Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*
Genre : Romance
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun
and many more...
Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR
Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D
Happy Reading ~
Chapter 11
"Apa-apaan...? WU YIFAN! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!"
Yixing tersentak mendengar suara Junmyeon yang menggelegar. Lalu dia mendengar Yifan terkekeh di sisi wajahnya. "Kau lihat? Kubilang juga apa?" bisiknya dengan nada puas.
Lalu Yixing merasa dirinya ditarik dengan paksa dari pelukan Yifan. Sebelum dia menyadari apa yang terjadi, dia sudah berdiri di samping Junmyeon yang mencengkeram lengannya dan menatap Yifan dengan tatapan membunuh.
Yifan tersenyum polos dan mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya ingin menyapa Yixing."
Junmyeon menyipitkan mata menatap Yifan, lalu beralih menatap Yixing. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Yixing menunduk menatap tangan Junmyeon yang masih mencengkeram lengannya. Cengkeraman Junmyeon tidak kuat dan Yixing sebenarnya bisa melepaskan diri dengan mudah, tapi dia tidak melakukannya. Dia tidak ingin melakukannya. Yixing menyukai rasa hangat yang mengalir dari tangan Junmyeon ke sekujur tubuhnya.
Tapi sepertinya Junmyeon salah mengartikan tatapan Yixing sehingga dia melepas pegangannya. Yixing langsung merasa kehilangan dan dia berusaha keras menahan diri agar tidak meraih kembali tangan Junmyeon. Oh, celaka. Ini benar-benar bahaya.
Junmyeon mengamati Yixing yang sepertinya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya pucat, tapi ada rona merah samar yang menjalari pipinya. Mungkin karena udara dingin. "Zhang?"
Suara Junmyeon membuat Yixing tersadar dari lamunannya. Yixing menoleh dan tersenyum kecil. "Aku tidak apa-apa. Yifan hyung hanya bercanda. Seperti biasa."
Junmyeon menoleh kembali menatap Yifan. "Lain kali cukup ucapkan 'halo'" katanya datar.
Yifan mengangguk-angguk. "Ucapkan 'halo'. Tanpa pelukan. Baik, akan kuingat itu."
Junmyeon merengut. "Ngomong-ngomong, kenapa kau datang kesini pagi-pagi begini?"
"Tentu saja karena aku bermaksud menawarkan diri untuk menemanimu ke rumah sakit."
Yixing terkesiap. "Ke rumah sakit? Kenapa?"
Junmyeon menggerakkan tangan kanannya yang diperban. "Perbanku akan dibuka hari ini."
"Benarkah? Baguslah kalau begitu."
Yifan menatap Junmyeon dan Yixing bergantian. "Tapi karena kalian sudah berbaikan, aku yakin kau ingin Yixing yang menemanimu ke rumah sakit. Jadi sebaiknya aku pergi saja." Kata Yifan tanpa menunggu jawaban dari Junmyeon ataupun Yixing. Tapi baru dua langkah dia pergi, dia berbalik dan menatap Yixing. "Yixing-ah, kuserahkan Junmyeon padamu. Dan kumohon, jangan marah padanya lagi. Kasihanilah kami yang harus menghadapi sikap buruknya kalau kau menolak bicara dengannya lagi."
Yixing mengerjab tidak mengerti. Dia menatap Yifan yang berkedip ke arahnya, lalu menatap Junmyeon yang seolah-olah ingin mencekik manajernya.
"Wu Yifan, satu patah kata lagi darimu, aku akan melemparmu ke luar jendela." Geram Junmyeon.
Yifan mengabaikan ancaman Junmyeon dan tersenyum lebar. "Iya, iya. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa lagi, Yixing-ah." Yifan merentangkan lengan hendak merangkul Yixing ketika Junmyeon meraih lengan Yixing dan mengamankannya di balik punggungnya.
"Kau bilang kau mau pergi, kan?" tanya Junmyeon sambil menatap Yifan dengan tajam.
"Baiklah, baiklah. Aku pergi sekarang." Yifan terkekeh. Setelah melambaikan tangan pada Yixing, Yifan berbalik pergi sambil bersiul pelan.
"Kurasa aku harus mencari manajer baru." Gerutu Junmyeon kesal setelah Yifan menghilang dari pandangan.
"Kenapa?"
"Mungkin aku akan memecatnya."
Yixing tertawa pelan. "Kau tau benar tidak ada orang lain yang bisa menghadapimu seperti Yifan hyung."
Junmyeon mendengusa dan masuk ke apartemennya. Yixing mengikutinya dan berjalan ke ruang duduk.
"Hyung, kau merawat tanamanku?" tanya Yixing senang sambil berjalan ke arah pot-pot tanamannya yang berderet di bingkai jendela.
Junmyeon mengangkat bahu acuh. "Hanya perlu disirami, kan? Bukan masalah besar."
Yixing tersenyum kemudian berjalan menghampiri Junmyeon di sofa. Dilepaskannya jaket dan syalnya, lalu disampirkannya di sandaran kursi. "Jadi, apa maksud Yifan hyung tentang kau yang bersikap buruk pada semua orang akhir-akhir ini?"
Junmyeon mendesah berat dan menyandarkan kepalanya ke sofa dengan mata terpejam. "Itu semua karena kesalahanmu."
"Kesalahanku?" Suara Yixing meninggi. "Bagaimana bisa itu adalah kesalahanku? Aku bahkan tidak melihatmu selama seminggu terakhir ini."
Junmyeon membuka mata dan menatap Yixing. "Nah, itu dia. Kau sudah mengatakannya sendiri. Kau menghindariku selama seminggu terakhir, yang membuatku tidak minum kopi yang layak sehingga tidak bisa membuatku bersabar menghadapi orang-orang selama seminggu terakhir ini."
Yixing mendengus. "Bagus sekali. Salahkan saja aku kalau itu memang bisa membuatmu merasa lebih baik."
