Summary : "Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu." / "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku." / EXO FF / BL / REMAKE / DLDR / SuLay again :D / RnR? / Gomawo *bow*
Genre : Romance
Rate : T
Cast : Zhang Yixing, Kim Junmyeon, Oh (Kim) Sehun
and many more...
Warning : BL, Remake, OOC, typo(s), DLDR
Disclaimer : Ide cerita sepenuhnya milik Ilana Tan. Saya hanya mengubah nama dan melakukan perombakan seperlunya. Semua chara di FF ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama saja. Cerita aslinya straight, tapi karena saya mengubahnya jadi boys love, jadi maklumi aja ya kalo agak aneh :D
Happy Reading ~
Chapter 13
"Perhatian, para penari. Sepuluh menit lagi gladi bersih akan dimulai. Harap bersiap di posisi yang sudah ditentukan."
Yixing menelan obatnya dan menoleh ke arah pengeras suara yang terpasang di sudut ruang ganti pribadinya. Dia memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang. Dia merasa tidak sehat hari ini. Dia merasa demam dan jantungnya berdebar tidak beraturan. Dan dia yakin itu bukan karena dia gugup menghadapi gladi bersih. Dia berharap semoga obat yang diminumnya bisa membuatnya bertahan sampai akhir latihan terakhir ini.
"Dua menit lagi!" seru salah seorang petugas ketika para penari sudah mengambil posisi masing-masing di balik panggung.
Saat itu tangan Yixing terasa kebas. Butir-butir keringat perlahan mulai bermunculan di keningnya. Kesadarannya mulai kabur. Tapi dia tidak bisa mundur sekarang. Musik sudah mengalun dan layar sudah diangkat. Yang harus dilakukannya sekarang adalah menegakkan tubuh, melupakan penyakitnya untuk sementara, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan berlari ke tengah panggung, ke arah gemuruh tepuk tangan penonton dan melakukan apa yang paling ingin dilakukannya sepanjang hidupnya. Dia mulai menari.
Junmyeon melirik Victoria yang duduk di samping kanannya. Wanita itu menghapus airmata yang perlahan meleleh di pipinya. Zhoumi menggenggam tangan Victoria erat-erat, sementara pandangannya tak lepas dari sosok putranya yang tengah menari di atas panggung. Sinar bangga terlihat jelas di matanya, membuat tenggorokan Junmyeon tercekat.
Bukan hanya Zhoumi yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari Yixing, tapi seluruh penonton juga tersihir pada titik yang sama. Mereka semua tidak mampu melepaskan pandangan dari penari yang mencurahkan segenap jiwa dan raganya di atas panggung itu. Walaupun ini kedua kalinya Junmyeon melihat Yixing menari, tapi dia tetap terpesona. Namja itu memang terlahir untuk menari. Caranya bergerak sangat berbeda dengan penari lain di atas panggung. Dia bergerak dan menari dengan keanggunan, kelas, dan kehebatan penari tingkat dunia. Terlebih lagi, Yixing tidak hanya sekedar menari. Dia bercerita. Dia bercerita melalui gerakan tubuh dan raut wajahnya. Seorang penari harus bisa menyampaikan suatu kisah. Dan kisah yang disampaikan Yixing saat itu membuat semua orang terperangkap dalam sihirnya.
Ketika gladi bersih itu berakhir, tepuk tangan terdengar bergemuruh memenuhi teater. Junmyeon bertepuk tangan paling keras sampai tangannya mati rasa. Dia dan orangtua Yixing bergegas ke belakang panggung untuk menemui Yixing. Mereka menemukan Yixing sedang bersama Hyoyeon di depan ruang gantinya.
"Yixing sayang,kau benar-benar hebat tadi." seru Hyoyeon gembira sambil memeluk Yixing erat-erat. "Aku yakin pertunjukkan kita akhir pekan nanti akan sukses besar."
Yixing terlihat lelah, tapi dia tersenyum lebar. Ketika melihat Victoria dan Zhoumi berjalan menghampirinya, Yixing melepaskan diri dari pelukan Hyoyeon dan memeluk kedua orangtuanya bergantian. Lalu dia menghampiri Junmyeon yang berdiri di belakang orangtuanya.
"Kau berhasil melakukannya, Zhang. Aku akui kau memang luar biasa tadi. Ummamu terus menangis sepanjang tarianmu." Gumam Junmyeon sambil tersenyum menatap namja yang terengah-engah di depannya.
Yixing merangkul Junmyeon erat-erat. "Terima kasih, hyung." Bisiknya lemah.
Junmyeon melingkarkan tangannya dan membalas pelukan Yixing. "Zhang, kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas ketika dirasanya sekujur tubuh Yixing gemetar.
"Sayang, ada apa?" tanya Victoria ketika menyadari putranya tidak terlihat baik. Dia menangkup pipi Yixing dan menatap Yixing dengan cemas.
Tapi Yixing tidak sempat menjawab, karena tepat setelah itu, tubuhnya terjengkang ke belakang dan dia pasti sudah jatuh ke lantai kalau saja Zhoumi tidak segera menahannya.
**ooo**
Orangtua Yixing memaksa Junmyeon pulang malam itu untuk beristirahat dan membiarkan mereka yang menemani Yixing di rumah sakit. Mereka berjanji akan langsung mengabari Junmyeon kalau Yixing sudah sadarkan diri. Meski enggan, tapi akhirnya Junmyeon pulang dan berjanji dia akan datang lagi besok pagi untuk menggantikan mereka.
Tentu saja Junmyeon sama sekali tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, dia kembali merasakan ketakutan besar yang mencengkeram dirinya ketika melihat Yixing jatuh pingsan dalam pelukan Appanya. Dokter memang berhasil menstabilkan keadaannya, tapi kini mereka harus menunggu sampai Yixing sadarkan diri.
Sejak Yixing jatuh pingsan, Junmyeon hampir tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa dingin yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Dia tidak bisa berpikir, otaknya terasa berkabut. Junmyeon berbaring di ranjangnya dan menatap kosong ke arah langit-langit. Dia terus melirik jam di samping tempat tidur, berharap pagi segera tiba sehingga dia bisa pergi ke rumah sakit. Menjelang jam lima pagi, Junmyeon baru bisa terlelap dan dia terbangun tiga jam kemudian karena dering ponsel. Dari orangtua Yixing. Mereka mengabarkan bahwa Yixing sudah sadarkan diri. Setelah mendengarnya, Junmyeon akhirnya bisa bernafas kembali.
.
Ketika masuk ke kamar rawat Yixing, Junmyeon melihat namja itu sedang duduk bersandar di ranjangnya sambil mengobrol dengan kedua orangtuanya. Begitu melihat Junmyeon, Yixing langsung tersenyum cerah. Dia terlihat ceria seperti biasa, seolah-olah kemarin dia sama sekali tidak jatuh pingsan.
"Karena Junmyeon sudah datang, kami akan pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Kami akan datang lagi nanti siang." Kata Zhoumi sambil menepuk pelan bahu Yixing.
"Iya, Appa."
Victoria mengecup kening Yixing dengan lembut lalu beralih menatap Junmyeon. "Dokter Park sudah memeriksanya tadi. Katanya anak ini harus beristirahat total sepanjang hari ini."
