NARUTO FANFICTION
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning: TYPO, OOC, SEMI CANON
Pair: Naruto and Hinata
Gogatsu no Kaze present
-THAT SCARF-
Naruto menggerutu seraya mengusap perutnya yang tak henti-hentinya berbunyi dari tadi. Persediaan ramen cup dirumahnya telah habis dan ia terlalu malas untuk keluar rumah. Ia lalu berbaring di atas futonnya. Sedikit meredakan perutnya yang rewel.
Ah, tak akan ada misi hingga satu minggu ke depan. Hokage ke-enam telah memerintahkan mereka untuk beristirahat hingga awal tahun baru nanti. Namun hari libur yang ini sungguh menyiksa Naruto. Ia lebih suka dikirim berhari-hari untuk menyelesaikan misi daripada harus berada dirumahnya. Tak ada yang menarik di dalam rumahnya. Apanya yang menarik jika isinya hanya dirinya beserta barang-barangnya yang berserakan di sana-sini? Rumahnya bagaikan kapal pecah jika ia libur.
Perutnya berbunyi lagi, "Baiklah, aku menyerah." Dengan malas ia mengambil jaket orangenya serta syal berwarna biru miliknya. Syal biru bergaris putih itu ia lilitkan disekitar leher. Udara luar lumayan dingin walaupun tak sedingin kemarin. Ia pergi ke tempat biasa, kedai ramen Paman Teuchi.
"Yo! Selamat datang, Naruto!" Sapa Paman Teuchi ketika Naruto datang. Kedai ramen nampaknya sedang ramai sekarang. Namun, karena Naruto yang sudah merupakan pelanggan tetap seumur hidup mendapatkan pelayanan khusus. Ia dilayanani oleh Ayame, anak Paman Teuchi, dengan segera.
"Aku pesan yang seperti biasa, ya," ucap Naruto seraya mengambil posisi duduk.
Ayame mengangguk. Ia lalu pergi untuk menyediakan ramen yang Naruto pesan. Tak lama kemudian ia muncul dengan semangkok besar ramen dengan ekstra daging babi dan naruto. "Ne, Naruto. Apa nanti kau akan datang ke Winter Festival besok malam?" tanyanya seraya meletakkan mangkuk ramen ke hadapan Naruto.
"Winter Festival?" tanya Naruto balik.
"Acara yang diadakan Hokage untuk merayakan musim dingin. Warga Konoha akan berpesta. Kedai ini juga akan ikut serta merayakannya," jelas Ayame.
Mata Naruto berbinar, nampaknya ia tertarik, "Sepertinya menarik. Aku pasti akan datang." Ucapnya dengan semangat.
Ayame tersenyum, "Tolong sebarkan kabar ini ke teman-temanmu yang lain. Bilang pada mereka kedai ini akan ada pesta sehubungan dengan adanya Winter Festival." Wanita itu melirik ramen yang ada di hadapan Naruto, "Ah, gomen. Aku terlalu banyak bicara. Cepat dimakan ramennya, nanti dingin." Ayame meninggalkan Naruto yang nampaknya ingin segera memakan ramen tersebut.
"Ittadakimasu!" Naruto memakan ramen itu dengan cepat. Ia memang sangat kelaparan.
That Scarf
Di suatu tempat, entah di mana, berbaris ratusan tentara boneka yang dipimpin oleh seorang pria berbaju putih mirip seorang pendeta. Pria itu berdiri di atas batu yang letaknya lebih tinggi dari tempat yang lainnya berdiri. Ia seperti ingin memberikan komando. Di samping kanan dan kirinya berdiri tiga orang bagaikan penjaga, atau mungkin tangan kanan.
"Besok malam," ucap pria berpakaian pendeta itu sebagai pembuka, "…kita akan melaksanakan rencana yang telah kususun dari sekian lama. Akhirnya, setelah berhasil melompati waktu, aku bisa datang ke tempat ini. Tempat di mana aku bisa menyempurnakan rencanaku. Mata yang kubutuhkan telah kutemukan. Byakugan sempurna dengan kekuatan yang istimewa. Mata itu sebentar lagi akan jadi milikku!"
"Kami akan lakukan yang terbaik, Tuanku," ucap ketiga orang yang berada disampingnya.