"Yang bisa membuatku lebih baik adalah kopimu, Zhang." Gumam Junmyeon.
"Kopiku?"
Junmyeon mengangguk tegas dan tersenyum lebar pada namja yang tengah berdiri berkacak pinggang di hadapannya. Sebenarnya keberadaan Yixing di apartemennyalah yang membuatnya merasa lebih baik. Jauh lebih baik. Bisa melihat Yixing. berbicara dengannya, mendengar suaranya, itulah yang membuatnya merasa hidup kembali. Tapi Junmyeon tidak akan mengakuinya pada Yixing. Oh, tidak.
"Baiklah. Aku akan membuatkan kopi untukmu." Desah Yixing sambil melangkah ke dapur. "Kau mau kubuatkan sarapan sekalian?"
Junmyeon bangkit dari sofa dan menyusul Yixing ke dapur. "Hari ini, biar aku saja yang menyiapkan sarapan. Bagaimana kalau kita makan roti panggang saja?" Junmyeon menoleh menatap Yixing. "Apa?" tanyanya ketika melihat Yixing menatapnya dengan tatapan heran bercampur curiga.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku berpikir, menyiapkan sarapan adalah tugasku sebagai pesuruh dan pengurus rumah di sini."
Junmyeon mengernyit mendengar kata-kata yang dulu pernah dilontarkannya pada Yixing. Oh, betapa brengseknya dia dulu. Dalam hati, Junmyeon merutuki dirinya sendiri.
"Zhang, kau tau aku tidak menganggapmu seperti itu lagi, kan?"
"Iya, aku tau, hyung. Aku hanya bercanda."
Junmyeon menghembuskan nafas lega. "Baguslah kalau begitu." Merasa cangung, Junmyeon berdehem dan menggulung lengan bajunya sampai ke siku. "Sekarang bersiaplah, Zhang. Bersiaplah untuk jatuh ke dalam pesonaku setelah kau mencicipi roti panggangku."
"'Bersiaplah untuk jatuh ke dalam pesonaku'? Coba jelaskan padaku, pesona yang mana?" tanya Yixing sambil menatap sepiring roti panggang dan sebotol selai kacang yang diletakkan Junmyeon di atas meja dapur.
"Kau mau selai stroberi juga?" tanya Junmyeon tanpa dosa. "Aku suka mencampur selai kacang dan selai stroberi untuk rotiku."
Yixing tertawa dan menggeleng-geleng.
"Hanya ini yang bisa kusiapkan. Aku bukan koki dan kau tau benar soal itu." kata Junmyeon membela diri.
"Kalau begitu, seharusnya tadi kau membiarkan aku yang menyiapkan sarapan." Kata Yixing.
Junmyeon hanya tersenyum sambil menyesap kopinya.
Yixing meraih sepotong roti dan mengolesinya dengan selai kacang. "Apa?" tanyanya ketika dia merasa Junmyeon menatapnya dengan pandangan aneh.
"Bagaimana keadaanmu."
"Baik." Sahut Yixing cepat.
Junmyeon tidak berkomentar. Dia hanya mengangkat alis dan terus menatap Yixing.
Ditatap seperti itu membuat Yixing resah. Diletakkannya kembali rotinya di piring. Nafsu makannya mendadak hilang. "Oh, baiklah kalau kau mau tau." Katanya sambil melirik Junmyeon dengan kesal. "Belum ada kemajuan."
"Belum ada kemajuan?" ulang Junmyeon pelan.
Yixing menghembuskan nafas dengan pelan. "Obat-obatan yang diberikan dokter hanya bisa memperlambat proses melemahnya jantungku. Hanya memperlambat. Jantungku masih tetap melemah."
"Tapi doktermu tetap optimis?"
Yixing tersenyum kecil. "Dia...berusaha bersikap optimis. Dan aku juga berusaha bersikap optimis."
Junmyeon tersenyum sekilas sebelum raut wajahnya berubah serius. "Zhang, bukannya ingin bersikap pesimis, tapi aku hanya ingin tau. Kalau obat-obatan itu tidak berpengaruh padamu...apa yang akan terjadi?"
"Apa yang terjadi?" Yixing tertawa hambar. "Kurasa kau tidak akan melihatku lagi."
Melihat tubuh Junmyeon yang menegang, wajahnya yang memucat dan rahangnya yang mengeras, Yixing sadar dia telah salah bicara. Tapi sebelum dia sempat memperbaiki kesalahannya, Junmyeon berkata dengan lirih. "Kau tau bukan itu maksudku, Zhang."
Yixing menggigit bibir dan menarik nafas dalam-dalam. "Aku tau. Maaf." Katanya serak. "Well, kalau obat-obatan itu tidak berhasil, tidak ada cara lain selain mencari jantung baru untukku."
Hening sejenak. Lalu suara Junmyeon memecah keheningan. "Transplantasi jantung?"
Yixing mengangguk. "Tapi itu usaha terakhir. Saat ini semuanya masih terkendali. Kondisiku sangat bagus. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Baiklah. Tapi bisakah kau memberitahuku kalau kau merasa tidak sehat?"
"Aku sungguh baik-baik saja."
"Zhang?"
"Iya, iya, baiklah. Aku akan memberitahumu." Gerutu Yixing sambil meraih kembali rotinya. "Sekarang bisakah kita membicarakan hal lain?"
Junmyeon mengangguk dan meraih sepotong roti di atas meja. "Jadi, apakah kau bertemu Sehun di pertunjukkan kemarin?" tanyanya ringan.
"Ya."
"Bagaimana kabarnya?"
"Baik-baik saja."
"Oh ya? Apakah dia mengatakan sesuatu?"
Yixing mengernyit. "Apakah kau ingin menanyakan apa yang Yifan hyung tanyakan padaku tadi?"