"Jangan khawatir, ahjumma. Akan kupastikan dia beristirahat hari ini."
Victoria tersenyum senang. Sebelum mereka meninggalkan ruangan, Zhoumi menyempatkan diri menepuk bahu Junmyeon dengan pelan. "Kuserahkan putraku padamu."
"Hai."
Junmyeon mengalihkan pandangan dari pintu dan menatap Yixing. "Hai juga." Balasnya sambil duduk di kursi di samping ranjang Yixing. "Bagaimana perasaanmu hari ini?"
"Jauh lebih baik." Yixing menatap Junmyeon dengan seksama. "Hyung, kau terlihat kacau."
"Kalau kau mengalami apa yang aku alami kemarin malam, kau juga akan terlihat seperti aku sekarang." Kata Junmyeon sambil tersenyum kecil.
Yixing tersenyum muram. "Aku membuat kalian cemas, kan?"
Junmyeon meraih tangan kanan Yixing dan menggenggamnya. "Tolong jangan membuatku cemas lagi."
"Jadi...bagaimana reaksi semua orang ketika tau aku pingsan di belakang panggung?"
"Mereka khawatir tentu saja. Tapi kami berhasil meyakinkan mereka bahwa kau hanya kelelahan dan butuh istirahat total selama beberapa hari." Sahut Junmyeon. "Dan itulah yang harus kau lakukan. Istirahat."
"Jangan khawatir. Tolong sampaikan pada Hyoyeon noona bahwa aku akan beristirahat sepanjang hari ini dan besok. Aku memang perlu memulihkan tenagaku untuk pertunjukkan lusa."
Junmyeon menegang. Dia melepaskan tangan Yixing dan mendesah. "Kau akan tetap melakukannya, kan? Kau akan tetap tampil di pertunjukkan itu?"
Dengan cepat, Yixing kembali meraih tangan Junmyeon. "Hyung, kau tau aku akan melakukannya. Aku harus melakukannya. Kemarin aku memang merasa tidak sehat, tapi aku yakin, setelah beristirahat selama dua hari, aku akan merasa cukup sehat untuk tampil sekali lagi. Aku akan baik-baik saja."
Junmyeon menatap Yixing dengan tatapan tidak percaya. Dia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Hyung?" panggil Yixing pelan.
Junmyeon membuka mata dan menatap Yixing. Sinar ketakutan terpancar jelas di matanya. "Aku hanya tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi."
Yixing memiringkan sedikit kepalanya dan berkata pelan. "Kejadian kemarin akan terulang lagi, hyung. Dengarkan aku, kumohon jangan menyela." Yixing meremas tangan Junmyeon. "Kita tau jantungku memburuk setiap hari dan obat-obatan yang kuminum selama ini sama sekali tidak membantu, jadi, ya, kejadian seperti kemarin akan terulang lagi. Aku akan mendapat serangan lagi dan mungkin aku akan pingsan lagi. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya, kecuali aku mendapat jantung baru."
Junmyeon mengernyit mendengar kenyataan itu, tapi Yixing dengan tegas melanjutkan. "Kau tentu tau kemungkinan menemukan donor jantung yang sesuai untukku tidaklah mudah. Namaku memang sudah tercantum dalam daftar pasien yang membutuhkan donor jantung, tapi yang membutuhkan donor jantung di negara ini bukan hanya aku."
Tenggorokan Junmyeon tercekat, tapi dia tetap diam. Dia takut apabila dia bersuara, dia akan melakukan sesuatu yang bodoh, seperti meneteskan airmata saat itu juga.
"Hyung, kau mau kuberitahu satu rahasia?" bisik Yixing tiba-tiba.
Junmyeon menatap namja pucat yang terlihat rapuh itu dan meremas tangannya, memintanya melanjutkan.
Yixing tersenyum. "Kau masih ingat hari pertama kita bertemu?"
Sudut bibir Junmyeon tertarik ke atas membentuk sebuah senyum kecil ketika mengingat pertemuan pertama mereka, ketika Yixing jatuh dari tangga, menubruknya dan membuat tangannya cedera. "Kau membuat tanganku patah." Gumam Junmyeon. Suaranya terdengar serak.
"Aku tidak mematahkan tanganmu, hyung." Protes Yixing sambil tertawa pelan. "Tanganmu hanya terkilir."
Junmyeon hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.
"Kau tau, kau tidak pernah bertanya kenapa aku bisa terjatuh dari tangga."
Benar juga, pikir Junmyeon. Dia tidak pernah memikirkannya. Waktu itu dia terlalu marah pada Yixing. Dia bahkan tidak mau tau apapun yang berhubungan dengan Yixing. Saat itu dia hanya ingin Yixing jauh-jauh darinya. Tapi sekarang...
"Kenapa kau bisa terjatuh dari tangga hari itu?"
Yixing memalingkan wajah menatap keluar jendela dan menarik nafas dalam-dalam. "Pagi itu, sebelum aku pergi mengajar, aku menemui Dokter Park karena dia sudah mendapatkan hasil tes jantungku. Aku diberitahu bahwa setelah semua usaha yang kulakukan selama berbulan-bulan, setelah meminum begitu banyak obat mengerikan yang terkadang menimbulkan efek samping, setelah aku melakukan semua yang harus kulakukan demi mendapatkan sedikit harapan semoga jantungku bisa membaik, jantungku tetap tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Hasil tes malah menunjukkan kondisi jantungku yang semakin melemah." Jelas Yixing panjang. Suaranya terdengar lirih dan datar.
"Dokter Park berusaha bersikap optimis, tapi aku tau dia mulai kehilangan harapan. Dan aku juga mulai kehilangan harapan. Jadi hari itu, ketika kau pergi ke studio, keadaan jiwaku sedang kacau. Aku merasa tertekan, putus asa, dan juga marah. Tapi aku tidak tau aku harus marah pada siapa. Aku bahkan tidak menyadari apa yang ada di sekelilingku waktu itu. Tiba-tiba saja aku mendapati diriku berdiri di puncak tangga, memandang ke bawah dan berpikir bagaimana jadinya kalau aku membiarkan diriku jatuh ke bawah? Apakah aku akan cacat? Apakah aku akan mati?" Yixing tertawa sumbang. "Seperti yang tadi aku katakan, saat itu jiwaku sedang tidak seimbang."
Junmyeon menatap Yixing tanpa berkedip. Dia sangat terkejut mendengar pengakuan namja itu.
Yixing menoleh ke arah Junmyeon dan berkata pelan. "Ketika aku berpikir seperti itu, aku mendengar suaramu dan Sehun. Suara kalian membuatku tersadar dari pikiranku yang buram, tapi sudah terlambat untuk menghentikan apa yang terjadi. Kau tau apa yang aku pikirkan ketika aku sadar aku akan jatuh? Aku berpikir aku belum ingin mati. Aku juga tidak mau menjadi orang cacat. Aku masih ingin menari. Semua itu melintas cepat dalam pikiranku sampai aku menubrukmu."
