Rated : T/M
Genre : Romance,comedy,friendahip,drama,hurt
BoyXBoy
Dont like Dont Read
.
.
.
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 6
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang namja tampan yang dingin ini sedang mencari pria yang ia sebut dengan rusa manis akhir akhir ini. Sehun memang dingin. Namun entah kenapa,namja bermata rusa itu telah membuat seperempat dari es yang di bentengi Sehun mencair. Sehun mencari nya dengan sedikit tergesa gesa mengingat jam istirahat kedua lebih singkat dari jam istirahat pertama.
"Ahh itu dia!" Pekik Sehun saat menemukan rusanya.
Luhan seperti biasa,ia menggunakan earphone nya di rerumputan dengan gitar kesayangannya. Luhan membuat kesalahan pada not terakhirnya yang membuat ia ingin segera putus asa.
"Aihh idiot! Ini salah!"gerutu Luhan dengan geram.
"Tentu saja itu salah rusa."kata seseorang dibalik Luhan.
Seseorang itu melipat tangannya dibelakang badannya,tersenyum kearah Luhan. Tapi entah kenapa,saat Luhan mendongak mencoba mencari sosok yang menganggunya,ia mendapati Sosok familiar untuknya. Wajahnya memblushing saat seseorang yang dikenal dengan nama Oh Sehun itu tersenyum untuknya. Tak mau terlihat seperti idiot sungguhan,Luhan reflek memalingkan wajahnya dari Sehun menutupi pipinya yang sudah bisa Luhan tebak merona hebat.
"Kau lagi. Kau lagi. Aish,apa tak bisa kau pergi dan tidak mengangguku Tuan Oh?" Gerutu Luhan namun tak menatap Sehun.
Sehun mengernyit,biasanya rusa itu akan marah dan berteriak teriak sambil menatap matanya lekat. Namun beda kali ini. Ia lebih memilih memalingkan wajahnya daripada harus berteriak teriak sambil berkontak mata langsung dengannya.
"Bukankah tak sopan membalas percakapan seseorang jika tak membalas tatapan matanya?"tanya Sehun yang duduk di samping Luhan
"Yak! Mwohaseyo? Pergi! Pergi sana?!"
Sebenarnya niat Luhan mengusir Sehun bukan karena ia membencinya. Tapi Luhan takut kalau pipinya tambah merona jika ia duduk di samping namja pabbo disampingnya ini. Merona?
"Aih dasar galak. Tak bisakah kita berdamai? Apa kau tak bisa mengatasi kecanggunganmu? Sehingga kau selalu menolak kehadiranku?"
Yahh dan benar saja. Mendengar itu,pipi Luhan semakin merona dan salah tingkah. Luhan semakin menghindari kontak mata dengan Sehun karena tak ingin terlihat idiot di depannya.
Sehun yang melihat itu hanya bisa mengerutkan dahi samar ketika melihat tingkah laku rusa manis di depannya. Aneh. Benar benar aneh
"Jangan asal bicara! Untuk apa aku canggung di hadapan mu?"tanya Luhan tanpa berkontak mata dengan Sehun
"Hm.. Ngomong ngomong,nada itu seharusnya kau tekan dua kali"kata Sehun mencari topik baru
Luhan memandang sekilas wajah Sehun lalu berdecak kesal kembali pada Gitar nya
"Jangan sok tau."kata Luhan pelan namun Sehun masih bisa menangkapnya.
Sehun mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum licik. menarik dalam dalam nafasnya lalu menghembuskannya Lembut. Lalu terdengar suara ponsel Luhan yang mancabut sambungan earphphone nya,membuat suara instrument yang dari tadi Luhan dengarkan terdengar oleh Sehun juga.
"Ken Hirano."gumam Sehun pelan
Luhan mengerutkan dahi samar. Apa katanya tadi? Ken Hirano? darimana ia bisa tau nama guitarist terkenal itu?
"Kau tau?"tanya Luhan menoleh pada Sehun.
Sehun membalas tatapan mata Luhan,namun Luhan buru buru menoleh kembali agar terhindar dari mata menakutkan itu. Sehun terlihat mengambil sesuatu dari dompetnya. Menunjukan benda plastik mewah berlaminating di hadapan Luhan langsung
"Apa ini?"tanya Luhan menatap Sehun
"Bacalah Rusa"perintah Sehun
Luhan mencoba menyipitkan mata membaca apa yang di perlihatkan Sehun.
