Pt.5 : Jin x Jimin ( JinMin )
Kitchen
Suara gedoran kasar yang terdengar dari arah pintu depan membuat sang pemilik rumah buru-buru meninggalkan pekerjaannya dan berlari menuju pintu tersebut. Saat pintu terbuka sesosok tubuh yang lebih pendek darinya masuk tanpa membiarkan sang pemilik rumah menyapanya.
"Yak ! Park Jimin, dimana sopan santunmu sebagai tamu, hah ?!" Seru pemuda itu kesal sambil menutup kembali pintu di depannya.
"Sebaiknya jangan ajak aku bicara, Jin Hyung." Desis pemuda pendek bernama Park Jimin itu sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Pemuda yang dipanggil 'Jin Hyung' tersebut hanya mengangkat bahunya acuh lalu mengambil sebuah kotak P3K dari lemari dapur dan melemparkannya pada Jimin yang terlonjak kaget.
"Hyung, kau mau membunuhku ?!"
"Kau bilang tidak mau diajak bicara."
Jimin cuma mengerucutkan bibirnya lucu sambil Jin melenggang santai untuk menyelesaikan pekerjaannya dan beralih memperhatikan kedua tangannya yang terluka—yang sialnya dilihat oleh Jin—dengan miris. Dengan perlahan Jimin membuka kotak P3K dan mulai mengobati tangannya. Setelah selesai dia membereskan kotak tersebut dan meletakkannya di tempat semula. Karena bosan dia menuju dapur tempat Jin menyelesaikan pekerjaannya.
"Hyung, aku bosan."
"Hmm."
"Hyungg~~ Aku bosannn."
"Main sana."
"Aisshh Jinnie hyung, Jiminnie lapar~~"
Dengan kesal Jin menghentikan pekerjaannya, yaitu menyusun skripsi kuliahnya, dan mengalihkan atensinya kepada Jimin yang menatapnya dengan bibir yang dikerucutkan dan mata yang berkaca-kaca, sungguh berbeda dengan tampilannya saat masuk rumah tadi. Jin mengisyaratkan pemuda imut di depannya itu untuk duduk di kursi yang berada tepat di sebelahnya dan hal itu dituruti oleh Jimin.
"Hyung, bisakah kau menyelesaikan tugasmu di depan tv saja sambil menemaniku ?" Rajuk Jimin,
"Mau—"
"Bagaimana lagi Jiminie ini sudah kebiasaanku menyelesaikan tugas di dapur."
"Nah itu kau sudah hapal."
"Tapi kenapa ? Wae hyung ? Waee~~ kau lebih memperhatikan benda yang bahkan tidak lebih seksi dariku itu hyung~~" Oke, Jimin mulai mendramatisir sekarang,
"Karena kau biasa menggangguku dengan mengatakan kau lapar, dan hampir seluruh permintaan dan kebutuhanmu pasti seputar hal-hal yang ada di dapur."
"Apa hubungannya ? Kenapa jadi seolah-olah aku yang salah."
"Agar aku dapat dengan mudah melakukan kemauanmu, jadi aku tidak perlu mengaibakanmu dan tugasku, karena itu sama-sama penting."
Jimin sukses dibuat cengo dengan pernyataan ajaib semi romantis—bagi Jimin—seorang Kim Seok Jin yang menatapnya tenang sambil sesekali menjawil pipi tembam Jimin tanpa rasa bersalah. Tanpa aba-aba Jimin melompat ke pangkuan Jin dan memeluknya erat-erat.
"Yaakk ! Kau beraatt !"Jerit Jin sambil berusaha melepaskan diri dari Jimin,
"Biar, yang penting kau mecintaiku."Jawab Jimin tidak nyambung dan mulai melonggarkan pelukannya,
"Oke, sekarang aku mau bertanya, kenapa tanganmu luka-luka ?"
"Tadi hpku terjatuh ke dalam semak berduri jadi aku menyusup masuk ke dalamnya, sungguh mengesalkan."
"Terus kenapa hanya jarimu yang terluka ? Paling tidak wajahmu juga tergores."
"Aku melapisi wajahku dengan jaket jadi tidak lecet sedikitpun."
"Kenapa tanganmu tidak kau lapisi juga ?!"
"Eyy, yang penting wajah tampanku tidak terluka, bagian yang lain urusan nanti untuk diobati."
"Aisshh, seharusnya otakmu yang kau obati dan darimana asal kata tampan itu !"
Dan Jin harus merelakan wajah tampannya dihiasi tapak tangan bantet Park Jimin yang menampar pipinya bolak-balik dengan sadisnya—tidak terima dengan ucapan pemuda yang memangkunya itu.
.
.
.
.
A/N : Berakhir dengan gajenya. Padahal maunya ngelanjutin dari chapter sebelumnya, tapi karena lebih suka ama karakter Jimin yang ini yaudah jadilah seperti ini. Ditambah takut kalo ntar malah nyerempet ke rate m.
Thank you for all the review guys and I still waiting for another review from you all ^^ Annyeong~~