Mata Yixing berkaca-kaca. "Aku, yang awalnya berpikir ingin mencelakai diri sendiri, pada akhirnya malah membuatmu celaka. Kau tidak bisa membayangkan betapa menyesalnya aku saat itu. Kau celaka karena kebodohanku." Yixing tersenyum sedih. "Itulah sebabnya aku bersikeras menawarkan diri membantumu meskipun saat itu kau jelas-jelas membenciku dan sama sekali tidak mau berurusan denganku."
Junmyeon mencondongkan tubuhnya dan menatap Yixing lekat-lekat. "Aku tidak membencimu." Katanya pelan tapi tegas.
"Tapi akhirnya kau menerima bantuanku, meskipun dengan berat hati, dan karena itu kau memberiku alasan untuk tetap hidup." Melihat Junmyeon yang terlihat bingung, Yixing melanjutkan. "Hyung, menjadi pengurus rumahmu membuatku mempunyai alasan untuk menjalani hidupku. Lalu perlahan-lahan, aku sadar bahwa kau juga menjadi salah satu alasanku untuk tetap bertahan hidup."
Junmyeon tertegun. Apakah maksud Yixing sama seperti yang dipikirkannya? Apakah dia boleh berharap Yixing membalas perasaannya?
Sebelum Junmyeon sempat berpikir lebih jauh, Yixing menarik tangannya. "Hyung, kau tau apa yang sangat kuinginkan sekarang?"
"Apa?" tanya Junmyeon, berusaha mengabaikan rasa hampa yang menyelimutinya setelah Yixing melepaskan tangannya.
"Aku ingin mendengar laguku."
"Laguku?"
"Sunshine Becomes You." kata Yixing sambil tersenyum. "Atau Thinking of Zhang?"
Junmyeon tertawa dan bangkit dari kursinya. "Baiklah. Tunggu sebentar."
**ooo**
Lima belas menit kemudian, Junmyeon masuk ke kamar rawat Yixing sambil mendorong kursi roda.
"Hyung, kenapa kau lama sekali? Dan kenapa kau membawa kursi roda?"
Junmyeon tersenyum lebar. "Tadi aku bertanya pada perawat apakah ada piano di rumah sakit ini. Katanya ada satu piano tua di ruang bermain bangsal anak." Lalu dia menepuk pegangan kursi roda di hadapannya. "Dan aku meminjam ini untukmu. Ayo, duduklah disini. Aku akan membawamu ke bangsal anak."
Yixing menatap kursi roda itu dengan alis terangkat.
"Atau kau lebih suka aku menggendongmu ke sana?" pancing Junmyeon.
Yixing mendengus. "Sepertinya kursi roda lebih aman."
Junmyeon terkekeh pelan. "Aku tau kau berbohong. Tapi tidak apa-apa. Ayo, kita pergi."
Mereka akhirnya tiba di ruang bermain bangsal anak di lantai lima. Tidak ada seorangpun di ruang bermain pagi ini. Junmyeon mendorong kursi roda Yixing ke arah piano hitam di salah satu sudut ruangan. Junmyeon membuka tutup piano dan memainkan beberapa nada ringan.
"Hm, masih cukup bagus." gumam Junmyeon. Lalu dia menoleh pada Yixing. "Kau siap?"
Yixing mengangguk. Lalu kesepuluh jari Junmyeon mulai bergerak di atas piano dan alunan nada yang indahpun mulai terdengar. Yixing memejamkan mata dan kembali membayangkan hangatnya sinar matahari, padang rumput yang hijau, langit yang biru, rumput yang bergoyang, dan musim semi.
Mendengar bunyi gemerisik samar di belakangnya, Yixing membuka mata dan menoleh. Matanya melebar melihat orang-orang yang berkerumun di ambang pintu. Beberapa orang perawat, dokter, dan orangtua beserta anak-anak mereka memandang kagum ke arah Junmyeon yang sedang bermain piano. Para wanita mendesah senang dan menempelkan tangan mereka ke dada selama mereka mendengar pemainan Junmyeon.
Sama seperti waktu itu, rasa hangat kembali menjalari dada Yixing setiap kali mendengar lagu ini. Kehangatan itu menyelinap ke dalam jiwanya dan mengendap disana. Lagu ini memenuhi dada Yixing dengan harapan dan kebahagiaan. Dan Yixing ingin mempertahankan perasaan ini selama mungkin di dalam dadanya.
Ketika lagu berakhir, Yixing dan orang-orang yang menonton dari luar ruangan bertepuk tangan. Junmyeon terlihat terkejut, tidak percaya dia telah mengumpulkan serombongan kecil penonton. Junmyeon berdiri dan membungkuk ke arah penonton.
"Hyung, kau membuat mereka semua terpesona." Kata Yixing setelah para penonton sudah menghilang dari ambang pintu.
"Benarkah?" gumam Junmyeon sambil menatap Yixing. "Padahal aku hanya ingin menawan hati satu orang."
Yixing menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona. Dia menekan satu tuts piano dengan kikuk. "Terima kasih sudah memainkannya untukku."
Junmyeon merogoh sakunya dan menyodorkan selembar kertas biru pada Yixing. Alis Yixing terangkat ketika melihat Voucher Permintaan Kepada Zhang Yixing di depan hidungnya. "Apa?"
"Untuk berterima kasih padaku, aku ingin kau mengabulkan satu permintaanku." Kata Junmyeon ringan.
Yixing tertawa dan menerima voucher itu. "Apa permintaanmu?"
"Biarkan aku menciummu."
Junmyeon melihat tubuh Yixing menegang begitu dia mengucapkan permintaannya. Dia tau permintaannya mendadak, tapi Junmyeon hanya ingin Yixing memahami perasaannya tanpa kata-kata. Junmyeon ingin Yixing mengerti bahwa dia sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Junmyeon, bahwa Junmyeon bersedia menggerakkan langit dan bumi untuk dirinya, bahwa Junmyeon bahkan bersedia menyerahkan jantungnya untuk Yixing seandainya itu bisa membuat Yixing tetap bertahan hidup.
"Baiklah."
Sepatah kata itu diucapkan Yixing dengan sangat lirih sampai Junmyeon hampir tidak mendengarnya. Junmyeon mengerjab dan menatap Yixing.
Seulas senyum samar tersungging di bibir Yixing. "Kurasa aku bisa mengabulkannya."
Junmyeon menelan ludah. Jantungnya berdebar begitu keras sampai dia takut jantungnya akan melompat keluar dari dadanya. Ini konyol. Ini bukan ciuman pertamanya, lalu kenapa dia mendadak gugup dan berkeringat dingin seperti ini?
Karena ini adalah Zhang Yixing. Namja yang memiliki seluruh hati dan jiwa Junmyeon. Namja yang Junmyeon cintai dengan segenap jiwa dan raganya.
Junmyeon mencondongkan tubuh dengan perlahan, memberikan kesempatan pada Yixing untuk mengurungkan niat. Tapi Yixing tetap diam dan membiarkan Junmyeon mendekatinya. Perlahan, Yixing mulai memejamkan matanya.