"Memangnya apa yang ditanyakan Yifan padamu?" tanya Junmyeon pura-pura tidak tau.
Yixing mengerang. "Astaga, aku benar-benar tidak menduga kalian juga suka bergosip."
"Kami tidak bergosip." Sela Junmyeon tegas. "Kami..."
"Berdiskusi. Ya, aku tau." Yixing balas menyela sambil tersenyum tipis.
"Jadi?" desak Junmyeon ketika dilihatnya Yixing lebih memilih mengunyah rotinya.
"Tidak ada yang terjadi." Yixing mengangkat bahu.
"Jadi kau menolaknya."
Yixing merasa heran ketika dia mendengar ada nada lega dalam suara Junmyeon. "Sehun namja yang baik." Gumam Yixing pelan.
"Lalu kenapa kau menolaknya?"
Yixing tidak menjawab.
"Karena kau menyukai orang lain?"
Yixing tersentak. Matanya menatap Junmyeon dengan panik. "Ti...tidak!" sahutnya cepat. Telalu cepat. Astaga, pipinya langsung terasa panas. Semoga saja wajahnya tidak memerah.
Junmyeon menyipitkan mata. "Bagaimana dengan Lee Jongin? Kau bilang dulu kau pernah menyukainya?" desaknya penasaran.
"Itu dulu. Sekarang kami hanya berteman baik."
"Lalu kenapa kau menolak Sehun?"
"Apakah kau ingin aku menerima perasaannya?"
"Tidak. Dan jangan membolak-balik pertanyaanku, Zhang."
Yixing menghela nafas panjang. Dia menggigit bibir dan memalingkan wajah. "Aku hanya merasa, saat ini bukanlah saat yang tepat bagiku untuk menjalin hubungan dengan siapapun."
"Kenapa?"
"Hyung, kau tau benar seperti apa kondisiku. Apakah aku masih harus menjelaskan alasannya? Kau tentu tau banyak hal lain yang lebih penting yang harus kukhawatirkan daripada masalah cinta. Dan soal Sehun... Rasanya tidak adil membebani seseorang yang begitu baik dan ingin menjalin hubungan serius denganku jika kondisiku seperti ini."
Junmyeon terlihat ingin membantah, tapi dia mengurungkan niat. Akhirnya dia berkata. "Aku tidak setuju, tapi aku tidak akan berdebat denganmu tentang hal itu sekarang."
Yixing tidak mengerti apa yang tidak disetujui Junmyeon, tapi dia tidak sempat bertanya.
"Aku hanya ingin tau, apakah kau akan menerima perasaan Sehun seandainya keadaannya berbeda." Lanjut Junmyeon sambil menatap Yixing dengan dalam. "Zhang, seandainya keadaannya berbeda, seandainya tidak ada penyakit yang perlu kau cemaskan, seandainya kau bebas merasakan apapun yang ingin kau rasakan, apakah kau akan menerima perasaan Sehun?"
Seandainya. Yixing menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mata. Dia sudah sangat sering memikirkan kata 'seandainya' sejak menerima vonis dokter mengenai jantungnya yang melemah setiap hari. Satu kata sederhana itu terasa mengerikan baginya. Karena kata itu bertentangan dengan kenyataan. Karena kata itu merujuk pada mimpi yang tidak mungkin dia raih.
"Zhang?"
Yixing mengerjab, berusaha mengenyahkan airmata yang mengancam mengaburkan pandangannya. Yixing menatap Junmyeon yang masih menatapnya dengan raut wajah tegang. Yixing tau dia semakin sering memikirkan kata 'seandainya' sejak dia bertemu Junmyeon. Sama seperti yang dikatakan Junmyeon tadi, seandainya keadaannya berbeda, seandainya saja jantungnya tidak bermasalah, dan seandainya dia bisa menunjukkan apa yang dia rasakan.
Ya, seandainya dia bisa menunjukkan apa yang dirasakannya...
"Tidak." sahut Yixing jujur. "Aku tetap tidak akan menerima perasaan Sehun meskipun seandainya keadaannya berbeda."
Karena Yixing tau siapa yang akan dipilihnya seandainya keadaannya berbeda.
**ooo**
Hari ini benar-benar hari yang indah.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Junmyeon sementara dia berlari menerobos hujan ke arah mobilnya di pelataran parkir pusat perbelanjaan yang ramai. Meskipun suhu udara hari ini sanga dingin, meskipun langit mendung, meskipun hujan sudah turun sejak dia dan Yixing meninggalkan apartemennya pagi tadi, Junmyeon tetap merasa hari ini sangat sempurna.
Bagaimana tidak? Hari ini perban di tangannya dilepas dan tangannya sudah sembuh seperti sediakala. Dia bisa menggerakkan pergelangan tangannya tanpa masalah dan dia bisa bermain piano lagi. Alasan lainnya adalah karena hari ini Zhang Yixing kembali berada di sampingnya. Yixing kembali berada di dekatnya. Yixing kembali bersamanya. Junmyeon merasa dunianya utuh kembali.
Junmyeon tidak akan memikirkan jawaban Yixing tentang apa yang terjadi apabila obat yang diberikan dokter tidak berhasil memperbaiki kondisi jantungnya.
Apa yang terjadi. Kurasa kau tidak akan melihatku lagi.
Ketika Yixing mengatakan itu, Junmyeon yakin jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik.
Kalau obat-obatan itu tidak berhasil, tidak ada cara lain selain mencari jantung baru untukku.
Tidak, Junmyeon tidak mau memikirkan itu. Setidaknya untuk saat ini. Junmyeon tidak ingin dipaksa menyadari kenyataan bahwa kondisi Yixing memang tidak baik dan akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Junmyeon tidak mau mempercayainya, jadi dia tidak akan memikirkannya. Yixing akan baik-baik saja. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya. Junmyeon akan memastikannya.