Pria berpakaian pendeta itu menatap telapak tangannya. Ia tersenyum licik, "Akhirnya…," tangannya terkepal. Senyum liciknya berubah jadi senyum kepuasan dan berganti dengan tawa yang menggelegar hingga menggema ke segala penjuru.
That Scarf
Hinata menghela nafas. Ia tatap lagi syal merah yang ada di tangannya. Sebenarnya ia sudah lama ingin memberikan itu pada Naruto, namun ia terlalu malu untuk melakukannya. Ia sangat menyesal dengan ketidakberdayaannya itu. Sangat. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin agar Naruto segera menanggapi pernyataan cintanya. Namun sepertinya harapannya itu hanya sia-sia belaka. Pernyataan cintanya pada Naruto bagaikan tak pernah terjadi. Apakah Naruto memang benar-benar telah lupa?
Lewat syal merah yang ia rajut dengan sepenuh hati ini, sekali lagi Hinata ingin menyatakan perasaannya. Ia ingin perasaannya tersampaikan dengan jelas pada Naruto. Mungkin salah satu faktor mengapa Naruto bisa lupa adalah momen saat ia menyatakan cinta. Hinata menyatakan cintanya pada saat di depan musuh. Kami-sama, kemana urat malunya saat itu? Ia memang tak pandai mencari momen yang tepat.
Hinata memijit dahinya. Sangat malu akan kelakuannya saat itu. Tapi ia tak menyesal sama sekali karena perasaannya yang selama bertahun-tahun tumbuh di hatinya ini akhirnya bisa diungkapkan. Ia justru sangat lega, bagaikan tak ada beban. Namun yang jadi masalah adalah tak ada tanggapan Naruto mengenai hal itu.
"Onee-san," terdengar suara Hanabi dari arah belakang. Hinata menoleh kaget. Syal merah itu masih ada ditangannya. Dimana ia bisa menyembunyikan syalnya?
"O-ohayou, Hanabi," sapa Hinata gugup. Ia memutuskan untuk menyembunyikan syal merah itu dibalik jaket ungu yang ia kenakan saat ini.
"Ohayou." Balasnya. "Dimana ayah?" tanya Hanabi
"Mungkin masih di kamarnya. Ayah terlihat kurang sehat sejak kemarin pulang," jelas Hinata.
Hanabi mengangguk tanda mengerti lalu berjalan kembali ke dalam rumah, "Onee-san," panggilnya tiba-tiba.
"Nani?"
"Syukurlah kau selamat," ucap Hanabi, lalu ia kembali meneruskan langkahnya. Hinata tersenyum lalu mengangguk. Ia sangat senang mendengar ucapan Hanabi.
Selama ini ia dan Hanabi memang kurang akrab. Hanabi selalu berlatih di bawah pengawasan ayahnya. Sedangkan Hinata yang tidak memiliki kekuatan fisik, berlatih sendiri. Di rumah ia juga jarang berbincang dengan Hanabi layaknya kakak dan adik biasa lakukan. Mereka hanya sering bertemu di meja makan.
Hanabi sekarang bertambah tinggi. Dengan sifat yang tidak sesinis dulu. Mungkin ia juga lebih kuat sekarang, mengingat ketika mereka kecil Hanabi bisa mengalahkan Hinata dengan mudah. Rambutnya yang panjang diikat kebawah. Secara fisik, Hanabi lebih mirip ayahnya sedangkan Hinata mirip ibunya.
Tak lama setelah Hanabi pergi dari kejauhan terlihat Kou yang sedang berjalan mendekat ke arahnya, "Ada apa, Kou?"
"Ada yang ingin bertemu denganmu, Hinata-sama," jawab kou.
Mata Hinata langsung menuju ke gerbang rumah. Matanya sedikit melebar ketika didapatinya sesosok pemuda yang begitu ia kenal sedang menunggu seraya bersandar di dinding gerbang. Itu Uzumaki Naruto. Tangannya refleks meremas bagian perutnya, tempat di mana ia menyembunyikan syal merahnya.
"Kami-sama," gumamnya pelan seraya berjalan ke arah Naruto.
Kou meninggalkan mereka berdua di depan pintu gerbang. Naruto terlihat tampan seperti biasa, setidaknya itu yang ada di mata Hinata. Sepertinya tingginya bertambah selama dua tahun ini. Rambutnya dipotong jadi sedikit lebih pendek. Naruto mengenakan pakaian kasualnya hari ini. Jelas saja, karena ia sedang tak ada misi.