"GOLDEN CARD-MASTER OF GUITARIST-KEN HIRANO-SEOUL,12 APRIL."kata Luhan membaca apa yang ditunjukkan Sehun.
Sehun tersenyum miring,sedangkan Luhan membelalak tak percaya. Apa tadi? Ken Hirano berasal dari Seoul? Jangan bilang kalau...
"Kau mencuri dari siapa hah?"tanya Luhan berusaha merebut kartu itu,namun segera Sehun memasukkan kembali kartu itu pada dompetnya
"Mencuri? Apa gunanya aku mencuri? Bahkan aku bisa saja membeli seluruh aset agensi miliknya kalau dia bukan aku"jawab Sehun sedikit sinis melihat Luhan
Kalau dia bukan aku. Tolong garis bawahi bagian Sehun mengatakan itu. Itu artinya dia-
"Apa maksudmu ?"tanya Luhan masih memastikan kalau KEN HIRANO yang ia idolakan selama ini bukan dia. Bukan Oh Sehun yang selalu menganggunya.
"Kalau sudah seperti ini,siapa yang idiot? apa masih aku? Dasar"gerutu Sehun
Luhan yang masih berusaha mengerti apa yang dikatakan Sehun,memejamkan matanya erat. Seakan dunia berhenti saat Luhan mengerti kalau namja yang selama ini. Tidak, Belum lama ini menganggunya adalah KEN HIRANO. Ken Hirano yang selama ini ia idolakan. Luhan membuka matanya perlahan berusaha menutupi rona matanya dan mencoba berkontak mata dengan "idolanya"
"Aku tak percaya harus mengatakan ini. Tapi Oh Sehun,bisakah kau... Bisa..Bisakah kau memberikanku tanda tanganmu untukku? Ayolah Oh Sehun.. sun-sunbaenim"pinta Luhan dengan aegyo andalannya.
Kalau saja Sehun tidak sedang jual mahal saat ini,mungkin ia akan tergoda untuk langsung memberikan si Rusa Manis itu tanda tangannya. Namun ia masih menjaga separuh sifat dinginnya untuk rusa ini.
"Dalam mimpimu saja rusa!"kata Sehun sinis
Sehun beranjak dari tempatnya,meninggalkan perlahan Luhan yang masih memelas disana. Belum sampai lima langkah Sehun berjalan,Luhan sudah berteriak memanggilnya.
"Sehun sunbaenim! Aku mohon. Aku akan melakukan apapun untuk tanda tanganmu. Aku mau menjadi pesuruh mu selama beberapa hari,aku mau memberi makan anjing mu jika kau punya mau-"
"Kau mau datang ke pesta akhir tahun bersamaku?"
"Eoh?"
"Aku yakin kau mendengarkanku rusa"
"Tapi sun- Ahh ya baiklah! Aku mau"kata Luhan cepat saat mengetahui kalau Sehun akan beranjak lagi dari tempatnya.
Disamping itu,Sehun tersenyum dalam hati dan fisiknya. Namun ia tak menunjukkan kemenangan nya di depan Luhan. Itu akan membunuh karismanya. Sehun berbalik menghadap Luhan. terlihat pipi Rusa itu merona saat berkontak mata langsung dengannya.
"Kau yakin?
"Ya aku sangat yakin."
"Hmm. Baiklah. Tanggal 31 pukul 7 malam kau harus menjadi pasangan sementara bersamaku. Arraseo?"
"Ne Arraseo"
Sehun hanya manggut manggut lalu beranjak meninggalkan Luhan lagi. Luhan tersadar akan perkataannya barusan memukul mukul kepalanya. Sungguh hal yang memalukan. Selama ia di KIS,tak pernah sekalipun ia datang ke pesta pesta yang diadakan KIS karena memang itu tidak diwajibkan. Namun sekarang? Ahh bodohnya ia
"Apa yang kau katakan XI LU HAN! Dasar idiot!"gerutu Luhan memegang pipinya
Luhan masih tak percaya kalau ia harus pergi ke pesta akhir tahun bersama-bersama Sehun. Namja menyebalkan yang menolongnya beberapa hari lalu. Astaga,bagaimana kalau ia membuat malu seorang Oh Sehun? Kenapa sekarang Sehun yang ia khawatirkan?