Junmyeon menghentikan mobilnya di pintu utama pusat perbelanjaan, tempat Yixing menunggu bersama barang-barang belanjaan mereka.
"Aku sempat berpikir kita tidak akan bisa keluar dan mati sesak di dalam sana." Gerutu Yixing sambil membantu Junmyeon memasukkan barang belanjaannya ke bagasi. "Aku tidak mengerti kenapa kau baru berbelanja keperluan dan hadiah Natal seminggu sebelum Hari Natal. Kau tau, biasanya orang-orang akan mempersiapkan Natal sejak satu atau dua bulan lalu?"
"Memangnya kau sendiri sudah membeli semua keperluan Natal?" Junmyeon balas bertanya ketika mereka sudah berada di dalam mobil Junmyeon yang hangat.
"Tentu saja." Jawab Yixing sambil mengenakan sabuk pengamannya. "Aku tidak suka berbelanja di waktu yang mepet seperti ini. Aku tidak suka berdesak-desakan dan terjepit di antara kerumunan orang seperti tadi."
"Zhang, kau tidak apa-apa?" tanya Junmyeon khawatir ketika dilihatnya Yixing memejamkan mata dan memijit-mijit pelipisnya dengan satu tangan.
Yixing menggeleng. "Hanya pusing sedikit. Kau beruntung aku tidak pingsan di dalam sana karena kekurangan oksigen." Katanya sambil tersenyum kecil. "Aku tidak mengerti kenapa aku setuju menemanimu berbelanja di saat-saat seperti ini."
Junmyeon terkekeh pelan. "Mungkin karena aku mentraktirmu makan siang?"
Yixing tersenyum lebar. "Kurasa aku memang gampang dibujuk dengan makanan enak. Apakah kau akan mentraktirku makan malam sekalian?"
"Baiklah. Tidak masalah. Karena kau sudah menemaniku seharian ini, kurasa adil kalau aku juga mentraktirmu makan malam "
"Sungguh?" Mata Yixing berbinar senang.
Junmyeon mengangguk. "Hm, masih ada banyak waktu sebelum makan malam. Sekarang, apa yang ingin kau lakukan? Pulang?"
"Aku ingin membeli pohon Natal!" seru Yixing semangat.
"Pohon Natal?"
"Ya. Untuk apartemenmu."
"Apartemenku? Kenapa?"
"Karena kau tidak punya pohon Natal."
"Aku memang tidak pernah memasang pohon Natal di apartemenku."
"Kenapa tidak?"
"Kenapa harus?"
"Semua orang memasang pohon Natal saat bulan Desember."
"Aku tidak."
"Ayolah, hyung. Apartemenmu akan terlihat lebih ceria kalau ada pohon Natal."
"Aku tidak butuh apartemen yang ceria. Lagipula, memasang dan menghias pohon Natal itu sangat merepotkan, Zhang."
"Menghias pohon Natal itu sangat menyenangkan, hyung! Kalau kau tidak mau melakukannya, biar aku saja yang melakukannya."
"Bagaimana kalau tanaman-tanamanmu saja yang dijadikan pengganti pohon Natal? Kau bisa menghias tanaman-tanamanmu itu."
Yixing merengut.
"Bagaimana? Ideku bagus, kan?"
"..."
Junmyeon menyenggol lengan Yixing. "Zhang? Tidak mau bicara denganku? Ayolah."
Yixing tetap merengut dan memalingkan wajah, menatap ke luar jendela.
Junmyeon mendesah. "Baiklah, baiklah. Kita akan membeli pohon Natal."
Yixing menoleh ke arah Junmyeon dengan wajah berseri-seri. "Kau tidak akan menyesal, hyung. Lihat saja nanti."
Junmyeon tertawa kecil dan menggeleng-geleng."Zhang, kau ini benar-benar merepotkan."
Tapi Junmyeon tau benar dia tidak akan menyesali keputusannya. Seperti yang pernah dikatakannya pada dirinya sendiri, dia bersedia melakukan apa saja asal Zhang Yixing tersenyum padanya seperti sekarang.
"Karena aku sudah setuu membeli pohon Natal, apakah kau akan memberikan hadiah Natal untukku?"
Yixing mengerjab heran. "Memangnya kau mengharapkan hadiah Natal dariku?"
"Tentu saja." Sahut Junmyeon sambil menatap Yixing dengan serius. "Sebaiknya kau menyiapkan hadiah Natal untukku. Kalau tidak, maka hadiah yang sudah kusiapkan untukmu akan kuberikan pada...pada nenekku!"
Yixing mendegus dan tertawa. "Kau menyiapkan hadiah untukku? Apa hadiahku ada di belakang sana? Di antara barang-barang yang kau beli tadi?"
"Tidak. Aku sudah membeli hadiahmu minggu lalu."
Yixing tersenyum lebar. "Benarkah? Lalu apa yang kau siapkan untukku, hyung?"
Junmyeon menggeleng. "Aku tidak akan memberitahumu. Itu kejutan. Tapi seperti yang aku katakan tadi, kalau aku tidak mendapat hadiah, kau juga tidak akan mendapatkannya."
"Baiklah. Akan kupertimbangkan." Kata Yixing sambil mengangkat bahu.
Junmyeon menatap Yixing tidak percaya. "Akan kupertimbangkan? Apa...?"
"Berhentilah mengeluh, hyung." Sela Yixing. "Sekarang kita beli pohon Natal dulu. Tidak ada pohon Natal, tidak ada hadiah."
Nah, sebenarnya sejak kapan posisi mereka berubah seperti itu? Dulu, Yixinglah yang harus menuruti apapun yang diinginkan Junmyeon. Sekarang Junmyeon justru mendapati dirinya dengan senang hati melakukan apapun yang diinginkan Yixing. Dan gilanya, Junmyeon merasa sangat puas dengan keadaan mereka yang seperti itu.
