Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*
Genre : Romance
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun
and many more...
Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR
Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D
Happy Reading ~
Chapter 12
Junmyeon melongok ke dalam kamar yang ditempati Yixing. Setelah melihat namja itu sudah tertidur pulas, dia memastikan pintu kamar tidak tertutup rapat supaya dia bisa mendengar kalau-kalau Yixing memanggilnya atau membutuhkan sesuatu. Junmyeon memandang sekeliling ruang duduk, memastikan semuanya sudah beres sebelum dia masuk ke kamarnya untuk tidur.
Sudah satu jam berlalu sejak Junmyeon menyatakan perasaannya secara tidak langsung. Setelah mendengar pengakuan Junmyeon, Yixing tidak bereaksi selama satu menit penuh. Kemudian dia mengerjab, tersenyum kecil dan berkata ringan. "Baiklah. Kalau kau sudah tau akhir ceritanya, jangan lupa ceritakan padaku."
Terus terang Junmyeon kecewa mendengarnya. Sebenarnya dia tidak mengharapkan jawaban, dia hanya ingin mengutarakan perasaannya. Junmyeon tau Yixing tidak akan memberikan jawaban yang diinginkannya karena namja itu pernah berkata bahwa saat ini ada banyak hal yang lebih penting yang harus dikhawatirkannya. Meskipun begitu, Junmyeon tetap merasa kecewa. Dia menghembuskan nafas dan menunduk, menyesali kebodohannya karena berharap terlalu banyak.
"Tapi, hyung..." kata Yixing tiba-tiba. "Menurutku gadis itu juga menganggap sang pangeran sebagai teman bicara yang menyenangkan."
Junmyeon mengangkat wajah dan menemukan Yixing yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Sebersit harapan kembali terbit dalam dirinya tanpa bisa dicegah.
"Dan aku yakin, gadis itu menganggap sang pangeran adalah sosok laki-laki yang baik."
Junmyeon menunggu Yixing meneruskan kata-katanya, tapi ternyata hanya itu yang ingin diucapkannya. Setelah itu Yixing mengucapkan selamat malam dan masuk ke kamarnya.
Junmyeon menghela nafas panjang. Dia tidak tau apa yang harus dipikirkannya. Tapi setidaknya, Yixing tidak menolaknya secara langsung. Jadi semuanya masih baik-baik saja. Mungkin dia masih boleh berharap...sedikit.
Junmyeon baru saja akan mematikan lampu ruang duduk ketika matanya menangkap sesuatu yang berkelap-kelip di atas meja. Ponsel Yixing. Junmyeon menghampiri meja dan memungut benda yang berkelip tanpa suara itu dan membaca tulisan yang terpampang di layar.
Umma.
Sejenak Junmyeon ragu, apakah dia harus menjawab telepon dari Umma Yixing atau membiarkannya. Kalau dia tidak menjawab, dia takut Umma Yixing akan khawatir mengingat Yixing pernah bercerita bahwa orangtuanya selalu menelepon dan memeriksa keadaannya sejak dia didiagnosis menderita penyakit jantung. Tapi kalau Junmyeon menjawab telepon itu, dia harus menjelaskan kenapa dia yang menjawab, bukan Yixing. Dan dia juga harus menjelaskan kenapa Yixing menginap di apartemennya.
Setelah memantapkan hatinya, Junmyeon menggeser ikon hijau di ponsel itu dan menempelkannya ke telinga. "Halo? Ahjumma?"
**ooo**
Tanggal 24 Desember. Saat ini Yixing tengah berada di Changsha, kampung halamannya. Semua keluarga besarnya berkumpul disana untuk menyambut Natal. Obrolan, canda, dan tawa terdengar di setiap sudut rumah. Yixing menatap bayangannya di cermin. Tidak terlalu buruk. Seluruh keluarganya sudah tau tentang kondisinya, tapi Yixing tidak ingin menambah kekhawatiran mereka, apalagi di suasana Natal yang penuh kebahagiaan ini.
Sebenarnya hasil pemeriksaan yang dilakukan Dokter Park sebelum mereka berangkat ke China tidak terlalu baik. Dokter Park mengganti jenis dan dosis obat-obatan Yixing, dengan harapan bisa lebih membantu. Dan itu sama sekali bukan pertanda baik.
"Yixing-ge, bisakah gege membantu kami membuat orang-orangan salju?" teriak salah seorang sepupunya yang masih berusia lima belas tahun.
"Iya, aku akan segera turun." Yixing beranjak keluar dari kamar sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan berdenting pelan. Bibirnya melengkung membentuk seulas senyum ketika melihat siapa pengirim pesan itu. Junmyeon.
Sedang apa?
Yixingpun membalas. Aku baru akan keluar membantu sepupu-sepupuku membuat orang-orangan salju. Kau sendiri?
Aku baru saja tiba di rumah Haraboejiku. Kau sudah terima hadiahnya?
Hadiah apa?
Berarti kau belum menerimanya. Mereka berjanji kau akan menerima hadiahnya hari ini.
Mereka siapa?
Orang-orang dari jasa pengiriman.
Kau mengirimkan hadiah untukku?
Ya. Hadiah Natal. Telepon aku kalau kau sudah menerimanya. Oke?
Sebelum Yixing membalas pesan itu, dia mendengar kehebohan di lantai bawah dan namanya dipanggil berkali-kali. Dia bergegas turun menuruni tangga. "Ada apa?" tanyanya pada sepupu-sepupunya yang berkumpul di dekat pintu depan.
"Yixing-ge! Kau mendapat kiriman. Coba lihat, manis sekali!" seru salah seorang sepupunya sambil menarik tangan Yixing.
Sedetik kemudian Yixing dihadapkan pada sebuah boneka beruang yang paling besar, paling imut, dan paling putih yang pernah dilihatnya. Boneka itu masih terbungkus plastik bening dan berada dalam pelukan petugas pengantar barang yang terlihat agak kesusahan.
"Zhang Yixing?" tanya petugas itu sambil berusaha melongok dari balik punggung boneka beruang raksasa itu.
"Ya. Saya sendiri." sahut Yixing setelah rasa kagetnya mereda.
Salah seorang sepupunya mengambil alih boneka itu dari si petugas sehingga dia bisa menyodorkan formulir yang harus ditandatangani Yixing. Saat itu hampir semua keluarganya sedang berkumpul di ruang depan dan suasana menjadi heboh dalam sekejap. Mereka saling berbicara tumpang tindih.
"Untuk siapa boneka itu?"