"O-ohayou, Na-Naruto-kun," sapanya gugup. Kepalanya tertunduk. Wajahnya memanas.
"Ohayou, Hinata," balas Naruto.
"A-ada apa ke rumahku pagi-pagi?" Hinata memainkan jari-jari tangannya. Ia sangat gugup sekarang.
"E-eto…," Naruto menggaruk tengkuknya, "Aku hanya ingin memberitahukan kalau kedai Paman Teuchi mengadakan pesta malam ini. Acaranya dimulai sekitar jam tujuh malam. Aku diminta untuk menyebarkan info ini kepada semuanya."
"Se-sepagi ini?"
Naruto tertawa canggung. Otaknya berputar mencari alasan. Sebenarnya ia bisa saja memberitahukan kabar ini di siang hari, namun ia terlalu bersemangat untuk keluar rumah. "Aku takut kalian pergi ketika aku memberitahukan kabar ini. Makanya aku datang pagi-pagi." Akhirnya otaknya yang biasanya buntu dengan cepat mendapatkan jawaban.
"A-apa rumahku tujuan paling akhir?" tanya Hinata lagi. Tak biasanya ia banyak bertanya seperti ini.
"Sebenarnya rumahmu yang paling pertama." Jawaban Naruto refleks membuat mata Hinata menatap tepat ke mata sebiru langitnya. Ditatap tiba-tiba begitu Naruto jadi sedikit malu. Untuk mengatasinya, ia jadi mengalihkan tatapannya ke tempat lain. "Aku me-memulainya dari tempat yang paling jauh dulu." Senyuman hangat khasnya dikeluarkan untuk menutupi kegugupannya.
Kehangatan dari senyuman itu mampu menyentuh hati Hinata hingga di lubuk yang paling dalam. Hinata tersenyum juga, "Arigatou, Naruto-kun."
Naruto mengangguk, "Kalau begitu aku ingin ke tempat yang lain dulu," ucapnya seraya meninggalkan Hinata.
"Tu-tunggu dulu, Na-Naruto-kun," cegah Hinata tiba-tiba ketika Naruto baru beberapa langkah meninggalkannya.
Naruto lalu berhenti dan membalikkan tubuhnya, "Nani, Hinata?"
"Bi-bisakah kita bertemu di depan a-akademi sebelum kau pergi ke kedai Ichiraku?" Hinata mengepalkan tangannya, berharap mendapatkan kekuatan saat ini.
Naruto kelihatan bingung. Ia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Baiklah," jawabnya seraya mengangguk. "Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?"
Hinata menggeleng. Naruto lalu melanjutkan lagi langkahnya. Hinata akhirnya bisa bernafas dengan lega. Berbicara berdua saja Naruto memang menyulitkan. Rasanya ia bagaikan tercekik. Tapi itu bukan berarti ia tidak menyukainya. Salah besar jika ada yang beranggapan seperti itu. Bisa berbicara dengan Naruto tanpa diganggu siapapun adalah kebahagiaan tersendiri bagi Hinata.
"Ganbare, Hinata," ucapnya untuk menyemangati diri sendiri.
That Scarf
"Kuperintahkan kalian untuk menyebar!" perintah seorang pria dengan jubah hitam pada pasukan boneka yang ada di hadapannya. Pasukan boneka itu langsung melompat ke berbagai penjuru dan menghilang dari hadapannya.
"Tuan, bagaimana dengan kami?" tanya seseorang dari sampingnya. Ia terlihat seperti seorang gadis berumur tiga belas tahun dengan rambut putih ikal panjang. Gadis itu mengenakan hakama berwarna merah dengan atasan berwarna hitam.
"Kalian menyebar di tiga tempat. Salah satu dari kalian mengawasi rumah Klan Hyuuga. Di sana tempat target kita berada," jelasnya.
"Baiklah, Tuan," ketiga orang itu langsung melompat ke tempat yang diperintahkan. Sedangkan pria berjubah hitam tetap tinggal untuk memantau keadaan dari pusat kota.
Sementara itu di lain tempat, Naruto sedang berlari menuju tempat di mana ia dan Hinata berjanji. Sialnya setelah ia memberikan kabar ke teman-temannya, ia langsung tertidur dan baru saja bangun. Kenapa kebiasaan bodohnya itu belum kunjung hilang? Umpatnya dalam hati.