"Baiklah Lu,Kau bisa kan? Hadapi saja. bayangkan,hanya dengan menjadi pasangan sementara dengannya,kau bisa dengan mudahnya mendapatkan tanda tangannya dengan mudah. Tanda Tangan KEN HIRANO LU! Ken guitarist terkenal alias OH SEHUN"kata Luhan meyakinkan dirinya dengan menepuk nepuk dadanya.
"Ahhh Michigeta!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau disana Luhan sedang merutukki dirinya sendiri,maka berbeda pula dengan namja albino ini. Suasana hatinya sungguh benar benar baik saat ini. Rasanya ia sedang mendapat tiket masuk surga. Sehun sangat senang sampai sampai ia melewatkan notification dari ponselnya yang bergetar. dengan senyum masih mengembang,ia meraih ponselnya lalu menggeser slide ponselnya. Senyum senang Sehun seolah tergantikan dengan senyum lirih saat mengingat walpaper ponselnya.
"Aku merindukanmu"gumam Sehun sangat pelan.
Sungguh,ia sudah berusaha mati matian melupakan dan meninggalkan kenangan pahit bersama mantan kekasihnya itu. Namun sang raja dari segala cinta seperti berkehendak lain. Raja Cinta tak mengizinkan Sehun untuk melupakan kenangan pahitnya bersama wanita itu. Bahkan Jepang,Profesi,dan Kantornya tak bisa sepenuhnya menghapus kenangan pahit itu dari benak Sehun. Sampai pria bermata rusa masuk ke dalam sedikit dari benak Sehun. Sedikit mengubah es dalam diri Sehun. Namun hanya pada rusa itu.. Tidak untuk semuanya.
Pria tampan dan lumayan dingin ini sedang merasakan denyutan kepala luar biasa pada kepalanya. Bahkan ia sampai mimisan berulang kali karena denyutan itu. Terkadang juga mual untuk beberapa waktu. Ahh sungguh itu menyiksa nya selama 2 bulan terakhir ini. Pria itu memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit pusat di Seoul. ia tak ingin penyakitnya ini terus menganggunya.
"Jadi begini Tuan Oh"
"Kris saja dokter. Panggil saya Kris"
Jadi kalau kalian menganggap itu Sehun,kalian salah besar. Itu adalah Kris. Anak sulung dari keluarga Oh. Kris sang direktur utama agensi TIM Entertaiment.
"Jadi begini Kris,terpaksa saya mengatakan ini"kata dokter itu melihat hasil CT scan milik Kris.
Kris menatap tenang dokter itu. Entah apa yang ada dipikiran Kris,Kris hanya ingin dokter itu cepat cepat mengatakannya,lalu Kris bisa menebus obatnya dan menjemput Tao kekasih hatinya. Kekasih hatinya. Bukan kekasih nya
"Anda mengidap Kanker Darah atau Leukimia. Masih bisa dibilang stadium awal karena mengingat penyakit anda tidak atau belum menyebar ke alat vital anda."kata Dokter itu dengan hati hati
Kris sedikit membelalak. Dulu saat ia berumur 10 tahun,ia pernah mencuri informasi atau lebih tepatnya menguping pembicaraan ibunya dengan kakeknya saat neneknya meninggal.
"Salah satu dari anakmu nanti akan mengidap penyakit yang sama dengan ibumu. karena Kanker darah merupakan penyakit turunan."
Kurang lebih begitulah apa yang dikatakan kakek Kris saat neneknya meninggal. Ternyata salah satu dari anak yang dimaksud kakeknya itu adalah Kris. Keturunan yang akan mengidap penyakit sama dengan Neneknya adalah Kris. Anak sulung dari Keluarga Oh. Direktur utama TIM Entertaiment.
"Syukurlah dok"balas Kris. Terlihat sang dokter mengerutkan dahi samar. Kris bersyukur namun suaranya yang parau itu tidak bisa ia sembunyikan.
"Karena jika bukan aku yang mengidap penyakit ini,maka adikku lah yang akan mengidap penyakit ini. Aku bisa kehilangan segalanya. Namun aku tak bisa kehilangan orang yang sangat aku cintai"kata Kris seolah menjawab apa yang ada dipikiran sang dokter
"Jadi,apa anda bersedia melakukan kemoterapi?"tanya dokter
Kris menatap sang dokter dengan tatapan bertanya
"Apa efeknya?"
berbeda dengan pasien lain. Jika pasien lain menanyakan berapa biaya pengeluaran untuk kemoterapi,berbeda dengan Kris.