"Itu untuk Yixing-er."
"Ge, aku boleh meminjam bonekamu malam ini? Boleh ya?"
"Mama, aku ingin boneka seperti boneka Yixing-ge."
"Xing-er, ayo buka plastik pembungkusnya." Desak salah seorang jie-jienya.
Yixing tertawa menatap boneka yang lebih besar dan lebih tinggi daripada dirinya itu. Bulu boneka itu terasa sangat halus dan lembut di tangannya.
"Ge, ada kartunya." Kata salah seorang sepupunya sambil menyodorkan secarik kartu yang tertempel di pita leher si boneka.
Yixing menjauh dan membiarkan para sepupunya mengagumi bonekanya untuk sejenak. Dia sudah tau siapa pengirimnya, tapi dia tetap ingin membaca isi pesannya.
Peluk beruang yang manis ini kalau kau merindukanku. Selamat Natal.
-Kim Junmyeon-
Yixing tersenyum lebar. Kehangatan kembali menjalari wajah dan hatinya.
"Dari Junmyeon, kan?"
Yixing tersentak dan menoleh menatap Ummanya yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
Victoria tersenyum penuh arti. "Umma sudah menduga dia namja yang baik dan penuh pengertian. Jangan lupa meneleponnya dan mengucapkan terima kasih, sayang."
Yixing tau Ummanya langsung menyukai Junmyeon sejak berbicara dengan Junmyeon malam itu. Junmyeon memberitahu Yixing bahwa dia menjawab telepon dari Ummanya supaya Ummanya tidak khawatir dan menjelaskan pada Umma Yixing bahwa Yixing baik-baik saja.
"Kau tau apa yang membuat Umma yakin dia benar-benar menyukaimu?" tanya Victoria lembut.
Yixing mendesah. Lagi-lagi jantungnya berdebar dengan cepat. "Apa?"
"Dia bilang Umma tidak perlu khawatir lagi karena dia akan menjagamu."
Yixing tersenyum lebar dan memandangi tulisan di kartu yang masih dipegangnya.
"Xingie-ya, telepon dia sekarang, sayang."
Yixing menoleh ke arah boneka beruangnya yang masih dikerubuti para sepupu dan anggota keluarganya yang lain.
Victoria tersenyum kecil. "Jangan khawatir. Umma akan memastikan mereka mengembalikannya padamu."
Setelah memeluk Victoria, Yixing berlari kembali ke kamarnya di lantai dua dan menelepon Junmyeon.
"Kau sudah menerima hadiahnya?" tanya Junmyeon langsung.
"Ya. Kau membuat seluruh keluargaku terkesan dengan boneka raksasa itu, hyung. Dan harus kukatakan bahwa Ummaku juga terkesan padamu. Dia yang menyuruhku meneleponmu untuk berterima kasih. Jadi, terima kasih."
"Tidak masalah." Sahut Junmyeon ringan. "Lalu hadiah untukku?"
"Hadiahmu ada di apartemenmu. Telepon aku kalau kau sudah pulang ke apartemenmu. Akan kuberitahu dimana kau bisa menemukannya."
Dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya, Yixing menutup ponselnya dan menghempaskan dirinya ke ranjang. Awalnya, dia tidak tau hadiah apa yang harus diberikannya pada Junmyeon karena menurutnya, Junmyeon sudah memiliki segalanya. Dia tidak ingin memberikan hadiah seperti yang biasa diberikannya pada teman-temannya yang lain. Dia merasa harus memberikan sesuatu yang istimewa untuk Junmyeon setelah semua yang sudah dilakukan namja itu untuknya. Akhirnya sebuah ide terpikirkan olehnya dan dia berharap pilihannya tepat dan tidak dianggap kekanak-kanakan.
**ooo**
"Telepon dari Yixing?"
Junmyeon berbalik dan menatap Sehun yang berdiri di ambang pintu ruang duduk. Sehun melangkah masuk dan duduk di sofa berlengan di samping Junmyeon.
"Dimana Appa dan Umma?"
"Umma ada di dapur bersama Halmonie dan Appa sedang bermain catur bersama Haraboeji."
Junmyeon mengangguk-angguk.
"Hyung, apakah kau menyukai Yixing?" tanya Sehun tiba-tiba. Suaranya terdengar serius dan penuh pertimbangan.
Junmyeon terkejut mendengar pertanyaan adiknya, tapi dia menjaga raut wajahnya tetap datar. "Apa maksudmu?"
"Aku melihat kalian waktu itu. Di toko kue."
Junmyeon tersentak. Di toko kue? Ketika Yixing jatuh pingsan? Sehun melihatnya? "Apa yang kau lihat?"
"Aku melihat kalian masuk ke toko itu sambil berpegangan tangan." Sahut Sehun tanpa memandang Junmyeon. "Saat itu aku baru menyadari sesuatu yang seharusnya aku sadari sejak lama. Aku tidak tau kenapa aku tidak pernah menyadarinya sebelum ini, tapi kurasa sebenarnya aku hanya menolak menyadarinya."
Tanpa sadar, Junmyeon menghembuskan nafas lega. Sepertinya Sehun tidak melihat ketika Yixing jatuh pingsan.
"Hyung, kau menyukai Yixing, kan?" tanya Sehun lagi. Kali ini dia mengalihkan tatapannya dari cangkir kopinya dan menatap Junmyeon dengan serius, meminta jawaban.
Junmyeon menarik nafas panjang lalu mengangguk. "Ya."
Sehun terlihat kaget, tapi dengan cepat dia mengendalikan perasaannya. "Aku sudah menduganya. Hyung sudah memberitahunya?"
"Tidak." Junmyeon memang belum mengatakannya pada Yixing secara langsung.
Sehun tersenyum masam. "Aku tidak pernah menyangka aku akan bersaing dengan hyungku sendiri dalam hal cinta."
Junmyeon mengangkat alis.
"Hyung, aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku juga menyukai Yixing."
"Aku tau." Sahut Junmyeon.
"Masih menyukainya." Koreksi Sehun sambil memiringkan kepalanya sedikit. "Dan meskipun Yixing pernah berkata bahwa dia hanya menganggapku sebagai teman, aku masih berharap suatu hari nanti dia akan berubah pikiran."
"Mmm."
"Hyung, aku hanya ingin kau tau. Selama Yixing masih belum menentukan pilihan, aku akan tetap mendekatinya meskipun aku tau kau juga menyukainya."
Junmyeon menatap adiknya sambil tersenyum. "Cukup adil."