Malam ini dinginnya sangat menusuk. Sepertinya akan turun salju. Ia begitu menyesal telah terlambat. Hinata pasti sudah menunggunya dari tadi. Naruto menambah kecepatan larinya. Tak sabar untuk segera tiba di depan akademi, ia melompati atap-atap rumah untuk menyingkat perjalanan.
Tiba-tiba ia merasakan hawa jahat tak jauh dari dirinya. Benar saja, sekelompok pasukan dengan jumlah puluhan datang menyerangnya dari berbagai penjuru, "Kuso! Apa-apaan ini?" Naruto menghindari serangan seraya mengeluarkan jurus seribu bayangannya.
Dari mana datangnya musuh sebanyak ini? Pikirnya. Dengan gerakan lincah Naruto menyerang balik pasukan boneka tersebut. "Rasengan!" serangan telak ia berikan pada sekumpulan pasukan boneka yang ada di depannya. Namun nampaknya sia-sia, pasukan boneka itu bisa beregenerasi sendiri. Bukannya makin sedikit, pasukan boneka itu justru membuat dirinya yang hancur menjadi utuh kembali.
Sebenarnya mudah saja bagi Naruto untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya sekarang. Namun ia tak mau melakukan hal itu karena sedang berada di tengah pemukiman warga desa. Ia tak mau merusak desa seperti halnya ketika invasi Pain.
Berkali-kali ia mengeluarkan rasengan, namun hasilnya sama saja. Ia harus mengaktifkan mode petapanya untuk mengetahui sumber chakra si pengendali boneka. Dirinya yang asli bersembunyi di balik pohon sementara bunshinnya menyerang melawan pasukan boneka. Ia memejamkan matanya, mencoba berkonsentrasi untuk mendapatkan mode petapanya. Tak lama kemudian ia kembali ke tengah-tengah pertempuran. Mata birunya kini berganti dengan mata berpupil horizontal khas mode petapa.
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari si pengendali boneka. Naruto berkonsentrasi kembali. Ia merasakan hawa keberadaannya dari arah barat. Dengan kecepatan kilat Naruto pergi ke arah hawa keberadaan itu. Ia mengembalikan wujudnya semula, bukan mode petapa lagi.
Naruto melompat ke arah seseorang dengan jubah hitam yang sedang berdiri di atas penampung air. "Rasengan!" dengan jutsu andalannya itu ia menyerang ke arah sosok tersebut. Si jubah hitam itu membalas dengan jutsunya yang berupa kilatan kuning. Kilatan kuning itu ia lempar ke arah Naruto, namun bisa dihindari Naruto dengan mudah. Ketika telah semakin dekat, rasengan milik Naruto bertabrakan dengan kilatan kuning miliknya.
Terjadi ledakan cahaya berwarna biru disekitar mereka. Setelah serangn itu, Naruto lantas memutuskan berdiri di salah satu atap rumah warga. "Siapa kau?!" teriaknya pada dalang dari semua ini.
Si sosok manusia berjubah hitam itu wajahnya terhalang oleh penutup kepala, tak terlihat. "Aku keturunan dari Otsutsuki Kaguya. Namaku Otsutsuki Toneri," ia membuka penutup kepalanya. Terlihat sesosok lelaki dengan kulit berwarna putih pucat dengan rambut yang berwarna putih.
"Otsutsuki katamu?" Naruto jadi teringat dengan musuhnya dua tahun lalu, yang ia lawan dengan taruhan nyawa. Tunggu dulu! Bukankah Kaguya hanya memiliki dua anak?
"Kau anak dengan chakra spesial dalam tubuhmu. Pantas saja aku merasakan ada yang aneh dalam dirimu," ucap Toneri.
"Jūho sōshiken!" terlihat Hinata sedang melawan puluhan pasukan boneka dari kejauhan. Naruto menoleh ke tempat dimana suara Hinata berasal. Walaupun samar, tapi Naruto bisa merasakan letak chakra Hinata.
Hinata melayangkan jurusnya yang ia kombinasikan dengan jurus enam puluh empat pukulan. Musuhnya sangat banyak. Ia sampai kewalahan menghadapinya. Semakin lama langkah Hinata semakin mundur. Sial, bahkan syal merahnya nyaris terjatuh.