"Jadi mereka akan mengantar pohon Natal kita ke apartemen besok?" tanya Yixing ketika mereka sudah masuk kembali ke dalam mobil setelah memilih pohon Natal yang mereka sukai.
"Ya. Jadi kau bisa mulai menghiasnya besok pagi." Sahut Junmyeon sambil menyalakan mesin mobil.
"Dan kau akan membantuku menghias pohon itu, Kim Junmyeon."
"Oh, astaga." Junmyeon mengerang. Tapi Yixing tau namja itu hanya berpura-pura. "Ya, ya. Kita lihat saja besok."
Yixing tertawa kecil dan menatap ke luar jendela yang buram karena hujan. Hujan di luar sana mulai reda, berganti menjadi gerimis. Hal itu membuat Yixing merasa nyaman. Dia suka hujan. Dia suka memandangi hujan dari balik jendela dengan secangkir coklat di tangan. Memandangi hujan membuat jiwanya tenang. Sama seperti ketika dia menghabiskan waktu bersama Junmyeon. Yixing menggigit bibir dan melirik namja yang sedang mengemudi di sampingnya. Menghabiskan waktu bersama Junmyeon juga selalu membuatnya merasa ...tenang? Damai? Yixing tidak bisa memikirkan kata yang mampu menggambarkan perasaannya. Pokoknya apapun yang dilakukannya bersama Junmyeon membuatnya bisa bernafas lebih lega, membuatnya bisa memejamkan mata dan beristrahat sejenak, tanpa perlu mencemaskan apapun.
"Ini tempatnya?" tanya Junmyeon ketika mobil mereka berhenti di depan sebuah toko kue. Junmyeon berencana mengunjungi guru pianonya dan membawakannya oleh-oleh. Lalu Yixing merekomendasikan toko itu. Sebuah toko kue kecil bergaya Eropa yang memberikan kesan antik.
"Ya. Kue yang dijual toko ini terkenal paling enak di seluruh penjuru Seoul. Aku sering mengantar Ummaku ke sini. Ayo, masuk."
"Zhang, kau yakin mau masuk ke dalam?" tanya Junmyeon ragu. "Kenapa?"
"Toko ini terlalu manis untuk dimasuki laki-laki. Coba lihat, toko ini didominasi warna ungu pucat."
Yixing tertawa. "Astaga, kau ini konyol sekali, hyung. Bersyukurlah mereka tidak mengecat toko mereka dengan warna merah muda. Berhentilah mengeluh dan ayo masuk."
Junmyeon masih berdiri di samping mobilnya. Yixing mendesah dan melangkah menghampiri Junmyeon. "Ayolah, hyung. Jangan merajuk disini. Sekarang masih gerimis dan disini dingin sekali." Katanya sambil menggamit lengan Junmyeon dan menariknya ke arah toko.
Junmyeon mendesah pasrah dan membiarkan Yixing menariknya masuk ke toko. Yixing yakin jantungnya berhenti berdetak beberapa detik ketika Junmyeon memutar lengannya dan beralih menggenggam tangannya.
"Baiklah." Gumam Junmyeon pelan sambil mendorong pintu toko dengan tegas, membuat bel kecil di atas pintu berdering. "Ayo, kita selesaikan ini secepat mungkin."
Yixing menunduk untuk menyembunyikan senyum di balik syalnya, tapi dia membiarkan Junmyeon tetap menggenggam tangannya sementara mereka masuk ke dalam toko. Yixing yakin bukan hanya wajahnya yang menghangat, tapi hatinya juga.
**ooo**
Sehun sedang berjalan menyusuri trotoar bersama Luhan, teman sesama anggota b-boy, ketika dia melihat Junmyeon keluar dari Mercedes hitamnya yang diparkir di tepi jalan di depan sana.
"Coba lihat, itu Junmyeon hyung." Kata Sehun sambil menyenggol pelan lengan Luhan.
"Siapa? Kakakmu?" tanya Luhan sambil memperbaiki letak topi rajutannya yang hampir menutupi mata.
Sebelum Sehun sempat menjawab, dia melihat Yixing turun dari sisi penumpang mobil Junmyeon. Sehun tidak bisa menahan senyum yang otomatis tersungging di bibirnya. Meski Yixing sudah menjelaskan bahwa dia hanya menganggap Sehun sebagai teman, Sehun tetap berharap, suatu hari nanti perasaan namja itu akan berubah. Berharap tidak ada salahnya, kan?
Sehun baru saja hendak menghampiri dan menyapa mereka ketika dilihatnya Yixing mendadak menggamit lengan Junmyeon, mengatakan sesuatu padanya dan tersenyum lebar. Tapi bukan itu yang membuat Sehun mematung di tepi jalan.
Yang membuat Sehun mematung di tempat adalah ketika dia melihat Junmyeon meraih dan menggenggam tangan Yixing. Cara Junmyeon menggenggam tangan Yixing terlihat ringan dan akrab, seolah-olah dia sudah sering melalukannya. Sehun tau hubungan hyungnya dan Yixing sudah membaik dibandingkan ketika pertama kali mereka bertemu. Tapi...
"Sehun-ah, bukankah itu Yixing?" tanya Luhan sambil menyikut Sehun. "Jadi sekarang dia bersama hyungmu?"
Sehun tidak menjawab dan terus mengamati Junmyeon dan Yixing yang masuk ke salah satu toko yang berderet di sepanjang jalan. Saat itulah Sehun baru melangkah mendekat ke arah toko. Dari tempatnya berdiri di depan kaca jendela toko kue itu, Sehun memang tidak bisa melihat raut wajah Junmyeon karena hyungnya itu berdiri memunggunginya, tapi Sehun bisa melihat raut wajah Yixing dengan jelas ketika namja itu menoleh ke arah Junmyeon dan mereka berbincang akrab. Melihat Yixing menatap Junmyeon seperti itu membuat dada Sehun terasa berat dan...nyeri. Dia nyaris tidak bisa bernafas karena rasa kecewa yang mendadak menyelimutinya.
