Pt.6 : Kim Taehyung x Park Jimin
Taehyung's Properties
Angin yang berhembus menggerakkan pepohonan yang berada di sebuah lapangan sepak bola, mengiringi teriakan-teriakan para murid berseragam olahraga. Banyak yang memilih untuk duduk di pinggir lapangan sambil meneriakkan nama murid-murid lelaki yang sedang bermain sepak bola. Namun dua orang siswa tampak duduk di sebuah kursi panjang di bawah pepohonan sambil menikmati hembusan angin. Jung Hoseok, lelaki bertubuh tinggi dengan senyum ceria terukir manis di bibirnya itu begitu antusias melihat jalannya pertandingan, sangat disayangkan dia tidak bisa ikut serta karena kakinya yang dibalut gips. Dia melirik seorang lelaki manis bertubuh bantet yang sedang berusaha mempertahankan kesadarannya, bola matanya yang sipit tampak semakin menyipit menahan kantuk karena angin yang berembus membuai tubuhnya.
"Aku mengantuk~~"
"Tinggal tidur saja, Jimin-ah."
"Tapi perutku tidak bisa ditekuk, masih nyerii~~"
"Berhenti merengek, kau merusak indra pendengaranku."
"Kan bukan salahku kalau aku operasi. Gara-gara ususku tidak bisa diajak kompromi, dasar."
Hoseok hanya memutar bola matanya malas saat Jimin mulai merengek disampingnya. Dia kembali mengalihkan atensinya menuju ke arah lapangan yang tampak semakin memanas karena gol yang dicetak oleh duo bintang lapangan, Kim Taehyung dan Choi Minho. Tiba-tiba sepasang lengan melingkari pundaknya dan dia langsung memandang Jimin dengan horror. Bocah manis itu semakin mengeratkan pelukannya dan mulai memejamkan matanya. Hoseok merasakan ada yang memandangnya dengan pandangan menusuk dari arah lapangan dan itu pandangan itu semakin intens saat tanda akhir permainan berakhir.
"H-hei, Jimin-ah, lepas—"
"Sebentar saja, Hoseokie, aku ngantuk~~"
"T-tapi, aku tidak akan selamat."
"Aahh, Hoseokie, pleasee."
Hoseok meneguk ludahnya kasar saat beberapa temannya yang mulai berkumpul ke dekat pohon menatapnya jahil dan kasihan. Dia tidak bisa melepaskan pelukan Jimin secara paksa karena takut membuatnya semakin sakit. Tiba-tiba sebuah suara membuat perhatiannya langsung beralih kepada seorang lelaki dengan headband merah yang terduduk tak jauh darinya.
"Woah, Tae, sikumu terluka."
"Hanya luka kecil, bung. Aku tidak akan mati."
"Yakk, darahnya mengalir itu!"
Tubuh Jimin tampak bergerak-gerak, dia mengangkat kepalanya dengan malas sambil menoleh ke arah Taehyung dan melempar tatapan kesal dan penasaran kepada lelaki yang balik menatapnya sambil tersenyum kotak.
"Apa-apaan kau, cuci sana!"
"Shireo, hanya luka kecil."
"Kubilang cuci, KIM TAEHYUNG."
"Iya, iya."
Jimin mengangguk puas dan entah kenapa kantuknya hilang, dia menoleh ke arah Hoseok yang sedang berusaha berdiri dengan bingung. Saat dia mencoba menolongnya berdiri, seorang laki-laki berwajah cantik menghampirinya dan membantunya berdiri.
"Yakk, Jung Hoseok, sudah kubilang biar kubantu."
"A-ah, aku hanya mencoba, Jin."
"Dasar. Kami duluan, Jiminie. Kau menunggu Taehyung kan?"
"Ah, ne. Bye, Hoseok, terima kasih pundaknya."
Hoseok hanya tersenyum canggung, dia buru-buru menarik tangan Jin untuk segera beranjak saat melihat Taehyung yang mulai mendekat dengan tangan berplester. Jimin langsung menoleh ke arah Taehyung yang menepuk pundaknya ringan, wajah tampannya semakint erlihat seksi saat beberapa bulir keringat menetes di pelipisnya.
"Kajja, Chim."
"Nee~~"
Mereka berjalan dengan tangan Jimin yang melingkari lengan Taehyung dengan manja. Saat mereka berpapasan dengan Hoseok dan Jin, Taehyung tersenyum ramah dan membisikkan sebuah kalimat yang membuat bulu kuduk Hoseok berdiri, hal itu mengundang tawa renyah Jin yang berada di sebelahnya.
'Urusan kita belum selesai Jung Hoseok, kuperingatkan untuk menjauh dari kekasihku.'
Jimin menatap Taehyung yang sedang bersmirk ria dengan tatapan heran. Dia menatap Taehyung tajam setelah melihat kondisi Hoseok dan Jin yang berada di belakang mereka.
"Kau bilang apa tadi ke Hoseok, hah?!"
"Aku bilang agar menjauhi kekasihku"
"Apa-apaan kau?!"
"Makanya berhenti bersikap seperti cabe-cabean."
"YAKK! Memangnya kenapa, hah?!"
Taehyung merengkuh tubuh Jimin dan meraup bibir penuh di hadapannya itu dengan lembut, takut menyakiti tubuh lelaki yang baru saja dioperasi 2 minggu yang lalu itu. Taehyung melepaskan tautan mereka dan menarik dagu Jimin mendekat, membuat wajah Jimin memerah sempurna karena tatapan tajam Taehyung.
"Karena kau hanya milikku, bukan si kuda itu, atau siapapun lelaki yang mendekatimu. Selamanya Park Jimin hanya milik Kim Taehyung seorang. Understand, babe, you are Taehyung's properties."
.
.
.
.
A/N : Hai~~ Lama tak jumpa. Maaf kalo FF ini lama banget updatenya karena baru aja habis TO. Makasih banyak untuk yang sudah meriview, follow, dan favorite FF ini ya. Saran dan review selalu ditunggu ya~~
Annyeong ^^