Hinata melirik ke bawah. Tak ada tempat lagi untuk melangkah. Syal merahnya sudah menjuntai keluar dari jaket ungunya. Tiba-tiba sepasang boneka menyerangnya dari arah berlawanan. Hinata harus segera melompat. Tapi, lagi-lagi sial! Ujung syalnya menyangkut di salah satu besi yang ada di pinggiran atap.
"Hinata!" teriak Naruto seraya melompat ke arah Hinata.
Hinata menoleh ke asal suara. Ia melihat Naruto ke arahnya. Perhatiannya teralihkan, sedangkan pasukan boneka semakin bergerak mendekat. Kaki Hinata tersandung. Ia terjatuh dari atap gedung, "Naruto-kun!" teriak Hinata saat terjatuh.
Naruto langsung saja merubah dirinya menjadi mode bijuu dengan segera. Dengan mode ini ia bisa melompat ke arah Hinata bahkan dalam hitungan nol koma detik. Tangannya menangkap tubuh Hinata. Kurang sedetik saja pasti Hinata akan mendapat luka parah. Untung saja ia tepat waktu. "Apa ada yang terluka, Hinata?"
Hinata menggeleng, "A-arigatou, Naruto-kun," ucapnya seraya memegang syal merahnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tiba-tiba Shikamaru datang dari arah belakang mereka.
Naruto langsung menghilangkan mode bijuunya, "Ada yang ingin menyerang desa, Shikamaru. Tadi kami berdua diserang," jelas Naruto.
"Ada yang lebih penting dari itu. Rumah keluarga Hyuuga diserang," ucapan Shikamaru sontak membuat Hinata memucat.
Mata sapphire Naruto menatap Hinata. Ia tahu kalau Hinata pasti sangat mengkhawatirkan keadaan rumahnya, "Ayo cepat kita kesana," ucapnya.
Shikamaru dan Hinata mengangguk bersamaan. Dengan cepat mereka melompat menuju ke rumah Hinata.
That Scarf
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa terlambat sekali?" Ino terlihat sibuk dengan kotak obat yang ada di kedua tangannya. Tak hanya Hinata, bahkan Naruto dan Shikamaru mengernyitkan dahi ketika melihat keadaan rumah salah satu klan terkuat di Konoha itu.
Sebagian bangunan rusak parah dan ada beberapa orang yang terluka walaupun tak terlalu parah. Kaki Hinata tanpa diperintah langsung menuju ke rumah utama dimana ayah dan adiknya seharusnya berada. Ia mematung sejenak ketika melewati ruang tamu. Ayahnya terlihat sedang diperban dibagian tangannya. Sepertinya ia kalah dalam pertarungannya melawan musuh. Wajar saja, keadaan Hiashi saat ini sedang tidak sehat karena perjalanan panjang menjemput Hanabi dari sejak dua hari yang lalu.
"Otou-sama, dimana Hanabi?" tanya Hinata dengan nada khawatir.
Ayahnya hanya bisa mengalihkan tatapannya dari Hinata. Hiashi tak bisa menjawab apapun. Hinata panik. Ia langsung saja berlari menuju ke kamar Hanabi. Naruto, Kiba dan Shino yang memang menemaninya ikut mengekor dibelakang. Sangat mengenaskan. Pintu kamar Hanabi rusak. Perabotan di dalam kamarnya berserakan di mana-mana. Melalui kondisinya, ruangan itu sudah jelas-jelas telah menjadi saksi bisu pertarungan antara Hanabi dan penyusup yang datang ke rumahnya.
Hinata jatuh terduduk. Ia tertunduk lesu, "Hanabi," rintihnya pilu.
Naruto sebenarnya sangat ingin pergi ke sisi Hinata saat itu juga. Namun ia merasa tak pantas. Selama ini ia dan Hinata memang berteman, tapi tidak sampai sedekat itu. Naruto hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat sambil menahan amarah atas kelakuan penyusup yang kabarnya juga berhasil menculik Hanabi.
"Tenanglah, Hinata. Hanabi itu kuat. Dia pasti baik-baik saja," hibur Kiba seraya mengusap punggung Hinata. Kiba adalah rekan satu tim Hinata, jadi wajar kalau mereka sangat dekat. Naruto lagi-lagi hanya bisa menatap apa yang ada dihadapannya.
