yang benar saja.

"Tadi aku melihat Junmyeon hyung berjalan ke pintu keluar." Kata Sehun dengan nada bertanya.

"Ya, tadi kakakmu memang sempat mampir." Yuri yang menjawab.

"Oh? Kukira dia tidak akan datang karena katanya sudah ada acara lain."

"Dia hanya mampir menemui Yixing."

Sehun menoleh ke arah Yixing. "Dia datang untuk menemuimu?"

Yixing mengangguk. "Ya."

"Apakah Junmyeon hyung menyulitkanmu?"

"Menyulitkanku? Apa maksudmu?"

Sehun tersenyum masam. "Akhir-akhir ini suasana hati Junmyeon hyung benar-benar buruk. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya, tapi dia terlihat kacau, selalu senewen, dan sering marah-marah. Karena itu aku bertanya kenapa dia datang menemuimu. Kuharap dia tidak menyulitkanmu."

"Tidak, dia tidak menyulitkanku." Sahut Yixing, merasa agak heran mendengar penjelasan Sehun karena Junmyeon tidak terlihat marah tadi.

"Jadi, kenapa dia datang menemuimu disini?" tanya Sehun.

Yixing tersentak. Dia tidak mungkin mengatakannya pada Sehun. Apabila Yixing memberitahu Sehun bahwa Junmyeon menemuinya untuk meminta maaf, Sehun pasti akan berpikir kalau mereka sempat bertengkar. Kalau sudah begitu, Yixing terpaksa harus memberitahu Sehun bahwa penyebab mereka bertengkar adalah kondisinya. Tidak, dia tidak mungkin memberitahu Sehun.

"Yixing-ah, kenapa Junmyeon hyung menemuimu disini?" ulang Sehun. Nada suaranya tidak mendesak, hanya penasaran.

"Oh, itu..." Yixing memutar otak mencari alasan yang masuk akal.

"Sehun-ah, kau mau minum apa? Aku sudah menyuruh pelayannya kesini." Sela Yuri tiba-tiba.

Sehun menoleh tepat ketika seorang pelayan tiba di samping meja mereka. Setelah pelayan itu mencatat pesanan dan berjalan pergi, Yuri langsung mengajak Sehun masuk ke dalam pembicaraan yang tidak ada hubungannya dengan Junmyeon. Yixing menghembuskan nafas lega ketika perhatian Sehun teralihkan dan sepertinya dia juga sudah melupakan pertanyaannya tadi.

Yuri berbisk pelan. "Kau berhutang padaku."

"Aku tau. Terima kasih."

Lalu Yixing merasa ponselnya bergetar. Ketika melihat nama yang terpampang di layar ponselnya, Yixing melirik sekilas kedua temannya yang masih sibuk berbincang kemudian berbalik memunggungi mereka. "Halo?" gumamnya pelan.

"Zhang?" suara Junmyeon terdengar di ujung sana.

Yixing tidak tau kenapa, tapi mendengar suara Junmyeon di telepon saja sudah membuat bibirnya melengkung tersenyum. "Ya, hyung? Ada apa?"

"Hanya ingin memastikan kau menjawab teleponku."

Yixing mendengus, meskipun begitu, bibirnya masih tetap tersenyum. Dan dia yakin, Junmyeon juga sedang tersenyum lebar di seberang sana.

"Jadi...kau akan datang besok pagi?"

Merasa tidak ada gunanya berpura-pura tidak mengerti maksud Junmyeon, Yixing balas bertanya. "Kau masih ingin aku datang ke apartemenmu?"

"Ya."

Yixing terdiam sejenak, lalu berkata. "Baiklah."

"Bagus. Karena aku membutuhkan...kopimu. Aku sangat membutuhkan kopimu."

Yixing tertawa kecil. "Kau memang menyedihkan, hyung. Apa jadinya kau tanpa aku?"

Hening sejenak. Yixing mengira sambungan telepon sudah terputus. Dia baru saja hendak membuka mulut untuk memanggil Junmyeon ketika dia mendengar Junmyeon berkata dengan nada serius. "Entahlah. Aku tidak bisa membayangkannya."

**ooo**

Sejak awal Hyoyeon yakin pertunjukkannya akan sukses. Dan dia memang benar. Pertunjukkan perdananya sukses besar. Tidak ada satupun kursi kosong di dalam teater. Para penarinya memberikan penampilan yang luar biasa. Di akhir pertunjukkan, semua penonton berdiri dan bertepuk tangan. Malam ini benar-benar sempurna. Well, mungkin segalanya akan jauh lebih sempurna kalau Zhang Yixing masih menari untukknya.

Sampai saat ini, meski dia tidak pernah mengatakannya, tapi jauh di lubuk hatinya, Hyoyeon merasa bahwa Yixing masih bergabung dengan kelompok tarinya. Dia sungguh tidak mengerti kenapa Yixing memutuskan keluar dari kelompok tarinya. Saat itu, Yixing tidak memberikan alasan yang jelas. Yixing hanya berkata dia harus kembali ke Seoul untuk menyelesaikan urusan keluarga. Hyoyeon sudah melakukan segala cara untuk membujuk namja itu agar tetap tinggal, tapi tidak ada yang bisa mengubah keputusan Yixing.