Junmyeon menempelkan bibirnya ke bibir Yixing, mengecupnya dengan lembut dan penuh cinta. Meski bibir Yixing terasa begitu dingin, tapi Junmyeon merasa kehangatan menjalari sekujur tubuhnya, kepalanya terasa begitu ringan sampai dia merasa melayang dan dadanya terasa penuh sampai dia merasa akan meledak.
Ciuman itu hanya berlangsung selama sepuluh detik. Setelah itu, Junmyeon menarik diri dan tersenyum kecil. "Nah, tidak sesulit dugaanmu kan? Kuharap tidak terlalu mengerikan."
Yixing tersenyum malu. Dia memperbaiki letak selimut di sekeliling tubuhnya, berusaha menenggelamkan diri di dalamnya. Wajahnya pasti sangat merah sekarang.
Selama beberapa saat mereka hanya duduk diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lalu suara Junmyeon yang lembut memecah keheningan yang menyelubungi mereka.
"Aku mencintaimu."
Junmyeon kembali merasakan Yixing mematung di sampingnya.
Junmyeon menghembuskan nafasnya dengan pelan. Akhirnya dia mengatakannya. Dia sudah mengatakannya dan dia merasa sedikit lega setelah menyuarakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Tapi kurasa kau sudah bisa menebaknya." Lanjut Junmyeon dengan nada yang lebih ringan.
Yixing masih terdiam dan tidak bergerak sedikitpun. Junmyeon bertanya-tanya apakah dia melangkah terlalu cepat. Tapi dia hanya ingin Yixing tau. Hanya itu. Jadi meskipun Yixing tidak bereaksi, Junmyeon tidak akan memaksa, karena dia tau Yixing mendengar kata-katanya dengan jelas.
"Aku hanya ingin mengatakannya, jadi kau tidak perlu merasa terbebani." Lanjut Junmyeon lagi.
Hening lagi. Tapi keheningan yang menyelimuti mereka sekarang terasa begitu canggung.
"Tapi ada satu hal yang ingin kuminta darimu." Junmyeon menghela nafas. Ditatapnya Yixing dengan dalam. "Berjanjilah padaku, kau akan bertahan hidup."
Yixing mengerjab.
Junmyeon meraih tangan Yixing dan meremasnya dengan lembut. "Kalau bukan untukku, lakukanlah untuk dirimu sendiri."
Yixing mendesah pelan. Dia menatap mata Junmyeon dengan dalam dan balas meremas tangannya. "Hyung, aku berjanji aku akan bertahan hidup. Aku akan menari lagi dan aku akan terus bertahan hidup sampai aku mendapat jantung baru. Untukku...untuk orangtuaku... untukmu."
**ooo**
Akhir pekan itu Yixing kembali ke atas panggung. Gedung pertunjukkan penuh. Tidak ada satupun bangku kosong malam itu. Semua orang ingin melihat Zhang Yixing menari setelah membaca dan melihat ulasan media. Mereka ingin melihat seperti apa Zhang Yixing yang dibangga-banggakan oleh Hyoyeon dan dianggap sebagai salah satu dari lima penari kontemporer terbaik dunia.
Dan Yixing memahami tanggungjawab yang dibebankan padanya. Penampilannya sama sekali tidak mengecewakan. Dia membuat semua penonton jatuh dalam pesonanya. Tepuk tangan penonton seolah-olah tak berakhir ketika Yixing muncul di atas panggung untuk memberi hormat setelah tirai diturunkan.
Tapi seperti yang diduga, Yixing merasa tidak sehat di akhir pertunjukkan, tapi dia tidak jatuh pingsan seperti waktu itu. Dia jatuh pingsan keesokan harinya dan sejak saat itu kondisinya terus melemah. Dokter Park mengharuskan Yixing dirawat di rumah sakit dan nama Yixing kini berada di puncak daftar pasien yang menunggu donor jantung.
Saat itu, kondisi Yixing bukan lagi menjadi rahasia. Rombongan Hyoyeon yang sebenarnya sudah kembali ke Daegu, terbang kembali ke Seoul untuk menjenguk Yixing setelah mendengar kabar itu.
Junmyeon dan orangtua Yixing adalah orang-orang yang paling sering menemani Yixing di rumah sakit. Tapi setelah dua minggu di rumah sakit, Junmyeon merasa Yixing mulai bersikap aneh padanya. Yixing mulai mengacuhkannya dan jarang berbicara dengannya. Awalnya Junmyeon merasa hal itu cukup wajar. Bagaimanapun, saat ini Yixing jauh lebih lemah daripada sebelumnya, jadi wajar kalau sekarang namja itu lebih suka berdiam diri.
Tapi suatu pagi, ketika Junmyeon datang menjenguknya seperti biasa, Yixing menatapnya dan bertanya datar. "Hyung, kenapa kau datang kesini setiap hari?"
"Mmm?" gumam Junmyeon sambil menatap Yixing yang berbaring di sampingnya. Namja yang dulunya ceria itu kini terlihat jauh lebih kurus, lebih pucat, dengan lingkaran hitam yang terlihat jelas di sekeliling matanya.
Mata hitam Yixing menatap Junmyeon dengan tajam. "Kau tidak perlu datang setiap hari."
"Aku tidak keberatan."
"Tidak, pergilah." Desak Yixing. "Jangan menunda apa yang seharusnya kau lakukan karena kau terpaksa menemaniku disini."
"Tapi, Zhang..."
"Pergilah, hyung." Sela Yixing lebih keras. "Tolong pergilah."
Dan sejak hari itu Yixing tidak mau menemui Junmyeon.
"Dia tidak mau menemuiku?" tanya Junmyeon bingung ketika dia kembali ke rumah sakit keesokan harinya. "Kenapa?"
Victoria mendesah berat dan menggeleng. "Ahjumma tidak tau, Myeon. Mungkin dia hanya ingin sendirian hari ini." Victoria tersenyum, mencoba menenangkan Junmyeon. "Bagaimana kalau kau kembali lagi besok? Mungkin besok perasaannya sudah lebih baik."
Tapi Yixing tetap tidak mau menemui Junmyeon keesokan harinya. Dan keesokan harinya. Dan keesokan harinya lagi. Hal ini membuat Junmyeon frustrasi. Dia tidak mengerti kenapa Yixing tiba-tiba tidak mau menemuinya, tidak mau berbicara dengannya, tidak mau berurusan dengannya. Yixing mau menemui Yuri, Yunho, Sooyoung, dan teman-temannya yang lain. Dia mau menemui Yifan, Sehun dan juga Siwon dan Yoona yang datang menjenguknya. Tapi dia bersikeras tidak mau menemui Junmyeon. Junmyeon jadi bertanya-tanya apa yang sudah dilakukannya. Apa salahnya? Apakah dia melakukan sesuatu yang membuat Yixing marah? Junmyeon sungguh tidak mengerti.
Meskipun Yixing menolak menemuinya, Junmyeon tetap datang ke rumah sakit setiap hari. Dia hanya ingin berada di dekat Yixing. Dia hanya ingin melihat Yixing. Meskipun namja itu mengabaikannya dan tidak mengakui keberadaanya, setidaknya Junmyeon masih bisa duduk di luar kamar Yixing. Yang terpenting adalah, Junmyeon tetap bisa berada di dekat Yixing dan tetap bisa melihat Yixing.