Sehun tersenyum. "Baiklah. Bagaimana kalau kita bergabung dengan Appa dan bermain catur bersama?"
Junmyeon berdiri dan mengikuti Sehun. "Ide bagus."
**ooo**
"Kau baru sampai di rumah?" tanya Yixing di ujung sana.
Junmyeon melepas jaketnya dan menggantungnya di gantungan jaket. Dia berjalan ke ruang duduk dan menyalakan lampu. Pohon Natal di sudut ruangan yang dihias Yixing menyambut kepulangannya. "Ya. Bagaimana denganmu? Sekarang sudah hampir tengah malam dan kau belum tidur. Apakah kau menunggu telepon dariku?"
"Tidak." jawab Yixing cepat. Jawaban Yixing yang terlalu cepat itu membuat Junmyeon tersenyum kecil. "Disini belum ada yang tidur, kecuali sepupuku yang masih kecil. Mereka masih mengobrol di bawah. Hm, bagaimana acara makan malammu?"
"Biasa saja. Kau sendiri?" sahut Junmyeon sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Sangat menyenangkan. Berkumpul bersama keluarga besar selalu menyenangkan."
Junmyeon tersenyum mendengar nada gembira dalam suara Yixing. "Kau suka keluarga besar?"
"Tentu saja."
"Ngomong-ngomong, aku ingin tau dimana kau menyembunyikan hadiahku."
"Hm, sebenarnya aku tidak tau hadiah apa yang harus kuberikan padamu. Hanya ini yang bisa kupikirkan. Jadi, hyung, tolong jangan tertawakan aku."
"Aku tidak mungkin menertawakanmu, Zhang."
"Baiklah. Cari buku The Great Piano di antara buku-bukumu yang ada di rak. Aku yakin kau tau tempatnya."
Junmyeon beranjak dari sofa dan menghampiri rak bukunya. Dia mengambil buku yang dimaksud. "Aku sudah menemukannya. Lalu?"
"Hadiahmu ada di halaman pertama."
Junmyeon menjepit ponselnya di antara telinga dan bahunya dan membuka halaman pertama buku itu. Alisnya terangkat heran ketika tiga lembar kertas berwarna biru berbentuk persegi panjang jatuh ke lantai.
"Apa ini?" tanyanya sambil membungkuk, memungut ketiga kertas itu dan membaca tulisan tangan yang tertera disana. "Voucher Permintaan Kepada Zhang Yixing?"
"Kau belum membaca tulisan kecil di bawahnya. Yang di dalam kurung."
Mata Junmyeon menelusuri tulisan yang dimaksud. "Yang masuk akal dan tidak melanggar hukum. Apa maksudnya?"
"Kau bisa mengajukan tiga permintaan padaku, apa saja, asalkan yang masuk akal dan tidak melanggar hukum, aku akan mengabulkannya."
Junmyeon tertawa. "Jadi aku hanya bisa mengajukan tiga permintaan?"
"Ya."
"Kalau aku memintamu menikah denganku minggu depan, kau akan mengabulkannya?"
"Yang masuk akal, hyung."
"Memangnya menikah denganku tidak masuk akal?"
"Apakah kau senang kalau aku menikah denganmu karena terpaksa?"
"Tentu saja tidak."
"Aku tau kau bisa bersikap masuk akal, hyung. Aku percaya padamu."
Junmyeon tertawa. "Baiklah. Akan kupikirkan baik-baik apa yang akan kuminta darimu dan memberikan alasan yang sangat masuk akal sampai kau tidak mungkin menolaknya. Bahkan aku sudah memiliki gagasan untuk permintaan pertamaku."
"Oh ya? Apa itu?"
"Akan kuberitahu saat kau kembali kesini."
"Hm, baiklah."
Junmyeon melirik jam tangannya dan berkata pelan. "Sudah lewat tengah malam, Zhang. Selamat Natal."
"Selamat Natal juga, hyung."
**ooo**
Tahun Baru sudah berlalu dan selama seminggu ini Junmyeon disibukkan oleh persiapan konsernya yang dulu sempat tertunda. Junmyeon tau Yixing sudah kembali ke Seoul, tapi karena kesibukkannya, dia belum sempat bertemu namja itu. Junmyeon hanya sempat meneleponnya beberapa kali untuk menanyakan keadaannya, tapi mereka tidak bisa berbincang lama karena Junmyeon harus kembali bekerja dan Yixing juga sepertinya sedang sibuk.
Sebenarnya setiap kali Junmyeon bertanya apa yang sedang dilakukannya, Yixing hanya menjawab 'Tidak ada yang penting'. Awalnya Junmyeon tidak mau memikirkannya, tapi kalau dipikir-pikir lagi secara lebih seksama, Yixing memang terkesan sibuk. Bahkan terkadang dia tidak menjawab telepon dan terkesan tidak bisa bicara lama-lama dan ingin segera menutup telepon.
Junmyeon mengetukkan-ngetukkan jarinya di atas meja dengan alis berkerut. Dia tau dia tidak akan bisa berkonsentrasi kalau Yixing masih menghantui pikirannya. Junmyeon merasa Yixing menyembunyikan sesuatu darinya. Ada yang aneh disini. Dan Junmyeon bertekad mencari tau. Dia harus menemui Yixing sekarang juga.
"Yifan, aku pergi dulu." Katanya sambil bangkit berdiri dan menyambar jaketnya.
"Tunggu dulu, Myeon. Kau mau kemana?" tanya Yifan kaget. "Rapat akan segera dimulai dan kau mau pergi begitu saja? Alasan apa yang harus kuberikan pada produsermu?"
"Aku percaya padamu, Fan. Bukankah tidak ada masalah yang tidak bisa kau atasi? Aku serahkan semua masalah pekerjaan padamu. Sekarang aku harus pergi menemui seseorang dan menyelesaikan sesuatu."
Yifan mendesah berat. "Pasti ada hubungannya dengan Yixing, kan? Sudah kubilang, dia membuatmu bertekuk lutut, Myeon."
Junmyeon memutar bola mata dan berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, dia menoleh ke arah Yifan dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Fan. Aku berutang padamu."
Yifan tertawa. "Tentu saja. Utangmu padaku sudah setinggi Mount Everest sekarang. Akan kutagih suatu hari nanti."