Tapi akhir-akhir ini Yixing sering mampir ke studio tarinya untuk mengobrol dengan teman-temannya. Terkadang, dia juga ikut serta dalam latihan mereka. Ketika Hyoyeon melihat Yixing menari, dia tau bahwa kemampuan namja itu belum hilang. Yixing masih bisa menghipnotis semua orang dengan tariannya. Hyoyeon bukan tipe wanita yang bisa membiarkan bakat seperti itu disia-siakan. Bakat alami langka yang dimiliki Yixing seharusnya ditunjukkan pada dunia, karena itu malam ini Hyoyeon berniat menyampaikan rencananya. Dia yakin Yixing pasti akan menerima tawarannya. Dan seperti dugaannya, Hyoyeon menemukan Yixing di kamar ganti para penari, sedang memberikan selamat kepada teman-temannya.

"Yixing-ah, terima kasih sudah mau datang. Kuharap kau menikmati pertunjukkannya." Kata Hyoyeon sambil menepuk bahu Yixing dengan pelan.

Yixing menoleh dan menatapnya dengan wajah ebrseri-seri. "Selamat noona, pertunjukkanmu benar-benar luar biasa. Kau memang koreografer handal dan kau punya penari-penari yang hebat." Pujinya.

Hyoyeon tersenyum kecil. "Yixing-ah, ikut aku sebentar."

Meski heran dan tidak mengerti, tapi Yixing mengikuti Hyoyeon dan berjalan menjauh ke sudut ruangan yang sepi.

"Yixing-ah, bagaimana perasaanmu ketika melihat mereka menari di atas panggung tadi?" tanya Hyoyeon sambil menatap Yixing dengan sungguh-sungguh.

"Noona, apa maksudmu?"

"Apakah kau tidak memiliki keinginan untuk menari di atas panggung seperti mereka?" tanya Hyoyeon lagi.

Yixing menggigit bibir dan terdiam sejenak. "Noona, kau tau benar bahwa impian semua penari adalah menari di atas panggung." Yixing menghela nafas dan berkata lirih. "Aku juga seorang penari. Jadi aku juga memiliki impian itu."

Hyoyeon tidak tau kenapa suara Yixing terdengar getir ketika mengatakan hal itu. Dia juga melihat ada segurat kesedihan yang berkelebat di mata namja itu. Hyoyeon mencoba mengabaikannya dan bertanya pelan. "Kalau begitu, kau tidak akan menolak apabila aku menawarimu kesempatan untuk tampil di atas panggung, kan?"

"Apa?" Yixing mengerjab tidak mengerti.

Hyoyeon tersenyum lebar. "Aku ingin kau menari untukku -sebagai bintang tamu tentu saja- dalam pertunjukkan khusus yang akan kuselenggarakan di akhir pertunjukkan ini."

"Apa?" Mata Yixing melebar kaget.

"Yixing-ah, kau penari yang sangat berbakat." Kata Hyoyeon sambil memegang kedua bahu Yixing. "Aku hanya ingin kau menunjukkan kemampuanmu pada semua orang. Aku tau kau pasti punya alasan kenapa kau tidak bergabung dengan kelompok tari manapun dan aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan."

Yixing masih terdiam dan membiarkan Hyoyeon melanjutkan kata-katanya.

"Aku berencana menyelenggarakan satu pertunjukkan khusus di akhir kunjunganku di Seoul, sebelum kami kembali ke Daegu, hanya untuk menegaskan kemampuan dan kualitas para penariku sekali lagi pada dunia. Hanya satu kali, satu pertunjukkan. Dan aku ingin kau menjadi penari utamanya. Bagaimana menurutmu?"

**ooo**

Yixing mengunci mobilnya dan merapatkan syal merah yang melilit lehernya. Sebenarnya jarak dari tempat mobilnya diparkir tidak jauh dari pintu depan gedung apartemen Junmyeon, tapi pagi ini udara sangat dingin, sehingga Yixing terpaksa mengenakan syal.

"Yixing-ah! Zhang Yixing!"

Yixing menoleh ke arah suara yang memanggilnya penuh semangat itu dan melihat Yifan sedang berlari-lari kecil ke arahnya.

"Yifan hyung, selamat pagi. Apa kabar?"

Yifan tersenyum lebar, menunjukkan barisan giginya yang putih cemerlang. "Kau sudah berbaikan dengan Junmyeon, kan?" tanyanya gembira.

Yixing mendongak dan menatap Yifan dengan tatapan bertanya. Apakah Junmyeon memberitahu Yifan tentang pertengkaran mereka?

Mengerti arti tatapan Yixing, Yifan berkata. "Aku tidak tau apa yang dilakukannya sampai membuatmu marah dan menghindarinya, tapi aku sangat, sangat senang karena kau bersedia memaafkan temanku yang merepotkan itu. Kau sudah menyelamatkan dunia, Yixing-ah".

Yixing mengernyit. "Hyung, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu."

