Wanna Be (My ...)
By. cyhds21
Main Cast: Ong Seongwoo, Kang Daniel
Support Cast: OC, Wanna One, PD101S2 Trainee, and Other
Warning: Typo(s), EYD, etc.
Don't Like, Don't Read
Seongwoo sedang duduk di kursi meja makan bersama sang adik yang makan dengan lahap dihadapannya. Seongwoo sendiri memakan sarapan nya dengan tidak minat, ia bahkan membiarkan semua telur gulung buatan ibunya dihabisakn oleh sang adik. Ibunya sendiri kalau tidak salah tadi masuk kembali kekamar setelah menghidangkan sarapan untuk mereka.
"Hyung makanan itu dimakan bukannya malah di aduk-aduk" Ujar sang adik yang jengah melihat kelakuan kakaknya.
"Ayah kemana? Tidak pulang lagi?" Seongwoo bertanya tanpa menoleh pada adiknya, bahkan ia tidak mendengarkan apa kata adiknya.
"Hm. Katanya masih ada kerjaan yang belum selesai" Woojin adik seongwoo yang baru saja kelas 2 sekolah menengah pertama itu sudah menyelesaikan makannya dan mulai membereshkan bekas sarapannya sendiri.
"Bereskan punya hyung juga" Seongwoo langsung saja mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah.
Woojin hanya bisa mengelus dada sabar dengan sikap kakaknya ini. Setelah selesai dengan kegiatan dapur Woojin bergegas mengambil tasnya dan berjalan keluar.
"Hyung masih disini? Kukira hyung sudah berangkat" Woojin duduk di teras rumah untuk memasang sepatunya.
"Cepat naik nanti aku terlambat!" Seongwoo sudah duduk diatas scooter hitamnya, percayalah sebelumnya motor itu adalah sebuah sepeda motor sport yang cukup mahal. Namun ayahnya menarik fasilitas itu karena setelah pengumuman kenaikan kelas sekitar 2 bulan lalu Seongwoo malah kebut-kebutan dengan teman-temannya. Berakhir dengan dirinya yang bermalam di rumah sakit selama 3 hari, karena menghindar seekor anjing yang tiba-tiba menyebrang.
"Siapa suruh menugguku. Biasanya hyung juga akan membiarkanku berangkat dengan bus" –Woojin
"Cepat naik saja tidak usah bawel" –Seongwoo
"Iya-Iya" Woojin memakai Helm yang diberikan sang kakak padanya dan duduk di jok belakang scooter.
Woojin berpegangan kuat pada jacket hitam Seongwoo, karena ia tahu Seongwoo suka mengebut sekalipun itu dengan Scooter. Namun tebakan Woojin salah, scooter yang ia tumpangi ini bahkan hanya melaju dengan kecepatan 30km/jam. 'Jangan mengumpat! Jangan mengumpat!' rapal Woojin dalam hati. Katanya telat, kalau begini mah Woojin akan ikut telat, 'Kakak siapa sih? Bawa pulang tolong.' Ong Woojin, 14 Tahun yang tidak mau mengakui kakaknya.
21
Kelas 2-2 baru saja selesai pelajaran olahraga dan pelajaran selanjutnya guru yang mengajar sedang diluar kota jadi mereka free class. Mereka juga sudah diberikan tugas oleh guru piket tapi sampai sekarang belum satupun yang mengerjakan.
Keadaan kelas cukup hening karena 10 menit yang lalu mereka di marahi oleh guru yang sedang mengajar dikelas sebelah. Penghuninya sibuk dengan urusan mereka ada yang main lepar bola kasti sambil duduk, menonton di tv yang dipasang didepan kelas, ada yang sekedar tidur-tiduran dimeja, ada juga yang sedang asyik berbincang.
Bruk!
"Akh!" Perhatian mereka teralihkan ke depan kelas saat mendengar suara sesuatu jatuh. Ternyata Daniel baru saja jatuh terjengkang kebelakang saat sedang memainkan kursinya.
"Nah kan jatuh! sudah dibilang jangan di mainkan dari tadi" -Taedong
"Tidak apa-apa kan?" Tanya Yongguk yang membantu Daniel Bangun.
"Ada yang sakit?" Saewon memperhatikan badan Daniel, kalau saja ada yang terluka atau sakit. Dibalas gelengan oleh Daniel.
"YAK! Kang Daniel kau merusak kursiku" Teriak Eunki kesal.
"Teman macam apa kau ini malah mengkhawatirkan kursinya" -Taedong
"Kursimu itu memang sudah tua Eunki-ah" Sahut Wontak, tapi setelahnya ia dapat pukulan keras dikepalanya oleh Eunki.