Yixing tidak menjawab telepon. Junmyeon mengarahkan mobilnya ke studio tari tempat Yixing mengajar. Mungkin namja itu sedang mengajar, sehingga tidak bisa menjawab telepon. Tapi Yixing tidak ada di studio tarinya. Itulah yang dikatakan seorang namja mungil berkacamata di balik meja resepsionis. Lalu ada dimana Yixing sekarang? Astaga, Junmyeon tidak akan senewen seperti ini kalau saja Yixing menjawab teleponnya. Junmyeon baru akan berbalik meninggalkan gedung ketika dia mendengar seseorang memanggilnya.
"Maaf, kau Junmyeon oppa, kan?"
Junmyeon berbalik dan menatap yeoja berambut coklat yang berdiri di depannya. Yeoja itu terlihat tidak asing, pikir Junmyeon. Ah, bukankah dia teman Yixing?
"Ya. Dan kau adalah Yuri, teman Zha -maksudku Yixing, kan?"
Yuri tersenyum. "Aku senang oppa masih mengingatku. Oppa datang kesini mencari Yixing?"
"Ya, tapi katanya dia tidak ada disini. Kau tau dimana dia?"
Alis Yuri terangkat heran. "Oh, apakah Yixing tidak memberitahu oppa? Dia berhenti mengajar disini untuk sementara karena menerima tawaran tampil dalam pertunjukkan yang akan diselenggarakan Hyoyeon Dance Company. Jadi kurasa, oppa bisa menemuinya di studio tari mereka."
**ooo**
Hyoyeon bertepuk tangan dua kali dan berseru. "Oke, bagus sekali anak-anak. Latihan hari ini sampai disini. Besok kita lanjutkan lagi."
Yixing mengusap keningnya dan mengatur nafasnya yang sedikit tersengal.
"Yixing sayang, kau luar biasa." puji Hyoyeon sambil menepuk pelan bahu Yixing. Yixing mendudukkan dirinya di pojok ruangan, mengambil tasnya dan meneguk air mineralnya. Sudah seminggu terakhir ini dia menghabiskan waktunya untuk berlatih di studio tari Hyoyeon Dance Company. Yixing menerima tawaran Hyoyeon untuk tampil di pertunjukkan khusus yang direncanakan Hyoyeon. Dia tau kondisi tubuhnya yang lemah akan menjadi gangguan, tapi dia ingin menari. Demi Tuhan, dia seorang penari. Dia juga ingin tampil di atas panggung, meskipun hanya sekali.
Yixing sudah memikirkannya baik-baik, mempertimbangkan segalanya, bahkan dia juga sudah membahasnya dengan dokter dan kedua orangtuanya. Tentu saja mereka tidak melompat kegirangan ketika mendengar apa yang ingin dilakukannya, tapi akhirnya, meski enggan, mereka memahami keinginan Yixing dan menyetujui keputusannya.
Tapi masalahnya, Yixing belum memberitahu Junmyeon. Dia tidak tau kenapa dia merasa gugup membayangkan reaksi Junmyeon kalau namja itu sampai tau tentang keputusannya untuk menari lagi. Gagasan memberitahu Junmyeon lebih menakutkan daripada ketika dia memberitahu orangtuanya. Tapi Yixing tau dia harus memberitahu Junmyeon.
"Hyung, apa kau lelah?"
Yixing mengangkat wajah dan menemukan Jongin sedang tersenyum padanya. Kemudian namja itu mendudukkan dirinya di samping Yixing.
Yixing mengangguk. "Kau tidak lelah? Kau harus melanjutkan latihan untuk pertunjukkan lain setelah ini, kan?"
"Kau tau aku sudah terbiasa dengan latihan berat, hyung." Kata Jongin ringan. "Kurasa kau yang terlalu lama bermalas-malasan. Latihan sedikit saja sudah membuatmu lelah dan pucat seperti ini, hyung."
Yixing hanya tersenyum kecil.
"Tapi kau belum kehilangan sentuhanmu. Kau masih penari yang hebat seperti dulu. Dan aku senang bisa menari denganmu lagi, hyung."
"Aku juga senang bisa menari denganmu lagi, Jongin-ah. Semua ini membangkitkan kenangan yang menyenangkan." Kata Yixing sungguh-sungguh.
Jongin berdiri dan mengulurkan tangannya pada Yixing untuk membantunya berdiri. Yixing tersenyum lebar, meraih tasnya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menerima uluran tangan Jongin.
"Hyung, aku masih tidak mengerti kenapa kau mengundurkan diri dari kelompok tari kita, tapi tidak apa-apa. Kurasa kau pasti akan menceritakannya padaku setelah kau siap nanti." Kata Jongin sambil meremas tangan Yixing yang masih berada dalam genggamannya. "Tapi untuk sekarang, mari kita tunjukkan pada orang-orang betapa hebatnya kita di atas panggung."
Yixing tertawa. Perkataan Jongin membuat semangatnya bangkit kembali. Yixing melingkarkan tangannya di tubuh Jongin dan memeluknya sejenak. "Terima kasih, Jongin-ah. Sampai jumpa besok."
Yixing berbalik dan langsung membeku di tempat ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu ruang latihan.
Kim Junmyeon.
Namja itu sama sekali tidak tersenyum ketika dia menatap Yixing dengan tajam dan kening berkerut.
Melihat Yixing memeluk Jongin atau entah siapa namanya itu, membuat darah Junmyeon mendidih. Tapi ketika melihat kilatan perasaan bersalah di mata Yixing, Junmyeon merasa sedikit lebih baik. Hanya sedikit.
Yixing menggigit bibir dan berjalan ke arah pintu, menghampiri Junmyeon. Yixing mengulas senyum kecil yang dia harapkan mampu meredakan amarah Junmyeon. "Hai, sedang apa kau disini?" sapa Yixing salah tingkah.
Junmyeon menatap Yixing yang berdiri gugup di depannya dengan mata disipitkan. "Lucu sekali. Aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu." Gumamnya datar.
"Aku..."
"Kita bicarakan sambil makan siang saja." Sela Junmyeon sambil mencengkeram lengan Yixing dan menariknya pergi.
Tiga puluh meni kemudian mereka sudah duduk berhadapan di sebuah restoran kecil di dekat apartemen Junmyeon. Namja itu masih marah, tapi amarahnya sudah jauh berkurang selama perjalanan mereka dari studio tari ke restoran itu. Sekarang dia hanya ingin penjelasan.
"Jadi, kau akan ikut tampil dalam pertunjukkan Hyoyeon Dance Company?"
Yixing menarik nafas dalam-dalam dan menatap Junmyeon dengan ragu. "Ya. Aku ingin melakukannya."
"Bukankah doktermu sudah memintamu berhenti menari karena kondisi jantungmu?"