"Rambut rontok,kulit kering,mimisan,sesak napas,mual dan muntah,-"
"Cukup dok."kata Kris memejamkan mata menahan suara parau nya
"Apa itu bisa mengurangi ketampananku?"tanya Kris dengan serius
Kalau suara Kris tidak terdengar seperti orang yang akan membunuh dan serius,mungkin sang dokter akan tertawa mendengar Kris yang mengkhawatirkan ketampanannya daripada kondisi selanjutnya.
"Mungkin."jawab sang dokter bergetar saat Kris menunjukan wajah devilnya
"Kalau begitu saya pertimbangkan. Besok saya kembali. Pastikan di jam yang sama tadi saat saya kesini,kau mengosongkan jadwalku. Jangan pernah mengatakan penyakit saya pada siapapun yang memanggilku Oh Yi Fan. Kalau begitu saya permisi. Selamat Siang"kata Kris beranjak dari tempatnya tanpa niat mendengar perkataan dokter selanjurnya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aish,kenapa ia lama sekali. kemana saja ia?"gerutu pria bermata panda sedang menunggu jemputan dari namja overprotective menurutnya. Siapa lagi kalau bukan Kim Zi Tao. Anak bungsu dari keluarga Kim. Tao selalu dijemput oleh Kris setiap hari nya.
Tak berapa lama,mobil lexus berwarna bluedark menghampiri Tao. Sosok namja melebihi kata tampan itu menurunkan kaca mobil nya. Siapa lagi kalau bukan Kris. Namja super tinggi yang sangat menyebalkan menurut Tao. Hanya menurut Tao. Selebihnya tidak ada yang menganggap Kris menyebalkan karena Kris selalu membius semua orang dengan kerlingan matanya. Tao berdecak sebal namun ia tetap masuk ke dalam mobil Kris.
Tao memandang Kris sebentar. Ia berdesah pelan. Bagaimana ia bisa setampan itu? Mengapa ia tak bisa setampan Kris? Hah. Itu hanya membuat kepala tao pusing.
Sepanjang perjalanan,tak biasa Kris yang diam karena biasanya ia akan mengoceh panjang lebar tentang apapun yang ingin ia ceritakan pada Tao. Tao sedikit bingung pada perubahan sikap Kris hari ini.
"Sunbaenim?"tanya Tao memecah keheningan
"Ya Tao ada apa? Kau lapar?"
"Anni. Kenapa kau tadi lama sekali menjemputku? Kakiku sampai keram asal kau tau" Tao memasang wajah kesalnya
"Ahh maafkan aku Tao. Apa masih keram?"
Tao sudah bisa senang dalam hatinya karena namja disampingnya ini sudah mulai cerewet seperti biasanya. Diam diam,Tao senang saat dia menjadi orang yang mengetahui sisi lain dari seorang Kris yang dingin.
"Anni. Jadi kenapa kau terlambat? Apa jangan jangan kau berkencan?"
"Mungkin iya. Memangnya kenapa?"tanya Kris menggoda Tao
Tao membelalak besar. Memang ia tampan. Anni. Melebihi tampan. Namun ia baru mendengar kalau Kris mau mengencani seseorang. Apakah seseorang itu wanita? Ahh kenapa Tao menjadi resah?
"Anni."
"Kau cemburu Tao? Tenang saja. Im yours forever"balas Kris mengerling pada Tao.
Tao berdecak kesal. Namun entah kenapa di hati kecil Tao,ia sangat lega dengan jawaban Kris yang mengatakan Im Yours Forever. Hati Tao menghangat.
"Cemburu kepalamu! Silahkan berkencan dengan semua wanita yang menyukaimu. Aku tak akan peduli"
"Tenang saja. Aku hanya akan berkencan dengan Baby Tao yang unyu unyu"
"Aku manly Kris. Manly!"
"Aigoo arraseo. Hahaha. Aku tak akan mengencani wanita apalagi pria manapun kecuali kau. Karena hanya kau. Kau yang paling-"
"Paling apa?" Tao waswas dengan jawaban Kris. Kris melihatnya sinis lalu
"Paling susah aku kencani. Buahahaha"kata Kris tertawa terbahak bahak. Tao memukul mukul lengan kanan Kris. Dia menyebalkan! Selalu menyebalkan untuk Tao.
"Tao"kata Kris saat tawanya mereda
(...)
"Tao. Look me"
(...)
"Baby Dont Cry tao-ya"
"Menangis matamu!"
"Hehe"
"Jadi apa yang ingin kau katakan?"