"Hehe maaf Eunki-ah" Daniel nyengir sambil mengusap belakang kepalanya yang agak nyeri.
"Makanya kalau dibilangi itu nurut, kau juga kan yang sakit" Ujar Taedong yang tadi mengobrol dengan Daniel. Iya, dari tadi Daniel mengobrol dengan Taedong dan Yongguk juga, tapi Daniel tidak bisa diam dengan terus memainkan kursi Eunki yang memang kelihatan sudah tua, kursi reot itu entah ia jungkitkan kedepan atau kebelakang. Taedong sudah beberapa kali menyuruh Daniel berhenti tapi Daniel nya 'Ngeyel'.
"Aku tidak mau tau! Kau yang mengambilkan kursi baru dari gudang." Eunki berkacak pinggang sok marah.
21
Pintu yang menghubungkan tangga dengan atap sekolah terbuka menampilkan seorang remaja laki-laki dengan wajah masamnya. Dengan langkah agak dihentakan ia keluar ke atap untuk menuju gudang yang ada di sebelah pintu atap tersebut.
"Eoh kau Daniel kan? Sedang apa kau disini?" Daniel mendongakan kepalanya saat mendengar seseorang menyebut namanya.
"Sunbae bahaya!" Daniel refleks melangkahkan satu kakinya kedepan tangannya bahkan terjulur seakan ingin mencapai sesuatu. Daniel rasanya akan terkena serangan jantung saat melihat keseimbangan seniornya itu hampir oleng karena salah mengambil pijakan. Tapi beruntung seniornya itu tidak sampai jatuh.
"Hehe. Tidak apa-apa kok. Tenang saja" Seongwoo hanya menyengir dan menggaruk tengkuknya yang Daniel tau tidak gatal sama sekali saat tau kalau Junior nya itu mengkhawatirkannya. Percaya diri sekali kau Ong Seongwoo.
Setelah berhasil mengendalikan ekspresinya tanpa perduli lagi Daniel langsung menuju gudang dan mengambil apa yang ia butuhkan.
"Untuk apa kursi itu?" Seongwoo tiba-tiba muncul didepan pintu gudang.
'YA UNTUK DUDUKLAH!' maunya sih jawab begitu."Kursi temanku ada yang patah" Daniel masih tau yang namanya sopan santun pada orang yang lebih tua sekalipun ia sedang kesal.
"Kenapa kau yang mengambil kenapa bukan temanmu?" Seongwoo mengekori Daniel yang sekarang sudah menuruni tangga kembali masuk ke dalam gedung sekolah.
"Karena aku yang merusaknya." Daniel hanya menjawab seadanya, menoleh saja tidak.
"Kau yang merusaknya? Apa yang kau lakukan sampai kursinya rusak?" –Seongwoo.
"Tidak ada. Aku hanya duduk biasa saja" Jawab Daniel tanpa menoleh sama sekali.
"Ganas juga kau Kang" -Seongwoo
Daniel menoleh dan memicingkan matanya. 'Apanya yang ganas?' Pikirnya. "Kursinya memang sudah tua jadi mudah rusak"
"Benarkah? bukan karena kau memainkannya atau beban yang di tanggungnya terlalu berat" -Seongwoo
'Berisik sekali sih orang ini, kalau aku tega akan kugelindingi dia dari atas sini' Daniel yang memang sudah kesal tambah kesal dengan karena seniornya ini.
"Dikelasmu sedang-"
"Ong Seongwoo!"
Seongwoo tidak jadi bertanya saat mendengar seseorang memanggilya. Mereka sudah sampai diujung bawah tangga omong-omong.
"Eoh Jung Saem? Ada apa memanggil saya" –Seongwoo
"Bel suda berbunyi dan tadi ku lihat Lee Saem sudah masuk kekelasmu, kenapa kau masih ada disini? Dan kau? apa yang kau lakukan disini? Untuk apa kursi itu." Guru yang dipanggil Jung Saem itu mengalihkan pandangannya dari Seongwoo saat menyadari keberadaan Daniel.
"Aku disuruh membawa kursi ini kekelas untuk menggantikan kursi teman yang rusak" Jawab Daniel jujur.
"Baiklah kembali kekelas mu! Eh Ong Seongwoo mau kemana kau?" Jung Saem menunjuk kearah Seongwoo yang mencoba kabur.
"Kekelas Saem" lagi-lagi Seongwoo hanya menyengir.
"Kelas mu bukan kearah sana, tapi kesana. Cepat kembali ke kelasmu!" Ujar Jung Saem saat melihat Seongwoo yang seharusnya lurus kedepan malah mau berbelok ke kiri.
"Iya Saem. Dah Daniel sampai jumpa nanti." Seongwoo melambai pada Daniel dan dibalas dengan anggukan oleh Daniel.