Melihat Yixing menatap Junmyeon seperti itu membuat Sehun sadar bahwa Yixing menyukai Junmyeon. Hal itu sangat jelas terlihat di matanya. Zhang Yixing menyukai Kim Junmyeon.
Sehun menarik nafas dalam-dalam. Tangannya yang dijejalkannya di saku jaketnya terkepal tanpa disadarinya.
Luhan berdiri di samping Sehun, mengamati Junmyeon dan Yixing yang berada di dalam toko, lalu beralih menatap Sehun. "Bukankah kau juga menyukai Yixing?"
Suara Luhan menyadarkan Sehun dari lamunannya. Sehun menghembuskan nafas perlahan dan rahangnya mengeras. "Ayo, kita pergi." Gumamnya sambil berbalik pergi.
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Sehun. Apakah Junmyeon hyung juga menyukai Yixing?
Sepertinya begitu.
Padahal Junmyeon tau Sehun menyukai Yixing, tapi kenapa...?
Sejak kecil, Junmyeon dan Sehun tidak pernah memperebutkan apapun. Mereka tidak pernah berebut mainan, kasih sayang orangtua, dan mereka juga tidak pernah memperebutkan pacar.
Tapi sekarang, sepertinya mereka harus mulai berebut. Karena untuk yang satu ini, Sehun tidak ingin berbagi. Dan kalau dugaannya benar, Sehun yakin Junmyeon juga tidak ingin berbagi.
**ooo**
"Hyung, berapa kali aku harus mengatakannya? Aku baik-baik saja, sungguh." Kata Yixing sambil merengut menatap Junmyeon yang sedang mengemudi di sampingnya.
Tidak, sebenarnya dia merasa tidak terlalu baik. Dia masih merasa lemah, kepalanya masih terasa berputar-putar, dan nafasnya masih terasa agak berat. Tapi masalahnya, dia tidak ingin menambah kepanikan Junmyeon.
"Zhang, ahjumma pemilik toko kue tadi kaget setengah mati ketika kau tiba-tiba jatuh pingsan di hadapannya. Kurasa dia sendiri hampir pingsan juga. Jadi jangan katakan padaku kau baik-baik saja." Kata Junmyeon tajam. Dia melirik Yixing sekilas. "Lagipula wajahmu masih pucat."
Yixing menghembuskan nafas panjang dan memalingkan wajah. Dia bisa mendengar nada panik dan cemas dalam suara Junmyeon meskipun namja itu berusaha menyembunyikannya. Yah, dia memang sempat kehilangan kesadaran ketika sedang memilih kue tadi. Saat itu, tiba-tiba saja dia merasa sesak nafas dan kepalanya berputar-putar. Sedetik kemudian, pandangannya menggelap. Begitu tersadar, dia sudah duduk bersandar dalam pelukan Junmyeon di sofa kecil yang tersedia di toko itu.
Ini pertama kalinya dia kehilangan kesadaran dan sejujurnya, Yixing merasa tepatnya, takut. Dia menyadari kondisi tubuhnya memburuk dengan cepat dan dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya.
Tapi Junmyeon tidak perlu tau tentang itu. Yixing tidak ingin membuat siapapun khawatir. Yixing menoleh kembali ke arah Junmyeon. "Hyung, sungguh, aku..."
"Sekali lagi kau berkata bahwa kau baik-baik saja, aku akan mencekikmu." Geram Junmyeon.
Yixing menggigit bibir. "Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? Pulang?"
"Ya. Kau butuh istirahat." Sahut Junmyeon tegas. "Tapi kita akan mampir ke apartemenmu dulu untuk mengambil apapun yang kau butuhkan."
"Apa? Kenapa?" tanya Yixing heran.
"Memangnya kau tidak butuh baju ganti?" Junmyeon balas bertanya.
"Kenapa aku harus membawa baju ganti ke apartemenmu?"
"Karena kau akan menginap di apartemenku hari ini." Melihat alis Yixing yang berkerut, dia melanjutkan. "Zhang, aku tidak akan membiarkanmu tinggal sendirian di apartemenmu setelah apa yang terjadi. Dan tolong jangan berdebat denganku sekarang."
Yixing mendengus. "Seharusnya kau bertanya dulu padaku sebelum mengambil keputusan sendiri."
Junmyeon mendesah pelan. "Baiklah. Zhang, bagaimana kalau kau menginap di tempatku malam ini?"
"Kenapa harus?"
"Karena kita ingin tidur nyenyak malam ini. Kau baru bisa tidur nyenyak di apartemenku daripada di apartemenmu sendiri. Dan aku baru bisa tidur nyenyak kalau aku bisa memastikan kau baik- baik saja." Jelas Junmyeon. "Jadi bagaimana?"
Yixing menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. "Baiklah."
"Oh, ayolah, Zhang. Apa salahnya...tunggu, apa katamu tadi?" Junmyeon mengerjab menatap Yixing.
"Kubilang baiklah." Ulang Yixing.
Junmyeon mengangkat alis. Dia tidak menyangka Yixing akan setuju secepat itu.
Yixing mendesah pelan. "Kurasa aku tidak ingin sendirian malam ini. Dan kau benar, hyung. Aku tidak merasa baik."
"Kau mau ke dokter?" tanya Junmyeon cemas.
"Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja setelah minum obat." Yixing memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
"Maafkan aku."
Yixing membuka mata dan menatap Junmyeon dengan heran. "Untuk apa?"
Penyesalan terlihat jelas di wajah Junmyeon. "Aku sudah tau kau tidak boleh terlalu lelah, tapi aku malah membuatmu sibuk sepanjang hari. Memaksamu menemaniku...:"
"Hyung..." sela Yixing cepat. "Apakah kau menyesal mengajakku keluar hari ini?"