"Ya, tapi ini hanya pertunjukkan satu kali. Dan karena aku bukan penari dari kelompok mereka, aku tidak perlu menjalani latihan keras dari pagi sampai malam. Aku sudah menjelaskan pada Hyoyeon noona bahwa aku hanya bisa ikut berlatih dari pagi sampai siang. Tentu saja aku tidak mengatakan alasan yang sebenarnya. Dia menyetujuinya. Aku sudah mengikuti latihan selama seminggu terakhir dan sejauh ini tidak ada masalah." Jelas Yixing panjang lebar.
Junmyeon baru akan membuka mulutnya ketika Yixing menyelanya.
"Aku sudah memikirkannya baik-baik, hyung. Dan aku juga sudah membicarakannya dengan Dokter Park dan kedua orangtuaku. Aku berjanji pada mereka aku akan berhenti kalau latihannya terlalu berat bagiku. Aku juga berjanji hal yang sama padamu. Aku tidak akan memaksakan diri. Percayalah padaku. Aku ingin sembuh."
Junmyeon kembali membuka mulut, tapi lagi-lagi Yixing menyelanya. Sepertinya namja itu masih ingin bicara. "Tapi aku juga ingin menari." Lanjut Yixing lirih. "Dulu aku mengundurkan diri sebelum benar-benar menunjukkan siapa diriku di atas panggung. Aku seorang penari. Impianku sama seperti impian para penari lain. Aku ingin menari dalam sebuah pertunjukkan besar di atas panggung, di bawah sinar lampu sorot."
Yixing berhenti sejenak untuk menarik nafas. Matanya berkaca-kaca dan suaranya bergetar. Melihat Yixing seperti itu membuat dada Junmyeon terasa nyeri.
Setelah menelan ludah, Yixing melanjutkan. "Aku ingin menari selama aku masih bisa menari, sebelum aku sama sekali tidak bisa menari lagi. Kurasa ini kesempatan terakhirku, sebelum aku menerima jantung baru. Kumohon jangan menyelaku, hyung. Kau tau benar aku membutuhkan jantung baru. Dokter Park sudah mengatakannya padaku. Kondisi jantungku memburuk dengan cepat dan kau sudah tau itu. Jadi kuharap kau memahami keputusanku."
"Kau sudah memberitahu dokter dan orangtuamu. Tapi kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa kau sepertinya merahasiakan ini dariku?" tanya Junmyeon penasaran.
Yixing terlihat salah tingkah. "Entahlah. Kurasa aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Tapi aku berencana memberitahumu hari ini. Sungguh."
Junmyeon menghela nafas. "Kapan pertunjukkannya dilangsungkan?"
"Tiga minggu lagi."
Junmyeon tidak berkata apa-apa. Dia sibuk berpikir dan mengamati Yixing yang pucat dan gugup di hadapannya. Namja itu berkata tidak ingin membuat Junmyeon khawatir, tapi Junmyeon akan selalu khawatir kalau menyangkut Yixing. Junmyeon tau dirinya tidak akan bisa tenang sebelum memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Yixing baik-baik saja. Lagipula, Junmyeon pernah berjanji pada Umma Yixing bahwa dia akan menjaga Yixing. Baiklah, ini yang akan dilakukannya. Junmyeon merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas biru berbentuk persegi panjang dan mendorongnya ke arah Yixing.
Awalnya Yixing menatap kertas yang disodorkan padanya dengan bingung. Tapi setelah mengenali kertas itu, matanya melebar kaget dan tubuhnya menegang. Ditatapnya Junmyeon dan kertas itu bergantian.
"Kalau kau masih ingat, itu adalah Voucher Permintaan Kepada Zhang Yixing yang kau berikan padaku sebagai hadiah Natal." Kata Junmyeon tenang. "Aku memutuskan mengajukan permintaan pertamaku sekarang."
"Tapi...tapi.." Yixing tergagap sejenak. Lalu dia mengerjab menatap Junmyeon. "Hyung, apakah kau akan memintaku keluar dari pertunjukkan? Apakah kau akan memintaku membatalkan keputusanku untuk bergabung? Apakah kau akan memintaku berhenti menari?" tuduhnya.
Junmyeon membuka mulut hendak menjawab, tapi dibatalkannya karena pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Junmyeon mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kurasa seratus lembar kertas birumu itu juga tidak akan bisa membuatmu berhenti dari pertunjukkan itu. Bukan, yang ingin kuminta bukan itu."
Yixing berubah santai. "Lalu, apa permintaanmu kalau bukan itu?"
"Mulai hari ini kau akan tinggal di apartemenku."
Yixing terbelalak kaget. "Apa?"
Junmyeon buru-buru menjelaskan. "Zhang, Ummamu pernah berkata padaku bahwa sebenarnya dia dan Appamu tidak suka melihatmu tinggal sendirian di apartemenmu. Mereka lebih tenang kalau kau kembali tinggal bersama mereka di Incheon. Aku sangat mengerti alasan kekhawatiran mereka dan aku yakin kau juga mengerti. Mereka mengkhawatirkan kesehatanmu dan khawatir sesuatu terjadi padamu."
Yixing mengerjab. Sepertinya dia masih sedikit shock.
"Tapi aku tau kau pasti merasa repot kalau harus mondar mandir dari Incheon ke Seoul setiap hari, terlebih lagi sekarang kau harus berlatih untuk pertunjukkan Hyoyeon Dance Company. Dan kurasa kau tidak bisa tinggal bersama salah seorang temanmu tanpa menjelaskan kondisimu padanya. Tapi kau bisa tinggal bersamaku. Aku sudah tau kondisimu dan kau sudah pernah tinggal di apartemenku. Lagipula, orangtuamu pasti akan lebih tenang kalau ada orang yang menemanimu."
Yixing menatap Junmyeon dengan ragu. "Tapi..."
"Aku tidak memintamu memindahkan semua barangmu ke apartemenku. Kau hanya perlu membawa barang-barang yang kau butuhkan."
"Hyung, kenapa kau melakukan ini?" tanya Yixing sambil menatap Junmyeon dengan lekat. "Kenapa kau mau repot-repot membantuku?"
Junmyeon menghela nafas dan menghembuskannya dengan pelan. "Kurasa kau tau alasannya, Zhang. Dan aku sudah berjanji pada Ummamu bahwa aku akan menjagamu."
Wajah Yixing merona samar. Dia menggigit bibir dan mengaduk-aduk sup di hadapannya.