**ooo**
Hari itu adalah hari kelima belas Junmyeon datang ke rumah sakit dan diberitahu bahwa Yixing masih tidak mau menemuinya. Junmyeon hanya bisa tersenyum lesu pada Victoria yang terlihat tersiksa karena tidak bisa membiarkan Junmyeon masuk ke kamar rawat Yixing. Tanpa berkata-kata, Junmyeon duduk di bangku batu yang sudah sering didudukinya selama dua minggu terakhir.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar rawat Yixing terbuka dan Zhoumi melangkah keluar dengan lesu. Dari raut wajahnya, Junmyeon tau bahwa pria itu keluar bukan untuk menyuruh Junmyeon masuk.
"Junmyeon-ah, temani aku minum kopi." Ajak Zhoumi.
Junmyeon beranjak dan mengikuti pria itu ke kafetaria.
"Kopi disini mengerikan." Komentar Zhoumi ketika mereka sudah duduk berhadapan di meja bundar di kantin rumah sakit. "Tapi kurasa kau harus menerima apa yang bisa kau dapatkan hari ini."
"Zha -maksudku Yixing bisa membuat kopi yang sangat enak." Kata Junmyeon tanpa berpikir.
Zhoumi menatap Junmyeon sejenak. Sinar matanya terlihat lembut tapi sedih. "Yixing sedang sakit. Karena itu dia bersikap seperti itu. Kuharap kau tidak tersinggung atau marah."
Junmyeon menunduk menatap kopi di hadapannya. Tenggorokannya tercekat. Pria di hadapannya ini jelas-jelas menderita karena mencemaskan putranya, tapi dia masih bisa mencoba menghibur Junmyeon.
"Aku mengerti, ahjussi." Kata Junmyeon serak. "Aku tidak marah. Aku hanya berharap aku tidak melakukan sesuatu yang membuatnya marah."
"Kau mencintainya, kan?" tanya Zhoumi pelan.
Junmyeon mengangguk kecil.
"Aku yakin dia juga merasakan hal yang sama."
Junmyeon tersenyum muram. "Aku harap aku bisa seyakin ahjussi."
"Dia putraku. Aku mengenalnya."
"Aku hanya berharap bisa mendengarnya langsung dari mulutnya suatu hari nanti. Mungkin kalau dia sudah bersedia menemuiku."
"Aku akan mencoba bicara lagi padanya."
Junmyeon tersenyum. Dia sangat berterima kasih pada Zhoumi yang sudah beberapa kali mencoba membujuk Yixing. Meski tanpa hasil, tapi Zhoumi masih terus mencoba. Tiba-tiba Junmyeon teringat sesuatu. Dia mengerjab ketika teringat sesuatu yang sempat terlupakan olehnya. Kenapa dia bisa sebodoh ini?
"Junmyeon-ah, ada apa?" tanya Zhoumi cemas ketika melihat perubahan raut wajah Junmyeon.
Junmyeon merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar kertas biru yang sudah lusuh. Sepertinya kertas ini adalah harapan terakhirnya untuk membuat Yixing bersedia menemuinya. Junmyeon meletakkan kertas itu di atas meja dan menyodorkannya ke arah Zhoumi.
"Ahjussi, bisakah aku meminta sedikit bantuan?" Pinta Junmyeon. "Tolong berikan ini padanya."
Zhoumi meraih kertas itu dan membaca tulisan yang tertera disana. Dia tersenyum kecil. "Dan permintaanmu?"
"Aku ingin diijinkan menemuinya. Satu kali saja, kalau dia memang tidak mau menemuiku lagi."
Zhoumi mengangguk dan mengantongi Voucher Permintaan Kepada Zhang Yixing. "Pasti akan kuberikan padanya."
Junmyeon mendesah lega. Sebersit harapan timbul dalam hatinya. Yixing pasti akan mengabulkan permintaannya. Dia sudah berjanji. Akhirnya Junmyeon bisa menemuinya. "Terima kasih, ahjussi."
"Justru aku yang harus berterima kasih padamu."
"Untuk apa?"
"Terima kasih karena mencintai putraku."
**ooo**
Baru dua hari kemudian Yixing mengabulkan permintaan Junmyeon dan mengijinkan Junmyeon masuk menemuinya. Zhoumi menepuk pundak Junmyeon dengan pelan ketika dia dan Victoria keluar dari kamar Yixing.
Setelah pintu kamar tertutup, Junmyeon mengalihkan pandangannya ke arah Yixing yang setengah berbaring bersandarkan bantal-bantal. Junmyeon mendapati dirinya tidak tau harus mengatakan apa. Ketika tadi menunggu di luar kamar, dia merasa ada banyak hal yang ingin dikatakannya pada Yixing. Banyak sekali yang ingin ditanyakannya. Tapi sekarang, ketika dia sudah berhadapan dengan Yixing, Junmyeon lupa apa yang ingin dikatakannya. Pikirannya menguap begitu saja.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?"
Suara Yixing yang lirih terdengar jelas di kamar yang sunyi itu, membuat Junmyeon tersentak dari lamunannya. Junmyeon mengamati wajah Yixing dengan seksama, memperhatikan pipinya yang pucat dan cekung. Namja itu terlihat begitu rapuh dan seketika dada Junmyeon terasa sangat nyeri. Begitu nyerinya sampai dia nyaris tidak bisa bernafas.
"Ini kedua kalinya kau menghindariku, Zhang." Gumam Junmyeon pelan. "Kenapa kau menghindariku?"
"Aku tidak menghindarimu, hyung. Aku hanya tidak ingin kau menghabiskan waktumu disini."
"Apa maksudmu menghabiskan waktuku?"
Yixing mengabaikan pertanyaan Junmyeon. "Kau sudah ada disini sekarang, jadi sebaiknya kau mengatakan apa yang ingin kau katakan."
"Tolong jangan menghindariku."
Yixing menatap Junmyeon sejenak, lalu memalingkan wajah.
Junmyeon mencondongkan tubuh dan mengulurkan tangan, hendak meraih tangan Yixing. Tapi Junmyeon mendadak ragu. Apakah Yixing akan menarik diri apabila Junmyeon menyentuhnya? Junmyeon tidak bisa menghadapi penolakan lain saat ini. Dia merasa hatinya tidak akan kuat menghadapinya. Jadi dia mengurungkan niat dan menarik kembali tangannya.
"Kalau aku membuatmu marah, aku minta maaf." Kata Junmyeon.
Yixing mengerjab lalu menggeleng pelan. "Aku tidak marah."
"Aku..." suara Junmyeon tercekat dan dia harus berhenti sejenak untuk mengendalikan diri. "Kalau kau tidak mau berbicara padaku, tidak apa-apa. Kalau kau tidak mau aku berbicara padamu, itu juga tidak apa-apa. Tapi tolong jangan menghindariku. Biarkan aku disini bersamamu."
Mata Yixing tampak berkaca-kaca dan bibirnya terkatup rapat.
"Mungkin kau tidak membutuhkanku, tapi aku membutuhkanmu."