Yifan merangkul bahu Yixing dan menariknya berjalan ke arah gedung apartemen Junmyeon. "Kau tau, dia bersikap seperti orang brengsek selama kau menghindarinya. Dia seperti orang tidak waras yang pemarah. Kau boleh bertanya pada Sehun atau Siwon ahjussi kalau tidak percaya. Dia benar-benar menjadi mimpi buruk semua orang. Tapi setelah dia menemuimu kemarin malam, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Jadi, Yixing-ah, tolong jangan menghindarinya lagi."

Mereka tiba di pintu depan gedung dan Yifan baru saja hendak menekan bel apartemen Junmyeon ketika Yixing mencegahnya dan mengeluarkan kunci dari saku celananya. Alis Yifan terangkat heran melihat Yixing membuka pintu dengan kunci itu.

"Junmyeon memberimu kunci apartemennya?" tanya Yifan tidak percaya sambil melangkah masuk, mengikuti Yixing berjalan menuju lift.

Yixing mengangguk. "Karena aku datang kesini setiap hari. Dia tidak mau repot-repot membukakan pintu setiap kali aku datang."

"Astaga, kau membuatnya bertekuk lutut, kau tau?"

"Apalagi yang kau bicarakan, hyung? Aku tidak membuat siapapun bertekuk lutut." Gerutu Yixing pelan.

Yifan tersenyum lebar. "Ah, aku tau benar kau membuat Sehun bertekuk lutut. Kurasa kau juga tau itu."

Yixing mendengus pelan. "Aku dan Sehun hanya berteman."

"Aduh, kau menolak Sehun rupanya." Kata Yifan pura-pura kecewa. "Kasihan dia. Kuharap dia baik-baik saja."

Yixing menatap Yifan dengan tajam. "Sehun baik-baik saja, jadi kau tidak perlu berlebihan seperti itu. Haish, aku tidak menyangka kalian ternyata suka bergosip."

"Kami tidak bergosip. Kami berdiskusi." Koreksi Yifan.

Pintu lift terbuka dan mereka berjalan keluar.

"Aku yakin kau juga berhasil membuat Junmyeon bertekuk lutut."

Yixing berdiri di depan pintu apartemen Junmyeon, berbalik menghadap Yifan dan menggerakkan telunjuknya tepat di depan wajah Yifan. "Hyung, hentikan imajinasimu dan berhentilah mengoceh yang tidak-tidak."

Yifan menunduk menatap Yixing dan menyeringai. "Bagaimana kalau kita memastikan apakah dugaanku benar atau tidak?" katanya sambil mengulurkan tangan melewati kepala Yixing dan menekan bel.

Yixing mengacungkan kunci di tangannya. "Hyung, sudah kubilang aku punya kuncinya. Kau tidak perlu menekan bel."

Masih tersenyum penuh arti, Yifan maju selangkah ke depan, lalu berbalik memunggungi pintu. Yifan membungkuk dan berbisik pelan. "Kita harus membuktikan dugaanku, kan, Zhang Yixing?"

"Apa...?"

Sebelum Yixing melanjutkan kata-katanya, Yifan menarik Yixing ke arahnya dan memeluknya dengan erat, membuat Yixing hampir tidak bisa bernafas.

Tepat pada saat itu, pintu di depan mereka terbuka dan Yixing -yang wajahnya kebetulan menghadap pintu- melihat Junmyeon berdiri di ambang pintu dan menatap mereka. Yixing terkesiap dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Yifan, tapi namja itu malah mempererat pelukannya, mencegah Yixing melepaskan diri. Sedetik kemudian...

"Apa-apaan...? WU YIFAN! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!"

TBC


A/N :

Horeeeee, papi mami udah baikan #tumpengan.

Mana tahan mereka marahan lama-lama. Benar gak? :D

Ah, biarpun rada telat, tapi gak papa dong ngucapin sekarang.

#Happy Birthday buat uri galaxy oppa, Wu Yifan.

Apapun jalan yang kau pilih, semoga kau selalu bahagia. Semoga selalu sehat. Kami mendukungmu, ge.

Masih bolehkah kami berharap kau akan kembali, ge? Bisakah kau juga membawa Luhan ge kembali? Kembali seperti dulu, saat EXO masih ber12.

Sama seperti kalender yang selamanya memiliki 12 bulan, di hati kami, EXO akan tetap 12. Selamanya. Tidak akan berubah. OT12 forever.

#PleaseComeBackYifan #PleaseComeBackLuhan

We all miss you..

Aih, saya capek ah ngebacot melulu. Ntar saya jadi makin sedih :'(. Padahal kan harusnya kita seneng abang naga kita ultah.

Jadi, udah ah. Bye..


~ Kin Ocean : Iya, Yixing kan udah kayak narkoba buat Junmyeon. Kudu ditelen (?) atau dihisap (?) dulu baru bikin lega dan mood oke lagi (?). Ini mereka udah baikan kok, chingu. Gomawo :D

Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.

Saranghae all *kecupsatusatu*

Sampai jumpa chapter depan ~

Wanna to review again? /wink/