"Kau tau permintaanku masuk akal, Zhang. Dan kau sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku yang masuk akal." Kata Junmyeon sambil mengetuk-ngetuk kertas biru di atas meja dengan jari terlunjuknya.
"Kau tau?" gumam Yixing sambil mengangkat wajah dan menatap Junmyeon. Seulas senyum tersungging di bibirnya. "Kau seharusnya menggunakan voucher itu untuk kepentinganmu, hyung. Bukannya malah menggunakannya untuk kepentinganku."
"Siapa bilang? Aku mengajukan permintaan itu untuk diriku sendiri. Untuk ketenangan jiwaku." Bantah Junmyeon.
"Ketenangan jiwa?"
Junmyeon mengangguk. "Dan supaya aku bisa kembali berkonsentrasi pada pekerjaanku."
Yixing mengerutkan kening tidak mengerti.
"Kau tau, keuntungan lain bagiku kalau kau tinggal bersamaku? Aku bisa meminum kopimu setiap pagi, Zhang." Kata Junmyeon sambil tersenyum lebar. "Bagaimana? Apakah alasan itu cukup untuk membuatmu mengabulkan permintaanku?"
"Apakah aku punya pilihan lain?" tanya Yixing.
"Tidak."
Yixing menatap voucher birunya, meraihnya kemudian memasukkannya ke dalam saku. "Baiklah, aku kabulkan permintaanmu."
Junmyeon yakin dia belum pernah merasa selega itu seumur hidupnya.
**ooo**
Yixing meletakkan tabung obatnya ke atas meja dapur dengan tangan gemetar dan menghembuskan nafas kesal. Dia mencoba membuka tutup tabung obatnya berkali-kali, tapi tetap tidak bisa. Tangannya terasa seperti agar-agar hari ini. Lalu dia mendengar pintu dibuka dan sesaat kemudian, terdengar suara Junmyeon memanggilnya. "Zhang?"
Junmyeon hyung sudah pulang, pikir Yixing lega. Dia tetap duduk di bangku tingginya karena tidak ingin jatuh terjerembab ke lantai setelah berjalan beberapa langkah. Dia sedang merasa tidak sehat dan tidak bertenaga, karena itu dia tetap diam di tempatnya dan berseru. "Aku di dapur, hyung."
Junmyeon muncul di dapur dengan raut wajah cemas ketika melihat wajah Yixing yang pucat. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil meraba kening Yixing.
"Aku hanya merasa sedikit lelah hari ini." sahut Yixing cepat. Dia yakin wajahnya tidak lagi pucat setelah Junmyeon menyentuhnya, karena pipinya mulai terasa panas. "Tapi aku tidak bisa membuka ini."
"Sini, berikan padaku." Kata Junmyeon sambil mengambil tabung obat yang diacungkan Yixing padanya.
Yixing mengamati Junmyeon yang sedang membuka tutup obatnya dan mengeluarkan beberapa obat yang harus diminum Yixing. Sudah dua minggu terakhir ini dia tinggal bersama Junmyeon dan sejauh ini semuanya berjalan tanpa masalah. Setiap pagi, Junmyeon mengantarnya ke studio tari untuk berlatih dan siang hari Yixing sudah kembali ke apartemen, beristirahat dan menunggu Junmyeon pulang. Orangtuanya sangat lega dan mendukung penuh keputusannya untuk tinggal bersama Junmyeon. Terlebih ketika minggu lalu mereka datang ke Seoul untuk bertemu dan berbicara dengan Junmyeon, mereka jadi semakin yakin kalau mereka tidak salah mempercayakan Yixing pada Junmyeon.
"Ini. Minum obatmu." Kata Junmyeon sambil mengulurkan beberapa butir obat dan segelas air pada Yixing.
"Bagaimana harimu?" tanya Yixing ketika dia sudah menelan semua obatnya.
"Sibuk. Tapi Yifan jauh lebih sibuk. Kau sendiri?"
"Aku agak kesulitan mengikuti latihan hari ini. Kakiku sempat kram beberapa kali." Sahut Yixing muram.
"Besok akan lebih baik." Hibur Junmyeon. "Kau bisa menceritakan semuanya padaku nanti setelah aku mandi. Mungkin tentang Jongin yang menginjak kakimu atau Jongin yang tidak bisa mengikuti irama dengan benar."
Yixing tertawa. Junmyeon selalu berhasil membuatnya tertawa, bahkan ketika perasaannya sedang buruk seperti sekarang. "Jongin tidak pernah menginjak kakiku, hyung. Dia penari yang sangat berbakat. Apa yang pernah dilakukannya padamu sehingga kau selalu bersikap sinis padanya?"
Junmyeon mengangkat bahu. "Aku mandi dulu." Katanya sambil berjalan keluar. Tapi ketika menyadari Yixing masih duduk diam di tempatnya, Junmyeon berbalik dan berkata pelan. "Zhang, kenapa masih duduk di situ? Pergilah ke ruang duduk. Disana lebih hangat."
Yixing memang ingin ke ruang duduk, tapi dia berencana menunggu sampai Junmyeon pergi sebelum mencoba berjalan.
"Kenapa? Kakimu lemas? Kau bisa berdiri?"
Yixing menggigit bibir dan turun dari bangku. Ketika kakinya menginjak lantai, dia merasa kakinya sudah cukup kuat. Mungkin dia sudah bisa berjalan tanpa masalah.
Junmyeon mendesah pelan. "Zhang, kalau kau butuh bantuan, yang perlu kau lakukan hanyalah memintanya."
Yixing memekik kaget ketika tiba-tiba saja dia sudah berada di gendongan Junmyeon. "Hyung! Aku tidak perlu digendong. Aku bisa jalan sendiri!" protesnya.
"Anggap saja aku yang ingin menggendongmu, oke?" kata Junmyeon sambil melangkah lebar ke ruang duduk dan mendudukkan Yixing di sofa dengan perlahan. "Coba lihat. Wajahmu tidak pucat lagi. Kurasa aku harus sering-sering menggendongmu." Lanjut Junmyeon sambil tersenyum lebar.
Yixing melotot tapi Junmyeon hanya tertawa dan berjalan ke kamarnya. Kondisi tubuh Yixing memang tidak menentu. Ada kalanya dia merasa sangat sehat dan bisa beraktifitas seperti biasa. Tapi ada kalanya, dia merasa kondisinya menurun. Seperti hari ini. Dia merasa tidak bertenaga, sesak nafas dan sakit kepala. Yixing menyadari akhir-akhir dia lebih sering merasa sakit daripada sehat. Sepertinya obat-obatan baru yang diberikan dokternya sama sekali tidak membantu.