Setetes airmata jatuh dari sudut mata Yixing dan namja itu cepat-cepat menghapusnya. Tapi Junmyeon sudah melihatnya dan harapannya kembali terbit tanpa bisa dicegah. Yixing tidak mungkin menangis kalau kata-kata Junmyeon tidak berpengaruh baginya, kan? Kali ini Junmyeon memberanikan diri menggenggam tangan Yixing. Namja itu tidak menolak dan Junmyeon merasa jantungnya berdebar lebih keras.
"Katakan padaku..." bisik Junmyeon sambil menatap Yixing sungguh-sungguh, meski namja itu masih memalingkan wajahnya. "Bagaimana perasaanmu padaku?"
Begitu kata-kata itu meluncur dari mulut Junmyeon, isakan lirih terdengar dari mulut Yixing. Airmata perlahan mengaliri pipinya sementara dia memejamkan mata dan menggigit bibir.
"Apakah kau juga mencintaiku? Apakah ada sedikit saja kemungkinan kau bisa mencintaiku?" tanya Junmyeon lirih.
Airmata Yixing mengalir semakin deras dan isakannya semakin terdengar. Melihat Yixing menangis seperti itu membuat Junmyeon tersiksa. Dia merangkul bahu Yixing dan menarik Yixing ke dalam pelukannya. Junmyeon membiarkan Yixing membenamkan wajahnya di dadanya sementara dia menempelkan pipinya ke kepala Yixing dan membisikkan kata-kata yang diharapkan bisa menenangkan namja itu.
Yixing membiarkan Junmyeon memeluknya, membiarkan Junmyeon mengecup keningnya, membiarkan Junmyeon mengusap punggungnya untuk menenangkannya, tapi dia tetap tidak menjawab pertanyaan Junmyeon.
**ooo**
Dua minggu kemudian mereka mendapat berita bahwa jantung yang sesuai untuk Yixing sudah tersedia.
Lampu merah itu masih menyala. Lima jam sudah berlalu, namun operasi masih berlangsung. Seorang perawat terkadang keluar dari ruang operasi untuk menyampaikan perkembangan selama operasi kepada keluarga Yixing. Sejauh ini, perkembangan yang disampaikannya cukup positif.
Orangtua Yixing, Junmyeon dan Sehun berkumpul di depan ruang operasi dan menunggu dengan tegang. Sehun ada disana untuk menemani Junmyeon. Dia tau betapa pentingnya Yixing bagi Junmyeon. Orang butapun tau betapa Junmyeon sangat mencintai Yixing. Sehun tau Junmyeon membutuhkan banyak dukungan. Dan itulah yang Sehun berikan pada kakaknya sekarang.
Junmyeon menopangkan kedua siku ke paha dan menangkup kepala dengan kedua tangannya. Pikirannya melayang ke saat sebelum Yixing dibawa ke ruang operasi. Setelah kedua orangtuanya memeluk, mencium, dan mendoakannya, Yixing menoleh ke arah Junmyeon dan memintanya mendekat.
Terus terang Junmyeon merasa takut. Sangat takut. Operasi transplantasi jantung bukanlah operasi sepele. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya.
Junmyeon menghampiri ranjang Yixing dan meraih tangannya. Tangan Yixing terasa begitu kecil, rapuh, dan dingin.
Yixing tersenyum kecil. Dengan tangannya yang lain, dia menyentuh pipi Junmyeon. "Kemarilah, hyung." Bisiknya. Junmyeon menunduk dan membiarkan Yixing merangkul lehernya. "Doakan semoga operasiku berhasil."
Junmyeon mengangkat sedikit tubuhnya supaya bisa melihat ke mata Yixing. Dikecupnya bibir Yixing dengan lembut. "Aku akan menunggumu. Semoga berhasil. Dan kembalilah padaku."
Mata Yixing berkaca-kaca, tapi dia tetap tersenyum. "Aku pasti akan kembali. Untukmu."
Sekarang Junmyeon duduk menunggu dengan tegang. Dia memandang ke sekeliling ruangan dan melihat kecemasan yang sama di wajah semua orang. Junmyeon kembali menunduk menatap lantai.
Berapa lama lagi?
Semoga dia baik-baik saja.
Semoga dia baik-baik saja.
Semoga dia...
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dan Dokter Park keluar dari sana dengan wajah lelah. Junmyeon melompat berdiri dan menghampiri dokter itu. Begitu pula dengan Sehun dan kedua orangtua Yixing.
"Operasinya berjalan dengan baik." Dokter Park menenangkan orang-orang yang mengerubunginya. "Semuanya berjalan sesuai harapan. Kami sudah melakukan semua yang harus kami lakukan. Jantung baru sudah berdetak di dalam tubuh Yixing. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menunggu dan mengawasi kondisinya selama seminggu ke depan. Dan berharap tubuh Yixing tidak menolak jantung baru yang diberikan padanya."
Awalnya, semua memang berjalan dengan baik. Tapi rupanya, Tuhan berkehendak lain. Tiga hari kemudian, para dokter menyampaikan kabar itu. Dengan sangat menyesal mereka berkata bahwa tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Ternyata tubuh Yixing menolak jantung barunya.
**ooo**
Alunan nada itu menggema sampai ke seluruh aula pertunjukkan yang kosong itu. Junmyeon duduk di depan piano, kesepuluh jarinya bergerak lincah di atas tuts. Junmyeon memejamkan matanya sampai dia selesai memainkan nada terakhir lagu itu.
Tepuk tangan seseorang bergema di belakangnya. Junmyeon berbalik dan melihat Yifan berdiri di bawah panggung, di dekat barisan pertama kursi penonton.
"Kau tidak menjawab teleponmu, tapi aku yakin kau pasti ada disini." Kata Yifan sambil tersenyum.
Junmyeon merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Dia melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari manajernya. "Maaf, aku tidak mendengarnya tadi."
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa tiket konsermu sudah terjual habis. Segalanya berjalan sesuai rencana."
"Terima kasih, Fan."
Yifan naik ke panggung dan menepuk pelan bahu Junmyeon. "Bagaimana kabarmu?"
Junmyeon menghela nafas dalam-dalam. "Aku akan baik-baik saja."
Dua bulan sudah berlalu sejak Junmyeon kehilangan Yixing. Selama sebulan pertama, Junmyeon hampir tidak mampu meninggalkan apartemennya. Dia seolah-olah kehilangan semangat hidup dan terpuruk dalam kesedihannya. Beruntung dia punya keluarga dan teman-teman yang selalu menahannya setiap kali dia jatuh. Perlahan-lahan, dia sudah bisa berfungsi kembali. Perlahan-lahan dia mulai bisa menembus kabut tebal yang menyelimutinya selama ini. Perlahan-lahan dia mulai menerima kenyataan bahwa Yixing tidak akan pernah kembali padanya, meski dia memohon kepada langit dan bumi sekalipun.
Meskipun luka dalam hatinya akan sembuh seiring berjalannya waktu, tapi Junmyeon yakin dia tidak akan pernah kembali seperti dulu. Dia telah kehilangan sebagian hati dan jiwanya pa hari Yixing meninggal. Dia tidak akan pernah utuh lagi.
"Myeon, bagaimana kalau kutraktir makan malam?"