"Hmm.. Kalau aku nanti sudah tak tampan lagi,bisa dibilang jelek. Apa kau masih menyukaiku?"tanya Kris dengan suara sedikit Parau namun Tao tak menyadarinya
"yha. Kau tampan seperti ini saja aku belum tentu menyukaimu. Apalagi nanti kau jelek."balas Tao sedikit sewot.
Kris tersenyum lirih. Membayangkan Tao akan tak bisa menyukainya? Andwae!
"Ahh.. Jadi selama ini kau menganggapku tampan ne?"
"Kalau kau tidak tampan,kau takkan mendapat banyak fans fans wanita bahkan pria yang rela setiap harinya menguntitmu"
"Kau tidak tampan,tapi aku selalu menguntitmu"
"Sialan"
"Aihh jangan terlalu galak padaku. Dan kau pasti tau,kalau aku akan menjadi pasangan mu akhir tahun nanti."kata Kris menggoda Tao
"Aish. Aku tau sunbaenim"
"Panggilan yang membosankan Tao"
"Aku Tau" Tao memasang senyum evilnya.
Tiba tiba Tao mengingat tentang Chanyeol. Hubungan orang yang dicintainya dengan sahabatnya kian membaik setiap harinya. Chanyeol bahagia. Baekhyun sahabatnya pun bahagia. Ia juga bahagia. Karena ia harus bahagia.
"Hey Tao"panggil Kris saat melihat perubahan raut wajah Tao.
"Ne?"
"Ada apa?"tanya Kris sedikit memandangnya. Kris hafal betul jika Tao memikirkan sesuatu atau menyembunyikan sesuatu
"Anni."
"Chanyeol?"tanya kris. Ahh ya bagian tentang Tao menyukai Chanyeol,tentu saja Kris tau. Sangat tau.
"Entahlah Kris,mereka semakin dekat setiap harinya. Aku rasa aku harus menyerah"jawab Tao dengan nada lirih.
"Hey. Kau adalah namja Tao,namja tidak boleh menyerah memperjuangkan apapun."kata Kris seolah menyindir dirinya sendiri. Apa saat ini hati Kris sakit? Ya! Sangat sakit!
"Tapi dia juga namja Kris. Kenapa dia tak menyadari keberadaanku?!"suara Tao meninggi. Kris hanya bisa diam melihat emosi Tao membuncah. Ia belum mau menambah suasana hati Tao semakin buruk.
"Yang mengerti keberadaanmu hanya aku Tao. Aku yang lebih"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Perancis
Seorang wanita cantik sedang melihat keluar kota dari balkon apartementnya. Wanita yang sudah menjalani hidupnya di negara terluas di Eropa selama kurang lebih satu tahun. Wanita yang menekuni profesinya menjadi model terkenal.
"Irene-ssi"panggil Yeoja tak kalah cantik walau umurnya terlihat sedikit lebih muda dari yang dipanggil.
"Ahh. Ada apa? Kenapa formal sekali?"gerutu Irene mendengar sahabat sekaligus managernya memanggilnya dengan formal
"Hahaha. Mianhae. "Jawab yeoja itu menggunakan bahasa korea
Irene tetap melihat keluar kota yang indah menurutnya. Entah pikirnya ke kota atau ke hal lain,namun yang jelas saat ini,ada sesuatu yang mengganggu pikirannya
"Kau tak merindukan namja mu?"tanya yeoja itu
"Siapa?"tanya Irene
"You know him."balas sang yeoja
"Sana-ya,aku tak tau arah pembicaraanmu"balas Irene
"Yeah. Baiklah. Aku akan menunggumu mengerti"jawab Sana lalu keluar kamar Irene.
Irene masih merenung. Apa yang menganggunya kini adalah prianya? Pria yang sudah satu tahun ditinggalkannya? Benarkah? Haruskah ia kembali? Apa dia masih memikirkannya? Padahal ia sendiri baru terpikir sekarang dari waktu setahun belakangan ini. Ahh Kepala Irene pusing memikirkan hal yang sudah ditinggalkannya.
Selama aku menghilang,aku menyadari sesuatu. Aku rindu padamu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 6 Finish!
Hah ga berasa udah mau konflik :"
Maaf ya untuk typo nya. Maaf untuk segala gala nya :". Minta do'a nya buar lulusbujian dengan nilai baik aamiin😇
Thankyou readernim:* See you in the next chapter😀