Yixing mendesah berat dan meraih remote untuk menyalakan CD player. Dia berbaring di sofa dan memejamkan mata. Lagu yang akan mereka gunakan untuk pertunjukkan khusus Hyoyeon mengalun di ruang duduk. Karena saat ini dia tidak bisa menari, maka dia mencoba mengingat semua gerakan dalam tariannya.
Di tengah latihannya, Yixing mendengar bel interkom berbunyi. Dengan perlahan, Yixing berjalan ke arah pintu dan menekan tombol untuk menjawab. Tapi belum sempat dia membuka mulut untuk bertanya, dia sudah disela oleh suara seseorang di bawah sana.
"Hyung? Kenapa lama sekali baru menjawab? Ini aku. Buka pintunya. Aku sudah hampir beku disini."
Yixing mengerjab mendengar suara Sehun. Lalu dia menekan tombol untuk membuka pintu gedung dan membiarkan Sehun masuk. Beberapa saat kemudian, bel pintu apartemen berbunyi dan Yixing bergegas membukanya.
"Hai, hyung. Apa..." Sehun menghentikan kata-katanya dan menatap Yixing dengan mata terbelalak heran. "Yixing-ah? Kenapa kau ada disini?"
Ketika mendengar pertanyaan Sehun, Yixing baru sadar bahwa dia sama sekali tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti ini. Kemungkinan bahwa Sehun atau Yifan atau siapapun itu akan datang ke apartemen Junmyeon dan mempertanyakan keberadaannya disana. Yixing tidak tau apa yang harus dikatakan atau dilakukannya, jadi dia hanya tersenyum kecil dan menyapa. "Hai, Sehun-ah. Masuklah."
Meski terlihat bingung, tapi Sehun melangkah masuk. "Apa Junmyeon hyung ada?"
"Ya. Dia sedang mandi."
"Yixing-ah, kenapa kau ada disini? Bukankah tangan Junmyeon hyung sudah sembuh? Apakah dia masih memaksamu membantunya?" tanya Sehun sambil mengikuti Yixing ke ruang duduk. "Ngomong-ngomong, apa yang terjadi padamu? Kau sakit?"
Yixing mendudukkan dirinya di sofa dan memijit-mijit pelipisnya. Rentetan pertanyaan Sehun membuat kepalanya berputar-putar.
"Sehun-ah, sekarang Zhang tinggal disini."
Mereka berdua serentak menoleh ke arah Junmyeon yang berdiri di ambang pintu sambil mengeringkan rambut.
"Apa?" tanya Sehun tidak mengerti. Yixing menatap Junmyeon dengan tajam.
Junmyeon mengangkat bahu. "Cepat atau lambat orang-orang akan tau, Zhang. Kau tau itu."
Kening Sehun berkerut dalam. Dia menatap Junmyeon dan Yixing bergantian lalu berseru. "Tolong jelaskan padaku apa yang sedang kalian bicarakan!"
Sehun menatap Yixing tanpa berkedip. Dia baru saja mendengar penjelasan panjang lebar dari Junmyeon dan Yixing dan Sehun hampir tidak mempercayai sepatah katapun yang didengarnya. "Katakan padaku kalian hanya bercanda."
"Tentang apa, Sehun-ah? Kau ingin aku bercanda tentang apa? Penyakitku? Kurasa itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan lelucon."
"Yixing-ah, bukan itu maksudku. Maafkan aku. Semua ini terlalu mengejutkan. Aku...aku...hanya kesulitan mempercayainya." Sahut Sehun agak tergagap. "Tapi kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"
"Karena tidak ada alasan bagiku untuk memberitahumu atau siapapun juga." Yixing mengangkat bahu.
Alis Sehun berkerut samar. "Tapi kau memberitahu Junmyeon hyung."
Kali ini Junmyeon membuka suara. "Itu karena aku menemukan obatnya tanpa sengaja dan aku pernah memergokinya ketika dia mendapat serangan. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya padaku."
Sehun terdiam sejenak lalu menatap Yixing. "Tapi kau juga bisa memberitahuku." Kata Sehun bersikeras.
"Maaf, Sehun-ah. Tapi aku tidak tau kenapa aku harus memberitahumu tentang penyakitku." Kata Yixing sedikit kesal. "Kalau Junmyeon hyung tidak menemukan obatku dan tidak melihatku ketika aku mendapat serangan, aku juga tidak akan memberitahunya."
Saat itu Junmyeon menyentuh bahu Yixing sekilas dengan tangannya yang direntangkan di punggung sofa. Yixing menoleh menatap Junmyeon dan Sehun bisa melihat kekesalan di wajah Yixing perlahan memudar.
"Kurasa aku harus beristirahat sekarang." Kata Yixing sambil beranjak berdiri. "Kalian boleh meneruskan obrolan kalian."
Sehun mengamati Yixing yang bangkit dari sofa dan berjalan ke kamar tamu yang kini ditempatinya. Namja itu terlihat tidak sehat. Sehun belum pernah melihatnya seperti itu. Semua ini terasa sangat asing bagi Sehun.
Junmyeon menghela nafas. "Tunggu disini." Katanya pada Sehun lalu beranjak menyusul Yixing.
Ditinggal sendiri, Sehun jadi memikirkan apa yang baru saja didengarnya malam ini. Yixing sakit parah. Dan Sehun baru mengetahuinya hari ini, sedangkan kakaknya sudah lama tau. Sehun tau tidak sepantasnya dia berpikir seperti ini, tapi dia merasa seharusnya Yixing lebih percaya padanya. Dialah yang lebih dulu mengenal Yixing, dialah yang lebih dulu dekat dengan Yixing, tapi kenapa Junmyeon yang mendapatkan seluruh kepercayaan namja itu?
Dan tadi ketika dua orang itu bertatapan...Sehun mengernyit mengingat bagaimana Yixing menjadi lebih tenang ketika dia menatap Junmyeon. Seharusnya dirinyalah yang ditatap Yixing seperti itu. Seharusnya dirinyalah yang memberikan ketenangan pada Yixing. Seharusnya...
"Dia sedang tidak sehat hari ini. Tolong jangan membuatnya kesal."
Suara Junmyeon yang terdengar lelah menyadarkan Sehun dari pikirannya yang kacau. Dia mendongak menatap Junmyeon yang kembali duduk di sofa sambil menghembuskan nafas panjang.