Suara Yifan menyentakkan Junmyeon dari lamunannya. Tapi belum sempat Junmyeon menjawab, ponselnya berbunyi. Setelah membaca nama yang tertera di layar, Junmyeon bergegas menempelkan ponselnya ke telinga. "Ya? Ahjussi? Tidak, ahjussi sama sekali tidak mengganggu...Ya, tentu saja... Dimana? ... Baiklah, aku akan kesana sekarang."
"Maaf, Fan. Aku harus pergi menemui Zhoumi ahjussi."
"Pergilah." Sahut Yifan ringan. "Sampaikan salamku padanya."
"Junmyeon-ah, sudah lama kami tidak melihatmu. Jangan menjadi orang asing. Kunjungilah kami di Incheon sesekali. Kau tau, kau akan selalu diterima dengan tangan terbuka." Kata Zhoumi ketika mereka duduk berhadapan di sebuah cafe kecil yang terletak tak jauh dari Seoul Convention Hall.
Junmyeon tersenyum kecil dan mengangguk singkat. "Terima kasih. Bagaimana kabar ahjussi dan Victoria ahjumma?"
"Kami masih bertahan, meski istriku masih sering menangis setiap kali memikirkan Yixing."
Junmyeon memahami perasaan itu. Dia juga sering menunduk dan membiarkan airmatanya mengalir setiap kali dia merindukan Yixing.
"Karena itu, istriku butuh sedikit waktu sebelum bisa membereskan barang-barang Yixing. Dan juga, aku minta maaf karena tidak bisa menyerahkan ini padamu lebih awal."
Junmyeon menatap camera digital yang diletakkan Zhoumi di atas meja dengan tatapan bertanya.
"Kami menemukannya di antara barang-barang Yixing yang kami bawa pulang dari rumah sakit. Dan aku yakin Yixing ingin kau memilikinya."
"Ahjussi ingin aku menyimpannya?"
"Ya. Yixing meninggalkannya untukmu. Kurasa kau harus melihatnya." Kata Zhoumi yakin.
Junmyeon baru akan menyalakan camera digital itu ketika Zhoumi menghentikannya. "Sebaiknya kau melihatnya di rumah. Aku juga harus segera pulang."
Zhoumi berdiri dan memeluk Junmyeon dengan hangat. "Kami pasti akan menonton konsermu minggu depan." Katanya ramah. "Junmyeon-ah, kuharap kau bahagia."
Berusaha menelan bongkahan pahit di tenggorokannya, Junmyeon tersenyum dan mengangguk. "Aku harap ahjussi dan ahjumma juga bahagia."
**ooo**
Malam itu, Junmyeon kembali ke apartemennya yang sunyi dan hampa. Junmyeon menyalakan lampu ruang duduk dan menghempaskan dirinya di sofa. Dia meletakkan camera digital dari Zhoumi di atas meja. Setelah mengamati benda itu dengan ragu, akhirnya Junmyeon meraih benda itu dan menyalakannya. Gambar yang muncul di layar membuat nafas tercekat dan dia hampir menjatuhkan camera digital di tangannya.
"Hai, Junmyeon hyung." Kata Yixing yang menatap lurus ke arah Junmyeon dari layar.
Mendadak mata Junmyeon terasa perih sementara seluruh emosi yang berhasil dipendamnya selama ini muncul kembali ke permukaan dan menerjangnya, membuatnya hampir tidak bisa bernafas. Melihat wajah Yixing di layar, mendengar Yixing memanggil namanya, mengingatkannya betapa dia merindukan namja itu. Dia begitu merindukan Yixing sampai sekujur tubuhnya terasa sangat sakit.
Junmyeon tau Yixing merekam ini di rumah sakit dari seragam pasien yang dikenakannya. Wajah Yixing terlihat pucat, cekung, dan lelah, tapi dia masih mencoba tersenyum ketika menatap lurus ke arah kamera, ke arah Junmyeon.
"Aku belum pernah merekam diri sendiri, jadi ini terasa aneh." Kata Yixing kikuk. "Tapi aku ingin melakukan ini karena... karena ada yang ingin kukatakan padamu. Maksudku, kalau kau sedang melihat ini, itu berarti sesuatu telah terjadi dan aku tidak bisa mengatakannya padamu secara langsung."
Junmyeon mengusap pipinya dan menutup mulut dengan satu tangan.
Yixing tersenyum kecil. "Kau tau, sebenarnya aku sudah lupa bahwa kau masih memiliki ini." Yixing mengacungkan selembar kertas biru yang sudah lusuh. Voucher Permintaan Kepada Zhang Yixing. "Aku tidak pernah menduga kau akan meminta Appaku menyerahkan ini padaku."
"Aku tidak mengatakannya padamu tadi ketika kau berada disini, tapi..." Yixing terdiam sejenak dan menghela nafas perlahan. "Hyung, maafkan aku karena menghindarimu selama ini. Kurasa aku hanya bersikap bodoh dan berharap segalanya akan lebih mudah kalau kita tidak bertemu. Lebih mudah bagimu, juga bagiku. Tapi aku salah." Yixing menggigit bibir lalu melanjutkan. "Sebenarnya aku tidak bermaksud menghindarimu. Aku hanya berusaha menghindari perasaanku sendiri. Bagiku suatu perasaan tidaklah nyata kalau aku menolak merasakannya. Perasaan itu tidaklah nyata kalau aku menolak mengakuinya."
Yixing menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. "Dan...aku menghindar karena aku takut pada perasaan yang kau timbulkan dalam diriku." Yixing menelan ludah dengan susah payah. "Aku merasa tidak berhak merasakan perasaan yang selalu membuatku bahagia tanpa alasan itu, yang selalu membuatku tersenyum setiap kali mengingatmu, yang selalu membuatku kembali berharap, kembali memikirkan kata 'seandainya'"
Mata Yixing terlihat berkaca-kaca, tapi dia tetap tersenyum. "Aku tidak berhak merasakan perasaan itu. Tidak sementara kondisiku masih seperti ini." Setetes airmata jatuh bergulir di pipi Yixing. "Tidak ada yang bisa kuberikan padamu saat ini. Tidak ada yang bisa kutawarkan. Juga tidak ada yang bisa kujanjikan."
Junmyeon memejamkan mata dan membiarkan airmatanya mengalir di pipinya. Dadanya terasa sangat sakit. Hatinya terasa diremas-remas. Demi Tuhan... apakah Yixing tidak tau bahwa Junmyeon tidak menuntut apapun darinya? Junmyeon hanya ingin berada di sampingnya, di dekatnya, bersamanya. Karena seperti yang sudah pernah dikatakannya pada namja itu, Junmyeon membutuhkannya. Yixing mungkin tidak membutuhkan Junmyeon, tapi Junmyeon sangat membutuhkannya.
"Karena itu, ketika tadi kau bertanya padaku, aku tidak memberikan jawaban yang kau minta. Kau pantas mendapatkan semua yang terbaik di dunia ini, hyung. Dan aku tidak bisa memberikannya padamu saat ini." Lanjut Yixing lirih. "Karena itu aku diam, tapi aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu saat nanti, ketika aku mendapat jantung baru, ketika aku sehat kembali, ketika aku memiliki masa depan yang bisa kuserahkan padamu, aku akan berhenti menghindar. Saat itu aku akan berdiri tegak di hadapanmu dan memberikan jawaban yang pantas kau terima. Dan saat itu, aku akan menyerahkan seluruh hidupku padamu."