Junmyeon tidak menjawab, tapi Yixing melihat rahang namja itu mengeras.
"Kuharap kautidak menyesal, hyung. Karena aku sangat bersenang-senang hari ini."
"Benarkah?" tanya Junmyeon ragu.
Yixing tersenyum. "Ya. Sangat."
"Aku tidak menyesal menghabiskan waktu denganmu, Zhang."
"Aku juga senang menghabiskan waktu denganmu, hyung." Gumam Yixing tulus.
**ooo**
Junmyeon meletakkan panci sup di atas meja renda di hadapan Yixing. "Berhubung tanganku sudah sembuh, sekarang aku bisa menyiapkan makanan sendiri tanpa perlu membuat dapurku berantakan. Kau sedang sakit, jadi aku menyuruhmu duduk manis disini. Nah, sekarang makanlah." Kata Junmyeon sambil menuangkan sup ke mangkuk Yixing. "Kuharap rasanya tidak terlalu parah."
Yixing tersenyum kecil. "Mari kita lihat kemampuan memasakmu."
"Hei, aku tidak sepenuhnya tidak berguna di dapur, kau tau?" protes Junmyeon pura-pura tersinggung. "Dulu aku memintamu memasak untukku karena aku tidak bisa memasak dengan satu tangan. Dan karena kau juga menawarkan diri membantuku."
"Mmm." Gumam Yixing setelah dia mencicipi sup jamur buatan Junmyeon. "Tidak terlalu buruk."
Junmyeon menyipitkan mata menatap Yixing. Yixing balas tersenyum lebar padanya dan menyantap supnya dengan lahap. Tidak terlalu buruk katanya? Junmyeon yakin Yixing menyukai sup jamurnya.
"Hyung, kau pernah berkata bahwa aku bisa mendengar permainan pianomu secara langsung kalau tanganmu sudah sembuh." Kata Yixing setelah dia menghabiskan supnya.
"Kau ingin mendengarnya sekarang?"
Yixing mengangguk semangat.
"Baiklah. Aku juga ingin melihat apakah tanganku sudah bisa digerakkan seperti semula." Junmyeon beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pianonya. Junmyeon duduk di depan piano dan memainkan beberapa nada dengan cepat. "Sepertinya tidak ada masalah." Gumamnya. Lalu dia menoleh ke arah Yixing dan menepuk pelan bangkunya. "Sini, duduklah."
Yixing menurut dan duduk di samping Junmyeon. "Lagu apa yang akan kau mainkan?"
"Sunshine Becomes You." sahut Junmyeon. Dia menatap Yixing dan tersenyum kecil. "Aku memikirkanmu ketika menulis lagu ini. Dan kalau kau bertanya apa hubungannya dengan matahari, well, itu karena setiap kali aku melihatmu, aku selalu teringat pada sinar matahari. Jangan tanya kenapa, karena aku juga tidak tau."
Tanpa menunggu reaksi Yixing, jari-jari Junmyeon mulai bergerak anggun di atas piano, memenuhi seluruh penjuru apartemennya dengan alunan nada indah yang mampu menghangatkan malam-malam musim dingin.
Aku memikirkanmu ketika menulis lagu ini.
Perkataan Junmyeon membuat Yixing tercengang. Meskipun tidak ingin mengakuinya, tapi perasaan hangat dan ringan mulai menjalari dadanya. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Yixing bertanya-tanya apakah Junmyeon benar-benar memikirkannya ketika menulis lagu ini.
Lagu yang dimainkan Junmyeon ini membuat Yixing membayangkan hangatnya sinar matahari di padang rumput yang luas dan hijau, bunga-bunga yang bermekaran, langit biru tak berawan, aroma musim semi dan... Kim Junmyeon.
Yixing mengerjab beberapa kali. Tadi Junmyeon berkata dia memikirkan Yixing ketika menulis lagu ini. Dan sekarang Yixing memikirkan Junmyeon ketika mendengar lagu ini.
"Bagaimana?" tanya Junmyeon ketika lagu indah itu berakhir. Ditatapnya Yixing penuh harap.
"Sangat bagus, hyung. Dan aku, sangat, sangat menyukainya."
"Kau tau, awalnya lagu tadi memiliki judul yang lebih jelas dan sederhana." Kata Junmyeon sambil memainkan kembali jemarinya di atas piano, memainkan lagu lain.
"Oh ya? Apa?"
"Thinking of Zhang."
Yixing mengerjab.
Junmyeon terkekeh pelan. "Tapi setelah kupikir lagi, judul itu terdengar sangat menggelikan dan norak. Jadi kuputuskan untuk menggantinya. Bagaimana menurutmu?"
Berusaha mengusir rasa panas yang menjalari pipinya, Yixing berdehem. "Kenapa kau selalu memanggilku Zhang? Kau bisa memanggilku dengan nama kecilku, sama seperti yang lain."
"Karena sudah terbiasa. Lagipula, aku senang menjadi satu-satunya orang yang memanggilmu Zhang." Sahut Junmyeon sambil mengangkat bahu. Gerakan kecil itu membuat bahu mereka bersentuhan dan jantung Yixing kembali berjumpalitan. Junmyeon tertawa kecil dan melanjutkan. "Kurasa satu-satunya hal yang bisa membuatku memanggil nama kecilmu adalah kalau kau menikah denganku."
Yixing merasa jantungnya melonjak. Ditatapnya Junmyeon dengan mata melebar kaget.
Junmyeon tersenyum lebar. "Kalau itu terjadi, kau akan menjadi Kim Yixing. Dan saat itu, aku tidak mungkin memanggilmu dengan nama depanmu, kan?"
Yixing menahan nafas. Gawat, jantungnya kembali berulah. Jantungnya berdebar begitu cepat dan keras, sampai-sampai dia takut akan mendapat serangan lagi.