"Dan jangan lampiaskan kecemburuanmu padanya." Lanjut Junmyeon sambil menatap Sehun dengan lekat. Ada nada memperingatkan dalam suaranya yang pelan.
Sehun menghela nafas. "Hyung, kau tau jantungnya tidak memungkinkannya untuk menari lagi, tapi kenapa kau diam saja dan membiarkannya ikut dalam pertunjukkan Hyoyeon ahjumma? Kenapa hyung tidak menghentikannya?"
"Reaksi pertamaku ketika tau dia menerima tawaran Hyoyeon ahjumma adalah ingin berteriak padanya dan memaksanya membatalkan niatnya." Kata Junmyeon. "Tapi kurasa aku bisa memahami alasannya."
Sehun mendengus.
"Sehun-ah, kau juga penari. Coba tempatkan dirimu di posisinya. Kalau kau tidak bisa menari lagi, kalau kau tidak bisa menjadi b-boy lagi dan tidak bisa melakukan gerakan yang biasa dilakukan para b-boy, bagaimana perasaanmu?"
Sehun tidak menjawab, tapi dia memikirkan kata-kata Junmyeon. Kalau dia tidak bisa menjadi b-boy lagi, apa yang harus dilakukannya? Entahlah...Mungkin dia akan depresi, lalu...entahlah. Dia tidak pernah benar-benar memikirkannya.
"Kalau kau mendapatkan kesempatan untuk menari sekali lagi sebelum harapan itu pupus sama sekali, bukankah kau akan mengambil kesempatan itu?"
Ya, batin Sehun. Tapi dia tidak menyuarakannya. Untuk sesaat, mereka terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Lalu Sehun membuka suara. "Hyung, apa menurutmu dia akan baik-baik saja?"
"Dia akan baik-baik saja." Sahut Junmyeon yakin. "Dia pasti akan baik-baik saja."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu, hyung? Bagaimana kau bisa setenang itu? Jujur saja, saat ini pikiranku sangat kacau. Aku merasa tidak berdaya, tidak berguna, dan aku tidak bisa berhenti mencemaskannya. Jadi katakan padaku bagaimana kau bisa setenang ini. Kau tidak khawatir, hyung?" desak Sehun.
Junmyeon menelan ludah dengan susah payah. Rahangnya mengeras. Sehun melihat tangan Junmyeon terkepal di sisi tubuhnya. Lalu Junmyeon bangkit dari sofa, berjalan ke arah jendela dan berdiri disana tanpa berkata apa-apa. Selama dua menit penuh apartemen itu diselimuti keheningan. Lalu suara Junmyeon terdengar, memecah keheningan yang terasa mencekam itu. "Aku sangat khawatir." Katanya lirih. "Dan juga...sangat takut. Tapi aku tidak mungkin menunjukkan apa yang aku rasakan di hadapannya."
Sehun tertegun sejenak. Suara Junmyeon terdengar serak dan tercekat, dan dia belum pernah melihat hyungnya seperti itu.
"Setiap kali kondisinya memburuk dan dia hampir tidak bisa berjalan, aku bisa merasakan rasa frustrasinya dan aku berharap aku bisa memberikan seluruh tenagaku padanya." Lanjut Junmyeon getir. "Setiap kali dia mendapat serangan dan menangis menahan sakit, aku berharap aku bisa menggantikannya dan mengambil semua rasa sakit itu darinya supaya dia tidak perlu merasakan sakit sedikitpun. Ketika dia jatuh pingsan, aku berani bersumpah aku merasakan jantungku berhenti berdetak dan aku merasakan sebuah ketakutan besar yang belum pernah kukenal. Seluruh tubuhku terasa lumpuh. Pada saat seperti itu, aku mulai membayangkan kemungkinan terburuk, lalu aku sadar aku sama sekali tidak siap menerima kemungkinan terburuk. Dan kesadaran itu membuat ketakutanku berlipat ganda."
Sehun menahan nafas mendengar pengakuan Junmyeon. Dia bisa melihat dan merasakan kekhawatiran hyungnya. Mereka memiliki hubungan yang dekat sejak kecil, tapi Sehun merasa, inilah pertama kalinya Junmyeon mencurahkan isi hatinya dengan jujur. Mungkin ketakutan dan kekhawatirannya yang dipendamnya selama ini mulai mencekiknya, membuatnya sulit bernafas, dan Junmyeon harus menceritakannya pada seseorang sebelum dia menjadi gila.
"Tapi aku tidak bisa menunjukkan kelemahan seperti itu di hadapannya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa mendukungnya, seseorang yang bisa membantunya ketika dibutuhkan, seseorang yang bisa diandalkannya, seseorang yang bisa meyakinkannya bahwa segalanya akan baik-baik saja." Junmyeon menoleh ke arah Sehun dan tersenyum samar. "Jadi kuputuskan aku harus menjadi orang yang seperti itu."
Sejenak Sehun tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya terdiam ketika menyadari perasaan Junmyeon. Lalu Sehun menghembuskan nafas yang ditahannya sejak tadi. "Hyung, kau...pasti sangat mencintainya. Iya, kan?"
Junmyeon mengerjab. Matanya yang muram terlihat berkaca-kaca ketika menggumamkan dua patah kata dari dasar jiwanya yang paling dalam.
"Sepenuh hatiku."
TBC
A/N :
Yuhuuuu, chap 12 udah meluncur ~ ~
Wah, ini chapter lebih panjang dari chapter2 sebelumnya ya, hehehehe n_n
~ Kin Ocean : Itu karena si Junmen gak bisa merangkai kata-kata yang bagus buat nembak, makanya pake alternatif dongeng. Si papih kan emang jenius xD. Jadian ato gak ya? Tapi si Yixing kan gak mau pacaran dulu karena mikirin kondisi jantungnya. Ini udah dilanjut, chingu. Gomawo :D
~ BlackandBlue : Aih, chingu habis dengerin lagu yang Junmen mainin ya? Jadinya sama ama Yixing bayanginnya. Bunga-bunga bermekaran, matahari yang bersinar cerah, aih, sip dah pokoknya. Iya sih, sebenarnya Yixing juga suka ama Junmen, tapi ya itu, dia terhalang ama kondisi jantungnya. Wkwk, Junmen kalo jealous lucu ya? Gomawo :D
~ xingmyun : Aduh, ntar jatoh lho kalau jumpalitan xD. Ini udah dilanjut, chingu. Gomawo :D
Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan dan semangatnya.
Saranghae all *kecupsatusatu*
Sampai jumpa chapter depan ~
Wanna to review again? /wink/