Yixing menghela nafas dalam-dalam. Junmyeon juga menghela nafas dalam-dalam, berusaha meredakan rasa nyeri di dadanya. Tapi sia-sia saja.
"Tapi kemudian aku berpikir. Bagaimana kalau aku tidak mendapat jantung baru? Bagaimana kalau... bagaimana kalau pada akhirnya aku tidak mendapatkan kesempatan untuk berdiri di hadapanmu dan mengatakan apa yang ingin kukatakan padamu? Karena itulah aku merekam ini, untuk berjaga-jaga." Yixing kembali menelan ludah dengan susah payah.
Yixing memiringkan kepalanya dan menatap langsung ke arah Junmyeon. Airmata kembali mengalir dari sudut matanya. "Hyung, aku ingin kau tau bahwa aku mensyukuri hari dimana aku mengenalmu. Aku ingin berterima kasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku. Terima kasih karena telah menemaniku selama ini. Terima kasih karena telah bersabar menghadapi sikapku akhir-akhir ini. Aku tidak tau kenapa kau bisa jatuh cinta pada orang sepertiku, tapi... terima kasih karena telah mencintaiku." Suara Yixing berubah menjadi bisikan serak. Dia menunduk dan terisak pelan.
Junmyeon mengerjab, berusaha menyingkirkan airmatanya. Jari telunjuknya yang gemetar menyentuh wajah Yixing di layar. Dialah yang seharusnya berterima kasih kepada Yixing. Karena telah menemaninya selama ini, karena telah bersabar menghadapinya meskipun dia bersikap buruk pada namja itu di awal perkenalan mereka, karena membuatnya bahagia selama ini.
Yixing menarik nafas dan kembali menatap layar. Seulas senyum samar tersungging di bibirnya. "Satu-satunya penyesalanku dalam hidup adalah aku tidak bisa bersamamu sekarang dan mengatakan semua ini secara langsung padamu. Tapi tolong percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku ingin selalu bersamamu. Percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku ingin selalu berada di dekatmu. Dan percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku juga mencintaimu."
Junmyeon merasa dirinya berhenti bernafas. Jantungnya berhenti berdetak. Dan dunia seolah-olah berhenti berputar.
Apakah dia salah dengar?
Sebersit harapan yang dikiranya sudah terkubur jauh di dalam hatinya tumbuh kembali, seiring jantungnya yang kembali berdetak. Dua kali lebih cepat. Dua kali lebih keras.
Apakah dia salah dengar?
"Aku mencintaimu, Kim Junmyeon." bisik Yixing sekali lagi, seolah-olah ingin meyakinkan Junmyeon. "Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku."
Junmyeon memejamkan mata sementara rasa lega yang hebat menguasainya, menyelubunginya, menyesakkannya, membuat sekujur tubuhnya gemetar, dan membuat airmatanya kembali tumpah keluar.
Ini bukan mimpi.
Akhirnya harapan yang tidak lagi berani diharapkannya itu terkabul. Akhirnya dia mendapat jawaban yang ditunggu-tunggunya selama ini.
Akhirnya dia tau Zhang Yixing mencintainya.
Itulah yang terpenting baginya.
Karena seandainya tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa dipercayainya, Junmyeon masih bisa bergantung pada keyakinan bahwa Yixing mencintainya.
Dan dia yakin dia akan baik-baik saja.
Karena Zhang Yixing mencintainya.
**ooo**
"Seseorang pernah berkata padaku bahwa dia tidak tau kenapa aku bisa mencintai orang seperti dirinya. Terus terang saja, aku juga tidak tau. Kurasa aku termasuk orang yang merasa kita tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang. Karena cinta terjadi begitu saja. Kita tidak bisa memaksakan diri mencintai seseorang, sama seperti kita tidak bisa memaksakan diri membenci orang yang kita cintai."
Junmyeon terdiam sejenak, menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan pelan. "Tapi, kalau aku harus menjawab pertanyaan itu, kurasa aku akan berkata bahwa aku mencintainya karena dia adalah Zhang Yixing."
Mata Junmyeon menyapu sekeliling aula konser yang dipenuhi ratusan penonton. Dia melihat kedua orangtuanya duduk di barisan pertama kursi penonton. Yifan dan Sehun juga ada disana. Lalu matanya beralih ke arah Zhoumi dan Victoria yang juga duduk di barisan pertama. Mereka tersenyum menyemangati Junmyeon. Akhirnya mata Junmyeon terpaku pada kursi kosong di samping Victoria dan dadanya langsung terasa nyeri.
"Meskipun dia tidak bisa berada disini sekarang." Kata Junmyeon tanpa mengalihkan pandangan. "Aku harap dia mendengar lagu ini, dimanapun dia berada. Dan aku harap dia tau bahwa selama aku masih bernafas, aku akan selalu mencintainya. Sepenuh hatiku. Selamanya."
Beberapa saat kemudian, lagu yang selalu membuat Junmyeon teringat pada Yixing dan setengah jiwanya yang hilangpun mengalun lembut, mengisi seluruh sudut ruangan besar yang sunyi senyap itu dengan nada-nada indah. Membuat para penonton mendesah dan memejamkan mata, membayangkan sinar matahari yang hangat, padang rumput yang hijau, dan langit biru tak berawan.
FIN
A/N :
Hai semuanyaaaaa #tebarbunga
Ending yang sangat panjang ya?
Chapter 13, dipublish pada tanggal 13, mwehehehe xD
Akhirnya saya memutuskan endingnya sama ama novelnya, tapi semoga aja angstnya gak terlalu berasa ya.
~ cosmo : Ini next chap sekaligus endingnya. Gomawo, chingu :D
~ Kin Ocean : Junmyeon udah dapat jawabannya di chap ini, meski keadaannya udah beda :(. Ah, saya juga suka pas bagian itu. Si junmen kayak mau bilang, Yixing boleh peluk dia kapanpun dia mau. Ini udah dilanjut. Sekaligus endnya sih. Gomawo :D
~ BlackandBlue : Dua kata itu emang sederhana, tapi maknanya itu lho, beuh, dalem banget. Iya, si Junmen berusaha kuat biar dia bisa jagain Yixing. Tapi dia gak kuat nahan rasa takutnya sendirian, akhirnya dia curhat ke Sehun. Aih, kamu beruntung, chingu. Ini lanjutan sekaligus chap endnya. Gomawo :D
Terima kasih banyak buat para reader, reviewer, favoriter, dan follower sekalian. Mian gak bisa bales satu-satu. Terima kasih banyak buat segala bentuk dukungan, semangat, saran, dan kritik yang udah kalian berikan untuk ff ini, dari awal sampai akhir. Terima kasih semuanya ~
Saranghae all *kecupsatusatu*
Sampai jumpa di fanfic lainnya ~
Wanna to review in this last chapter? /wink/