Junmyeon menunggu reaksi Yixing atas gurauannya. Ya, sebenarnya dia setengah bergurau setengah serius. Sebelum ini, dia tidak pernah memikirkan tentang pernikahan, tapi sekarang, setelah mengenal namja yang duduk diam di sampingnya ini, Junmyeon merasa pernikahan bukanlah sesuatu yang mengerikan. Astaga, sepertinya dia benar-benar tidak tertolong lagi.
Junmyeon mengamati rona merah samar yang menjalari pipi Yixing yang pucat, sementara namja itu menekan salah satu tuts piano dengan jari telunjuk. Lalu Yixing menoleh ke arah Junmyeon dan tersenyum. "Logikanya, kau juga harus memanggil nama kecilku kalau aku menikah dengan Sehun."
"Wow, katakan padaku kau tidak serius." Sela Junmyeon cepat.
Yixing tertawa. "Kenapa? Aku benar, kan?"
Junmyeon mengibaskan sebelah tangannya. "Aku menolak menjawabnya karena aku menolak memikirkan kemungkinan itu."
Setelah tawanya reda, Yixing berkata. "Hyung, mainkan satu lagu lagi."
"Kurasa sebaiknya kau istirahat sekarang. Aku janji akan memainkan satu lagu untukmu besok pagi, sementara kau menghias pohon Natal."
Mendengar kata 'pohon Natal', mata Yixing berkilat-kilat senang. "Ah benar. Mereka akan mengantarkan pohon Natalnya kesini besok pagi."
Melihat Yixing gembira, Junmyeon juga ikut gembira. "Sekarang tidurlah. Biar aku yang membereskan mejanya."
Yixing bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar tamu. Tapi baru beberapa langkah, Yixing berbalik dan kembali duduk di bangku dimana Junmyeon masih belum beranjak dari sana. "Oh ya, hyung, apakah kau akan melanjutkan dongengmu waktu itu?" tanyanya.
"Dongeng apa?" tanya Junmyeon tidak mengerti.
"Tentang pangeran dan gadis desa."
"Ah, dongeng itu." gumam Junmyeon ketika dia teringat akan dongeng yang diceritakannya pada Yixing minggu lalu.
"Apakah aku bisa mendengar kelanjutannya hari ini?"
"Sampai dimana ceritaku waktu itu?"
"Sampai si gadis dibawa ke istana untuk dijadikan pelayan pribadi sang pangeran."
Junmyeon berpikir sejenak. "Tapi aku belum tau bagaimana akhir ceritanya."
"Kenapa begitu?"
Junmyeon memutar tubuhnya dan duduk menghadap Yixing. "Ketika si gadis mulai menjadi pelayan pribadi sang pangeran, pada awalnya sang pangeran sama sekali tidak mau berurusan dengannya. Sang pangeran menganggap gadis itu adalah malaikat kegelapam yang akan mematahkan kakinya yang satu lagi, bahkan kedua tangannya, kalau gadis itu terus berada di dekatnya."
Junmyeon melihat raut wajah Yixing berubah, tapi namja itu tidak berkata apa-apa. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit dan menunggu Junmyeon melanjutkan ceritanya.
"Tapi perlahan-lahan, sang pangeran mulai terbiasa dengan keberadaan gadis itu. Awalnya dia merasa gadis itu teman bicara yang menyenangkan. Lalu sang pangeran menyadari bahwa dia suka melihat gadis itu tersenyum dan tertawa. Sang pangeran mulai berharap dirinya bisa membuat gadis itu tersenyum dan tertawa. Dia mulai meletakkan kepentingan gadis itu di atas kepentingannya sendiri, dia mulai berharap gadis itu akan tetap berada di sisinya. Dan dia berharap, gadis itu juga merasakan apa yang dirasakannya."
Junmyeon melihat berbagai macam emosi berkelebat dalam mata hitam Yixing, tapi dia tidak bisa mengartikannya. Junmyeon merasa jantungnya berdebar keras dan dia tidak pernah merasa segugup ini. Dia harus melakukannya. Dia harus mengatakannya. Dia tidak mungkin mundur lagi setelah melangkah sejauh ini. Junmyeon menatap Yixing dengan dalam dan berkata. "Karena sang pangeran jatuh cinta pada gadis itu."
Dunia terasa berhenti berputar sementara Junmyeon menahan nafas, menunggu reaksi Yixing. Dia sudah mengatakannya. Sekarang semuanya terserah pada Yixing. Junmyeon bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaannya, hanya inilah cara yang bisa dilakukannya untuk menjelaskan maksudnya.
"Jadi, kau mengerti kan, ketika aku berkata bahwa aku belum tau akhir ceritanya?" lanjut Junmyeon sambil tersenyum kecil, berusaha meredakan kegugupan yang dirasakannya. "Karena aku tidak tau, gadis itu membalas perasaan sang pangeran atau tidak."
TBC
A/N :
Yuhuuuu, chap 11 dataaangggg #goyangsilet(?)
~ xingmyun : Ini udah dilanjut, chingu. Gomawo :D
~ guestexoexo : Di chapter ini udah banyak SuLay momentnya. Masih kurangkah? Mirip ama novelnya ato gak? Masih belum tau soal itu, ditunggu aja ya. Gomawo :D
~ Kin Ocean : Hahaha, biar giginya maju tak gentar (?) begitu #disemburkris#, tapi abang naga cerdas juga kan? Tau aja cara mancing si papih. Ini udah dilanjut, chingu. Gomawo :D
~ BlackandBlue : Makasih banyak ya karena udah meluangkan waktu buat baca ff ini. Ini udah dilanjut, chingu. Gomawo :D
Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.
Saranghae all *kecupsatusatu*
Sampai jumpa chapter depan ~
Wanna to review again? /wink/