Hinata tidak menangis. Ia hanya terlihat shock dengan apa yang terjadi pada adiknya. Tapi bagaimanapun juga Hinata adalah seorang wanita. Tubuhnya tetap bereaksi dengan kesedihan yang menimpanya. Gadis indigo itu gemetar dan wajahnya memucat.
"Aku dengar yang berada di rumahmu tadi hanya sekitar sembilan atau sepuluh orang saja. Sebagian besar sedang pergi berkunjung untuk pertemuan antar klan. Ayahmu tak bisa ikut karena sedang sakit. Sedangkan kau masih terlalu muda untuk mewakili klanmu. Jadi hanya para tetua yang pergi kesana dengan para pendampingnya," jelas Shino.
Hari ini penjagaan di rumah keluarga Hyuuga memang sedang longgar. Tidak banyak orang yang berada di rumah. Jadi wajar saja kalau mereka kalah jumlah. Jika yang menyerang mereka adalah pasukan boneka yang juga menyerangnya tadi, dengan jumlah yang lebih banyak lagi, sudah dipastikan kalau orang-orang di rumah Hinata tak bisa menyerang balik.
"Oi, kalian semua," panggil Shikamaru, "Pertemuan di ruang Hokage setengah jam lagi. Bersiap-siaplah," lanjutnya.
Mereka semua mengangguk, kecuali Hinata yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Mata sapphire Naruto kembali melihat ke arah Hinata yang masih terduduk di lantai kayu rumahnya. Pemuda itu hanya bisa melihat Hinata dari belakang.
"Hinata, aku akan menyelamatkan Hanabi. Jadi kau tenang saja," ucap Naruto sebelum pergi meninggalkan Hinata, Kiba, dan Shino. Entah ucapan Naruto di dengar Hinata atau tidak.
That Scarf
Naruto, Sakura, Sai, Shikamaru, Lee, Kiba, Shino, Chouji, Tenten, dan Ino berkumpul di ruangan Hokage. Mereka memaklumi Hinata yang tidak bisa datang saat ini. Mereka semua berkumpul atas instruksi Hokage ke-enam, Hatake Kakashi.
"Kalian sudah tahu bukan kalau rumah keluarga Hyuuga dimasuki penyusup? Salah satu anggota keluarganya pun diculik. Dia adalah Hyuuga Hanabi, adik Hinata," jelas Kakashi pada mereka semua. "Sesuai dengan informasi yang didapat, penyerangnya adalah pasukan boneka yang dipimpin oleh seorang pengguna elemen air. Dan sesuai dengan keterangan saksi mata di sana, target utama mereka adalah Hyuuga Hinata. Namun karena Hinata sedang tak ada di rumah pada saat itu, mereka malah membawa Hanabi sebagai gantinya."
Jantung Naruto langsung berpacu ketika nama Hinata disebut sebagai target utama, "Kakashi-sensei, sebelumnya aku dan Hinata juga diserang oleh pasukan boneka yang sama. Salah satu orang yang menyerangku mengaku kalau dia adalah keturunan dari Otsutsuki Kaguya. Namanya adalah Otsutsuki Toneri."
Semua mata langsung tertuju pada Naruto, begitu pula Kakashi, "Otsutsuki?" tanya Sakura.
Naruto mengangguk, "Jika dia benar-benar keturunan Otsutsuki, maka Hanabi dalam bahaya," ucapnya. "Hinata juga akan dalam bahaya," lanjutnya dalam hati.
"Jika apa yang Naruto katakan itu menjadi nyata, maka akan sangat bahaya. Tidak hanya Hanabi, bahkan seluruh dunia akan kembali seperti dua tahun yang lalu, ketika kita melawan Kaguya. Jika tidak cepat diatasi, dunia ini akan kiamat," Kakashi berjalan ke arah mereka semua. "Misi ini adalah misi kelas S. Kalian dibagi dalam dua kelompok. Satu kelompok berjaga di dalam desa, sedangkan kelompok yang lain menjalankan misi penyelamatan Hyuuga Hanabi-"
Terdengar suara ketukan pintu yang menginterupsi perkataan Kakashi. Semuanya sedikit terkejut ketika tahu siapa yang ada di balik pintu. Itu adalah Hyuuga Hinata. "Gomennasai, aku terlambat. Aku harus membereskan kekacauan di rumahku dulu," ucapnya.
"Hinata, kenapa kau datang ke sini?" tanya Ino khawatir. Pasalnya seharusnya Hinata menemani ayahnya yang sedang terluka dirumah.