Setelah memastika Seongwoo benar-benar pergi kekelas nya Jung Saem juga mlenggang pergi dari sana dan tersisalah Daniel yang berjalan sendiri menuju kelasnya, jangan lupakan kursi yang masih berada dikedua tangannya.
21
Pukul 9 malam Seongwoo baru pulang dari kelas tambahannya. Seongwoo memberhentikan scooternya didepan pagar karena melihat pagar serta pintu rumah mereka terbuka. 'Apa ada tamu?' Pikir Seongwoo. Seongwoo segera saja memasukkan scooternya dan memarkirkannya didepan rumah, tapi Seongwoo berhenti didepan pintu saat mendengar suara teriakan dari dalam rumah.
"Appa pulang?" Gumamnya.
'APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN SAMPAI TIDAK ADA SATUPUN PERUSAHAAN YANG MENERIMAU'
'SEHARUSNYA KAU BERTERIMA KASIH KARENA AKU MASIH MEMBERIKAN KALIAN UANG. BUKANNYA MALAH MEMARAHIKU'
'MANA CUKUP UANG ITU UNTUK MEMENUHI KEPERLUAN RUMAH INI, DITAMBAH KAU YANG SELALU MINUM-MINUMAN ITU'
'MINUM-MINUMAN KATAMU? MANA SEMPAT AKU MELAKUKAN ITU SAAT AKU HARUS BERKERJA SERABUTAN SETIAP HARINYA. KAU BUKANNYA BERUSAHA MEMBANTU PEREKONOMIAN KELUARGA INI, MALAH MASIH SAJA BERGAUL DENGAN PARA SOSIALITA ITU DAN MENGHAMBURKAN UANG.'
'JADI INI SALAHKU BEGITU?'
'AKU SUDAH DIPECAT DARI PERUSAHAAN ITU KAU HARUS SADAR. KAU TIDAK BISA TETAP DENGAN GAYA HIDUP MEWAHMU ITU'
BRAK!
Seongwoo bergegas masuk kerumah saat mendengar suara jatuh yang nyaring dari dalam rumah. Seongwoo membeku saat melihat keadaan rumah yang sudah berantakan dan lebih terkejut lagi saat melihat ibunya yang terbaring dilantai tidak sadarkan diri.
"EOMMA!" Seongwoo berlari menghampiri ibunya.
Ayah Seongwoo terkejut saat menyadari keberadaan anak sulungnya. Ayah Seongwoo terduduk lemas dan mengacak rambutnya frustasi. Dengan pelan ia merangkak mendekati Seongwoo.
"Seongwoo.." Ucapnya lirih sambil meraih tangan kanan Seongwoo yang tadi bergetar memegang pipi ibunya.
Seongwoo menoleh, wajahnya sudah basah dengan air mata.
"Maafkan Appa. Appa tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Ini! kau pakai ini hubungi rumah sakit dan bawa ibumu. Kau bisa membayar administrasinya dengan uang ini." Ayahnya menyerahkan ponsel serta amplop cukup tebal ketangan Seongwoo. Seongwoo hanya diam memperhatikan ayahnya, Seongwoo sudah sesegukan, tenggorokannya terasa sakit sampai tidak bisa membalas perkataan ayahnya.
"Jaga Adik dan Ibumu untuk sementara ok. Ayah akan kembali secepatnya, ada yang harus ayah lakukan terlebih dahulu. Pastikan adikmu tidak tau kejadian ini, sampaikan juga padanya kalau ayah menyayanginya. Ayah pergi dulu Seongwoo-ya Ayah menyayangi kalian." Setelah mengatakan itu Ayah Seongwoo berlari tertatih keluar rumah.
"A..A..Ppa" Tangis Seongwoo pecah melihat kepergian ayahnya, tangannya mengenggam erat amplop di tangannya.
TBC...
apa ini astaga makin kesini makin gaje aja rasanya :'v semoga drama nya nggak menimubulkan efek samping berupa mual atau pusing ya :'v
udah dilanjut kan, maunya sih tadi pagi kaya biasanya tapi karena ada urusan jadi ditunda sampai siang ini
maaf beribu ribu maaf chap sebelumnya masih ada typonya :'v chap ini udah diperiksa dan baca beberapa kali semoga aja udah nggak ada kesalahan lagi kalo ada au ah gelap :'
ok udah masuk konfliknya ya ehe semoga ngga muak ya sama ceritanya soalnya makin lama dramanya akan makin unchh :'v
jangan lupa reviewnya ya biar aku bisa tau gimana reaksi kaliam baca fic ini :'v
ok itu aja thanks and see you later ^^