Tidak menjawab pertanyaan Ino, Hinata malah menatap Kakashi dengan tatapan tegas, "Izinkan aku untuk ikut dalam misi ini, onegaishimasu," pintanya seraya membungkukkan tubuhnya. "Hanabi adalah satu-satunya saudara yang kupunya. Setelah kehilangan Neji-niisan, aku tak mau kehilangan siapa-siapa lagi. Jadi Hokage-sama, biarkan aku ikut dalam misi ini."
Kakashi tersenyum dibalik maskernya, "Tak ada yang paling kuat dibandingkan dengan rasa kasih sayang kepada saudara sendiri. Aku sangat yakin, jika kau tak kuizinkan untuk ikut misi, pasti kau akan nekat untuk pergi sendiri. Jadi nampaknya, akan lebih baik jika kau kuikutsertakan dalam misi ini," inilah jawaban Kakashi atas permintaan Hinata.
"Arigatou gozaimasu, Hokage-sama," Hinata tersenyum lega.
Kakashi kembali ke topik semula, "Baiklah tim pertama diketuai oleh Shikamaru. Tim itu terdiri dari Naruto, Sakura, Sai, dan Hinata. Tim Shikamaru akan melakukan misi penyelamatan Hanabi. Kemampuan Hinata dalam pelacakan sangat berguna. Jadi aku mengandalkanmu, Hinata," Hokage baru itu menatap ke arah Hinata.
"Hai'!" jawab Hinata dengan mantap.
"Tim kedua akan dipimpin oleh Shino. Tim Shino terdiri dari Ino, Chouji, Lee, Tenten, dan Kiba. Tim kalian akan melindungi desa dari dalam. Jika ada hal-hal yang membahayakan desa, kalian langsung bertindak," jelas Kakashi.
"Hai'!" jawab tim yang dipimpin oleh Shino secara bersamaan.
"Kalian boleh pergi," perintah Kakashi.
Langsung saja mereka semua berpencar sesuai dengan misi yang diberikan pada timnya masing-masing. Tim Shikamaru menjauh ke arah luar desa. Sesuai dengan info yang Shikamaru dapatkan dari ANBU pelacak, penyusup itu pergi ke arah utara dan menjauh hingga dekat lautan. Itu berarti sekitar satu hari jika dari Konoha. Tapi jika diperkirakan dari rentang waktu ketika para penyusup menyerang rumah keluarga Hyuuga, tim Shikamaru hanya tertinggal beberapa kilometer saja.
"Jangan khawatir, Hinata. Kita semua pasti akan membawa Hanabi pulang dengan selamat," hibur Sakura ketika mereka sedang melompati pepohonan.
Hinata tersenyum dan mengangguk, "Aku tak akan membiarkan Hanabi terluka. Aku yakin kita bisa menyelamatkan Hanabi."
Di belakang kedua gadis itu ada Naruto. Mata Naruto terus saja melihat ke arah mereka berdua atau lebih tepatnya ke arah Hinata. Rasa khawatir yang berlebihan tiba-tiba saja muncul di benaknya. Ia sendiri tak tahu alasannya. Ia tak mau Hinata merasakan kehilangan lagi. Ia tak mau melihat kesedihan ada di raut wajah Hinata. Ia tak mau Hinata menangis seperti ketika mereka menghadiri acara pemakaman Neji. Dan di detik itu pula Naruto bertekad untuk menyelamatkan Hanabi apapun halangan yang menghadangnya. Ia tak mau kesedihan yang dialami Hinata terulang lagi.
That Scarf
To Be Continue
Yuhuu, minna-san~~ *lambai-lambai tangan*
Apa kabar?
Haduh, aku nggak tau harus bilang apa.
Yang pasti aku masih kurang pede dengan tulisanku. Tapi terimakasih dengan respon kalian yang begitu positif. Hontou ni, arigato *ojigi*
Umm, mungkin adegan pertempurannya kurang greget atau gimana ya? Aku sepertinya merasakan hal itu. Mungkin ada masukan? Sepertinya cerita fanfik ini hanya sampai ketika Hinata ditangkap Toneri "Sang Villain Ganteng". Selebihnya biar kalian semua yang berdelusi sendiri. Haha
Haha, terus dukung aku untuk membuat karya yang lebih bagus lagi ya!
Adios!
